alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d11ef0caf7e9371d628b665/bos-aneh-dan-nyebelin

Bos Aneh dan Nyebelin

Kode Minta Dipuji

Hai, hai, apa kabar. Kali ini Lori bawa cerita baru lagi nih. Mohon maaf cerita horor pending dulu. Baru nggak mau berurusan dengan hantu dan kawan-kawan dulu ya. Mohon pengertiannya.

Semoga kaskuser nggak punya bos yang nyebelin seperti cerita di bawah ini.

Selamat membaca, jangan lupa subscribe dan share bila suka dengan cerita ini. Terima kasih


...


Sumber : pixabay.com


Isti membuka pintu, hawa dingin menyergap membuat bulu kuduk berdiri. Ruangan laboratorium memang selalu full AC hingga membuat karyawan merasa seperti di dalam kulkas. Dia bergegas duduk di kursi plastik warna merah yang tersedia di tengah-tengah ruangan.

Terlihat Vela sedang mematut wajah dan merapikan rambut. Bos serius membaca buku laporan dan tidak memperhatikan anak buah yang mulai duduk diam di sekelilingnya.

"Bos, sudah ngantuk nih. Ayo cepat!" pinta Feny sambil menutup mulut. Sudah tiga kali menguap tapi bos masih belum juga memimpin ritual pergantian dinas.

Wito mengangkat kepala dan bertemu pandang dengan Isti. Bibir melengkungkan senyum membuat cewek yang duduk tepat di depannya menjadi salah tingkah.

"Wah, rambutnya Mbak Isti bagus ya," puji Wito.

Raut muka Isti berubah keruh. "Bos, muji atau nyindir nih? Rambut keriting megar kaya singa gini dibilang bagus! Bilang aja kalau nggak rapi, suruh kucir. Bentar lagi ya, Bos. Biar kering dulu, habis keramas nih."

Wito mengangguk-angguk. "Tapi itu rambutnya beneran bagus lho. Setiap hari berubah modelnya."

Perkataan itu makin membuat Isti cemberut. "Si Bos ini maksudnya apa sih? Ya, sudah ta rapikan saja."

Isti merogoh saku untuk mengeluarkan karet gelang dan mengikat rambut tanpa menyisirnya terlebih dahulu. Melakukannya dengan setengah hati karena tahu kalau rambut separuh kering akan tampak lebih lepek nantinya.

"Bos," rengek Feny.

"Ya, sudah. Mari kita berdoa." Wito menutup mata, mengatupkan kedua tangan lalu mulai memimpin doa.

Setelah mendengarkan serah terima dari Feny, mereka berdiri dan menuju posisi masing-masing.

"Mbak Vela matanya bagus ya. Berbinar-binar." Kali ini Vela yang tampak bingung karena mendengar pujian dari si Bos yang tidak sewajarnya.

"Mataku bagus? Nggak salah Bos? Is, si Bos habis minum obat apa sih? Kok gini amat?" tanya Vela pada Isti yang bersandar pada pintu masuk.

Isti menahan senyum sambil mengangkat bahu. "Entahlah."

Beberapa jam berlalu dengan cepat karena banyak pasien yang periksa laboratorium hari itu.

"Mbak, tau nggak..." tanya Wito tiba-tiba.

Isti terdiam, menyimak dan menunggu kelanjutan pertanyaan itu tapi si Bos tidak meneruskan malah berjalan melewatinya dengan wajah polos tanpa dosa menuju ke alat kimia.

Pandangan Isti mengikuti gerak-gerik si Bos tapi tidak ada tanda-tanda akan meneruskan pembicaraan.

Isti menghembuskan napas panjang. Kembali fokus pada pekerjaan menerima pasien yang mau periksa.

Cewek itu mengenakan masker dan juga sarung tangan sebelum membuka pintu untuk mengambil sampel.

Setelah menyelesaikan pengambilan darah, dia masuk ke laboratorium dan langsung melihat si Bos sudah duduk di depan meja administrasi.

"Mbak, tau nggak..."

"Nggak," jawab Isti dengan cepat dan keras hingga Wito terlonjak karena kaget.

"Galak banget sih, Mbak. Kan aku cuma mau tanya."

"Habisnya nanya nggak lengkap sih," semprot Isti.

"Mbak, tau nggak? Siapa yang punya mata paling indah?" Wito kembali bertanya, kali ini sudah lengkap.

