alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Sejarah & Xenology /
BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
4.88 stars - based on 34 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000010240654/babad-tanah-ganesha-dari-th-te-bandoeng-ke-institut-teknologi-bandung

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”

Tampilkan isi Thread
Halaman 3 dari 20
Gerakan mahasiswa yang tahun 1978 keren banget tuh om emoticon-Matabelo

Gerakan mahasiswa tahun 1978 (3)

Kisah Arya Rezavidi – Kisah tentang Dewan Mahasiswa ITB yang ketuanya ditangkap

Pada saat saya masuk ITB pada tahun 1977, suasana kampus saat itu sedang bergolak karena masalah politik.
Suasana memang tidak terlalu kondusif untuk belajar, karena hampir setiap saat selalu ada orasi politik yang dilakukan oleh mahasiswa yang dilakukan di lapangan basket.
Setelah memasuki kampus ITB, setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti paling tidak 2 jenis kegiatan ekstra kurikuler.
Pada saat itu saya mengikuti 2 kegiatan yakni karate (KKI) dan PSIK (Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan).
Di PSIK ini saya berkenalan dengan Pudji Asmoro (sesama angkatan 1977) dan kemudian hari saya juga banyak mengenal beberapa tokoh mahasiswa yang menjadi anggotanya. Salah satu yang saya kenal adalah Anton Leonard (dari jurusan Geodesi).

Saya sendiri tidak tahu apakah beliau anggota PSIK atau bukan, yang jelas pada saat itu sering kumpul-kumpul berdiskusi dengan tokoh-tokoh mahasiswa lainnya termasuk para pejabat Dewan Mahasiswa-ITB (DM-ITB). Pada saat itu sedang dilakukan pemilihan Ketua DM-ITB yang baru dan akhirnya terpilih Heri Akhmadi. Dalam kepengurusan DM ini, Anton Leonard menjadi Ketua Departemen penerangan DM-ITB.

Seiring berjalannya waktu dan kemudian terjadi 2 kali pendudukan kampus oleh tentara, serta kemudian banyak pimpinan DM-ITB yang dibui termasuk juga Heri Akhmadi, maka kepengurusan DM-ITB akhirnya untuk sementara dijabat oleh sebuah presidium dengan salah satu ketuanya adalah Jusman SD, mahasiswa jurusan Mesin angkatan 1973 dan sekarang menjabat Menteri Perhubungan. Jusman terpaksa harus mengoperasikan organisasinya diluar kampus. Pada saat kepengurusan DM berada di luar kampus inilah, saya diminta Anton untuk membantu tugas-tugas Departemen Penerangan DM-ITB.

Terus terang saja karena saya sendiri masih awam dalam masalah kemahasiswaan dan karena saya sendiri belum genap setahun menjadi mahasiswa ketika terjadinya pendudukan kampus, maka keterlibatan saya ketika itu saya rasakan hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak memiliki visi yang jelas benar sebenarnya kemana akan arah dari pergerakan mahasiswa ketika itu. Yang saya tahu hanyalah bahwa mahasiswa menuntut agar Presiden Soeharto tidak mencalonkan lagi menjadi presiden dalam SU-MPR berikutnya.

Ketika kampus diduduki ini, kepengurusan DM beberapa kali membuat rapat di luar kampus berpindah dari rumah ke rumah, diantaranya yang saya ingat pernah ikut rapat di jalan Cipaganti, di jalan Tirtayasa dan bahkan pernah juga di kompleks Sesko ABRI di jalan Gatot Soebroto, Bandung. Saya tidah tahu rumah siapa saja yang dipakai rapat ini. Saya juga akhirnya berkenalan dengan Gembos, dari jurusan Geodesi angkatan 1975, yang bersama-sama Anton Leonard berada di Departemen Penerangan DM-ITB.



