alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000004558053/company-analysis-the-heart-of-stock-fundamental-analysis
Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis
Sebagai sebuah instrument investasi, saham memang dapat dipandang dari berbagai sisi. Saham diperdagangkan setiap harinya di bursa saham sehingga harganya akan terus berubah tergantung mood dari market. Saham yang sejatinya merupakan tanda kepemilikan suatu perusahaan (company), bisa dipandang sebagai komoditas. Range perdagangan yang cukup lebar tiap harinya memungkinkan kita untuk mendapatkan keuntungan dengan membeli dan menjual pada saat yang tepat. Jika kita memandang dari sisi ini, kita memposisikan diri sebagai trader. Tidak dipungkiri banyak trader yang berhasil mendapatkan keuntungan dengan menggunakan cara ini.

Namun apabila kita ingin menjadi purist dan memandang saham sebagai kepemilikan suatu bisnis, maka sebelum mulai berinvestasi di saham, kita sebaiknya mengetahui bagaimana bisnis suatu perusahaan dijalankan. Jika kita bisa mengambil keuntungan dengan trading, mengapa kita perlu bersusah payah melakukan analisa fundamental dari suatu saham? Toh dengan mengamati chart, kita bisa mendapatkan keuntungan juga.
Satu hal yang perlu diingat, dalam jangka pendek, market adalah voting machine, sedangkan dalam jangka panjang, market adalah mesin penimbang (weighing machine). Apa maksudnya?

Dalam jangka pendek, kondisi psikologis pelaku pasar akan sering berubah-ubah. Setiap hari berita dan informasi yang datang membanjir akan mengaduk-aduk emosi para trader dan mempengaruhi pandangan mereka tentang prospek suatu saham. Trader yang berpengalaman akan mampu untuk memanfaatkan kondisi psikologis para pelaku pasar ini dan mendapatkan keuntungan. Karena dalam jangka pendek, harga saham akan berubah-ubah sesuai dengan perilaku para trader tersebut. Oleh karenanya, dalam jangka pendek disebut dengan voting machine.

Apa yang terjadi dalam jangka panjang. Seekstrim apapun volatilitas harga saham, pada akhirnya kinerja perusahaan di baliknya akan membuat gap antara value dari perusahaan dengan harga saham yang diperdagangkan di bursa. Akibatnya, mau tak mau harga saham akan mengikuti kinerja dari perusahaannya. Oleh karena itu dalam jangka panjang, market disebut dengan weighing machine.

Apabila dasar kita dalam berinvestasi di saham adalah dengan menganalisa bisnis di baliknya, maka kita disebut melakukan analisa fundamental. Analisa fundamental sendiri sebenarnya sangat luas. Suatu bisnis mau tak mau akan dipengaruhi oleh kondisi eksternal (kondisi ekonomi, tingkat persaingan, regulasi pemerintah, dan fase suatu industri tempat perusahaan berada).
Walaupun begitu, sebuah perusahaan yang dikelola dengan baik akan mampu mengantisipasi perubahan kondisi eksternal . Apa yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk menghadapi berbagai macam cuaca di luat perusahaan akan tercermin pada strategi yang mereka terapkan. Bagaimana kita mengetahuinya? Salah satu sumber yang cukup dapat diandalkan adalah laporan tahunan mereka. Di dalam laporan tahunan, manajemen akan melaporkan banyak hal mengenai perusahaan, mulai dari kinerjanya, tantangan yang dihadapi, strategi untuk mengembangkan usahanya, serta bagaimana kondisi keuangannya. Pendeknya, kita bisa mulai memahami suatu bisnis dengan membaca laporan tahunan.

Oleh karena itu, saya menyebut company analysis sebagai heart of fundamental analysis. Kondisi fundamental eksternal akan selalu berubah namun yang lebih penting adalah kemampuan perusahaan untuk mengantisipasinya.

Tujuan saya untuk membuat thread ini adalah melakukan analisa terhadap kondisi fundamental suatu perusahaan dan berusaha menemukan potensi-potensi investasi di dalamnya. Mari kita coba menggali potensi dari suatu perusahaan sampai dengan melakukan valuasi.

Silakan buat yang pengen diskusi di sini emoticon-Smilie

Beberapa tulisan di thread ini:

Belilah Saham Karena Nilainya, Bukan Harganya
Dasar-Dasar Company Analysis
PGAS: High Growth Potential with some Challenges
Bagaimana Cara Menentukan Harga Wajar Saham?
Layakkah Membeli Saham dengan PER yang Tinggi?
CPIN: Mulai Bangkit atau Hanya Sekedar Mendapatkan Durian Runtuh?
Memilih Saham ala Benjamin Graham (Bagian 1)
Memilih Saham ala Benjamin Graham (Bagian 2)
The Theory of Expanding Value
Sekilas Mengenai BBTN
INDF: The Noodle King
ASGR: Astra Group Yang Sering Terlewatkan
SCMA: A Profitable Media Company
Jaring Pengaman Valuasi Saham
Beberapa Website Yang Berguna Untuk Melakukan Analisa Fundamental
Memilih Saham Dengan Menggunakan "Magic Formula"
Spreadsheet Rasio Keuangan (v1.0) untuk Membantu Melakukan Analisa Fundamental
OK, Saya Berhasil Mendapatkan Saham Bagus dan Murah, Tapi Kapan Naiknya?
Dari Graham ke Buffett: Guru dan Murid, Ide Yang Sama (dengan Sedikit Perbedaan)
KLBF Redux: It Would Be Better for Us to Be Patient
ARNA: A Shiny Ceramics Producer
Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.1): Income Statement
Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.2): Balance Sheet
Menafsirkan Laporan Keuangan (Bag.3): Cash Flow Statement
Quiz: Undangan untuk Menuangkan Ide Valuasi (UNVR)
MRAT: Because Indonesia is Very Beautiful
Berburu Perusahaan Yang Solid (Bagian 1)
Berburu Perusahaan Yang Solid (Bagian 2)
MDRN: Chasing a Fortune from 7-Eleven Franchise
14 Nasehat Investasi Berharga dari Peter Lynch
FAST: Growing and Growing
Menggunakan DuPont Analysis untuk Memahami Karakteristik Industri
Spreadsheet Laporan Keuangan
GARP: Menggabungkan Value Investing dengan Growth InvestingCompany Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis
GARP in Action: GARP Versi Saya, Fokus pada Pertumbuhan
Membaca Laporan Keuangan Bank (Bagian 1)
Membaca Laporan Keuangan Bank (Bagian 2)
Competitive Advantage, Kunci Mendapatkan Saham Pemenang
AUTO Update: Strong Performance
HEXA: Looks Promising
Hati-Hati dengan Cerita, Bedakan Harapan dengan Kenyataan

