alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Hobby / ... / Budaya /
LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)
5 stars - based on 16 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000008509235/lakon-kumpulan-cerita-wayang

LAKON... (Kumpulan Cerita Wayang)

Tampilkan isi Thread
Halaman 5 dari 34
Kidung Malam 33
Keduanya Tidak Berdaya


Aswatama yang pernah kecewa karena Rama Durna telah mewariskan pusaka dahsyat kyai Gandewa kepada Harjuna, mencemaskan keselamatan Ekalaya sahabatnya yang dihujani ribuan anak panah yang muntah dari busur Gandewa. Wah gawat!! Namun setelah menyaksikan bagaimana Ekalaya menyambut hujan panah yang dilontarkan Harjuna, dengan busur pusaka yang tak kalah dahsyatnya dengan pusaka Gandewa, kecemasan Aswatama berkurang. Namun ketegangan justru semakin bertambah. Tidak saja bagi Aswatama, tetapi juga dirasakan oleh mereka yang menyaksikan ribuan anak panah saling beradu dan meledak-ledak di angkasa Sokalima.

Malam bulan purnama semakin bercahaya karena dihiasai oleh percikan-percikan api warna-warni akibat beradunya ribuan anak panah yang dilontarkan Harjuna dan Ekalaya. Kejadian yang luar biasa tersebut membuat Kahyangan Jonggring Saloka gonjang-ganjing. Ada hawa panas menebar di seluruh wilayah para dewa tersebut, di tempat Batara Guru bertahta. Karena terusik kenyamanannya diutuslah Patih Narada untuk melerai pertikaian antara Harjuna dan Ekalaya. Dalam perjalanan menuju ke Marcapada, Hyang Narada tertegun melihat pemandangan di depannya, tepat di atas langit Soka Lima. Ada percikan cahaya api warna-warni silih berganti. Sampai sehebat inikah kesaktian keduanya? Layak jika pengaruhnya sampai ke Kahyangan Jonggring Saloka. Maka tanpa membuang waktu, Dewa nomor dua di Kahyangan Jonggring Saloka tersebut segera turun ke arah yang sedang bertikai. Namun niat Patih Narada terhalangi oleh asap hitam pekat yang muncul tiba-tiba menyusul suara ledakan menggelegar. Awan hitam tersebut semakin tebal bergulung-gulung menyelimuti langit Soka Lima. Bersamaan dengan suara ledakan dahsyat, Batara Guru diiringi para Dewa dan Dewi turun dari Kahyangan ingin menyaksikan apa yang terjadi di Marcapada.

Suasana menjadi sangat mencekam. Malam bulan purnama yang sebelumnya semakin mempesona dengan adanya percikan-percikan api warna-warni kini menjadi gelap gulita dan sepi mencekam. Tidak ada lagi sorak sorai dan tepuk tangan dari para penonton yang menyaksikan perang-tanding antara Ekalaya dan Harjuna. Melihat keadaan yang semakin tidak nyaman, Batara Guru memerintahkan agar para Dewa-Dewi menaburkan bunga-bunga dengan aroma nan wangi untuk menyingkirkan asap hitam yang menyelimuti Soka Lima. Sekejap kemudian hujan bunga telah mengguyur Soka Lima. Daya dan aromanya mampu menyibak asap hitam yang menutupi kejadian besar yang ada di Soka Lima. Pelan tapi pasti, asap hitam pekat yang menutupi padepokan Soka Lima berangsur-angsur menghilang. Malam bulan purnama menjadi sempurna kembali. Malam menjadi mempesona. Ribuan penonton perang tanding yang sejak sore berdatangan di Soka Lima belum beranjak dari tempatnya. Mereka yang telah menumpahkan perhatiannya dengan segenap rasa-perasaan dan emosinya di dalam perang tanding tersebut semakin dibuat terheran-heran dengan kejadian berikutnya.

Tanah lapang di Soka Lima, tempat Harjuna dan Ekalaya bertanding, kini penuh bertaburan bunga warna-warni dengan aroma keharumannya masing-masing. Asap tebal yang muncul akibat ledakan yang ditimbulkan karena beradunya kedua busur pusaka milik Harjuna dan Ekalaya kini telah berganti dengan para Dewa-Dewi yang mengiringi Batara Guru yang menyusul Batara Narada untuk menghentikan yang sedang bertikai.

“Kang! Bermimpikah aku?”

“Coba aku cubit lenganmu”

“Aduh! Sakit kang.”

“Itu namanya kamu tidak sedang bermimpi. Kau dan aku berada di dalam alam sadar.”

“Tetapi lihatlah itu kang, langit di sekeliling kita penuh dengan gambar para dewa yang sangat mempesona dan para dewi yang amat jelita.”

“Ssst! Jangan keras-keras dan gumunan isteriku, itu adalah para Dewa dan para Dewi yang mengiringi Batara Guru dan Batara Narada, ingin melerai perang tanding antara Harjuna dan Ekalaya.”

Sepasang suami isteri tersebut tidak memperpanjang pembicaraannya. Mereka bersama-sama ribuan penonton yang lain lebih memilih memusatkan perhatiannya dengan apa yang akan dilakukan Batara Guru dan Batara Narada terhadap Harjuna dan Ekalaya yang tergeletak tak berdaya. Dikarenakan mereka berdua telah menguras tenaga dan ilmunya untuk memuntahkan puluhan ribu anak panah melalui busur pusakanya masing masing. Pada puncaknya Busur Gandewa milik Harjuna dan busur pusaka milik Ekalaya saling menyedot dan beradu. Maka terjadilah ledakan amat dahsyat disertai asap hitam pekat yang bergulung-gulung, menggulung kedua busur pusaka hingga hilang tak berbekas.

Durna tergopoh-gopoh menyembah rajanya dewa serta pengiring yang menginjakkan kakinya di Soka Lima. Setelah menanggapi sembah Durna dan juga sembah dari ribuan orang yang hadir, Batara Guru didampingi Batara Narada mendekati Ekalaya dan Harjuna untuk kemudian memercikkan air kehidupan kepada mereka. Setelah itu didekatinya orang nomor satu di Soka Lima sembari bersabda:

“Durna selesaikan pertikaian di antara muridmu dengan adil.”

Sekejap kemudian Batara Guru dan seluruh pengiringnya meninggalkan Soka Lima. Malam pun pulih seperti malam purnama sebelumnya, sebelum ada pertikaian yang menimbulkan hawa panas ke seluruh alam semesta dan mengusik kenyamanan alamnya para Dewa-Dewi. Soka Lima berangsur-angsur pulih seperti hari-hari biasa yang tenang dan damai jauh dari mereka yang bertikai.

Orang-orang mulai melangkah pulang dengan perasaan yang sulit digambarkan dan terlalu banyak untuk diceritakan. Namun di masing-masing hati masih tersisa pertanyaan bagaimanakah akhir dari pertikaian antara hidup dan mati. Dan kalau boleh mereka berharap bahwa pertikaian akan berubah menjadi perdamaian dan persahabatan.

Memang benar, di sisa malam itu Soka Lima boleh menikmati ketenangan dan ketentraman, dikarenakan yang bertikai terbaring tak berdaya. Bahkan mungkin jika Sang Hyang Guru tidak memercikkan air kehidupannya di raga mereka yang lemah, tidak ada kehidupan lagi. Dengan demikian tentunya akan tamatlah pertikaian mereka bersama kerapuhan raganya.
Kidung Malam 34
Cincin Mustika Ampal

Sepekan telah berlalu sejak perang tanding yang belum menampakkan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Keadaan Ekalaya dan Harjuna semakin membaik. Itu artinya bahwa tidak lama lagi perang tanding untuk yang ketiga kali akan dilanjutkan, sampai ada satu di antaranya yang kalah.

Seiring dengan pulihnya kekuatan mereka, bara di hati keduanya mulai membara kembali. Malam bergeser sangat lambat. Durna berjalan modar-mandir di antara bilik Harjuna dan bilik Ekalaya yang letaknya kurang lebih berjarak 300 meter. Masih terngiang di telinga sang guru Sokalima sabda Sang Hyang Guru

“Durna selesaikan pertikaian di antara muridmu dengan adil.”

Memang seharusnya Durna dapat menghentikan pertikaian mereka. Karena jika pertikaian terjadi lagi, kahyangan akan gonjang-ganjing. Para Dewa-Dewi akan pada lari kepanasan.

Tidaklah salah jika diperlukan tindakan tegas dan sedikit memaksa bagi seorang guru dalam menghadapi muridnya yang tidak mengindahkan perintah sang Guru. Bahkan bagi murid yang melanggar aturan perguruan pantas diberi sanksi atau pun hukuman yang setimpal. Tetapi siapa yang pantas mendapat teguran dan sanksi selaras dengan pelanggarannya? Apakah Ekalaya? Tidak! Bukankah Ekalaya belum secara resmi menjadi muridnya? Tetapi jika bukan kepada Ekalaya, mungkinkah Harjuna yang dihukum? Wah sungguh amat berat. Kayaknya tidak mungkin. Karena Harjuna adalah orang yang pertama kali melakukan sembah dan mohon menjadi muridnya sebelum disusul oleh saudara-saudaranya Pendawa dan warga Kurawa. Dan oleh karena daya tariknya kepada Harjuna dan juga Bimasena Durna berkenan mengajarkan ilmu-ilmunya, maka kemudian berdirilah Padepokan yang semakin hari semakin besar, Sokalima namanya. Belasan tahun berlalu, Sokalima masih megah bertahan. Ratusan murid telah dihasilkan. Mereka menyebar di seluruh penjuru negeri. Dengan kenyataan yang ada, tidaklah mudah untuk menjatuhkan sanksi atau pun menghukum kepada Harjuna, murid berprestasi, murid kesayangan, murid yang amat patuh dan sekaligus murid cikal-bakal padepokan Sokalima.

Maka ketika sang guru Durna bersikeras bahwa pertikaian harus dihentikan, dan bagi yang tidak tunduk dengan perintahnya akan diberi sanksi, maka secara tidak sadar Durna melangkah kakinya ke bilik Ekalaya.

“Ekalaya, tahukah engkau apa yang sedang menggelisahkan pikiranku?”

“Ampun Bapa Resi, maafkan saya, sesungguhnya yang membuat Bapa Resi gelisah karena pertikaianku dengan Harjuna.”

“Bagus Ekalaya! Engkau anak yang cerdas. Jika demikian tentunya hanya satu jalan untuk dapat menghilangkan rasa gelisahku yang berlebihan, yaitu pertikaian dihentikan. Sanggupkah engkau Ekalaya?”

“Sejak awal aku memang berniat untuk berdamai dengan Harjuna dengan meminta maaf atas kelancangannku membunuh anjing kesayangan. Namun Harjuna menginginkan penyeselsaian perkara tersebut dengan cara kesatria. Jika sekarang aku menyerah dan mengaku kalah artinya saya mengulangi tawaran awal yang tidak dimaui Harjuna.”

“Ekalaya, sebagai seorang guru, tentunya aku tidak pernah menginginkan kehilangan salah satu murid-murid terbaik Soka Lima. Aku tahu apa yang diinginkan Harjuna dan apa yang kau inginkan. Harjuna menginginkan kemenangan dan itu mutlak. Jika tidak, lebih memilih mati. Sedangkan engkau masih bisa ditawar antara menang dan mengalah. Oleh karenanya supaya pertikaian segera berakhir dan keduanya selamat, pada pertempuran yang ketiga nanti engkau berpura-puralah kalah di hadapan banyak orang yang menyaksikan. Ekalaya, aku percaya kepadamu bahwa kamu akan dapat menyelesaikannya dengan baik dan selamat.”

“Maafkan aku Bapa Resi, hal itu tidak mungkin dapat aku lakukan. Aku tidak dapat berpura-pura untuk kalah. Karena ketika tangganku telah menarik busur dan memegang anak panah, ada daya luar biasa yang terhimpun dengan sendirinya di seluruh budi, pikiran dan sekujur tubuhku serta otot bebayuku, guna menghadang serangan musuh.”

“Oo lole, lole blegudhug monyor-monyor prit gantil buntute bedhug. Lalu ilmu apa yang engkau gunakan?“

“Maafkan aku Bapa Resi Durna, pada tataran luar aku menggunakan ilmu Sapta Tunggal, ilmu andalan Soka Lima, tetapi tenaga dalamnya berasal dari pusaka Mustika Ampal.”

“Mustika Ampal?”

”Bapa Resi, Mustika Ampal adalah pusaka pemberian Sang Hyang Wenang, wujudnya adalah cincin. Menurut Ramanda Prabu Hiranyandanu, cincin Mustika Ampal dianugerahkan ketika Ramanda sedang melakukan tapa guna memohon agar anak yang ada dalam kandungan sang prameswari kelak dapat memimpin Negara Nisada dengan adil dan bijaksana. Ramanda juga mengisahkan bahwa cincin Mustika Ampal mempunyai daya sangat luar biasa dan ketepatan yang akurat pada saat digunakan untuk menarik busur dan melepaskan anak panah. Sehingga sudah menjadi kehendakNyalah Mustika Ampal dianugerahkan kepada calon raja di Negara Nisada, di mana seluruh rakyatnya terampil menggunakan panah.