Kisah Arya rezavidi - Mencetak buku Putih I

Pihak Dewan Mahasiswa (DM) memutuskan untuk tetap berkomunikasi dengan seluruh mahasiswa yang ketika itu terpencar di luar kampus karena kampus diduduki tentara. Pihak DM menginginkan agar secara rutin menyebarkan selebaran untuk menunjukkan eksistensi mereka di luar kampus. Bersama-sama Anton dan Gembos, saat itu kami mencari beberapa lokasi untuk menempatkan mesin stensil milik DM, sampai akhirnya sampai di rumah Alex Supeli di Ciumbuleuit. Di tempat ini saya pertama kali berkenalan dengan Karlina Supeli, dari jurusan Astronomi angkatan 1977, adik dari rekan Alex. Selebaran sempat dicetak di rumah Alex Supeli ini, namun karena alasan keamanan Karlina menyarankan agar mesin stensil ini dipindahkan ke rumah Budiman Kresnaedi, teman seangkatan dari jurusan Planologi, yang biasa dipanggil Engkis. Kebetulan rumah Engkis tidak jauh dari rumah Alex yakni di jalan Panumbang Jaya, Ciumbuleuit.

Akhirnya kami menuju ke rumahnya dan di rumah ini juga tinggal beberapa angkatan 1977 lainnya yakni Agus Dana, dari jurusan Biologi yang masih saudara sepupu Engkis, dan juga Ahmad Syamsi dari jurusan Fisika. Engkis tidak keberatan mesin ditempatkan di sana dan mulailah malam itu juga semua hasil rapat DM-ITB diperbanyak dan dijadikan selebaran stensilan untuk disebarkan keesokan harinya. Pengetikan selebaran dilakukan di tempat lain dan tugas kami hanya mencetak di atas mesin stensil tersebut. Hampir setiap malam tangan kami belepotan hitam kena tinta stensil. Salah satu yang kemudian kami cetak juga adalah Buku Putih I yang penyusunan dan pengetikannya saya sendiri juga tidak tahu persis oleh siapa dan dimana. Yang pasti tugas kami hanyalah mencetak dan mencetak terus.

Suatu saat Anton dan Gembos meminta saya untuk mengambil sumbangan dari seseorang, untuk membeli mesin stensil yang baru karena dengan hanya 1 mesin dirasakan kurang, tertutama pada saat mencetak Buku Putih I. Saya tidak tahu rumah siapa pada saat itu, tapi saya dibawa ke sebuah rumah di jalan Wastukancana. Di rumah ini Gembos menerima sejumlah uang yang menurut saya untuk saat itu ukurannya cukup banyak. Belakangan saya baru tahu bahwa rumah yang kami datangi tadi adalah rumah keluarga Panigoro.

Dengan uang sumbangan tadi kami bisa membeli mesin stensil baru, tinta dan kertas-kertas yang semuanya kami beli di toko Gestetner di jalan Tamblong, Bandung. Dengan tambahan mesin stensil ini tugas kami mencetak semakin mudah dan cepat.


....bersambung....

Gerakan mahasiswa tahun 1978 (4)

Kisah Karlina Supelli – terpaksa pindah tempat untuk pencetakan buku putih

Agus Dana dan Budiman (Engkis) dulu serumah di kawasan Ciumbuleuit. Di rumah merekalah "Buku Putih" ITB dan berkas-berkas sumber “Gerakan 1978” dibuat dan diperbanyak pakai mesin stensil, lalu disebar ke perguruan tinggi lain di Jawa. Beberapa mahasiswa ITB ditangkap di Jawa Tengah dan Jawa Timur ketika sedang membawa Buku Putih itu. Saya ingat karena saya dan Alex ikut mengerjakan penerbitan gelap itu.
Semula pengetikan dan perbanyakan dikerjakan di rumah kami, tetapi karena terlalu menyolok dan mulai didatangi intel, kami pindah ke rumah Engkis yang lebih terpencil tetapi masih di kawasan sama. Kegiatan di rumah Engkis dan Agus ini sangat menegangkan karena selalu dikerjakan tengah malam. Setelah selesai dicetak, berkas kemudian dibungkus, diangkut naik mobil atau motor secara diam-diam dan disebarkan. Buku putih ini merupakan salah satu sumber informasi bagi gerakan mahasiswa saat itu.



