alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016192343/holiday-to-yogyakarta--dieng-plateau-bikepacker
Holiday to Yogyakarta – Dieng Plateau [BikePacker]
Holiday to Yogyakarta – Dieng Plateau [BikePacker]


Quote:Shortcut Ride Reports

Sebelum Keberangkatan
Day 1
Day 2 (part 1) + Day 2 (part 2)

Sebelum Keberangkatan

Quote:“Pokoknya kamu wajib ajak aku jalan-jalan.”
“Oke, berapa km sih?”
“Dari Jogja PP kurang lebih 270 km.”
“Oke, Siap!”


Begitulah cuplikan pesan singkat dari saudara saya dari Batam yang akan pulang ke Yogyakarta. Memanfaatkan cuti lebaran selama 10 hari, tepatnya pada hari Kamis 16 Agustus 2012 kemarin doi sudah sampai di Jogja. Saat itu saya berpikir bagusnya di antar kemana ya.. tercetus ide menikmati moment sunrise di Dieng.
Setelah menentukan waktu dan tempatnya, kami lalui hari-hari sebelumnya dengan menikmati suasana malam Kota Jogja mulai dari sunset di Pantai Parangtritis, seafood di Depok, hunting foto di 0 km, dll. Memang Jogja Istimewa !!!

Spoiler for Menikmati sunrise di atas Pantai Parangtritis.:

Spoiler for Kraton Yogyakarta.:

Spoiler for Kawasan 0 km:

Day 1 - 23 Agustus 2012

Touring kali ini saya bersama Bro Agus dari Byson On Kaskus (BOSS) dan Danis, sepupu saya dengan menggunakan Yamaha Mio. O iya Si Danis ini salah satu user dari Batam Mio Club (BMC) tapi pulang kampungnya tanpa di sertai bareng kuda besi 190cc semplakannya, doi terpaksa hanya menggunakan Mio Merah estede milik babe nya. Hari sudah semakin siang, saatnya prepare kemas-kemas barang seperlunya, tidak lupa peralatan treking simple ala kadarnya karena sesuai rencana di pagi buta nanti kami akan mendaki Puncak Sikunir, Dieng. Pukul 15.30 WIB Danis sudah sampai di rumah saya, setelah cek ricek barang dan kondisi motor tepat pukul 16.00 WIB kami berangkat meninggalkan Kota Budaya ini.

Spoiler for Mari berangkat.:


Menuju ke tempat titik kumpul dengan Bro Agus di SPBU Mlati, Jl.Magelang. Saya memilih lajur bypass ringroad daripada melewati kota, memang agak jauh jaraknya tapi relatif kondisi kemacetan masih lancar di jalur lambat dibandingkan dengan kondisi jalan di Kota Jogja, muacett parah dijamin!

Spoiler for SPBU Mlati, di Jalan Magelang.:


Di sini saya mengisi BBM bersubsidi sebanyak 6 liter saja, sedangkan Danis memanfaatkan fasilitas gratis dari SPBU untuk menambah tekanan angin karet bundarnya. Selang beberapa menit datanglah Bro Agus dengan Byson putihnya dan kamipun lanjut tancap gas menuju Temanggung. Kali ini untuk menuju Dieng saya mencoba rute alternatif dari Kota Temanggung yang nantinya tembus di Desa Tieng, yang terkenal dengan Gardu Pandang Tieng nya. Masih di daerah Magelang, mulai memasuki Muntilan sampai Kota Temanggung kondisi jalan benar-benar padat merayap didominasi mobil-mobil luar kota. Seringkali kami mengambil jalur kiri (keluar aspal) untuk mendahului kendaraan roda empat yang terjebak kemacetan, meski di tanjakan sekalipun. Setelah menghirup udara segar khas asap knalpot bermesin diesel sampailah kami di Alun-Alun Temanggung pada pukul 19.00 WIB dan segera menyantap menu nasi goreng di salah satu warung di samping area alun-alun.