Bapa Resi, dikarenakan Cincin Mustika Ampal dikenakan di ibu jariku sejak bayi, hingga sekarang setelah aku menjadi raja di Negara Nisada atau Paranggelung menggantikan Ramanda Prabu yang telah wafat, cincin tersebut telah berada di bawah kulit dan di luar daging, menyatu dengan ibu jari tanganku. Oleh karena Cincin Mustika Ampal itulah aku tidak mungkin untuk berpura-pura kalah. Kecuali jika serangan musuh lebih dahsyat daripada kekuatan Cincin Mustika Ampal.”

Pantas, pusaka Gandewa dapat dihadang dengan kekuatan Mustika Ampal. Bahkan pusaka pemberian Dewa Indra yang baru saja diwariskan kepada Harjuna tersebut hancur lebur musnah tak berbekas.

Tiba-tiba hati Pandita Durna terusik. Ilmu-ilmu yang digunakan Ekalaya tidak murni ilmu Sokalima, tetapi telah dipadukan dengan sipat kandel pribadi yang didapat sejak masih bayi. Walaupun Harjuna juga menimba ilmu di banyak tempat, ilmu-ilmu yang digunakan dalam perang tanding adalah ilmu-ilmu yang diajarkan di Sokalima.

Membandingkan di antara keduanya sang Guru besar tersebut tak kuasa lagi berdiri di tengah secara adil. Ia mulai berpihak kepada Harjuna, murid mula pertama yang patuh berbakti dan telah mengangkat nama Sokalima melambung tinggi berkat ilmu-ilmu yang selalu digunakannya. Tak terkecuali ketika berperang tanding melawan Ekalaya.

“Ekalaya, jika niatmu tidak berubah, mau mengalah dengan cara berpura-pura kalah dalam perang tanding, ada cara yang dapat ditempuh, yaitu jika Cincin Mustika Ampal tersebut dilepas untuk sementara.”

“Ampun Bapa Resi Durna, bagaimana bisa dilepas, Mustika Ampal telah jadi satu dengan ibu jari tangan kananku.”

“Ekalaya, apakah engkau tidak percaya bahwa aku dapat melakukannya?”

“Ampun Bapa Resi, maafkan aku yang bodoh ini, maafkan aku.”

Dengan tergopoh-gopoh Ekalaya menyembah Sang Resi Durna, beringsut mendekat, sembari mengulurkan ibu jari tangan kanannya, tempat Cincin Mustika Ampal berada.
Kidung Malam 35
Tangis Anggraeni


Sang Guru bertanya kepada muridnya,

“Tidak percayakah engkau padaku Ekalaya?”

“Ampun Bapa Resi, bukan maksudku untuk tidak mempercayai kemampuan Bapa Resi Durna. Aku percaya, Bapa Resi mampu melakukannya. Silakan Bapa Resi, ambilah cincin Mustika Ampal ini dari ibu jari tanganku.”

Pandita Durna ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah guru yang mumpuni dan menguasai berbagai ilmu tingkat tinggi. Sehingga tidak akan kesulitan dalam melepas Cincin Mustika Ampal, walaupun sudah manjing menjadi satu dengan ibu jari tangan kanan Ekalaya.

Ekalaya memberikan tangan kanannya kepada seorang yang sangat ia hormati. Tangan itu bergetar tanpa dapat dicegahnya. Dengan amat perlahan Durna mencoba mengeluarkan cincin Mustika Ampal itu.

Satu kali, dua kali usaha Durna belum berhasil. Cincin tersebut masih terpendam rapat di antara kulit dan daging. Walaupun tidak kelihatan mencolok, Durna telah mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya, sehingga keringatnya susul menyusul meninggalkan dahinya yang semakin berkerut. Dikarenakan tangan Ekalaya bergetar, Durna menganggap bahwa Ekalaya telah menghimpun energi untuk menghalangi pengambilan Mustika Ampal

“Ekalaya, jangan berusaha menahan cincin Mustika Ampal.”

“Ampun Bapa Resi, aku tidak menahannya. Tangan ini bergetar dengan sendirinya.”

Durna mencoba lagi. Kali ini ia mengerahkan seluruh kemampuannya. Tangan Ekalaya dan tangan Pandita Durna bergetar semakin cepat dan semakin kuat. Pusaran hawa panas memancar dari kedua tangan tersebut.

Panas, panas dan semakin panas.

“Aduh! ”

Tiba-tiba Ekalaya mengeluh pendek. Kemudian terkulai di lantai bilik.

Mendengar bahwa suaminya dalam bahaya, Anggraeni segera masuk ke biliknya,

“Kangmaaass!”

Anggraeni menubruk Ekalaya yang tergeletak tidak sadarkan diri. Sungguh amat mengejutkan, ibu jari Ekalaya telah tiada. dan meninggalkan luka memilukan. Anggraeni tahu bahwa di ibu jari itulah pangkal kesaktian suaminya. Jika sekarang ibu jari tersebut telah tiada, artinya bahwa kesaktiannya telah lenyap.

Cincin Mustika Ampal yang diambil paksa oleh Durna merupakan tragedi seorang murid yang memilukan. Sosok guru yang jauh-jauh dicari dan diharapkan dapat menambah keilmuannya ternyata malah tega merampas harta ilmu yang telah dimiliki si murid. Ekalaya telah terhempas dari harapannya. Ia menjadi tumbal ambisi Durna yang tidak menginginkan ilmu-ilmu Sokalima berada setingkat lebih rendah dibandingkan dengan ilmu-ilmu dari luar Sokalima.

Dengan kejadian tersebut, Durna dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa pusaka Gandewa yang diandalkan dan ilmu-ilmu Sokalima tingkat tinggi yang dikuasai Harjuna belumlah cukup untuk menandingi Cincin Mustika Ampal.

Namun sekarang Cincin Mustika Ampal yang telah mempecundangi nama besar Sokalima di hadapan orang banyak berada dalam genggamannya. Apa yang dapat kau lakukan, Ekalaya, menghadapi Harjuna tanpa Cincin Mustika Ampal. Tiba-tiba hati Durna telah dibakar oleh sakit hatinya, karena ilmu-ilmu Sokalima yang diperagakan dengan sempurna oleh Harjuna, murid kesayangannya, tak mampu mengalahkan Ekalaya.

Durna menimang-nimang Cincin Mustika Ampal, menuju bilik Harjuna. Namun sebelum tangan Durna mengetuk pintu, Harjuna telah membukakannya.

“Silakan masuk Bapa Guru Durna.”

“Harjuna, aku membawa pusaka dahsyat, namanya Cincin Mustika Ampal. Dengan pusaka ini engkau dapat mengalahkan Ekalaya dengan mudah. Kenakanlah pusaka ini pada ibu jari tangan kananmu, serta tunjukkan kepadanya dan kepada banyak orang bahwa ilmu Sokalima tak terkalahkan.”

Harjuna menyembah, kemudian memberikan tangan kanannya. Pandita Durna segera mengenakan Cincin Mustika Ampal di ibu jari Harjuna sebelah kanan.

Sungguh ajaib!

Dengan masih menyisakan rasa herannya, Durna dan Harjuna mengamati keajaiban itu. Jari tangan Harjuna bertambah satu, sehingga jumlahnya menjadi enam.

“Dimanakah Cincin Mustika Ampal yang disebut-sebut Bapa Guru?”

“Ada di dalam ibu jari yang baru itu Harjuna.”

Harjuna juga ingin membuktikan daya kekuatan dari Cincin Mustika Ampal. Maka segeralah satria Panengah Pandawa tersebut menyahut busur serta anak panahnya, lalu pergi keluar dari biliknya. Di tengah gulita malam, Harjuna melepaskan anak panahnya ke arah pohon beringin yang berdiri angker di sudut halaman komplek bilik-bilik siswa Sokalima. Jari tangan yang berjumlah enam menjadi sangat pas untuk membidikan anak panah. Bagai suara ribuan kumbang, anak panah itu telah melesat meninggalkan busurnya. Sekejap kemudian, luar biasa akibatnya, ribuan sulur pohon beringin putus berserakan menumpuk di tanah. Sehingga pohon yang semula dinamakan beringin wok, pohon beringin yang mempunyai brewok itu, menjadi bersih tanpa brewok lagi.

Harjuna tertegun atas daya luar biasa yang ditimbulkan oleh pusaka Cincin Mustika Ampal pemberian Bapa Guru Durna. Segera setelahnya, Harjuna memberi sembah dan mengucap terimakasih yang tak terhingga atas pusaka dahsyat pemberian sang guru besar Sokalima itu. Kemudian Harjuna berjanji akan mengalahkan Ekalaya pada pertemuan yang ke tiga kalinya nanti, dengan ilmu-ilmu Sokalima yang dilambari Cincin Mustika Ampal.

Waktu belum bergeser jauh dari tengah malam, di biliknya Ekalaya mulai pulih kesadarannya. Aswatama yang sejak tadi membantu Anggraeni merawat Ekalaya merasa iba terhadap tragedi yang menimpa sahabatnya.

“Kakang Mbok Anggraeni sudahlah, janganlah kau habiskan air matamu di bilik yang sempit ini. Bukankah dengan demikian hatimu akan bertambah sesak?”

“Dhimas Aswatama, sesungguhnya tangisku bukanlah tangis yang menyesakkan dada, tetapi tangis yang membebaskan. Bebas dari kekhawatiran setelah tidak mempunyai Cincin Mustika Ampal. Aku terharu karena masih diperkenankan mendampingi Kakangmas Ekalaya yang saat ini sudah mulai sadar. Batinku mengatakan bahwa hidup suamiku jauh lebih berharga dibandingkan dengan Cincin Mustika Ampal. Bagiku peristiwa ini bukan tragedi nasib kami berdua, melainkan wujud dari belas kasihNya.”
Kidung Malam 36
Selamat Tinggal Sokalima


Aswatama bermaksud membesarkan hati Anggraeni dan Ekalaya yang sedang berada dalam keterpurukan. Ia menggarisbawahi pendapat Anggraeni, bahwa hidup yang dianugerahkan jauh lebih berharga dibandingkan dengan pusaka andalan Paranggelung yang dimiliki Ekalaya sejak bayi. Walaupun kini pusaka yang diandalkan itu telah lepas dari dirinya dan Ekalaya menjadi orang biasa yang tidak berilmu dahsyat, Anggraeni mengalami suka cita ketika didapati suaminya mulai sadar dan lukanya berangsur-angsur pulih.

Ekalaya bangkit untuk duduk. Ia memandangi tangannya yang luka. Dan mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Ia melihat Anggraeni yang berada sangat dekat dengan dirinya. Juga Aswatama yang berada tidak jauh dari dirinya. Ya, di bilik inilah ia telah mempersembahkan pusaka andalannya kepada Sang Guru Durna.

“Terima kasih Anggraeni, terima kasih Aswatama. Kalian telah merawat aku. Mungkin saat ini adalah saat akhir kita saling bertemu. Karena apa yang berharga dalam hidupku telah hilang, aku persembahkan kepada Guru Durna.”

“Jangan berkata begitu Kangmas, bukankah yang paling berharga dalam hidup ini adalah hidup itu sendiri? Dan Kangmas Ekalaya masih memilikinya?”

“Engkau benar isteriku. Namun hidup tanpa ilmu dan kesaktian tidak lebih berharga dibandingkan dengan daun jati kering.”

“Tidak demikian Kangmas Ekalaya, engkau sangat berharga bagiku, karena cinta dan.kebijaksanaan masih ada padamu.”

“Anggraeni, engkau tahu ketika kita pergi berguru, rakyat Paranggelung berjubel mengantar kita hingga tapal batas negaragung Paranggelung. Harapannya adalah, kelak ketika Sang Raja pulang kembali tentu kesaktiannya akan semakin dahsyat. Tetapi apa yang terjadi? Yang terjadi adalah sebaliknya.. Bukan raja berilmu dahsyat yang didapat, tetapi raja yang lemah tak berdaya tidak mempunyai kesaktian apa-apa. Tentu saja rakyat akan kecewa.”

“Menurutku tidak demikian Kangmas, karena kejadian ini bukan kehendak kita dan bukan salah kita. Jika kita ceritakan dengan jujur, rakyat tentu akan menerimanya, dan bahkan bangga mempunyai raja bijaksana dan penuh cinta. Karena sesungguhnya dua hal itulah yang paling dibutuhkan rakyat.”

Mata Ekalaya berkaca-kaca. Dari kata-kata yang telah diungkapkan isterinya, ia mampu melihat cahaya harapan di tengah tragedi hidup yang gelap pekat.

Walaupun berat, Ekalaya berusaha membangunkan sikap batin untuk bangkit menyongsong masa depan dengan penuh semangat.

