alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016221734/ungkapan-jujur-seorang-anak
UNGKAPAN JUJUR SEORANG ANAK ! ! !
Ungkapan Jujur Seorang Anak

Spoiler for Show:


Tahun 2002 yang lalu saya harus mondar-mandir ke SD Budi Mulia Bogor. Anak sulung kami yang bernama Dika, duduk di kelas 4 di SD itu. Waktu itu saya memang harus berurusan dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pasalnya menurut observasi wali kelas dan kepala sekolah, Dika yang duduk di kelas unggulan, tempat penggemblengan anak-anak berprestasi itu, waktu itu justru tercatat sebagai anak yang bermasalah.

Saat saya tanyakan apa masalah Dika, guru dan kepala sekolah justru menanyakan apa yang terjadi di rumah sehingga anak tersebut selalu murung dan menghabiskan sebagian besar waktu belajar di kelas hanya untuk melamun. Prestasinya kian lama kian merosot. Dengan lemah lembut saya tanyakan kepada Dika:

“Apa yang kamu inginkan ?” Dika hanya menggeleng.

“Kamu ingin ibu bersikap seperti apa ?” tanya saya.

“Biasa-biasa saja” jawab Dika singkat

Beberapa kali saya berdiskusi dengan wali kelas dan kepala sekolah untuk mencari pemecahannya, namun sudah sekian lama tak ada kemajuan. Akhirnya kamipun sepakat untuk meminta bantuan seorang psikolog.

Suatu pagi, atas seijin kepala sekolah, Dika meninggalkan sekolah untuk menjalani test IQ. Tanpa persiapan apapun, Dika menyelesaikan soal demi soal dalam hitungan menit. Beberapa saat kemudian, Psikolog yang tampil bersahaja namun penuh keramahan itu segera memberitahukan hasil testnya.

Angka kecerdasan rata-rata anak saya mencapai 147 (Sangat Cerdas) dimana skor untuk aspek-aspek kemampuan pemahaman ruang, abstraksi, bahasa, ilmu pasti, penalaran, ketelitian dan kecepatan berkisar pada angka 140–160.Namun ada satu kejanggalan, yaitu skor untuk kemampuan verbalnya tidak lebih dari 115 (Rata-Rata Cerdas)

Perbedaan yang mencolok pada 2 tingkat kecerdasan yang berbeda itulah yang menurut psikolog, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut. Oleh sebab itu psikolog itu dengan santun menyarankan saya untuk mengantar Dika kembali ke tempat itu seminggu lagi. Menurutnya Dika perlu menjalani test kepribadian.

Suatu sore, saya menyempatkan diri mengantar Dika kembali mengikuti serangkaian test kepribadian. Melalui interview dan test tertulis yang dilakukan, setidaknya Psikolog itu telah menarik benang merah yang menurutnya menjadi salah satu atau beberapa faktor penghambat kemampuan verbal Dika. Setidaknya saya bisa membaca jeritan hati kecil Dika.

Jawaban yang jujur dari hati Dika yang paling dalam itu membuat saya berkaca diri, melihat wajah seorang ibu yang masih jauh dari ideal.

Ketika Psikolog itu menuliskan pertanyaan “Aku ingin ibuku :..”

Dika pun menjawab : “membiarkan aku bermain sesuka hatiku, sebentar saja”

Dengan beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa selama ini saya kurang memberi kesempatan kepada Dika untuk bermain bebas. Waktu itu saya berpikir bahwa banyak ragam permainan-permainan edukatif sehingga saya merasa perlu menjadwalkan kapan waktunya menggambar, kapan waktunya bermain puzzle, kapan waktunya bermain basket, kapan waktunya membaca buku cerita, kapan waktunya main game di komputer dan sebagainya. Waktu itu saya berpikir bahwa demi kebaikan dan demi masa depannya, Dika perlu menikmati permainan-permainan secara merata di sela-sela waktu luangnya yang memang tinggal sedikit karena sebagian besar telah dihabiskan untuk sekolah dan mengikuti berbagai kursus di luar sekolah. Saya selalu pusing memikirkan jadwal kegiatan Dika yang begitu rumit. Tetapi ternyata permintaan Dika hanya sederhana "diberi kebebasan bermain sesuka hatinya"

