alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Ambang Mati & Titik Balik (True Story)
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cffcdafa7276828cd08862e/ambang-mati-amp-titik-balik-true-story

Ambang Mati & Titik Balik (True Story)





Tangerang Selatan, Akhir Agustus 2012

Pagi itu,aku berlari tergopoh-gopoh berbarengan dengan beberapa MABA yang tidak kukenal menuju sebuah fakultas dimana pada awal september nanti aku akan mempelajari berbagai ilmu baru. Fakultas Humaniora. 

Aku masih ingat betapa repotnya membawa ransel karung goni yang kubuat asal, dimana di dalamnya terdapat seperangkat pakaian berbahan dasar kardus yang dicat kuning dan akan membuatku terlihat bodoh ketika memakainya. Pagi ini adalah hari pertama OSPEK dan aku telat.

Di depan sana aku melihat seorang pria putih kurus, berkacamata dan memasang raut muka yang dibuat sok galak. Aku dapat berkata mukanya sok galak karena setelah mengenalnya lebih jauh di semester tiga ternyata ia adalah salah satu senior yang enak dan sangat ramah. Argo namanya dan dia adalah orang pertama yang memberiku hukuman ketika memasuki dunia kuliah.

Setelahnya aku dijemput seorang pria berbadan gempal yang bernama Jamal dan seorang pria berkerudung bernama Meylia, dimana mereka berdua adalah senior yang satu prodi denganku. Setelah berbasa basi aku diantarkan kepada rekan tim ospek yang seharusnya pagi itu sudah berjumlah lima orang, jika dihitung termasuk aku.

Rekan ospek ku terdiri dari 2 pria dan 2 wanita. Orang pertama yang aku jabat tangannya adalah Baim, seorang pria humoris berbadan tegap, berkulit sawo matang dan bisa kutebak hobinya adalah bermain bola sepak dimana kemudian tebakanku adalah benar. Kemudian Lestari, seorang perempuan bawel berdarah jawa tulen dan Fika, seorang perantau asal Makassar namun perawakannya dapat dibilang mirip dengan Lestari begitupun dengan tingkat kebawelannya.

“Teman kita satu lagi mana kak?” tanya Baim kepada kak Jamal

“Lagi dijalan, katanya bentar lagi sampe” jawabnya ramah

Acara dimulai dengan doa dan setelahnya kami diperintahkan untuk memakai pakaian kardus buatan masing-masing yang terlihat konyol lalu bersama-sama meneriakan yel-yel fakultas yang sudah turun temurun digaungkan. Ekspetasiku lebur seketika ketika mengikuti ospek yang seharusnya lebih berbobot namun kenyataannya acara ini hanya mengingatkanku kepada ospek-ospek konyol ketika pada awal-awal perkenalan sekolah. Ingin rasanya kabur dan pulang saja akan tetapi acara ini adalah salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikat yang nantinya akan diperuntukan sebagai syarat wisuda.

Sampai akhirnya terdapat momen hening pada tim kami ketika orang yang ditunggu-tunggu dan merupakan bagian dari tim datang. Tinggi badannya sama sepertiku begitupun dengan warna kulitnya, namun tubuhnya gemuk, memiliki tawa aneh namun khas seperti Patrick di kartun Spongebob Squarepants dan pincang. 

Namanya Ardi, namun kami memanggilnya Patrick karena perawakannya memang mirip terlebih ia agak lamban dalam berpikir. Salah satu rumor yang aku dengar dari kak Jamal dan Meylia adalah Ardi pernah koma dan hal itu menyebabkan ia menjadi berubah seperti itu bahkan perubahannya dapat dibilang 180 derajat.

Ketika memasuki jam istirahat aku dengan beberapa rekan tim ku berpisah, Baim pergi makan siang dengan teman semasa sekolahnya yang kebetulan satu fakultas, Lestari dan Fani pergi ke masjid kampus untuk solat dimana aku dan Ardi menyusul setelahnya.

Kami saling menyender di tembok masjid yang besar dan teduh, tak banyak pembicaraan yang aku dan Ardi lontarkan usai menunaikan ibadah solat dzuhur namun berhubung penasaran maka kuberanikan untuk bertanya mengenai penyebab ia koma.

 “Gue dulu koma karena kena sabet gir” ucapnya dan mungkin ia dapat melihat raut wajahku yang seakan tak percaya. Tanpa berkata-kata lagi ia raih telapak tanganku lalu menuntunnya ke sisi kanan dahinya, disitu dapat kurasakan sebuah benjolan kecil seperti bekas luka yang ternyata adalah dua buah bekas jahitan.

“Tawuran?” tanyaku, ia mengangguk dan aku masih tak percaya acapkali melihat perawakannya.

Lantas ia raih sebuah Blackberry dari dalam sakunya. Aku disuruh mendekat kala ia membuka galeri fotonya. Disana ia memperlihatkan seorang laki-laki kurus, berbaju hitam, dan mengenggam dua buah pilok dengan berlatar belakang tembok yang sudah dipenuhi grafitti.

