KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5dadaac7337f9353771b5a7f/love-life-lost

Love, Life, Lost

Bisakah kau bertahan setelah kehilangan?










Quote:






Prolog





Gemercik hujan enggan berhenti membasahi bumi. Semburat jingga yang biasa nampak di ufuk barat pun, tertutup awan pekat.

Tubuh kekarku, merasa kalah dengan dinginnya hujan. Hanya selimut yang mampu menghangatkan, bukan dia atau pun cinta.

Dia? Ah! Kenapa bayangannya selalu muncul ketika aku mengingat hal yang kata orang indah.

Tak ada yang lebih kubenci dari manusia, terutama pada setiap interaksi yang dipenuhi kepura-puraan. Cinta ... aku muak, sebab dia tak sedikit pun memberi bahagia!





💖






Aku percaya bahwa setiap jiwa memiliki peran, aku terhadap hidupnya, dia terhadap hidupku. Tak ada yang diciptakan sia-sia, termasuk perasaan ini. Sebuah ketulusan murni untuk kamu, pilihan hati.


Batu sekalipun, akhirnya kikis juga jika terus-menerus terkena tetesan air, 'kan? Aku belum gagal. Hanya belum cukup maksimal berjuang!


Cinta itu akan selalu ada. Aku ikhlas meski tak terbalas. Bukankah cinta hadir tanpa paksaan? Tak selamanya yang ada di hati harus juga ada di sisi. Kadang, ia hanya sebagai teman kesepian.


Rasa nyaman itu hadir tatkala aku sering bersamamu. Semakin sering kita bersama dalam suatu kegiatan, semakin kuat perasaan itu hadir dalam angan. Ya, aku mencintai kakakku sendiri. Bagiku, ia adalah lelaki pertama yang membuatku merasa dicintai.


Kau boleh saja berpaling dariku. Akan kupastikan kamu menyesal tidak pernah memilih aku.


Cinta? Aku sibuk bernafas ketimbang sibuk memikirkan apa itu cinta dan segala tetek bengeknya yang unfaedah!


Dengan cinta, akan kami persembahkan segala perasaan di dalamnya. Selamat membaca dan semoga bahagia.






emoticon-Kissemoticon-Kissemoticon-Kissemoticon-Kiss






Salam hormat buciners







Semoga berkenan di hati

❣️❣️❣️❣️







Chapter 1





POV Guma



***





Lagi, aku terdampar di sini, untuk menepi dari hiruk pikuk kehidupan. Tempat paling sakral yang dapat memberi ruang untuk bernapas. Aku benci hubungan antara manusia, apa mereka tidak lelah berpura-pura? Cinta? Omong kosong!


Shiiitt! Kenapa waktu cepat sekali berlalu ketika aku sedang menikmatinya?


Dosen sialan! Demi jadwalnya, waktu luangku jadi terganggu.
Kupacu si Merah--Ninja kesayangan--dengan kecepatan penuh menuju kampus.


Hiruk pikuk kampus begitu menyebalkan. Obrolan random mahasiswi yang berusaha melakukan pendekatan. Selalu saja begitu, membosankan. Tak ada yang menarik di kampus ini. Sekali saja kurespon, mereka akan gila. Sebab, terlalu mudah membuat mereka terpesona dengan ketampananku.



Aku beranjak menuju kelas. Ransel hitam yang selalu setia menemani, telah menempel di punggung. Seperti dugaanku, tak terhitung berapa pasang mata yang menatap, menyiratkan rasa ingin tahu.



Mataku terpaku pada sosok yang duduk di sudut ruang kelas. Well, dari sekian banyak mahasiswi, hanya dia yang belum pernah menyapaku.




"Gue duduk sini, ya?" tanyaku, lalu mengempaskan pinggul di kursi sebelahnya tanpa menunggu dia menjawab.


Seorang cewek berambut lurus sebahu. Berpakaian sederhana. Membuatku sedikit penasaran.



"Sorry, gue lupa. Nama lo siapa?" tanyaku mencermati. Wajahnya lumayan sering terlihat, tapi sungguh, aku tak tahu namanya.


"Zhe!" jawabnya ketus.


"Zhe ... nama yang cantik, secantik orangnya." Kutatap lekat gadis di hadapan yang pipinya mulai bersemu merah.


