Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000016028163/pb-nu-presiden-tak-perlu-minta-maaf-kepada-korban-g30s-pki-waspada-pki
Thumbs up PB NU: Presiden Tak Perlu Minta Maaf kepada Korban G30S PKI (WASPADA PKI)
PB NU: Presiden Tak Perlu Minta Maaf kepada Korban G30S PKI

Jurnas.com | SEJUMLAH organisasi yang dimotori oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) menyatakan penolakanya atas munculnya wacana rencana permintaan maaf Presiden RI kepada para mantan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang disebut sebagai korban Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965-1966.

”Menolak keras semua bentuk permintaan maaf dari Pemerintah/Presiden RI terhadap korban G30S / PKI 1965-1966. Tentang rekonsiliasi, biarkan berlangsung secara alamiah dan berbudaya,” ujar Wakil Ketua PB NU, As'ad Said Ali, bersama Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Anshor, Nusron wahid dan sejumlah tokoh lainnya saat membacakan pernyataan sikap di Kantor PB NU, Jakarta, Rabu (15/8).

Menurut As'ad, permintaan maaf itu seyogianya memang tak perlu dilakukan guna melindungi dan menghormati para keturunan PKI. ”Untuk apa minta maaf, karena ada akan aspek hukum bila seperti itu. Jadi lupakan saja karena justru dengan ini maka kami akan melindungi dan menghormati teman-teman turunan PKI,” katanya.

Namun disisi lain, munculnya wacana itu juga dinilai sebagai indikasi adanya upaya membangkitkan kembali PKI.

Karena itu, tak hanya mengkritisi wacana permintaan maaf Presiden, PB NU dan sejumlah organisasi lainnya, jelas As'ad, juga menegaskan sikap untuk menentang tuntutan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) membentuk peradilan HAM terkait pelanggaran HAM berat 1965-1966. ”Rekomendasi Komnas HAM agar ada pengadilan Ad Hoc itu urusan negara. Karena orang-orang kita saja (PB NU) dibunuh tapi tidak pernah menununtut,” tegas As'ad.

As'ad menilai, pembentukan peradilan HAM hanya akan menimbulkan masalah baru menyangkut tuntutan dan saksi, sehingga PB NU memilih untuk berjiwa besar dan melupakan segala sesuatu hal yang berkaitan dengan korban PKI, baik yang terjadi sebelum maupun sesudah tahun 1965.

”Memang semua kejadian itu tidak bisa dihapus tapi hal itu juga tidak bisa menghalangi rekonsiliasi. Jadi yang lalu biar berlalu dan sekarang menatap kedepan,” katanya.

http://www.jurnas.com/news/69002/PB_...sional/Politik


NU Minta Warga Waspadai Kebangkitan PKI
Besar Kecil Normal
TEMPO.CO, Jakarta: Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta warga mewaspadai kebangkitan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketua umum Gerakan Pemuda Ansor Nusron Wahid menengarai beberapa peristiwa akhir-akhir ini ada kaitannya dengan pergerakan PKI. Bahkan pergerakan itu, kata dia, berasal dari lingkungan istana.

Peristiwa pertama, kata Nusron, adalah munculnya wacana mendorong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta maaf kepada korban pembantaian 1965-1966. “Wacana ini muncul dari lingkungan dalam istana,” kata Nusron di kantor PBNU pada Rabu 15 Agustus 2012.

Peristiwa kedua adalah rekomendasi dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM) agar pemerintah membentuk peradilan HAM guna mengungkap kasus pembantaian atas ratusan ribu anggota dan simpatisan PKI pada 1965.

Ketiga, kata Nusron, adalah pergerakan-pergerakan dan aktivitas mantan anggota PKI di Jawa Barat, Jawa Tengah, juga Jawa Timur. “Sudah jelas di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak bleh ada ideologi lain sebagai pandangan hidup dasar negara selain Pancasila,” katanya.

Wakil Ketua Umum PBNU As’ad Said Ali justru mempertanyakan mengapa hanya kasus pembantaian PKI saja yang diungkap. Menurut As’ad tak adil jika kasus pembantaian 1965-1966 diungkap tapi peristiwa-peristiwa sebelumnya tidak. “Kita sama-sama tahu, pada masa itu ada banyak pembunuhan. Sebelumnya banyak anggota NU dibunuh tapi kami tidak mengungkit-ungkit,” ujarnya.

Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Haris Azhar tak setuju dengan sikap PBNU. Menurutnya, kasus antara pembunuhan anggota NU dengan pembantaian PKI adalah dua hal yang berbeda. “Pembunuhan orang NU adalah hukum pidana karena konflik horizontal, sedangkan pembantaian PKI adalah perintah negara, jadi ada konflik vertikal,” kata Haris.

http://www.tempo.co/read/news/2012/0...ebangkitan-PKI

dan juga yang perlu diwaspadai adalah tindakan provokasi dan memecah belah antar warga negara.

PB NU: Presiden Tak Perlu Minta Maaf kepada Korban G30S PKI (WASPADA PKI)
waaahhhhhh
ane gk paham ama peristiwa G30S/PKI
bingung
Baru kali ini gua sependapat sama gerombolan sarung.
Emangnya masih ada yg mau pake paham Komunis ?

Di Russia Udah Runtuh

Di China Komunisnya udah rada2 Kapitalis...

Di Vietnam juga mulai ikut2an cara China...

Kabarnya Di Korea Utara si Kim Jong Un mau studi banding ke China, mau niru komunis2an nya China...

Di Cuba adeknya Fidel Castro kemaren menyatakan Cuba akan Membuka diri...

Komunis mah Paham Gagal... Sama Kayak Kapitalis...

Ambil yg Baik dari Komunis... Ambil yg Baik dari Kapitalis... Buang Yg Jeleknya...
Kalo memang mereka anggota gerakan komunis??? Kalo bukan? Kasian bener nanggung stempel komunis sepanjang hidup...
Quote:permintaan maaf Presiden RI kepada para mantan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang disebut sebagai korban Gerakan 30 September (G30S) tahun 1965-1966.


gw pikir ke korban masyarakat yang gak tau apa-apa

kalau ke masyarakat emang perlu minta maaf karena itu tragedi pembantaian berdasar fitnah

kalau paham komunis gak boleh seharusnya kapitalis juga gak dipake loh...kembali ke yang benar...betul begitu pak said

jangan main standart ganda
buat para korban yg dihukum tanpa diadili gw rasa pemerintah perlu minta maaf n untuk ideologi yg diperbolehkan di negara ini mestinya pemerintah juga lebih adil, ideologi2 selain pancasila udah banyak tumbuh di masyarakat, bahkan yg terang2an tidak setuju dg pancasila juga ada n pemerintah mendiamkan saja, lantas knp komunis ga boleh?
Emang antek-anteknya PKI masih ada ya gan ampe sekarang??

Smile Imho

saya bukan komunis
tapiiiiii tetep yang namanya pelanggaran HAM itu harus diselesaikan secara hukum

http://nasional.kompas.com/read/2012....Diperbolehkan

coba baca yg diatas, jamab ORBA segalanya harus pancasila tapi tau ga agan2 Soekarno sendiri adalah seorang Sosial-Demokrat (basa bukunya penyambung lidah rakyat Indonesia), Sutan Sjahrir bikin piartai Sosialis, Tan Malaka (salah satu bapak Republik yg terlupakan) Merupakan seorang komunis tapi muslim, Haji Misbach juga dicap sebagai kiyai yg 'merah' nah mereka2 semua adalah pejuang republik ini lalu kenapa setelah jaman orba komunis = atheis padahal tidak

http://politik.kompasiana.com/2011/1...ebih-beragama/

sering kali banyak kecurigaan bahwa rejim soeharto adalah kepanjangan dari orang2 kapitalis rakus diluar sana agar SDA Indo bisa dibabat habis dan Indo dijadikan target pasar yg bagus.. sedangkannn kalau sebuah negara sudah ke-kirian seperti bung karno akan sangat susah sekali 'merebut' SDA dan pasar nya karena nasionalisasi SDA, SDM dll akan semakin gencar nah dari situlah

pada taun2 60 an dihembuskan isu bahwa komunis = ateis agar terbakarlah jiwa2 orang *you know* dan dibantailah paham ke-kirian d Indo

padahal mau menjadi atheis, agnostis, theist, irreligious bagi ane adalah hak tiap INDIVIDU..!!

TS klw berkenan PEKIWAN ya..
ane masih bingung dengan sejarah PKI... denger2 itu ada konspirasinya???
Quote:Original Posted By cysers1
ane masih bingung dengan sejarah PKI... denger2 itu ada konspirasinya???


gimana ngak konspirasi .
wong komunis disamain ama atheis ..
Quote:Original Posted By KimaxKaw
Emangnya masih ada yg mau pake paham Komunis ?