Kisah Roy Djanegara – mengantarkan makanan ke tempat persembunyian

Rumah kami pada waktu itu dijadikan salah satu basis tempat para mahasiswa mulai bergerak, termasuk tempat berkumpulnya rekan-rekan yang ikut tertangkap, seperti Iwan Soerono, Ncoeng (Agus J Alwie – red), dan beberapa orang lain seperti Budi Kawi dan Uwen (Huseil akil – red). Pada pagi hari itu mereka berangkat dari Sukaluyu untuk mengecat di tembok dan jalan-jalan. Juga memasang spanduk dan poster di berbagai tempat di kota Bandung.
Tapi karena salah informasi, pengecatan jalan yang harusnya selesai jam 0400 pagi, mereka malah baru mulai jam 0400 pagi. Akibatnya dari sekian banyak motor yang berangkat, hanya sebagian kecil saja yang kembali ke pangkalan. Sebagian besar rekan-rekan kita tertangkap oleh tentara.
Selama masa pendudukan kampus pada waktu itu, tugas saya adalah mengantarkan makanan untuk para mahasiswa senior yang bersembunyi dari kejaran aparat. Kebetulan kakak saya, Tanya Kantika dari jurusan Farmasi angkatan 1974, adalah salah satu anggota Laswi (Laskar Mahasiswi) yang aktif. Dia juga salah satu sahabatnya Aussie Gautama yang kemudian menjadi ketua Dewan Mahasiswa setelah Heri Akhmadi. Kakak saya inilah yang mengetahui tempat persembunyian para aktifis mahasiswa, dan dia yang memberi informasi kepada siapa saja nasi bungkus tersebut harus dikirimkan dan dimana tempat persembunyian mereka.



Kisah Agus Purnomo – mendistribusikan buku putih

Saya teringat sewaktu dikejar-kejar tentara dan punya KTP sampai 3 buah dengan nama yang berbeda-beda. Yang pasti, saya masih sedih mengingat cerita Kiswanti diseret dengan ditarik rambutnya oleh tentara yang dikirim dari Kodam Brawijaya pada saat pendudukan kampus. Terus ada juga yang mengalami patah tangan karena berhadapan dengan tentara, tapi rasanya bukan dari angkatan 1977.
Salah satu dongeng kegiatan "perjuangan mahasiswa" -adalah bagaimana, Halim Mangunjudo (jurusan Elektro), Arie (Jurusan Sipil), Jun (Jurusan Teknologi Industri), Didi (Jurusan Arsitektur), Budi Kawi, Burhan, Goenarso (jurusan Teknik Industri) dan banyak teman angkatan 1977 lainnya melakukan operasi pencetakan dan pendistribusian buku-buku pleidoi dan “buku putih” di Motel di Karang Setra. Bagaimana mobil VW warna oranye punya Arie jebol mesin-nya di Jagorawi karena dipakai ke Jakarta pulang-pergi untuk dropping buku pleidoi. Padahal mobil itu pergi ke Jakarta tanpa meminta izin ke orang tua Arie.



Kisah Arya Rezavidi – ikut membuat dan memasang spanduk untuk menunjukan eksistensi Dewan Mahasiswa ITB

Tugas lain yang kami dapatkan dari Dewan Mahasiswa ITB (DM-ITB) adalah membuat spanduk yang harus dipasang di jalan Dago menjelang Sidang Umum (SU) - MPR. Isi spanduk ini sebenarnya hanya ucapan selamat kepada para anggota MPR untuk menjalankan tugas pada SU MPR, namun yang jadi masalah di bawah ucapan tersebut tertera Dewan Mahasiswa ITB sebagai pemberi ucapan. Tentu saja pembuatan spanduk ini tidak bisa diorderkan ke tempat lain, sehingga akhirnya kami putuskan untuk membuatnya sendiri.
Kain warna biru muda kami beli sendiri dan juga cat (kalau tidak salah berwarna kuning). Seharian bahkan sampai larut malam pembuatan spanduk ini kami kerjakan di rumah Engkis (Budiman Kresnaedi). Dapat dibayangkan karena kami bukan professional tukang membuat spanduk, maka cat belepotan di sebagian besar lantai rumah Engkis. Selesai pembuatan spanduk, pemasanganpun kami lakukan sendiri. Pemasangan dilakukan pagi hari setelah subuh agar tidak diketahui orang, dan dipasang di jalan Dago persis di depan SMAK Dago/ SMA I. Pemasangan spanduk ini juga sengaja dilakukan untuk menunjukkan eksistensi DM-ITB.


