alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
muntarzoon dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
PERSEKONGKOLAN


Merasa pancingannya berhasil, Ranggapane terus menguji keseriusan Jingga.
"Setelah rencana kita sukses, apa yang Pangeran rencanakan?"
"Aku tidak punya rencana. Aku hanya ingin semuanya hidup damai."
"Hamba yakin bisa dilakukan bila kekuasaan berada di tangan Pangeran."
Jingga diam saja mendengar rayuan Ranggapane. Seumur hidup baru kali ini bulu kuduknya merinding mendengar rayuan maut Ranggapane. Benar benar berbahaya.
"Bagaimana kalau Mahapatih menentang rencana kita?" Ranggapane kembali bertanya. Menguji pengetahuan Jingga juga ingin mengukur seberapa besar minat Jingga mengikuti rencananya
"Aku tidak banyak mengenal kalangan istana, termasuk Mahapatih. Meski aku pernah bekerja padanya. Anda yang lebih banyak tahu dan punya kekuatan untuk mengatasinya. Terserah Anda yang menyelesaikan diluar urusan Prabu. Aku tidak bisa apa apa tanpa bantuan Anda. Dari rencana anda, aku yakin anda sudah menyiapkan segala sesuatunya "
Ranggapane mengangguk angguk membenarkan.
"Pangeran pantas mengambil jalan para Raja,"
Jingga tersenyum tipis. Ia sudah menebak apa yang akan dikatakan oleh Ranggapane.
"Jalan Ken Arok, Jalan Raden Wijaya, jalan Raja raja lainnya."
"Maksudmu jalan darah?"
"Ya, semua demi menumpas ketidak adilan, ketidak becusan dalam mengelola negara. Tak punya ambisi besar selain hawa nafsu semata. Prajurit butuh kebanggaan. Sikap itu yang dilakukan Ken Arok saat menumbangkan Tunggulametung dan menyelamatkan Ken Dedes dari angkara murka. Sementara Raden Wijaya bersikap cerdas seperti Pangeran dalam memenangkan peperangan selama ini di Blambangan. Pangeran sebetulnya punya kemampuan melebihi Raden Wijaya. Sayangnya Pangeran lemah di pengendalian perasaan."
"Apa tidak ada jalan lain selain jalan darah itu?"
"Keadilan dan kasih sayang saat menyembelih kerbau adalah bila yang menyembelih menggunakan pisau yang tajam dan tepat di pembuluh darah mematikan kerbau. Sehingga tidak menyiksanya dengan kesakitan terlalu lama."
Ranggapane menggunakan kalimat khiasan. Ia menggambarkan kekuasaan Majapahit adalah seekor kerbau. Bila ingin mengambil kekuasaan terhadap Majapahit. Harus memotong titik terpenting dari Kerajaan itu. Agar tidak menimbulkan kerusakan terlalu besar dan berlarut larut. Ia menyindir Jingga yang sibuk memerangi prajurit di bawah. Berapa banyak nyawa yang dibunuh Jingga, namun usahanya itu tidak merubah keadaan semakin baik. Lain bila membunuh satu orang saja, yaitu Raja. Maka kendali perubahan akan berada di tangannya.
Ranggapane mengamati raut wajah Jingga, yang terlihat berpikir mengurai pergulatan di batinnya.
"Masuk akal," kata Jingga akhirnya.
"Pangeran butuh senjata apa?"
"Apa saja,"

Ranggapane pamit keluar, berjanji segera kembali untuk melaksanakan rencananya. Jingga jawab dengan anggukan kecil.

Jingga kembali merenung memikirkan seluruh kejadian yang terjadi. Rasa perih oleh sepi dan bersalah kepada Lencari kembali menyergap dadanya. Jingga menepuk nepuk kepalanya dengan keras. Ia membodohkan dirinya yang teledor menjaga keselamatan Lencari.

Jingga pikir setelah puas menumpahkan isi hati saat persidangan tadi. Ia sudah siap untuk dihukum mati saat itu juga. Kerinduan untuk menyusul Lencari dan tetap berkorban demi kedamaian Blambangan menjadikannya kematian seperti langkah yang harus Ia ambil. Tak ada ketakutan sedikitpun di matanya.