“Yah! Memang benarlah, aku masih mempunyai kebijaksanaan serta masih mencintai rakyatku. Anggreni, aku mau pulang ke Paranggelung. Ingin segera mengabarkan kepada rakyatku bahwasanya aku telah terperdaya oleh sosok guru yang aku hormati dan aku kagumi.”

“Baik Kangmas, aku siapkan segala sesuatunya. Namun sebaiknya, di sisa malam ini Kangmas beristirahat sejenak, nanti sebelum wajar menyingsing kita akan mengucapkan selamat tinggal kepada bumi Sokalima.”

Ekalaya mengangguk perlahan. Matanya mulai dipejamkan. Sebelum benar-benar terlelap, sayup-sayup terdengar kidung malam yang lembut menusuk kalbu.

Nalikanira ing dalu
wong agung mangsah semedi
sirep kang bala wanara
sadaya wus sami guling
nadyan ari sudarsana
wus dangu nggenira guling.

Kukusing dupa kumelun
ngeningken tyas sang apekik
kawengku sagung jajahan
nanging sanget angikipi
sang Resi Kanekaputra
anjog saking wiyati

Kidung Kinanthi yang dikumandangkan dari samping Pendopo Agung Sokalima oleh Bekele Gandok tersebut menceritakan kebiasaan Prabu Rama Wijaya, Raja Pancawatidenda ketika malam mulai tiba. Pada saat balatentara kera telah lama terlelap dalam tidur, termasuk juga Lesmana Widagda adiknya, sang raja melakuan meditasi, untuk kemudian membakar dupa dan berdoa, memohon kepada Sang Hyang Wenang, agar seluruh balatentara dan rakyat yang termasuk dalam wilayah kekuasaannya mendapatkan berkah ketenteraman, keselamatan, serta terhindar dari segala marabahaya. Dari syair kidung yang ditulis, doa Prabu Ramawijaya dikabulkan, yang ditandai dengan turunnya Resi Kanekaputra untuk memberikan anugerah. Oleh karena sikap Prabu Ramawijaya, rakyat Pancawatidenda merasa tenteram dan bahagia mempunyai sosok raja yang memperhatikan dan mencintai rakyatnya. Bahkan dalam suasana perang pun, yaitu ketika balatentara kera yang dipimpin Prabu Ramawijaya sedang mendirikan perkemahan di Swelagiri untuk menyerang Alengkadiraja, rasa tenteram dan bahagia tidak lepas dari hati mereka.

Benar juga kata Anggraeni. Sesungguhnya hal utama yang dibutuhkan rakyat adalah dicintai dan diperlakukan dengan adil. Prabu Rama telah memilih yang terbaik untuk diberikan kepada balatentara dan kawulanya di seluruh wilayah jajahannya.

Ekalaya merasa bangga mempunyai isteri Anggraeni, yang mampu membesarkan hatinya dalam ketidakberdayaan. Memberikan cahaya ketika gelap gulita melanda jiwanya. Oleh karenannya Sang Ekalaya masih mampu menggenggam ketenteraman dan menumbuhkan semangatnya dalam keadaan yang paling terpuruk. Buktinya, ia segera terlelap tidur, sesaat setelah kidung malam dikidungkan.

Pagi-pagi benar, seorang cantrik yang bertugas membersihkan bilik Ekalaya mendapati ruangan bilik telah kosong. Di atas meja bambu ditemukan selembar daun lontar yang bertuliskan:

Bapa Resi Durna aku mohon pamit, walaupun Bapa Resi tidak akan pernqh menyesalkan kepergian kami, Bapa Resi akan terkejut karena putranda Aswatama ikut bersama kami. Maafkan kami, seperti kami pun juga memaafkan Bapa Resi.
Selamat tinggal. Ekalaya

“Adhuh Ngger Aswatama anakku, jangan tinggalkan bapamu ya Ngger!”

Sokalima menjadi geger. Durna kebingungan. Ia berjalan ke sana-kemari, memasuki bilik yang satu ganti bilik yang lain, untuk mendapatkan Aswatama. Guru Besar Sokalima tersebut berperilaku seperti anak kecil, ia tidak percaya bahwa Aswatama benar-benar telah meninggalkan Sokalima.

Aswatama, Aswatamaa!
Cantriiik!
Cekeeel!
Geluntunggg!
Ulu-guntunggg!
Indung-indunggg!
Dimana Aswatamaaa!
“Oh Ngger anakku, mengapa engkau sungguh tega meninggalkan Bapamu sebatang kara ini?”

Resi Durna teramat takut kehilangan putranya. Karena sejak isteri tercinta Batari Wilutama meninggalkan dirinya, kasih dan perhatiannya tercurah kepada Aswatama, satu-satunya anak hasil hubungannya dengan sang Batari Wilutama.
...

Catatan:
Sebutan yang berkaitan dengan tugas pekerjaan di lingkungan Padepokan
Cantrik : pembantu umum
Cekel : petugas yang mengurusi tanaman
Geluntung : petugas yang mencari kayu dan air
Ulu-guntung emoticon-Stick Out Tongueetugas yang membagi tugas sesuai dengan pekerjaannya
Indung-indung : magang atau calon
Kidung Malam 37
Kembali ke Paranggelung


Adakah yang mengecewakanmu Ngger anakku si Aswatama? Hingga tanpa pamit tanpa berita engkau tinggalkan begitu saja bapakmu ini dan bumi Sokalima. Tidakkah engkau menyayangiku Ngger? Apa salahku Tole?

Dalam kebingungan Durna menemui Harjuna, untuk memasrahkan anak semata wayang si Aswatama yang tanpa pamit telah meninggalkan Sokalima bersamaan dengan Ekalaya dan Anggraeni sahabatnya.

“Harjuna, Harjuna, tolonglah aku, susullah Aswatama, dan ajak kembali, jangan perbolehkan ia pergi meninggalkan aku sendirian.”

Melihat kecemasan dan kebinggungan sang guru, Harjuna merasa iba. Maka dengan serta-merta Harjuna menyanggupi untuk mencari Aswatama.dan segera berangkat meninggalkan Sokalima. Durna sedikit lega. Ia memandangi Harjuna hingga hilang dari pandangan, kemudian masuk ke ruang dalam untuk menenangkan hati. Jika sudah demikian tak ada cantrik yang berani mengganggu.

Matahari baru sepenggalah. Walaupun Harjuna sudah meningkatkan kemampuannya untuk memacu kudanya dengan cepat, ketiga orang yang dimaksud belumlah tersusul. Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama seakan hilang ditelan bumi.

Syahdan, perjalanan Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama telah memasuki pintu gerbang tapal batas Negara Paranggelung. Kabar segera tersiar bahwa Raja yang telah pergi lebih dari tiga tahun kini telah datang. Kawula Paranggelung mulai berdatangan di sepanjang jalan yang dilalui Sang Raja. Di hadapan kawula yang mengelu-elukannya Ekalaya yang berada di punggung kuda, dibarengi oleh Anggraeni dan Aswatama, mencoba menutupi deritanya dengan senyum dan keramahan.

“Raja datang!”
“Raja jaya!”
“Hidup Sang Raja”
“Hidup!!!”

Mata Rakyat adalah kejujuran. Hati rakyat adalah ketulusan. Oleh karenanya ketika sang Raja membalas sambutan rakyat dengan senyuman dan lambaian tangan, mereka telah menangkap, ada sesuatu yang tidak wajar telah terjadi. Terlebih lagi ketika dilihatnya tangan kanan sang raja sudah tidak utuh lagi, tanpa ibu jari. Tentunya ada derita dalam di balik lukanya. Bagaimana tidak! Bagi kawula Paranggelung, yang sebagian besar rakyatnya pandai berolah senjata panah, tentunya akan sangat kehilangan jika tangan kanannya tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Oh alangkah menderitanya rajaku. Sang Prabu apa yang terjadi? Siapakah yang telah menganiaya paduka?

Teriakan gegap gempita dari rakyat Paranggelung itu pun akhirnya berangsur-angsur surut, hambar dan kemudian berubah menjadi isak tangis kesedihan.

Jangan cemas rakyatku yang setia, akan kujelaskan dengan sejujurnya apa yang telah menimpa diriku. Yang pasti tidak ada derita. Jika pun ada derita pasti ringan jadinya karena kesetiaan rakyatku yang rela ikut memikulnya.

Memang sejak Ekalaya menjadi raja menggantikan ayahnya, hubungan antara raja dan rakyatnya itu terjalin dengan harmonis, penuh ketulusan. Rakyat sungguh mencintai rajanya, karena sang raja lebih dahulu mencintai rakyatnya. Antara raja dan kawulanya saling berbagi, saling melengkapi.

Lepas dari perhatian orang banyak, ternyata Harjuna sudah berada di antara Rakyat Paranggelung. Perkiraannya tepat bahwa Aswatama akan mengikuti pasangan Ekalaya ke Paranggelung. Maka ketika ia mencari tahu letak Negara Paranggelung, bergegaslah sang Harjuna dengan ilmu cepatnya memacu kudanya menuju Paranggelung. Bahkan Harjuna lebih dahulu memasuki wilayah Paranggelung, dibandingkan dengan Ekalaya, Anggraeni dan Aswatama. Oleh karenanya Harjuna boleh menyaksikan, mengalami dan merasakan, betapa besar cinta rakyat kepada rajanya, dan cinta raja kepada rakyatnya. Ada perasaan menyesal mengapa dirinya bermusuhan dengan Ekalaya. Sebab sama pula artinya bahwa dirinya telah memusuhi semua kawula Paranggelung. Lalu bagaimana caranya menyelesaikan persoalan pribadinya dengan Ekalaya tanpa harus melibatkan kawula Paranggelung, dan sekaligus mengajak Aswatama pulang dengan cara damai, atau jika perlu dengan cara kekerasan.

Saat yang ditunggu oleh pembesar negeri dan rakyat Paranggelung telah tiba. Sang Prabu Ekalaya duduk di singgasana --didampingi Dewi Anggraeni dan Aswatama, yang diperkenalkan sebagai sahabatnya-- lalu menceritakan kisah perjalanannya dalam upaya mencari guru ilmu berolah senjata panah yang mumpuni.

Bapa Dorna adalah guru yang pilih tanding. Cacat pada fisiknya tidak mengurangi kesaktian yang dikuasainya. Namun entah mengapa ia melakukan tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang guru kepada muridnya. Atas tragedi getir yang menimpa Ekalaya, seluruh rakyat Paranggelung merasakan kegetirannya

Malam panglong, malam gelap tanpa bulan. Ekalaya dan Anggraeni belum tidur Menurut perasaannya, malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Entah mengapa malam ini begitu sepi, gelap mencekam. Kegetiran yang telah dibeberkan kepada rakyatnya justru menjadi bumerang bagi diri sendiri. Ia semakin menderita melihat rakyatnya menderita. Ia semakin bersedih merasakan rakyatnya bersedih. Dalam ketermanguan itu Ekalaya mengatakan sesuatu kepada Anggraeni.

“Diajeng Anggraeni, rasa-rasanya telah tiba saatnya apa yang paling berharga dari kita pun akhirnya akan diambil pula. Sehingga kita tidak punya apa-apa lagi. Yah kita tidak punya apa-apa lagi, termasuk hidup itu sendiri.”

“Pasti Kakangmas, hidup ini akan diambil kembali oleh yang mempunyai hidup dan akan diabadikan. Tetapi kapan waktunya tidak ada seorang pun tahu. Oleh karena itu jangan cemas Kakangmas, aku senantiasa berada di sampingmu.”

Selesai berkata demikian, Anggraeni terkejut melihat raut muka suaminya berubah mendadak.

“Ada apa Kakangmas?!”

Ekalaya merasakan daya aji Pameling yang masuk di telinganya dan menyusup ke hatinya. “Ekalaya, aku tunggu engkau dan Aswatama di luar batas negara Paranggelung, sekarang juga. Dari Harjuna.”
Kidung Malam 38
Menuju Kesempurnaan


Tidak seperti malam ini, Anggraeni yang biasanya kuat, tegar tak mengenal takut, tiba-tiba hatinya berdesir cemas.

“Ada apa Kakangmas?”

“Harjuna menantangku melalui daya aji Pameling.”

“Harjuna?!”

Ekalaya mengangguk lemah.

“Ia tidak ingin melibatkan rakyat Paranggelung, cukup Aswatama yang dijadikan saksi.”

“Apakah Kakangmas akan memenuhi tantangan itu?”

“Ya, sebagai seorang ksatria.”

“Dengan kondisi lemah tak berdaya?”

“Iya Anggraeni. Apakah menurutmu lebih baik aku bersembunyi, tidak memenuhi tantangannya?”

Anggraeni menggeleng lemah.

“Memang seorang ksatria lebih memilih memenuhi tantangan daripada bersembunyi. Tetapi memenuhi tantangan dengan kondisi yang tak berdaya bukankah sama halnya dengan bunuh diri?”

“Aku tidak memilih bunuh diri Anggraini, aku akan berperang tanding.”

“Perang tanding? Dengan Harjuna yang sakti mandraguna?”