Kisah Halim Mangunjudo yang sempat ditahan tentara di penjara Cimahi

Saya ingat sekali, pertama kali seumur hidup check-in di motel di daerah Karang Setra, yang modelnya mobil langsung masuk garasi. Di garasi itulah kemudian terjadi transaksi dari percetakan buku pledoi, yang beberapa minggu kemudian kita distribusikan secara serentak. Caranya melalui gerilya pada subuh pagi dengan memasang poster beredarnya buku tsb. Lalu melakukan gerilya distribusi ke outlet yang bisa menjaga rahasia. Sehingga dalam waktu setengah hari, semua terjual habis sebelum kejaksaan sempat mengeluarkan larangan beredar... Seru.....
Saya kemudian ditangkap tentara dan sempat meringkuk di penjara. Saya cuma ingat, pada minggu kedua disana (kami ber-19), Ncoeng (Agus Alwie – red) sudah mulai dianggap cantik oleh sesama tahanan politik (tapol). Juga mendengar kisah sesama tahanan yaitu Husein Akil, yang dijemput tentara di rumahnya dengan menyebut nama Akil, sehingga yang keluar malah bapaknya.


....bersambung....

Gerakan mahasiswa tahun 1978 (5)

Kisah Husein Akil dipenjara bersama Tapol G-30-S dan Gerakan DI-TII

Ketika baru menginjak tahun ke 2 sebagai mahasiswa ITB yaitu tahun 1978 terjadi gejolak mahasiswa dalam menentang pemerintahan Soeharto. Bagi angkatan saya pada saat itu pembagian jurusan belum dilaksanakan sehingga saat itu masih sebagai mahasiswa TPB (Tingkat Persiapan Bersama). Meskipun demikian, cukup banyak mahasiswa seangkatan yang juga terlibat dalam pergerakan tersebut. Melakukan demonstrasi (unjuk rasa) saat itu dilarang sehingga melakukan penyebaran pamflet, poster dan spanduk sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap pemerintah tidak dapat dilakukan secara terbuka.

Salah satu cara dalam melakukan penyebaran/penempelan poster di tempat-tempat strategis di kota Bandung dilakukan dengan cara yang saat itu disebut bergerilya yaitu dilakukan pada waktu dini hari menjelang subuh (serangan fajar). Saya bersama Halim Mangunjudo, teman seangakatan dari jurusan Elektro, ketika melakukan serangan fajar mengendarai vespa tertangkap polisi tibum (ketertiban umum) kemudian dimasukkan ke kendaraan truk terbuka dan ditahan sementara di kantor kodim baru di sore harinya kami dibawa ke penjara tahanan politik Cimahi diinapkan di sana selama 35 hari. Kami bertemu dengan rekan-rekan mahasiswa ITB lainnya yang mereka juga tertangkap sedang melakukan serangan fajar di tempat lain.

Di penjara Cimahi kami bertetangga dengan blok tahanan G30S (pendukung Sukarno) yaitu para tahanan dari kelompok perwira tentara, saya teringat salah satunya adalah Kolonel Sukardi bekas walikota Bandung dia mengenali saya dari nama Akil (karena ayah saya juga tentara). Blok tahanan juga berdekatan dengan tahanan dari pemberontak Darul Islam (DI), bahkan kami sewaktu-waktu sering bertemu dengan mereka shalat berjamaah di Mushola, salah satunya adalah Dodo Mohamad Darda anak dari pimpinan pemberontak Kartosuwirjo.

Alumni ITB angkatan 1977 selain Halim yang masih kental dalam ingatan saya bersama-sama di penjara Cimahi antara lain adalah Iwan Soerono dari jurusan Teknik Elektro, Budi Kawi dari jurusan Teknik Mesin dan Agus Alwie dari jurusan Arsitektur. Aku kenal baik dengan Budi karena sama-sama di SMPN 5 Badung Jl Sumatra. Dari salah seorang senior yang ditangkap ada Moh Iqbal dari Jurusan Teknik Industri angkatan 1974.