Spoiler for Alun-Alun Temanggung.:

Spoiler for Nasi goreng berikut teh hangat siap saji memanjakan isi perut.:


Setelah kenyang kami lanjutkan perjalanan menuju Desa Tieng. Dari Temanggung jika ke kiri arah Wonosobo kami mengambil jalan lurus arah Dieng alternatif yaitu Weleri-Parakan lanjut ke arah Ngadirejo-Garung. Kontur jalan makin menanjak, pun dingin udara makin terasa. Dari sini Danis berpesan jika ada SPBU doi harus mengisi BBM nya karena hampir mendekati garis merah di indikatornya, Eh kenapa ga bilang dari Kota Temanggung tadi. Di sini sudah tidak ada lagi SPBU apalagi jam segini kami sudah clingak-clinguk mencari penjual bensin eceran tetapi rata-rata kiosnya sudah tutup. Namun tiba-tiba dari kejauhan terlihat sesuatu yang kami cari, ternyata benar dan untungnya masih buka.

Spoiler for Mengisi bensin eceran di Dusun Sebajak.:


Baru berjalan ± 50 meter, tiba-tiba rombongan ada yang trouble. Musibah, roda belakang Mio ternyata bocor. Alamak cari bensin ngecer saja susah, apalagi tukang tambal ban jam segini lagi. Kami terpaksa berhenti dahulu mencoba berdiskusi bagaimana jalan keluarnya.

Spoiler for Inilah biang keladinya, ngeri juga pakunya panjang tembus sampai ban dalam.:


Memang jalur alternatif ini beberapa kondisi jalannya rusak parah di titik tertentu, dan lebar jalan yang tak seluas jalur utama seperti di Wonosobo. Saya mencoba balik kanan menuju ke penjual bensin eceran tadi untuk bertanya lokasi bengkel tambal ban terdekat, memang ada sih tapi sudah pada tutup kiosnya. Tapi karena kebaikan dari warga sekitar yang ramah ini saya pun di antar ke bengkel tersebut yang hanya berjarak 100 m turun ke bawah. Meski tutup beliau mencoba mengetuk pintu rumah yang sekaligus tempat workshop tambal ban tersebut, alhamdullilah keluar juga orang di dalamnya dan bersedia menolong kami. Saya kembali ke atas untuk menjemput Mio agar segera di luncurkan ke bawah menuju bengkel yang buka dadakan ini. saat itu udara dingin benar-benar sangat terasa sampai jari-jari tangan kami mati rasa.

Spoiler for Workshop dadakan di rumah warga.:


Masih untung juga bocor nya di daerah pemukiman begini, bagaimana kalau di tengah jalan yang kanan kirinya hanya hutan dan perkebunan, sama sekali tidak ada penerangan jalan yang sempat kami lalui sebelumnya? Mungkin lain ceritanya. Tetapi lagi-lagi ada yang mengganjal, beliau ternyata tidak mempunyai stock ban dalam untuk matic, welhadalah. Jika ban lama yang barusan kena bocor ini di tambal sepertinya tidak memungkinkan untuk dipakai jalan jauh lagi, karena sobeknya agak parah gara-gara paku tak bertuan tadi. Beliau kebetulan hanya mempunyai stock ban dalam bekas, tentunya R14 lengkap dengan tambalannya juga. setelah coba kami cek sampai di masukkan ke dalam air, ban dalam bekas ini masih layak digunakan. Terpaksalah kami menggunakan ban dalam seadanya karena malam-malam begini juga tidak ada yang jualan ban. Selesai terpasang kami pun melanjutkan lagi perjalanan pada pukul 21.30 WIB dan melewati ladang kebun teh di Agrowisata Kebun Teh Tambi, pantas saja baunya begitu menyengat.
Karena dari GPS rute menuju ke Telaga Cebong yang menjadi lokasi bermalam tidak terbaca, kami beberapa kali bertanya ke penduduk sekitar. Ternyata banyak yang tidak tahu atau belum pernah dengar nama Telaga Cebong. Yang mereka ketahui hanya Telaga Warna dan Telaga Menjer. Wah bingung juga, tanya ke orang asli Dieng kok pada ga tahu tempat lokasi wisatanya. Kami lanjutkan memutar gas sampai di simpang tiga Dieng yang mulai ramai oleh sekumpulan ojek dan beberapa penginapan. Dari sini kami bertanya rute lagi untuk yang kesekian kalinya, akhirnya ada juga orang yang tahu. Setelah di beri penjelasan kami segera melanjutkan perjalanan karena hari yang sudah semakin larut. Dari simpang tiga Dieng tadi kami berbelok ke kiri arah Telaga Warna. Naik terus ke atas melewati Desa Sikunang sampai jalan aspal habis, dan berubah menjadi jalan offroad. Meski apparel sudah lengkap dari kepala sampai ujung kaki tetap saja dingin nya masih terasa sampai menusuk tulang apalagi naik motor di malam hari dan menantang udara dingin khas Dieng. Batu-batu besar dan liar dengan debunya yang sangat mengganggu pernafasan, butuh konsentrasi dan keseimbangan untuk melewati medan tersebut jika di malam hari. Tiba-tiba rombongan kami di ikuti dari belakang lalu mendekati saya, “Mau kemana bro?” ternyata doi warga Desa Sembungan, desa tertinggi di Dieng sekaligus lokasi Telaga Cebong itu berada. Akhirnya doi bersedia mengantar kami sampai ke tempat tujuan dengan Yamaha Byson merah nya. Lumayan dapat guide pribumi, hehe..

