alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
aquarius010292 dan 92 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
PERGI KE WILWATIKTA


Lencari diam lagi. Ia kehabisan tenaga setelah mengucapkan kalimat tadi.
"Cari, tenangkan dirimu, Kakang janji akan selalu menjagamu. Kakang tidak akan pergi meninggalkanmu lagi," Jingga terus berbisik ketelinga Lencari agar bangkit semangat hidupnya.
Lencari hanya terdiam, bibirnya yang kering pecah pecah bergerak gerak tanpa suara. Hanya airmatanya yang mengalir pertanda Ia mendengar semua ucapan Jingga.
Jingga lalu meneteskan air ke bibir lencari, sambil terus bercerita memberi semangat. Ia tak peduli ucapannya didengar Untari dan para emban. Ia tak peduli ucapannya didengar Raden Sastro dan RA Sulastri diluar. Ia hanya ingin Lencari pulih seperti dulu.
"Cari, kamu harus kuat, kamu harus bangkit. Kakang yakin kamu bisa bangkit seperti dulu,"
Perlahan Lencari kembali merespon, air yang diteteskan di bibirnya ditelan. Jingga mengangkat tubuh Lencari yang sangat ringan dan ringkih. Punggungnya dan kepalanya diberi bantalan bantal agar tidak tersedak.
Semua orang memperhatikan apa yang dilakukan Jingga penuh harap harap cemas. Tabib yang merawat Lencari juga datang ditemani Raden Sastro diluar. Membiarkan Jingga melakukan tindakan kepada Lencari.
Usaha Jingga tidak sia sia. Lencari kembali membuka matanya, Ia sudah menyadari kehadiran Jingga. Bibirnya tersenyum tipis. Tangannya terus menggenggam tangan Jingga seolah tak ingin lepas.
"Kakang," bisiknya pelan.
"Ya Cari, kamu makan ya, biar sehat,"
Lencari mengangguk lirih, bibirnya terbuka sedikit, menerima suapan bubur cair. Namun tak banyak, beberapa suap saja tubuhnya bereaksi menolak. Nafasnya pendek pendek.
Cepat Jingga memijat titik peredam muntah, agar makanan yang baru masuk tidak keluar.
Nafasnya kembali normal, pertanda mualnya sudah berangsur hilang.
"Nanti lagi makannya ya,"
Lencari mengangguk kecil. Matanya kembali berat untuk dibuka. Hanya senyumnya tetap terukir di bibirnya yang kering.
Ia tertidur.
Jingga terus menggenggam tangan Lencari, seakan cara itu untuk menemani Lencari dalam alam mimpinya.
Tubuh Lencari sudah lebih hangat, nafasnya teratur. Ia sedang tidur, tidak pingsan lagi.
Tiba tiba Jingga ingin kebelakang. Ia melepas pelan genggaman Lencari, meminta Untari menggantikannya.

Sekembali dari pemandian, Jingga memeriksa keadaan Lencari.
"Apa dia sempat bangun?"
Untari mengeleng. Dengan kode gerakan kepala, Untari menyuruh Kakangnya makan. Sejak datang sampai malam ini belum terisi sama sekali.
Jingga menuruti. Ia keluar bilik permisi hendak makan di bale depan bilik. Makanan sudah disediakan sejak sore tadi.
Tabib keluarga meminta ijin memeriksa kondisi Lencari. Ia lantas keluar menemui Raden Sastro yang bersamanya sejak tadi.
Mereka terlibat pembicaraan serius.
Jingga cepat menyelesaikan makannya. Ia segera menghadap Raden Sastro dan Tabib itu. Ingin tahu keadaan sebenarnya yang dialami Lencari.
"Terimakasih Pangeran telah membantu kesembuhan Ndoro putri," ucap Tabib memberi hormat kepada Jingga.
"Paman, bisa jelaskan kondisi Lencari yang Paman ketahui?"
Tabib itu menarik nafas panjang.
"Tubuhnya yang dulu pernah terluka, kini terluka lagi. Ada beberapa bagian dalam dirinya yang mengalami penurunan fungsi. Sebetulnya orang tidak makan tidak begitu membahayakan tubuh. Tubuh akan menyesuaikan dengan sendirinya. Namun ini karena beban batin, membuat kerja tubuh terganggu. Semoga dengan kehadiran Pangeran bisa memberi keajaiban hidup bagi Ndoro Putri,"
Tabib itu kemudian menjelaskan analisanya. Jingga menggeleng gelengkan kepala pelan seakan tak percaya. Ia menarik nafas panjang untuk menguatkan perasaannya. Gambaran dari Tabib mengindikasikan Lencari diambang kematian.
"Semoga analisaku salah, hidup mati bukan kita yang menentukan. Kita hanya membaca tanda tanda dan berusaha memperbaikinya,"
"Pangeran, saya meminta dengan hormat, mohon bantu anakku satu satunya," Raden Sastro meminta dengan sepenuh hati. Ia hampir bersujud kalau tidak ditahan Jingga.
"Tanpa diminta, tetap akan aku lakukan,"
"Terimakasih, terimakasih," Raden Sastro memeluk Jingga. Ia berharap banyak kepada Jingga.
Jingga pamit kembali ke dalam. Meminta Untari istirahat karena sudah larut malam. Untari memilih tidur dibilik Lencari, dengan menggelar selimut tebal sebagai alas. Ia ingin ikut menemani Lencari.