“Iya Anggraeni, perang tanding dengan Harjuna yang sakti mandraguna dan tampan!”

“Oh, bukan maksudku...”

Anggraeni tersadar bahwa kata-katanya telah membuat Ekalaya cemburu.

“Maafkan aku Kakangmas, aku telah salah bicara. Aku tidak bermaksud mengunggulkan Harjuna, tetapi bukankah saat ini Kakangmas Ekalaya belum mampu menarik anak panah dari busurnya.”

“Aku tidak takut Anggraeni.”

“Aku percaya bahwa Kakangmas Ekalaya tidak pernah merasa takut, tetapi bukankah Kakangmas juga mempunyai perhitungan yang cermat dan matang terhadap calon lawannya.”

Ekalaya bimbang. Dari luar ia kelihatan diam seribu bahasa, namun di dalam hatinya ramai akan berbagai macam pertimbangan yang harus dipilih. Bersembunyi atau berperang tanding. Jika bersembunyi apa alasannya, namun jika memenuhi tantangan apa andalannya. Lama keduanya terdiam. Anggraeni memberi kesempatan sepenuh-penuhnya kepada suaminya untuk memutuskan langkah.

Permenungan Ekalaya menukik masuk ke jagad jati diri Ekalaya yang paling dalam. Di sana tergambar sebuah peristiwa yang menakjubkan.

“Di sebuah padang rumput hijau segar dengan ditumbuhi bunga seribu warna dan kolam yang jernih airnya yang berbatas cakrawala, aku berjumpa dengan makhluk bercahaya putih kemilau, di depan gapura megah menjulang ke langit. Suasananya sejuk tanpa semilirnya angin, dan terang tanpa sinar matahari.

“Selamat datang Ekalaya, tugasmu telah aku anggap selesai. Aku menyambutmu dengan suka cita. Maukah engkau tinggal bersamaku sekarang juga dan untuk selamanya?” sambut makhluk bercahaya putih itu sembari tangannya menunjuk pada pintu gerbang di belakangnya. Aku tercengang dibuatnya karena tiba-tiba saja makhluk bercahaya putih kemilau itu lenyap dari hadapanku. Tinggallah aku sendirian di tempat itu.

Walaupun sebelumnya yang ada di sekitarku, seperti rumput, aneka bunga, air mega dan yang lainnya pernah aku lihat, saat ini suasananya berbeda sama sekali Aku merasa damai tenteram tinggal dalam suasana seperti itu. Lama ditunggu, makhluk bercahaya tersebut tidak muncul lagi. Aku mencoba bangkit berdiri menuju pintu gerbang nan indah menjulang. Karena aku berkeyakinan bahwa makhluk bercahaya tersebut ada di dalamnya.

Aku beranikan diri naik di tangga gerbang. Wouw! Luar biasa! Dengan apa aku harus menceritakan suasana indah yang demikan eloknya? Rasa penasaran mendorongku untuk melangkah ke tangga yang lebih tinggi lagi sehingga akan semakin jelas pemandangan apa yang ada di dalamnya. Namun sebelum kakiku menginjak tangga berikutnya, tiba-tiba ada cahaya terang benderang menerpa wajahku. Aku tak kuat memandangnya, dan terhempas seperti melayang, untuk kemudian sadar dari permenunganku.”

Anggraeni memeluk Ekalaya erat-erat dan tak hendak melepaskannya.

“Maafkan aku Anggraeni, terima kasih atas kesetianmu.”

“Ada apa denganmu, Kakangmas?”

“Diajeng, tugasku telah dianggap selesai, dan aku akan tinggalkan Paranggelung untuk selamanya.”

“Kangmas!”

Ekalaya bangkit berdiri menyahut gandewa pusaka, melangkah keluar menembus kegelapan malam. Aggraeni menyadari bahwa ia tidak mungkin untuk mencegahnya, karena apa yang dilakukan Ekalaya sepertinya bukan atas kehendaknya sendiri. Maka yang dilakukan adalah mengikuti ke mana suaminya melangkahkan kaki.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah Ekalaya di perbatasan Paranggelung. Ekalaya menebarkan pandangannya ke segala arah. Dan tampaklah tubuh ringan berkelebat mendekati Ekalaya.

“Harjuna!”

“Engkau memenuhi tantanganku Ekalaya.”

Kemudian tanpa bicara lagi, keduanya mengambil jarak, bersiap untuk berperang tanding.

Harjuna sebagai sang penantang mempersilakan Ekalaya melepaskan senjata terlebih dahulu. Segeralah Ekalaya memasang anak panah dan menarik gandewanya. Gandewa pusaka itu bercahaya, menerangi sekelilingnya. Harjuna memandang tajam, memusatkan kesaktiannya menghadapi serangan Ekalaya. Namun Harjuna heran dengan apa yang dilihatnya. Tangan Ekalaya bergetar tak beraturan, sehingga menyebabkan arah bidikannya kurang tepat sasaran.

“Ekalaya, jangan meremehkan aku, seranglah aku dengan sungguh-sungguh.”

“Jika aku meremehkanmu aku tidak mungkin datang memenuhi tantanganmu dalam keadaanku yang seperti ini,” jawab Ekalaya sembari menunjukkan tangan kanannya yang tanpa ibu jari.

“Apa yang terjadi dengan ibu jari tanganmu?”

“Bapa Durna telah memotongnya.”

Bagai disambar geledhk Harjuna terkejut mendengar jawaban Ekalaya.

“Jadi.. jadi ibu jari yang menempel di ibu jari tanganku ini ibu jarimu?!”

Harjuna menunjukkan jari tangannya yang berjumlah enam.

Ekalaya tak kalah terkejutnya. Ia tidak mengira bahwa pusaka Cincin Mustika Ampal yang dipersembahkan dengan tulus kepada Sang Guru Durna telah menempel pada musuh bebuyutannya.

“Baiklah Harjuna! Kini saatnya telah tiba, giliranmu menyerang aku. Aku semakin mantap bahwa pusakaku Mustika Ampal pemberian Sang Hyang Pada Wenang itulah yang akan mengantar aku ke pangkuanNya. Harjuna, engkau adalah musuhku, engkau adalah sesamaku, dan engkaulah yang mendapat tugas untuk menyempurnakan hidupku. Terima kasih Harjuna. Lakukanlah!”
Kidung Malam 39
Kembali Kepangkuan Keabadian


Sementara itu, Aswatama yang mengikuti kedua sahabatnya ke Paranggelung, ditempatkan di ruang tengah Baluwerti. Di sini Aswatama merasa lebih dihargai dibandingkan dengan di Sokalima atau di Hastinapura. Oleh Ekalaya ia diperkenalkan sebagai sahabat raja, sehingga tentu saja para pejabat negeri dan terlebih rakyat Paranggelung sangat menghormati Aswatama. Ada sebuah paradigma baru baginya, agar seorang raja tidak mabuk kuasa, tetapi penuh perhatian kepada rakyatnya, dan dengan tulus mencintai rakyatnya.

Kepergian Aswatama tanpa pamit ke Paranggelung adalah merupakan ungkapan sikap ketidaksetujuannya atas tindakan Drona bapaknya. Ada perasaan kecewa yang amat dalam, mengapa bapanya telah tega mencelakai Ekalaya. Karena dengan memotong ibu jari Ekalaya, artinya memotong harapan hidupnya. Lagi pula ia menilai bapanya adalah seorang guru yang pilih kasih. Lebih mengasihi Harjuna.

Di malam itu, entah apa yang menyebabkan Aswatama gelisah dan tidak dapat segera tidur. Perasaannya mendorong-ndorong untuk bangun dan melangkah ke luar Baluwerti. Inikah kegelisahan itu? Ketika Aswatama berada di regol halaman, dilihatnya Ekalaya dan Anggraeni berjalan dengan sangat ringan, seperti terbang ke arah luar kota raja. Aneh ya, ada apa dengan mereka berdua? Malam-malam begini, tanpa pengawalan, seorang raja dan prameswarinya meninggalkan keraton dengan diam-diam. Timbul rasa khawatir yang berlebihan, ketika tiba-tiba saja Ekalaya dan Anggraeni hilang di telan gelapnya malam. Tidak salahkah mataku memandangnya? Benarkah mereka Ekalaya dan Anggraeni? Aswatama penasaran, dengan hati-hati diikutinya bayangan keduanya yang sudah jauh memasuki pekatnya malam.

Kembali ke perbatasan, Harjuna termangu. Busur pusaka yang telah dipegangnya tidak juga segera ditarik. Tangan kanannya bergetar tak beraturan. Ia merasa bersalah setelah mengetahui bahwa ibu jari yang menempel ini adalah ibu jari Ekalaya, musuh utamanya. Jika pun dalam perang tanding kali ini Harjuna menang, apakah arti kemenangan itu? Gagahkah seorang kesatria dapat mengalahkan musuhnya dengan senjata hasil rampasan dari musuh yang bersangkutan?

“Harjuna, lepaskan segera panah itu. Jangan merasa bersalah bahwa engkau telah merampas pusakaku. Dan jangan ragu menggunakan pusaka Mustika Ampal untuk mengalahkan aku. Karena sesungguhnya hanya dengan Cincin Mustika Ampal itulah engkau dapat mengalahkan aku. Bukankah engkau sendiri mengakui bahwa sebagian besar ilmu-ilmu Sokalima yang engkau kuasai, tidak mampu mengalahkan aku? Maka segera tariklah Gandewa itu. Inilah kesempatan yang engkau miliki untuk memenangkan pertandingan.”

Apa yang dikatakan Ekalaya memang benar, tetapi hal tersebut membuat hati Harjuna panas. Ditambah lagi pada saat itu Harjuna sempat melirik Anggraeni, istri Ekalaya, yang kecantikannya sempurna, menyapa dengan penuh persahabatan orang yang baru datang, yaitu Aswatama. Entah apa yang muncul di hatinya, tetapi yang jelas Harjuna tidak senang melihat Anggraeni bergaul akrab dengan Aswatama. Jika mau berkata jujur, sejak pertama Harjuna melihat Anggraeni hatinya berdesir tidak karuan. Banyak wanita cantik yang telah dijumpai di dalam hidupnya, namun tidak seperti Anggraeni. Ia sungguh sangat menawan. Rasa terpana Harjuna ternyata berlanjut menjadi rasa cemburu, tatkala melihat bahwa kelebihan dan kesempurnaan Anggraeni sebagai wanita dan isteri hanya ditumpahkan kepada Ekalaya seorang. Huh! Mentang-mentang kau Ekalaya, sepertinya di dunia ini hanya engkau seorang yang laki-laki.

Mungkin itulah yang menyebabkan Harjuna berambisi untuk mengalahkan Ekalaya. Sebagai penyandang gelar lelananging jagad, Harjuna tidak suka lelanang atau lelaki lain yang berada di atasnya, baik dari kesaktian maupun dari daya tariknya kepada wanita. Oleh karena itu selagi ada kesempatan untuk mengalahkan saingannya yang memang sukar dikalahkan dari segalanya, Harjuna ingin memanfatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Padahal akhirnya secara tidak langsung Harjuna mengiyakan kata-kata Ekalaya musuhnya, “Harjuna lepaskan segera panah itu. Jangan merasa bersalah bahwa engkau telah merampas pusakaku. Dan jangan ragu menggunakan pusaka Mustika Ampal untuk mengalahkan aku. Karena sesungguhnya hanya dengan Cincin Mustika Ampal itulah engkau dapat mengalahkan aku.”

Maka kemudian Harjuna telah benar-benar menarik busurnya. Sungguh luar biasa daya cincin Mustika Ampal yang sudah berpindah tuan tersebut. Dari mata anak panah yang telah lepas dari busurnya itu munculah bola api berwarna kebiru-biruan. Bola api itu semakin besar sehingga mengakibatkan tanaman perdu yang ada di sekitarnya layu terbakar. Dengan cepat bagai kilat dan gesit laksana petir api yang berwarna biru itu telah menggulung Ekalaya. Bersamaan dengan kejadian itu nampak bayangan berkelebat masuk kedalam api tersebut dibarengi dengan teriakan Aswatama, “Anggraeni!!!”

Dalam sekejap api yang berwarna kebiru-biruan itu berubah menjadi kehijau-hijauan, kekuning-kuningan dan jadilah cahaya putih yang terang benderang. Dari cahaya putih bak salju itu nampaklah Ekalaya dan Anggraeni dikelilingi para dewa-dewi yang menyambutnya tersenyum bahagia. Rangkaian peristiwa amat menakjubkan itu hanya disaksikan oleh Aswatama dan Harjuna. Keduanya tersadar ketika suasana kembali seperti sebelumnya. Sisa malam itu masih menampakkan kegelapannya. Dengan cahaya bintang keduanya mampu menatap untuk saling mengatakan bahwa baru saja keduanya mengalami mimpi yang sama, peristiwa yang tidak bisa diceritakan keindahannya yang baru sekali ini muncul dalam hidupnya.