Jingga tidak mengira untuk matipun butuh proses berlarut larut. Saat menunggu proses itu, Ia terkejut mendengar ajakan Ranggapane untuk memberontak. Awalnya Dia pikir Ranggapane memancingnya saja. Namun setelah sekian lama mendengar penjelasan Ranggapane, Jingga mulai yakin kalau Ranggapane serius untuk menumbangkan kekuasaan Raja Wikramawardhana setelah beberapa kali berani bicara tidak hormat sedikitpun kepada Raja.

***

RANGGAPANE

Raden Ranggapane awal masuk keprajuritan saat terjadi perang bubat. Perang dimana menjadi titik balik dari seorang Mahapatih yang sangat Ia kagumi. Mahapatih Gajahmada. Saat melihat proses kejatuhan Mahapatih Gajahmada sampai meninggalkan istana untuk menyepi di sebuah daerah sekitar Pamotan. Saat para pasukan Bhayangkari bentukan Mahapatih tidak mendapat tempat di Wilwatikta. Raden Ranggapane tiba tiba merasa kehilangan panutan, kehilangan pegangan dalam mengabdi ke negara.

Kehilangan Mahapatih Gajahmada, disusul mundurnya Laksamana Mpu Nala yang menguasai lautan Nusantara. Membuat prajurit Majapahit kehilangan sosok panutan, juga nilai nilai yang ditanam mereka kedalam pasukan, semuanya seolah runtuh. Para Prajurit kini melihat nilai lain yang lebih berkuasa. Nilai politik dan kekuasaan. Orang sekaliber Mahapatih yang sangat berjasa kepada Majapahit, harus hancur oleh satu kesalahan saja. Tidak hanya diberhentikan. Bahkan Mahapatih harus tinggal menyepi di hutan pemberian Raja. Ini kalimat halus sebagai tahanan rumah dan tidak boleh berhubungan dengan dunia luar. Ia harus terasing dari dunia yang dibangunnya. Dari pasukan yang dibina dan dibentuknya.

Sejak pengasingan itu. Gajahmada seperti hilang ditelan bumi. Bahkan sampai kematiannya tidak diketahui, kapan dan dimana. Gajahmada benar benar dibunuh sebelum mati. Kesalahan bagai setitik racun yang jatuh kedalam kuali jasa. Merusak kemurnian kebaikan selama ini. Gajahmada tidak hanya diasingkan. Semua ajarannya selama membentuk mental pasukan perlahan dihilangkan. Kitab kitab yang berhubungan dengan pemikiran Gajahmada disimpan, diganti dengan kitab kitab karya tokoh lain yang dianggap setara. Ajaran tentang 18 kepemimpinan Gajahmada juga perlahan dihilangkan dari prasasti prasasti di kasatriyan. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai keterikatan prajurit Majapahit sepeninggal Gajahmada.

Jiwa besar Gajahmada saat diasingkan, membuat para pengikutnya hanya bisa menangis dan prihatin. Kalau berkehendak, Gajahmada bisa saja mengerahkan pasukannya mengambil alih kekuasaan Majapahit. Bagi pengikutnya, Gajahmada di korbankan oleh persaingan politik di dalam kalangan istana. Gajahmada disalahkan karena berusaha menyatukan seluruh tanah jawa dalam satu panji Majapahit. Sedangkan Raja menyalahkan Gajahmada karena kematian kekasih hatinya. Padahal kalau diukur sebesar apa pengorbanan yang dilakukan oleh Gajahmada dan para prajurit dibawah komandonya. Penderitaan Raja tidak ada apa apanya.

Memang tidak terjadi pemberontakan oleh pengikut Gajahmada. Namun mereka mengikuti jejak Gajahmada, mengasingkan diri dari keikutsertaan urusan negara lagi. Banyak dari mereka kembali ke desa desa, ke gunung dan pulau pulau kecil menjadi orang desa, pertapa atau apa saja yang bisa menjauhkannya dari urusan negara.