Di Cimahi kita bertetangga dengan blok tahanan G30S, para pentolan Gerakan 30 September yang nota bene adalah pendukung Presiden Sukarno, mereka adalah para tahanan dari kelompok perwira tentara. Aku teringat salah satunya adalah Kolonel Sukardi bekas walikota Bandung. Dia mengenali saya dari nama Akil (karena bapakku juga tentara). Blok tahanan kita di Cimahi juga berdekatan dengan tahanan dari DI TII, bahkan kita sewaktu-waktu sering bertemu dengan mereka shalat berjamaah di Mushola. Aku teringat salah satunya adalah Dodo Mohamad Darda (katanya sih salah satu dari anaknya Kartosuwirjo).

Ada peristiwa lain yang juga mungkin tidak akan pernah lupa bagiku pribadi yaitu ketika kita sedang kumpul malam-malam di kampus untuk membicarakan gerakan demo selanjutnya (beberapa hari sebelum kita tertangkap) aku sempat di sidang oleh teman-teman para aktivis ketika itu karena dicurigai sebagai "intel" seru juga ketika itu!. Yang meyakinkan kepada teman-teman bahwa aku bukanlah intel adalah sahabatku dari FT juga yaitu Ali Baharuddin. Ini semua ceritera 28-29 tahun yang lampau tapi selalu teringat dengan segar di benakku.


....bersambung....

Gerakan mahasiswa tahun 1978 (6)

Kisah Didi haryadi menjadi pembela rekan-rekan mahasiswa yang ditangkap


Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Al Hilal, Jusman SD, Indro Tjahjono, dan Ramles Manampang akhirnya menjadi buron aparat Orde baru dan tertangkap. Tokoh-tokoh ini merupakan rekan-rekan seangkatan yang dipenjara dan diadili pada tahun 1979. Para tokoh mahasiswa ITB tersebut didukung dan dibela oleh para pengacara senior dari YLBHI seperti Adnan Buyung Nasution, Harjono, Sukardjo, Amartiwi Saleh dll

Dewan Mahasiswa ITB membentuk Komite Pembelaan Mahasiswa yang diketuai Wimbo dari jurusan Elektro angkatan 1975 (saat ditulis ia masih bekerja di PT Indosat). Saya ikut didalam komite ini bersama teman-teman angkatan 1977 lainnya antara lain seperti Arie (dari Jurusan Sipil) dengan mercy tua yang sering kami pinjam dari orang tuanya. Juga rekan-rekan lain seperti Jun (dari jurusan Teknologi Industri) dengan kegesitan pekerjaan kesekretariatannya, serta Burhan (dari jurusan Astronomi) dengan "karbon"nya, Agus purnomo (Pungki) dan teman-teman lainnya seperti Hendardi dari Jurusan Sipil angkatan 1978.

Tugas kami kebanyakan adalah membantu menyiapkan pembelaan yang dibuat para pengacara tersebut, termasuk menyiapkan akomodasi beliau-beliau yang datang malam-malam dari jakarta. Kami juga menerbitkan pledoi yang dibuat para tokoh tersebut ke dalam satu buku yang kita sebut buku putih kedua dan mendistribusikannya ke tokoh-tokoh diluar dan elite politik yang termasuk dalam barisan “sakit hati”, seperti Ali Sadikin dll dan juga ke rekan-rekan mahasiswa di kampus-kampus lain.

Saking semangatnya waktu mengejar satu rombongan Perhimpunan Alumni Jepang, yang sedang berkumpul di hotel Panghegar, saya bersama Ari dengan mobil VW milik Arif Ariman menabrak becak di deket simpang lima Jl Gatot Subroto sampai bumper belakangnya ringsek. Sambil minta maaf ke Ariman, akhirnya malam itu juga kami keliling-keliling mencari tukang las dan ketok duco dan memperbaiki dengan biaya patungan.

Memang betul operasi distribusinya relatif sangat seru. Kami memakai segala macam sandi, gerilya, selundup-sana selundup-sini, dan macam-macam kiat-kiat lainnya. Selain Motel Karang Setra, proses pembuatan dan pengetikan juga dilakukan di rumahnya Adnan Buyung Nasution di Jl. Ranca Bentang – Cimbuleuit. Di rumah Adnan buyung kami bekerja hampir 24 jam penuh. Para pembela dan mahasiswa juga sering berdiskusi sampai lewat tengah malam di Wisma ITB disaat menjelang dan sesudah persidangan pembelaan mereka.
seru banget nih tritnya ts emoticon-Kaskus Banget

btw, gw juga penasaran nih sama apa yang ditanyain mod slifer

Quote:


