CARI
KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5da4a4c265b24d54da62e462/muara-sebuah-pencarian-true-story---season-2

Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 2

Selamat Datang di Thread Gue 



Trit Kedua ini adalah lanjutan dari Trit Pertama gue yang berjudul Muara Sebuah Pencarian [TRUE STORY] - SEASON 1 . Trit ini akan menceritakan lanjutan pengalaman gue mencari muara cinta gue. Setelah lika liku perjalanan mencari cinta gue yang berakhir secara tragis bagi gue pada masa kuliah, kali ini gue mencoba menceritakan perjalanan cinta gue ketika mulai menapaki karir di dunia kerja. Semoga Gansis sekalian bisa terhibur ya


TERIMA KASIH BANYAK ATAS ATENSI DAN APRESIASI GANSIS READER TRIT GUE. SEBUAH KEBAHAGIAAN BUAT GUE JIKA HASIL KARYA GUE MENDAPATKAN APRESIASI YANG LUAR BIASA SEPERTI INI DARI GANSIS SEMUANYA.


AKAN ADA SEDIKIT PERUBAHAN GAYA BAHASA YA GANSIS, DARI YANG AWALNYA MEMAKAI ANE DI TRIT PERTAMA, SEKARANG AKAN MEMAKAI GUE, KARENA KEBETULAN GUE NYAMANNYA BEGITU TERNYATA. MOHON MAAF KALAU ADA YANG KURANG NYAMAN DENGAN BAHASA SEPERTI ITU YA GANSIS


SO DITUNGGU YA UPDATENYA GANSIS, SEMOGA PADA TETAP SUKA YA DI TRIT LANJUTAN INI. TERIMA KASIH BANYAK


Spoiler for INDEX SEASON 2:


Spoiler for Anata:


Spoiler for MULUSTRASI SEASON 2:


Spoiler for Peraturan:


Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 48 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055

Pilihannya Banyak

Singkat cerita, selama waktu renggang antara gue dan Dee, gue melayani chat dengan beberapa orang, yakni Mirna, Dwina, Rinda, Anin sesekali, Anis sesekali, Feni sesekali, Nurul sesekali juga, Uun dan juga Dee. Ya Kami masih berhubungan baik walaupun nggak lagi bersama. Gue dan dia masih saling menyayangi, tapi gue butuh sedikit angin segar, dan dia mungkin juga butuh hal yang sama. Untung aja kekuatan jaringan provider yang gue pakai waktu itu masih oke, dan banyak penawaran menarik yang membuat koneksi dengan orang lain jadi lebih mudah dan murah.

Gue sangat intens dengan Dwina dan Rinda. Disana juga masih ada Mirna, hanya aja gue udah agak malas dengan Mirna karena mulai membosankan pembahasannya. Apalagi kalau nggak dikaitkan dengan keyakinannya. Entah kenapa gue satu keyakinan dengannya, tapi berasa beda server Tuhannya, dan cara penyikapannya terhadap ajaran-Nya.

Seperti misalnya ada yang pembangunan sebuah rumah ibadah dan kemudian ada tim peminta-minta di jalanan, gue bilang itu mungkin Tuhannya miskin dan beda server sama gue, kalau Tuhan gue itu maha kaya, jadi nggak perlu minta-minta kayak gitu untuk dibangunin rumah ibadah ntar juga pasti ada rejekinya, selanjutnya akan berbuntut tausiyah yang membuat bosan. Udah kayak yang paling tau agama aja gayanya. Hahaha. Gue nggak menyalahkan sih, tapi itu sebenarnya sindiran gue terhadap fenomena begitu. Sayangnya si Mirna ini seperti gagal paham dengan sindiran tersebut.

Sedangkan Dwina dan Rinda ini jauh lebih open minded, tapi kalau mau yang bener-bener nyegerin pikiran sih si Dwina. Kalau Rinda masih agak jaim. Padahal gue udah ngobrol sebocor-bocornya sama dia. Kadang dia kayak teman-teman sekelas gue atau teman sekelas Keket, dikit-dikit istighfar. Haha. Gue nggak tau kalau ternyata mereka ini nggak saling mengetahui bahwa mereka menghubungi satu orang yang sama yaitu gue. Apalagi Mirna juga. Jadi, Rinda dan Dwina sama-sama kompak menyembunyikan hubungannya dengan gue dari Mirna, sementara Rinda dan Dwina sendiri saling menyembunyikan hubungannya dengan gue. Nah bingung kan? Sama gue juga. Tapi ya bodo amat juga. Paling ujung-ujungnya ribut itu dikostan. Haha.

