alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d94470288b3cb41ef051cf2/terbelenggu-sepi

Terbelenggu Sepi.



Adeline termenung seraya mendesah lemah. Rambut cokelat panjangnya dibiarkan tergerai. Mata hijau bak jamrud itu dengan sayu menatap nanar ke balik jeruji yang terpasang di jendela. Semilir angin berhembus membelai lembut wajah tirusnya. Ada sepuluh kupu-kupu warna-warni beterbangan mengitari mawar merah. Bergantian hinggap di sari dan menghisap madunya. Lalu beterbangan lagi, mengitari tangkai-tangkai mawar merah lainnya.

Seekor kupu-kupu terbang, menerobos jeruji. Ia tersesat dalam keremangan kamar Adeline  yang pengap. Sayapnya mengepak semakin kuat ketika tubuhnya terbentur perabotan di dalam kamar. Terjatuh, kupu-kupu bersayap kuning  itu bangkit lagi dan terbang ke arah lain.
Berulang kali sampai sayap kupu-kupu kuning itu rusak. Kepaknya semakin lemah. Ia begitu lelah. Secercah cahaya dari jendela di belakang Adeline  memberi cahaya terang. Kini ia tahu, itu jalan pulang!

Brakk...!!!
Adeline  membanting daun jendela hingga tertutup. Kupu-kupu bersayap kuning semakin lemah. Ia membentur jendela dan terjatuh. Adeline  tersenyum. Memungutnya dan mematahkan sebelah sayap kuningnya.

“Manusia, kenapa kau mematahkan sayapku? Beri aku jalan keluar. Tempatku di alam bebas.”


Suara kupu-kupu itu terdengar di telinga Adeline .
Gadis itu tersenyum, lebih mirip menyeringai. Perlahan ia elus tubuh beserbuk kupu-kupu bersayap kuning itu. Lalu ia tekan ke jendela. Pencetannya sangat kuat, sampai isi perut berwarna kehijauan berpadu kuning muncrat keluar. Cairan menjijikkan itu tak terlihat jijik bagi Adeline . Ia mengambil dengan jari dan mengoleskan di wajahnya.

“Aku ingin cantik. Punya sayap kuning dan disukai oleh setiap orang. Seperti kau kupu-kupu bersayap kuning....” Gumam Adeline . Kini ia mencabuti sayap kupu-kupu dan menempelnya di lengan kiri dan kanan menggunakan perekat. Ia menangis.

Jendela berjeruji besi masih menyimpan kehampaan. Adeline  masih menatap di balik jeuruji. Di dalam kamarnya yang pengap dan berbau lembab. Derit pintu terbuka tak membuat Adeline  beranjak dari jendela.

Sebuah nampan berisi sepiring jagung dan kentang juga lauk pauk tersedia di sana. Tak ketinggalan satu ceret air putih dan empat potong apel yang telah dikupas. Setelah meletakkan di atas meja dekat pintu, laki-laki yang membawa makanan itu keluar tanpa sepatah kata.
Adeline  dapat mendengar suara gemerisik kunci saat lelaki itu menggembok pintu kamarnya dari luar. Ia tetap pada tempatnya. Tak bergerak.
 

Air mata mulai jatuh di pipinya. Angin pagi itu berhembus lembut menerpa kulit wajahnya. Adeline  merasakan tangan lembut berwarna jingga menyentuh pipinya.

“Kenapa kau baru datang? Aku kesepian. Aku ingin kau selalu di sini bersamaku”, bisik Adeline .

Aku harus memberi ketenangan kepada orang-orang di Selatan. Mereka juga membutuhkan aku. tapi aku akan selalu datang dan menemanimu setiap saat. Aku akan menghiburmu dengan warna-warnaku. Kau pasti suka.


“Aku merindukanmu. Aku ingin mendekapmu. Aku ingin merasakan hangatnya dirimu. Biar para kupu-kupu bersayap kuning itu menjadi saksi cinta kita..” Adeline  mengeluarkan tangannya ke balik jeruji.

Adeline sayang, kau telah mematahkan sayap kupu-kupu berwarna kuning. Kini dia mati. Apakah kau tak punya belas kasihan kepadanya? Apa kau tak merasa ingin dia hidup bebas?


“Tidak. Ini tak adil. Mereka bisa berterbangan bebas di hadapanku. Sedangkan aku terkurung di sini.” Adeline  menarik kembali tangannya dan berpaling membelakangi jendela. Ia menatap kamarnya yang penuh dengan lemari kayu.

