Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016219998/tragedi-sampang-bukti-pemerintah-tak-peduli-kaum-minoritas
(Tragedi Sampang) Bukti Pemerintah tak Peduli Kaum Minoritas
(Tragedi Sampang) Bukti Pemerintah tak Peduli Kaum Minoritas
Fajar Riza Ul Haq, Direktur Eksekutif MAARIF Institute for Culture dan Humanity


Quote:REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kekerasan yang terjadi Sampang, Madura, disebabkan oleh ketidakpedulian pemerintah terhadap kaum minoritas.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Maarif Insbaike for Culture and Humanity, Fajar Riza Ul Haq,

"Proses demokrasi selama ini dipaksakan ke mayoritas, dan suara kaum minoritas kurang didengarkan. Pemerintah harus mempertimbangkan suara kelompok lain," ujarnya dalam diskusi Sampang di DPD Jakarta, Jumat (31/8).

Fajar juga mangatakan ada kesan selama ini pemerintah ditekan oleh kelompok mayoritas yang sangat bertentangan dengan janji negara.

Padahal, dalam konstitusi disebutkan bahwa semua masyarakat memiliki hak suara yang sama. “Pemerintah itu tugasnya memastikan hak konstitusional setiap warga negara untuk menjalankan kepercayaannya. Jika diterapkan ke bawah, harus ada breakdown-nya. Jangan sampai negara membiarkan ada ketidakadilan," tambahnya.

Untuk itu, dia mengharapkan ke depannya peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terulang lagi. Pemerintah bisa memberikan rasa aman kepada setiap warga negaranya.

"Kita berharap tidak berulang, yang harus dijaga adalah memberikan rasa aman. Itu sudah terkoyak. Bukan hanya sipil, tapi juga aparat negara. Ini kembali sistem sosial yang ditantang oleh global," tegas Fajar.


”Ex pluribus unum”
berbeda beda adalah suatu realitas yg ada, dan negara harus berdiri tegak lurus di tengah-2 menjaga hak-2 setiap warga negara siapapun dia, peristiwa sampang mencoreng konstitusi yg sudah disepakati.

(Tragedi Sampang) Bukti Pemerintah tak Peduli Kaum Minoritas


(Tragedi Sampang) Bukti Pemerintah tak Peduli Kaum Minoritas
Quote:Untuk itu, dia mengharapkan ke depannya peristiwa-peristiwa seperti ini tidak terulang lagi. Pemerintah bisa memberikan rasa aman kepada setiap warga negaranya.

Berharap sama pemerintah yang cuman bisa prihatin?


Worthless....
kerusuhan kemarin emang ada sisi salahnya
tapi membiarkan syi'ah berkembang di indonesia adalah tindakan yang teramat2 salah

tapi kalau mau menanam ranjau untuk bangsa sendiri tidak ada salahnya bila dicoba
yah kalo ini sih lagian udah tau dilarang masih nekat

kan udah jelas agama apa apa aja yg diakui dimarih
Quote:Original Posted By Auto....Banned
yah kalo ini sih lagian udah tau dilarang masih nekat

kan udah jelas agama apa apa aja yg diakui dimarih


Tidak ada lho gan dalam konstitusi kita shiah dilarang.
Kita bicara konstitusi sesuai trit nya dan hukum yg berlaku di Indonesia.
Kita jangan melihat dari sisi "agama" atau "ajaran" walaupun itu dikatakan menyimpang.

Bila ada yang melanggar, lho kan ada pemimpin daerah, bisa dirembukkan bersama. Bukankah sila ke-5 Pancasila masih berlaku?
Quote:Original Posted By khan10
Tidak ada lho gan dalam konstitusi kita shiah dilarang.
Kita bicara konstitusi sesuai trit nya dan hukum yg berlaku di Indonesia.


yap, tapi susah gan ini negara demokrasinya udah kebablasan, belom lagi auto-pilot

jadi ane rasa saat ini udah berlaku hukum rimba
semoga saja tragedi sampang ini tidak membuat tenggelam kasus yg sedang di gelar oleh KPK

