Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000015716963/ceramah-itu-ibadah-tapi-soritak-ada-yang-gratis
Ceramah Itu Ibadah, Tapi Sori,....Tak Ada yang Gratis
RAMADHAN memberi banyak berkah bagi seorang mubalik atau ustadz. Ramadhan adalah momentum bagi mereka untuk berbagi ilmu dan amal. Tetapi benarkah bukan sekadar itu? Namun juga profit?
Profesi seorang ustadz atau penceramah tak bisa lagi dipandang sebelah mata. Faktanya, banyak ustadz yang kini hidup lebih layak. Menikmati fasilitas yang serba wah, serta dekat dengan sumbu-sumbu kekuasaan.
Para ustadz hanya butuh popularitas untuk meraih segala-galanya. Setelah menyandang nama besar, seorang ustadz akan kebanjiran order ceramah dari mana-mana, dengan tarif selangit.

Bulan Ramadhan, adalah bulan panen bagi para rohaniawan ini. Di Makassar, skedul ceramah para ustadz telah diinventarisasi secara resmi oleh pihak Masjid Al Markaz Al Islami. Sehingga setiap ustadz yang terdaftar resmi di bawah kepengurusan Masjid Al Markaz, sudah mendapatkan skedul sebulan penuh, yang disebar di seluruh masjid.
Hanya saja, dalam pembagian skedul, level ustadz juga menentukan di masjid-masjid mana mereka akan ditempatkan. Secara tidak langsung, pengurus membuat pengelompokan ustadz berdasarkan kapasitas, kompetensi dan popularitas.

Untuk masjid-masjid besar sekelas Al Markaz Al Islami, Masjid Raya, Masjid HM Asyik dan beberapa masjid besar lainnya, hanya diisi oleh ustadz-ustadz berkaliber A. Berstatus profesor atau mubalik bergelar Lc jebolan Mesir dan Madinah.
Ini adalah ustadz kelompok A atau yang dengan level tertinggi. Pun mereka mematok tarif yang tentu lebih besar. Di Al Markaz misalnya, ustadz yang berceramah hanya didominasi oleh ulama-ulama besar Sulsel, atau ustadz dari kalangan akademisi bergelar doktor atau profesor, dengan tarif Rp 500 ribu sekali tampil.
Untuk tampil di Al Markaz atau Masjid Raya, faktor senioritas juga menentukan. Meskipun jebolan Mesir atau Madinah, mereka cenderung dikesampingkan karena di dua masjid besar itu memang telah menjadi kuota tetap para penceramah senior.

Untuk masjid B atau sedang, diisi oleh penceramah berlevel kelas dua. Mereka adalah ustadz muda yang biasanya namanya mulai meroket. Mereka ditarif antara Rp 200 hingga Rp 250 ribu per sekali tampil.
Untuk masjid tipe C atau kecil, yang berada di permukiman pinggiran, hanya diisi oleh penceramah pemula. Bahkan tak jarang hanya diberi jatah ustadz karbitan yang sebenarnya belum pantas untuk memberi tauziyah.
Pun bayaran untuk mereka disesuaikan dengan kemampuan keuangan masjid. Dari Rp 75 ribu hingga Rp 100 ribu.
Yang pasti di semua level ini tak ada yang gratisan. Sekecil apapun masjidnya, pengurus tetap diwajibkan menyiapkan dana untuk penceramah.
Oleh sebagian pengurus masjid, ini sebenarnya tidak memberatkan, hanya saja yang kerap dikeluhkan karena setiap tahun ada kenaikan tarif yang kadangkala sulit dipenuhi.

Apalagi di bulan Ramadhan, mereka harus siap antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta, hanya untuk membayar penceramah. Ini belum termasuk penceramah subuh yang tarifnya sama dengan ceramah tarwih.
Jika dalam semalam di kedua waktu ini harus diisi dengan ceramah, praktis pengurus harus menyiapkan dana dua kali lipat atau sekitar Rp 6 juta.
"Tahun lalu masih ada yang Rp 50 ribu. Sekarang tidak ada lagi, minimal Rp 100 ribu. Kalau Rp 50 ribu kadangkala penceramahnya malas datang," kata seorang jamaah masjid di Kompleks Bumi Tamalanrea Permai.
Sementara di masjid-masjid kompleks hanya mengandalkan sumbangan dari warga setempat. Berbeda dengan masjid-masjid yang berada di pinggir jalan, yang banyak disinggahi jamaah, memiliki pundi-pundi sumbangan dari berbagai sumber.
"Kalau di kompleks seperti kami ya, cuma warga sekitar to saja, tidak ada orang dari luar yang salat. Jadi sumbernya dari warga setempat saja," ucapnya.