Seketika prajurit Majapahit banyak kehilangan tokoh tokoh ksatriya. Banyak jabatan penting dan strategis kosong ditinggalkan para pengikut Gajahmada. Dan langsung diganti oleh orang orang yang kualitasnya jauh dari klasifikasi yang dibuat Gajahmada dalam struktur keprajuritan. Baik kemampuan maupun mentalnya. Kini Prajurit Majapahit mirip prajurit Jompo. Mereka berdiri tegak dengan prestasi pendahulunya. Kisah kisah lama. Sedang didalamnya terjadi pembusukan.

Kejadian demi kejadian itu membentuk Ranggapane yang awalnya idealis menjadi praktis. Cita cita prajuritnya tetap demi kejayaan Majapahit. Namun caranya Ia ubah sendiri. Ia harus bertahan di dunia yang tidak menentu itu.

Sebagai prajurit yang cerdas dan digjaya. Peperangan demi peperangan sukses Ia menangkan bersama pasukannya. Karirnya cepat melesat. Tapi baginya itu tidak cukup. Ia harus membentuk pasukan dan jaringan yang tunduk kepadanya diluar struktur perintah yang sudah ada.
Diam diam Ia mengikuti beberapa kelompok dalam tubuh keprajuritan. Sudah bukan hal aneh, sepeninggal Mahapatih Gajahmada. Kelompok kelompok dalam keprajuritan mulai tampil tanpa rasa takut. Antar kelompok itu berebut posisi penting dalam struktur keprajuritan. Bela negara bergeser menjadi bela kelompok. Aturan dan norma digunakan sebagai kedok pemanis nafsu serakah mereka. Tapa,laku, puasa yang umum dilakukan prajurit semasa Mahapatih Gajahmada, kini mulai kehilangan makna. Para petinggi melakukan itu hanya pencitraan didepan publik. Sementara mata dan perutnya yang penuh nafsu tidak bisa berdusta.

Dalam mencari pengikut dari rekan sejawatnya, Ia sepenuh hati menjaga kekompakan pasukan. Setiap ada kesalahan rekan rekannya, Ia yang maju kedepan memberikan alasan atau apapun agar rekannya tidak mendapat sangsi atasan. Pasukannya jadi sangat setia kepadanya karena merasa dilindungi.

Ranggapane juga selalu bersikap sebagai penyelamat rekan rekannya yang sedang mengalami masalah. Mereka yang terkena kasus sampai pemecatan, ditampung Ranggapane menjadi kaki tangannya. Mereka kemudian diberi tugas tugas khusus yang tidak bisa dilakukan di kesatuan.
Kapada atasan, Ranggapane bersikap seperti cantrik yang setia. Apapun Ia lakukan tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan Ia mendapat julukan sebagai anjing kampung. Anjing yang terkenal setia meski tuannya sangat tidak layak diperlakukan seperti itu.

Dengan sikap seperti anjing kampung, Ia membantu atasannya dalam segala hal, termasuk dalam pekerjaan pekerjaan buruk. Hasil dari sikapnya itu, membuat dirinya menjadi rebutan para senopati. Dengan keahliannya menempatkan diri, Ranggapane bisa menjalin hubungan dengan seluruh Senopati itu. Disamping itu Ia mendapat bayaran yang lebih dari cukup atas bantuannya melakukan pekerjaan pekerjaan kotor itu.
Uang itu Ia simpan dan digunakan untuk membiayai pasukannya, baik pasukan gelapnya maupun pasukan di kesatuannya. Sementara untuk dirinya sendiri tidak Ia pentingkan.

Ranggapane mulai diajak hadir dalam acara acara khusus pejabat elit keprajuritan bersama Senopati yang Ia kawal. Di lingkungan itu, Ia bisa berkenalan dengan pejabat pejabat berpengaruh di Majapahit. Ranggapane sejatinya muak melihat perilaku mereka yang suka berpesta dan berfoya foya. Tak ada suri tauladan sama sekali. Sekuat tenaga Ia bersikap manis menanggapi ucapan ucapan kotor dari mulut mulut mereka yang mabuk. Ucapan kebencian, nafsu berahi, amarah, makian. Semua Ia dengar dengan sabar. Ranggapane hanya fokus mengumpulkan cacat dari mereka mereka yang hadir dalam pesta. Informasi yang bisa Ia gunakan untuk menjadikan mereka berhutang budi kepadanya. Dengan informasi itu, Ia bisa mengadu domba antar pejabat yang diam diam berseteru. Setelah mereka bertengkar, baru Ranggapane mendekati mereka masing masing, menawarkan perlindungan sampai membunuh rivalnya. Semua itu Ia lakukan dengan sangat rapi. Sehingga banyak yang berhutang jasa kotor kepadanya dan tidak merasa bahwa sejak itu pejabat pejabat itu sudah dalam genggamannya.