"Malem ini, ada birthday party di rumah gue. Lo dateng, ya?"


"Ga janji. Lagian, mana gue tahu rumah lo?"


"Gak perlu khawatir soal itu, deh. Kalo lo mau, langsung datang ajah! Ini alamatnya. Gue tunggu kedatangan lo." Kuserahkan secarik kertas yang telah kububuhi alamat pada lembar polosnya.


"Entar gue pikirin dulu deh," jawab Zhe sekenanya.




Tak lama berselang, Liona--kekasihku-- muncul bersama Andien, sahabatnya. Lalu mereka langsung menempatkan diri di deretan kursi paling depan yang masih tersisa. Aku berdiri dan beranjak menghampiri kedua gadis cantik tersebut.


"Hey, Baby! Nanti malam gue jemput, ya," ucapku sambil menyisipkan rambut ke balik telinganya.


"Andien diundang juga, kan?" tanyanya lalu melirik ke arah Andien.



Sontak aku mengerling pada gadis yang duduk di sebelah kiri Liona. Manik hitam kami sempat bertemu beberapa detik sampai Liona kembali memandangku untuk meminta jawaban atas pertanyaannya. Kutekuk lutut untuk menyamai posisi duduk Liona.



"Tentu!" Senyum Liona merekah di bibir tipisnya.


"Babe, ga ada hadiah buat gue gitu? Birthday kiss, maybe," tanyaku yang langsung memajukan wajah ke arahnya.



Liona terlihat sedikit panik mendapat serangan tiba-tiba dariku. Lalu meraih binder yang tergeletak di atas meja dan menyisipkannya di antara wajah kami.



"Yah, zonk!" ucapku kecewa, sementara Liona terkekeh pelan.







***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 47 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh bucinersbbb
POV Zhe

***

Sinar mentari menelisik masuk ke kamar mungil berukuruan 3x3 meter dengan dinding bercat ungu campur coklat. Aneh? Tentu tidak. Kamar ini kudesain khusus atas persetujuan pemilik kos. Titik-titik air yang menempel pada jendela kamar, perlahan menguap terkena sang surya.

Perlahan kugerakkan tubuh agar lebih rileks. Rasanya enggan beranjak dari tempat tidur berseprei ungu ini. Apalagi cuaca di luar sangat panas. Membuat tambah tidak bersemangat.

Suara ketukan pintu membuatku terpaksa menyudahi bermalas-malasan.

"Zhe, buruan bangun! Ada kuliah siang ini!" teriak Khanza dari luar kamar.

"Iya, udah bangun, nih! Tungguin aku, Za. Lima belas menit, deh, nggak lama, kok!" Aku menyahut tak kalah keras.

Aku bergegas mandi. Seperempat jam kemudian telah rapi. Waktu yang sangat cukup untuk seorang cewek yang cuek dan tidak begitu peduli akan penampilan. Jangankan dandan, cara menggambar alis pun tidak tahu. Segera kubuka pintu dan mendapati wajah masam Khanza dan Ina. Lagi-lagi aku yang terakhir.


"Sory, sory, aku telat. Semalam banyak tugas," ucapku dengan wajah memelas.

Wajah mereka berdua masih saja masam. Menyebalkan!

"Buruan! Telat mulu. Dosen keburu dateng. Mentang-mentang ganti jadwal, tidur sepuas lu," gerutu Khanza padaku.

"Udah, cepetan cuuss ngampus," sahut Ina, menengahi pertengkaran yang selalu saja terjadi.

Drama yang membosankan, tapi selalu terulang. Lucu, bukan?

Perjalanan memakan waktu kurang lebih dua puluh menit dari kos ke kampus. Lumayan lama mengingat betapa macetnya kota metropolitan ini. Aku bersama si mungil Scopy coklat, melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan.

Pintu gerbang kampus mulai terlihat. Tempat ini sudah penuh oleh hilir mudik mahasiswa yang berpakaian necis dan fashionable. Berbanding terbalik dengan penampilanku yang seadanya.

Kami bertiga bergegas masuk kelas. Sialnya, kelas masih sepi.

"Jadwal kita bener nggak, In? Aku, kok ragu, ya?" tanyaku pada Ina.

"Iya, bener kuliah ganti siang hari. Iya nggak, Za?" Ina ganti bertanya pada Khanza yang dibalas anggukan oleh gadis itu.

