alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Spiritual /
Kisah Pertemuan dan Kedekatan Para Kiai dan Santri dengan Nabiyullah Khidir AS
4.77 stars - based on 103 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000013290083/kisah-pertemuan-dan-kedekatan-para-kiai-dan-santri-dengan-nabiyullah-khidir-as

Kiai dan Santri dengan Nabiyullah Khidir AS

Tampilkan isi Thread
Halaman 75 dari 259
Quote:


mantep puh,,,,,,di tunggu lanjutan na,,,,,emoticon-Bookmark (S)
thread yg sangat bagusemoticon-thumbsup
kisah nomer 40. Saya benarkan,..alhamdulillah sya mengalaminya sendiri,..yg pada saat itu sya cuma teringat surah Al Fatihah,...........Alhamdulillah Allah memberikan pertolongan.
ustadz hudaf, kalo kata guru ane kalo kita ngeliat atau didatengin oleh pengemis, orang gila atau orang2 aneh yang penampilannya nggak wajar atau kesannya kotor, dekil, dan menjijikkan, kata guru ane sebaiknya kita segera kirim surah alfatihah untuk beliau nabi khidir as(dibaca perlahan atau dlm hati saja), karena kita nggak tau, siapa tau yang datang atau yang kita liat sebagai pengemis atau orang gila atau orang2 aneh itu mungkin adalah nabi khidir yang sedang menyamar menguji kita atau bisa jadi mereka itu adalah seorang wali dari golongan malamatiyah yang memang hidupnya selalu berusaha menampakkan kehinaan kepada manusia untuk menutupi jatidiri mereka yang sesungguhnya.
dan katanya kita dilarang suudzon supaya nggak kualat & jatuh kedudukan kita dihadapan Allah dan para kekasihNya.

ditunggu posting kisah2nya, ustadz.. emoticon-2 Jempol
Al-Walid Al-Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf

Sebagai Ulama besar, Habib Abdurrahman juga dikenal memiliki karomah. Misalnya, ketika ia membuka majelis taklim Al-Buyro di Parung Banteng Bogor sekitar tahun 1990, sebelumnya sangat sulit mencari sumber air bersih di Parung Banteng Bogor. Ketika membuka majelis taklim itulah, Habib Abdurrahman bermunajat kepada Allah selama 40 hari 40 malam, mohon petunjuk lokasi sumber air. Pada hari ke 41, sumber belum juga ditemukan. Maka Habib Abdurrahman pun melanjutkan Munajatnya.
Tak lama kemudian, entah darimana, datanglah seorang pria membawa cangkul. Dan segera ia mencangkul tanah dekat rumah Habib Abdurrahman. Setelah mencangkul, ia berlalu dan tanah bekas cangkulan itu ditinggal, dibiarkan begitu saja. Dan, subhanallah, sebentar kemudian dari tanah bekas cangkulan itu merembeslah air. Sampai kini sumber air bersih itu dimanfaatkan oleh warga Parung Banteng, terutama untuk kebutuhan majelis taklim Al-Busyro. Menurut penuturan Habib Abdurrahman, lelaki pencangkul itu adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

http://www.sarkub.com/2012/biografi-...ahmad-assegaf/
tak melu2 ngaji....
karena kang hudaf banyak menuliskan tentang akhlak hamba yang sholeh saya juga ikut menambahkan emoticon-Embarrassment

didaerah martapura kalimantan selatan pernah hidup seorang hamba yang sholeh bernama K.H Seman Mulya (almarhum) orang-orang disini memanggil beliau guru seman, beliau adalah paman dari abah guru zaini sekumpul

suatu malam ada beberapa orang mengendap-ngendap di luar rumah beliau dan berniat untuk mencuri ayam guru seman
namun ketika hendak mengambil, terbukalah pintu rumah guru seman dan para pencuri itu hendak lari, namun beliau justru mengatakan "jangan mengambil yang masih hidup, didalam rumah sudah kusediakan ayam yang sudah masak, masuklah kalian semua"