Kabar tentang Ranggapane sampai juga ke dalam kalangan istana. Bahkan Raja sendiri menginginkan Ranggapane menjadi pimpinan Bhayangkari atas saran banyak pihak. Saat bertugas menjadi pimpinan Bhayangkari inti penjaga Raja. Ranggapane menunjukkan kesetiaannya melebihi siapapun. Julukan Anjing penjaga Raja tersemat kepadanya. Tanpa mengenal lelah dan takut, Ia memeriksa semua potensi ancaman dari orang orang disekitar Raja. Dengan ini Ia mempunyai banyak informasi tentang siapa siapa yang berada di istana. Bila menemukan potensi ancaman, atas ijin Raja, Ranggapane tanpa ba bi bu langsung menindak. Bila tidak bisa diselesaikan dengan cara hukum yang berlaku. Ranggapane menggunakan pasukan bawah tanahnya untuk menyelesaikan kasus itu. Otomatis Raja dan keluargannya bisa hidup tenang tanpa gangguan dari kalangan istana sendiri.

Dengan semakin bertambahnya usia. Ranggapane selanjutnya diangkat menjadi Wredamenteri keamanan kerajaan, sebagai penasehat Raja dan telik sandi. Jabatan yang membuat Ia bisa menyusupkan pengaruh dan matanya dimana saja.

Ia kemudian membentuk unit unit usaha dalam keprajuritan. Para prajurit yang dianggapnya loyal diberi kekuasaan mengelola lahan lahan potensial untuk kas kesatuan. Seperti tambang emas, kapur barus. perkebunan dan pertanian. Unit usaha ini juga membuat jasa pengawalan untuk barang dan pejabat yang membutuhkan. Ini dilakukan untuk kesejahteraan Prajurit yang banyak tersebar diseluruh Nusantara.

Lama lama prajurit yang dibentuknya menjadi pengusaha itu semakin tercebur dalam dunia bisnis, mereka meninggalkan dunia Keprajuritan dan fokus mengelola lahan lahan konsesinya. Banyak dari mereka menjadi pengusaha ternama di Majapahit. Keuangan yang mereka kelola bahkan bisa mengatur daerah daerah target mereka untuk patuh pada aturan yang mereka inginkan. Yang paling berhasil adalah Dutamandala.

Meski menjabat posisi yang strategis, Ranggapane tidak mengubah sikapnya kepada siapa saja, Ia bersikap sebagai anjing kampung kepada pejabat lain. Meski diluar, namanya bergaung keras sebagai orang kuat dan disegani di Majapahit. Namun tidak banyak yang tahu bagaimana kiprahnya sehingga Ia bisa seperti itu. Dalam setiap urusan, setiap terdengar namanya diucapkan salah satunya, mereka tidak berani bermain main dengan urusan itu.

Sebetulnya, dengan kekuatan dan pengaruhnya yang ada, Ranggapane bisa dengan cepat mengambil kekuasaan. Ia punya segalanya. Kesetiaan para senopati dan prajurit yang telah dibantu karir dan keselamatan mereka dari kasus kasus pribadi. Para pejabat yang dibantu mendapatkan jabatan. Para pengusaha yang banyak dibantunya dalam menjaga keamanan mereka. Yang tidak Ia punya adalah legitimasi. Dirinya tidak memiliki darah keturunan Sang Rama Wijaya. Pendiri Majapahit. Gelar Radennya itu berasal dari Keluarga Daha. Bila Ia mengambil alih kekuasaan, Ia harus membuat dinasti baru dan mengakhiri dinasti Rama Wijaya.