Malam itu Lencari terlelap, Jingga juga tertidur sambil duduk dengan terus memegangi tangan Lencari.

****

Jingga terjaga dari tidur, terasa ada yang menyentuh telinganya. Jingga lantas tersenyum lebar melihat Lencari memandanginya.
Ia mencium tangan kurus Lencari membuat Lencari tersenyum bahagia.
"Kakang,"
"Sudah bangun dari tadi?"
Lencari mengangguk pelan.
"Kok aku tidak dibangunkan?"
"Kasian," jawab Lencari. Dari nada bicaranya sudah membaik. Tidak berat seperti tadi.
"Mau apa?" Tawar Jingga.
"Minum,"
Jingga mengganjal punggung dan kepala Lencari dengan bantal sebelum mengambil minuman di meja samping. Menggunakan sendok perak Jingga menyuapi.
"Sudah," kata Lencari setelah beberapa suapan.
Jingga mengelap sedikit tumpahan air di pipi Lencari. Senyum Lencari semakin mengembang.
"Makan bubur ya?"
Lencari mengangguk. Perutnya tiba tiba merasa lapar.
Dengan sabar, Jingga menyuapi Lencari dengan bubur nasi yang sudah dingin.
Bubur yang diberi ramuan penguat perut dan kuah daging cepat diserap tubuh. Usai makan, Lencari mulai bisa mengamati keadaan sekitar.
"Siapa itu?" Tanya Lencari menunjuk dengan tatapannya mengarah ke Untari yang sedang tidur pulas.
"Untari, Ia yang mengantarkanku kesini,"
"Maaf aku gak tau,"
"Kami datang siang tadi, sekarang tidur, kecapean lama di perjalanan."
"Maaf Kakang, aku merepotkanmu,"
"Sudah jangan berpikir begitu,"
Lencari tiba tiba melepaskan pegangan Jingga. Seperti tersadar.
"Istrimu mana?"
"Maksudku Ratna? Ia bukan istriku," jawab Jingga datar.
"Tapi," ada nada ragu.
Jingga menjelaskan sejujur jujurnya siapa Ratna. Kisah perjalanan mereka. Mulai pertemuannya, sampai perpisahan pagi itu. Agar tidak ada keraguan lagi dihati Lencari.
"Kasihan Ratna," guman Lencari, Ia tahu Ratna amat mencintai Jingga. Saat mengaku dirinya adalah istri Jingga, mungkin itu cetusan dari keinginan hatinya yang terdalam. Setelah sekian lama menunggu sikap Jingga kepadanya.
Hanya Jingga tidak memberi ruang dihatinya kepada Ratna.
"Ya, aku merasa bersalah kepada semua orang," kata Jingga setengah menerawang. Wajahnya tiba tiba murung mengingat begitu banyak kesalahannya selama ini.
Lencari kembali menggenggam tangan Jingga. Wajahnya terlihat bahagia.
Jingga membalas senyum Lencari, Ia tidak boleh murung didepan Lencari. Biarlah semua penderitaannya tetap disimpan dalam hati.
"Kakang,"
"Ya," Jingga mendekatkan telinganya ke bibir Lencari.
"Kenapa Kakang tidak menerima Ratna? Ia baik, cocok dengan Kakang."
Jingga terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Tak tahu harus menjawab apa. Akhirnya memilih diam.
Lencari menyadari kesalahannya, Ia terjebak ke pertanyaan yang memaksa Jingga membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia tidak mungkin memaksa Jingga mengatakan kekurangan orang lain demi memilihnya.
"Maaf Kakang,"
Jingga tersenyum.
"Cari, apa keinginanmu kedepan?"
