alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Penggemar Gaib Dari Gunung Merbabu
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d8da67ac82084360e147e3b/penggemar-gaib-dari-gunung-merbabu

Penggemar Gaib Dari Gunung Merbabu

Fans tak kasat mata Gunung Merbabu






Riuh terdengar suara dari ponsel bersahut-sahutan ketika Timy, Zaki, Rafa dan Ezra tenggelam dalam game online dengan konsep battle royale yang sedang populer saat ini. Mereka berempat adalah teman satu kos yang kebetulan kuliah di kampus yang sama meski berbeda jurusan. Liburan semester baru dimulai tapi keempat pemuda itu mulai kebingungan memikirkan cara mengusir bosan selain dengan bermain game.

"Bosen gua nih, nge-camp yuk, Tim," ujar Zaki.

"Hayuk ajah gua mah, kemana? Lo ikut ga, Fa?" tanya Timy pada Rafa.

"Slamet ajah yuk, gimana?" celetuk Rafa.

"Lewat jalur Guci, seru!" balas Timy.

"Okeh, lusa kita berangkat ya!" Zaki memastikan.

Zaki, Timy dan Rafa memang sering kali naik-turun gunung. Beda halnya dengan Ezra, si anak band yang lebih suka menghabiskan waktu di studio musik. Namun kali ini Ezra sedikit tertarik dengan ajakan Zaki.

"Gua ikutan, donk! Masa gua sendirian di kosan, bisa lumutan ntar gua," ucap Ezra.

Spontan Zaki, Timy dan Rafa menoleh ke arah Ezra. Senyum Ezra merekah, memberi sinyal yakin akan ucapannya barusan. Sementara ketiga temannya saling berpandangan satu sama lain.

"Lo yakin, Zra?" tanya Rafa memastikan, disusul dengan anggukan cepat Ezra.

"Tapi lo kan belum pernah naek gunung," ucap Zaki.

"Terus … kalo gua belom pernah, jadi ga boleh nyoba naik gunung gitu?"

"Bukan gitu, Zra. Tap--,"

"Ck! Udah … ga usah ke Slamet track-nya berat kalo lewat Guci. Merbabu ajah deh ya, kesian si Ezra mau nyobain rasanya nge-camp. Kali ajah dia pensiun jadi anak band." Timy menyela ucapan Zaki, kemudian mereka terbahak bersama.

***

Pada hari yang telah ditentukan, mereka akhirnya sepakat untuk naik ke Gunung Merbabu dan memilih jalur yang paling sepi, yakni jalur Wekas. Perjalanan dari Jakarta menuju kota Semarang mereka tempuh dalam waktu tujuh jam menggunakan kereta api. Berangkat dari Stasiun Senen pukul dua siang menuju Stasiun Poncol kemudian meneruskan perjalanan menggunakan bis, dan tiba di basecamp Wekas pada ketinggian 1700 mdpl sekitar jam sebelas malam. Timy dan teman-temannya langsung melakukan registrasi SIMAKSI.

"Ada berapa pendaki, Pak?" tanya Timy pada sang penjaga basecamp.

"Ada, tapi dikit. Cuma satu rombongan di atas," jawabnya singkat.

Timy hanya membalas dengan membulatkan bibirnya, lalu bergabung dengan temannya yang lain. Akibat terlalu lelah, mereka memutuskan untuk tidur di basecamp dan memulai pendakian esok hari.

Keesokan harinya ketika lelah telah sedikit terusir, mereka memulai pejalanan dari basecamp pada pukul tiga sore. Dengan candaan yang riang mereka menikmati tiap langkah kaki yang menapak menelusuri ketinggian gunung. Hingga akhirnya tiba di pos satu sekitar pukul lima. Zaki mengomandoi temannya untuk beristirahat sejenak di pos satu dan menikmati indahnya jingga di ufuk barat.

"Ah, gila … baru pertama kali nih gua ngalamin pergantian malam di gunung, keren sih tapi rada parno gua," ucap Ezra bergidik.

"Woles, Bro!" kata Timy coba menenangkan Ezra.

"Njir … kalo ada harimau atau macan gimana, Bro? Nih jangan-jangan paling sepi gara-gara banyak yang dimakan macan, nih. Ngeri juga gua, belom nikah cuy!" ujar pria berlesung pipit itu.