Di Russia Udah Runtuh

Di China Komunisnya udah rada2 Kapitalis...

Di Vietnam juga mulai ikut2an cara China...

Kabarnya Di Korea Utara si Kim Jong Un mau studi banding ke China, mau niru komunis2an nya China...

Di Cuba adeknya Fidel Castro kemaren menyatakan Cuba akan Membuka diri...

Komunis mah Paham Gagal... Sama Kayak Kapitalis...

Ambil yg Baik dari Komunis... Ambil yg Baik dari Kapitalis... Buang Yg Jeleknya...


bikin paham baru yok max


somurapidegramis


sosialis komunis liberalis kapitalis demokratis agraris agamis
Jangan pukul rata bahwa yang meninggal adalah pantas, coba baca berita ini dan renungkan, bahwa orde baru telah melakukan pelanggaran yg cukup berat..

Seminar Intern "Biografi Ibrahim Isa"
DITULIS OLEH ANGGIH TANGKAS WIBOWO

Pergolakan politik yang terjadi pada 1965 tak hanya berdampak pembunuhan dan penangkapan massal anggota dan simpatisan PKI di Indonesia. Mereka yang sedang bertugas di luar negeri dan tetap mendukung Sukarno sebagai presiden yang sah pun tak luput dari kesewenangan Orde Baru.

Paspor mereka dicabut semena-mena dan terpaksa hidup terkatung-katung di negeri orang tanpa kewarganegaraan. “Orang-orang klayaban ini,” demikian Gus Dur menjuluki kaum eksil, berpindah dari satu negara ke negara lain, mencoba bertahan hidup sambil berharap situasi politik di tanah air berubah. Mereka tak putus asa, berlawan dengan caranya masing-masing, kendati kenyataan pahit dengan harus menjadi warganegara asing harus mereka jalani ketimbang tak bisa pulang sama sekali.

Ibrahim Isa adalah satu dari sekian banyak eksil yang kini bermukim di negeri Belanda. Sebelum prahara terjadi, dia bertugas sebagai perwakilan Indonesia untuk Organisasi Setiakawan Rakyat Asia-Afrika yang berkedudukan di Kairo, Mesir. Sepuluh tahun lebih melewati hidup sebagai eksil di Cina dan kemudian di Belanda sampai sekarang. Dia kini sedang berada di tanah airnya dan akan berbagi cerita tentang puluhan tahun menjadi political dissident.

Dari latar belakang tersebut, maka tanggal 21 Juni 2011 diadakan diskusi seminar intern dengan pembicara Ibrahim Isa, beliau adalah salah satu tokoh kaum eksil yang menjadi korban G30S 1965 dan ia juga bekerja sebagai sekretaris dari Wertheim Foundation yang berlokasi di Amsterdam, Belanda.

Seminar ini dihadiri oleh peneliti Pusat Penelitian Politik LIPI dan beberapa peneliti bidang sosial lainnya. Ia mendiskusikan kisah para eksil yang dirampas haknya sebagai warga negara Indonesia oleh Rezim Orde Baru dan nasib mereka yang tidak bisa pulang ke tanah air.

Ia menceritakan tentang latar belakang bagaimana terjadinya orang-orang menjadi eksil. Eksil sendiri berarti orang Indonesia yang kehilangan kewarganegaraannya karena paspor mereka dicabut pemerintah Indonesia dan mereka tidak bisa kembali lagi ke Indonesia. Sejak itu hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak politik mereka dicabut dan sampai hari ini tidak dipulihkan. Mereka selanjutnya didiskriminasi dan distigmatisasi untuk seumur hidup.

Menurutnya mereka yang kehilangan kewarganegaraan tanpa “proses” karena dianggap terkait dengan pemberontakan G30S. Sekretaris Wertheim Foundation ini bercerita bahwa orang-orang eksil yang terdapat diluar negeri tetap respect dan merasa mengakui dan menginginkan kembali ke Indonesia. Ia pernah menjelaskan tentang masalah paspor cuma masalah administrasi semata, karena ia tidak pernah merasa malu dengan kewarganegaraan Indonesia yang pernah ia miliki.