dalam kebingungan dan takut akhirnya mereka tetap kata-kata beliau
dan didalam rumah ternyata memang disediakan makanan ayam yang sudah masak, semua pencuri tadi disuruh makan sampai kenyang dan ketika hendak pulang, semua pencuri tadi masing-masing diberi uang
dan beliau mengatakan "pakailah uang ini untuk membuka usaha, dan bertobatlah"

akhirnya semua pencuri tadi bertobat dan masing-masing membuka usaha, dan usaha tersebut semuanya laris, yang membuat para pencuri tadi hidup berkecukupan

semoga bermamfaat

dua dari banyak hikmah dari cerita diatas antara lain, peliharalah apa yang menjadi makanan kita, karena berkah datang dari makanan yang halal
dan jikalau tidak tahu sesuatu maka belajarlah karena belajar hukumnya wajib untuk tiap-tiap orang
tulisan yang kedua

di daerah barabai kalimantan selatan pernah hidup seorang hamba yang sholeh bernama guru muhammad ramli, orag-orang disana menyebut beliau pak katum

kehidupan beliau sangat sederhana, dengan rumah yang sangat kecil seluas kurang lebih satu kamar tidur biasa dimana beliau tidur, memasak, makan, beribadah dalam satu tempat tersebut karena sangat kecil
dan beliaupun sering menjadi olok-olokan karena seringkali beliau hanya memakai sarung dengan tidak memakai dalaman, sehingga ketika beliau duduk bersandar disuatu dinding anak-anak datang dan mencolek "kemaluan" beliau
bahkan ada juga wanita yang memegang pantat beliau, dan hal ini dianggap masyarakat setempat hal yang wajar, karena mereka menganggap pak katum hanyalah orang yang tinggal di sebuah rumah yang sangat kecil

sampai suatu waktu ada orang dari desa beliau naik haji, dan ketika tawaf orang yang naik haji ini melihat seseorang yang juga tawaf disana dengan mengenakan butah yaitu suatu wadah di daerah banjar untuk menampung berbagai benda seperti keranjang namun diletakkan di punggung

dimana butah biasanya hanya dipakai khusus orang banjar sehingga orang yang naik haji ini ingin melihat siapa gerangan yang tawaf didepannya
ketika disapa, terkejutlah mereka karena ternyata yang tawaf itu adalah pak katum
dan mereka mengatakan "pak katum naik haji juga ya, kenapa tidak bilang, bukankah kita satu desa?"
dan akhirnya mereka membawa pak katum ke sebuah kedai, dan mereka membelikan minuman, sambil berbincang-bincang
sampai akhirnya mereka yang naik haji ini kembali ke desanya dan menceritakan bahwa mereka bertemu pak katum disana

gegerlah masyarakat disana karena setiap hari mereka selalu melihat pak katum membawa butah untuk penghidupan sehari-hari
akhirnya mereka memahami bahwa pak katum adalah salah seorang yang dimuliakan ALLAH, salah seorang waliyullah
mendengar hal ini masyarakat disana berdatangan ke rumah beliau, dan sampai akhirnya orang-orang dari daerah yang jauh juga ikut ke tempat beliau dengan berbagai hajat

dari sana akhirnya beliau tidak lagi dipanggil pak katum namun menjadi wali katum

pernah adaorang yang ingin membangunkan rumah yang baru untuk beliau namun beliau menolak , dan kalaupun masih mau beliau meminta rumah yang selesai dalam satu hari karena tidak ingin beribadah dirumah orang lain
akhirnya permintaan tersebut disanggupi

pernah ada orang yang datang tidak percaya dengan kewalian beliau, dan menantang meminta bukti jikalau benar-benar berada di Mekkah
akhirnya beliau memasukkan tangan kedalam kelambu tempat beliau untuk beristirahat, dan ketika tangan beliau keluar, ada setangkai kurma masak yang masih ada getah pohonnya, tanda kurma itu baru saja dipetik langsung dari Mekkah

ibu saya pernah berkunjung ke beliau dan ada yang menanyakan bagaimanakah cara untuk mendapatkan kemuliaan seperti beliau?
guru katum mengatakan "bacalah Al-Qur'an karena dzikir yang terbaik adalah Al-Qur'an"
Quote:


emoticon-2 Jempol

Dawuhnya para ulama :
"
Seseorang itu di angkat menjadi Wali Allah (kebanyakan) Bukan Karena Amal Ibadahnya melainkan karena (ketinggian) Ahlaqnya
"