Dalam peperangan Paregreg, Ranggapane dari belakang layar amat berperan dalam menentukan model peperangan antara kedua kubu sama sama keturunan pendiri Majapahit itu. Dengan jaringan telik sandi yang Ia susupkan ke Pamotan dan pembentukan opini di kedua kubu bahwa ini peperangan keluarga, tidak perlu ada Pasukan diluar pasukan keluarga yang ikut peperangan.

Opini itu banyak diterima kalangan yang tidak suka peperangan itu terjadi. Para panglima perang yang tidak ada hubungan keluarga dengan pihak Raja di ketiga kesatuan besar memilih melepaskan diri dari keterlibatan peperangan Paregreg itu. Menurut pandangan yang berkembang, peperangan itu menjadi peperangan yang adil, tidak melibatkan kekuatan lain sehingga menahan peperangan itu tidak berkembang dan meluas kemana mana.

Padahal yang ada di pikiran Ranggapane, dengan peperangan kalangan keluarga Raja sendiri. Ini sama dengan menghabiskan anak keturunan Raja Majapahit tanpa harus bersusah payah turun tangan sendiri. Selama ini mereka kerjanya hanya enak enakan rebutan jabatan dan menikmati uang pajak rakyat saja tanpa diimbangi kemampuan dan sumbangsih yang jelas. Ranggapane sering menahan rasa muak bila harus berhadapan dengan petinggi petinggi kerajaan yang tidak becus memimpin. Mereka menjadi petinggi oleh garis keturunan, bukan oleh kemampuan. Sok tahu, ngeyel dan mudah tersinggung. Bila kena masalah, main lempar tanggung jawab. Jadi dengan peperangan ini, Ia gembira bisa mengurangi orang orang yang menurutnya tidak berguna itu.

***

Saat tengah malam, datang sepasukan prajurit menemui Jingga. Dari pakaiannya, mereka sama dengan pasukan yang bersama Ranggapane. Jingga mengamati dalam gelap, Ranggapane tidak bersama pasukan itu.
"Pangeran, mari," ajak salah seorang prajurit. Sepertinya Ia pemimpin kelompoknya. Prajurit itu memberikan Jingga setelan pakaian yang sama dengan yang dikenakan prajurit itu. Jingga menerima dan cepat mengenakannya. Sejenak kemudian, Jingga sudah berubah menjadai salah seorang prajurit Majapahit.

Dengan tenang mereka bergerak keluar gedung tahanan. Jingga berada ditengah barisan. Beberapa kali pasukan itu berpapasan dengan pasukan lain yang berjaga. Mereka berhenti dan saling memberi hormat ala prajurit. Tak ada yang peduli dengan keberadaan Jingga ditengah tengah barisan itu. Setelah berjalan sekian lama, pasukan itu sampai di dekat kediaman Bhree Matahun yang saat ini sudah resmi menjadi permaisuri Raja.
"Kita masuk," kata pimpinan prajurit. Jingga mengangguk, mengikuti langkah pimpinan Prajurit itu memasuki kawasan kaputren. Mereka berjalan tanpa ada hadangan penjaga. Para penjaga terlihat tertidur pulas. Jingga menduga mereka diracun dengan obat tidur. Berarti sudah ada pasukan pembuka jalan.

Dengan mengendap endap pasukan kecil itu memasuki kediaman Bhree Matahun. Dari tempat aman, mereka mengamati kedalam.
"Disana Prabu sedang mengumbar nafsu," bisik kepala Prajurit itu ke telinga Jingga. Jingga berdebar mendengarkannya, membayangkan perasaan Ratna malam ini. Juga membayangkan kemungkinan kemungkinan buruk yang bisa menimpanya malam ini.
"Kapan aku maju?" Tanya Jingga.
"Sekarang pun bisa,"
"Baik,"
"Kami tunggu di luar,"
Jingga mengangguk beringsut maju meninggalkan pasukan yang mengawalnya tadi.
Dengan gerakan cepat, Jingga sudah masuk kedalam kediaman Bhree Matahun. Aroma harum dan hangat khas perempuan memenuhi ruangan. Aroma yang biasa dibakar untuk ratus para putri putri kaputren.
Lalu dimana para dayang dan penjaga Raja. Mengapa begitu lenggang? Apakah sudah dikondisikan oleh Ranggapane. Sebab untuk sebuah ritual malam pertama Raja. Di depan bilik pelaminan, biasanya berkumpul para dayang dan pengawal khusus serta pimpinan keagamaan yang akan mengambil kain percikan darah pertama pengantin perempuan. Kain itu kemudian dibawa untuk upacara kesuburan.