Ibrahim pernah bertemu dengan Perdana Menteri China, dan pernah dipeluk Fiedel Castro dalam rangka solidaritas Asia, Afrika, Amerika Latin di Havana, Cuba. Saat itu ia menjelaskan pentingnya tentang solidaritas teman-teman dalam perjuangan para eksil. Beliau tidak suka bila ada warga negara Indonesia merasa malu sebagai bangsa Indonesia dan tidak bangga dengan NKRI karena ia sendiri saat tinggal diluar negeri sangat bangga dengan Indonesia dan ingin kembali ke Indonesia.

Ia menyerukan tentang kurangnya kesadaran berbangsa bagi bangsa Indonesia seperti memperingati “Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908”, hal ini dapat dilakukan bangsa kita dengan berbagai cara. Seyogianya dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran berbangsa. Karena, untuk meneruskan perjuangan demi kebenaran dan keadilan, demi kemulyaan dan kejayaan bangsa dan negeri Indonesia, yang dalam tahun-tahun belakangan ini menghadapi tantangan yang semakin gawat, amat diperlukan pengetahuan dan pengenalan tentang sejarah dan identitas bangsa sendiri.

Hanya dengan landasan itu baru mungkin bisa ditegakkan keyakinan serta optimisme tak tergoyahkan, yang amat diperlukan dalam perjuangan yang panjang ini. Keinginan yang ia ingin sampaikan adalah agar pemerintah NKRI mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada kaum eksil yang pernah diambil kewarganegaraan mereka. Ia sering menulis berbagai cerita baik peristiwa, tokoh, isu politik di internet yang pernah ia alami semasa hidupnya dan banyak kolega eksil diberbagai negara Eropa yang selalu mengikuti dan membaca tulisan-tulisannya di internet. (Anggih Tangkas Wibowo)


[url]www.politik.lipi.go.id/index.php/in/kegiatan/474-seminar-intern-qbiografi-ibrahim-isaq[/url]

Banyak kasus serupa, mereka aset bangsa yg dikirim ke luar negeri oleh Sukarno untuk belajar sehingga kelak bisa membangun negara dicabut kewarganegaraannya, dipisahkan dari keluarga tanpa dasar yg jelas..apa itu bukan suatu kesewenang2an oleh pemerintah..

Saya hanya ingin mengajak supaya yg lain jangan cuman mendegar PKI terus Semuanya jahanam..yang teriak PKI juga belum tentu tangannya bersih dari darah...kasus ini sengaja mau dipetieskan karena melibatkan banyak pihak.
G30S sendiri masih menjadi misteri gan, serem juga
semoga gak akan terulang kembali
keberanian pemerintah utk membuat pernyataan siapa sesungguhnya dalang G 30 S sudah merupakan suatu permintaan maaf yg sebenarnya.Ayo berani gak ?
Seharusnya minta maafnya bukan hanya kepada orang2 PKI, orang2 yang diduga PKI, dan orang2 yang difitnah sebagai PKI .... tapi kepada semua korban pada saat itu ... termasuk orang NU, Militer, dan sema yang menjadi korban dari kedua belah pihak .... setelah itu saling memaafkan .... kalau mau dituntut pidana kayaknya kasihan sudah pada tua .... biarlah Tuhan yang menghukum siapa yang bersalah .... kita manusia hanya bisa sedikit mengobati luka para korban .....
ane idem aja deh ama sikap resmi dr PB Nu soal kasus minta maaf ala SBY ini....
tidak semua korban g30s dan rentetanya adalah anggota pki. almarhum Pakde gw bukan pki, hanya gara2 dikunjungi teman baiknya yang orang pki tepat pada masa pasca g30s ikut diciduk...14 tahun di pulau buru...begitu juga ribuan orang yang gak bersalah dan keturunanya dari kelompok manapun yang dimanfaatkan oleh kekuasaan saat itu.

"Diperlukan kerendahan hati unttk melihat semua yang terjadi itu dalam perspektif perikemanusiaan, bukan secara ideologis. Banyak rahasia menyelimuti masa lampau, jadi tidak layak jika kita brsikap congkak dgn mnganggap diri kita benar & org lain salah" ~ Gus Dur

walah
ni ngapain kok tiba-tiba ada wacana kayak gini?
pengalihan isu ato mau bikin gebrakan politik yang lain?

Thumbs down 

Quote:Original Posted By Maksudtem
walah
ni ngapain kok tiba-tiba ada wacana kayak gini?
pengalihan isu ato mau bikin gebrakan politik yang lain?


biar kasus2 pelanggaran HAM, borok2 lama Indoneisa terselesaikan dan terobati gan.
×