"Di sidoarjo ada seorang Kiai namanya kiai sahal, Kiai sahal ini mempunyai sebuah kebun semangka yang siap panen.
Suatu saat Sang Kiai akan memanem semangkanya tersebut, dan memerintahkan santrinya, ke kebun, akan tetapi Alangkah terkejutnya santrinya ketika melihat semangkanya sudah habis di panen (di curi ) orang dimalam hari.
Kemudian santri tersebut melapor kepada Kiai Sahal, apa jawaban kiai sahal
"ALHAMDULILLAH SEDEKAH SEMANGKA TANPA PERLU (CAPEK DAN REPOT) UNTUK DIANTAR (ALIAS LANGSUNG DIAMBIL SENDIRI OLEH YANG BERSANGKUTAN (PENCURI) DI KEBUN)"

Dan Sungguh terhijab bagi seorang Murid yang melihat derajat seseorang Guru dihadapan Allah, hanya berdasarkan Karomah Hisisiyyahnya sematanya,


Alfatihah Ila Kiai Seman Mulya Martapura emoticon-rose
Alfatihah Ila Kia sahal Sidoarjo emoticon-rose

ijin share

bicara tentang akhlaq..saya share dikit dr copas mbah google..hihi

Sehelai Rambutmu Lebih Mulia Dari Jubah Ulama

Suatu hari Imam bin Hanbal dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Ustadz, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada.

Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”

Imam Ahmad menyimak dengan serius penuturan ibu tadi. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.

Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.

Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual?

Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu?
Sebab, saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat.”

Imam Ahmad terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.
Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad makin terkejut. Almarhum Basyar Al-Hafi adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya. Rupanya, jabatannya yg tinggi tidak disalahgunakannya untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya. Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad berkata,
“Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.

Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara...”

Kemudian Imam Ahmad melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau...”

satu lagi..dijamin nangis

Kakek Penjual Amplop di ITB

Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesori lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.
Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.
Quote:


emoticon-thumbsup

Nice share Gan Hamil Duluan

Ada Wali yang tidak tahu dirinya wali dan orang lainpun disekitarnya tidak Tahu Bahwa dia adalah Wali. Orang seperti perempuan diatas adalah wali2 Allah yang mastur, tidak terkenal di dunia tapi terkenal dilangit

Wara'i adalah ciri Khas Para wali2nya Allah, Begitupun sifat Tawadhu' adalalah perhiasan Para wali2 Allah
Quote:


masya allah

sama seperti pengalaman KH. Abdullah Syafii'

ketika beliau membangun pesantrennya dibogor

air sulit keluar dan setelah bermunajat memancarlah air

yang banyak dan segar dr dlam bumi

alfatihah buat asatidzna al walid dan KH. Abdullah syafii
Quote:


Quote:


saya juga pernah denger dari ustadz tempat saya mengaji ttg pentingnya sikap wara' yg diterapkan oleh ulama2 jaman dahulu...

karena makanan yg masuk ke perut itu menjadi salah satu sumber kekuatan utk beribadah...

bagaimana doa bisa tembus ke langit bila perutnya saja masih terisi dengan makanan yg syubhat apalagi haram...