One-Day Workshop: Stock Picking & Valuation in 2013

Data Laporan Keuangan & Laporan Tahunan

Buku "Behind Investing Ideas" sudah terbit

NEW!: Tools untuk Tuning Valuasi Saham
Ancaman Value Trap Bagi Value Investor
Mereview Kinerja Jangka Panjang Perusahaan
Membandingkan Efek Gempa Jepang 2011 dengan Gempa Kobe 1995 terhadap IHSG
Minsky Moment, Ketika Irasionalitas dapat Terprediksi
Antara IHSG, Emas, dan Inflasi (Sebuah Perbandingan)
Membandingkan Perusahaan-Perusahaan di dalam Suatu Industri
Chicken War: FAST vs PTSP
Beberapa Macam Filosofi Investasi
The Consistent Long-term Performers
Mengetahui Batas Toleransi Kita Terhadap Risiko
Finally, my book has been published
Amati Perusahaan Yang Melakukan Stock Buyback (Bagian 1)
Amati Perusahaan Yang Melakukan Stock Buyback (Bagian 2 – Real Case: KLBF)
Strategi Investasi Peter Lynch
Kategori Saham I: Slow Growers
Kategori Saham II: Stalwart
Kategori Saham III: Fast Grower
ACES: The Hardware King (Bag. 1)
ACES: The Hardware King (Bag. 2)
ACES: The Hardware King (Bag. 3) – Valuasi
Bagaimana Faktanya? (Bag. 1): Price to Earning Ratio (PER)
Bagaimana Faktanya? (Bag. 2): Price to Book Value (PBV)
Bagaimana Faktanya? (Bag. 3): Price to Earning-Growth (PEG) Ratio
Bagaimana Faktanya? (Bag. 4): Price to Sales Ratio (PSR)
Bagaimana Faktanya? (Bag. 5): Screening Optimal untuk Saham-Saham BEI
Perjalanan Panjang IHSG (1984 – 2011)
IHSG vs Inflation, A Long Term View (1984 – 2011)
Mencari ‘Pemenang’ di Antara ‘Pecundang’
Membedah Laporan Tahunan Perusahaan
Melakukan “Tuning” terhadap Valuasi
Ngobrol Tentang Capex
CPIN: Terus Melangkah
Market Cap, Apa dan Kenapa? by nambongo_pp
Operation Twist
Ngobrol Tentang ROE
Ngobrol Tentang Dividen
Korelasi IHSG dengan Indeks Bursa Saham Lain
Ketertarikan Misterius Manusia Terhadap Emas
Hey, Mr. Market
Valuasi Saham LQ45 Part I: INTP
Amerika Oh Amerika
Analisa & valuasi INCO by bluecoverall
Valuasi AALI by bluecoverall
CPIN vs JPFA by denovo
Melakukan Valuasi dengan NNWC (Net Net Working Capital)
BFIN: Promising
Valuasi AUTO by denovo
Valuasi CFIN by denovo
Menghitung CAGR by KlanKornel04
Porter’s Five Forces, Tool Analisis Kualitatif Saham yang Ampuh
Analisis Emiten Farmasi by KlanKornel04
Analisis Emiten Semen by KlanKornel04
The Consistent Long-Term Performers
Tentang Cash Flow by dieru
Analisis Saham ala Ben Graham by dieru
Murah? Tunggu Dulu by dieru
Seberapa Besar Utang Dunia?
Wangsit Saham (Hasil Ngelamun)
Terminal Value by Shendylukito
Mengutak-atik Rule of 72
Bagaimana Cara Mengoptimalkan Komposisi Portfolio?
Earnings vs Cash Flow, Long-term Relation
Apakah Laba Ditahan Dipergunakan Secara Efisien?
Kapan Kita Harus Menjual Saham?
Mencari Saham Yang Bagus? Lihat Ke Sekeliling
A Thought on Diversification (Again!)
Krisis Tidak Sepenuhnya Buruk


Data Laporan Keuangan dan Laporan Tahunan
baru sadar ada di page one threda bermutu begini emoticon-Hammer
mana posisinya pas dibawah TS lagi
bro dunkz, mungkis bisa minta momod buat hapus post gue emoticon-Big Grin
atau kalo mau dipake post ini untuk taroh info, PM aja
Saham pada hakikatnya merupakan tanda kepemilikan kita atas suatu perusahaan. Porsi kepemilikan kita atas suatu perusahaan ditunjukkan oleh berapa jumlah saham yang kita miliki. Jika perusahaan mendaftarkan dirinya di bursa saham, maka setiap orang dapat memperjualbelikan saham perusahaan tersebut dengan bebas. Seperti layaknya di pasar, calon penjual dan pembeli saling tawar menawar harga yang akan disepakati atas barang dagangannya. Dalam hal ini, barang dagangan tersebut adalah saham. Jika penjual dan pembeli telah menyepakati harga yang pantas, maka terjadilah transaksi.

