alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
KKN Dalam Olahraga Indonesia
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d7ec8b5a7276824762b1ab2/kkn-dalam-olahraga-indonesia

KKN Dalam Olahraga Indonesia




Picture: CNNIndonesia


Praktek Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) seolah sulit terlepas dari bangsa Indonesia. Bahkan dalam dunia olahraga, praktek KKN kian menjamur. Ibarat sebuah pohon, KKN telah mengakar dan sulit dimusnahkan dari bumi pertiwi.

Berdasarkan pengalaman ketika aktif dalam dunia olahraga. Saya akhirnya memahami bagaimana olahraga di Indonesia sulit berkembang. Padahal sebagai sebuah bangsa dangan penduduk terbanyak yakni 200 juta lebih. Namun rupanya SDM kita belum dilengkapi kekayaan intelektuaitas dan mentalitas juara.

Dari sekian banyak generasi muda yang terjun dalam dunia olahraga. Hanya segelintir dari mereka yang punya kekayaan intelektualitas dan fisik mumpuni sebagai syarat atlit profesional. Berikut akan saya jabarkan secara singkat bagaimana KKN secara tak langsung merusak sendi-sendi olahraga Indonesia.

A. Korupsi
Quote:


Kepengurusan PSSI sebelum diambil alih pemerintah menjadi sorotan masyarakat tentang lembaga olahraga yang laling banyak terlibat praktek korupsi. Bagaimana tidak isu jual beli atlit dan rekayasa skor mewarnai dunia sepak bola kala itu.

Spoiler for Berita Korupsi dalam tubuh PSSI:


Kesempatan para praktisi olahraga (manager tim/pelatih) biasanya dilakukan saat ada event pertandingan. Biasanya manager tim akan dengan mudah memotong anggaran makan, transportasi dan lain-lain untuk kepentingan pribadinya. Tentunya dengan manipulasi proposal pengajuan dan laporan pertanggung-jawaban.sumber

Korupsi paling sederhana yang sering dilakukan para atlit adalah korupsi waktu. Waktu yang saya maksud adalah waktu latihan. Banyak atlit yang meremehkan kedisipinan waktu ini. Tak jarang dengan sengaja beberapa atlit tak datang latihan rutin atau datang terlambat latihan.

Mungkin bagi sebagian orang, datang terlambat adalah sebuh kewajaran terlebih jam Indonesia terkenal dengan jam karet. Namun, rupanya kebiasaan ini bisa sangat merugikan individu dan tim. Pertama, atlit yang terbiasa telat datang latihan dan sering tidak latihan performa saat bertanding pastilah sangat buruk. Kedua, atlit yang suka terlambat latihan akan mengganggu proses latihan tim. Apalagi jika ada atlit lain yang mengikuti ulah nakal atlit tak bertanggung jawab ini.

Biasanya jika ada atlit yang tak bertanggung jawab akan jadwal latihan serta merta akan dikeluarkan dari tim. Hal inilah yang juga mendasari saya dahulu mencoret beberapa nama atlit dari tim Pencak Silat POMDA Universitas Negeri Malang. Jika mereka mengajukan protes, daftar hadir adalah sebuah bukti otentik ketidak-disiplinan mereka.




B. Kolusi




Quote:


Biasanya jika dalam pertandingan panitia pelaksana dan wasit juri didominasi oleh salah satu perguruan pasti sulit dari perguruan lain untuk bisa menang. Misal dalam kursi wasit juri terdapat 3 juri dari perguruan pencak silat A, maka bisa dipastikan pemenang adalah atlit dari perguruan tersebut. Padahal permainan atlit dari perguruan lawan bisa jadi lebih bagus.

Untuk mengantisipasi kecurangan diatas, pelatih/manager yang mendampingi turut serta menghitung skor perolehan atlitnya. Jika dirasa ada jatuhan atau skor tendangan tak dimasukkan wasit, maka pertandingan bisa dihentikan oleh pelatih lawan untuk pengajuan protes. Namun tak semua pelatih atau manager tim mengerti akan hal ini.

Tak heran jika banyak atlit Indonesia lebih memilih jadi atlit luar negeri. paling sering saya ketahui atlit Pencak Silat menjadi atlit beladiri lain di negara lain. Seperti halnya: salah seorang kenalan yang memutuskan menjadi atlit di Thailand. Selain punya bayaran lebih banyak. Mereka lebih dihargai disana.