“Ini elo?” tanyaku, ia tidak menjawab dan malah menggeser slide galerinya ke gambar seorang pria yang sama yang tengah bermain drum, lalu ia geser lagi slidenya sampai akhirnya aku diperlihatkan gambar seorang pria yang tengah memegang gir motor dimana bagian tengahnya sudah diikatkan dengan tali tebal. Setelahnya ia kembali masukkan ponselnya ke saku celana dan mulai bercerita.

“Waktu itu luka gue sempat dijahit, tapi jahitan pertama gagal dan gak lama setelah jahitan untuk yang kedua kalinya gue sempet koma kurang lebih sampe satu setengah bulan dimana kata bokap peluang hidup gue gak lebih dari dua puluh persen” ujarnya

“Terus gimana rasanya koma sampe selama itu?” tanyaku

“Rasanya sih sama kaya  tidur biasa tapi rasanya panjang banget. Di dalam koma gue sempet mimpi kalo gue dan bokap murtad dan meluk agama lain terus gue ejek ibu gue yang masih Islam”

“Dulu, gue dibilang jago main drum dibilang jago sih engga. Tapi setiap mau main temen gue pasti pada nunggu-nungguin dan dulu tuh kalo main dobel pedal aja udah lancar. Tapi sekarang gue main satu pedal aja udah susah dan paling bisa injeknya pake kaki kiri doang. Ngomong-ngomong gue jalan pincang gini kata dokter sih karena syaraf gue ada yang rusak karena efek sabetan itu”

“Dulu gue jago sama yang namanya bikin grafitti atau desain lain, tapi waktu itu pas gue baru bangun dari koma mau nulis aja udah susah”

“Dulu badan gue gak gemuk kaya gini, tapi semenjak koma gatau kenapa ya badan gue kok bisa segemuk ini. Mungkin karena efek infusan kali ya”

“Tapi ri, dulu gue tuh cuma Islam di KTP doang kali, orang baca Al-Quran aja kaga bisa, solat juga bisa dibilang jarang tapi semenjak gue koma alhamdulillah gue udah ga kaya gitu lagi”

“Selain itu, gue juga ga nyangka kalo bisa diterima di kampus ini dan asal lu tau jurusan yang nerima gue ini adalah pilihan ketiga, Tarjamah pula lagi, kebayang gak tuh. Orang yang yang baru bisa beberapa bulan doang baca Al-Quran bisa masuk jurusan ini dan anehnya orang kampus lain sempet telepon bokap gue buat ikutin bidik misi”

“Terus waktu itu juga ada orang dari kampus lain yang nawarin gue beasiswa untuk kuliah di kampus karena desain yang gue buat bagus dan diterima disana”

Usai mendengar celotehnya lantas aku kembali bertanya.

“Menurut lu, enakan jadi lu yang dulu sebelum koma atau yang sekarang?”

“Sebenernya gue ngerasa gak ada bedanya gue yang dulu sama sekarang. Tapi gue itu dulu orangnya keras kepala tapi semenjak koma alhamdulilah teman-teman gue pada bilang kalo gue udah gak kaya gitu. Dulu gue baca Al-Quran sama sekali gabisa tapi alhamdulilah belum lama ini gue udah khatam Al-Quran. Dulu itu gue solat bener-bener jarang dan sekarang alhamdulilah solat 5 waktu udah rutin gue jalanin” jawabnya

“Terus apa lu nyesel setelah apa yang pernah lakuin sampe akhirnya kaya gini?” tanyaku lagi.

“Kalo dibilang nyesel apa gak sih, ya engga lah. Justru ini lebih baik walaupun gue gak sehebat dulu dan andaikata Allah udah gak sayang sama gue mungkin waktu itu nyawa gue udah diambil. Tapi gue sejujurnya bingung, kok bisa-bisanya ya orang yang kesempatan hidupnya dibawah dua puluh persen bisa selamat dari koma. Ya mungkin aja Allah pengen ngasih pelajaran ke gue betapa pentingnya nyawa dan memelihara hidup”

“Oh iyah satu lagi, entah perasaan atau bukan. Ini menurut gue loh ya, kalo diliat-liat gambar gue yang sekarang keliatannya lebih bagus daripada yang dulu” sambungnya.

Aku tersenyum kemudian membantunya berdiri dan kembali.

“Titik balik orang kayanya unik unik ya hahaha” candaku, Ardi spontan tertawa dengan gaya khas Patrick-nya.

Disepanjang perjalanan kembali menuju basement fakultas aku berpikir betapa ruginya apabila aku melewati kegiatan penting hari ini. Hariku yang cukup konyol terbayar impas dengan cerita pelajaran hidup yang kudapatkan siang ini.
 
-End of Story

 Sumber : Pengalaman pribadi TS dan sudah dituangkan dalam blog pribadi
 

Quote:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
goroseiblack dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh fachreal5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Quote:


Yap. Betul bangat gan emoticon-Jempol
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di