Bagaimana dengan Uun?

Nah, anak ini beda enam angkatan dari gue. Ternyata dia juga mengenal anak-anak yang waktu itu datang ke GMRD buat ngasih kejutan ke si Yudha. Wajarlah, namanya juga sekelas kan.

CHAT MESSENGER :
Quote:


Percakapan lumayan lancar dan mengalir. Sampai akhirnya dia meminta nomor HP gue, gue pun memberikannya. Hampir sama dengan Dwina dan Rinda, mereka duluan yang minta nomor HP gue. haha. Berasa call center banget ini udah.

Suatu sabtu yang cerah, gue diundang kerumah Mirna untuk menghadiri ulang tahun adiknya. Gue iyakan karena rumahnya ternyata dekat dengan rumah orangtua gue, nggak jauh juga dari sekolah SMA gue. acara berjalan dengan lancar dan meriah. Adiknya ulang tahun dengan membagi kebahagiaan bersama anak-anak dari panti asuhan. Sungguh inspiratif. Keluarganya juga sangat konservatif sehingga gue juga mesti nahan-nahan dalam bersikap. Mesti santun dan nggak bisa sesuka hati.

Sehabis acara, gue dan Mirna ngobrol diteras sambil ngopi.

“Acaranya seru juga ya disini.” Kata gue.

“Iya, dikeluarga ini emang kalau merayakan kayak gini pasti ngundang dari panti asuhan. Biar berkah, dan tepat sasaran kan yang membutuhkan itu mereka. Jadi daripada ngundang orang-orang yang mampu, mending dikasih ke anak-anak panti itu biar mereka juga bahagia.” Kata Mirna.

“Ya ya ya. Bener juga ya.”

“Eh Ja, lo tau nggak sih dulu waktu SMA itu orang-orang seantero angkatan gue kali ya, itu ngomongin lo sama Ara. Haha.”

“Oh iya ya? kenapa emangnya? Kan gue nggak pacaran sama dia.”

“Karena kalian klop banget. kemana-mana sering bareng. apalagi juga ada kan angkatan lo tuh namanya si Tifani. Gila ya dulu asyik banget deket sama cewek-cewek cakep terus. Hehe.”

“Haha lebay banget lo Mir. Itu ya kebetulan aja gue satu ekskul sama Ara, dan gue kan bareng-bareng di OSIS sama Tifani.”

“Iya tapi segitu dikenalnya lo di sekolahan ya. haha.”

“Nggak tau sih itu. Tapi gue perasaan mah biasa-biasa aja sikapnya, nggak lebay.”

“Iya, tapi pembawaan lo kalo lagi mimpin rapat di OSIS, sama ketegasan lo dilapangan kalo lagi turun ngelatih di Paskib, itu menurut gue yang bikin orang jadi tertarik. Dulu juga ada tuh yang suka sama lo, adik kelas kita. Gue lupa namanya siapa. Haha.”

“Hah? Ada lagi? Siapa lagi? Haha. Asli gue nggak tau. Gue kebanyakan ngurus organisasi kali yak.”

“Haha iya juga sih. Kayaknya lo sibuk bener. Bahkan kayaknya lo jarang belajar ya.”

“Emang jarang. Haha. Males gue mah kalo belajar dari dulu.”

“Tapi kok sering masuk 5 besar?”

“Hoki aja itu kali Mir. Hahaha.”

“Itu rejeki lo bagus, mesti di syukurin Ja.”

“Iya gue selalu bersyukur kok. Selalu inget sama yang maha memberi segalanya.”

“Iya bener gitu. Hehehe.”

“Tapi kenapa lo tau semua sampe begitu banget Mir?”

“Hmmm…iya, soalnya dari dulu gue udah jadi pengagum lo Ja.”

“Laah iya ya? hahaha. Maaf Mir gue nggak pernah tau.”

“Nah makanya gue mau lo tau Ja sekarang.”

“Hehe iya sekarang gue tau dah.”

“Terus?”

“Terus apaan Mir?”

“Kita gimana?”

“Kita gimana apanya? Ya nggak gimana-gimana lah Mir. Haha.”

“Yaudah. Biar jelas. Ija, gue sayang sama lo. lo jadi cowok gue ya?”

“Hahaha. Ngelawak lo Mir?”

“Gue serius Ija.”

