alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Mesjid Kuning, mesjid pertama dan tertua peninggalan budaya Melayu Deli
5 stars - based on 4 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000015450232/mesjid-kuning-mesjid-pertama-dan-tertua-peninggalan-budaya-melayu-deli

Mesjid Kuning, mesjid pertama dan tertua peninggalan budaya Melayu Deli

Hallo agan2 semua, kali ini ane mo share tentang bangunan yang belum banyak diketahui warga kita ni, padahal yang namanya peninggalan sejarah harus dilestarikan. Ingsyaallah ga repost.
Bukti
Spoiler for bukan repost:

Jangan lupa kasih rate 5 ya gan, sangat dipersilahkan untuk memberi cendol emoticon-Rate 5 Staremoticon-Blue Guy Cendol (L)


AL–Osmani, mesjid pertama dan tertua peninggalan budaya Melayu Deli. Masjid ini merupakan salah satu sejarah Sumatera Utara yang belum banyak di ketahui.
Mesjid Kuning, mesjid pertama dan tertua peninggalan budaya Melayu Deli

Sumatera Utara memiliki beragam peninggalan sejarah dan budaya yang unik. Baik dari masa prasejarah maupun sejarah. Peninggalan sejarah berupa tulisan, bangunan kuno tidak terlepas dari perkembangan agama maupun bentuk kolonial yang ada di Medan. Sejarah kota Medan berdasarkan urutan waktu meliputi sejarah masa Hindu-Budhda, Islam, kolonial dan prasejarah.

Sejarah perkembangan agama Islam yang panjang di Medan meninggalkan beberapa tempat bersejarah yang masih dapat dilihat sampai saat ini. Peninggalan sejarah Islam di tandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Medan yang dahulunya dikenal dengan sebutan kesultanan di Sumatera Timur. Selain istana kerajaan/ kesultanan, dibangun pula masjid sebagai tempat beribadah para penghuni istana.

Masing –masing kesultanan meninggalkan jejak peradaban masa lampau berupa masjid yaitu Mesjid Raya AL- Osmani dan masjid Raya AL- Mashun, kesultanan Langkat meninggalkan Mesjid Azizi dan yang terakhir kesultanan Serdang meninggalkan Mesjid Sulaiman.

Masjid Al Osmani adalah sebuah masjid di Medan, Sumatera Utara. Masjid ini juga di kenal dengan sebutan Masjid Labuhan karena lokasinya yang berada di daerah Medan Labuhan. Masjid yang terletak sekitar 20 kilometer sebelah utara Kota Medan. Masjid ini adalah masjid tertua di kota Medan.
Masjid Al Osmani dibangun pada 1854 oleh Raja Deli ketujuh, yakni Sultan Osman Perkasa Alam dengan menggunakan bahan kayu pilihan. Kemudian pada 1870 hingga 1872 masjid yang terbuat dari bahan kayu itu dibangun menjadi permanen oleh anak Sultan Osman, yakni Sulthan Mahmud Perkasa Alam yang juga menjadi Raja Deli kedelapan.

Hingga kini, selain digunakan sebagai tempat beribadah, masjid itu juga dipakai sebagai tempat peringatan dan perayaan hari besar keagamaan dan tempat pemberangkatan menuju pemondokan jamaah haji yang berasal dari Medan utara. Di masjid ini juga terdapat lima makam raja deli yang dikuburkan yakni Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV), Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V), Sulthan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI), Sultan Osman Perkasa Alam, dan Sulthan Mahmud Perkasa Alam. terlihat dinding- dinding bangunan masjid yang berwarna kuning dan hijau sangat mendominasi. Di sisi lain, masjid ini memiliki arsitektur bangunan asli yang merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah, India, spanyol dan China.

Di perkarangan mesjid banyak pohon-pohon kelapa dan pohon waru serta kesekretariatan mesjid berbentuk rumah Melayu. Bukan hanya itu, kuburan-kuburan seperti kesultanan, panglima dan permaisuri kesultanan menjadi ciri khas Melyu Deli, di setiap masjid ada kubaran keluarga kesultanan tersebut. Di pekarangan ini, dapat terlihat kuba besar yang berwarna hitam yang mencerminkan desain dari India serta puluhan tiang –tiang masjid yang berdiri kokoh.