"Halah … pacar ajah kagak punya lu! Mikirin kimpoi pula," celetuk Rafa.

"Sial lu, setan gunung juga naksir kalo liat pesona gua mah," protes Ezra.

"Husst, kalo di sini jangan becanda yang aneh-aneh, Bro!" Zaki mengingatkan semua temannya agar menjaga lisan dengan baik.

Setelah satu jam beristirahat mereka memutuskan untuk berjalan kembali. Mendaki menuju pos dua. Di sepertiga perjalanan menuju pos dua, mereka bertemu tiga orang pendaki yang turun. Semua saling bertutur sapa dan mengakrabkan diri. Setelah aktivitas menyapa sesama pendaki, Timy dan kawanannya melanjutkan kembali pendakian.

Hari mulai gelap, mereka mulai menyalakan headlamp masing-masing. Melangkah berbaris beriringan dengan formasi Zaki paling depan, kemudian Ezra, setelah itu Rafa, dan terakhir Timy.

Perlahan menyusuri jalan penuh ilalang. Napas Timy mulai terengah, tas di punggungnya terasa semakin berat tak seperti sebelumnya dan tanpa sadar bulu-bulu halus di lengan Timy menegak dengan sendirinya. Ia merinding logikanya mulai tidak jernih. Tiba-tiba lelaki berjanggut tipis itu merasa ada tangan yang menggenggam lengan kirinya.

"Weitsss!" Seketika Timy mengibaskan tangan kirinya dengan kasar.

Ia sadar berada paling belakang dan sedikit tertinggal jauh dari teman-teman di depannya, jadi sangat tak mungkin ada orang di belakangnya dan lagi rombongan pendaki yang tersisa hanya tim mereka. Timy menghembuskan pelan napasnya dengan teratur. Mencoba menjaga keseimbangan pikirannya agak tidak berpikiran aneh.

"Woles woy, woles!" teriak Timy pada teman-teman di depannya.

Seketika ketiga temannya pun menghentikan langkah untuk menunggu Timy bergabung kembali.

"Udah malem, Tim! Cepetan ngapa jalannya," ujar Ezra yang juga mulai kelelahan.

Setibanya di pos dua sudah hampir tengah malam, mereka langsung coba membuka tenda untuk tempat beristirahat. Camping ground di pos dua ini memiliki bentuk tanah yang sangat landai dan luas, sumber airnya juga sangat melimpah, cukup nyaman untuk berkemah di area ini.

Selesai mendirikan tenda yang cukup besar, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai sembari menyesap segelas kopi dan menghabiskan sebatang tembakau. Terkecuali Zaki, ia bukan seorang perokok. Di tengah obrolan mereka, Ezra yang sedang duduk pada sebuah batu berukuran sedang, lagi-lagi melemparkan candaan tentang binatang buas dan juga setan gunung, dan kali ini Rafa yang menegurnya.

"Zra, lu kalo ngomong di gunung mesti pake saringan, jangan asal njeplak!" Ezra menanggapinya dengan kekehan kecil.

"Serius gua!" ucap Rafa dengan nada sedikit meninggi.

"Iye, woles napa, Bro!"

"Udah-udah ga usah ribut, mending tidur dah yok. Besok kita summit ngejar sunset," ujar Zaki menengahi kedua temannya tersebut.

Akhirnya sekitar jam tiga dini hari, mereka semua beranjak dari duduknya menuju ke tenda untuk tidur. Keesokan hari sekitar jam sebelas siang mereka bangun, tapi cuaca di luar sedang hujan deras dan tidak memungkinkan untuk memulai pendakian kembali. Menjelang jam dua, hujan baru mereda tapi kabut tebal dan basah mulai turun ke pos tempat mereka mendirikan tenda. Dengan banyak pertimbangan, akhirnya mereka mengurungkan niat untuk melanjutkan pendakian dan tetap tinggal di camping ground pos dua. Timy berniat menyalakan api unggun, tapi karena kondisi tanah yang sedikit basah dan ranting yang lembab usahanya gagal total. Mereka memasak nasi dan nuget serta kentang goreng ala kadarnya untuk mengisi perut yang mulai kelaparan.