Spoiler for Lokasi bermalam kami.:


Tibalah kami di sebuah lahan parkir yang tempatnya tidak terlalu luas dan di sampingnya persis terdapat sebuah lapangan sepakbola, di sini kami berhenti dan bertemu dengan beberapa penduduk sekitar yang sedang menghangatkan diri di sebuah api unggun. Setelah turun dari motor kami bergabung di sekitar api unggun dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Karena keinginan kami ngecamp persis di pinggir telaga beserta motornya, Bro Afton yang mengantar kami tadi juga mencarikan rute sedikit mblusuk masuk di jalanan ladang kentang. Setelah menemukan tempat yang cocok kami segera turun mempersiapkan tenda dan barang-barang kami. Waktu menunjukan pukul 22.30 WIB kami segera membungkus badan masing-masing di dalam sleepingbag dan menikmati malam dengan suhu hampir 5 derajat ini, brrrr......

Spoiler for Di tepian Telaga Cebong, sungguh malam hari yang indah lengkap dengan sejuta bintang bertebaran di angkasa.:

Spoiler for Lafuma Summertime ¾ tent.:

Spoiler for Biker, selain sadar safety riding yang satu ini juga benar-benar memperhatikan safety sleeping hehe..:



Rincian pengeluaran biaya hari ini :
- Premium 6 L di SPBU Mlati, Jl.Magelang : Rp 30.000,-
- Belanja konsumsi di Indomaret : Rp 15.000,-
- Makan malam, Nasi Goreng & minuman + parkir di Alun-Alun Temanggung : Rp 13.000,-

Day 2 - 24 Agustus 2012

Bunyi alarm sudah terdengar, waktu sudah menunjukan pukul 04.00 WIB dini hari, saatnya bangun dan bersiap treking menuju Puncak Sikunir.

Spoiler for Treking ke Puncak Sikunir.:


Kami mulai berjalan kaki melalui jalan setapak, suasana yang sepi dan gelap gulita kami terobos dengan menggunakan senter yang kami bawa masing-masing. Melewati jalanan dengan tekstur tanah yang sangat menanjak dan di sampingnya terdapat hutan serta jurang yang cukup dalam. Udara semakin terasa sangat dingin, konon katanya dari bule-bule yang pernah mendaki di sini dinginnya melebihi di Winter, Orange Country, California. Jaket dan sarung tangan yang saya pakai terasa belum cukup untuk melindungi tubuh dari dinginnya angin yang semriwing ini. Di tengah perjalanan saya melihat beberapa tenda yang sudah berdiri di balik gunung. Akhirnya kami sampai di puncak tertinggi dan sudah terlihat beberapa rombongan yang sudah mendahului kami. Pendakian selama ± 30 menit dan sukses membuat nafas kami ngos-ngosan. Puncak ini berkoordinat di S7.23883 dan E109.93000. Segera kami mencari spot yang bagus dan memasang tripod kamera untuk membidik Golden Sunrise, selanjutnya biar gambar yang bercerita.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:


Sedikit demi sedikit tampak semburat merah dari arah timur. Pemandangan siluet pun mulai nampak di hadapan kami, megahnya Gunung Sindoro mulai jelas didampingi Gunung Sumbing di belakangnya. Beberapa kumpulan awan berubah warnanya menjadi memerah terkena cahaya matahari yang mulai menyembul keluar. Jajaran lampu-lampu di beberapa desa di bawah tampak menghiasi kaki Gunung Sindoro. Tidak ada kabut sama sekali sehingga moment Golden Sunrise berhasil kami dapatkan. Subhanallah saya rasa tidak cukup di ungkapkan dengan kata-kata, sungguh fenomena matahari terbit yang sangat indah, awesome!