Di bursa saham terdapat banyak sekali calon pembeli dan penjual saham. Oleh karenanya, persepsi masing-masing pelaku pasar mengenai harga suatu saham tentu akan berbeda-beda. Terkdang harga yang ditawarkan oleh penjual terasa terlalu mahal, terkadang malah terlihat terlalu murah. Hal tersebutlah yang menjadikan harga saham menjadi sangat fluktuatif. Oleh karena itu pula banyak orang yang mengatakan bahwa investasi di saham sangat berisiko karena ada kemungkinan saham yang kita beli akan turun harganya karena di kemudian hari pelaku pasar menganggap harganya terlalu mahal.

Pernah suatu kali saya ngobrol dengan salah seorang teman yang berinvestasi di saham. Dia mengatakan bahwa saham X sudah terlalu murah. Saya kemudian bertanya, maksudnya murah gimana? Dia mengatakan bahwa dia heran kok sahamnya dijual hanya 500 rupiah per lembarnya padahal ada saham lain yang dijual sampai ribuan rupiah per lembarnya. Hmm, sepertinya teman saya itu salah persepsi. Dia melihat saham dari harganya saja dan bukan nilai sebenarnya.

Apa yang dimaksud dengan nilai sebenarnya? Misalkan Anda ditawari sebuah motor bebek 110cc tahun 2006 dengan harga 15 juta rupiah. Apakah Anda akan mau membelinya? Tentu saja tidak. Anda menolak untuk membeli motor tersebut karena Anda tahu bahwa nilainya hanya berkisar 8-9 juta rupiah saja. Dari contoh tersebut terlihat apa perbedaan antara ‘harga’ dan ‘nilai’. Harga adalah sesuatu yang ditawarkan pada kita sedangkan nilai adalah jumlah yang pantas untuk kita bayarkan untuk mendapatkan sesuatu.

Hal serupa juga berlaku di bursa saham. Setiap hari, bahkan setiap saat harga yang ditawarkan kepada kita terus berubah-ubah. Jika kita mengetahui nilai dari suatu saham tentu kita akan membeli saham tersebut apabila harga yang ditawarkan kepada kita lebih murah daripada nilai yang pantas untuk saham tersebut. Saat ini, banyak sekali perusahaan yang sahamnya dijual dengan sangat murah karena kondisi pasar yang jelek. Jika kita jeli, kita akan mendapatkan saham yang bagus dengan harga sangat murah.

Setelah mengetahui konsep tersebut, muncullah permasalahan selanjutnya. Bagaimanakah caranya kita mengetahui nilai sebenarnya dari suatu saham? Sampai dengan saat ini, terdapat berbagai macam metode yang digunakan untuk mengetahui nilai dari suatu saham.

Dari sekian banyak metode tersebut, sebenarnya inti dari penilaian saham (biasa juga disebut dengan valuasi saham) adalah:

  1. Seberapa banyak uang yang akan mengalir ke perusahaan tersebut di masa depan? Semakin besar pendapatan perusahaan, semakin cepat pula kita balik modal. Dalam hal ini kita berbicara mengenai prospek perusahaan ke depan.
  2. Berapa nilai aset perusahaan yang dapat kita jual seandainya perusahaan tersebut akan tutup? Dalam hal ini kita berbicara mengenai nilai perusahaan saat ini jika tidak ada pendapatan yang akan masuk ke depannya.
  3. Mahal atau murahkah harga saham tersebut jika dibandingkan dengan harga saham perusahaan sejenis?


Sebenarnya masih ada beberapa pendekatan lain namun biasanya ketiga pendekatan itulah yang digunakan untuk menilai suatu saham.
dipersiapkan untuk merapikan thread TS
izin duduk di kelas gan,
ane demen nih
disiapkan untuk merapikan thread TS

Dasar-Dasar Company Analysis

Ada beberapa komponen yang dapat kita jadikan pijakan awal sebelum melakukan company analysis. Analisanya mirip seperti kita menganalisa sebuah bisnis walaupun ada perbedaan dengan analisa bisnis biasa. Ketika kita melakukan analisa terhadap suatu perusahaan, ada baiknya kita memperhatikan hubungan antara kinerja perusahaan dengan perilaku sahamnya di bursa. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, dalam jangka pendek kemungkinan besar terjadi discrepancy antara value dengan harga sahamnya. Dengan mengetahui prospek suatu bisnis dan true value-nya, kita bisa mendapatkan imbal hasil yang memuaskan.

Beberapa hal mendasar yang digunakan untuk menganalisa suatu perusahaan adalah sbb:

1.\tNature dari bisnisnya. Pada tahap ini kita pelajari bagaimana suatu bisnis dijalankan. Apa saja produknya, siapa segment marketnya, siapa saja pesaingnya, bagaimana potensi kesinambungan bisnisnya, bagaimana manajemennya. Pendeknya, kita mencoba untuk mengetahui bagaimana suatu perusahaan beroperasi. Mengenai hubungan antara bisnis dengan manajemennya, ada beberapa kemungkinan. Terkadang kita akan menemui suatu bisnis yang begitu bagusnya sehingga meskipun manajemennya biasa-biasa saja tetap saja perusahaan tetap untung. Bisa juga terjadi keadaan yang sebaliknya. Pada industri yang sedang meredup, ide cemerlang dan pengelolaan manajemen yang baik akan membuat perusahaan kuat dan profitable. Kondisi terburuk adalah bisnis yang meredup yang dikelola oleh manajemen yang buruk. Tinggalkan saja perusahaan jenis ini.