"Aku tidak tahu," jawab Lencari, mengeleng pelan.
"Maukah kau terus bersamaku, selamanya?"
"Mau Kakang, tapi...,"
Jingga diam menunggu kelanjutan kalimat Lencari yang terasa berat terbentuk di bibirnya.
"Tapi, aku sakit begini."
"Aku akan berusaha menyembuhkanmu,"
"Tapi, aku masih istri orang," Lencari mengingat status dirinya, lantas menangis.
Jingga menggenggam jemari Lencari sambil berdiri dengan lututnya.
"Katakan semua yang ingin Cari ceritakan," Jingga menatap mata Lencari dalam temaram malam, memberi semangat. Mendekatkan telinganya kembali ke bibir Lencari.
"Orang pasti menganggap aku wanita tidak baik," sejenak mengambil nafas menguatkan diri.
"Sudah bersuami masih mengejar laki laki lain," matanya berkaca kaca.
"Ibunya sampai sakit, rumah dan kedai sampai dihancurkan orang,"
"Mencemari nama Kakang menjadi perusak rumah tangga orang,"
"Aku ingin menjadi manusia normal, tapi tidak bisa,"
"Maafkan aku Kakang,"
Jingga menggenggam erat jemari Lencari.
"Kamu tidak salah Cari, jangan menyakiti dirimu sendiri."
Jingga mengusap airmata lencari yang mengalir di ujung kanan kiri matanya.
"Aku tahu umurku tidak panjang, aku ingin mati dengan tenang,"
"Jangan begitu Cari, kamu bisa pulih lagi, kamu akan bahagia hidup bersamaku," bisik Jingga, terus berusaha meyakinkan.
Lencari tersenyum sambil mengeleng.
"Aku ingin sah bercerai,"
"Maksudmu?"
"Aku ingin meeminta cerai langsung."
"Bukankah terlalu jauh kalau ke Wilwatikta? Apalagi kondisimu sakit begini,"
"Sama saja, daripada terlambat," bisik Lencari. Tekadnya sudah bulat.
Jingga merenung memikirkan keinginan Lencari yang tidak masuk akal.
"Aku tidak mau mati dengan statusku seperti ini,"
"Jangan bicara seperti itu,"
"Aku ngantuk," bisik Lencari, sejenak kemudian sudah terlelap.
Tinggal Jingga termenung sendiri.
Sikap Lencari yang merasa akan meninggal dalam waktu dekat, ditambah cerita Tabib keluarga mengenai kondisi Lencari yang parah. Membuat Jingga bimbang. Ia tidak ingin kehilangan Lencari, Ia tidak ingin berpisah lagi dengan Lencari, apapun akan dilakukannya demi membahagiakan Lencari. Sementara keinginan mempertegas statusnya, cukup membahayakan kesehatan Lencari.
Dilain pihak, Jingga punya misi sendiri. Misi untuk menghentikan penderitaan Rakyatnya. Misi yang hanya dirinya sendiri yang tahu.

Jingga lalu memikirkan kemungkinan membawa Lencari bersama ke Wilwatikta.

***

Pagi itu suasana rumah Raden Sastro tampak ceria. RA Sulastri memerintahkan orang dapur memasak masakan untuk semua. Para pekerja dijamu layaknya tamu keluarga. Sebagai rasa syukur sadarnya Lencari.
Pagi pagi, Raden Sastro dan RA Sulastri sudah berada di bilik Lencari, mereka sangat gembira melihat Lencari sudah sadar. Jingga dan Untari pamit istirahat di bilik yang disiapkan untuk mereka berdua. Memberi kesempatan keluarga Lencari berkumpul dan bercengrama.