Spoiler for spoiler:


Versi siluetnya, saya mencoba mode speed tinggi dengan ISO rendah.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for Menggapai matahari.:

Spoiler for spoiler:

Spoiler for For BMC Batam di Puncak Sikunir, Dieng Plateau.:


Gunung Sikunir memang salah satu tempat yang tepat untuk menanti bangunnya Sang Surya dari peraduannya. Gunung yang terletak di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo ini memiliki ketinggian 2.350 mdpl. Setelah puas menikmati moment sunrise kami kembali berjalan ke arah barat menuju lereng sebelah untuk melihat Telaga Cebong dari atas.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:

Spoiler for Telaga Cebong dari atas.:

Spoiler for spoiler:


Saatnya kembali ke bawah, kini jalan yang kami tempuh berganti menjadi turunan yang curam. Harus extra hati-hati karena jika tidak kita akan terjun bebas ke bawah, sangat berbahaya.

Spoiler for Terlihat puncak dari Gunung Sindoro.:

Spoiler for Terdapat sebuah goa yang misterius, entah apa namanya kami tidak tahu..:

Spoiler for Lembah hijau.:

Spoiler for spoiler:


Akhirnya kami sampai di tepian Telaga Cebong yang berkoordinat di S7.23627 dan E109.91998. Segera kami mengambil beberapa gambar, terlihat pula beberapa aktivitas para petani kentang, sayur mayur, dan warga sekitar yang membawa pompa serta selang air untuk mengairi ladangnya. Konon di sini masih banyak cebongnya (anak katak), memang sesuai dengan nama telaganya.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for Spyshoot, hehe..:

Spoiler for Kesibukan warga setempat di pagi hari.:

Spoiler for Di sinilah tempat kami camping semalam.:

Spoiler for For BOSS Kaskus di Telaga Cebong, Dieng Plateau.:

Spoiler for Si Kebo bersama teman maticnya.:

Spoiler for Api unggun bersama warga setempat.:

Spoiler for spoiler:


Waktu sudah menunjukan pukul 08.00 WIB saatnya kami prepare kembali melanjutkan perjalanan ke Telaga Warna. Sampai kami keluar dari kawasan Telaga Cebong, ternyata terdapat beberapa loket retribusi di jalan. Lumayan berangkat malam jadi dapat gratisan, hehe..

Spoiler for spoiler:


Di sepanjang perjalanan banyak kami temui bentuk kawah yang jelas terlihat dari dataran karena dataran tinggi Dieng memang sejarahnya terbentuk oleh kawah gunung berapi yang sudah mati. Sebelum menjadi dataran, wilayah ini merupakan danau besar yang kini tinggal bekas-bekasnya berupa telaga.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for PLTU di Dieng.:

Spoiler for Dieng Plateau Theater.:


Dari simpang tiga Dieng Theater ± 400 m kami sudah sampai di pelataran parkir roda dua di Telaga Warna. Setelah mencari posisi kami membayar tarif parkir dan menitipkan helm di penitipan yang sudah tersedia agar keamanan lebih terjamin. Sebenarnya ingin sekali nantinya foto bersama Si Kebo di pinggiran Telaga Warna seperti yang sudah pernah dilakukan Om Reza dari Forum Nusantaride. Tapi apa daya kini penjagaan di tiap sudut akses masuk ke Telaga sudah ketat, motor pun tidak bisa masuk kecuali para petani yang akan pergi ke ladangnya.

Spoiler for Selamat Datang di Telaga Warna.:

Spoiler for Peta wisata di Dieng Plateau.:


Telaga yang beralamatkan di Desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo ini mempunyai ketinggian lebih dari 2.100 mdpl. Letaknya yang tersembunyi di antara barisan perbukitan ini sangat menarik akan keelokan dan kemisteriusannya, konon banyak mitos yang menceritakan asal muasalnya telaga ini muncul. Salah satunya perhiasan yang di buang dari sebuah kerajaan yang menyebabkan warna telaga ini menjadi berwarna-warni. Setelah kami memasuki gerbang loket terdapat jalan setapak yang sudah di lengkapi paving block dengan hutan rimbun di tiap sisinya. Selain Telaga Warna, di kawasan ini juga terdapat Telaga Pengilon, Goa Jaran, Goa Gajah, dan Batu Semar. Kini terlihat hamparan air kehijauan di depan mata. Airnya yang begitu tenang, kicauan burung, dan rimbunnya hutan lindung sangat memberikan nuansa damai yang menyejukkan hati.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:


O iya, di sini saya melihat salah satu fenomena anak yang berambut gimbal, yang konon adalah raja tanpa mahkota dari Dieng. Anak gimbal tersebut memang terlahir normal, hanya pada suatu fase tiba-tiba rambut mereka berubah gimbal dengan sendirinya. Penduduk asli Dieng percaya bahwa mereka ini adalah keturunan dari pepunden leluhur pendiri Dieng dan terdapat makhluk gaib yang ‘menghuni dan menjaga’ rambut gimbal tersebut. Keunikannya terdapat pada keinginan (anak tersebut) yang harus terpenuhi, apapun permintaannya, seaneh dan sesulit apapun karena jika tidak si anak akan menderita sakit. Namun kebanyakan orang Dieng menganggap bahwa anak gimbal adalah berkah yang akan membawa keberuntungan bagi mereka. Sayang pada saat itu lupa mau memotret anak gimbal tersebut.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:


Kami terus berjalan kaki mengitari tepian telaga, rencananya kami akan mencari spot dimana Telaga Warna dan Pengilon serta latar Gunung Prau dapat menjadi satu di lensa kami. Tetapi niat tersebut sepertinya memang belum kesampaian, kami sudah berputar kasana kemari tapi tak kunjung tiba di tempat yang kami maksud. Hanya capek dan lelah yang kami dapatkan, maklum dari bangun pagi tadi belum sarapan apalagi cuci muka.

Spoiler for Terus berjalan tanpa arah.:

Spoiler for Istirahat dulu, hosh.. hosh..:

Spoiler for Hanya gambar dari Telaga Warna ini yang bisa kami ambil di atas bukit kecil.:

Spoiler for Terdapat sebuah makam:


Setelah kami turun dari sebuah bukit kecil tiba-tiba munculah hamparan padang rumput yang luas. Wah di mana lagi ini, kami sempat ragu akan jalur yang kami lalui karena memang tidak ada papan penunjuk jalan. Setelah kami mencoba terus berjalan terlihat sebuah telaga yang berbeda, inilah Telaga Pengilon.

Spoiler for spoiler:

Spoiler for spoiler:


Saatnya kami kembali melanjutkan perjalanan karena hari sudah semakin siang. Setelah keluar dari kawasan Telaga Warna kami langsung menuju ke warung terdekat di area parkir kendaraan. Tentu saja mie ongklok yang kami tuju, ikon kuliner di Dieng, Wonosobo.

Spoiler for Warung Makan Mie Ongklok.:

Spoiler for Mie Ongklok siap santap.:


Warung kecil yang terdapat di salah satu area latar parkir di Telaga Warna ini tempatnya tidak terlalu luas dan nampak biasa saja, namun rasanya tidak kalah dengan warung-warung mie yang ada di bawah (Wonosobo). Perpaduan antara mie, sayuran, dan kuah kental bersama kubis dan kucai mentahnya lalu dimasukkan ke dalam semacam saringan dari bambu lalu di “ongklok-ongklok” atau dicelupkan berkali-kali ke dalam air mendidih. Setelah kenyang, kami berdikusi bagaimana rencana selanjutnya karena waktu sudah menunjukan pukul 10.30 WIB, akhirnya kami segera menuju ke Masjid Dieng untuk bersiap-siap beribadah sholat jum’at berjamaah dengan warga sekitar.

(Lanjutan) Day 2 - 24 Agustus 2012

Spoiler for Masjid Baiturrohman Dieng.:


Setelah sampai di salah satu masjid di Dieng yang berkoordinat di S7.20623 dan E109.91149 kami segera melepas apparel yang terpasang dan menginjakkan kaki di pelataran masjid. Nyesss, begitulah rasanya telapak kaki kami menginjakkan tanah di Dieng apalagi saat kami mencoba mencuci muka, dinginnya air membuat kami merinding kedinginan. Padahal saat itu masih siang hari, bagaimana kondisi air di malam atau pagi hari ya..