2.\tThe base: Permodalan. Ketika muncul suatu ide bisnis, langkah selanjutnya adalah mencari modal. Terdapat 2 cara utama. Yang pertama adalah mencari investor yang mau menyertakan modal dalam bentuk kepemilikan bisnis. Jika perusahaan go public, maka tanda kepemilikan itu disebut dengan saham. Semakin besar keuntungan perusahaan, maka semakin besar pula keuntungan yang diperoleh investor saham. Cara kedua adalah dengan meminjam dana. Karena berbentuk utang, maka suatu saat harus dikembalikan. Kreditur akan secara berkala menerima bunga dengan jumlah tertentu. Di pasar, utang ini disebut dengan obligasi. Di neraca keuangan, modal yang berasal dari saham disebut dengan equity dan modal yang berasal dari obligasi/utang disebut dengan liabilities.
Perbandingan liabilities terhadap equity akan memberikan kita informasi mengenai struktur modalnya. Biasanya rasio ini disebut dengan D/E ratio (Debt to Equity Ratio). Secara umum semakin besar D/E ratio, semakin besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan. Mengapa?Liabilites terdiri atas utang-utang yang suatu saat harus dibayar termasuk bunga. Utang yang terlalu besar akan sangat terasa terutama ketika perekonomian memburuk. Ketika penjualan anjlok, perusahaan tetap berkewajiban membayar utang-utang tersebut. Walaupun tidak tertutup kemungkinan perusahaan yang utangnya kecil bangkrut karena krisis, yang lebih sering terjadi adalah bangkrutnya perusahaan dengan utang menggunung.

3.\tProfit. Sekuat apapun struktur modal suatu bisnis, tetap tidak akan ada artinya jika tidak bisa menghasilkan keuntungan. Pada sebuah bisnis yang bagus, kita akan melihat profit yang tidak hanya besar namun juga terus meningkat dengan mantap. Yang perlu diperhatikan adalah konsistensi perusahaan untuk dapat meningkatkan labanya dari tahun ke tahun. Laba yang besar dalam 1 tahun namun diikuti dengan kerugian pada tahun-tahun selanjutnya sangat tidak diinginkan. Begitu pula dengan konsistensi peningkatan laba (growth). Laba yang naik turun akan mempersulit kita untuk memperkirakan bagaimana prospek suatu bisnis ke depannya. Bagi saya akan sangat menyenangkan jika memiliki bisnis yang labanya konsisten naik dari tahun ke tahun 
Pengecualian bisa diberikan untuk perusahaan yang berpotensi untuk turnaround. Perusahaan jenis ini terlihat sangat buruk terlihat saat ini. Namun jika kita jeli, perusahaan tersebut berpotensi untuk menghasilkan keuntungan yang besar di masa depan. Menemukan perusahaan seperti ini lebih sulit daripada menemukan perusahaan yang secara nyata berkinerja excellent.

4.\tCash Flow. Cash flow (arus kas) adalah darah bagi suatu bisnis. Laba yang besar namun tidak dibarengi dengan adanya cash inflow akan menjadi tanda tanya besar? Apakah hal tesebut mungkin terjadi? Sangat mungkin. Banyaknya piutang yang tertunda pembayarannya atau malah tidak tertagih, ekspansi yang tidak terukur dengan baik, biaya operasional yang tinggi adalah penyebabnya.

5.\tNilai saham. Jika kita merasa yakin telah menemukan perusahaan yang bagus setelah melakukan analisa point 1-4, sebelum membelinya kita harus memastikan bahwa harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal. Proses ini dinamakan dengan valuasi. Seringkali harga saham menjadi terlalu mahal ketika terjadi bubble di bursa. Market menjadi over optimistic dan melambungkan harga saham terlalu tinggi. Bukan posisi yang bagus bagi kita untuk membeli. Jika kita sabar, akan tina saatnya market berlaku sebaliknya. Harga saham dijatuhkan dan menjadi sangat mudah mencari saham yang dijual dengan harga kelewat murah. Contohnya adalah tahun 2008 saat terjadi krisis global.

Kelima langkah tersebut merupakan frame work kita untuk melakukan analisa terhadap suatu perusahaan. Mirip seperti menganalisa suatu bisnis biasa ya?

Yes, indeed emoticon-Smilie
terlalu umum gan, bisa dijelaskan lebih detail.
seperti:
1. gmn cara menghitung harga wajar suatu perusahaan? harga berapa kita beli dan kita jual? rumusnya gan
2. brp ROE dan DER yang wajar untuk perusahaan? finance, industri, properti dll...

trims, sory gan nubi banyak tanya. :maho
Sabar gan. Valuasi hanyalah finishing. Sebelum dapat melakukan valuasi dengan baik, kita harus bisa memilih saham-saham dengan bisnis yang bagus terlebih dahulu.

Jangan melakukan valuasi jika bisnis suatu perusahaan kurang bagus. Tingkat kesalahannya akan terlalu tinggi.
Quote:Original Posted By handyputranto
terlalu umum gan, bisa dijelaskan lebih detail.
seperti:
1. gmn cara menghitung harga wajar suatu perusahaan? harga berapa kita beli dan kita jual? rumusnya gan
2. brp ROE dan DER yang wajar untuk perusahaan? finance, industri, properti dll...

trims, sory gan nubi banyak tanya. :maho

gw bantu jawab deh

1. untuk menghitung harga wajar suatu perusahaan sebenernya sedikit subjektif. Ada orang yang pake Discounted Cash Flow Valuation sama Discounted Dividend Model (lengkapnya cari di google), ada juga yang cuman liat Earning dibandingkan dengan harganya sekarang (kurang lebih liat PER nya). Oiya, dalam valuasi, jangan lupa earning sama cash flow yang dipake adalah earning yang konsisten, jangan pake earning yang cuman muncul 1x seumur hidup kek semacem divestasi anak perusahaan (kek tadi di post2 yang diatas, jangan sampe sekarang untung besoknya rugi emoticon-Nohope). Bener kata bro dunkz, valuasi itu bagian paling terakhir dari company analysis.