Peringatan! berita pembanding

abis minoritasnya yg bikin gara2,
pasang ranjau segala

biar berimbang aja, ini berita dari TPF NU di lapangan (bukan pejabat elit yg doyan macem2 du*t).

buka mata,
buka telinga
mending jgn buta akal


----------------------------

TPF NU Temukan Ranjau Ditanam di Lokasi Bentrok Sampang

Nurul Arifin - Okezone
Selasa, 28 Agustus 2012 05:00 wib


SURABAYA - Pengurus Cabang Nahdhotul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang dan Pengurus Wilayah Nahdotul Ulama (PWNU) Jawa Timur menerjunkan Tim Pencari Fakta (TPF) terkait tragedi kerusuhan di Kabupaten Sampang.

Hasilnya, TPF NU itu menemukan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam di sekitar lokasi kejadian.

"PCNU sejak kemarin tengah mengumpulkan sejumlah data dan informasi dari lapangan. Data sementara yang berhasil dikumpulkan oleh PCNU Sampang, bentrok yang kedua kalinya yang memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam disekitar tempat kejadian perkara," kata Wakil Ketua PCNU Sampang H. Nuruddin JC dalam keterangan rilisnya yang diterima Okezone, Senin (27/8/2012).

Menurutnya, letusan tersebut sangat kuat bahkan terdengar hingga satu kilometer. Ranjau rakitan itu memiliki daya ledak yang luar biasa dan mematikan. Sebab, ranjau tersebut dicampur dengan kelereng.

Buktinya, lanjut Nurruddin, sejumlah warga yang terluka terkena serpihan kelereng sedalam dua centimeter di bagian paha dan kaki.

Mendengar letusan itu, tanpa dikomando ribuan massa yang berada di desa terdekat menuju lokasi dengan membawa senjata tajam. Saat itu, di lokasi sudah ditemukan banyak korban yang terkena ledakkan bom itu. Hingga akhirnya bentrok tak terhindarkan.

"Mereka saling serang dengan senjata tajam, batu, kayu dan bom molotov," tambahnya.

Oleh karena itu, sebagai organisasi Islam terbesar, pihaknya meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Termasuk mengusut perakit dan orang yang menanam bom rakitan mirip ranjau itu. Yang terpenting saat ini, lanjutnya, adalah menangani para korban-korban akibat kerusuhan tersebut dan melokalisir agar konflik ini tidak menyebar ke tempat lain.

"Sebab kelompok Syiah di Sampang tidak hanya ada di Dusun Nangkernang, tetapi ada di beberapa desa di Kabupaten Sampang. Tetapi mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan dan menghormati kelompok lain yang jumlahnya lebih banyak," tandasnya.

Ia juga mengatakan, hasil temuan TPF ini akan disampaikan ke Pengurus Besar Nahdhotul Ulama (PBNU), Pemerintah dan Aparat Hukum. Sehingga hasilnya dapat menjadi referensi untuk lahirnya sebuah resolusi konflik yang lebih komprehensif.

"Penyelesaian secara damai dan penuh kekeluargaaan kan menjadi acuan para ulama Sampang," tukasnya.

Sumber



-------------------
meski minoritas,
penganut syi'ah sangat berbahaya & beringas
Quote:Original Posted By primula.
abis minoritasnya yg bikin gara2,
pasang ranjau segala

biar berimbang aja, ini berita dari TPF NU di lapangan (bukan pejabat elit yg doyan macem2 du*t).

buka mata,
buka telinga
mending jgn buta akal


----------------------------

TPF NU Temukan Ranjau Ditanam di Lokasi Bentrok Sampang

Nurul Arifin - Okezone
Selasa, 28 Agustus 2012 05:00 wib


SURABAYA - Pengurus Cabang Nahdhotul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang dan Pengurus Wilayah Nahdotul Ulama (PWNU) Jawa Timur menerjunkan Tim Pencari Fakta (TPF) terkait tragedi kerusuhan di Kabupaten Sampang.

Hasilnya, TPF NU itu menemukan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam di sekitar lokasi kejadian.