Sebagai atlit pencak silat berpostur tubuh pendek sering kali saya merasa dianak-tirikan saat pertandingan. Kebanyakan juri melihat seorang atlit dari tinggi badan dan cantik wajahnya. Terlebih untuk kategori seni.

Pernah sekali saya yang memang pendek mendapat pukulan di wajah. Wasit yang bertugas bukannya memberi peringatan malah mengingatkan saya untuk tidak menunduk.

"Wey, saya bukan menunduk emang saya yang pendek." emoticon-Ngakak

Padahal harusnya lawan saya yang mendapat teguran atau setidaknya peringatan yang berakhir pada potongan nilai. Hal itu sangat merugikan terlebih jika ingat betapa beratnya berlatih untuk bisa ikut even pertandingan.

Quote:


C. Nepotisme

Picture: rumah inspirasi


Quote:

Saya rasa praktek kolusi sudah banyak dilakukan beberapa aktifis dunia olahraga. Atlit yang berprestasi dikalahkan oleh anak-anak dari kenalan sang manajer tim atau kalah sama orang berduit.

Praktek kolusi tingkat kecil yamg sering saya temui adalah pelatih yang cenderung berpihak kepada anaknya dari pada kepada muridnya. Sebagai contoh seorang pelatih kenalan lebih memilih anaknya bertanding di kelas A Putri dan menyingkirkan atlit di kelas itu yang kemampuannya lebih mumpuni. Akhirnya, anaknya menderita kekalahan yang memalukan.

Dari kejadian diatas bisa saya simpulkan, persaingan tak sehat sangat merugikan dunia olahraga Indonesia. Alhasil di tingkat yang lebih tinggi, banyak atlit tingkat nasional yang kemapuannya kurang mumpuni diikut-sertakan dalam event nasional dan internasional. Sehingga tidak bisa meraih prestasi. Alhasil, selain jadi beban juga bikin malu negeri ini.

Ada pertanyaan yang selalu mengganjal pikiran saya. Seperti kita ketahui dalam dunia sepak bola banyak pemain dari luar negeri yang didatangkan untuk meramaikan klub sepak bola yang ada. Rata-rata dalam satu klub olahraga terdapat 2 hingga tiga pemain asing. Pertanyaan saya: Apakah pemain asing rekrutan tersebut adalah best the best dari negerinya? Jangan-jangan mereka hanya atlit yang tak laku di negerinya.

Alih-alih mengambil pelatih dan pemain asing yang tentunya sangat mahal bayarannya. Terlebih kendala bahasa akan menghambat komunikasi dan koordinasi antara atlit dan tim. Mungkin sekedar untuk bertukar pengalaman latihan tak masalah. Namun untuk kontrak beberapa musim pastinya akan merugikan atlit lokal

Saya lebih setuju meningkatkan SDM atlit Indonesia dengan gizi yang cukup, latihan rutin dan fasilitas lain yang menunjang latihan mereka. Banyak atlit Indonesia yang lebih berpotensi dan lebih berbakat dari pemain asing itu.

Khawatir saya, praktek KKN dalam dunia olahraga khususnya Pencak Silat bisa menjadi bom merang bagi bangsa ini. Bagaimana jika ketidak-jujuran para praktisi Pencak Silat merugikan kita di event Sea Games atau Asean Games. Malu rasanya jika Indonesia, pemilik asli Pencak Silat harus kalah dengan negara lain.

Dari sini mari kita berbenah agar olahraga Indonesia bisa lebih maju dan berjaya di mata dunia. Hentikan KKN sekecil apapun itu. Bukan hal mustahil kita bisa terbebas dari KKN terlebih dalam dunia olahraga. Tentunya semua itu butuh pengorbanan dan kerja keras seluruh lapisan masyarakat. Dan tak kalah penting jujurlah dan junjung tinggi spotivitas.

Jika bukan kita yang berbenah, siapa lagi?


Sekian thread saya kali ini. Terima asih atas perhatian Agan Sista.



Sumber Pengertian KKN
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Bibalinhgum dan 18 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Quote:


Bener, di dunia kerja pun seperti itu. Bahkan kebanyakan cpns sering kalah sama orang dalam.
profile picture
diko.sgn


jadi kalo misal punya orang dalam yg awalnya ijazah s1 bisa auto jadi s2 emoticon-Leh Uga
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di