2. kalo DER tergantung sama industrinya. Industri semacem perbankan sangat wajar memiliki DER yang tinggi. DER untuk perusahaan non-finance yang bagus ya serendah mungkin, tapi ga menutup kemungkinan perusahaan yang udah mature akan melakukan leveraging dengan hutang untuk menaikkan shareholder valuenya. Oleh karena itu, liat juga kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang-hutangnya (liat earning dibandingkan dengan bunga nya). Kalo ROE gw ga tau pastinya berapa yang oke. Tapi kalo gw sendiri sih prefer sama perusahaan yang punya ROE diatas 20%

semoga membantu emoticon-Smilie
Quote:Original Posted By Xendas
gw bantu jawab deh

1. untuk menghitung harga wajar suatu perusahaan sebenernya sedikit subjektif. Ada orang yang pake Discounted Cash Flow Valuation sama Discounted Dividend Model (lengkapnya cari di google), ada juga yang cuman liat Earning dibandingkan dengan harganya sekarang (kurang lebih liat PER nya). Oiya, dalam valuasi, jangan lupa earning sama cash flow yang dipake adalah earning yang konsisten, jangan pake earning yang cuman muncul 1x seumur hidup kek semacem divestasi anak perusahaan (kek tadi di post2 yang diatas, jangan sampe sekarang untung besoknya rugi emoticon-Nohope). Bener kata bro dunkz, valuasi itu bagian paling terakhir dari company analysis.

2. kalo DER tergantung sama industrinya. Industri semacem perbankan sangat wajar memiliki DER yang tinggi. DER untuk perusahaan non-finance yang bagus ya serendah mungkin, tapi ga menutup kemungkinan perusahaan yang udah mature akan melakukan leveraging dengan hutang untuk menaikkan shareholder valuenya. Oleh karena itu, liat juga kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang-hutangnya (liat earning dibandingkan dengan bunga nya). Kalo ROE gw ga tau pastinya berapa yang oke. Tapi kalo gw sendiri sih prefer sama perusahaan yang punya ROE diatas 20%

semoga membantu emoticon-Smilie


wah mantap gan, thx yah gan... mencoba belajar dl lebih lanjut. kalo dah ngerti balik lg kesini.

PGAS: High Growth Potential with some Challenges

The Story

Core business PGAS adalah penyediaan gas baik untuk segmen industri maupun rumah tangga. Bidang usaha PGAS dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Distribusi gas bumi
  2. Transmisi komersial gas bumi.


Unit usaha distribusi PGAS melayani segmen industri, komersial, dan rumah tangga, sedangkan unit usaha transmisi komersial gas bumi menyediakan layanan transport gas dari bagi kliennya.

Supplier terbesar PGAS adalah PT. Pertamina dan ConocoPhillips.

Sebagai sebuah bisnis, PGAS terlihat cukup menarik. Dengan menguasai sekitar 93% pangsa pasar distribusi gas bumi, bisa dibilang PGAS hampir memonopoli bisnis ini. Suatu hal yang sangat diidam-idamkan oleh setiap pengusaha.

D/E ratio PGAS sendiri cukup mengesankan. Pada tahun 2009, D/E ratio PGAS adalah 0.99, turun drastis dari 1.88 pada tahun 2008 silam. Kontribusi turunnya tingkat utang PGAS adalah pelunasan guaranted notes lebih awal.

Kontribusi pendapatan per unit usaha PGAS adalah sebagai berikut:
Distribusi gas: 90.88%
Transmisi gas: 9.01%
Sewa Fiber Optik: 0.11%

Terlihat bahwa distribusi gas mendominasi pendapatan yang diperoleh. Pendapatan di unt distribusi ini sebagian besar disumbang oleh sektor industri (98.30%).


Pada tahun 2009, laba bersih PGAS mengalami lonjakan yang sangat drastis, yaitu sebesar 883% menjadi Rp 6.23 triliun. Sayangnya terdapat sumbangsih yang cukup signifikan dari laba kurs terhadap kenaikan tersebut. Tercatat laba kurs tahun 2009 adalah sebesar Rp 1.24 triliun. Not a good thing karena laba kurs hanya sesekali terjadi. Satu hal yang masih bisa mengobati kekecewaan saya adalah adanya kenaikan pendapatan distribusi sebesar 45%. Kenaikan pendapatan ini saya nilai cukup sehat karena ditopang oleh kenaikan volume distribusi sebesar 37%.

Tahun 2010 merupakan tahun yang sangat menantang bagi PGAS yang diuntungkan dengan kenaikan harga gas sebesar 15% serta tingginya demand namun di sisi lain terdapat potensi kekurangan supply gas. Hal ini akan mengakibatkan PGAS kehilangan potensi pendapatan. Berdasarkan presentasinya pada bulan Juni 2010, PGAS memproyeksikan bahwa defisit ini akan terjadi sampai dengan tahun 2015. Jika tidak diantisipasi dengan cepat, masalah ini akan secara serius mempengaruhi growth PGAS.

Target PGAS ke depan adalah melakukan distribusi gas via tabung. Untuk mendukung hal tersebut, telah dibangun saluran pipa gas dari Pagardewa – Jawa Barat sebagai terminal LNG. Usaha diversifikasi PGAS ini meskipun cukup menarik namun harus dicermati ulang karena bisnis gas dalam tabung saat ini dikuasai oleh Pertamina. Secara realistis, walaupun berpotensi menguntungkan, PGAS tidak akan bisa menikmati pasar monopoli seperti pada segmen distribusi gas via pipa.