Namun bagi Aswatama peristiwa yang mencengangkan itu menyisakan duka yang amat dalam Kedua sahabat yang telah mengangkat harga dirinya, memulihkan rasa percaya dirinya itu kini telah pergi untuk selamanya. Aswatama kecewa kepada Durna bapanya dan juga Harjuna yang telah bersekongkol untuk melenyapkan Ekalaya sahabatnya yang berbudi luhur itu.
Secepat kidang Aswatama lari dari tempat tersebut sambil meninggalkan teriakan sebagai katup pembuka kesesakan hati yang menghimpitnya. Tinggallah Harjuna termangu sendirian. Ada sedikit kelegaan karena telah berhasil memenangkan pertandingan dengan musuh yang sukar dikalahkan. Jika pun ada penyesalan tentunya bukan karena lenyapnya Ekalaya, melainkan karena Dewi Anggraeni, si cantik sempurnya telah ikut lenyap.

Semilir angin yang semakin basah menandakan bahwa pagi segera tiba. Bersamaan dengan itu terdengarlah suara kumrosak mengiringi datangnya para prajurit dan rakyat Paranggelung yang menelusur arah sang Raja yang dicintai pergi. Harjuna memutuskan untuk meninggalkan mereka. Ia tidak mau lagi berurusan dengan rakyat Paranggelung. Maka dengan kesaktiannya Harjuna telah jauh meninggalkan tempat lenyapnya Ekalaya dan Anggraeni tanpa diketahui oleh mereka.
Kidung Malam 40
Paranggelung, Oh Paranggelung

Tidak beberapa lama dari peristiwa mukswa-nya Ekalaya dan Anggraeni, para prajurit dan sebagian rakyat Paranggelung sampai di sekitar tugu perbatasan. Mereka meyakini bahwa cahaya kemilau warna-warni yang menakjubkan itu berasal dari tempat ini, tempat raja dan prameswari berhenti. Namun mereka amat kecewa, karena tidak mendapatkan Ekalaya dan Anggraeni. Lalu ke mana perginya sang raja serta permaisurinya?

Perlu diketahui bahwa sejak Ekalaya meninggalkan cepuri Keraton diikuti Dewi Anggraeni, Panglima perajurit jaga merasakan firasat yang tidak baik. Oleh karenanya ia bersama beberapa pasukannya, diam-diam mengawal dari kejauhan. Ketika sang Raja berhenti diperbatasan, Panglima beserta perajuritnya, berhenti pula di kejauhan. Namun tidak beberapa kemudian, mata mereka terbelalak melihat cahaya berwarna kebiru-biruan di atas langit, tempat Ekalaya dan Anggraeni berada. Cahaya tersebut kemudian berubah menjadi kehijau-hijauan, kekuning-kuningan dan jadilah cahaya putih yang terang benderang. Namun dicahaya putih tersebut mereka tidak melihat Ekalaya dan Anggraeni disambut para bidadari, seperti yang dilihat Harjuna dan Aswatama.

Sang Panglima meyakini bahwa di tempat perbatasan inilah, Sang Raja beserta permaisurinya yang amat mereka cintai telah mukswa mencapai nirwana. Ceceran abu yang berserakan ditempat itu dihayati sebagai abu dari jasad sang junjungan yang ditaburkan di bumi Paranggelung. Sebagai ucapan selamat jalan, masing-masing dari mereka, mengoleskan abu itu ke wajah nya yang basah oleh air mata.

Semenjak peristiwa itu negara Paranggelung tidak pernah berhubungan lagi dengan Sokalima. Namun kabar yang didengar, bahwa kemakmuran Paranggelung tak pernah surut. Semangat pelayanan penuh welasasih yang diteladankan Ekalaya, diwarisi oleh Raja penggantinya yang adalah keturunan Ekalaya

Beberapa tahun sepeninggal Ekalaya, rasa bersalah masih bergelayut di hati Durna. Ia mempunyai trauma yang sangat dalam. Tragedi Ekalaya telah dicatat sejarah, bahwa ada seorang guru besar tega membunuh murid yang berprestasi. Rasa bersalah semakin menenggelamkan semangatnya, tatkala, Aswatama, anak semata wayang, ikut kehilangan keceriaan hidupnya, semenjak ditinggal Anggraeni dan Ekalaya.

”Dhuh Dewa, Dewa..., dengan apakah aku harus menebus kesalahan besar dalam tugasku sebagai guru? Apakah harus dengan karma? Tidakah ada jalan lain selain melalui hukum karma? Jika demikian, artinya bahwa pada saatnya aku akan mati oleh muridku sendiri? Dhuh Jawata Agung, ampunilah kesalahanku, dan hindarkanlah aku dari hukuman karma.

Walaupun diakhir hidupnya Ekalaya tidak pernah mengucapkan kutukan atas Sang Guru Durna, Bayang-bayang Ekalaya selalu hadir pada setiap murid Sokalima. Sehingga ketakutan akan sebuah kematian ditangan muridnya tidak pernah dapat dihapuskannya.

Lain di padepokan Sokalima lain pula di Hastinapura. Di padepokan sokalima masalah yang dihadapi selalu berkisar antara guru dan murid. Sedangkan di Hastinpura masalah yang terjadi adalah tahta dan kekuasaan. Dua keluarga besar yaitu keluarga Pandhawa dan Keluarga Kurawa sama-sama merasa paling berhak atas tahta Hastinapura. Dasar yang dipakai oleh keluarga Pandhawa adalah bahwa negara Hastinapura sebelum diperintah oleh Destarastra seperti sekarang ini, yang menjadi raja adalah ayahnya yang bernama Prabu Pandudewanata. Seperti telah didengar dari saksi sejarah rakyat Hastinapura, bahwa di jaman pemerintahan Pandudewanata, negara Hastinapura gemah ripah lohjinawi, subur makmur sejahtera berkelimpahan. Namun pada saat puncak kejayaan, tragedi menimpa sang raja. Di hutan perburuan, Prabu Pandu memanah sepasang kidang yang sedang berpasihan. Kidang betina lari ketakutan meninggalkan Kidang jantan yang mati ditembus oleh panah Pandu. Keanehan terhjadi, bangkai Kidang berubah wujud menjadi seorang Resi, Kimimdama namanya. Ia marah kepada Pandu yang telah merampas paksa kebebasan dan kenikmatannya bersama isteri satu-satunya yang amat dicintai. Kemarahan besar dan kesedihan yang mendalam itulah nyang kemudian munculmenjadi sebuah kutukan.

“He Prabu Pandu, engkau seorang raja yang bodoh!“ Kata Resi Kimindama. Sorot matanya tajam penuh kemarahan. “Apakah engkau tidak pernah merasakan betapa nikmatnya menjadi seekor kijang, berpasihan diatas rumput hijau yang jadi makanannya dan di pinggir sendang yang jadi minumannya? Oo,… Pandu, Pandu, dengan paksa engkau telah merenggut kenikmatan sakral anugerah Hyang Widi Wasa yang sedang dinikmati sepasang suami istri. Perbuatanmu itu pantas mendapat Kutuk DariNya yang memberikan kesemua itu. Ingat-ingatlah Pandu, bahwa engkau akan binasa sewaktu berpasihan dengan istrimu.”

Bagi Pandu kutukan Sang Resi Kimindama ibaratnya luka ditusuk gunting. Dua kepedihan terjadi dan dirasakan pada waktu yang bersamaan. Pertama, sebagai raja besar ia bersama kedua isterinya, Kunthi dan Madrim, belum dianugerahi anak. Kedua, ia akan mati pada berhubungan intim dengan isterinya.

Pandu ingin menebus kesalahannya. Hatinya gundah. Apapun akan ia lakukan agar terbebas dari kutukan Resi Kimimdama. Tahta dan kekuasaan menjadi tidak berarti. Setelah berembug dengan Kunthi dan Madrim, mereka sepakat untuk meninggalkan tahta Hastinapura dan menitipkan kepada Destarastra yang waktu itu menjadi Adipati di Gajahoya.

Pandhudewanata dengan didampingi oleh kedua isterinya, memutuskan untuk bertapa di Girisarangan, kompleks pertapaan Saptarengga, untuk mohon ampunan agar terhindar dari kutuk yang menimpanya. Namun sayang, walaupun akhirnya atas jasa Dewi Kunthi, Pandu mempunyai lima anak laki-laki yang dinamakan Pandawa, , toh kutuk Sang Resi tak pernah dapat dihindari. Di malam bulan purnama yang indah, Hyang Yama menjemput Pandu dan Madrim pada saat mereka sedang berpasihan.

Setelah Kini anak-anak Pandu sudah menginjak dewasa, tentunya Sang Prabu Destarastra akan segera mengembalikan tahta Hastinapura yang dititipkan Pandudewanata. Namun pada kenyataannya Destarastra tidak pernah berbicara masalah tahta kepada Kunti dan anak-anaknya. Bahkan ada usaha dari orang-orang terdekat raja untuk mengkukuhi tahta dan menyingkirkan Pandhawa.

Sejatinya Destarastra sendiri ikhas mengembalikan tahtanya kepada keponakannya, namun Dewi Gendari permasuri raja yang bekerjasama dengan Sengkuni, adik kandungnya yang menjabat Patih tidak rela kalau tahta diberikan kepada anak-anak Pandu, tetapi diberikan kepada anak-anak Destarastra. Alasannya adalah bahwa Destarastra merupakan pewaris yang sah, bukan Pandu. Karena Destarastra adalah anak sulung laki-laki dari raja sebelumnya Prabu Abiyasa.

Usaha untuk menyingkirkan Pandawa telah diawali ketika Kunthi dan Pandawa diusir secara halus dari kota raja Hastinapura dan dititipkan kepada Yamawidura pamannya di Panggombakan. Walaupun sudah tidak menjadi satu di kota raja, namun bagi Gendari dan Patih Sengkuni Pandawa masih menjadi ancaman nyata atas kelangsunga tahta Hastinapura. Terlebih lagi ketika Kurawa dan Pandawa berguru bersama di Sokalima, kemampuan Pandawa dalam menyerap Ilmu yang diberikan Pandita Durna berada di atas Kurawa.
Lungguh ndoprok nyemil kacang godhog... monggo di lanjut mbah... emoticon-coffee emoticon-thumbsup:
permisi sepuh numpang gabung disini,
salam kenal emoticon-shakehand
n maaf kalau lancang, aku mohon di babar tentang lakon Cantrik Jonoloka mas,,,

rahayu
ayo monggo agan TS di lanjut

request saya tentang Sentanu & Pandu belum di babar disini

trims
Pandu Lahir


Syahadan, sekembali prabu Abyasa, raja Astina, dari berburu binatang di hutan, di istana permaisuri raja yang muda, bernama Dewi Ambaini, melahirkan putra, amat bagus rupanya. Hyang Narada pun hadir dalam kelahiran bayi tersebut, dan berkatalah Hyang Narada kepada prabu Abyasa, “ Wahai, prabu Abyasa, putramu sudarma, atas kehendak hyang Girinata, akan diadu dengan raja Kiskenda, prabu Nagapaya. Agaknya memang prabu Nagapaya tak dapat diundurkan kemauannya untuk memperoleh jodho Dewi Supraba”. Prabu Abyasa berdatang sembah,” Hyang Narada, sesungguhnya meski kamipun telah pernah disaraya (dimintai bantuan) dewa untuk mengundurkan balatentara dari Kiskenda, namun tak kuasalah kami mengundurkannya, semoga Sudarma, bayi tersebut dapat memenuhi keinginan hyang Girinata”. Hyang Narada segera pergi ke Suralaya dengan membawa bayi si Sudarma.

Kahyangan telah dikepung oleh prabu Nagapaya dan segenap prajurit raksasa. Sedatang hyang Narada, bayi diadu dengan prabu Nagapaya. Bayi dibanting, dilemparkan keras ke arah Hyang Narada, matilah si Sudarma. Dihadapan Hyang Girinata, Hyang Narada melapor, dan Hyang Girinata bersabda,” Kakanda Narada, mandikanlah bayi yang telah tewas tersebut dengan air kehidupan, hiduplah sibayi lagi, dengan menyandang panah dan busurnya, dan bayi bertempur lagi dengan raja Kiskenda, Prabu Nagapaya. Anak panah dilepaskan oleh Sudarma, yang juga bernama Raden Pandu, matilah raja Kiskenda, terkena senjata raden Pandu.

Demikian pula semua wadyabalanya terkikis habis oleh jago dewa, raden Pandu. Sukacitalah seluruh kahyangan, atas kemenangan bantuan dewa, putra prabu Abyasa, raden Pandu. Hyang Girinata, menganugrahi kepadanya minyak tala, dan diberinya nama lagi, raden Pandudewanata. Bermohon dirilah Raden Pandudewanata, kembali ke negara Astina, diterima oleh ayahanda prabu Abyasa, beserta ibu, Dewi Ambaini, dan segenap keluarga istana Astina. Amat sukacita hati seluruh isi istana Astina. Patih Jayaprayitna, berdatang sembah, melapor ada musuh dating dari Awu-awu Langit, prabu Swarka beserta prajuritnya merusakkeadaan desa-desa Astina. Prabu Abyasa segera memerintahkan kepada Raden Pandudewanata untuk menanggulanginya. Prabu Swarka dengan seluruh balatentaranya dapat dibasmi.
saya request tentang sang barata aja
Pandu Winisudha


Di Negara Astina, Prabu Kresnadwipayana sedang memikirkan suksesi kerajaan untuk menggantikan dirinya. Ia merasa sudah tua dan saatnya untuk diganti yang lebih muda. Hal itu untuk melancarkan jalannya tata pemerintahan dan menghindari adanya konflik baik dari dalam maupun dari luar.