"Nggak tau, emangnya siapa?" Suara Isti sudah kembali lembut, tidak keras seperti tadi.

Wito tersenyum lalu berjalan melewati Isti dan masuk ke dalam kantornya.

Isti hanya bisa menepuk dahi melihat kelakuan si Bos.

"Bos! Dicari Cinta." Vela berteriak sekuat tenaga dari ruang persiapan sampel yang terletak di belakang.

Senyum Wito semakin lebar membuat Isti curiga. Wito dan Cinta berbincang-bincang di pintu belakang. Beberapa saat kemudian terlihat pembicaraan sudah berakhir.

"Sudah dulu ya, Mbak Vela, Mbak Isti," pamit Cinta.

Apa yang dilakukan oleh Cinta berikutnya membuat Isti terkesiap. Cinta mencium tangan Wito sebelum pergi.

"Owh, punya pacar baru toh," sindir Isti sambil bersedekap.

"Sekarang aku tahu siapa pemilik mata yang paling indah, pasti si Cinta kan?" lanjut Isti, jari telunjuk diarahkan ke Wito.

"Kok tahu?" Senyum Wito tidak hilang-hilang.

Vela ikut menggoda Bos yang sedang kasmaran. "Cinta to? Cie, cie si Bos."

"Aku tahu juga siapa yang rambutnya bagus dan berubah-ubah modelnya. Pasti Cinta juga kan? Tadi pagi itu ceritanya mau ngode kalau sudah punya pacar yang cantik ya?" Isti mengibaskan rambut. Dia memang memiliki rambut keriting yang mirip dengan Cinta.

"Seharusnya bilang saja terus terang Bos. Jangan bikin kita jadi takut dengan pujian aneh-aneh itu," saran Vela.

Isti dan Vela kompak geleng-geleng kepala melihat Bos yang sedang berbunga-bunga. "Dasar si Bos," kata mereka bersamaan dengan kompak.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 46 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Bos Aneh Dan Nyebelin

Bukan Kencan

Part Sebelumnya


Sumber : pixabay.com


Lori ingatkan sekali lagi ya kalau ini bukan kisah nyata jadi jangan baper 😊

Jangan lupa share link jika kamu merasa cerita ini layak untuk diketahui orang lain.
Terima kasih emoticon-Kiss

...

Isti memutar bola mata melihat kelakuan aneh si Bos. Tiap kali dia satu langkah mendekat, eh Wito juga menjauh satu langkah.

Mereka memang jalan bersebelahan tetapi seperti orang yang bermusuhan saja. Pada akhirnya cewek itu hanya membiarkan kelakuan sang Bos sambil berharap kalau cowok itu tidak lagi jaim ketika berhadapan dengan mesin-mesin game.

Isti melayangkan pandang ke bawah, kembali menghela napas. "Nggak punya celana jeans apa, Bos? Masa pakai celana kain."

"Punya, di rumah."

"Mumpung di sini gimana kalau habis main kutemani beli celana jeans. Dari pada wacana mulu." Isti melompat ke samping dengan tiba-tiba membuat Wito mencondongkan badan menjauh.

"Boleh juga."

"Kali ini nggak ada beli buat ponakan atau adik dan juga kakak. Beli sendiri buat njenengan."

Wito menaikkan alis, cewek satu ini memang ahli memerintah. Seharusnya dia yang jadi atasan, bukan Wito.

Isti berteriak kegirangan seperti kesetanan karena melihat mesin game. Dia menggoyang-goyangkan kartu Timezone tepat di depan Wito. Namun cowok itu hanya memandang tanpa ekspresi.

Cewek itu mundur dengan melompat kecil-kecil. Wito memasang senyum seperti biasanya karena menghadapi tingkah Isti.

Beberapa kali Isti berteriak kecewa karena gagal memasukkan bola basket ke ring. Wito hanya mengawasi tanpa ikut bereaksi.

Cewek itu sekarang sepenuhnya menghadap Wito. Seharusnya dia sudah menyangka bakal seperti ini jadinya. Bukannya ikut bermain dan bersenang-senang, cowok itu malah berdiri mengawasi.

"Jangan coba-coba mengajariku karena aku nggak percaya njenengan bisa main basket." Isti mengatakan itu untuk menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyusup karena seringai Wito. Rasa yang muncul seperti waktu seringai pertama kali dilihat di bioskop.