Hembusan beraroma mawar jingga menyelinap masuk ke dalam kamar. “Kamu mengatakan akan selalu ada  untukku. Tapi kau tak pernah ada saat aku butuh kamu? Di mana kamu?.” Seru Adeline.

Aku akan berjanji selalu ada di sisimu, Adeline . Kamu harus berjanji padaku. Kau tak akan menyakiti kupu-kupu lagi. Apapun warna kupu-kupu itu. Atau aku tak akan lagi dengan warna-warna yang kau suka.


“Beri aku kebebasan, cintaku. Ajak aku keluar...!!! Beri aku udara segar dengan warna-warna indahmu. Beri aku surga itu”, Adeline  meraung-raung.
 

“Adeline ....!!! Jangan terus berteriak. Sebentar lagi akan datang tamu kehormatan yang akan melamarku” Suara Adriana  terdengar samar di antara gedoran pintu. Adriana, gadis dengan warna rambut dan juga bola mata indah serupa Adeline, karena memang mereka terlahir bersamaan.
 
Sayang, aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan terus bersamamu. Tiap hari aku akan datang dengan warna-warna baru yang kau inginkan.akan aku bawa aroma kebebasan untukmu, Adeline

 
“Kapan kau akan melamarku, Arjuna ... Aku butuh dirimu. Aku butuh kamu untuk menopang hari-hariku. Hidupku tentu akan lebih berwarna dan indah bila bersamamu. Kapan?” Adeline  merengkuh aroma mawar jingga di hadapannya.
 
Aku akan datang pada saat yang tepat untuk melamarmu. Tapi tolong dengarkan aku. Berhentilah berteriak-teriak. Sebentar lagi tamu dari keluarga kakak iparmu akan datang.

 
“Tidak, Arjuna ... aku tidak mau. Aku ingin kau juga melamarku. Kita akan menikah. Lalu punya anak. Kita akan hidup bahagia selamanya, Arjuna .....” Ucapan Adeline  diselingi raungan dan isakan. Lalu ia tertawa saat aroma mawar jingga berbentuk telapak tangan menyentuh lembut pipinya.
 
Aku berjanji akan membawamu pergi. Kamu juga harus berjanji padaku agar tak bertingkah aneh. Aku akan datang bila saatnya tiba. Adeline sayang, tugasku masih banyak. Aku harus pergi. Berjanjilah padaku. Kau tak akan berbuat konyol dan tetap di kamar ini. Aku akan menjemputmu.

 
“Adeline ...!!!” Suara bentakan dari balik pintu yang bergembok terdengar keras. Adeline  tersentak. Saat itu pula hembusan dengan aroma mawar jingga telah pergi.
 
Adeline  menatap keluar jendela. Wujudnya kini sudah lebih besar dengan warna yang berbeda. Warna kuning, menyatu dengan kupu-kupu berayap kuning. Adeline  tersenyum dan melambaikan tangan ke arah sekelompok kupu-kupu bersayap kuning. Juga hembusan kuning yang bergerak cepat meninggalkannya.
 
Adeline  kembali berpaling ke arah pintu dengan kaget. Suara gemerincing kunci terdengar lebih cepat dan riuh dari biasanya. Ini berarti si pembuka pintu tengah dilanda amarah.
 
“Tolong jangan ribut. Redam suaramu. Aku tidak akan membiarkan kamu hidup bila orang-orang di luar sana tahu kalau aku punya anak sepertimu” Bentak lelaki yang pernah dikkenalnya itu. Matanya memerah dan dia menutup lagi pintu. Kemudian membukanya lagi dan hanya melongokkan kepalanya, “Makan. Jangan buat aku tambah repot karena kamu”. Pintu ditutup lagi. Sedikit membanting.
 
Adeline  sayang, dengar aku. Jangan berbuat apapun yang membuat mereka marah. Aku akan segera kembali.

 
Hembusan putih beraroma bunga bakung menghampirinya. Tapi hanya sekejap. Lalu terbang kembali secepat kilat.
 

“Ini anak saya satu-satunya. Adriana . Dulu dia memang pernah punya adik, tapi tidak bernasib baik. Kami hanya sesaat memilikinya. Lalu Tuhan mengambilnya kembali. Kasihan sekali...” Suara lelaki bermata merah tadi terdengar di kupingnya.
 
“Kasihan sekali. Tentu kalau adik Adriana  masih ada dia akan secantik Adriana  bukan?" Puji suara lelaki yang lain.
 