Hal lain yang menimbulkan tanda tanya bagi saya adalah segmen usaha transmisi gas. Walaupun hanya menyumbang 9% dari pendapatan PGAS, patut diperhatikan tingginya beban usaha untuk lini ini. Dengan pendapatan sebesar Rp 1.62 triliun, beban usaha yang harus ditanggung adalah sebesar Rp 1.78 triliun sehingga segmen usaha ini menyumbangkan kerugian sebesar Rp 160 miliar. PGAS harus melakukan sesuatu untuk mengatasi hal ini.

Secara keseluruhan, PGAS memiliki bisnis yang potensial dan cukup layak untuk dilirik sebagai tempat berinvestasi. Monopoli pasar, tingginya demand, dan kenaikan harga akan menjadi source growth PGAS di masa datang. Dengan earning power yang sangat kuat dan tingginya potensi growth, saya tidak terlalu mengkhawatirkan forward P/E ratio yang cukup tinggi (12.6). Dengan cepat PGAS akan mampu menurunkan level P/E ratio tersebut menjadi lebih rendah.

Meskipun begitu, kita harus tetap waspada terhadap adanya potensi supply defisit yang tentu saja akan berpengaruh terhadap pendapatannya.

Valuasi PGAS
Konsensus yang menyatakan bahwa long-term growth PGAS 145% bagi saya terasa tidak masuk akal. Hal tersebut sangat sulit untuk dapat dicapai karena jika benar, dalam waktu beberapa tahun saja mungkin seluruh penduduk Indonesia sudah terlayani. Sayangnya pipa gasnya sepertinya membangunnya membutuhkan waktu yang cukup lama emoticon-Big Grin Oleh karena itulah saya hanya berani memberikan growth sebesar 15% untuk valuasinya. Untuk P/E ratio saya memberikan kelonggaran dengan memberikan P/E ratio sebesar 17. Cukup wajar untuk sebuah perusahaan utilitas.

Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Dengan harga wajar sebesar Rp 4,700, masih terdapat margin of safety yang cukup aman bagi kita untuk berinvestasi pada saham ini.

Disclaimer is on.

Bagaimana Cara Menentukan Harga Wajar Saham?

Selamat pagi semua emoticon-Smilie
Mungkin ada bingung bagaimana cara menghitung harga wajar PGAS. Begini caranya kira-kira:

Melakukan penilaian (valuasi) saham adalah proses menentukan berapa harga yang wajar untuk suatu saham. Walaupun harga saham berubah setiap waktu, namun dengan mengetahui nilai wajarnya, kita akan lebih tenang dalam menghadapi gejolak pasar. Konsep harga wajar ini telah saya bahas di tulisan sebelumnya di sini.

Dalam melakukan valuasi, mau tidak mau kita harus mengerti sedikit cara membaca laporan keuangan sebab perhitungan valuasi melibatkan item-item dalam laporan keuangan perusahaan. Untung saja, seorang teman baik saya, Edison telah memaparkan dengan sangat baik bagaimana cara membaca laporan keuangan di blognya di sini.

Warren Buffett mengatakan bahwa nilai intrinsik (nilai wajar) suatu saham didefinisikan sebagai nilai saat ini dari aliran kas masuk yang akan didapatkan sepanjang umur hidup perusahaan tersebut. Nilai saat ini dari uang yang akan kita dapatkan di masa depan merupakan konsep time value of money yang dapat kita pelajari di sini. Buffett mengatakan bahwa cara ini adalah satu-satunya cara yang masuk akal untuk mengevaluasi keatraktifan dari suatu investasi dan bisnis. Pemikiran Warren Buffett mengenai nilai intrinsik ini banyak dipengaruhi oleh John Burr Williams, yang merupakan orang yang pertama kali mengemukakan pemikiran mengenai nilai intrinsik ini.

Charles S. Mizrahi dalam bukunya “Getting Started in Value Investing” menjelaskan sebuah cara sederhana dalam melakukan penilaian harga wajar saham. Meskipun sederhana bukan berarti cara ini tidak efektif. Keindahan dari cara ini justru berasal dari kesederhanaannya. Agar lebih mudah dipahami, proses valuasi ini akan saya pecah menjadi beberapa langkah. Sebagai contoh saya akan menilai harga wajar saham PT. Unilever Indonesia. Laporan keuangannya dapat kita ambil di websitenya di sini. Saya memilih Unilever karena perusahaan ini merupakan perusahaan yang sangat solid dengan manajemen yang mumpuni. Perlu diingat, sebelum melakukan valuasi kita sebaiknya memilih perusahaan dengan pertumbuhan laba bersih 5 tahun ke belakang minimal 10%. Beruntung sekali ternyata kita dapat memperoleh data keuangan Unilever sampai dengan 10 tahun ke belakang. Selain itu, sebaiknya saham yang akan kita nilai memiliki Return on Equity (ROE) minimal 15%. Unilever dapat memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

Sebelum melakukan valuasi, coba buat dulu profil dari perusahaan tersebut seperti di bawah ini:

Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Pertama-tama kita harus menentukan dahulu pertumbuhan (growth) EPS (Earning per Share) selama paling tidak 5 tahun ke belakang. Dalam menentukan berapakah proyeksi pertumbuhan EPS selama 5 tahun ke depan, ikuti langkah berikut:

  • Jika rata-rata pertumbuhan EPS perusahaan 5 tahun ke belakang lebih besar dari 15%, maka proyeksi pertumbuhan EPS 5 tahun ke depan adalah 15%. Mengapa saya menentukan proyeksi EPS 15%? Sangat sedikit perusahaan yang mampu mempertahankan pertumbuhan EPS di atas 15% per tahun secara kontinyu. Oleh karena itu sebaiknya kita proyeksikan pertumbuhan EPS selama 5 tahun ke depan adalah 15%.
  • Jika pertumbuhan EPS perusahaan 5 tahun ke belakang lebih kecil dari 15%, maka proyeksi pertumbuhan EPS 5 tahun ke depan adalah 10%.


