alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016237290/lama-lama-manusia-diperbudak-teknologi
icon-hot-thread
Lama-lama manusia diperbudak teknologi
Selamat berakhir pekan gan

Manusia modern barangkali menginvestasikan separuh nyawanya di layar.

Pagi-pagi ia bangun, mengintip waktu di layar telepon seluler. Masih sempat bersantai, ia membaca email dan media sosial. Ia menyapa para follower di Twitter sebelum berangkat kerja. “Pagi yang cerah. Selamat pagi tweeps!”
Lama-lama manusia diperbudak teknologi

Jalanan macet seperti biasa, namun ia tahu bagaimana harus menunggu. Ia mengeluarkan iPad yang dibeli seminggu lalu, kemudian membaca buku elektronik yang diunduh kemarin. Sesampainya di kantor, ia menyalakan komputer. Sembilan jam berikutnya ia habiskan di depan layar, sambil sesekali mengirim pesan pendek untuk kekasih.

Selepas kerja, ia janjian dengan kekasihnya untuk menonton film terbaru di bioskop. Pulang ke rumah, ia beristirahat. Mandi, makan, duduk santai, dan menyalakan televisi, sampai ketika ia tertidur dan kembali pagi.

Layar telah menjadi bagian tak terlepaskan dari hidup kita yang sekarang ini serba cepat. Layar, selain jadi gudang hiburan, adalah gerbang informasi dan komunikasi terkini. Layar juga telah mempermudah kita melakukan berbagai aktivitas, dari yang sederhana seperti menulis atau membaca, hingga yang serumit upacara bendera.

Kehidupan pekerja profesional saat ini turut berutang besar pada layar. Para arsitek, misalkan, tidak lagi menggambar menggunakan meja gambar. Komputer adalah meja gambar mereka. Jurnalis kini lebih cocok disebut sebagai kuli ketik ketimbang kuli tinta. Dalam beradu cepat dengan matahari, mereka kini bergantung pada telepon seluler dan laptop. Dan masih banyak lagi profesi lainnya yang tak bisa bekerja tanpa layar.

Ketergantungan itu menjadi dilematis ketika kita mengakui bahwa manusia, bagaimanapun, adalah makhluk yang mengalami. Ia, melalui persepsinya atas ruang dan waktu, mewujudkan pengalaman. Tapi, ia tidak dapat hadir di dua ruang dalam waktu bersamaan. Jadi setiap kali ia berada di depan layar, ia sebenarnya tidak benar-benar berada di dunia sekarang. Ia bisa berada di mana pun, kecuali di tempat ia berada.

Bukankah mengamati layar juga adalah pengalaman? Betul, tapi pengalaman yang sudah tersaring.

Pengalaman akan ruang dan waktu memungkinkan manusia untuk melibatkan banyak indra di tubuh kita dalam satu momen. Seorang yang sedang menikmati secangkir kopi, misalkan, ia bukan sekadar melihat air hitam pekat. Hidungnya menghirup aroma kopi, yang tanpa sadar membangkitkan hasratnya. Tangannya lalu meraih pegangan, mengangkatnya perlahan. Bibirnya menyentuh pinggir cangkir, perlahan kopi meluap, membanjiri rongga bawah mulut.

Lidahnya menyeruput — telinganya bisa mendengar suara seruput itu — lalu mengecap paduan rasa pahit, asam, dan manis. Setelah menikmati rasanya, ia lalu meneguknya, selagi hangat. Pengalaman kaya hanya dalam secangkir kopi.

Tetapi, layar kemudian menyaring pengalaman manusia, setidaknya dengan dua cara. Pertama, layar mereduksi penggunaan indra dalam mengalami menjadi sebatas visual dan audio. Kedua, konten yang dihadirkan di dalam layar itu sendiri adalah representasi dari pengalaman sebenarnya. Ketika menyaksikan video konser, kita sedang menyaksikan rekaman kamera video yang merepresentasikan konser tersebut. Representasi, tentu saja, mereduksi pengalaman sebenarnya.

Tidak ada yang salah dengan reduksi tersebut, dan saya juga bukan orang yang paranoid dengan layar.

Tetapi, ada yang lalu memudar apabila layar dengan perlahan tapi pasti menggerus lebih banyak porsi di kehidupan kita: kepekaan. Kita akan semakin jarang menggunakan indra kita seutuhnya dalam mengalami apa yang ada di sekitar kita — alam dan orang-orang yang jaraknya justru tak sampai 10 meter.
Lama-lama manusia diperbudak teknologi
Suatu kali, saya membaca di Facebook sebuah tulisan tentang permainan yang bisa Anda lakukan ketika sedang pergi makan bersama teman. Peraturannya sederhana: setiap peserta harus meletakkan telepon seluler di atas meja, dan siapa yang menyentuh telepon miliknya terlebih dahulu, ia yang harus membayar tagihan makan.