Tetapi Prabu Kresna Dwipayana merasa gundah karena sesuai adat hukum kerajaan bahwa yang berhak menggantikannya adalah putra tertua yakni Raden Drestarasta tetapi ia mempunyai kekurangan yakni cacat netra. Hal ini akan menimbulkan ketidaklancaran jalannya pemerintahan, sehingga bisa menimbulkan ringkihnya kerajaan. Tapi bila ia memilih anaknya yang kedua, inipun akan dianggap menyalahi adat hukum kerajaan, yang nantinya akan menimbulkan ketidakpuasaan disisi lain. Apalagi memilih anaknya yang ketiga, jelas tidak mungkin. Untuk itu ia tidak ingin memaksakan kehendak, justru ia menyerahkan kepada ketiga anaknya untuk berfikir siapa yang lebih mampu dan berhak untuk menggantikan dirinya

R. Drestarasta mengusulkan R. Pandu untuk menggantikan raja Astina. Ia merasa, walau sebagai putra tertua, namun ia menyadari akan kekurangannya. Sebagai seorang raja harus sempurna lahir dan batin hal ini untuk menjaga kewibawaan raja dan lancarnya pemerintahan. Namun R. Pandu tidak bersedia, ia berpedoman sesuai adat hukum kerajaan bahwa yang berhak menduduki raja adalah putra tertua, bila dipaksakan dikawatirkan dikemudian hari akan menimbulkan masalah. R. Yamawidura juga menolak karena merasa paling muda dan belum cukup umur untuuk memikul tanggung jawab sebagai raja.

Prabu Kresnadwipayana pertama merasa senang ternyata anak-anaknya dapat berfikir dengan hati nuraninya, menyadari akan kekurangan yang ada dalam dirinya dan bisa mendudukkan posisinya masing-masing, sehingga tidak saling berebut kekuasaan yang bisa menimbulkan perpecahan dan persaudaraan. Tapi Prabu Kresnadwipayana juga semakin gundah, bila suksesi tidak segera dilakukan akan menimbulkan ringkihnya kerajaan dan kurang lancarnya tata pemerintahan, hal ini akan menimbulkan ancaman baik dari luar maupun dari dalam kerajaan.

Disaat suasana semakin sedih dan gundahgulana tiba-tiba dikejutkan datangnya laporan bahwa Astina kedatangan musuh dari negara Lengkapura yang dipimpin Prabu Wisamuka. Prabu Krenadwipayana semakin gundah tapi satu sisi ia merasa dapat jalan, dalam dirinya berfikir inilah jalan untuk menguji ketiga putranya, siapa diantara ketiga putranya yang berhasil mengusir musuh sehingga disitu dapat dijadikan alasan untuk menetapkan jadi raja, sehingga rakyat nanti betul-betul menilai pemimpinnya sudah teruji dam mampu menyelamatkan rakyat, bangsa dan negaranya. Akhirnya ketiga putranya berangkat ke medan perang menghadapi Prabu Wisamuka .

Di medan pertempuran ketiga putra Astina berhadapan dengan Prabu Wisamuka. Namun karena kesaktian Prabu Wisamuka, ketiga putra Astina dapat dikalahkan, sehingga mengundurkan diri dan kembali ke Istana, tetapi R. Pandu, tidak kembali ke istana tapi masuk ke hutan mencari sarana untuk dapat mengalahkan musuh.

Dalam perjalanan di hutan, R. Pandu betemu dengan Batara bayu dan Kamajaya yang sebelumnya menyamar menjadi raksasa dan menyerang Pandu setelah dikalahkan kembali ke ujudnya . Oleh Bayu Pandu mendapat Aji Bargawastra dan di aku anak oleh Bayu dan diberi nama Gandawrakta dan oleh Kamajaya diberi keris Kyai Sipat Kelor. Setelah mendapatkan kesaktian R. Pandu kembali ke istana.

Di Negara Amarta, Prabu Kresnadwipayana merasa sedih karena kepergian R. Pandu yang tidak berpamitan sebelumnya, apalagi negara dalam keadaan bahaya. Tiba-tiba R. Pandu datang dan menceritakan maksud kepergiannya. Selanjutnya R. Pandu bermaksud ingin mengusir musuh dari Negara Astina. Maka dengan dibantu sahabat-sahabat kerajaan Astina, antara lain Prabu Kuntiboja dari Mandura, Prabu Mandradipa dari Kerajaan Mandraka, Pandu berangkat ke medan pertempuran.

Dengan kesaktian R. Pandu, Prabu Wisamuka dapat dibunuh dan bala tentaranya melarikan diri. Negara Astina kembali dalam keadaan aman, Pandu kembali ke Istana. Dengan keberhasilan R. Pandu mengusir musuh dan menyelamatkan negara ini, mendorong hati saudara tua maupun mudanya yakni R. Drestarasta dan R. Yamawidura untuk mendukung sepenuhnya R. Pandu untuk menggantikan Raja Astina. Prabu Kresna Dwipayana juga sependapat dengan anak-anaknya bahwa Pandu dianggap yang paling mampu memimpin negara Astina. Resi Bisma yang hadir di negara Astina saat itu juga mendukung pengangkatan R. Pandu untuk menjadi raja Astina. Maka dengan dukungan penuh baik dari kakek, ayah, saudara dan rakyat Astina, Pandu dinobatkan menjadi raja Astina menggantikan Prabu Kresna Dwipayana dengan gelar Prabu Pandu Dewanata.
Pandu Papa


Di balairung negeri Astina, raja Pandu sedang memperbincnagkan rencananya hendak berburu. Patih Jayayitna dan para pembantunya lalu bersiap-siap. Kepada patih Samarasanta raja Pandu memerintahkan supaya merubah tata hias istana Astina, disesuaikan dengan tata hias Endrabawana. Kedua patih menyatakan kesanggupannya. Pandu lalu kembali ke Adstina.

Setibanya di dalam istana, Pandu lalu duduk bersama kedua permaisurinya yakni Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Setelah menjelaskan apa yang diperintahkan kepada kedua patihnya, Pandu lalu masuk ke dalam pemujaan.

Di luar, yakni di paseban, kedua patih Astina membagi tugas. Patih Jayayitma mempersiapkan segala keperluan untuk berburu ke hutan. Sedangkan patih Smarasanta memerintahkan Arya Sakata untuk melakukan segala persipan dalam tugasnya merubah tata hias istana Astina.

Tersebutlah di bukit Mestri, Resi Metreya baru saja selesai bersemedi. Ia mendapat anugerah dewata berupa mantra yang dapat mendatangkan apa saja yang ia minta. Melihat istrinya yang tampak sedih karena melaratnya, resi Metreya menghibur, agar tidak bersedih karena sudah ada isyarat yang dapat menghilangkan kesedian. Akan tetapi ternyata yang diminta oleh Endang Basusi, demikian nama istri Resi Metreya, bukanlah harta, melainkan agar dirinya yang sudah tampak tua lagi jelek, dapat berubah menjadi muda kembali serta cantik jelita. Keinginannya dikabulkan. Endang Basusi menjadi wanita mudalagi sangat cantik parasnya. Hal ini menjadikan dirinya menjadi sangat terkenal sehingga banyak sekali orang laki-laki yang datang melihatnya, dan tidak jarang di antara mereka yang datang itu menggodanya. Tentu saja hal itu membuat resi Metreya cemburu. Bagi Endang Basusi sendiri pun hal itu tidak menyenangkan. Resi Metreya lalu mengucapkan mantranya agar istrinya kembali menjadi jelek. Demikian jeleknya hasil mantra resi Metreya, karena istrinya menjadi mirip seekor anjing. Manusia mirip anjing ini pun menjadi tontonan orang. Hal ini membuat Endang Basusi beserta Metreya sangat malu. Mantranya hanya tinggal sekali lagi saja dapat ia pakai. Resi Metreya lalu mengucapkan mantranya, dengan permohonan agar istrinya kembali ke rupa asalnya semula. Kedua suami istri itu mohon ampun kepada dewa, dan akhirnya mendapat anugerah lagi, yakni mantra yang dapat merubah sesuatu benda menjadi emas. Dengan emas hasil mantra itu kehidupan Resi Metreya dapat tertolong. Dari kehidupan yang sangat melarat nberubah menjadi kecukupan.

Begawan Sapwani di Giyacala dengan tekun memohon kepada dewata agar dikaruniani anak. Permohonannnya lalu dikabulkan. Tak lama kemudian istrinya mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki, yang setelah besar menjadi pemuda gagah. Begawan Sapwani selalu memohon kepada dewa agar anaknya selalu mendapat lindngan dewa.

Di Astina patih Jayayitna melapor bahwa p[ersiapan untuk berburu telah selesai,. Raja Pandu sangat gembira lalu segera berangkat ke Hutan perburuan.

Para dewa hendak menghukum raja Pandu yang telah berani merubah tata hias Astina menjadi kesupa dengan Endrabawana. Untuk itu dewa menurunkan putra Batara Yama ke bukit Kisasa. Anak dewa Yama menjadi pendeta di Kilasabergelar Resi Suhatra. Resi Suhatra jatuh cinta kepada anak empu Dwara yang bernama Ragu, namun empu Dwara tidak memberikannya karena Suhatra berujud raksasa yang menakutkan. Resi Suhatra akhirnya memanggil rara Rgau dengan daya ciptanya, Rara Ragu dan Suhatra berubah duirinya menjadi dua ekor kijang jantan betina, kemudian masuk ke dalam hutan dan leluasa kasih-kasihan. Empu Dwara yang kehilangan anaknya lelu berangkat mencarinya dibantu oleh sanak keluarganya.

Di tempat perburuan raja Pandu, Kijang penjelmaan Ragu dan Suhatra terperangkap ke dalam perangkap. Kijang betina berkeluh kesah seperti layaknya manusia, sehingga menarik perhatian Pandu. Ketika Pandu mendekat, kijang jantan segera mengata-nngatai Pandu dengan ucapan-ucapan yang membangkitkan amarah. Raja Pandu marah dan kedua kijang itu segera ia panah sampai mati. Kijang jantan musnah, sedangkan kijang betina berubah menjadi mayat seorang wanita. Mayat Ragu diserahkan kepada Empu Dwara dengan memberikan uang duka secukupmnya.

Di Suralaya, Indra sedang membicarakan laknat yang akan dijatuhkan kepada raja Pandu. Keputusannya, raja Pandu akan dicabut nyawanya, dan beserta raganya akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Yang diberi tugas adalah batara Yama.

Di Astina, raja Pandu tiba-tiba sakit parah. Segala macam obat tidak ada yang mampu mengurangi penyakitnya. Resi Abiyasa menasehati Dewi Kunti supaya bersabar dan pasrah, karena sudah takdirnya raja Pandu akan sampai ajalnya, bersama-sama Dewi Madrim. Ketika jiwa dan raga raja Pandu sudah dibawa oleh batara Yama ke Suralaya dan akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka datanglah resi Abiyasa ke kahyangan, minta kepada para dewa mengampuni Pandu. Hukuman atas semua kekeliruan-kekeliruan Pandudewanata, untuk itu resi Abiyasa akan menebus kesalahannya, dengan jalan, keturunan prabu Pandudewanatalah (Pandawa) yang nantinya akan menebus segala kesalahannya.
Hyang Surapati berkenan dihatinya, dan memerintahkan prabu Pandudewanata dan Dewi Madrim untuk selanjutnya dimasukkan di surga, tidak dikawah Candradimuka, tempat menghukum para manusia yang dianggap berdosa terhadap dewa.

Resi Abyasa segera memohon diri, di Astina segera bersabda kepada resi Bisma, “Mulai sekarang, hendaknya disaksikan, bahwasanya kakak prabu Pandudewanata, prabu Dretarastra, akan menggantikan kedudukannya, menjadi raja di Astina, dengan gelar prabu Dretanagara.” Selanjutnya, segala pusaka antara lain pusaka Kalimasada, minyak tala yang dahulunya dimiliki oleh prabu Pandudewanata, sekarang dihimpun oleh resi Abyasa, dengan penjelasan, dikelak kemudian hari akan dibagi-bagikan kepada siapa yang berhak menerimanya.