"Kakang, ngapain memandangiku terus?" Tegur Untari, risih melihat Kakaknya memandanginya terus.
"Eh, Iya," tak jelas jawaban Jingga. Ia tidak berani mengakui apa yang ada dibenaknya saat memandangi adiknya.
"Tari, Kakang Kak Cari sepertinya ingin ikut ke Wilwatikta bersama kita,"
"Bukankah masih sakit?"
Jingga lantas menceritakan keadaan Lencari, juga keinginannya menyelesaikan urusan dirinya sebelum terlambat. Untari terdiam, tidak mengira kalau keadaan Lencari separah itu.
"Bukankah sama dengan..." Untari tidak melanjutkan kalimatnya, takut ucapannya menjadi kenyataan. Jingga mengangguk mengerti yang dimaksud Untari tentang resiko kemungkinan Lencari akan mencari mati bila datang ke Pangeran Mahesa.
"Aku harus menjaganya," gumam Jingga pelan, berjanji kepada dirinya sendiri.
"Apakah kedua Raden Sastro sudah tahu?"
"Mungkin sekarang,"
"Trus, tadi maksud memandangiku itu apa?" Kembali Untari bertanya.
Jingga langsung garuk garuk kepala. Anak ini kalau belum jelas, akan mengejar terus.
"Gini, kamu ini kan sudah besar, sebentar lagi menikah, apa sudah ada calon?"
"Yee, itu lagi yang ditanya, kan sudah dibilang aku masih belum mikir kesana, memangnya Kakang yang kecil kecil sudah genit," jawab Untari sambil meledek Kakangnya.
Untari berkelit sambil tertawa ketika tahu Kakangnya berusaha mencubit.
Jingga akhirnya tidak tega mengungkapkan rencananya kepada Untari. Biarlah Ia menikmati kegembiraannya.

Usai istirahat, Jingga dan Untari kembali ke bilik Lencari. Mereka langsung disambut Raden Sastro dan RA Sulastri. ekspersi Raden Sastro dan istrinya menunjukkan ada yang hendak dibicarakan dengan Jingga. Raden Sastro membimbing Jingga ke taman yang samping. Ia terlihat kesulitan menyampaikan keinginannya.
"Lencari tadi menyampaikan keinginannya," kata Raden Sastro membuka pembicaraan.
Jingga langsung menebak apa yang disampaikan Lencari.
"Ia ingin menemui suaminya,"
Jingga mengangguk, "Semalam Lencari sudah menceritakan keinginannya kepadaku,"
"Syukurlah, tapi perjalanan kesana jauh dan berbahaya. Apalagi kondisinya seperti ini,"
Jingga kembali mengangguk.
"Bisa Pangeran tahan tahan agar lebih lama menunda keberangkatannya, sampai dirinya pulih," pinta Raden Sastro, meski dirinya ragu dengan kepulihan Lencari.
"Akan aku usahakan,"
"Terimakasih Pangeran,"
Mereka lantas kembali ke bilik Lencari.
Raden Sastro dan RA Sulastri pamit.
Jingga dan Untari masuk bilik, disambut senyum Lencari yang sudah menunggu. Wajahnya sudah tidak sepucat kemarin. Mengenakan pakaian sutera halus berwarna pink muda bak kelopak mawar. Ia ingin terlihat cantik meski tidak bisa menutupi tubuhnya yang kering.
Untari langsung memeluk mencium Lencari dengan disaksikan Jingga disampingnya.
Untari lantas bercerita segala macam yang ada dibenaknya. Lencari mendengarkan dengan wajah ceria, seakan penyakit di tubuhnya sudah sirna. Adakalanya ceritanya menyerempet Jingga. Beberapa kali Jingga dehem dehem tapi tak dihiraukan Untari. Wajah Jingga jadi memerah karena dijadikan bahan cerita.
"Tari, kamu mau jadi adikku?"
"Mau Kak, memangnya ada apa?"
Lencari meminta emban untuk memanggil orang tuanya. Dengan beringsut emban itu keluar melaksanakan perintah.