Quote:

subhanallah... emoticon-Matabelo

Quote:


bener kang sedih bgt kisahnya... bisa jual 10 aja cuma dapet untung 2.500 perak... emoticon-Frown

alfatihah...
ABBAS DJAMIL Buntet



Al-Mukarram Kyai Abbas Djamil dari Buntet adalah Wali Allah berintelektual tinggi,
Sebagai Mursyid Tarekat, Kyai Abbas menempati posisi unik karena ia selain menjadi Mursyid Tarekat Tijaniyyah beliau juga menjadi Mursyid Tarekat Syattariyyah. Ini agak aneh sebab tradisi Tarekat Tijaniyyah melarang pengikutnya mengikuti tarekat lain. Beberapa kalangan menyatakan bahwa pengecualian ini disebabkan oleh tingginya derajat keilmuan dan spiritualitas Kyai Abbas. Waktu inilah Pesantren Buntet memegang peranan penting dalam menyebarluaskan Tarekat Syattariyyah dan Tijaniyyah.

Kyai Abbas juga merupakan tokoh pejuang nasional. Di usianya yang sudah sepuh, 60 tahun, Kyai Abbas bahkan ikut terjun langsung dalam pertempuran 10 November di Surabaya. Pesantrennya juga menjadi salah satu basis perjuangan. Sebagian tokoh Hizbullah berasal dari Buntet, termasuk Kyai Abdullah Abbas (Ki Dullah), putra Kyai Abbas Djamil.

Setelah Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari mengeluarkan Resolusi Jihad, Bung Tomo, yang belakangan dikenal sebagai salah satu tokoh utama perang besar 10 November, berkonsultasi dengan Kyai Hasyim Asy'ari dan mohon doa restu untuk melawan tentara Inggris. Bung Tomo sudah tidak sabar dan mendesak Kyai Hasyim untuk segera menentukan hari penyerangan. Namun Kyai Hasyim mengatakan, "Mohon bersabar, kami masih menunggu kedatangan kyai dari Cirebon." Yang dimaksud adalah rombongan Kyai Abbas Djamil.

Menurut saksi mata, saat itu Kyai Abbas berangkat ke Surabaya bersama tim Hizbullah Resimen XII. Kyai Abbas mengenakan sarung, bersorban dan membawa sandal japit dari kulit (terompah). Ia membawa kantong yang berisi bakiak (sandal dari kayu). Kyai Abbas sempat mampir di Rembang untuk bermusyawarah dengan kyai-kyai lainnya, yang kemudian memutuskan mengangkat Kyai Abbas sebagai komandan perang. Sesampainya di Surabaya, rombongan kyai tempur ini disambut teriakan takbar. Para kyai kemudian shalat sunnah di masjid. Kyai Abbas kemudian memerintahkan para pendampingnya untuk berdoa di tepi kolam masjid dan memerintahkan para pejuang mengambil wudhu dan meminum air yang telah diberi doa. Banyak pejuang yang kurang puas hanya berwudhu, dan mereka langsung terjun masuk ke kolam. Mereka ini, yang bersenjatakan bambu runcing dan pentungan, kemudian langsung bergerak menyongsong pasukan Inggris yang bersenjatakan lengkap.

Para Kyai berdiri di atas tempat yang agak tinggi. Kyai Abbas segera mengenakan bakiak yang dibawanya dari Cirebon, membaca doa sambil menengadahkan tangannya ke langit. Saat itulah kekuatan karamah Kyai Abbas keluar. Ribuan alu (penumbuk padi) dan lesung melesat dari rumah-rumah penduduk dan menerjang para serdadu musuh, memukul mundur pasukan penjajah. Pihak sekutu kemudian mengirimkan pesawat pembom Hercules untuk meluluh Surabaya. Namun pesawat itu, berkat kekuatan karamah Kyai Abbas, banyak yang meledak di udara.
wafat pada hari Minggu subuh 1 Rabiul Awal 1365 H atau 1946 Masehi.

http://warkopmbahlalar.com/abbas-dja...at-tijaniyyah/
Quote:


Alfatihah ila Kh.Abdullah Syafii emoticon-rose

Sungguh kisah hamba2 Allah yang sholeh membuat diri ini memperoleh kekuatan untuk lebih sergep beribadah kepada Allah.