“Oh, tidak. Dia biasa-biasa saja. Adik Adriana  tak lebih cantik darinya” Bantah lelaki bermata merah itu.
 
Adeline  menahan isakannya. Ia menatap keluar jendela. Daun-daun tampak tak bergerak. Begitupun dengan mawar-mawar dengan warna berbeda. Mawar jingga tampak layu, menatap wajah Adeline  pun ia tak mampu lagi. Mawar itu merasakan kesedihan Adeline .
 
“Aku akan menikah. Jadi kumohon jangan membuat ulah” Adriana  masuk ke kamar Adeline . Untuk pertama kalinya ia mengantar sarapan kepada adiknya. Adeline  menatapnya tajam.
 
“Arjuna  akan membawaku pergi. Lalu kami akan menikah di alam bebas” Tukas Adeline . Ia menatap Adriana  tajam. Gadis itu tertawa terbahak-bahak.
 
“Teruslah bermimpi, adikku tersayang.... Arjuna ? Angin? Hahahahaha....” Suara tawa Adriana  semakin keras dan tak berhenti. Bahkan saat ia mengunci kembali pintu kamarnya dari luar, Adeline  masih mendengar suara tawa menyeramkan itu.
 

Hembusan beraroma bunga kamboja putih membelai hidung Adeline . Ia merasakan hembusan itu memeluknya dari belakang. “Arjuna , kamu datang?”
 
Aku telah berjanji akan datang di setiap kesedihanmu, Adeline  sayang....

 
“Dia kakakku. Mengejekku. Kita akan menikah bukan? Kita akan pergi sekarang bukan? Arjuna , bawa aku pergi...”
 
Kau siap, sayangku...

 
“Aku akan selalu siap bila itu denganmu. Aku akan hidup bebas di alam sana bukan?” Mata Adeline  berbinar dan menatap hembusan putih yang kini warnanya berubah menjadi hijau daun. Aroma dedaunan tersa di indra penciuman Adeline .
 
Kita akan pergi sekarang. Tepat di saat kakakmu melangsungkan pernikahan, Adeline  sayang. Bersiaplah.... Ini akan sedikit mengejutkan dan terjadi kekacauan.

 
Adeline  mengangguk. Ia melihat sesuatu yang tak pernah dilihatnya. Hembusan itu kini berubah menjadi coklat, lalu abu-abu tua dan menjadi hitam. Hembusan itu berputar-putar di kamar Adeline . Begitu kuat menabrak jeruji jendela dan menciptakan suara yang cukup keras. Pekikan terdengar di antara kepanikan orang-orang.
 
Bersiaplah sayang, aku akan membawamu pergi. Kamu akan melihat keindahan dunia ini dari ketinggian....

 
“Lihat. Angin itu membawa seseorang”, seorang Perempuan setengah baya menunjuk Adeline  yang digulung angin berwarna.
Kelopak bunga berwarna warni menggulung tubuhnya, semakin tinggi ke udara.
“Itu kan adik Adriana  yang dikabarkan hilang dan sudah meninggal”, Lelaki separuh baya berteriak.
“Ternyata dia masih hidup. Ternyata selama ini kita dibohongi oleh orang tuanya!”, racap Perempuan lainnya,
“Apa?! Dasar manusia kejam. Tak bersyukur punya anak”, sungut kesal Pria berbadan gempal.
Suara riuh kiri dan kanan terdengar memenuhi ruang , saling bersahutan suara orang disekitar Adeline.

Di belahan tempat lain, Adeline  duduk menatap laut. Hembusan angin membawanya kemari. Di sini ia bisa melihat alam bebas lebih indah daripada berada di kamarnya. Hembusan itu kini berwarna biru, menyerbak aroma laut yang indah.
 
“Terimakasih, Arjuna .... Kamu telah membebaskan aku dari kekejaman manusia. Aku mencintaimu...” Adeline  tergeletak di atas bukit. Hembusan lembut angin membelai rambutnya.
 
Kembalilah kepada penciptamu Adeline .... Kamu akan mendapat ketenangan di sana....



profile-picture
profile-picture
profile-picture
perihbanget dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh perihbanget
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Quote:


Ane ga gokil orangnyaemoticon-Angel
Apa ada yang kangenin aku? emoticon-Hoax
Ga perlu dikangenin, biar ga ada baper2anemoticon-Ngakak
profile-picture
perihbanget memberi reputasi
profile picture
perihbanget
kalo baper ya makan atuh mah.
emoticon-Ngakak (S)
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di