KATEGORI
KATEGORI
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4aa4e4a727684917225b16/kotak-waktu

Kotak Waktu

Quote:


PRAKATA

Di era digital sekarang, menjaga hubungan pertemanan terasa lebih mudah untuk dilakukan. Orang-orang bisa tetap saling terhubung seberapa pun jauhnya jarak di antara mereka. Namun pernahkah kita berpikir bagaimana rasanya jadi generasi yang tumbuh di era sebelum internet merajalela seperti sekarang? Tanpa media sosial, tanpa aplikasi perpesanan, dan tanpa kemudahan-kemudahan yang ada di zaman ini, bagaimana mereka akan tetap terhubung?

Sebagai bagian dari generasi yang merasakan peralihan dari era tradisional ke era modern, saya tahu betul bagaimana rasanya ‘kehilangan’ teman-teman dekat. Kalau generasi sekarang bisa dengan mudah memantau aktivitas teman melalui media sosial, kami di masa itu hanya mengandalkan surat untuk berkirim kabar. Atau sesekali menelepon, kalau ada uang lebih. Sebuah kabar dari teman lama yang berpindah kota atau negara, sungguh terasa mahal. Dan setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kami akan saling dikejutkan dengan betapa banyaknya perubahan yang dialami, atau betapa banyaknya cerita hidup yang terlewatkan. Itu pun kalau sempat bertemu kembali.

Menulis buku ini menghadirkan banyak nostalgia di hati saya. Seperti petualangan menjelajah waktu, saya mengirim diri saya sendiri menuju hari-hari yang sudah lama berlalu, namun rasanya seperti baru kemarin. Ada kehangatan dan kerinduan yang terasa sangat dekat meskipun kenyataannya sungguh jauh.

Buku ini adalah pesan rindu dari saya untuk sahabat-sahabat lama yang kini entah di mana berada. Sahabat yang dulu sama-sama berjuang menggapai mimpi. Sahabat yang dulu selalu mengisi hari-hari dengan celotehan, nyanyian, atau bahkan makian. Sungguh cepat waktu berlalu. Saya percaya kita kini sedang belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita.

Akhir kata, saya berharap buku ini bisa menjadi ‘sahabat’ yang baik untuk kalian, para pembaca. Atau setidaknya, mengingatkan kita semua bahwa di antara banyaknya hal-hal yang tumbuh dan luruh di dunia ini, hanya cinta dan persahabatan yang sanggup bertahan. Selamanya.

Tertanda,
Pudjangga Lama
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 40 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh pujangga.lama
Thread sudah digembok

BAB 11

Satu-satunya yang membuat Taka resah adalah pergerakan Iqbal yang makin gencar mendekati Keela. Dengan label sebagai ketua OSIS dan banyak dikagumi karena prestasi serta parasnya, bukan hal sulit untuk laki-laki seperti Iqbal melakukan pendekatan kepada perempuan yang diinginkannya.

Terlalu kebetulan rasanya kalau setiap hari Iqbal tanpa sengaja bertemu dengan Keela di kantin. Kalau Iqbal sudah mendekat, biasanya Taka memisahkan diri dari rombongan. Dia biarkan Dewi dan Elsa menemani Keela, sementara dia dan Gugun menyelinap di antara kerumunan murid yang berjejalan di warung gorengan. Kadang, saat Keela tidak pergi ke kantin, Iqbal yang datang ke kelas I-2. Ketua OSIS itu tampak menikmati setiap tatapan kagum dari para perempuan. Taka ingin sekali menonjok mukanya, tapi dia sadar hal tersebut tidak akan serta-merta membuatnya lebih ganteng dari Iqbal.

“Terus terang, gue khawatir sama perkembangan zaman dewasa ini,” kata Gugun pada Taka ketika mereka menyelinap ke belakang sekolah bersama beberapa siswa yang lain. Saat itu jam pelajaran kosong. Sudah lumrah bagi sebagian siswa—khususnya para siswa nakal—bahwa belakang sekolah adalah tempat favorit untuk merokok karena aman dari pantauan guru.