"Anjir, naik gunung cuma buat ngeliat ujan sama kabut doank? Di rumah juga bisa kali," keluh Ezra disambut gelengan kepala Zaki.

"Woy, santai donk, Bos! Lu yang mau ngikut kan, kita ga pernah maksa. Lu juga kalo ngebacot asal ajah, pake bawa Om Poci, Mbak Kun sama Mr. G lah, ga banget lah," umpat Rafa.

"Sssttt!" Zaki melotot ke arah Rafa, dan pria itu nampaknya paham maksud Zaki untuk menyudahi pertengkarannya dengan Ezra.

Angin gunung mulai menyiksa mereka dengan suhu dinginnya. Zaki mematung memperhatikan Ezra dari kepala hingga ke kaki dengan serius. Bola matanya kemudian bergerak ke sekeliling.

"Omongan kalian tolong dijaga ya, di hutan ini ga cuma ada kita saja," ucap Zaki.

Kemudian mulutnya merapalkan sesuatu. Selain paling kalem diantara temannya yang lain, Zaki adalah seorang anak indigo yang mempunyai kemampuan lebih dari manusia pada umumnya.

Lima belas derajat celsius, suhu yang cukup menusuk sampai ke tulang. Zaki berdiri dan mengajak yang lain untuk menyusulnya ke dalam tenda. Dia dan Timy berjalan di depan dan mulai terlibat obrolan serius.

"Lo liat apa aja, Zak?" tanya Timy sambil berbisik.

"Banyak, banyak banget ... kayaknya memang pesonanya Ezra sampai ke mereka."

"Terus, sekarang gimana?"

"Beberapa janji ga ganggu, tapi ada satu yang keras kepala," jawab Zaki.

Tak lama berselang mereka mendengar suara tawa wanita melengking, yang cukup Cumiakkan telinga dan membuat bulu kuduk meremang. Ezra dan Rafa yang semula berjalan di belakang, lari tunggang langgang mendahului Zaki dan Timmy di depannya. Hari itu mereka semua kompak tidur lebih awal dan terbangun pada jam dua dini hari untuk summit mengejar sunrise nantinya.

Antara sadar dan tidak, dalam tidurnya Ezra merasakan sesak yang teramat sangat, dadanya seperti ditekan sesuatu. Rasanya seperti terhimpit diantara bebatuan besar yang bergeser dan berusaha menjepitnya. Ia coba membuka mata, tapi terasa sulit. Hingga saat kelopaknya berhasil terbuka, bola matanya seperti akan lari meninggalkan tempurung kepalanya. Ingin sekali berusaha menjerit tapi mulutnya terkunci rapat. Tangan dan kakinya seolah membeku, tak dapat digerakkan.

"Argh … argh … argh!"

Ezra bangun terduduk, napasnya memburu cepat, jantungnya berdetak tak beraturan setiap detiknya. Keringat membasahi tubuhnya. Wajahnya pucat pasi. Teriakan Ezra membangunkan teman-temannya. Zaki yang tengah membaca Alquran di luar tenda pun ikut penasaran dengan teriakan Ezra.

"Zra, lu kenapa?" telisik Zaki.

"Zra … Ezra?"

Lelaki dengan nama Ezrariady itu tetap bergeming tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya. Kemudian dia berdiri tiba-tiba, mengagetkan orang di sekelilingnya.

"Gua mau pulang," ucapnya keras.

"Sekarang!"

"Gila lu ya, masalah lu apa sih. Lu yang mau ikut sendiri, sekarang minta pulang. Jangan kayak bocah deh," balas Rafa.

Tanpa menggubris perkataan Rafa, Ezra mencari carriernya, membereskan barang-barang miliknya. Zaki yang sadar ada yang tidak beres dengan Ezra mencoba menenangkannya, sementara Timy coba memberi pengertian pada Rafa.

"Tunggu sebentar, Zra! Kita ke sini bareng-bareng, ga enak lah kalo lu turun sendiri," cegah Zaki coba menahan Ezra.

"Tim, lo ga papa kalo kita ga jadi summit?" tanya Zaki.

"Gua sih ga masalah, udah pernah summit empat kali juga gua di sini. Coba tanya si Rafa," jawab Timy.

Tanpa bertanya, Zaki mengalihkan pandangan pada Rafa. Lama pria itu tak memberi jawaban, hingga akhirnya Zaki memanggil namanya. Rafa melirik balik ke arah Zaki.