"Ya udah, aku mau duduk dulu sambil baca komik. Terserah kalian mau ngapain. Babay." Aku bergegas meninggalkan mereka berdua.


Malas rasanya terlalu banyak berbincang. Apalagi gosip tidak jelas. Aku lebih suka duduk sendiri bertemankan komik atau buku apa pun. Lebih berguna. Sampai tiba-tiba entah ada angin apa, sosok yang diam-diam kukagumi, datang mendekat.


Ya. Siapa, sih yang tidak mengenal Guma? Cowok tampan sang idola cewek-cewek cantik. Semua mahasiswi saling berebut menarik perhatiannya. Namun, mengapa aku tidak termasuk dalam spesies gila itu? Entahlah. Aku lebih suka mengagumi dalam diam.

"Gue duduk sini, ya?" Dia bertanya, lalu langsung duduk begitu saja tanpa menunggu jawaban dariku.

Dasar cowok menyebalkan! Walaupun aku mengaguminya, tapi tetap saja sebal kalau dia bertingkah seperti itu.


"Sorry, gue lupa. Nama lo siapa?" tanyanya sambil mencermatiku. Jujur, bahagia sekali bisa berbincang dengannya. Akan tetapi, sebal juga, sih. Masa sama teman satu kelas saja lupa? Sebanyak apa, sih cewek dan gebetan dia?

"Zhe!" jawabku ketus.

"Zhe ... nama yang cantik, secantik orangnya." Dia menatap lekat. Membuat pipiku menghangat.

"Malem ini, ada birthday party di rumah gue. Lo dateng, ya?" ucapnya tanpa mengalihkan tatapan.

"Ga janji. Lagian, mana gue tahu rumah lo?"

"Gak perlu khawatir soal itu, deh. Kalo lo mau, langsung datang ajah! Ini alamatnya. Gue tunggu kedatangan lo," ucapnya seraya menyerahkan secarik kertas.

"Entar gue pikirin dulu, deh." Aku menyahut sekenanya. Padahal, hatiku melonjak kegirangan. Siapa, sih yang bisa menolak undangan cowok terkeren seantero kampus?

Tak lama berselang, Liona--kekasihnya-- muncul bersama Andien, sahabatnya dan langsung mengempaskan pinggul di deretan kursi paling depan yang tersisa.
Lalu tubuh jangkung di sebelahku berdiri dan mendekat ke arah kedua gadis di depan sana.

Fyuhh, akhirnya dia pergi juga. Rasanya antara sebal dan bahagia. Entahlah bagaimana cara mengungkapkannya. Sementara dia pergi, aku kembali menikmati komik kesayangan. Lebih menyenangkan dan mudah memahami karakter Naruto daripada pikiran orang lain.

Di sela menekuri komik favorit, terbersit soal pesta ulang tahun itu. Datang tidak, ya, ke pesta Guma? Ingin, sih, tapi dengan siapa, ya, kira-kira? Ah, barangkali Nukho mau.

Baru saja berhenti berpikir, sosok Nukho masuk ke dalam kelas, lalu duduk di depan mejaku.

"Kho, temenin aku ke brithday party-nya Guma, yuk?" ajakku, tapi dia hanya diam saja. Tidak merespon, apalagi menjawab. Anak satu ini memang kebiasaan kalau sudah menyangkut soal Guma.

"Nukho," panggilku manja.

"Hmm ...."

"Cuma hmmm aja? Jawab iya kek, enggak kek, apa kek," gerutuku sebal. Kulihat dia sedikit berpikir, lalu mengalihkan pandangan ke arah Guma yang sedang bermesraan.

"Ke pesta dia?" Nukho bertanya, lalu kembali menatapku.

Aku hanya mengangguk.

"Ya udah, kapan dan jam berapa?"

Kusodorkan secarik kertas yang tadi diberikan Guma. Dia mencermati lembaran putih itu sebentar.

"Okelah. Nanti aku jemput dan temenin kamu." Ucapannya membuatku girang.

"Yes. Makasih, Kho." Kutepuk lengannya pelan.


Meskipun aku tidak peduli pada semua orang, tapi tidak dengan manusia satu ini. Dia terlalu spesial hingga membuat pertahanan sikap tak acuhku runtuh.

***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
i4munited dan 21 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh bucinersbbb
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di