"PCNU sejak kemarin tengah mengumpulkan sejumlah data dan informasi dari lapangan. Data sementara yang berhasil dikumpulkan oleh PCNU Sampang, bentrok yang kedua kalinya yang memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam disekitar tempat kejadian perkara," kata Wakil Ketua PCNU Sampang H. Nuruddin JC dalam keterangan rilisnya yang diterima Okezone, Senin (27/8/2012).

Menurutnya, letusan tersebut sangat kuat bahkan terdengar hingga satu kilometer. Ranjau rakitan itu memiliki daya ledak yang luar biasa dan mematikan. Sebab, ranjau tersebut dicampur dengan kelerang.

Buktinya, lanjut Nurruddin, sejumlah warga yang terluka terkena serpihan kelereng sedalam dua centimeter di bagian paha dan kaki.

Mendengar letusan itu, tanpa dikomando ribuan massa yang berada di desa terdekat menuju lokasi dengan membawa senjata tajam. Saat itu, di lokasi sudah ditemukan banyak korban yang terkena ledakkan bom itu. Hingga akhirnya bentrok tak terhindarkan.

"Mereka saling serang dengan senjata tajam, batu, kayu dan bom molotov," tambahnya.

Oleh karena itu, sebagai organisasi Islam terbesar, pihaknya meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Termasuk mengusut perakit dan orang yang menanam bom rakitan mirip ranjau itu. Yang terpenting saat ini, lanjutnya, adalah menangani para korban-korban akibat kerusuhan tersebut dan melokalisir agar konflik ini tidak menyebar ke tempat lain.

"Sebab kelompok Syiah di Sampang tidak hanya ada di Dusun Nangkernang, tetapi ada di beberapa desa di Kabupaten Sampang. Tetapi mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan dan menghormati kelompok lain yang jumlahnya lebih banyak," tandasnya.

Ia juga mengatakan, hasil temuan TPF ini akan disampaikan ke Pengurus Besar Nahdhotul Ulama (PBNU), Pemerintah dan Aparat Hukum. Sehingga hasilnya dapat menjadi referensi untuk lahirnya sebuah resolusi konflik yang lebih komprehensif.

"Penyelesaian secara damai dan penuh kekeluargaaan kan menjadi acuan para ulama Sampang," tukasnya.

Sumber


bagus tu, kalo ada buktinya gw setuju diproses hukum yg tanam ranjau, tapi masa main bumi hangus, yg ga salah nanggung akibatnya.

Mengenai ada yg tanam ranjau, berita kelanjutannya belum ada tu dari kepolisian yg menjelaskan masalah ini, cuma berita dari sana sini aja.
Quote:Original Posted By primula.
iye gan, mending polri fokus mengusut OKNUM penganut agama syi'ah sesuai temuan TPF NU dilapangan. kan udh ada bahan, kan tinggal memverifikasi (lidik) & klo perlu disidik siapa dalang yg menyiapkan ide rusak itu. ini lebih fair, ketimbang keruh melulu & membiarkan keruh, sambil nyari kambing hitam dari pihak manapun

semoga aja terang-benderang & g dipelintir ala politisi yg haus dana, tahta, puja (dan darah, sok santun sambil cengengesan diatas sono)..
kesian pion2 & keluarganya yg jd korban (dikorbanin)


Udah ada gitu ketauan pelakunya siapa?

Kok udah nuduh?
Quote:Original Posted By primula.
abis minoritasnya yg bikin gara2,
pasang ranjau segala

biar berimbang aja, ini berita dari TPF NU di lapangan (bukan pejabat elit yg doyan macem2 du*t).

buka mata,
buka telinga
mending jgn buta akal


----------------------------

TPF NU Temukan Ranjau Ditanam di Lokasi Bentrok Sampang

Nurul Arifin - Okezone
Selasa, 28 Agustus 2012 05:00 wib


SURABAYA - Pengurus Cabang Nahdhotul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang dan Pengurus Wilayah Nahdotul Ulama (PWNU) Jawa Timur menerjunkan Tim Pencari Fakta (TPF) terkait tragedi kerusuhan di Kabupaten Sampang.