Spoiler for Langit-langitnya unik!:


Selesai sholat jum’at berjamaah dan menjamak sholat azhar, kami pun duduk santai sambil beristirahat di serambi masjid, kali ini acara bebas. Bro Agus terlihat sibuk dengan pekerjaannya via BB, Danis melipir keluar mencari warung terdekat yang katanya laper lagi (yah karakternya sesuai dengan alamat emailnya, danislaper@gmail.com), dan saya sendiri jalan-jalan di sekeliling area masjid.

Spoiler for Fenomena Halo Matahari, tepat di atas masjid.:

Spoiler for Pemandangan di sekitar.:

Spoiler for Pemulihan energi alat komunikasi dan kamera.:

Spoiler for spoiler:


Pukul 14.30 WIB saat nya kami bergegas menuju obyek wisata selanjutnya, yaitu Komplek Candi Dieng. Dari masjid ini hanya berjarak 750 meter saja. Saat membayar loket masuk sebesar Rp 10.000/orang ternyata sudah termasuk ke kawasan Kawah Sikidang. Wah baru tahu nih, masak dari candi balik lagi ke arah Telaga Warna.. sudah capek dan tanggung rutenya.

Spoiler for Komplek Candi Dieng.:

Spoiler for Candi Arjuna beserta reliefnya.:


Berkoordinat di S7.204947 dan E109.906887 serta berketinggian 2.088 mdpl. Letak candi ini berada di wilayah Banjarnegara dan Wonosobo. Komplek candi ini di bangun pada masa agama Hindu dan diberi nama yang berkaiatan dengan tokoh-tokoh Wayang Purwa dalam lakon Mahabarata. Misalnya Candi Arjuna, Candi Gatotkaca, Candi Dwarawti, Candi Bima, Candi Semar, Candi Sembrada, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa. Sebenarnya nama-nama candi tersebut tidak ada hubungannya dengan fungsi bangunan dan tokoh siapa yang membangun candi tersebut belum bisa dipastikan karena informasi yang terdapat di 12 prasasti batu tidak ada satupun yang menyebutkan siapa tokoh yang mendirikannya.

Spoiler for spoiler:


Selesai mengeksplore kawasan candi, kami lanjutkan ke tujuan terakhir yaitu Telaga Menjer. Di perjalanan banyak kami temui rombongan komunitas roda dua lain seperti Honda Beat, Bajaj Pulsar, Tiger, dll tak lupa suara gema klakson dan tanda jempol sama-sama kami acungkan.

Spoiler for Gerbang Dieng Plateau Area.:

Spoiler for Satu-satunya akses jalan menuju Telaga Menjer.:

Spoiler for PLTA yang berlokasi di Kecamatan Garung.:

Spoiler for Pipa besar dengan diameter mencapai 3m untuk mengalirkan air dari telaga menuju ke PLTA.:


Akhirnya tiba juga kami di pelataran parkir sepeda motor di sisi selatan. Setelah membayar loket masuk kami berjalan ke bawah menuruni sejumlah anak tangga menuju tepian telaga yang terluas di daerah Dieng ini. sebuah telaga yang memiliki kedalaman sekitar 147 m dan di kelilingi oleh bukit hijau, pohon pinus, dan cemara yang membuat kami semakin betah saja duduk santai di tepian sambil menikmati keindahan alam telaga.

Spoiler for spoiler:


Telaga ini terbentuk akibat dari letusan vulkanik di kaki Gunung Pakuwaja, dulunya air di telaga hanyalah beberapa mata air kecil di sekitar telaga dan juga mengandalkan curah hujan yang tinggi pada musimnya. Dengan dibangunnya PLTA Garung sejak zaman penjajahan Belanda, maka dibendunglah sebagian Sungai Serayu dan dialirkan melalui terowongan bawah tanah sepanjang 7 km di bawah Perkebunan Teh Tambi yang sempat kami lewati kemarin malam. Telaga ini berkoordinat di S7.27339 dan E109.92690

Spoiler for spoiler:

Spoiler for Cap cus bla.bla.bla..:

Spoiler for spoiler:


Waktu sudah semakin larut, jam di tangan sudah menunjukan pukul 17.30 WIB, akhirnya selesai sudah kami mengeksplore kawasan wisata di Dataran Tinggi Dieng. Meski tidak semua tempat bisa kami kunjungi, karena masalah waktu yang pada hari kedepannya Danis sudah harus pulang kembali ke Batam. Saatnya saya mengendarai Si Kebo menuju Kota Wonosobo, menikmati suasana malam di sana.
Setelah sampai di alun-alun pada pukul 18.00 WIB, tepatnya di sebelah selatannya kantor camat Wonosobo kami berhenti di sebuah warung makan bebek goreng yang berkoordinat di S7.35839 dan E109.90449 sebagai menu makan malam kami.