“Hooo oke-oke. Jadi barusan lo nembak gue ceritanya?”

“Nggak ceritanya. Itu beneran Ja.”

“Hmm….”

“Jadi gimana?”

“Aduh gimana ya. lo nggak pernah gue kasih tau ya status gue?”

“Hah? Status?”

“Iya, gue sebenarnya udah punya cewek Mir. Gue emang nggak pernah cerita sama lo. Karena kita emang nggak pernah bahas masalah personal kayak gini kan sebelumnya. Bahasan kita kan urusan politik, agama, politisasi agama, sejarah, dan sebagainya itu.”

“Ohh. Jadi lo udah ada cewek Ja?” katanya agak kecewa.

“Maafin gue banget kalau ternyata malah jadi begini. Gue nggak nyangka aja lo ternyata malah bersikap begini ke gue. Asli gue yang malah nggak enak sama lo, seolah gue ngasih harapan ke lo.”

“Iya Ja. Nggak apa-apa, gue emang udah siap dengan segala resikonya kok. Maafin gue juga ya, mungkin dengan begini lo nya malah ntar ngejauh dari gue. karena gue ngerasa bakal kayak gitu sih. Haha. Soalnya gue tau lo nggak nyaman dengan gaya konservatif gue. tapi inilah gue Ja.”

“Gue sih menghargai perbedaan ya. Kalau lo dengan gaya kayak gini nyaman, ya jalanin aja. Nggak usah jadi orang lain demi ngedapetin yang lo mau.”

“Makasih loh udah sharing banyak banget ilmu pengetahuan yang lo punya Ja.”

“Iya, sama-sama, diskusi poilitik itu asyik kalau sama lo sebenarnya. Haha.”

“Lo dulu kenapa nggak ikut BEM aja sih dikampus?”

Lalu gue menceritakan kenapa gue nggak akan diterima ataupun bergabung di BEM, seperti yang sudah geu pernah ceritakan dulu di season 1. Dia kemudian mengangguk dan setuju dengan pernyataan gue.

“Emang sih, pada dasarnya gue juga kurang suka kalau di BEM itu ada persyaratan kudu ikut rohis. Soalnya BEM itu milik semua, bukan Cuma yang seiman sama kita aja.”

“Nah itu lo tau. Hahaha. Ya begitulah pokoknya.”

“Yaudah, yang penting gue udah lega udah nyatain perasaan gue ke lo, bahkan meminta hati lo untuk berlabuh di gue, tapi apa daya gue? ternyata lo nya juga udah dimiliki orang lain. Hehe.”

“Iya, gue juga minta maaf banget soal itu ya Mir. Tapi sori banget gue nggak bisa, gue sayang sama cewek gue.”

“Iya nggak apa-apa Ja.”

Selanjutnya gue ngobrol biasa aja kayak nggak terjadi apapun barusan. Udah lama juga nggak ada kejadian kayak gitu ya. hehe. Rata-rata cewek yang mendekat ke gue nggak ada yang benar-benar secara terang-terangan nyatain kayak gini. Adanya mereka semacam kode, tapi ya gue udah tau juga kodenya. Hehe. setelah gue melangkahkan diri keluar dari rumahnya, itu pula menjadi akhir dari hubungan gue dan Mirna. Kami juga nggak pernah ngobrol-ngobrol santai lagi di chat baik dari komputer maupun dari HP. Tetapi dengan teman-teman kostannya dia masih.

--

Agak lega juga sebenarnya mengurangi intensitas dengan Mirna. Karena makin kesini obrolannya makin basi. Dari beberapa orang ini lah sebenarnya gue semakin banyak belajar untuk menentukan sikap dan juga mengetahui sebenarnya siapa dan apa aja yang gue butuhin sebagai pendamping gue. Gue mulai bisa menentukan checklist kriteria yang kira-kira cocok dan gue butuhkan. Gue pun mulai realistis kalau nggak perlu banget harus selalu cantik atau manis. Kriteria ini mulai gue singkirkan perlahan. Karena ternyata emang ini kayaknya yang jadi penghambat gue dalam perburuan mencari cinta sejati gue.

“Kak, aku mau tau deh sebenarnya ada hubungan yang spesial nggak sih antara kakak dengan Dwina?” kata Rinda suatu hari gue bertemu dengannya di kampus pas weekend dimana gue emang sengaja kesana buat ketemu dia.

“Aku dan Dwina hanya berteman dekat aja, sama kayak aku sama kamu.”