Hasilnya, TPF NU itu menemukan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam di sekitar lokasi kejadian.

"PCNU sejak kemarin tengah mengumpulkan sejumlah data dan informasi dari lapangan. Data sementara yang berhasil dikumpulkan oleh PCNU Sampang, bentrok yang kedua kalinya yang memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam disekitar tempat kejadian perkara," kata Wakil Ketua PCNU Sampang H. Nuruddin JC dalam keterangan rilisnya yang diterima Okezone, Senin (27/8/2012).

Menurutnya, letusan tersebut sangat kuat bahkan terdengar hingga satu kilometer. Ranjau rakitan itu memiliki daya ledak yang luar biasa dan mematikan. Sebab, ranjau tersebut dicampur dengan kelereng.

Buktinya, lanjut Nurruddin, sejumlah warga yang terluka terkena serpihan kelereng sedalam dua centimeter di bagian paha dan kaki.

Mendengar letusan itu, tanpa dikomando ribuan massa yang berada di desa terdekat menuju lokasi dengan membawa senjata tajam. Saat itu, di lokasi sudah ditemukan banyak korban yang terkena ledakkan bom itu. Hingga akhirnya bentrok tak terhindarkan.

"Mereka saling serang dengan senjata tajam, batu, kayu dan bom molotov," tambahnya.

Oleh karena itu, sebagai organisasi Islam terbesar, pihaknya meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Termasuk mengusut perakit dan orang yang menanam bom rakitan mirip ranjau itu. Yang terpenting saat ini, lanjutnya, adalah menangani para korban-korban akibat kerusuhan tersebut dan melokalisir agar konflik ini tidak menyebar ke tempat lain.

"Sebab kelompok Syiah di Sampang tidak hanya ada di Dusun Nangkernang, tetapi ada di beberapa desa di Kabupaten Sampang. Tetapi mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan dan menghormati kelompok lain yang jumlahnya lebih banyak," tandasnya.

Ia juga mengatakan, hasil temuan TPF ini akan disampaikan ke Pengurus Besar Nahdhotul Ulama (PBNU), Pemerintah dan Aparat Hukum. Sehingga hasilnya dapat menjadi referensi untuk lahirnya sebuah resolusi konflik yang lebih komprehensif.

"Penyelesaian secara damai dan penuh kekeluargaaan kan menjadi acuan para ulama Sampang," tukasnya.

Sumber



-------------------
meski minoritas,
penganut syi'ah sangat berbahaya & beringas


perntanyaannya kenapa mereka bisa pasang "ranjau"




SOLUSI MENGATASI PANAS KETIKA BERSEPEDA MOTOR



MOBIL MURAH TATA NANO
Quote:Original Posted By Lumineuses


Berharap sama pemerintah yang cuman bisa prihatin?


Worthless....

hahahaha komennya nusuk banget tuh, kalo ada yg dari pihak istana ngebaca ini psti nyesek dah dadanya

ga peduli bukan berarti ga mau memperhatikan gan
pemerintahan autopilot yang hobinya nyari cendol ke negara orang lain..

Quote:Original Posted By Lumineuses


Berharap sama pemerintah yang cuman bisa prihatin?


Worthless....


Kisah Tajul Muluk pemimpin syiah Sampang part 1

Sabtu, 01 September 2012
ada baiknya kita mengenal sosok Tajul Muluk dan kiprahnya. Tulisan ini adalah ringkasan hasil penelitian Akhmad Rofii Damyati MA, sarjana pemikiran Islam asal Madura, yang menulis Tesis Masternya tentang Konsep Ilmu Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas di Universiti Malaya, Kuala Lumpur.

Penelitian itu cukup konprehensif dan dilakukan pasca terjadinya peristiwa Desember 2011. Isinya masih cukup relevan untuk membantu memahami situasi saat ini. Secara lengkap, hasil penelitian ini telah diterbitkan oleh Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Press. Berikut kisah Tajul Muluk, sebagaimana dipaparkan oleh Akhmat Rofii Damyati, MA.