Tanpa banyak kesulitan, Jingga sudah berada didalam. Secara langsung melihat Raja yang terlelap tidur di sisi Ratna, sepertinya kelelahan oleh acara yang padat hari ini. Ratna sendiri sepertinya tidak tidur. Wajahnya terlihat sembab. Jingga menitikkan airmata merasakan pengorbanan batin Ratna.

Tak ingin terganggu oleh perasaan. Jingga bergerak cepat kearah tempat tidur. Ia harus menyelesaikan rencananya secepatnya. Jingga langsung menggunakan kemampuan tertingginya. Gerakan Jingga amat cepat. Ia menotok titik pingsan pada tubuh Raja dan Ratna. Tak ada perlawanan sama sekali. Raja yang biasanya memiliki aji aji dan senjata pusaka. tidak dibawa serta di malam pertamanya. Mungkin Ia ingin menunjukkan sikap damai dengan Ratna dengan tidak membawa senjata senjata yang berbahaya agar Ratna tidak merasa terancam. Raja dan Ratna pingsan tanpa tahu apa yang terjadi. Jingga lantas membungkus tubuh mereka dengan kain selimut. Jingga lalu melukai tangannya. Darah mengucur deras. Dengan darah itu, Jingga mengotori selimut Ratna dan Raja yang pingsan didalamnya.
Raja dan Ratna Jingga panggul di kanan dan kiri pundaknya.
Dengan gerakan ringan dan cepat. Jingga bergerak keluar. Diluar candi bentar Kaputren, Jingga sudah ditunggu pasukan yang mengawalnya tadi.
"Sudah selesai!" Kata Jingga.
Mereka langsung memberi penghormatan kepada Jingga.
"Aku sembunyikan dulu mayat Raja dan Bhree Matahun ditempat aman." Kata Jingga langsung meloncat pergi tanpa bisa dicegah para prajurit yang mengawalnya tadi. Mereka lantas bergerak melanjutkan sesuai rencana yang dibuat.

Malam itu terjadi kehebohan. Banyak prajurit berkeliaran di Istana. Tidak jelas siapa lawan siapa kawan. Semua kediaman pejabat dikepung dan dilarang keluar oleh pasukan elit istana. Sementara pasukan yang berada diluar istana bersiaga penuh di sekeliling istana. Mereka hanya berjaga tanpa tahu apa yang terjadi di dalam istana.

"Ada apa ini?" Teriak Mahapatih marah ketika kediamannya juga dikepung.
"Maaf Mahapatih, kami hanya menjalankan prosedur. Meminimalisir bahaya yang ada."
"Maksudnya apa?"
"Terjadi kudeta. Raja dibunuh oleh Jingga."
"Kabar dari mana? Bukankah Jingga sedang ditahan?"
"Iya, ada bantuan orang dalam istana."
"Lalu mengapa saya dihalang halangi mengatasi situasi ini?"
"Maaf Mahapatih, kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?"
"Senopati Bhayangkari."
Mahapatih hanya bisa menahan amarah, mengetahui dirinya dilarang keluar rumah oleh pasukan pengawal Raja. Ia memilih menurut karena dalam kondisi seperti ini, memang Senopati Bhayangkari punya wewenang mengendalikan situasi istana disaat chaos. Bila melawan, Ia bisa dituduh bersekongkol dengan Jingga.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
muntarzoon dan 36 lainnya memberi reputasi
profile picture
lukakelana
Terima kasih update-nya Ki
Wish you all the best
🙏🏾
profile picture
sentinelprime07
matiin aja sekalian tuh raja paman
bikin susah orang blambangan aja
profile picture
marsupilami50
3 hari 4 malam marathon bacanya,... Betul-betul mengaduk-aduk emosi... Diangkat ke langit dihempaskan ke dasar bumi... Nggak heran kondisi negara kaya gini,dari jaman dulu aja sudah penuh intrik.... Ditunggu update nya Paman...
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di