“Kok kakak nggak pernah cerita?”

“Laah. Emang mesti banget aku ceritain semua urusan aku? Hehehe.”

“Ya nggak. Tapi kan aku nggak nyangka aja ternyata Kakak dan Dwina ada hubungan. Apa segitu spesialnya ya?”

“Kayaknya nggak deh Rin. Aku biasa-biasa aja sama dia.”

“Kakak tau nggak sih? Dwina itu udah punya pacar tau kak.”

“Hah? Yang bener kamu?”

“Iya, sumpah demi Tuhan kak. Coba aja konfirmasi ke orangnya. Pacarnya itu lagi S2. Ngambil jurusannya sama kayak Kakak kok.”

“Oh iya ya? siapa nama pacarnya ya?”

“Namanya Fahri Mustakim. Asalnya dari Madura kak.”

“Oke, nanti kapan waktu aku coba ah iseng tanya ke TU jurusanku. Kebetulan orang TUnya ada yang kenal baik sama aku. Hehe.”

“Tapi bener kan kakak nggak ada hubungan spesial dengan dia?”

“Nggak ada Rin.”

Percakapan ringan kala itu membawa gue menemukan sosok lain dari Rinda. Dia begitu anggun dengan tutur katanya yang tertata rapi. Dia berasal dari kota B di Kalimantan. Orangtuanya dari ceritanya sih gue tebak adalah orang berada disana. Soalnya dulu Dwina sempat nyentil masalah ini. Katanya Rinda selama kuliah disini nggak pernah susah karena kiriman dari orangtuanya selalu lebih dari cukup. Tapi itulah yang menyebabkannya juga jadi dermawan dikostan. Suka membantu teman-temannya ketika kesusahan. Kayak Bank berjalan. Tapi kebiasaannya adalah, kalau minjam suka nggak balik. Tapi Rinda nggak pernah mempermasalahkan semua itu. Nggak pernah nagih juga. Haha. Gila nih anak, baik amat.

Mulustrasi Rinda, 85% mirip cewek ini, baik badan maupun mukanya


Gue juga sempat bingung kenapa kok Dwina dan Rinda ini sama-sama tinggi banget ya? kebetulan banget kayaknya. Haha. Kayak cewek-cewek pemain voli aja bisa tinggi-tinggi semampai gitu. Kesamaan lainnya adalah, Rinda dan Dwina sama-sama nggak suka pakai parfum, katanya nggak sesuai ajaran. Haha. Gue nggak mau komentar lebih jauh soal ini daripada ribut nggak penting soal akidah atau apapun itu lah. Haha.

Nggak kerasa hampir dua bulan gue pisah dengan Dee, tapi HP gue selalu ramai dengan chat-chat dari orang-orang ini. Semuanya juga sepertinya memberikan peluang untuk didekati lebih intens. Tapi gue memilih untuk menahan diri aja. Karena emang guenya nggak ada rasa dengan mereka semua. Hanya butuh teman ngobrol, becanda, dan sebagainya yang membahagiakan. Anehnya gue nggak benar-benar bisa lepas sesuai keinginan gue kalau ngobrol dengan mereka semua ini. Lantas apa lagi yang gue cari? Yang jelas, hobi gue sangatlah berbeda dengan mereka, apalagi selera musik. Beuh jauh banget.

Ketika itu gue dan Rinda sedang janjian untuk jalan di Mall besar di kota. Kami berencana untuk makan malam karena kebetulan gue habis selesai mendapatkan sebuah proyek besar dipekerjaan gue. Gue pun janjian dengan Rinda. Awalnya gue mau jemput dia aja ke kostannya, tapi dia menolak dengan alasan nggak enak sama Mirna dan Dwina. Gue bingung ini si Mirna udah lulus tapi masih aja ngekost bukannya buruan cari kerjaan, terus cari jodoh di masjid kan, biar bisa memenuhi impiannya nikah muda dan syukur-syukur ketemu di masjid, biar bisa jadi imam yang soleh beneran. Tapi yaudah bodo amat juga, toh urusan gue sekarang adalah dengan Rinda.

“Aku udah reserve tempat Rin, nanti janjian aja di mall itu ya.” kata gue via telepon.

“Iya kak beres. Aku siap-siap jalan dulu ya.” kata Rinda.

“Kamu naik apa kesini?”