Ketika Psikolog menyodorkan kertas bertuliskan “Aku ingin Ayahku …”

Dika pun menjawab dengan kalimat yang berantakan namun kira-kira artinya “Aku ingin ayahku melakukan apa saja seperti dia menuntutku melakukan sesuatu”

Melalui beberapa pertanyaan pendalaman, terungkap bahwa Dika tidak mau diajari atau disuruh, apalagi diperintah untuk melakukan ini dan itu. Ia hanya ingin melihat ayahnya melakukan apa saja setiap hari, seperti apa yang diperintahkan kepada Dika. Dika ingin ayahnya bangun pagi-pagi kemudian membereskan tempat tidurnya sendiri, makan dan minum tanpa harus dilayani orang lain, menonton TV secukupnya, merapikan sendiri koran yang habis dibacanya dan tidur tepat waktu. Sederhana memang, tetapi hal-hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kebanyakan orang tua.

Ketika Psikolog mengajukan pertanyaan “Aku ingin ibuku tidak …”

Maka Dika menjawab “Menganggapku seperti dirinya”

Dalam banyak hal saya merasa bahwa pengalaman hidup saya yang suka bekerja keras,disiplin,hemat,gigih untuk mencapai sesuatu yang saya inginkan itu merupakan sikap yang paling baik dan bijaksana. Hampir-hampir saya ingin menjadikan Dika persis seperti diri saya. Saya dan banyak orang tua lainnya seringkali ingin menjadikan anak sebagai foto copy diri kita atau bahkan beranggapan bahwa anak adalah orang dewasa dalam bentuk sachet kecil.

Ketika Psikolog memberikan pertanyaan “Aku ingin ayahku tidak : ..”

Dika pun menjawab “Tidak menyalahkan aku di depan orang lain. Tidak mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan kecil yang aku buat adalah dosa”

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan. Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur. Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya. Saya menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya. Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Ketika Psikolog itu menuliskan “Aku ingin ibuku berbicara tentang ...”

Dika pun menjawab “Berbicara tentang hal-hal yang penting saja”

Saya cukup kaget karena waktu itu saya justru menggunakan kesempatan yang sangat sempit, sekembalinya dari kantor untuk membahas hal-hal yang menurut saya penting, seperti menanyakan pelajaran dan PR yang diberikan gurunya. Namun ternyata hal-hal yang menurut saya penting, bukanlah sesuatu yang penting untuk anak saya. Dengan jawaban Dika yang polos dan jujur itu saya dingatkan bahwa kecerdasan tidak lebih penting dari pada hikmat dan pengenalan akan Tuhan. Pengajaran tentang kasih tidak kalah pentingnya dengan ilmu pengetahuan.

Atas pertanyaan “Aku ingin ayahku berbicara tentang …..”,

Dika pun menuliskan “Aku ingin ayahku berbicara tentang kesalahan-kesalahannya. Aku ingin ayahku tidak selalu merasa benar, paling hebat dan tidak pernah berbuat salah. Aku ingin ayahku mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepadaku”.

Memang dalam banyak hal, orang tua berbuat benar tetapi sebagai manusia, orang tua tak luput dari kesalahan. Keinginan Dika sebenarnya sederhana, yaitu ingin orang tuanya sportif, mau mengakui kesalahnya dan kalau perlu meminta maaf atas kesalahannya, seperti apa yang diajarkan orang tua kepadanya.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan “Aku ingin ibuku setiap hari …..”