Sejumlah jamaah di beberapa masjid kecil juga mengeluhkan kualitas penceramah yang disebar ke masjid-masjid kecil. Menurut mereka, hampir semuanya masih pemula dan isi ceramahnya sama sekali tak berkualitas.
Akhirnya, para jamaah juga tidak termotivasi untuk datang berjamaah tarwih. "Salah satu yang mendorong orang datang salat tarwih karena ceramahnya. Tapi kalau penceramahnya tidak berkualitas, tentu jamaah juga malas," ucap Ny Suci, warga Jalan Perintis Kemerdekaan.

Menurut Ny Suci, semestinya tidak dilakukan pengelompokan dalam pembagian jatah ceramah di masjid-masjid. Masjid besar dan kecil harus dipandang sama. Artinya, semuanya diberi kesempatan untuk mendapatkan siraman rohani dari ustadz-ustadz senior yang lebih berkualitas.
"Jadi jangan karena tarifnya tinggi, lantas kemudian tidak diberikan ke masjid kecil. Hanya ke masjid besar saja. Itu saya rasa persepsi yang keliru dan tidak mendidik. Ini malah membuat para penceramah makin jual mahal. Semakin tidak mau ceramah ke masjid kecil karena tarifnya rendah," ketus Ny Suci.

Senada dengannya, remaja masjid Biringkanaya, Ahmad Dahlan, mengatakan, kesalahan yang dibuat panitia pembuat skedul karena mengelompokkan penceramah berdasarkan kualitas dan popularitasnya. Akibatnya, masjid-masjid yang ada di pinggiran kota, selamanya hanya mendapat jatah ustadz pemula yang tidak berkualitas.
"Mesti berlaku sebaliknya, orang yang dipinggiran kota harus dapat ustadz yang berkualitas. Selanjutnya, si ustadz jangan pasang tarif. Inikan ibadah, saya rasa sangat berdosa kalau ada pasang-pasang tarif seperti itu," ucapnya.

Tetapi itulah faktanya bahwa hampir tidak ada penceramah senior yang setuju kalau diberi jatah masjid kecil. Rata-rata mereka protes, karena dipandang tidak selevel dengan kualitas diri yang mereka miliki.
Menurut Ramli, seorang pengurus masjid di Sudiang, banyak ustadz yang jika Ramadhan datang hanya menghitung profit, berapa penghasilan dari hasil ceramahnya sebulan. Bukan menakar kualitas ilmu yang bisa bermanfaat untuk orang banyak.

"Ini tidak bisa dipungkiri. Buktinya, ada beberapa yang tidak mau ceramah kalau tahu tarif di masjid itu rendah. Di masjid kami pernah terjadi, kami kasih Rp 50 ribu waktu khotbah Jumat. Setelah itu nda mau datang lagi. Kalau ada jadwalnya, dia berikan ke ustadz lain yang pemula," paparnya.
Menurut Ramli, ini adalah pendidikan yang buruk bagi perkembangan Islam. Apalagi, ini adalah masalah akhirat. Sangat tercela jika dinilai

SUMBER
Mati aja harus bayar, apalagi mau ceramah.
keluarin air aja bayar apalagi keluarin suara
Ada tabel harganya juga ya ....



Trus ibadahnya dimana kalo ada taripnya begitu
Quote:"Ini tidak bisa dipungkiri. Buktinya, ada beberapa yang tidak mau ceramah kalau tahu tarif di masjid itu rendah. Di masjid kami pernah terjadi, kami kasih Rp 50 ribu waktu khotbah Jumat. Setelah itu nda mau datang lagi. Kalau ada jadwalnya, dia berikan ke ustadz lain yang pemula," paparnya.

hmmm ...
kehilangan esensi
siji loro telu papat
Manusiawi kok gan. Ustadz juga perlu nafkah untuk keluarga nya. Dan ustadz nggak diharamkan terima amplop setelah ceramah.
coba tanya pada mereka
niat ibadah apa cari duit ???
jadi kangen ama KH Zainuddin MZ
bagi ane ceramahnya berkualitas.. suara enak didengar..

kira2 tarif nya berapa ya ? masa cuma 500 ribu buat penceramah beken begitu ? apalagi klo dipanggil ke luar kota

Oestadz wani piro???

Quote:Original Posted By GemuGemu
Manusiawi kok gan. Ustadz juga perlu nafkah untuk keluarga nya. Dan ustadz nggak diharamkan terima amplop setelah ceramah.


memasang tarif itoe ijang sebetoelnjah aneh ... terasa menjoewal agama oentoe doeniawi sadja ...
Obat jasmani, buat orang ga berduit, hanya dapat obat obatan murah dengan khasiat seadanya.