"Yawdah, gua ikut suara terbanyak ajah." Rafa terlihat pasrah.

Mereka memutuskan untuk membereskan segala perlengkapan dan langsung turun. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang berputar di kepala Zaki, tapi melihat wajah Ezra yang masih pucat selama perjalanan turun, ia mengurungkan niat bertanyanya. Mereka tiba di basecamp pukul empat pagi. Kondisi yang ramai memberanikan Ezra menceritakan apa yang dialaminya tadi di tenda.



Ia memulai ceritanya, ketika dadanya terasa sesak saat tidur, kemudian ia mulai membuka mata, jantungnya seperti akan copot melihat seekor macan putih tengah berbaring diatas tubuhnya. Mata merah macan itu menatap nyalang padanya. Teringat dulu sewaktu kecil ayahnya sering bercerita tentang sosok gaib penjaga gunung keramat yang menjelma menjadi seekor macan putih. Nyalinya begitu ciut. Kemudian sang macan putih melebarkan sayap yang keluar dari punggungnya. Ia berdiri dengan kaki kanan bagian depannya menekan dada Ezra hingga remaja itu hampir saja kehilangan napas. Sayup-sayup terdengar alunan ayat suci Al-quran dari luar tenda, dan sang macan menghilang dengan sendirinya. Ezra mulai histeris.

"Lu juga sih, udah di peringatin berkali-kali jangan ngomong sembarangan masih ajah ngeyel. Gitu deh jadinya," ucap Zaki.

Spoiler for jangan di buka:


"Sebenernya ada yang naksir sama lu tuh, Zra!" lanjut Zaki.

"Anak kampus? Siapa? Avril, Tessa apa Anjel?" Zaki menggeleng.

"Itu lagi senderan di pundak lu." Seketika Timy dan Rafa, yang berada di samping Ezra menggeser tubuhnya menjauhi pria itu.

"Anjirrr! Jangan bercanda lu, Zak!" Bulu kuduk Ezra langsung merinding.

Zaki hanya tersenyum simpul, lalu bercerita jika semalam sewaktu mereka masak-masak, banyak yang bergabung bersama mereka. Sosok pocong yang berdiri di samping pohon tempat Ezra bersandar, banyak juga arwah pendaki yang meninggal di gunung terlihat oleh mata batin Zaki. Namun dari sekian banyak makhluk gaib yang bergabung, ada satu sosok yang duduk di samping Ezra. Sesosok wanita berbaju putih dengan rambut sangat panjang tergerai hingga tak sengaja kaki Ezra menginjak rambutnya yang terurai di rerumputan. Sosok itu terus menerus-menatap Ezra, dan sepertinya dia menyukai Ezra.

"Dia naksir sama lu, Bro!" ucap Zaki.

"Cieee … ada yang ditaksir Mbak Kun nih yee," ledek Rafa dan Timy kompak.

"Kampret, lu pada." Ezra menggeser tubuhnya mendekat ke arah Zaki.

"Zak, tolong gua ngapa, Zak! Suruh pergi ajah deh, ga enak gua diikutin yang begituan," ucap Ezra mengiba.

"Semalem sih gua udah suruh dia pergi, tapi dia minta waktu sebentar ajah deket-deket sama lu."

"Pantes, semaleman suhu lima belas derajat kok gua ga ngerasa dingin sama sekali ya," ujar Ezra.

"Berasa ada yang meluk gitu ya, Bro," celetuk Rafa sambil terkekeh.

"Rese lu, demen banget kalo gua susah," protes Ezra.

Zaki kemudian coba mengusir sang penggemar tak diinginkan itu dari sisi Ezra. Awalnya sang kuntilanak menolak dan ingin ikut pulang bersama Ezra. Hingga Ezra sempat mendengar tangisan memilukan dari kuntilanak tersebut. Namun Zaki terus menggertaknya dengan merapalkan ayat-ayat suci Alquran, sang kuntilanak pun menyerah dan kembali ke tempat asalnya. Akhirnya mereka berempat kembali ke Jakarta tanpa personel tambahan.



*** END ***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
purwoandhika dan 25 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh tsuway.c001
waah kebetulan nih pas maljum emoticon-Takut
×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di