Quote:


abisnya jawaban yang ini kan cuma menjawab adanya arogansi himpunan secara umum, tapi gak menjawab secara spesifik kenapa himpunan X seteru dengan himpunan Y, atau himpunan A dengan himpunan B (ambillah contoh tambang dan sipil)

atau adakah senior tambang dan sipil yang sudi menjelaskan? emoticon-Malu
Quote:


mungkin melanjutkan tradisi yang sudah sudah om emoticon-Hammer seperti di sebuah kampus di jogjakarta emoticon-Embarrassment anak fakultas kehutanannya terkenal sering ribut ama anak teknik bahkan kalo main futsal tiba tiba jumpa past ribut di lapangan futsal nya emoticon-Hammer
Quote:


tradisi yang sudah sudahnya akhirnya berlanjut terus sampe 2011 yak emoticon-Hammer gw sih penasaran aja, kalo dua orang selek sampe waktu yang lama pasti disebabkan oleh sesuatu yg penting (e.g. rebutan cewe emoticon-Hammer ) nah, kalo dua himpunan jaga jarak sampe beberapa dekade penyebabnya pasti dahsyat juga, kira2 apa ya? emoticon-Thinking
Quote:

seperti gini yah...

[IMG]BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”[/IMG]
Quote:


wihhhh kalo turun ke jalan bandung macet total emoticon-Hammer

Quote:


noh om cucu jawab gw masih maba om ga ngerti ginian emoticon-Ngakak
Quote:


Quote:


Quote:


jaman saya kuliah dulu anak sipil satu angkatan sekitar 140 orang, mesin 140 orang, elektro 140 orang, itulah 3 jurusan besar yg juga merupakan jurusan2 "tua" di ITB. Dua jurusan pertama - sipil & mesin (menganggap) berkarakter orang lapangan yg identik dg keras, tegas, macho, dll...

sementara ada jurusan2 yg berukuran kecil (50-60) orang yg juga berkarakter "lapangan" spt tambang, perminyakan, geologi & geodesi.

jaman bulevard utama masih terbuka utk kendaraan & wisuda masih diadakan di gsg, dimana berlangsung tradisi konvoi dg truk, pemadam kebakaran, delman, becak, motor trail, jip vietnam, motor renegade, dll, maka hampir semua jurusan pasti harus melewati kawasan "bumi sipil"...

disana mereka disambut lemparan air dari pasukan sipil yg sdh siap dg berratus2 kantong airnya. maka selanjutnya terjadilah adu teriak sampai adu otot & berantem yg disaksikan para orang tua wisudawan yg ketakutan.

jaman itu rasanya tdk khusus antara sipil vs tambang saja...
jurusan geodesi lewat bulevard, dilempari air oleh barisan sipil,,, maka geodesi x sipil berantem...
jurusan geologi lewat bulevard, dilempari air oleh barisan sipil,,, maka geologi x sipil berantem...
demikian juga yg lainnya...

pertanyaannya kok sama jurusan farmasi, biologi, astronomi, mereka (mhs sipil) kok adem ayem aja ya...??
mungkin kasian...emoticon-Malu
emoticon-Ngakak alasannya om ga tega gw dengarnya emoticon-Hammer
kasihan emoticon-Hammer emoticon-Ngacir
Mantap, artikel tentang 1978-nya lengkap banget emoticon-thumbsup:

Quote:


Interesting emoticon-Thinking
Ngeri lah 2 tahun DM vakum himpunan langsung kuat gitu emoticon-Ngakak (S)

Ada beberapa point yang pengen aku tanyain

  • Berarti era 1980 berarti seluruh ITB tetap disatukan di satu "atap" berupa Jaket Biru Almamater?
  • Jaketnya dipinjamkan? Oleh siapa? Jadi ada semacam sistem "warisan" jaket gitu ya?