Obat rohani, buat orang ga berduit, cuma dapat ceramah ala kadarnya.

Oh dunia, segalanya materialistis sekarang.
Quote:Secara tidak langsung, pengurus membuat pengelompokan ustadz berdasarkan kapasitas, kompetensi dan popularitas.

Ngomong-ngomong soal kompetensi, memang ada uji kompetensinya ?
Standarisasinya seperti apa ya ?
banyak kok kyai2 / ustadz model ginian
bahkan baru sekelas Modin aja udah pasang tarif. Dulu ane pas nikah urus sendiri semua tetek bengek nya ke KUA tanpa melalui modin, jatuhnya murah banget di banding lewat modin. Lusanya tuh modin marah2 sama mertua ane karena ga pake jasa dia akhirnya, karena mertua ane ga enak sama dia nya, di kasih uang tutup mulut 300k

ga taunya, di acara pernikahan ane tuh modin dateng cuma buat ucapin doa smua urusan ijab kabul dkk udah di urus sama petugas KUA nya

makanya, ane lebih suka ada semboyan : Kalo mau jadi DAI harus kaya dulu, biar kalo berdakwah benar2 ikhlas karena ibadah.
dulu ane pernah punya kenalan ustadz lulusan Madinah, beliau mau isi pengajian dimanapun berada free tanpa di bayar, asal ongkos perjalanan di tanggung. Dan hal tsb benar2 dia lakukan, di kasih duit ga mau. Tinggalnya juga di rumah pengurus pengajian atau hotel melati.
ustad jg perlu doku dong..
tapi gak selalu musti bgtu lho.. :P
Yg bisa dipertanyakan, kalau tuh da'i udah pasang tarif. Dan tarif nya udah nggak masuk akal lagi.
Pantesan ada ustad yg bisa beli Humvee...


Mobil Mewah Arifin Ilham Seharga Rp 2 Miliar
Aris Arianto - Timlo.netMinggu, 27 Mei 2012 | 12:05 WIB
Share

Ceramah Itu Ibadah, Tapi Sori,....Tak Ada yang Gratis
dok.timlo.net/aris arianto
Inilah sosok Humvee milik Muhammad Arifin Ilham yang menarik perhatian masyarakat di acara Wonogiri Berdzikir Minggu (27/5)


Ceramah Itu Ibadah, Tapi Sori,....Tak Ada yang Gratis

Wonogiri – Kedatangan da’i kondang Muhammad Arifin Ilham pada acara Wonogiri Berdzikir di Alun-alun Giri Kridha Bhakti, Minggu (27/5) benar-benar menyita perhatian masyarakat. Pasalnya penceramah yang terkenal dengan suara serak khas tersebut datang dengan mengendarai mobil mewah yang harganya sekitar 2 Milliar rupiah.

Muhammad Arifin Ilham tiba di lokasi acara sekitar pukul 08.00 WIB. Dirinya dengan diiringi beberapa pengawal pribadi turun dari mobil mewah merk Jeep Hummer “Humvee” H3 4X4 warna putih. Disebut-sebut.mobil berukuran jumbo itu dibanderol Rp 2 Miliar bahkan bisa lebih.

“Mobil Humvee itu terkenalnya mobil perang Mas, ngetren waktu diperkenalkan tahun 1991 pas Perang Teluk Irak-Amerika, katanya memang untuk segala medan sehingga benar-benar terbukti bandel awet dan berteknologi tinggi, harganya bisa lebih Rp 2 milliar itu,“ ujar jemaah asal Pacitan, Jawa Timur, Margono.

Dikatakan Margono, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki mobil berjenis sama seperti “tunggangan” Arifin Ilham. “Saya yakin Pak Bupati Danar Rahmanto saja belum punya, pokoknya jarang sekali yang punya,“ tutur dirinya.

Hingga sang penceramah memulai acara, keberadaan Humvee itu masih saja menjadi perhatian yang hadir. Beberapa malah menyempatkan diri berfoto disamping mobil. “Buat profil di facebook,“ ungkapkan Kartika, gadis belia asal Kecamatan Ngadirojo.

Lain lagi dengan yang dilakukan salah satu petugas Satlansat Polres Wonogiri. Pria berpangkat Briptu tersebut terlihat menempelkan punggung ke bodi mobil. “Pengin merasakan ndemok mobil mewah Mas,“ ungkapnya.


http://www.timlo.net/baca/29299/mobi...m-seharga-2-m/
sesi pilkada tentu lebih mahal lagi tarifnya..
Idealnya, penceramah yang mampu dan kaya raya menolak amplop uang transport dari pengurus mesjid, btw kebetulan ane pernah ketemu dengan beberapa penceramah yang kaya dari kalangan pengusaha dan kalangan dosen yg menolak amplop uang transport dari pengurus mesjid. Yang disesalkan itu adalah ustadz amplop yaitu ustadz yang secara terus terang mengeluhkan kecilnya uang transport dari pengurus mesjid padahal mesjid itu dekat dengan rumah si ustadz
Quote:Original Posted By Kimak.Kaw
Pantesan ada ustad yg bisa beli Humvee...