Spoiler for Warung makan Bebek Goreng H.Slamet di Wonosobo.:

Spoiler for Tiga porsi dada bebek tulang lunak siap disantap!:


Kenyang sudah perut kami. Udara malam hari ini sama saja seperti di Dieng, hawa dingin masih turut serta mengiringi kami. Saat kami mulai prepare di halaman parkir seorang tukang parkir menanyakan tujuan kami hendak kemana? Saya bercerita bahwa sebelumnya kita baru saja turun dari Dieng. Tukang parkir tersebut hanya geleng-geleng kepala saja, beliau bilang dia sendiri saja di sini sudah kedinginan apalagi di atas sana, hehe..

Spoiler for SPBU 44.563.02 di Wonosobo.:


Sebelum keluar dari Wonosobo, Danis kembali mengisi bahan bakar tunggangannya di SPBU yang beralamatkan di Jalan Jend. Bambang Sugeng. Waktu menunjukan pukul 19.00 WIB lalu kami lanjutkan perjalanan pulang menuju Yogyakarta via jalur alternatif yaitu rute Wonosobo-Salaman-Kepil-Magelang. Saat saya sedang santai-santai nya riding tiba-tiba Danis merapat di sisi kiri saya sambil berkata,
Quote:“Carica?” dengan nada santainya.
“Oo iya, lupa!” sontak saya kaget dan refleks menyalakan sein ke kiri serta menghentikan laju Si Kebo.

Untung saja ada yang mengingatkan, kalau tidak kasihan orang rumah nggak ada oleh-oleh, hehe.. Dari tempat saya berhenti, terdapat sebuah toko oleh-oleh khas Wonosobo namanya Toko Amalia yang beralamatkan di Jalan Raya Kertek km 1. Setelah membeli beberapa Carica, yaitu pepaya kecil yang hanya tumbuh di dataran tinggi dengan warna kuning keemasan dan baunya yang khas, manis menggiurkan kami kembali riding membelah kemacetan di Kota Wonosobo.

Spoiler for Sempat trouble sedikit, frame tenda miring-miring mau jatuh. Masih untung ada yang lihat.:


Entah mengapa sepanjang perjalanan sampai di Jogja dingin masih saja setia menemani. Setelah menyebrang Ringroad Utara Jalan Magelang sampai memasuki Kota Yogyakarta, tepatnya di simpang empat Jalan Magelang 0 km Bro Agus mulai berpisah karena rumah doi berada di Kotagede. Kini tinggal saya dan Danis menuju Ringroad Selatan Jalan Parangtritis melalui jalanan kota. Akhirnya pada pukul 21.15 WIB tepat kami sampai di rumah, di sambut dengan welcome drink kopi hangat dari bunda tercinta, hehe..

Spoiler for Koleksi bertambah lagi..:

Spoiler for Jarak tempuh total 268,5 km.:


Jangan kapok ya Nis, semoga di touring kali ini bisa menambah pengalaman dan koleksi jepretanmu tentunya hehe.. kapan-kapan jika pulang ke Jogja lagi, mari kita eksplore wisata alam di Jawa Tengah. Salam buat teman-teman BMC di Batam, see you next time.


Rincian pengeluaran biaya hari ini :
- HTM Telaga Warna + parkir + penitipan helm : Rp 9.000,-
- Mie Ongklok dan minuman : Rp 20.000,-
- Parkir Masjid Baiturraohman, Dieng : Rp 2.000,-
- HTM Komplek Candi Dieng + parkir : Rp 12.000,-
- HTM Telaga Menjer + parkir : Rp 7.000,-
- Sewa sleepingbag : Rp 6.000,-
- Sewa tenda dome (Rp 25.000/24 jam di bagi tiga) : Rp 8.000,-
- Makan malam, Dada Bebek 1 porsi + nasi + minuman + parkir : Rp 27.000,-
- Oleh-Oleh Carica sebanyak 6 pcs : Rp 30.000,-