"ada apa Nduk?" Tanya Raden Sastro yang buru buru datang setelah dikabari emban.
"Ayah, angkat Untari jadi adikku yah,"
Raden Sastro bernafas lega, dipikirnya Lencari hendak minta berangkat sekarang.
"Iya, asal Untari mau,"
"Tari sudah mau kok Yah,"
"Benar Tari?"
"Iya," jawab Untari.
"Nah kalau begitu, Tari mulai sekarang jadi anakku dan ibunda Sulastri. Kamu bebas tinggal disini. Hakmu sama dengan Kakakmu Lencari,"
"Terimakasih Rama," ucap Untari, matanya berkaca kaca. Sejak ditinggal ibundanya, Untari kehilangan sosok orang tua dalam kehidupannya. Disinilah Ia dulu merasakan kehangatan sebuah keluarga.
R.A Sulastri mendekati Untari, memeluknya dengan penuh rasa sayang dan tangis haru.

Suasana yang benar benar menyenangkan. Beban berat mereka terasa terangkat dari pundak masing masing. Celetukan Untari beberapa kali memancing tawa bersama.
Suasana itu membuat Jingga lalai akan tekad menuntaskan tanggungjawabnya kepada Rakyat Blambangan dan para pengikutnya. Berkali kali Ia harus menunda keberangkatannya, demi memberi kegembiraan kepada orang orang terkasihnya itu.

Sampai akhirnya takdir harus dihadapi. Pengobatan yang terbaik dan kehadiran Jingga, tidak cukup mampu mengembalikan kondisi Lencari. Lencari masih tidak bisa berjalan. Beberapa kali Ia mengalami kesakitan didalam tubuhnya.
"Kakang, Kapan berangkat? Aku takut tidak kuat lagi," bisik Lencari setelah mengalami kesakitan yang amat sangat dalam dirinya.
"Secepatnya Cari, masih dipersiapkan," jawab Jingga menenangkan.

Dengan berat hati, akhirnya Raden Sastro dan RA. Sulastri melepaskan kepergian Lencari bersama Jingga dan Untari. Dari Sunda, menaiki kapal ke Kahuripan. Sampai di Kahuripan, Jingga meminta hanya Ia dan Untari yang menjaga Lencari. Orang orang yang awalnya ditugaskan, ditolak halus oleh Jingga. Karena semakin sedikit, semakin mengurangi perhatian orang lain.

Perjalanan ke Wilwatikta menggunakan sebuah kereta yang dalamnya dibuat sebagai tempat tidur berjalan. Untari didalam menemani Lencari yang terus terbaring. Ia yang dengan suka cita melayani semua kebutuhan Lencari. Sementara Jingga di depan sendiri mengendalikan jalan kereta.

Tak ada kesan lain di pikiran dan hati Jingga selain bahagianya melakukan perjalanan dengan Lencari. Meski tidak dalam kondisi sehat. Keberadaan Untari yang lincah dan ceria memberi suasana sendiri ketika Jingga merenung.

Sampai di daerah Bubat, Jingga mencari penginapan sederhana. Ia dengan wajah samarannya, tidak mungkin menginap di tempat yang lebih mewah. Di Wilwatikta, mereka beralasan sedang mengunjungi Tabib yang akan mengobati istri Jingga. Lencari senang dengan statusnya sebagai istri Jingga meski hanya sebuah penyamaran.

Setelah masuk penginapan, Jingga berpamitan hendak menemui seseorang di Wilwatikta. Meminta Untari menjaga Lencari.

Dengan menyelinap, Jingga menemui Raden Sidatapa. Raden Sidatapa terkejut mendapat kunjungan Jingga. Buronan nomor satu Majapahit. Dan lebih terkejut lagi saat dikabarkan keinginan Lencari menemui suami yang sekian lama ditinggalkannya.
Raden Sidatapa menawarkan diri untuk membantu, tapi Jingga menolak. Ia tidak ingin Raden Sidatapa dan keluarga terkena getahnya bila terlihat membantunya. Ia hanya minta alamat dan kabar Raden Kijang Anom.
"Raden Kijang Anom saat ini tinggal diluar kasatryan. Beliau sepertinya mengundurkan diri dari keprajuritan," Raden Sidatapa lantas memberikan ancar ancar alamat Raden Kijang Anom.
Jingga mengucapkan terimakasih dan pamit pergi dengan senyap. Ia takut salah satu penjaga Raden Sidatapa adalah antek musuhnya.