Resi Abyasa dengan membawa Dewi Kunti, pula cucunya dan para sesepuh abdi prabu Pandudewanta ke gunung Saptaarga. Tentramlah kerajaan Astina, dibawah pemerintahan prabu Dretarastra, atau prabu Dretanagara.
Quote:


untuk cerita tentang Barata belom ada bro.. tar kalo dah dpt ane p[ost dsini.
Baratayuda : Terjerat Jerat Cinta, Arjuna-Murdaningsih 1


By MasPatikrajaDewaku

Dursilawati. Satu satunya wanita trah Kurawa. Ia adalah istri dari Jayadrata-Tirtanata.
Atas hubungan adik kakak ipar inilah Jayadrata, anak Raja Sindu, menjalin persaudaraan rapat dengan para Kurawa. Sejatinya Jayadrata adalah anak kepenginan dari Dewi Drata dan Prabu Sempaniraja karena telah bertahun tahun tidak mempunyai anak. Maka ditemukan sarana atau cara untuk mendapatkan anak. Atas wangsit dewata, dengan meminumkan air rendaman bungkus Bima-Werkudara, kepada istri Sang Prabu Sempani. Kebetulan kala itu bungkus yang melimput Bratasena, nama Werkudara muda, setelah bungkus pecah. Pecah oleh kekuatan Gajah Sena. Namun kedekatan secara kejadian, tidak membuat Jayadrata rapat terhadap para Pendawa.
Di kasatrian Banakeling itu, sang Dewi Dursilawati hanya duduk berdua dengan anak tunggal kesayangannya Raden Wisamuka. Masih muda belia, namun berjiwa keras, menurun dari sang ayah Raden Jayadrata.
“Ibu, apakah ibu akan bangga bila mempunyai anak yang dapat mengangkat derajat keluarga sehingga ke tataran yang lebih tinggi ?” Wisamuka memancing ibunya ketika basa basi telah usai dibicarakan.
“Apa maksud pertanyaanmu anakku ?” terheran sang ibu ketika anaknya menanyakan hal yang tak terduga.
“Tolong jawab dulu pertanyaanku, ibu. Setelah itu akan aku sampaikan maksudku” tanpa menghiraukan pertanyaan ibunya Wisamuka mengejar jawaban ibunya.
“Baiklah, semua orang tua, pasti mengharapkan agar anaknya menjadi manusia atau satria yang berguna bagi nusa, bangsa, agama. Pada akhirnya harkat dan derajat manusia itu akan terangkat oleh laku budi luhur itu. Perilaku anak itu secara langsung maupun tidak, membawa naik martabat bagi orang tua si anak” Jawab sang ibu akhirnya.
“Bila demikian, cita cita atau keinginan kanjeng ibu dapat terujud dalam waktu singkat”
Bahagia terpancar dari raut wajah Wisamuka, ketika ibunya menjawab runtut pertanyaanya.
“Sekarang katakan maksudmu dengan pertanyaan yang kau ajukan itu”. Ibunya tidak sabar dengan perubahan raut muka anak kesayangannya. Anak satu satunya.
“Aku telah mendengar berita yang santer, bahwa pada perang Baratayuda, ada prajurit muda belia yang seumur denganku, tetapi telah dapat mengobrak abrik barisan Kurawa. Alangkah gagahnya dia. Bila ia tidak ditahan dengan akal akalan oleh para Kurawa, saya yakin, ia adalah prajurit yang dapat mengakhiri perang dengan kemenangan. Alangkah bangganya orang tuanya”. Bicara Wisamuka , tak tahu bahwa ayahnya terlibat dalam kecurangan itu. Jiwa mudanya yang bergelora hanya berpikir, bagaimana ia ingin memperlihatkan akan keberadaannya, sebagai anak muda yang merasa setingkat kemampuannya dengan anak Janaka.
Ia meneruskan ketika ibunya hanya memandanginya penuh selidik.
“Aku juga bisa seperti Abimanyu itu. Dan belajar dari kejadian yang lalu, kuncinya adalah kewaspadaan agar tidak terkena reka daya. Dengan waspada itu perkenankan anakmu hendak maju ke peperangan “.
Wisamuka menyatakan maksud yang sebenarnya.
“Jangan gegabah, anakku, Apalagi ayahmu sudah berpesan agar jangan sekali-kali kamu berangkat ke palagan, bila tidak mendapat ijin dan restu dari ayahmu !”. Larang ibunya.
“Tidak ibu, kapan lagi aku dapat memperlihatkan kepiawaianku terhadap penguasa negara. Apakah aku harus menunggu perang menjadi selesai. Tidak ! Sekaranglah saatnya !”. Wisamuka yang tadinya duduk manis disamping ibunya, kemudian berdiri. Sang ibupun ikut bangkit dari kursinya, kemudian dipeganginya tangan anaknya.
“Wisamuka, sekarang ibu mau bertanya kepadamu nak, Apakah kamu sayang terhadap ibumu ?”. dibimbingnya anak muda itu kembali duduk. Wisamuka tak hendak menurut perlakuan ibunya. Namun ibunyalah sekarang yang duduk kembali, dan melihat kedalaman mata anaknya seakan hendak menyelami isi dalam hati buah hatinya.
“Pasti ibu, bukankan yang hendak aku lakukan adalah ujud rasa sayangku kepada keluarga Banakeling, terutama ibuku ?”. Wisamuka malah kembali bertanya.
“Bukan ! Bukan seperti itu caranya. Bila kamu sayang ibumu, maka turuti apa yang ayah ibumu katakan”. Si ibu menyanggah pertanyaan anaknya.
“Aku bukan anak kecil lagi, yang bila jatuh masih menangis dan berlari kepangkuan ibunya. Sekarang anakmu sudah dewasa, sudah dapat memilih mana yang harus aku lakukan atau mana yang tidak. Aku mohon pamit, ibu”. Kembali anaknya membantah.
Dengan lemah lembut layaknya seorang ibu, didekatinya kembali anaknya setelah sang ibu bangkit dari duduknya. Diraihnya kepala anaknya yang sudah lebih tinggi jauh diatas ibunya. Dielus rambut itu sambil berkata.
“Wisamuka, kasihani ibumu. Apa kata ayahmu nanti bila mengetahui anaknya dibiarkan pergi tanpa ijinnya. Apakah kamu tega bila ibumu dimarahi ayahmu ?”.
“Sudahlah ibu, nanti aku akan ketemu dulu dengan ayah. Boleh atau tidaknya serahkan kepada ayah setelah nanti aku ketemu disana”.
Dursilawati tahu tabiat anaknya. Dijeratnya pasti dia akan memutus jerat itu dan dipalang jalannya ia akan melompat. Akhirnya dilepaskan pegangannya, anak itu menyembah khidmat dihadapan ibunya. Itulah sembah anaknya yang terakhir.
Kenapa demikian ? Sebelum ia bertemu dengan ayahnya di pesanggrahan Bulupitu, Wisamuka, dalam perjalanannya ketemu dengan Arjuna di hutan tempat ia berjalan tanpa tujuan dengan jiwa yang kosong.
Jiwa yang setengah sakit ditinggal anaknya yang sangat dicintainya, membuat Arjuna bagaikan menemukan segarnya udara alam swargaloka, ketika Wisamuka terlihat berjalan sendirian. Dalam pandangan matanya, Abimanyu-lah yang berjalan mendekatinya.
Memang secara fisik, ciri Abimanyu dengan Wisamuka tidak jauh berbeda, keduanya masih muda belia dengan sosok dan ciri yang hampir sama. Makin kaburlah pandangan Arjuna Janaka menyaksikan satria remaja dengan ciri yang bagai pinang dibelah dua dengan anaknya.
“Anakku tampan, kemarilah, aku sudah rindu dengan kamu, anakku”.
Wisamuka tercengang. Tak dinyana ia bertemu dengan Arjuna ditempat yang tak terduga. Setahu Wisamuka, pamannya sedang ada dalam larutnya peperangan di Kurusetra. Belum sempat ia menjawab, rangkulan Arjuna membuat ia kaget. Tetapi karana yang keluar dari mulut Arjuna – lah, yang akhirnya membuat ia makin mengerti sebab musababnya.
“Abimanyu anakku, mengapa sekian lama kamu baru datang ? Kemana sajakah selama ini ? tidakkah kamu kasihan terhadap ayah dan ibumu yang sangat rindu akan kedatanganmu ?”
Sejenak Wisamuka tak tahu ia harus berbuat apa. Namun otak cemerlangya segera bekerja. Inilah kesempatan yang ia idamkan ! Gelar pahlawan akan dengan mudah didapatnya, karena pamannya itu sedang tidak sepenuhnya sadar diri. Terpikir ia segera melakukan tindakannya, tapi pertimbangannya menyarankan untuk menguji kewaspadaan pamannya terlebih dahulu.
“Paman Janaka, aku Wisamuka anak Banakeling. Aku bukan Abimanyu !”.
“Jangan main main, ayolah kita pulang. Ibumu pasti sudah menunggu setelah sekian lama kamu pergi.”. Jawaban pamannya membuat ia makin yakin, kali ini ia akan menjadi pahlawan.
Baratayuda : Terjerat Jerat Cinta, Arjuna-Murdaningsih 2


By MasPatikrajaDewaku

Segera ia melepaskan pelukan Arjuna. Tanpa ragu dipukulnya tubuh Arjuna dengan sekuat tenaga. Harapannya segera ia dapat melumpuhkan Arjuna dan dipersembahkan ke hadapan Prabu Duryudana.
Namun harapan itu tak terpenuhi. Bahkan dengan senyum dibibirnya, Arjuna malah merayunya.
Kembali tangan Wisamuka mengayun memukul bertubi tubi ke dada Arjuna.
“Pukulanmu masih kuat, tapi jangan main main begitu. Nanti aku akan ajarkan cara memukul yang lebih baik bila kamu ingin menjadi prajurit yang tanpa tanding”.
Tak menyangka diperlakukan seperti itu, Wisamuka melolos senjatanya. Sebilah keris sakti sudah siap ditangannya untuk menamatkan riwayat pamannya. Tidak menangkap hidup hiduppun tak apa. Cukuplah dengan kepala Arjuna yang gampang ditenteng, bukti sebagai pahlawan akan tersemat didadanya.
Ditusuknya dada Arjuna dengan sigap. Tak menghindar Arjuna, bahkan kembali senyumnya membayang.
“Sudahlah Abimanyu, jangan bermain dengan senjata, marilah pulang bersamaku. Kamulah satu satunya yang aku harapkan siang malam dalam segala laku prihatin yang pernah aku jalani. Nanti juga aku berikan keris yang lebih sakti dengan pamor yang lebih berkilau. Bila kamu mau pulang sekarang juga, sekarangpun aku berikan keris Kalanadah melengkapi pusakamu yang telah aku berikan sebelumnya, Kyai Pulanggeni”.
Diceritakan, Batara Narada yang kepanasan, karena sesuatu tak wajar terjadi di arcapada, yang berkekuatan hendak merobah alur cerita Baratayuda. Ia segera menerawang, mencari penyebab keanehan. Setelah diketahui penyebabnya, sukma Abimanyu segera diperintahkan untuk menggugah alam sadar ayahnya. Sesampainya di hadapan ayahnya, segera ia menyembah. Arjuna adalah satria sakti kesayangan para dewa. Dengan hanya badan halus, kedatangan Abimanyu menggugah kesadarannya, setelah sapaan anaknya menyentuh kalbu.
“Kanjeng rama, perkenankan putramu menjelaskan, jangan lagi kanjeng rama menyesali kematianku, anakmu sudah menemukan kebahagiaan sejati”.
“Sekarang bangkitlah rama ! Dihadapanmu adalah trubusan musuh, anak uwa Jayadrata. Bila rama berkenan, rama dapat menuntaskan utang yang disandang uwa Jayadrata !”
Terang benderang hati sang Arjuna, terlihat Wisamuka tak jauh darinya, didekatinya Wisamuka yang tak mengira Arjuna sudah sadar. Kaget Wisamuka ketika rambutnya dijambak dan tangannya ditelikung, segera dipagas leher Wisamuka, tak bernyawa ia.
Bersamaan dengan jatuhnya raga di rerumputan hutan.
Terceriterakan, Dewi Dursilawati yang tak tega melepas anaknya sendirian, menyusul bersama Patih Sindulaga. Sempat tersusul oleh kedua orang itu, namun keadaan sudah terlambat. Yang terlihat dihadapannya adalah, tubuh orang kesayangannya yang telah terpisah dengan kepalanya. Darah segar masih mengucur dari luka akibat luka terkena keris Arjuna.
Melihat anak junjungannya tewas, Patih Sindulaga, hendak bela pati. Tidak ada keraguan bagi patih Sindulaga terhadap siapa yang mengakhiri hidup anak junjungannya, karena yang terlihat didepannya, adalah hanya manusia yang dikenalnya dengan nama Arjuna.
Melihat Sindulaga menyerang, maka dilolos anak panah dari gendongannya, terpasang pada busur, segera direntang dan dilepas dengan suara membahana. Panah meluncur mengenai dada Patih Sindulaga tembus ke jantung, tewas Sindulaga menyusul Wisamuka.
Tak rela anaknya terbunuh, kemudian pengawal setianya juga menyusulnya, Dewi Dursilawati menghunus patremnya, rasa sesal sedih campur aduk, membawa tangannya ringan mengayunkan keris kecilnya kedada. Tamat riwayat Dursilawati.
Termangu Arjuna melihat ketiga orang yang ada hubungannya dengan Jayadrata. Biang kematian anaknya. Kembali melihat kematian, kembali pula kesedihan membeban di hatinya.
Terucap dalam cerita. Dewi Murdaningsih wanita liar yang cantik dan mempunyai daya pikat luar biasa, telah sampai ke tempat Arjuna berada.
Murdaningsih yang muda tetapi telah matang, datang dengan dandanan serba menantang. Dadanya yang setengah terbuka menampakkan sekilas sisi cengkir gading. Kukunya dibiarkan sedikit panjang dengan pulasan warna merah dadu serasi dengan kulit sang dewi yang kuning gading cenderung putih. Matanya yang sedikit sipit dihiasi sekeliling kelopaknya dengan pulasan lembut serasi. Begitu juga bibirnya yang terpulas warna merah delima, kontras dengan kulit putih wajahnya. senyum merekah dibibirnya, memperlihatkan giginya yang putih tertata bagai deretan mutiara. Maka semakin menambah daya tarik ia terhadap lawan jenis. Bau harum merangsang kelelakian juga menghambur dari tubuh sang Dewi. Siapapun akan terpesona dengan kecantikan dan gerak geriknya.
Berkendara seekor gajah putih yang berjalan dengan anggun. Terpesona Arjuna melihat apa yang tampak dihadapannya. “Bidadari manakah gerangan yang hendak menyejukkan hati yang terlanjur gersang ini ?” Pikir Arjuna.
Tempat hening dan kondisi jiwa Arjuna yang labil, ditambah watak dasar Arjuna yang memang gampang jatuh cinta, menyebabkan semakin mudah jerat asmara mengurung sukmanya.
“Bidadari manakah yang ada dihadapanku ini, selama aku merajai taman surga, belum pernah aku melihat sosok seperti andika. Siapakah gerangan andika sang Dewi ?” sapa Arjuna dengan senyum terkulum. Senyum yang sanggup menjerat wanita manapun, hingga ia digilai para wanita. Memang demikian apa yang terjadi di masa lalu, atas hadiah mengenyahkan Prabu Niwatakawaca waktu hendak meminang Dewi Supraba, oleh Sang Hyang Jagatnata, Arjuna dihadiahi tahta di karang kawidadaren dengan jejuluk Prabu Kiritin atau Kirita. Tak pelak lagi, hampir semua sosok bidadari dikenalnya.
Namun kali ini, wanita asing dihadapannya datang dengan ciri ciri yang belum pernah dikenalnya, dirasa lebih cantik dari yang pernah ia temui. Biasalah demikian, tak perlu diceritakan lagi.
Pertanyaan Arjuna dibalas dengan lirikan mata dan tebaran pesona yang membuat Arjuna semakin mabuk kepayang.
Baratayuda: Teror Kepala Jayadrata 1