Mesjid Kuning, mesjid pertama dan tertua peninggalan budaya Melayu Deli

Ketika pertama kali dibangun pada tahun, ukuran Masjid Al Osmani hanya 16 x 16 meter dengan material utama dari kayu.Pada tahun 1870, Sultan Deli VIII Mahmud Al Rasyid melakukan pemugaran besar-besaran terhadap bangunan masjid yang diarsiteki arsitek asal Jerman, GD Langereis. Selain dibangun secara permanen, dengan material dari Eropa dan Persia, ukurannya juga diperluas menjadi 26 x 26 meter. Renovasi itu selesai tahun 1872.
Beberapa kali pemugaran terhadap bangunan masjid ini telah dilaksanakan tanpa menghilangkan arsitektur asli yang merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah, India, Spanyol, Melayu, dan China.[2] Kombinasi arsitektur empat Negara itu misalnya pada pintu masjid berornamen China, ukiran bangunan bernuansa India, dan arsitektur bernuansa Eropa, dan ornamen-ornamennya bernuansa Timur Tengah. Rancangannya unik, bergaya India dengan kubah tembaga bersegi delapan. Kubah yang terbuat dari kuningan tersebut beratnya mencapai 2,5 ton

Masjid Al Osmani didominasi warna kuning, dengan warna kuning keemasan yang merupakan warna kebanggaan Suku Melayu, warna tersebut diartikan atau menunjukkan kemegahan dan kemuliaan. Kemudian dipadu dengan warna hijau yang filosofnya menunjukkan keislaman.

Masjid Al- Osmani di katagorikan sebagai Benda Cagar Budaya (BCD) bersifat bangunan pribadatan yang harus dilindungi sesuai Undang –Undang cagar budaya tahun 1992 karena usainya lebih dari 50 tahun. Masjid ini mempunyai keunikan tersendiri selain masjid Raya Al – Mashun di pusat kota Medan dan Mesjid Azizi di langkat. Masjid ini merupakan sejarah Sumatera Utara yang belum banyak diketahui warga.

Keistimewaan dan keindahan bukan saja dari sejarah akan tetapi dapat dilihat dari segi arsitektur, masjid yang sekilas mirip dengan Cardova di Spanyol sehingga menjadi tempat para turis yang menarik bagi mereka untuk dikunjungi. Bangunan ini memiliki fitur arsitektur dan ornament yang cukup kaya.

Ahmad Fahruni mengatakan dahulunya bahan utama bangunan terdiri dari kayu pilihan Sultan pada masa itu yang di bawa dari Kalimantan, ukiran pintu berdesain dari China yang bekerjasama dengan Cong Afi, relif dari Eropa, kaligrafi dari Arab serta ada sentuhan warna kuning dan hijau yang mendominasi bangunan mesjid melambangkan kekhasan Suku Melayu.

Diharapkan masjid Al Osmani ini harus lebih di promosikan lagi untuk menjadi salah satu objek wisata karena masih banyak orang yang belum mengetahui dan juga masjid ini pertama dan tertua serta salah satu sejarah daerah kota Medan .

SUMBER

Mesjid Kuning, mesjid pertama dan tertua peninggalan budaya Melayu Deli


KASKUSER YANG BAIK, TIDAK HANYA SEKEDAR MELIHAT TETAPI MENINGGALKAN KOMENG...
Urutan Terlama
Halaman 1 dari 3
Quote:



keren bgt gan kuningnya


Quote:
kereen banget
subhaanaloh keren banget,,arsitekturnya emoticon-Matabelo
Quote:


emoticon-Ngakak lu kalah coy ama yg diatas lu
Udah keren ternyata jg memiliki nilai historial yang manteb emoticon-Smilie
thanks agan2 semua udah mampir di thread ane emoticon-Smilie
mantraaap masjidnya emoticon-Smilie
keren banget ya emoticon-Smilie
Quote:


ketemu sama oOm wira di Lounge, ga di FW oOm? emoticon-Smilie
jadi pengen ke sana
bagus bener kak masjidnya. kuning hijau gitu. baiknya peninggalan bersejarah seperti ini harus dilestarikan ya emoticon-I Love Indonesia (S)
bagus masjidnya kak. kuning hijau begitu. bangungan bersejarah seperti ini harusnya dilestarikan ya kak emoticon-I Love Indonesia (S)
keren gan bangunan masjidnya
bagus an nilai sejarahnya, baru tau ane
emoticon-2 Jempol
klo dilihat dari arsitekturnya emang kelihatan jadul gan, tapi masih kuat berdiri dan kokoh ya ntu masjid
IYA AGAN2 MMANG BAGUS DAN PERLU DILESTARIKAN, KALO BUKAN KITA, SIAPA LAGI, KALO BUKAN DR SEKARANG, KAPAN LAGI.
wow mntaaapp
simple but cool....
walaupun udah lama tetep kokoh dan bagus ya gan
kuningnya kayak kuning emas ya gan emoticon-Belo
emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di