Ustad Blenyon, seprtinya banyak kisah2 dan referensi ulama2 ddan habaib

Monggo di share dan Ijin Nyimak ya tad blenyon,

emoticon-Salaman
Quote:


silahkaan puh, ditambahin cerita habaibnye..emoticon-Smilie
Syaikh Zaini Abdul Ghani [Guru Ijai]

Beliau adalah sufi termasyhur, juga sosok Wali Allah kharismatis Martapura, Kalimantan Selatan, yang menyatukan syari’at, tarekat dan hakikat dalam dirinya. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Guru Ijai atau Guru Sekumpul, dan juga salah seorang ulama yang mempopulerkan Simthad Durar atau Maulid Habsyi di Kalimantan Selatan. Pada zamannya Guru Ijai adalah satu-satunya ulama Kalimantan, atau mungkin di Indonesia, yang mendapat otoritas untuk mengijazahkan Tarekat Samaniyyah yang didirikan oleh MUHAMMAD SAMAN. Guru Ijai bergelar Al Alimul Allamah al-Arif Billah al-Bahrul Ulum al-Waly Qutb as Syekh al-Mukarram Maulana.

Kedermawanannya ini tampak bukan hanya kepada lingkungan sekitar, tetapi juga ke setiap tempat yang disinggahinya. Salah satu pesannya adalah “Jangan bakhil” karena itu adalah sifat tercela. Beliau sering mengutip pesan “pintu surga diharamkan bagi orang bakhil.” Beliau juga mengajarkan apa yang disebutnya kaji-gawi, artinya menuntut ilmu dan diamalkan. Salah satu keunikannya dalam berdakwah adalah perhatiannya kepada kesehatan umat. Pada waktu tertentu beliau mendatangkan dokter spesialis (jantung, ginjal, paru, mata, dan sebagainya) untuk memberikan penyuluhan kesehatan sebelum pengajian dimulai. Beliau juga menulis beberapa kitab, di antaranya adalah Risalah Mubarakah; Manaqib as-Syaikh as-Sayyid Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiri al-Hasani as-Saman al-Madani; Risalah Nuraniyah fi Syarhit Tawassualtis Sammaniyah; dan Nubdzatun fi Manaqib al-Imam al-Masyhur bil-Ustadz al-A’zham Muhammad bin Ali Ba’Alawy.

Meski memiliki karamah, beliau selalu berpesan agar orang tidak salah memahaminya – karamah bukan keahlian atau kepandaian yang diperoleh dengan usaha saja, tetapi merupakan anugerah dari Allah. Karenanya beliau berpesan agar dalam beribadah dan berwirid seorang murid jangan berharap mendapat karamah. Beliau menyatakan bahwa karamah terbaik adalah istiqamah beribadah.

Beberapa kisah karamahnya diantaranya adalah sebagai berikut. Saat masih di Kampung Keraton beliau biasanya duduk-duduk dengan beberapa orang sambil bercerita tentang orang-orang terdahulu untuk mengambil pelajaran dari kisah itu. Suatu saat beliau bercerita tentang buah rambutan, yang saat itu belum musimnya. Tiba-tiba beliau mengacungkan tangannya ke belakang, seolah-olah mengambil sesuatu, dan mendadak di tangan beliau sudah memegang buah rambutan matang, yang kemudian beliau makan. Beliau juga bisa memperbanyak makanan – setelah makan sepiring sampai habis, tiba-tiba makanan di piring itu penuh lagi, seakan-akan tak dimakan olehnya. Dikisahkah pula, suatu ketika terjadi musim kemarau panjang, dan sumur-sumur mengering. Masyarakatpun meminta kepada Guru Ijai agar berdoa meminta hujan. Beliau lalu mendekati sebatang pohon pisang, menggoyang-goyangkan pohon itu dan tak lama kemudian hujan pun turun. Beliau juga dikenal bisa menyembuhkan banyak orang dengan kekuatan spiritualnya.

http://warkopmbahlalar.com/zaini-abd...ani-guru-ijai/
ijin nyimak ya puhemoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)emoticon-I Love Indonesia (S)
saya nyimak aja mbah, duduk di pojok sambil ngopi emoticon-Peace
Halaman 75 dari 259


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di