“Aku naik taksi aja palingan biar cepat sampai kak. Nggak enak kakak udah nunggu lama. Soalnya kan dari sini menuju ke kota makan waktu lumayan lama kak.”

“Waduh, tajir bener. Hahaha. Yaudah yang penting aku tunggu kamu ya.”

Benar aja, karena naik taksi, waktu yang dibutuhkan Rinda untuk mencapai mall yang dimaksud jadi lebih cepat. Dia cakep banget waktu itu, pakai kerudung yang agak panjang dan menutupi dadanya, tapi nggak keliatan cupu banget. Dia memakai baju terusan overall berbentuk rok dibagian bawah, berbahan seperti jeans dan sepatu sendal yang cantik banget.

Outfitnya kali ini benar-benar menunjukkan kalau dia ini berasal dari keluarga berada, ditambah jam tangan yang elegan banget, yang gue tau bermerk Fossil, dengan model kecil khusus buat cewek. Gue juga pernah memberikan jam tangan merk yang sama ke Dee hasil menabung gue yang cukup lama, dan itu masih terus dipakainya.

Setelah kami makan direstoran yang udah gue booking sebelumnya, gue dan Rinda memutuskan untuk jalan-jalan dulu di mall tersebut. Ketika Dwina berani untuk berpegangan tangan dengan gue, gue malah takut untuk memegang tangan Rinda. Begitu pula dengan Rinda. Sambil jalan-jalan pun gue hampir nggak pernah berhenti untuk ngobrol di chat sama Uun dan Dee.

“Loh, kalian ngapain jalan bareng?” kata sebuah suara familiar dibelakang gue dan Rinda tiba-tiba.

Begitu gue dan Rinda menengok kebelakang, ternyata ada Dwina disana! Waduh runyam dah ini. Gue tau banget Dwina suka sama gue, pun Rinda begitu. Tapi ya itu tadi, mereka saling merahasiakan. Gue sih selow-selow aja, yang pasti ribut kan mereka. Hehehe.

“Kamu tu ya Rin. Katanya mau ada kajian, taunya malah ke mall sama kak Ija. Pantesan kok kamu mau kajian aja bajunya bagus banget.” kata Dwina.

“Lah, suka-suka aku dong. Aku mau jalan sama siapa kek.” Kata Rinda.

“Sssttt.. udah-udah. Ini mall woy. Sini yuk cari tempat yang agak sepian, terus omongin baik-baik ya.” kata gue yang mulai panik karena mulai banyak orang kepo.

Kami bertiga berjalan mencari spot yang agak sepi. Sampai kami menemukan sebuah tempat dekat tempat loading barang. Disitu cukup sepi. Sepanjang perjalanan menuju kesini pun Rinda dan Dwina terlibat cekcok mulut yang menyebabkan mata orang-orang tertuju pada mereka. Dan tentu aja ke gue.

“Kamu tu ya, udah punya cowok aja masih terus ngedeketin kak Ija.” Kata Rinda, nadanya mulai meninggi.

“Loh, kan baru cowok, belum jadi suami. Kalau udah baru deh itu nggak boleh!” Kata Dwina membela diri.

“Ya ampun, kamu nggak cukup sama satu cowok? Makanya kalau cari cowok yang gantengan. Jadinya nggak usah nyari-nyari lagi.”

“Kamu ngeledek cowok aku jelek gitu maksudnya?”

“Kalau kamu udah ngerasa cukup, kamu nggak akan ngedeketin dan ngejar kak Ija, dan juga nggak mungkin juga kamu marah-marah gini ke aku. Buat apa??”

“Heh, asal kamu tau ya. kak Ija udah punya cewek juga. Iya kan kak? Jawab aja pertanyaan aku kak.”

“Hmm..sebenarnya aku udah putus sih dari sekitar dua bulan lalu Win.” Kata gue tenang.

“Hah? Berarti kakak lagi kosong selama itu?” kata Dwina.

“Iya gitu deh boleh dibilang.”

“Naah, jadi nggak ada salahnya kan kalau aku jalan dengan Kak Ija?” kata Rinda.

“Kamu tu ya, nyari celah aja bisanya Rin. Dulu katanya nggak mau pacaran-pacaran, tapi liat yang oke dikit langsung kesengsem dan kegatelan kamu.” Kata Dwina.

“Kamu kok gitu banget nuduh akunya Win. Kamu yang kegatelan, nggak cukup sama satu cowok, yang lain mau kamu ambil juga! Egois banget kamu Win. Nggak nyangka aku, kita sering ibadah bareng, kajian bareng, ternyata diluar kamu anaknya ngaco ya.” ucap Rinda emosi.