Tanpa membuang waktu, Jingga langsung menuju kediaman Raden Kijang Anom. Ia tinggal di sebuah rumah milik kerabatnya. Rumah yang tidak begitu besar namun asri.
Raden Kijang Anom terperanjat mendapat tamu yang tidak disangka sangkanya. Cepat Jingga disusupkan masuk lantas memeriksa sekitar apakah ada orang lain yang mengawasi. Setelah dirasa aman, Raden Kijang Anom masuk menemui Jingga yang bersembunyi di dalam.

Mereka menceritakan perjalanan masing masing setelah pertemuan terakhir.
"Setelah Paman pergi, Blambangan dihancurkan oleh Senopati Branjangan."
"Iya, aku sudah mendengar, saat itu aku sudah mengirim Caraka, tapi sudah terlambat."
Mereka mengingat kebaikan Ki Andaka yang telah gugur dalam peperangan terakhir.
"Apakah kamu yang menghantam balik pasukan Senopati Branjangan?"
Jingga diam tidak menjawab. Ia tidak ingin hati Raden Kijang Anom kacau.
"Tenang saja, aku sekarang sudah tidak di keprajuritan lagi," kata Raden Kijang Anom.
"Paman, aku ingin mengenalkan Paman dengan adikku, Untari namanya," Jingga menyampaikan tujuannya.
"Maksudmu mau menjodohkanku dengan adikmu?" Tanya Raden Kijang Anom sambil tertawa. Wajahnya memerah.
"Maaf atas kelancanganku Paman,"
"Tidak apa apa,"
Jingga lalu menjelaskan nanti berkenalan saja dulu, kalau Paman Kijang Anom tertarik dan adiknya tidak menolak, maka Ia akan menikahkan.
Raden Kijang Anom menangkap maksud Jingga. Jingga ingin adiknya selamat dari huru hara. Setelah seluruh keluarganya tewas.
"Baiklah, aku coba ya, tapi kalau adikmu tidak suka aku bagaimana?"
Jingga garuk garuk bingung harus bagaimana. Ia tidak mungkin memaksa adiknya menikah.
"Kalau adikmu tidak suka, tetap aku jaga sebagai Kakaknya. Setuju?" Raden Kijang Anom menawarkan alternatif agar Jingga tidak bingung. Toh selepas dari Keprajuritan, Ia ingin merantau menjelajah negeri negeri di Nusantara. Menjauh dari hiruk pikuk pemerintahan Majapahit.
"Terimakasih Paman,"
"Lalu kapan?"
"Sebetulnya selain keinginanku mengenalkan Paman ke adikku, juga membantu Lencari menemui Suaminya."
Raden Kijang Anom terkejut mendengar nama Lencari disebut Jingga. Sudah lama sekali nama itu pernah menghiasi relung hatinya. Namun sejak dikabarkan menikah dengan seorang Pangeran Wilwatikta. Ia sudah membuang harapannya. Meski tak sepenuhnya mengalihkan perhatiannya kepada Lencari. Maka Ia selalu mengikuti kabar yang beredar di masyarakat. Tentang gemilangnya Lencari mengatur Kementrian Kawula Muda. Lalu mundur dan dikabarkan kabur meninggalkan suaminya. Terakhir dikabarkan diculik Raja Blambangan, yang tak lain adalah Jingga.
"Jadi, selama ini...."
Jingga mengeleng, "Sejak Lencari menikah, aku tidak pernah menemuinya. Paling hanya memandang dari jauh saat Lencari bekerja di kementrian."
Jingga menjelaskan pernikahan Lencari untuk menyelamatkan keluarga dari rongrongan Bhree Kahuripan.

Raden Kijang Anom agak jengah tatkala tahu kalau saat itu Ia ternyata bersaing dengan Jingga. Untung Ia tidak bicara terus terang tertarik kepada Lencari.
"Saat ini Lencari sakit keras, Ia ingin statusnya bebas sebelum akhir hayatnya,"
Raden Kijang Anom sampai menarik nafas dalam dalam usai mendengar kisah Jingga dan Lencari. Andai Ia tahu dari dahulu, akan dibantunya kedua kekasih ini bersatu. Namun waktu tak bisa dikembalikan lagi. Semua sudah terjadi.






profile-picture
profile-picture
profile-picture
aquarius010292 dan 34 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di