Dika berpikir sejenak, kemudian mencoretkan penanya dengan lancar “Aku ingin ibuku mencium dan memelukku erat-erat seperti ia mencium dan memeluk adikku”

Memang adakalanya saya berpikir bahwa Dika yang hampir setinggi saya sudah tidak pantas lagi dipeluk-peluk, apalagi dicium-cium. Ternyata saya salah, pelukan hangat dan ciuman sayang seorang ibu tetap dibutuhkan supaya hari-harinya terasa lebih indah. Waktu itu saya tidak menyadari bahwa perlakukan orang tua yang tidak sama kepada anak-anaknya seringkali oleh anak-anak diterjemahkan sebagai tindakan yang tidak adil atau pilih kasih.

Secarik kertas yang berisi pertanyaan “Aku ingin ayahku setiap hari ….”

Dika menuliskan sebuah kata tepat di atas titik-titik dengan satu kata “tersenyum”

Lanjut Di Post
Spoiler for Wajib:
ajibbb ni kayaknya ... nunggu lengkap nya dahhh emoticon-Big Grin
ini kisah nyata atau bukan gan?
keren gan.. emoticon-2 Jempol
ane gelar tiker dolo..
nyimak banget, penting nih buat orang tu dan calon ortu emoticon-Hot News



Recommended FJB Seller
VIRUSKASKUS
Copyright © FJB KASKUS 2012
Sederhana memang, tetapi seringkali seorang ayah merasa perlu menahan senyumannya demi mempertahankan wibawanya. Padahal kenyataannya senyuman tulus seorang ayah sedikitpun tidak akan melunturkan wibawanya, tetapi justru bisa menambah simpati dan energi bagi anak-anak dalam melakukan segala sesuatu seperti yang ia lihat dari ayahnya setiap hari.

Ketika Psikolog memberikan kertas yang bertuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku.”

Dika pun menuliskan “Aku ingin ibuku memanggilku dengan nama yang bagus”

Saya tersentak sekali! Memang sebelum ia lahir kami telah memilih nama yang paling bagus dan penuh arti, yaitu Judika Ekaristi Kurniawan. Namun sayang, tanpa sadar, saya selalu memanggilnya dengan sebutan Nang.

Nang dalam Bahasa Jawa diambil dari kata “Lanang” yang berarti laki-laki.

Ketika Psikolog menyodorkan tulisan yang berbunyi “Aku ingin ayahku memanggilku ..”

Dika hanya menuliskan 2 kata saja, yaitu “Nama Asli”.

Selama ini suami saya memang memanggil Dika dengan sebutan “Paijo” karena sehari-hari Dika berbicara dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Sunda dengan logat Jawa medok. “Persis Paijo, tukang sayur keliling” kata suami saya.

Atas jawaban-jawabanDika yang polos dan jujur itu,saya menjadi malu karena selama ini saya bekerja di sebuah lembaga yang membela dan memperjuangkan hak-hak anak.Kepada banyak orang saya kampanyekan pentingnya penghormatan hak-hak anak sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak Sedunia. Kepada kh4l4yak ramai saya bagikan poster bertuliskan “To Respect Child Rights is an Obligation, not a Choice” sebuah seruan yang mengingatkan bahwa “Menghormati Hak Anak adalah Kewajiban, bukan Pilihan”.

Tanpa saya sadari, saya telah melanggar hak anak saya karena telah memanggilnya dengan panggilan yang tidak hormat dan bermartabat.

Dalam diamnya anak, dalam senyum anak yang polos dan dalam tingkah polah anak yang membuat orang tua kadang-kadang bangga dan juga kadang-kadang jengkel, ternyata ada banyak Pesan Yang Tak Terucapkan. Seandainya semua ayah mengasihi anak-anaknya, maka tidak ada satupun anak yang kecewa atau marah kepada ayahnya. Anak-anak memang harus diajarkan untuk menghormati ayah dan ibunya, tetapi para orang tua tidak boleh membangkitkan amarah di dalam hati anak-anaknya. Para orang tua harus mendidik anaknya di dalam ajaran dan nasehat yang baik.
emoticon-Matabelo ijin nyimak gan ya