Gue baru pertama kali liat mereka berdua emosi kayak gini.

“Jaga ucapan kamu ya Rin. Udah nggak usah pulang ke kostan kamu. Nginap aja sana di hotel bareng Kak Ija, biar diapa-apain kamu sama dia.”

“Astagfirullah Win!! Ngomong apaan kamu?? Kasar banget ya kamu.” Rinda kemudian menitikkan air mata.

“Win, lo kok jadi nuduh gue kayak gitu? Gue nggak niat ngapa-ngapain ya sama Rinda!” kata gue, mulai emosi juga.

“Cih, kamu nggak usah munafik kak. Semua cewek emang bisa kamu dapetin kak, apalagi yang kayak Rinda gini, gampang kak. Haha. Ya nggak Rin??” kata Dwina sambil senyum ke Rinda.

“Udah cukup Win. Lo harus inget, dia itu teman kostan lo dari lama. Masa Cuma gara-gara gue kalian jadi musuhan? Udah deh, kalau kayak gini, lebih baik gue yang mundur aja dari kalian berdua. Mungkin gue juga yang salah ngeladenin chat kalian dulu. Tapi gue dulu Cuma mau berteman dengan kalian, karena kalian jauh lebih asyik diajak ngobrol daripada Mirna.”

“Sekarang gini deh Kak, kakak pilih aku atau Dwina?” sebuah pertanyaan mengejutkan dari Rinda.

“Aku nggak pilih kalian berdua. Karena apa? Karena aku nggak mau jadi penyebab permusuhan kalian berdua. Kalian itu bersahabat. Jangan rusak semuanya Cuma gara-gara aku. Dan kamu Win, udah lah nggak usah cari-cari lagi, satu aja udah cukup kan? Dia juga udah S2 toh di jurusan yang sama denganku? Dia orang hebat Win.”

“Kamu pasti tau dari dia ya? ember banget sih kamu Rin jadi orang!” kata Dwina.

“Biar kak Ija tau kamu itu sebenarnya kayak gimana. Gila kamu Win. Tega kamu sama Mas Fahri.” Kata Rinda.

“Udah! Cukup! Rinda! Dwina! Aku udah buat keputusan nih. Dengar ya! aku nggak akan pilih kalian berdua. Cukup. Hubungan aku dan kalian cukup sampai disini. Ngerti kalian berdua?!” Ucap gue dengan nada sangat tinggi.

“Tapi kak…..”

“Udah cukup Rin. Aku nggak tega liat kalian berantem Cuma urusan cowok kayak gini.”

“Aku harus akui emang aku nggak puas sama cowokku. Dia dibanding kamu secara fisik dan kemampuan otak emang jauh kak. Jauh lebih baik kamu. Makanya aku berusaha untuk dapetin kamu kak. Dan aku siap putusin dia kalau kamu mau sama aku.”

“Gila lo Win. Nggak mau gue. Nggak kayak gitu caranya kalau gue. Udah lah ya, gue nggak mau memperpanjang urusan ini. Gue mau kalian baikan didepan gue, dan seterusnya. Bisa nggak?”

Setelah lama liat-liatan, Rinda dan Dwina dengan terpaksa saling memaafkan. Gue pun memaksakan untuk tersenyum. Pemandangan yang sungguh nggak gue sangka malam itu. Dua orang sahabat, malah ribut-ribut gara-gara gue. kayak adegan Dee dan Keket dulu ya. haha. Seru sih tapi gue kasihan jujur aja. Kalau Keket dan Dee itu emang ada hati yang terlibat, lah kalau ini, nggak ada hati gue secuilpun untuk mereka. Jadi buat apa dipanjang-panjangin lagi kan.

Gue memutuskan untuk nggak pulang bareng mereka. Mereka gue lihat sampai pulang bareng naik taksi, buat memastikan mereka berdua aman. Lalu gue kembali ke Mall dan nongkrong sendirian di kedai kopi. Saat gue lagi asyik nyeruput kopi sambil baca berita di HP, ada yang menepuk gue dari belakang.

“Heey. Kok sendirian aja?” katanya sambil tersenyum.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 24 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh yanagi92055
profile picture
gw.kenshin1601
kaskus addict
@IzyMom020 ini nih yg gw pikirin dari kmrn jg emoticon-Leh Uga
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di