By MasPatikrajaDewaku

Pelahan atas perintah Dewi Murdaningsih, si gajah merunduk. Mambiarkan tuannya turun dari punggungnya. Dengan luwesnya Dewi Murdaningsih turun dari punggung gajah dan segera berjalan semakin dekat ke tempat Arjuna berada.
Kenes ia berputar disekeliling Arjuna dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya. Bagai kerbau tercocok hidungnya, Arjuna ikut berputar badannya mengikuti gerak sang Dewi.
Kemudian tangan Murdaningsih yang lembut meraih kedua tangan Arjuna dan berkata memuji. Tetap ia tak berhenti bergerak lincah.
“Ternyata tanah Jawa terdapat lelaki yang sempurna segalanya, tak ada tandingannya dibanding di negaraku. Satria bagus, siapa nama andika ?” Pujian Murdaningsih mengabaikan pertanyaan mengenai namanya.
“Tadinya aku berpikir, hanya rupamu yang cantik, sehingga jiwaku terpasung, mataku tak sanggup untuk berkedip. Tetapi begitu andika sang Dewi mengucapkan kata kata, sekalimat demi sekalimat, hatiku runtuh terbawa sapuan arus kidung cinta yang mengalun bersama sapa suaramu, sang Dewi ?” Aku Arjuna penengah Pendawa”. Arjuna menyebut nama memperkenalkan diri.
“Ooh, inikah satria dengan nama harum yang menjadi inspirasi kidung cinta ? Inikah satria dengan sorot mata yang mampu meruntuhkan hati wanita siapapun. Bahkan wanita dengan keangkuhan setinggi langitpun, akan takluk dihadapan yang namanya Raden Arjuna. Saking orang banyak yang memuja, sampai sampai ada yang mengatakan, kerikilpun, bila andika berjalan, mereka minta andika pijak ?”
“Bahagianya hatiku, karena tidak sia sia aku datang dari jauh, ketemu dengan andika Raden, seakan sukmaku telah tertawan ditanah ini, dan tak hendak aku pulang ke Turilaya”. Kembali pujian yang dikatakannya melupakan perintah kakak seperguruannya, tentang tugas yang sebenarnya diemban.
“Puja pujimu teramat tinggi sang Dewi, membawaku terbang ke awan. Melayang sukmaku mendengar pujian dari bibirmu yang sungguh bagus itu. Tapi siapakah sang Dewi sebenarnya ?” kembali Arjunapun yang lalai akan kewajiban yang seharusnya dilaksanakan, ia menanyakan nama wanita itu.
“Masihkan aku perlu menyebut namaku ?” Murdaningsih manja mengulur rasa penasaran lawan bicaranya.
“Ya sudahlah aku pergi saja, kalau kamu tak mau memperkenalkan dirimu”. Sambil melepaskan pegangan tangan Murdaningsih, Arjuna kemudian melangkah pergi, jurus rayu itu diterapkan.
“Eeh…, nanti dulu, jadi lelaki kok merajuk !” Murdaningsih mengejar, menyambar tangan Arjuna.
“Bukan merajuk, tapi apa gunanya aku berhadapan muka dengan orang yang tak aku kenal”Arjuna menyanggah.
“Aku Murdaningsih, sengaja datang kemari untuk menemuimu, Raden. Nama dan cerita yang beredar di negaraku, membuat sasar rasaku, sehingga jauh jauh aku datang untuk membuktikan kebenaran cerita itu”. Kali ini Murdaningsih menumpahkan isi hatinya.
“Terus apa yang andika lihat pada diriku, sang Dewi ?” pancing Arjuna.
“Seperti yang aku katakan tadi, aku tak akan lagi pulang ke Turilaya. Hatiku telah tertambat disini, bawalah diriku kemana Raden pergi”.
Suasana hutan yang sunyi sungguh gampang berubah menjadi suasana romantis, membuat kedua insan yang dimabuk asmara itu lupa segala galanya. Arjuna lupa akan tugas negara sebagai prajurit, sedangkan Murdaningsih lupa bahwa tujuannya adalah untuk meringkus Arjuna. Sekarang yang ada hanyalah puja puji serta kidung asmara, berisi rayuan yang berhamburan dari mulut kedua asmarawan dan asmarawati itu.
Namun tidak demikian dengan gajah Murdaningkung. Ia adalah seekor gajah dengan sifat yang sudah bagaikan manusia. Melihat keadaan tidak sesuai dengan apa yang digariskan, tidak ada keraguan dalam otaknya segera mendekati kedua insan yang tengah memadu kasih. Diulurkan belalai, Arjuna yang tidak waspada, diangkat tinggi dan dilempar dari sisi Murdaningsih.
Terjerembab Arjuna ditanah hutan yang lembab. Belum sempat ia berdiri sempurna, gajah Murdaningkung kembali memburunya. Tak ada usaha lain kecuali Arjuna menghindar melompat dari raihan belalai yang kembali hendak meringkusnya. Kemarahan yang amat sangat merasuki ubun ubunnya karena terganggu kesenangannya. Segera diraihnya anak panah yang tersandang dipunggungnya dan dilepas busur yang tersandang dibahunya. Terpasang anak panah pada busurnya, segera ditarik tali busur dan meluncur mengenai kepala gajah itu. Lelehan otak bercampur darah mengalir dari tubuh besar yang terguling. Mati seketika gajah Murdaningkung.
Dewi Murdaningsih yang terpana melihat kejadian yang begitu cepat membunuh gajah kesayangannya, kemudian berlari memburu kearah gajah kesayangannya sambil menangis.
Air mata sang Dewi yang jatuh ditubuh gajah itu secara ajaib membangunkan sang gajah dari kematian.
Terheran Arjuna melihat kejadian itu. Begitu juga Murdaningsih yang baru kali ini membuktikan kesaktian yang diberikan gurunya.
Pada saat itu, Prabu Bogadenta yang dari tadi mengikuti perjalanan adik seperguruannya , muncul ditengah kejadian.
Taulah sekarang Arjuna siapa mereka sebenarnya ketika mendengar Prabu Bogadenta memarahi adik seperguruannya.
“Adikku yang cantik, sekali ini kamu terjebak oleh ketampanan lawanmu. Tadinya aku tak ragu lagi untuk melepaskan kamu sendiri. Tapi setelah kamu tak mampu menahan godaan Arjuna . Sekarang aku ambil alih peran kamu.”
“Arjuna ,Ssekarang kamu sudah ada dalam genggamanku jangan sampai kamu melawan, percuma hanya membuang tenaga. Sekarang mendekatlah ulurkan kedua tanganmu akan aku ikat tanganmu dan aku bawa kehadapan Prabu Duryudana. !”
“Siapa kamu !” tanya Arjuna penasaran
“Prabu Bogadenta dari Turilaya.” Bangga sang Prabu memperkenalkan dirinya
“Kamu boleh menawanku kalau kamu sudah bisa melangkahi jasadku.” Arjuna menantang.
“Rupanya kamu hendak meraih sorga. Majulah !”
Kali ini Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan. Saling serang dengan tempo tinggi terjadi hingga hutan menjadi riuh oleh geretak ranting patah dan tumbangnya pepohonan runtuh tersapu serangan kedua pihak. Kali ini Arjuna tidak membuang waktu. Ketika serangan agak berkurang, Arjuna melompat mundur, kemudian bidikan anak panah meluncur mengenai dada Prabu Bogadenta. Tewas seketika sang Prabu.
Gajah Murdaningkung berlari mendekati tuannya dan meneteskan air mata sedih atas kematiannya. Keajaiban kembali terjadi, bagai terbangun dari tidur, bangkit kembali Prabu Bogadenta dari kematiannya.
Pusing Arjuna mengatasi lawan yang tiga tiganya saling bisa menolong sesama kawannya.
Prabu Kresna yang dari kemarin mencari Arjuna mendengar keributan yang terjadi segera menghampiri yang dicari cari.
“Aduh adikku, ternyata kamu ada disini !”
Melihat kedatangan Prabu Kresna segera Arjuna bersimpuh “Sembah baktiku kanda”
Penuh selidik Prabu Kresna berkata “Ya aku terima, tetapi lain kali jangaan seperti ini. Aku tahu betapa remuk hatimu dengan kematian anak kesayanganmu. Darma satria sudah kau lupakan sekarang. Padahal seandainya kamu masih ingat akan janji setia Pandawa, bahwa mati salah seorang Pandawa, maka yang lain akan mengikuti kematian yang satu itu. Bila itu terjadi, maka kamu yang akan dituduh sebagai biang dari kematian saudaramu. Alangkah malunya kamu. Jiwa satriamu akan luntur dan menjadi contoh buruk sepanjang tergelarnya jagad”.
“Kanda, adikmu minta pengayoman “ Tercetus kata pasrah Arjuna.
“Apa yang bisa aku ayomi” jawah Kresna.
“Saya keteteran menghadapi lawan lawan itu.” aku Arjuna
“Baik aku sekarang mengerti. Tapi tegakah kamu dengan wanita cantik itu ?”. Tanpa ada yang tersembunyi dari mata Arjuna, alasan Kresna menanyakan tentang wanita cantik itu.
“Terpaksa kanda”. Sekenanya Arjuna menjawab.
“Penyakitmu belum sembuh sembuh juga ! Aku tahu, aku percaya. Kamu adalah jago memanah tanpa tanding. Kecepatan memanahmu dalam satu waktu dengan jumlah lepasan anak panahnya tak ada yang bisa mengalahkan. Itu yang belum kamu lakukan !”.
Belum habis bicara Prabu Kresna, Arjuna sudah bersiap dengan ketiga anak panahnya yang terpasang dalam satu busur. Dengan cara yang tidak mudah ditiru siapapun, anak panah yang terluncur dari satu busur menuju sasaran masing masing. Mengenai ketiga pendatang dari Turilaya, tamat riwayat ketiganya bersamaan.
“Ayoh Arjuna, kita segera pulang. Jangan lagi berpaling, jangan lagi menyesali yang sudah terjadi. Istrimu sudah menunggumu”.Tersipu malu Arjuna mendengar kata kakak iparnya.
*******
Halaman 5 dari 34


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di