Mobil Mewah Arifin Ilham Seharga Rp 2 Miliar
Aris Arianto - Timlo.netMinggu, 27 Mei 2012 | 12:05 WIB
Share

Ceramah Itu Ibadah, Tapi Sori,....Tak Ada yang Gratis
dok.timlo.net/aris arianto
Inilah sosok Humvee milik Muhammad Arifin Ilham yang menarik perhatian masyarakat di acara Wonogiri Berdzikir Minggu (27/5)


Ceramah Itu Ibadah, Tapi Sori,....Tak Ada yang Gratis

Wonogiri – Kedatangan da’i kondang Muhammad Arifin Ilham pada acara Wonogiri Berdzikir di Alun-alun Giri Kridha Bhakti, Minggu (27/5) benar-benar menyita perhatian masyarakat. Pasalnya penceramah yang terkenal dengan suara serak khas tersebut datang dengan mengendarai mobil mewah yang harganya sekitar 2 Milliar rupiah.

Muhammad Arifin Ilham tiba di lokasi acara sekitar pukul 08.00 WIB. Dirinya dengan diiringi beberapa pengawal pribadi turun dari mobil mewah merk Jeep Hummer “Humvee” H3 4X4 warna putih. Disebut-sebut.mobil berukuran jumbo itu dibanderol Rp 2 Miliar bahkan bisa lebih.

“Mobil Humvee itu terkenalnya mobil perang Mas, ngetren waktu diperkenalkan tahun 1991 pas Perang Teluk Irak-Amerika, katanya memang untuk segala medan sehingga benar-benar terbukti bandel awet dan berteknologi tinggi, harganya bisa lebih Rp 2 milliar itu,“ ujar jemaah asal Pacitan, Jawa Timur, Margono.

Dikatakan Margono, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki mobil berjenis sama seperti “tunggangan” Arifin Ilham. “Saya yakin Pak Bupati Danar Rahmanto saja belum punya, pokoknya jarang sekali yang punya,“ tutur dirinya.

Hingga sang penceramah memulai acara, keberadaan Humvee itu masih saja menjadi perhatian yang hadir. Beberapa malah menyempatkan diri berfoto disamping mobil. “Buat profil di facebook,“ ungkapkan Kartika, gadis belia asal Kecamatan Ngadirojo.

Lain lagi dengan yang dilakukan salah satu petugas Satlansat Polres Wonogiri. Pria berpangkat Briptu tersebut terlihat menempelkan punggung ke bodi mobil. “Pengin merasakan ndemok mobil mewah Mas,“ ungkapnya.


http://www.timlo.net/baca/29299/mobi...m-seharga-2-m/


pantesan pada gila muallaf, lalu belajar menjadi penceramah, gile benar, rupanya penghasilannya gede banget.......
Ternyata muallaf itu ada dua tujuan tokh
1. demi seorang wanita muslim.
2. demi pekerjaan menjadi penceramah/ustad.

di agama ane belum pernah ane lihat pemuka agamanya memiliki mobil mewah.... Wahhh ini sudah menjadi profesi rupanya bukan demi masalah menyebarkan Iman.......
Kalau minta bayaran masih mending sich tapi yg wajarlah dan jgn pilih pilih mesjid besar. Sekali kali masuk kemesjid yg lebih kecil.....
Dan inilah ternyata kebbenaran pribahasa Religion is opium.....
pengen tau cara menguji ulama atau pemimpin agama (agama apapun itu) ?

ajak mereka untuk ceramah / khotbah / berbagi ilmu di tempat ibadah yang masih kecil

misal nih, ajak ulama untuk ceramah di masjid-masjid kampung, atau masjid-masjid yang jemaahnya masih tergolong ke dalam warga miskin. mau ga kira-kira mereka melayaninya dengan tulus? bisa keliatan kok kualitas mana ulama yang menjadikan 'pekerjaan' mereka hanya sebatas profesi semata atau panggilan hati

memang ga ada yang salah sebenarnya kalau ulama punya mobil mewah dlsb
tapi agaknya nurani terusik kalau mobil-mobil itu sampai dibawa ke daerah Wonogiri di mana bupatinya saja sudah pasti belum punya, jadi tujuannya untuk apa?

bukan untuk dipamerin kan?
itu yang namanya hidup dari agama bukannya menghidupkan agama
×