Terlihat bahwa pertumbuhan EPS rata-rata Unilever adalah 16.94% per tahun. Oleh karena itu kita tentukan proyeksi pertumbuhan EPS 5 tahun ke depan adalah 15% per tahun.

Setelah itu kita tentukan proyeksi rasio P/E (Price to Earning) untuk 5 tahun ke depan. Untuk memproyeksi P/E Unilever 5 tahun ke depan, kita dapat menggunakan langkah mudah berikut:

  • Jika P/E lebih dari 20, gunakan proyeksi P/E 17
  • Jika P/E kurang dari 20, gunakan proyeksi P/E 12


Saat ini berdasarkan data kuartal III dapat diperkirakan P/E Unilever adalah 21.9 (> 20). Dengan demikian kita tentukan proyeksi P/E 5 tahun ke depan adalah sebesar 17.

Setelah menentukan proyeksi pertumbuhan EPS dan P/E, mari kita mulai proses valuasinya.

LANGKAH 1: Menghitung EPS 5 tahun ke depan berdasarkan proyeksi pertumbuhan 15%

Menentukan besar EPS 5 tahun ke depan berdasarkan proyeksi pertumbuhan EPS (15%). Mari kita perhatikan tabel perhitungan besar EPS 5 tahun ke depan di bawah ini:

Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Kita mendapatkan proyeksi EPS r tahun ke depan (akhir tahun 2013) adalah sebesar 718 rupiah.

LANGKAH 2: Mengalikan proyeksi P/E dengan proyeksi EPS pada tahun ke-5 (tahun 2013)

Karena proyeksi P/E yang kita gunakan adalah 17, maka dengan mengalikan EPSsaham Unilever maka pada akhir tahun ke-5 (akhir tahun 2009) dengan proyeksi P/E (17), saham Unilever akan diperdagangkan pada harga 12,207 rupiah per lembar.

LANGKAH 3: Menghitung laba yang dibayarkan sebagai dividen

Berdasarkan laporan keuangan yang lalu, didapatkan bahwa porsi keuntungan yang diberikan Unilever sebagai dividen adalah 60.22%. Angka ini disebut juga dengan dividen payout ratio. Dengan menjumlahkan EPS selama 5 tahun ke depan kita mendapatkan jumlah EPS adalah 2,768 rupiah per lembar saham (411 + 472 + 543 + 624 + 718 = 2,768). Dengan mengalikan jumlah EPS tersebut dengan dividen payout ratio sebesar 60.22%, kita memproyeksikan total dividen yang akan kita terima selama 5 tahun ke depan adalah sebesar 1,667 rupiah per lembar saham (2,768 x 60.22% = 1,667).

Sebagai catatan, nilai dividen payout ratio Unilever ini sangat tinggi. Hal tersebut wajar karena Unilever merupakan perusahaan yang sudah mature dan tidak terlalu agresif berekspansi.

LANGKAH 4: Menghitung harga saham total

Dengan menambahkan proyeksi harga saham 5 tahun ke depan dengan jumlah dividen yang kita terima dalam kurun waktu tersebut, kita mendapatkan harga saham total Unilever 5 tahun ke depan adalah 13,875 per lembar (12,207 + 1,667 = 13,875 –> dengan pembulatan). Apakah perhitungan kita sudah selesai? Belum. Harga yang kita dapatkan tersebut adalah harga 5 tahun ke depan. Kita harus mengetahui berapa harga wajar yang pantas kita bayarkan saat ini untuk mendapatkan return yang bagus terhadap investasi kita.

LANGKAH 5: Menentukan berapa harga yang pantas dibayarkan untuk mendapatkan return yang layak

Jika kita memasukkan uang kita dalam deposito, berapakah return per tahun yang akan kita dapatkan? Saat ini kita akan memperoleh return dari deposito sekitar 8-9% per tahun. Karena kita ingin berinvestasi di saham, tentu saja kita menuntut return yang lebih tinggi dari itu karena kita telah mengambil risiko yang lebih tinggi. Kelebihan return tersebut dinamakan risk premium. Di AS, risk premium rata-rata adalah 4.91%. Untuk Indonesia terdapat tambahan country risk premium sebesar 5.25%. Jadi total risk premium yang akan kita gunakan adalah 10.16% (Nasib, nasib. Tinggi bener country risk Indonesia yah emoticon-Frown ). Data tersebut dapat kita dapatkan dari [URL="http://www.stern.nyu.edu/~adamodar/pc/archives/ctryprem08.xls"]sini[/URL]. Dengan menambahkan total risk premium (10.16%) dengan suku bunga deposito (8%), maka return yang layak untuk berinvestasi di saham adalah sebesar 18.16% per tahun.

Kita telah mengetahui bahwa saham Unilever akan diperdagangkan di harga 13,875 untuk 5 tahun ke depan. Berapakah harga yang patut kita bayarkan untuk selembar saham Unilever saat ini untuk memperoleh return 18.16% per tahun?

Untuk menentukan harga yang pantas, maka kita harus membagi harga pada akhir tahun ke-5 tersebut (13,875) dengan 1.1816 tiap tahunnya selama 5 tahun.

Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Terlihat bahwa harga yang pantas kita bayarkan untuk selembar saham Unilever adalah 6,023. Saat ini saham Unilever diperdagangkan di harga 7,600 per lembar, agak terlalu mahal. Sepertinya kita harus menunggu harga sahamnya turun dulu baru kita mulai membelinya emoticon-Smilie

Perhatikan bahwa jika kita menginginkan return hanya 15% per tahun, maka harga tertinggi yang pantas kita bayarkan adalah 6,898. Mari kita perhatikan berapa harga tertinggi yang pantas untuk saham tersebut jika kita menginginkan return yang berbeda.

Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Terlihat bahwa jika kita bersedia membayar harga yang lebih tinggi untuk suatu saham, semakin kecil return yang akan kita terima. Oleh karena itulah investor yang baik biasanya sangat sabar menunggu harga yang murah untuk mulai berinvestasi emoticon-Smilie Investor jenis ini tidak akan gegabah membeli saham tanpa memperhitungkan harga wajarnya.

Disclaimer is on

Note: Artikel tersebut saya tulis tahun 2008 ketika laporan keuangan FY 2008 UNVR belum keluar (masih forecast dari 2007). Jadi sudah tidak relevan lagi datanya. Saya hanya ingin memaparkan cara mengetahui harga wajar saham. Untuk diskusi selanjutnya saya akan berusaha menggunakan data seupdate mungkin.

Sumber:

Pojok Ide
nice gan, izin menimba ilmu dl yah emoticon-Smilie

Layakkah Membeli Saham dengan PER yang Tinggi?

Cara yang sangat umum digunakan untuk menentukan apakah suatu saham dijual terlalu mahal atau terlalu murah adalah dengan menggunakan PER (Price to Earning Ratio). PER dapat didapatkan dengan mudah dengan membagi harga saham dengan EPS (Earning per Share). Saham dengan PER 10x memberikan kita informasi bahwa jika kita membeli saham tersebut, dibutuhkan waktu 10 tahun supaya modal pembelian kita impas. Tentu saja dengan catatan pertumbuhan laba ke depannya nol.

Dengan membandingkan PER saham-saham yang berada di dalam satu industri, kita bisa dengan cepat mengetahui apakah suatu saham overvalue atau undervalue. Sayangnya PER ini memiliki suatu kelemahan mendasar. Jika seandainya PER ASII (Astra International) lebih tinggi daripada PER IMAS (Indomobil), apakah kita bisa memutuskan bahwa ASII dijual lebih mahal daripada IMAS? Jika Anda langsung menjawab ya, maka Anda mengikuti permainan yang sangat berbahaya.

Katakanlah saham X memiliki PER = 10x dan saham Y memiliki PER = 18x. Saham X terlihat lebih menarik sebagai sasaran investasi kita. Dengan membeli sahamnya, kita bisa mengharapkan balik modal dalam waktu 10 tahun sementara saham Y memerlukan waktu yang lebih lama (18 tahun). Benarkah?
Mari kita coba memandang dari sisi lain. Berdasarkan info dari laporan keuangan mereka, ternyata didapatkan long-term EPS growth saham X adalah 4 sementara saham Y berpotensi memiliki long-term growth EPS lebih tinggi yaitu 20%. Apa yang dapat kita simpulkan?

Mari kita simak ilustrasi berikut:

Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Terlihat bahwa meskipun PER saham X lebih rendah daripada saham Y, kedua saham tersebut memerlukan waktu yang sama (9 tahun) untuk balik modal. Berdasarkan hal tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa tinggi rendahnya PER tidak bisa menjadi patokan kita untuk melakukan valuasi. Kita juga harus memperhitungkan faktor growth. Kembali pada kasus di atas. Jika kita membagi PER saham X dengan growthnya (nominal), maka kita dapatkan angka 10/4 = 2.5. Angka ini disebut dengan PEG (P/E to Growth ratio). Dengan cara yang sama kita bisa mendapatkan nilai PEG untuk saham Y adalah 0.9. Terlihat bahwa PEG saham X lebih tinggi daripada saham Y.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa saham dengan PER yang tinggi layak sebagai investasi selama tingginya PER tersebut dapat ditopang dengan growth. Hal lain yang menarik lainnya, dengan PEG kita dapat membandingkan saham-saham pada industri yang berbeda. Peter Lynch, mantan fund manager Magellan Fund merekomendasikan PEG tidak lebih dari 1. PEG yang lebih dari 1 mengindikasikan growth tidak mampu menopang tingginya PER.
Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan PEG:

  1. Pastikan bahwa growth suatu perusahaan konsisten dan predictable.
  2. Walaupun PER yang tinggi dapat dioffset dengan growth, bukan berarti semakin tinggi growth semakin baik. Long term growth normal yang realistis dapat dicapai maksimal sekitar 25%. Growth yang lebih tinggi dari itu dalam jangka panjang sangat sulit untuk dipertahankan.


Di bawah ini adalah list PER dan PEG untuk beberapa saham berdasarkan laporan keuangan FY 2009. Data LT Growth didapatkan dari reuters

Company Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis

Disclaimer is on.
Quote:Original Posted By bungjaja
izin duduk di kelas gan,
ane demen nih


ane ikut duduk di pojokan-gan,..

ane tahu bro dunkz, dari thread reksadana --> tempo doeloe,.
bimbing ane bro dunkz,.. baru tahun ini ane mo coba migrasi ke saham,..
Silakan gan. Sama2 belajar di sini emoticon-SmilieCompany Analysis, The Heart of Stock Fundamental Analysis
keren gan, newbie izin menyimak dan (semoga) mengamalkan ilmu nya emoticon-I Love Indonesia
Quote:Original Posted By joker124
keren gan, newbie izin menyimak dan (semoga) mengamalkan ilmu nya emoticon-I Love Indonesia


Wow ada juga analisa fundamental di sini, mesan seat 1 gan buat ikut kelas emoticon-Smilie