*****

Tajul Muluk alias Ali al-Murtadho lahir di Sampang, 22 Oktober 1973. Ia anak kedua dari delapan bersaudara, putra dari pasangan almarhum Kiai Ma’mun bin KH. Ach Nawawi dengan Nyai Ummah. Saudara tertuanya bernama Iklil al-Milal. Kemudian adik-adiknya secara berurutan adalah Roies al-Hukama’, Fatimah Az-Zahro’, Ummu Hani’, Budur Makzuzah, Ummu Kultsum, Ahmad Miftahul Huda.

“Ra Tajul”, begitu sapaan akrabnya di masyarakat, di masa remajanya pernah mondok di Ma’had Islami Darut Tauhid (MISDAT), asuhan KH Ali Karrar Shinhaji, di Lenteng Proppo, Pamekasan di tahun 80-an. Setelah itu, Tajul melanjutkan pendidikannya di Yayasan Pendidikan Islam (YAPI), Bangil, sekitar tahun 1988-an, selama enam tahun.

Dari YAPI, Tajul sempat diberangkatkan ke Saudi Arabia menjadi TKI selama enam tahun. Di tempat kerja itu Tajul diduga banyak belajar dan mendalami ajaran Syiah Itsna ‘Asyariyyah.

Tajul juga aktif di organisasi Syiah di Indonesia, yaitu Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI). Posisi Tajul adalah PD (Pimpinan Daerah) IJABI Sampang. Tapi, IJABI di Sampang dan bahkan di Madura lebih bergerak di bawah tanah, dan tidak ditemukan dalam daftar ormas di Sampang. Diperkirakan, aktivitas IJABI di Sampang bermula seiring dengan gerakan Syiah yang dibawa oleh Tajul Muluk.

Bermodalkan kharisma sebagai keturunan dari Batuampar, Pasarean yang cukup terkenal di Madura pada khususnya, dan di seluruh Jawa pada umumnya, yang diziarahi oleh banyak orang, Tajul menyebarkan ajaran Syiah dengan mudah dibantu saudara-saudaranya. Diperkirakan, kurang lebih Jumlah pengikut Syiah di sini mencapai 400-an dari semua usia.

Program-program sosial yang dijalankan oleh Tajul juga cukup efektif, karena ia banyak membantu orang yang kekurangan.

Sebagai orang penting dalam penyebaran Syiah di Madura, Tajul mempunyai jaringan luas. Jaringan Syiah di Madura ini sudah cukup rapi dan menyebar ke semua kabupaten. Kemajuan pesat yang dicapai Tajul Muluk dalam mengembangkan Syiah menarik perhatian tokoh-tokoh Syiah, baik nasional maupun Internasional untuk berkunjung ke Sampang. Hanya saja, Roies – adik Tajul – mengaku lupa nama-nama mereka.

Rois menyatakan bahwa bukti-bukti empiris kesesatan ajaran Tajul Muluk sejak lama sudah diserahkan kepada Kepolisian Sampang sebagai barang bukti yang meliputi buku berjudul "Tsumma Ihtadaitukarya Dr. Muhammad al-Tijani al-Samawiserta" buku kecil tuntunan praktek wudhu, azan dan sholat.

Buku-buku itu menurut Rois di dalamnya membahas rukun iman (terdiri dari lima rukun) dan rukun Islam (terdiri dari delapan rukun). Selain itu, telah dilampirkan bersama buku-buku tersebut doa-doa ziarah yang isinya melaknat terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad SAW. Termasuk juga CD kesesatan ajaran Tajul Muluk. Sepertinya, ajaran-ajaran sesat Tajul Muluk tersebut tidak jauh berbeda dengan teori-teori yang tertuang dalam rujukan utama kaum Syiah semisal "al-Kafi", "Man la Yadhuruhul Faqih", "Tahdzib al-Ahkam" dan "al-Istibshar".