"Kita tanding." Wito menyambar kartu yang dipegang Isti.

Isti tersenyum lebar. "Siapa takut."

Mereka menikmati permainan ini, sesekali saling ejek dan menggoda ketika bola meleset dari target.

Isti merasakan bahu dicolek dari belakang, serta merta langsung putar badan dan memasang wajah sangar.

"Eh, Mas Reno. Sama siapa?" Raut wajah Isti melembut ketika menyadari siapa orang tersebut.

"Sendirian. Sengaja menyusul, takut kalau-kalau kamu bosan main sama Wito." Reno melirik Wito yang bergerak cepat, menyusup di antara Isti dan dirinya.

Alis Wito naik ketika memandang teman dekatnya itu. Akankah dia ditusuk untuk kedua kalinya oleh teman-teman yang sudah seperti saudara.

Reno mendorong bahu Wito hingga cowok itu menyingkir dari jalannya. Namun dia malah merasakan berat tubuhnya berpindah ke sisi kiri, terhuyung karena ada yang menariknya dengan keras.

"Hey, aku nggak tahu siapa kamu tapi jangan harap bisa mengganggu kencan mereka." Esy sudah berkacak pinggang di depan Reno.

Reno mengernyit tak suka pada cewek manis yang ada di hadapannya. Kenapa ikut campur dengan hidupnya.

"Tenang, Sayang." Reno melirik cowok jangkung yang mengelus pundak cewek itu.

Sementara Esy dan Reno melanjutkan perdebatan, Isti menarik lengan baju Wito agar cowok itu mengikutinya mundur pelan-pelan.

Isti balik badan, tetapi kerah bajunya sudah ditarik hingga pergerakannya tertahan. Dia mengumpat perlahan lalu memasang senyum paling manis.

"Tidak semudah itu untuk melarikan diri dari kami," ujar Dafam.

Esy menoleh dan mendapati cengiran lebar dari sahabatnya itu. Isti melepaskan pegangan pada lengan baju Wito lalu menghambur, melingkarkan kedua tangan ke lengan Esy.

"Aku nggak melarikan diri kok. Cuma memberi ruang aja."

"Ayo kita makan siang bersama. Kita berlima," ajak Dafam. Dia mengulurkan tangan hendak menyentuh punggung Wito, tapi Isti dengan sigap menarik lengan cowok itu hingga berada jauh dari jangkauan Dafam.

"Sama dia juga?" Esy menunjuk Reno dengan tidak suka.

Dafam mengangguk mantap. Esy mendekatinya dan bergelanyut manja.

"Kita berempat saja ya. Nggak usah tambah yang lain," rayunya.

"Aku setuju kok. Kita makan di mana," sahut Reno sambil menampilkan muka polos bayi tak berdosa.

Mereka berempat akhirnya memutuskan makan di warung sambal dekat dengan Mall Artos.

Dafam menarik kursi yang berada di samping Reno. Esy buru-buru duduk di sana.

"Yang, kok malah kamu yang duduk di situ. Bukannya kamu nggak suka sama dia?" Dafam menunjuk menggunakan dagu.

"Aku nggak mau duduk sendiri di tengah. Kamu tarik kursi yang dibelakang itu dan taruh di sini." Esy menunjuk ke bagian kosong tanpa kursi.

"Kalau begitu aku duduk di sebelah sana saja. Dekat dengan cowok-cowok jadi kami bisa ngobrol santai tentang cowok, tidak mengganggu kalian berdua." Dafam menunjuk sisi kosong yang ada di seberangnya.

Isti dan Esy teriak secara bersamaan, melarang cowok itu untuk pindah tempat. Isti bahkan menarikkan kursi dan Esy menarik Dafam hingga cowok itu terduduk.

Alis Reno terangkat melihat betapa paniknya kedua cewek itu menanggapi sikap ramah Dafam. Ketika Dafam pamit ke kamar kecil, dia mencondongkan badan.

Bibirnya berada begitu dekat dengan telinga Esy. Dia tidak peduli kalau bakal digampar oleh cewek itu karena bersikap tidak sopan.

"Cowokmu gay ya?" bisiknya kemudian.

...



Daftar Indeks bisa klik di sini.


*) njenengan = kamu
profile-picture
jiyanq memberi reputasi
Diubah oleh IztaLorie
profile picture
jiyanq
Ts nya pancen oye,weekend bukannya buat me time malah up date..emoticon-Toast
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di