Maaf gan skalian promosi emoticon-Maaf Agan
Buat Agan ataupun Aganwati disini yang memiliki masalah dengan berat badan
pengen kurus sih tapi kejepit waktu gabisa olahraga ?
pengen kurus tapi takut dan malas minum obat diet dengan banyak pantangan ?
ane punya solusinya emoticon-Malu (S)
add bb : 2852206F
sms : 0898--895--2921

makasih dan maaf ya gan emoticon-Maaf Agan emoticon-Shakehand2
bagus banget gan

memang benar juga ya, kita selalu memarahi anak kalau berbuat kesalahan
mantap gan,,.
anak jangan terlau di kekang,.. tar jadi gokil
Quote:Original Posted By L.Diarra
bagus banget gan

memang benar juga ya, kita selalu memarahi anak kalau berbuat kesalahan


Iya gan makanya buat ortu wajib baca ini emoticon-2 Jempol
Quote:Original Posted By Tukang.Makan
ajibbb ni kayaknya ... nunggu lengkap nya dahhh emoticon-Big Grin


Sudah tuh gan emoticon-Big Grin
alhamdulillah bisa di ambil buat pelajaran klo sudah punya anak nanti .. emoticon-Malu
orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak2 nya
tapi kadang yang diinginkan oleh orang tua belum tentu yang terbaik untuk anak - anaknya
di sinilah pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua
Quote:Original Posted By HendraWD
orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak2 nya
tapi kadang yang diinginkan oleh orang tua belum tentu yang terbaik untuk anak - anaknya
di sinilah pentingnya komunikasi antara anak dan orang tua


Betul Banget gan emoticon-2 Jempol
thank u infonya gan. smoga hal seperti itu ga mnimpa kita smua gan.

Quote:Original Posted By mampir gan

Ungkapan Jujur Seorang AnakUngkapan Jujur Seorang AnakUngkapan Jujur Seorang AnakUngkapan Jujur Seorang AnakUngkapan Jujur Seorang AnakUngkapan Jujur Seorang AnakUngkapan Jujur Seorang Anak
Ungkapan Jujur Seorang Anak

emoticon-Recommended SellerKaos dan Jaket Distro Keren Kualitas import murah tapi ga MURAHAN. JAMINAN MUTU!!!emoticon-Recommended Seller
emoticon-CoolJaket baseball harga kaskus, boleh di check ganemoticon-Cool
emoticon-2 JempolDesign unik di jamin ga ada kaos kyk gini di tempat lain.. emoticon-2 Jempol

Ungkapan Jujur Seorang Anak

Ini yang wajib dibaca para ortu.. Emang bener banget, gan, klo ortu selalu ngerasa benar.. Juga sering gak pernah mengakui kesalahan, atau instropeksi diri.. Mereka ngajarin anak-anak buat selalu sadar akan kesalahan anak-anaknya n segera minta maaf, tapi mereka sendiri justru ngelakuin hal yg sebaliknya. emoticon-Cape deeehh

Ane udah ngalamin, gan.. Bokap ane persis kek gitu soalnya.. Bukannya ngejelek2-in ortu, tapi siapa aja pasti pengen punya ortu yg ideal..
Tapi dari situ ane bisa belajar buat jadi ortu yg ideal n sempurna buat anak2 ane kelak, gan.. emoticon-thumbsup

Pesan buat para ortu:
Quote:"Anda tak harus menjadi seseorang yang sempurna untuk menjadi orang tua yang sempurna bagi anak anda." emoticon-2 Jempol
salah satu hak anak adalah bermain emoticon-thumbsup:
lumayan buat bekal kalo dah jadi orang tua emoticon-Big Grin
Gan,,anak ente bqin ane emoticon-Mewek gan...Sungguh benar-benar kepolosan yang tulus gan... emoticon-Mewek
Rawat baik-baik gan,,,insyaAllah,,,bakal jadi tabungan surga... Aamiin.
wah ini bekal buat nanti yang punya anak emoticon-Big Grin
emoticon-Sundul