****

Sepulangnya dari Saudi, Tajul masih mempraktekkan ajaran Sunni sebagaimana dipahami masyarakat pada umumnya. Namun kemudian, kira-kira tahun 2003, Tajul sudah mulai mengajarkan Syiah pada tahap awal, walaupun masih belum secara terang-terangan. Pada tahun 2003-2004, ajaran Syiah mulai disebarkan secara terang-terangan. Di masa ini rekrutmen anggota Syiah semakin massif. Tahun 2004-2005 ajaran Syiah melalui Tajul Muluk mulai mencuat ke permukaan dan diendus oleh banyak orang di Omben bahwa Ra Tajul mempunyai cara-cara berislam yang aneh. Masyarakat sudah mulai beraksi akibat keanehan pada praktek-praktek ibadah Tajul.

Tahun 2006-2007, masyarakat yang mayoritas Sunni akhirnya melakukan demo penolakan ke rumah Tajul. Desa Karang Gayam dan Blu’uran memanas. Di tahun itu juga para ulama pesantren Madura dan Pemerintah menerima aduan masyarakat yang mayoritas Sunni dengan membawa 29 item tuduhan bahwa Tajul Muluk dan saudara-saudaranya sesat.

Pada tanggal 20 Februari 2006, para ulama se-Madura mengadakan rapat yang dihadiri juga Bapak H. Fadillah Budiono (Bupati sampang waktu itu) dan Bapak Imron Rosyidi (Ketua Depag Sampang saat itu) dengan agenda mengklarifikasi tuduhan-tuduhan tersebut kepada yang bersangkutan (Tajul bersaudara). Pada rapat itu Tajul Muluk beserta kawan-kawannya datang dengan membawa kitab-kitab rujukannya dan mengajak debat para ulama Madura di tempat itu.

Sementara rapat berlangsung, masyarakat di luar rapat masih terus memanas, berteriak-teriak agar menghajar saja Tajul dan teman-teman Syiahnya. Dari pada suasana memanas, akhirnya, ulama tidak berpikir untuk membahas isi kitab-kitab yang disodorkan Tajul lagi dan kemudian para ulama memutuskan untuk menyodori enam perjanjian kepada Tajul untuk kemudian ditandatangani di depan orang-orang yang hadir waktu itu.

Namun, Tajul Muluk meminta waktu untuk berfikir dan siap menjawab pada pertemuan selanjutnya. Selang beberapa hari dari pertemuan itu para ulama mengutus sebagian Kiai, dengan KH Abd. Wahhab Adnan sebagai ketua utusan untuk menemui Tajul di Masjid Landeko’ Desa Karang Gayam, tempat kediaman kakek Tajul, KH. Ach Nawawi. Bersama para ulama waktu itu, ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Sampang (KH Mubassyir) dan Kapolsek Omben. Pertemuan itu untuk membujuk Tajul agar menerima 6 poin perjanjian itu dan hasilnya Tajul menerima.

Para ulama lalu menggelar pertemuan lanjutan, pada Ahad, 26 Februari 2006. Agendanya, mendengarkan jawaban Tajul. Sayangnya, Tajul tidak hadir. Kemudian para ulama, melalui Forum Musyawarah Ulama (FMU), mengeluarkan surat pernyataan yang menyatakan melepaskan diri dari urusan Tajul dan menyerahkannya kepada aparat yang berwajib. Mereka juga menyatakan tidak bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi di tengah-tengah masyarakat, di mana masyarakat sudah terlihat gusar dengan penyebaran ajaran Tajul tersebut. [baca:22 Dakwaan yang Tuduhkan Pada Tajul Muluk]
sumber

Kisah Tajul Muluk pemimpin syiah Sampang part 2

Walaupun demikian, masih berharap adanya sifat akomudatif Tajul, pada tgl. 26 Oktober 2009, MUI Sampang bersama Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (PRD) Sampang, Kepala Departemen Agama (DEPAG) Sampang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Sampang dan para ulama Sampang, mengadakan pertemuan kesekian kalinya dengan Tajul. Pertemuan ini diadakan di Mapolres Sampang untuk menyikapi dan mencarikan solusi terkait adanya faham Syiah yang berkembang di Desa Karang Gayam, Kec. Omben, Kab. Sampang.

