alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Tiru Ahok, Anggota DPRD DKI Terpilih Ima Mahdiah Bakal Memelototi Anggaran
4.2 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d5632a982d49528250585cd/tiru-ahok-anggota-dprd-dki-terpilih-ima-mahdiah-bakal-memelototi-anggaran

Tiru Ahok, Anggota DPRD DKI Terpilih Ima Mahdiah Bakal Memelototi Anggaran



Tiru Ahok, Anggota DPRD DKI Terpilih Ima Mahdiah Bakal Memelototi Anggaran

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota DPRD DKI terpilih periode 2019-2024, Ima Mahdiah (27) mengaku akan rajin memelototi APBD DKI Jakarta.

Staf mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang diusung PDI Perjuangan ini mengaku akan siap memantau perumusan hingga penyerapan APBD DKI tiap tahun.

"Kami benar-benar akan mengawasi anggaran kebijakan strategis Pemprov DKI Jakarta seperti apa. Jangan sampai banyak anggaran kecolongan, yang mestinya bisa dimaksimalkan tapi tidak jalan," jelas alumnus Universitas Paramadina ini kepada Kompas.com, Rabu (14/8/2019) siang.

Pada saat perumusan, Ima mengaku sejalan dengan kebijakan PDI-P yang ia sebut akan merekrut tenaga magang untuk menyisir rancangan APBD.

Menurut dia, hal ini krusial untuk mencegah peluang rencana anggaran disalahgunakan.

"Belajar dari zaman Pak Ahok, kayak lembaran dari RAPBD untuk ke KUA-PPAS (kebijakan umum anggaran dan prioritas plafon anggaran sementara) kan banyak banget, bisa 20 ribuan lembar. DPRD sendiri kadang suka miss," Ima menjelaskan.

Anggaran era Anies dinilai tidak efektif

Ima menilai, saat ini APBD DKI memang tinggi serapannya, tetapi tidak sepenuhnya efektif. Dalam beberapa kasus, menurut Ima, anggaran tersebut justru salah sasaran.

Salah satunya soal Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus era Anies Baswedan. Selama blusukan pada masa kampanye, Ima mengaku menerima banyak laporan dari konstituennya di Dapil 10 Jakarta Barat soal KJP Plus yang penerimaannya tak tepat sasaran.

Ada sejumlah orangtua murid yang mestinya terdaftar sebagai penerima KJP Plus, tetapi dicoret oleh Pemprov DKI Jakarta tanpa alasan yang jelas.

"Saat saya survei blusukan, saya lihat ada yang kondisinya tidak mampu, tapi mereka tidak dapat KJP. Yang mampu, dia dapat," jelas Ima.

"Dulu, zaman Pak Ahok itu bisa dapat tambahannya sekitar Rp 1 juta, sekarang Rp 600.000. Masyarakat yang tadinya dapat tiba-tiba diberhentikan. Jangankan dari dinas pendidikan, dari gurunya pun tidak dapat informasi kenapa mereka enggak dapat (KJP) lagi, apa kekurangannya. Itu kan sangat berasa buat masyarakat, mana yang tepat sasaran dan tidak tepat sasaran," lanjutnya.

Ima mengklaim, ketika era kepemimpinan Ahok, ada 900.000 anak penerima KJP. Jumlah itu berkurang menjadi 300.000 lebih pada era Anies.

Tak hanya di sektor pendidikan, Ima juga penasaran dengan efektivitas anggaran Kartu Jakarta Lansia.

Isu pendidikan dan lansia memang menarik perhatiannya karena Ima berniat ditempatkan di Komisi E DPRD DKI yang bergelut dengan tema kesejahteraan rakyat.

"Saya punya beberapa data rumah yang saya sambangi, mereka (lansia) benar-benar tidak mampu, anaknya tidak mampu membiayai karena punya kehidupan sendiri ngepas, tidurnya gabung dan tidak layak, tapi sudah daftar Kartu Jakarta Lansia enggak dapat. Saya pengin tahu, kenapa bisa salah sasaran," tutur Ima.

KLB versus APBD

Ahok dikenal doyan memanfaatkan aliran dana di luar APBD DKI Jakarta untuk pembangunan Ibu Kota.

Dana tersebut berasal dari pihak swasta, baik berupa program CSR (corporate social responsibility, seperti pada program bus tingkat) maupun denda KLB (koefisiensi lantai bangunan, seperti pada pembangunan Simpang Susun Semanggi).

Ima yang lebih dari 5 tahun mendampingi Ahok kepincut dengan strategi ini. Ia menilai, sejumlah program Pemprov DKI Jakarta yang sifatnya tak begitu fundamental, sebaiknya menggunakan dana denda KLB alih-alih APBD.

"Seharusnya, kayak yang namanya membangun Formula-E itu seharusnya bisa dapat dari denda KLB. Dana totalnya Rp 350 miliar - Rp 360 miliar itu sebenarnya bisa dari sana (denda KLB). Tapi, harus dirinci itu untuk apa aja Rp 350 miliar, masyarakat perlu tahu. Nah, lebih baik APBD-nya kita fokuskan untuk pendidikan, kesehatan, dan rusun. Banyak yang tidak strategis dibuat jadi anggaran (APBD)," Ima berpendapat.

Ia tak sepakat jika aliran dana denda KLB dianggap sebagai langkah impunitas pelanggaran izin oleh pengusaha, maupun jadi pintu masuk bagi peluang kolusi penguasa-pengusaha.

Justru melalui pemanfaatan, warga jadi bisa melihat jelas ke mana aliran dana denda KLB itu.