Total pengeluaran sebesar : Rp 179.000,-
reserved emoticon-Sundul Gan (S)
reserved emoticon-Sundul Gan (S)
Foto sunset Paris emoticon-Matabelo

Nunggu update emoticon-Malu
Quote:Original Posted By Doniafi
Foto sunset Paris emoticon-Matabelo

Nunggu update emoticon-Malu


cakep ya emoticon-Cool
speechless......
oom satriacustom.......
spesialis yg beginian lah.....
mantap oom.......


salamspesialis
walaahhh... kaga ada yang jelek jepretannya.. apalagi telaga warnanya

Spoiler for Telaga Warna.:
Spoiler for Telaga Warna.:


, sunsetnya dan yang spesialnya "Rainbow Ring"

Spoiler for Fenomena Halo Matahari, tepat di atas masjid.:


dan ini yang paraah memanjakan mata
Spoiler for Spyshoot, hehe..:
... emoticon-2 Jempol

sayang kebonya gak diajak ngeliat sunset...

yang bikin panik cuma kalo trouble pas tengah hutan, jalan keluarnya gimana tuuh mas kalo itu sampe kejadian... di tengah pedesaan aja susah nyari bengkelnya.. emoticon-Takut
Quote:Original Posted By senia
speechless......
oom satriacustom.......
spesialis yg beginian lah.....
mantap oom.......


salamspesialis


makasih bro, terlalu berlebihan ah. Spesialis dah kaya bengkel aja emoticon-Malu (S)
ceritanya itu aku baru jadi guide sdr ku emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By GlovesOfHaste
walaahhh... kaga ada yang jelek jepretannya.. apalagi telaga warnanya

Spoiler for Telaga Warna.:
Spoiler for Telaga Warna.:


, sunsetnya dan yang spesialnya "Rainbow Ring"

Spoiler for Fenomena Halo Matahari, tepat di atas masjid.:


dan ini yang paraah memanjakan mata
Spoiler for Spyshoot, hehe..:
... emoticon-2 Jempol

sayang kebonya gak diajak ngeliat sunset...

yang bikin panik cuma kalo trouble pas tengah hutan, jalan keluarnya gimana tuuh mas kalo itu sampe kejadian... di tengah pedesaan aja susah nyari bengkelnya.. emoticon-Takut


sunset dimana bro? Ga ada view soalnya, sorenya langsung menuju Wonosobo emoticon-Blue Guy Peace
kalo sunrise emang kebo ga bisa ikut serta karena emang jalannya setapak.

Itu karena kelalaian jg bro, kita ga bawa toolkit lengkap jd makin repot. Yah siap2 fisik mental lah bro, kita jg harus bisa survive keadaan sekitar emoticon-thumbsup
RR nya si om emang bener2 mantep om..
Holiday to Yogyakarta – Dieng Plateau [BikePacker]
ini baru tret ............

lengkap banget ................

emoticon-thumbsup
om..om..ane setia membaca RR ente krn selalu yahuuuddd...asli ajiiiiibbbbb....emoticon-Matabelo kebo ane jd pengen dibawa jalan2 nih emoticon-Hammer2

Nyumbang emoticon-Rate 5 Star moga2 HT emoticon-I Love Indonesia

Ditunggu RR selanjutnya ya omm... emoticon-2 Jempol Ijin sedot pict telaganya ya om bwt wallpapp..boleh yah..yah..
emoticon-Hammer
bah..jumat kmrn ane juga ke sana mas gan..kayanya pas jumatan liat motor ente dah di parkiran mesjid..emoticon-Big Grin

Spoiler for :


rame bgt dieng pas lebaran emoticon-Nohope

kapan2 nek msh ng jogja melu ane nek jalan2 emoticon-Big Grin
Luar biasa gan, kepengen juga nih ikutan. Kapan yah.

Salam Sruduk emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By vtra09
RR nya si om emang bener2 mantep om..
Holiday to Yogyakarta – Dieng Plateau [BikePacker]


makasih bro, cuman RR sederhana kok
coba ada yg bisa ngasih sponsor, ke luar jawa ane emoticon-Ngacir2
Quote:Original Posted By yandhi_gila'
ini baru tret ............

lengkap banget ................

emoticon-thumbsup


kasih ijo nya donk gan emoticon-Cendol (S)
×