Permainan ini barangkali sebuah satir yang bermaksud menyindir ketidakhadiran diri kita di dunia nyata. Permainan ini memaksa kita — kecuali Anda bersedia mentraktir teman-teman Anda — untuk berinteraksi dengan sungguh-sungguh dengan orang-orang yang secara fisik berada di sekitar kita, tanpa teralihkan perhatiannya.

Permainan ini berusaha melawan peran layar yang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.

Namun, permainan ini juga mungkin hanya lelucon di balik layar yang tidak akan pernah kita lakukan. Dunia kita kini, ada di hadapan kita sekarang. Di depan layar.

Sumber

semoga tdk emoticon-Blue Repost
maaf jika tak berkenanemoticon-I Love Kaskus (S)

Update:
BOSTON - Ini saatnya manusia memeriksa kembali hubungan mereka dengan mesin serta dampaknya sebelum semuanya terlambat, kata seorang peneliti ternama pada Jumat, 15 Februari lalu dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science.

Orang-orang makin sering mencari mainan dan peralatan robotik untuk dijadikan teman dan cenderung kurang perhatian terhadap sesama, kata Sherry Turkle, profesor program studi pengetahuan sosial dan teknologi di MIT.

Inovasi-inovasi seperti Siri, asisten digital iPhone Apple, membuat orang-orang menjadi semakin bergantung terhadap mesin, kata Sherry, dan bayangkan masa depan saat robot-robot menjadi cukup maju untuk bekerja sebagai guru bagi anak-anak dan pengasuh untuk manula.

“Ide dari rekan artifisial ini telah menjadi hal baru yang dianggap wajar,” kata Sherry.

“Anak-anak bermain dengan hewan peliharaan robotik dan menjadi akrab dengan perangkat game komputer. Aku merasa kehidupan baru yang dianggap wajar ini memiliki dampak. Untuk menjadikan rekan artifisial yang baru menjadi hal yang wajar, kita harus mengubah diri kita sendiri dan selama prosesnya, kita menyusun ulang nilai-nilai kemanusiaan dan hubungan manusia.”

Momen robotik
Dalam sejumlah wawancara terhadap orang-orang yang berusia dan berlatarbelakang berbeda, Sherry menemukan bahwa saat ini banyak dari kita yang berfantasi mengenai robot yang bisa menjadi sahabat, yang selalu mendengarkan kita, tidak pernah marah atau kecewa.

“Apa yang kita bicarakan saat kita berbicara mengenai robot? Yaitu, kita membicarakan ketakutan terhadap sesama,” katanya. “Kekecewaan kita terhadap sesama. Kurangnya hubungan sosial kita. Kurangnya waktu kita.”

Meski robot belum begitu maju untuk menjadi sahabat ilusi kita, namun era itu tidak akan lama lagi.

“Saat ini kita berada dalam momen robotik,” tutur Sherry. “Bukan karena kita telah membuat robot yang bisa menjadi rekan kita, tapi karena kita sudah siap menjadi rekan mereka.”

Inilah saatnya, ucapnya, untuk menarik langkah dan kembali mempertimbangkan bagaimana dan kapan kita ingin membiarkan mesin-mesin itu memasuki kehidupan kita dan kapan kita harus mematikan mereka.


http://id.berita.yahoo.com/perkemban...124307630.html
emoticon-Sundul Gan (S)
kaga ada teknologi ka ga bakalan bisa ngaskus loh gan emoticon-Cape d... (S)
Quote:Original Posted By Madsrealism
kaga ada teknologi ka ga bakalan bisa ngaskus loh gan emoticon-Cape d... (S)


iya bener, harus pandai2 menyikapi teknologi gan
emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)emoticon-Sundul Gan (S)
tergantung orangnya juga sih gan. kalau teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup sih, itu bukan namanya diperbudak.
kan teknologi ngebantu kita juga gan, kalo gak bisa milih ya diperbudak. harus pinter Lama-lama manusia diperbudak teknologi



Posted with kaskusBetaQR
Quote:Original Posted By gemlot86
tergantung orangnya juga sih gan. kalau teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup sih, itu bukan namanya diperbudak.