“Maksudnya? Bagian mana dari perkembangan zaman yang lu khawatirkan?” Taka sambil menyerahkan batang rokok pada Gugun. Asap putih tipis melayang-layang di antara mereka berdua.

“Bagian yang terdapat konflik percintaan antara lu, Iqbal, dan Keela.” Gugun menyerahkan kembali rokok kepada Taka.

Tangan Taka tertahan di depan mulut. “Gue enggak ngerti yang lu omongin.”

Gugun tertawa sinis. “Lu pikir gue buta? Gue bisa lihat dengan jelas, kalau lu naksir Keela.”

“Ngawur.”

Gugun tertawa lagi. Direbutnya rokok dari Taka, lalu diisapnya dalam-dalam. Segera saja asap tebal berembus keluar dari mulut dan hidungnya. “Kita udah berteman lama. Enggak usah malu. Akui aja.”

Taka diam.

“Yang jelas, lu harus bergerak. Kalau lu diam aja, pasti Iqbal yang dapetin Keela.”

“Gerak gimana? Lu tahu sendiri gue kalah jauh sama dia.”

“Nah, dengan pertanyaan ini secara enggak langsung lu mengakui kalau lu suka sama Keela. Iya, kan?” Gugun kembali tertawa.

Taka merebut rokok dari Gugun, dicobanya menghisap dalam-dalam seperti yang dilakukan kawannya, tetapi sedetik kemudian dia terbatuk-batuk. Asap tebal meluncur keluar tiap dia membuka mulut. Tenggorokannya panas.

“Amatir,” Gugun merebut lagi rokoknya. Dengan satu isapan panjang habis sudah rokok itu, lalu diinjaknya sampai mati.

“Jadi, gue harus gimana?”

“Jangan langsung isap ke dalam hidung. Tahan dulu di mulut. Begitu mau dikeluarin, baru deh buang lewat hidung.”

“Maksud gue soal Keela, bukan rokok!”

“Oh…” Gugun tertawa. “Kalau soal cewek, jujur aja gue bukan ahlinya. Gue bukan Dewa Asmara. Jadi gue enggak bisa ngasih lu saran harus gimana. Tapi yang jelas, lu harus mulai bergerak. Itu aja.”

Taka memikirkan baik-baik saran dari Gugun. Hari-hari selanjutnya dia mulai mencari cara menarik perhatian Keela. Lalu dia teringat soal puisi yang pernah diminta Keela. Jadilah dia ke toko buku, membeli beberapa buku puisi, dan mulai belajar membuat sendiri dengan meniru dari yang dibacanya di buku.

Berkali-kali dia menulis, berkali-kali pula dia menghapusnya.

“Keela enggak mungkin suka sama puisi kayak gini,” Taka bicara pada diri sendiri setelah membaca salah satu puisi yang dibuatnya dengan susah payah, mulai dari malam sampai menjelang subuh. Dirobeknya kertas puisi itu. Lalu dia duduk terdiam sambil merenung.

Kamarnya sekarang sudah mirip seperti sebuah ruang penyelidikan di kantor polisi. Robekan kertas bertuliskan satu-dua kalimat tertempel di dinding-dindingnya. Taka cukup kesulitan dalam membuat puisi. Terkadang dia hanya menemukan satu kalimat saja, lalu mentok. Di lain waktu, dia menemukan kalimat lain tapi tidak berhubungan dengan kalimat yang sudah dia buat. Jadilah dia memisahkan setiap temuannya itu di kertas-kertas yang berbeda. Dia berharap akan segera menemukan lanjutan dari kalimat yang tertulis sebelumnya, tetapi nyatanya itu tidak terjadi.

Dalam keheningan malam, ketika dia memikirkan Keela dan deretan kata yang tertempel di dinding kamar, satu kalimat terlintas di benaknya.

Kita seperti kata, terhapus sebelum sempat terucapkan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
Arsana277 dan 4 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di