"Justru zaman Pak Ahok KLB jadi ada pertanggungjawabannya. Dulu kan kita enggak tahu uangnya ke mana. Nah, di situ masyarakat bisa ngerasain, KLB zaman Pak Ahok ada yang dibangun rusun dan RPTRA," jelas Ima.

"Nah, APBD-nya bisa terselamatkan untuk pendidikan dan kesehatan. Ke depan saya lihat kita tidak bisa bergantung sama APBD," tambahnya.
[url=https://megapolitan.kompas.com/read/2019/08/16/10404181/tiru-ahok-anggota-dprd-dki-terpilih-ima-mahdiah-bakal-memelototi-anggaran]sumber[/b]

===============

Muka Tembok dan Kepala Batu

2 perumpamaan itu mungkin tepat disematkan kepada Gubernur Jakarta era sekarang. Bagi dia, kritik bukan sesuatu yang penting. Kritik bagi dia cuma buat perumpamaan agar tidak jatuh. Sementara pujian dia anggap agar tidak terbang. Meskipun pada kenyataannya dia sebenarnya haus pujian. Itu bisa dilihat dari setiap pernyataannya. Gestur seseorang tidak bisa dibohongi oleh kata-kata.

Bagi Anies, serapan yang tinggi adalah harga mati. Tak peduli serapan itu menjangkau kepentingan masyarakat Jakarta atau tidak, yang penting APBD bisa terserap 100%. Kalau perlu defisit agar serapannya bisa 212%. Buktinya banyak sekali program yang tidak tepat sasaran. Bahkan program yang seharusnya bisa diakali dengan memakai dana CSR nyatanya memakai dana APBD. Padahal meskipun dia sesumbar mengklaim dana CSR rawan korupsi, toh nyatanya dia pakai juga. Kampret emang.

Jelang tahun ke-3 masa pemerintahannya, tak ada sesuatu yang baru yang telah dilakukannya. Semua kerja yang dia lakukan, yang mungkin dicap akan speltakuler nyatanya hanya meneruskan program pendahulunya, meskipun dia menyangkal. Mungkin yang dia tidak bisa berkutik itu adalah pembangunan Bendungan diwilayah penyangga ibukota, meskipun diwaktu lalu dia telah mengeluarkan ungkapan bak perencana proyek bahwa Bendungan harus jadi akhir tahun ini.

Besok, Gubernur Jakarta akan main presiden-presidenan di pulau Reklamasi yang katanya pantai itu. Dengan menguras APBD untuk penyediaan 75 bus besar, dan pernak-pernik lainnya, Gubernur akan memboyong pasukannya kesana. Alasannya cuma 1, itu tanah negara, tanah air Indonesia, bukan tanah privat. Catat itu. Andai dia nanti membangun rumah besar, masyarakat dimanapun juga silakan masuk tanpa ragu, sebab itu rumah ada di tanah Indonesia. Dimanapun tanah yang ada di Indonesia bukan tanah privat, peduli setan siapapun juga yang membangun dan memiliki. Ini mirip binatang Hyena yang tamak, rakus, serakah, dan licik. Hewan lain yang berburu susah payah, dia yang merebut dan menikmati. Bebek yang bertelur, dia yang nekat mengerami. Seluruh pahlawan berjuang merebut kemerdekaan, kaum dia yang mengklaim paling berjasa. Cuih!

Patut diapresiasi niat mantan staff Ahok ini untuk memelototi anggaran, meskipun mungkin bagai menegakkan benang basah. Pastinya dia punya kawan di DPRD untuk berjuang bersama-sama demi rakyat Jakarta. Tapi, semua orang, terutama anggota dewan terpilih, mengaku membela rakyat, berbicara atas nama rakyat. Tak akan ada yang mau mengaku membela kepentingan kelompok atau diri pribadi. Ini ibarat bergerilya disarang penyamun!

Mungkin bicara soal anggaran, jika ada lagi anggota dewan meminta pemahaman soal kenaikan anggaran, jika Ahok dulu pernah bilang

"Pemahaman Nenek Lu!!!"

Yang sekarang mungkin berbeda.

"Saling memahami adalah komponen terpenting untuk membangun sinergi antara eksekutif dengan legislatif. Untuk itu, sangatlah penting berkomunikasi secara mendalam, agar kebersamaan bisa dibangun, kesepakatan bisa diselami, sebab semua punya hak yang sama, di tanah air ini, bukan cuma asing dan aseng. Ini modal pribumi berdiri ditanah negeri. Dan pemahaman itu terjadi ketika kita mau mamahami diri sendiri dan paham diri sendiri. Dari sanalah timbul pemahaman sehingga terjadi kesepahaman dan saling memahami. Paham? Ok, saya acc!"

Halah!!!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
priamuda69 dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh n4z1.v8
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
prinsip keuangan itu transparansi dan akuntabilitas..ngapain di pelototin.. aneh
profile-picture
priamuda69 memberi reputasi
profile picture
priamuda69


@sukakuda emoticon-Ngakak yg namanya kebocoran anggaran itu sebenernya kerjasama eksekutif dan legislatif..

Eksekutif ajukan legislatif yg acc...
Setelah acc program berjalan disitulah wani piro terjadi atau

Saat legialatif mw acc ditawarkan wani piro pada eksekutif..

Yg kebagian hepeng lebih banyak legislatif drpd eksekutif...
Pada saat inilah yudikatif bekerja jalankan OTT emoticon-Ngaciremoticon-Ngaciremoticon-Ngacir
emoticon-I Love Indonesiaemoticon-I Love Indonesia
×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di