teknologi cuma alat bantu gan biar lbh mudah menyelasaikan pekerjaan

Quote:Original Posted By KennedyLeonhard
kan teknologi ngebantu kita juga gan, kalo gak bisa milih ya diperbudak. harus pinter Lama-lama manusia diperbudak teknologi

Posted with kaskusBetaQR

sip gan, menyikapi dgn bijak jg
HT tapi kok sepi ?

beh, kyknya bener bgt tuh gan, ane tiap hari gak pernah bisa lepas dr layar

apalagi kompiuters emoticon-Cape d... (S)

Quote:ane pernah waktu itu makan di restoran, singkat cerita ane duduk disamping sebuah keluarga gitu gan. keluarga itu ada 4 org deh gan kalo gak salah. kyknya mereka abis makan. nah yg ane heran gan tiap masing2 anggota keluarga megang BB emoticon-Cape d... (S) . dr pertama ane makan ampe selesai ane gak pernah dgr sekeluarga itu ngomong satu sama lain emoticon-Cape d... (S) . matanya pd ke HP semua emoticon-Cape d... (S) . apa mungkin mereka interaksi lewat BBM ya ? ane juga gak tau. sampe ane pulang tetep aja tuh begitu emoticon-Cape d... (S) . ane mkn gak lama sih gan, cuman 1/2 jam-an emoticon-Blue Guy Peace . ampe segitunya kah kita pada teknologi ? emoticon-Hammer
kalo layar tancep termasuk ga gan? emoticon-Big Grin
mending milih "jatah bini" daripada online gan emoticon-Hammer (S)
Quote:Original Posted By Madsrealism
kaga ada teknologi ka ga bakalan bisa ngaskus loh gan emoticon-Cape d... (S)


bener gan, ane bisa garing nih di rumah emoticon-Big Grin
wah ane beruntung gan kerja gak di depan layar paling malem doang bentar ngaskus.
Quote:Original Posted By Madsrealism
kaga ada teknologi ka ga bakalan bisa ngaskus loh gan emoticon-Cape d... (S)




setuju gan. banyak orang lebih milih kaskus dari pada kehidupan normal emoticon-Big Grin
HT kok sepi amat ya emoticon-Hammer
mayan nih bisa pekwan!

ga usah ngomong profesi gan emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
kayaknya kita semua, kalo ga nyentuh yang namanya facebook atau kaskus emoticon-Hammer setiap hari, kayak ada yang kurang gitu emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin

kalo Jakarta, emang ga ada hari tanpa ngeliat 'layar' emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
mau layar BB, laptop. ipad, android dll.

sama kayak tiada hari tanpa macet deh emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
(kecuali pas liburan lebaran atau akhir tahun)

kalo boleh minjem istilah yang udah sering dibilang :
teknologi, membuat yang jauh semakin dekat, dan membuat yang dekat menjadi semakin jauh


emoticon-Hammer
Jadi inget film Wall-E..
Saking segala sesuatunya dilakuin duduk2 dibelakang layar.. Sampe manusia-nya lupa caranya bergerak n bersosialisasi di dunia nyata.

youtube-thumbnail

source

emoticon-Big Grin



Mumpung pejwan.. promo dikit dulu ah..
Klik gan!

v
v

Lama-lama manusia diperbudak teknologi
bener banget gan emoticon-Big Grin
kadang sampe lupa waktu emoticon-Big Grin
"ingat !!! jangan habiskan masa depanmu depan gadget anak muda !!!"
ane juga kadang binggung gan. kalo ninggalin layar itu jadi ketinggalan berita gan....
jadi g berwawasan, kan emg skrg teknologi lg maju2nya emoticon-Hammer2
kalo mo ninggal kagak bs gan,,,,
set jadi HT
mejeng ah Lama-lama manusia diperbudak teknologi

[CENTER]________________________________________________________________[/CENTER]
Lama-lama manusia diperbudak teknologiPanceg Dina kaskus Babarengan ngajaga kaskus moal ingkah najan aya nu leweih alus
Lama-lama manusia diperbudak teknologi
Lama-lama manusia diperbudak teknologi
setubuh banget,ane bocah smp aja ngadep layar bisa sampe jam 2 pagi emoticon-Cape d... (S)
namanya juga ngikutin perkembangan jaman emoticon-Ngakak
Menjauhkan yg dekat, mendekatkan yg jauh. emoticon-Hammer
intinya jangan sampe teknologi bikin kita lupa berinteraksi di dunia nyata gan emoticon-Big Grin