Pertemuan ini menghasilkan lima poin yang ditandatangani Tajul di atas materai beserta elemen-elemen tokoh di atas. Ke lima poin kesepakatan itu adalah:

Pertama, bahwa tidak diperbolehkan lagi mengadakan ritual dan dakwah yang berkaitan dengan aliran tersebut (Syiah) oleh Sdr. Tajul Muluk karena sudah meresahkan masyarakat.

Kedua, bahwa Sdr. Tajul bersedia untuk tidak melakukan ritual, dakwah dan penyebaran aliran tersebut di Kabupaten Sampang.

Ketiga, bahwa apabila tetap melaksanakan ritual dan/atau dakwah maka Sdr. Tajul Muluk siap untuk diproses secara hukum yang berlaku.

Keempat, bahwa pakem, MUI, NU dan LSM di Kab. Sampang akan selalu memonitor dan mengawasi aliran tersebut.

Kelima, bahwa pakem, MUI, NU dan LSM siap untuk meredam gejolak masyarakat baik bersifat dialogis atau anarkis selama yang bersangkutan (Sdr. Tajul Muluk) menaati kesepakatan di poin 1 dan 2.

Perjanjian rupanya tidak berjalan. Ajaran Syiah tetap disebarkan di kampungTajul melalui polesan dakwahnya yang menawan hati masyarakat pengikutnya. Akibatnya, gesekan-demi gesekan dengan yang setia dengan paham Sunni semakin terasa.

Maka pada tanggal 8 April 2011, ulama beserta masyarakat melayangkan surat yang ditujukan kepada Bupati Sampang dengan tembusan kepada Kapolres Sampang, Dandim Sampang, Ketua DPRD Sampang, Kajari Sampang, Kakanmenag Sampang, Ketua Pengadilan Agama Sampang, Ketua PN Sampang, Ketua MUI Sampang, Kepala Bakesbang Sampang, yang ditandatangani oleh puluhan ulama dan ratusan tokoh masyarakat yang disertai dengan foto kopi KTP/SIM masing-masing sebagai jaminan keseriusan mereka.
Isu Syiah Sampang ini kemudian semakin menemukan momennya dan mencuat ke isu nasional.

Oleh karena itu, pada hari Senin, 11 April 2011 M Mabes Polri pun turun gunung untuk menyelesaikan problem Syiah di Sampang ini. Akhirnya para ulama diundang Kapolres Sampang untuk bertemu dengan Mabes Polri beserta rombongan di PP Darul Ulum Gersempal, Omben, Sampang. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan sebagaimana berikut: (1) Tajul Muluk cs. harus angkat kaki dari Madura (2) Tidak menyebarkan fahamnya di kalangan masyarakat di Madura (3) Semua pengikutnya harus kembali bergabung dengan majlis ta’lim NU Sunni untuk dapat dibina kembali.

Senada dengan itu, pada tgl. 28 Mei 2011, MUI se-Madura mengadakan musyawarah yang menghasilkan dua poin; (1) membekukan aktifitas dan gerakan Syiah Imamiyah yang ada di Desa Karang Gayam Kec. Omben Kab Sampang, dan (2) sesuai dengan tuntutan masyarakat agar pimpinan Syiah tersebut (Tajul Muluk alias Ali Murtadho) direlokasi keluar Madura.

Setelah itu Tajul Muluk diungsikan di Malang, tepatnya di Lembah Dieng – Blok N2, Kota Malang, dan tidak boleh lagi menyebarkan ajarannya di Madura. Tajul menulis Surat Pernyataan dengan tulisan tangan dan ditandatangani di atas materai. Dalam pernyataannya, demi kondusifnya Desa Karang Gayam dan Blu’uran, sementara waktu ia keluar dari kota Sampang. Ia menyatakan juga untuk mencobanya selama setahun terhitung dari tanggal ditandatanganinya Surat pernyataannya itu (29 Juli 2011, jam 23.56 WIB). Biaya relokasi ini ditanggung oleh Pemkab Sampang dan Pemprov Jatim.