Quote:


Parahnya lagi, angkatan belakang-belakangnya lupa bahwa "berantem" ini sebenernya cuma buat have fun, akhirnya malah keterusan ribut serius emoticon-Hammer
---
Oh iya, mungkin bisa diceritain juga tentang sejarah gedung-gedung yang ada di ITB. Jadi pengen tau tentang Student Centre dulu emoticon-Belo/
Quote:

yang gw bold
yang make semua mahasiswa apa cuman utusan aja emoticon-EEK!:




_____________________________________________________
btw waktu era reformasi ada si wilmar juga kan ya emoticon-Amazed
Quote:


iya, apalah kita ini, angkatan baru yg tidak tahu student centre

SC itu kalau ga salah terakhir berdiri tahun 2004 bukan sih? gw inget si ghif baru masuk aja gt emoticon-Hammer

di tutup emang karena terlihat kumuh dan jorok, dulu tempat sekre2 unit. mungkin kata "kumuh dan jorok" bisa dibandingin ke gedung MKOR tuh emoticon-Ngacir, waktu gw main ke sekrenya Radio Kampus pas jaman TPB, sumpah dah, baunya kek bau pipisnya tikus di bagian luar sekre situ, deket MGG jg, ga ngerti dah kenapa emoticon-Busa:

hasil googling, nemu yg udah dibongkar doang emoticon-Berduka (S)

BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
BABAD TANAH GANESHA: Dari “TH te Bandoeng” ke “Institut Teknologi Bandung”
*credit to uploader
Quote:


kalau mau lebih lengkap silakeun ke link yg saya cantumkan...

secara teknis sepertinya gerakan mahasiswa 1978-lah yg paling:
  • murni dari mahasiswa (karena itu gagal emoticon-Hammer2...) bandingkan dg 1966 yg mahasiswa "didukung secara malu2" oleh militer
  • lengkap (ada divisi penerangan/informasi yg disebarkan lewat Radio 8EH ITB, ada koran/majalah mahasiswa)
  • terkonsep (ada "buku putih perjuangan mahasiswa ITB" sbg landasan gerak mereka)
  • terorganisir (semua himpunan & unit mau dikomando oleh DM ITB waktu itu. Unit Donor Darah sdh menyiapkan persiapan kalau "ada apa2", Menwa juga ikut menjaga kampus dari penyusupan, Radio 8EH spt yg tadi sdh saya sampaikan, anak2 seni rupa, arsitek, & yg hobi gambar menyalurkan hobinya dg membuat poster2, dll).
  • kompak antar universitas (DM ITB, DM Unpad, DM UI, DM UGM, dll bersatu suara), bandingkan misalnya dg reformasi 98 yg cenderung bertindak sendiri2, atau 1966 yg terpecah jadi dua kubu (pro x anti soekarno)



CUMA sayangnya:
  • soeharto masih sangat kuat kedudukannya.
  • ekonomi secara umum di Indonesia masih lumayan.
  • gerakan tsb terbatas cuma di kalangan mahasiswa & pelajar saja.


oleh karena itu mau sehebat apapun gerakan mahasiswa 1978,
yg berhasil melaksanakan reformasi-kan gerakan mahasiswa 1998,
yg ditinjau scr apapun masih "kurang" siap dibandingkan 1978.
kalo mitos anak SMK ga bisa masuk ITB itu bener gak sih ? karena saya anak SMK yang pengen masuk STEI tapi karena mitos tersebut rada rada ngedown
Quote:


jelas om, Soeharto pas tahun 70-80an itu emang lagi "bagus-bagusnya", tp itu kan waktu itu doang, mahasiswa berhasil "forecast" ke depan apa yg terjadi dll emoticon-Embarrassment, makanya hanya orang2 tertentu yg tahu dampaknya, orang awam masih terbuai atau terninabobokan dengan keadaan yg nyaman waktu itu emoticon-Big Grin

beda ama 98, karena ada kolaps duluan mulai 97, jd rakyat yg awam jd ikutan "terganggu" hidupnya, jd reformasinya emang total, ga cuman mahasiswa, warga jg semangat bantu2, mungkin dari bantu2 makan sampai bantu2 ngejarah mall emoticon-Ngakak (S)

om ane penasaran banget ama isi buku putih, masih ada ga sih kopian fisiknya? sukur2 kalau ada softcopy nya emoticon-Hammer
Quote:

Ketua DM ITB terakhir yg resmi/dipilih secara langsung adalah bang Heri Ahmadi.
(bayangkan dikala negeri kita waktu itu masih memilih dg sistem musyawarah/mufakat lewat MPR, DM ITB telah mencoba "sesuatu yg baru" yaitu dg pemilihan langsung... 1 suara 1 mahasiswa, yg sebelumnya dilakukan dg sistem senator dlm MPM ITB)

kembali lagi, setelah Heri Ahmadi maka DM ITB dipegang oleh Care Taker Presidium DM ITB yg salah satu anggotanya Sukmadji Indro Tjahjono. Setelah itu kurang lebih masih ada 2-3 ketua DM ITB lagi, namun selanjutnya Daud Yusuf Menteri P&K mengeluarkan konsep NKK/BKK, sehingga DM ITB beserta DM2 lainnya dimuka bumi ini harus dimusnahkan...

maka muncullah gerakan mahasiswa jilid 2 setelah 1978...
setiap ada yg mengaku2 sbg Ketua DM ITB maka ybs bisa dipastikan akan kena skorsing dr rektorat... corat-coret kampus & selebaran/poster terjadi lagi...

Posisi rektorat waktu itu tdk bisa lagi sebebas jaman Iskandar Ali atau Jon Sapiie yg demokrat, krn dihadapkan pada pilihan yg dilematis,,,
"kalau yee tdk bisa atur itu bocah2, maka ITB lbh baik dimusnahkan dr muka buni ini"... kurang lebih begitulah suasana saat itu...

dg ancaman sanksi skorsing & tekanan bertubi2 tsb akhirnya tdk ada lagi "lembaga sentral" kemahasiswaan pengganti DM ITB...

waktu itu saya sering bertanya, kenapa kita tdk terima saja konsep BKK spt universitas lain, dimana tetap ada "lembaga sentral" yg notabene "sangat dikekang", tapi yg penting kan ada dulu (kompromis).

Tapi yaitulah cucu2 eyang ganesha... rupanya mereka tdk mau mundur/kompromi satu milimikron-pun (meminjam istilah aktivis ITB 1966 ketika menentang soekarno)...

dampaknya himpunan & unit (terpaksa) tumbuh scr mandiri & muncullah ekses2 spt berantem antar jurusan, jaket himpunan, dll.
Pernah salah satu universitas mengirimkan undangan ke "lembaga sentral kemahasiswaan" ITB namun mereka tdk menemukan "saudara"nya di ITB...

Mengenai jaket almamater...
waktu itu yg dianggap bisa "dipercaya" rektorat adalah unit kegiatan koperasi mahasiswa ITB sbg kuncen puluhan jaket almamater tsb.
Jika ada acara2 terpusat, atau kunjungan ke universitas lain, maka kita tinggal pinjam ke mereka...

positifnya yaitu kesan gagah & sakral melihat para ketua himpunan memakai jaket almamater,
bandingkan misalnya dg univ yg lain... jaket almamater dipake naek bisss...emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin

Quote:

betul....
waktu itu setelah berantem habis wisuda, ya sudah selesai...
tdk berlanjut, emang sekarang gimana? pake clurit segala?emoticon-Takut
Quote:

Student Center adalah bener2 karya mahasiswa saat itu, dirancang sendiri, dimanage pembangunannya sendiri, & pengelolaan ruang2nya pun mandiri oleh DM ITB. Di gedung tsb DM, MPM menempati sayap timur, bank BNI, kantor pos di sayap barat terbarat/selatan (deket fisika). SC waktu itu bener2 "kerajaannya DM ITB" lah...
Quote:

softcopy? waktu itu masih make stensilan yg blepotan itu kok...emoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
iya... gw juga mau tuh kalau ada yg punya... sbg peninggalan sejarah...

mengenai isinya sih... ditinjau dg kacamata jaman sekarang yg serba terbuka/transparan, mungkin terasa "kok cuma segitu aja sih"...emoticon-Malu
karena bagi agan2 yg belum merasakan betapa represif nya saat itu,
mungkin tdk bisa merasakan "ruh"nya buku tsb...

sama seperti saya yg kebetulan beli buku "Dibawah bendera revolusi"-nya Soekarno,
sejujurnya... gw belum menemukan "ruh"/spirit dr buku yg pada jamannya merupakan bacaan "wajib" kaum muda...
Halaman 3 dari 20


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di