Namun, menurut keterangan masyarakat, Tajul Muluk sering datang ke kediamannya di Karang Gayam untuk menjumpai anak dan istrinya sekaligus melakukan pembinaan kepada pengikut-pengikutnya. Bahkan kadang datang dengan membawa rombongan. Menurut keterangan kepala desa Karang Gayam, Bapak Hamzah, setiap ada acara Asyura di luar kota, seperti di Malang, pengikut-pengikut Syiah di kampungnya dijemput. Terlihat banyak bus beriring-iringan di jalan raya untuk menjemput para pengikutnya.

Pada 1 Agustus 2011, Bupati Sampang mengadakan rapat koordinasi Forum Pimpinan Daerah (FORPIMDA), Ketua MUI dan Kementerian Agama Kabupaten Sampang terkait dengan ketegangan yang terjadi. Rapat koordinasi ini menghasilkan lima poin. Kelima poin itu tentang kronologis permasalahan yang ada di Desa Karang Gayam Kecamatan Omben dan Desa Blu’uran Kecamatan Karang Penang, sejak awal hingga disepakatinya Tajul Muluk harus direlokasi. Namun disebutkan juga bahwa upaya-upaya yang telah ditempuh, perjanjian demi perjanjian telah dibuat, Tajul Muluk tidak memenuhi kesepakatan direlokasi yang telah difasilitasi oleh Pemerintah. Dengan kata lain, Bupati Sampang menyusun laporan kenyataan sebenarnya yang akan disampaikan kepada semua pihak. Besoknya, tgl 2 Agustus 2011, Bupati Sampang melaporkan permasalahan ini kepada Gubernur Jawa Timur selaku pihak yang juga mendanai relokasi Tajul Muluk ke Malang, dengan nomor surat 220/536/434.203/2011.

Pada hari Sabtu, 17 Desember 2011, pukul 10.00 wib hingga 12.00 wib diadakan pertemuan dua belah pihak, pihak Roies bersama tujuh kawan-kawannya (Muhlis, Munadji, Saniwan, H. Hotib, M. Faruq, Adnan dan H Abdul Wafi) dan pihak Tajul Muluk yang diwakili oleh Iklil al-Milal bin Makmun, Ali Mullah bin Marsuki, Zaini bin Umar, Mukhlisin bin Marsuki, Saiful Ulum bin Yusuf, Martono bin Muderin dan Hudi bin Sadimin. Kedua belah pihak mengeluarkan Surat Pernyataan yang ditandatangani di atas materai. Isinya: (1) menjaga dan memelihara situasi ketertiban masyarakat di Wilayah Kecamatan Karang Penang dan Kecamatan Omben tetap kondusif; (2) sanggup untuk tidak mengerahkan massa untuk unjuk rasa terkait dengan perselisihan Syiah dan Sunni; (3) tidak akan melakukan anarkis dan memprovokasi warga masyarakat; dan (4) sanggup diproses hukum apabila terbukti secara hukum melanggar pernyataan ini.

Pertemuan ini bertempat di Pendopo Kecamatan Omben yang dihadiri oleh Kapolres Sampang, DPRD Sampang, Ka Bakesbangpol, Camat Omben, Danramil Omben, Kapolsek Omben, Camat Karang Penang, Danramil Robatal, Kapolsek Karang Penang serta ratusan masyarakat Desa Karang Gayam dan Desa Blu’uran.

Jadi, kasus Sampang memang mempunyai akar masalah yang panjang selama bertahun-tahun. Berbagai pihak telah berusaha meredamnya. Toh, akhirnya kasus itu muncul lagi.

Semoga sedikit kisah Tajul dari Sampang ini sedikit banyak menambah kejelasan persoalan dan semoga kasus ini bisa diselesaikan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.*/Depok, 31 Agustus 2012

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com
selama penyebar kekacaun rasisme masih bercokol di legislatif dan struktur pemerintahan. tidak akan ada penyelesaian masalah sara di negeri ini. sebab itu memang yg di kehendaki mereka.

ini negara mau di buat macam jaman2 nabi2 mereka di kitab, tidak nurut?? tebas, bakar, singkirkan, paksa.

makanya nanti pemilu pilih calon yg nasionalis, jgn pilih yg agamis. pasti kacau agamis, rasialis sifatnya slnya. tidak perlu di jelaskan.
×