alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Cerita Enzo Allie Bercita-cita Jadi Prajurit TNI yang Saleh
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d4cbc82349d0f203a7eab51/cerita-enzo-allie-bercita-cita-jadi-prajurit-tni-yang-saleh

Cerita Enzo Allie Bercita-cita Jadi Prajurit TNI yang Saleh



Cerita Enzo Allie Bercita-cita Jadi Prajurit TNI yang Saleh

SERANG - Enzo Zenz Allie, taruna Akademi Militer (Akmil) TNI keturunan Prancis yang viral di media sosial setelah berdialog dengan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menggunakan bahasa Prancis sempat mengutarakan keinginannya menjadi Prajurit TNI yang saleh kepada gurunya.

"Enzo pernah menyampaikan ke saya kalau dia ingin menjadi prajurit TNI soleh. Itu saya merinding dengernya," kata Kepala Sekolah SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Anyer, Serang, Banten, Deden Ramdani ditemui di kantornya. Rabu (7/8/2019).

Keinginan anak pasangan dari Almarhum Jean Paul Francois Allie, warga negara Prancis dan Siti Hajah Tilaria asal Sumatera Utara (Sumut) itu diutarakan kepada Deden di saat Enzo masih duduk di kelas XI.

"Waktu itu dia mengutarakan cita-citanya ingin menjadi prajurit (TNI) soleh di masjid Nurul Mahmudah seusai solat Ashar," kata Deden yang juga guru Kimia Enzo.

Guna mengejar cita-citanya, pihak sekolah mendukung dengan mengijinkan Enzo latihan fisik di pinggir pantai Anyer di dampingi guru olah raganya. Bahkan, Enzo sudah berlatih sejak kelas X dengan berlari di area pesantren, pushup, adu panco dengan kawannya, bahkan jago memanah.

"Keseharian Enzo selama di pesantren memang lebih tekun, lebih giat, lebih rajin dari siswa pada umumnya guna mengejar cita-cutanya yang ingin menjadi militer," ujarnya.

Tak hanya duniawi, Enzo sejak mengenyam pendidikan selama tiga tahun di Pesantren tidak ketinggalan solat berjamaah di masjid. "Jadi dia itu pernah rela tidak dapat sertifikat demi bisa solat berjamaah di masjid. Enzo orangnya rajin beribadah," sambungnya.
sumber

===============

Agama ada pada dasarnya untuk mengatur kehidupan manusia agar lebih baik. Menghargai hidup dan kehidupan, menghargai hidup diri sendiri dan hidup orang lain. Jika ada orang yang katanya beragama tapi justru membuat kerusakan sebuah kehidupan, tidak menghargai hidup orang lain, menyakiti diri sendiri, lantas apa gunanya agama? Jika seseorang yang katanya beragama tapi suka mengumbar caci maki, hinaan kotor, mengumbar kesombongan, menyebar fitnah, lantas apa gunanya beragama. Ketika seorang Nabi Allah tak pernah mengajarkan keburukan pada ummatnya, lalu kepada siapa ummatnya belajar keburukan itu? Kepada iblis? Bahkan iblis saja percaya takdir. Kenapa manusia yang beragama justru menentang sebuah takdir?

Kalau dengan beragama justru melegalkan keburukan dan menghalalkan hinaan kepada agama dan ummat lain, lebih buruk mana dibandingkan dengan mereka yang tak beragama? Padahal mereka yang tak percaya dengan agama justru hidup tenang tanpa dendam kepada mereka yang beragama.

Sebagai seorang Prajurit, pada dasarnya yang menjadi filter agar prajurit itu menjadi prajurit seutuhnya adalah Sapta Marga dan agama. Dan Indonesia sebenarnya butuh sosok prajurit yang seimbang dimana kecintaan terhadap tanah air dan agama itu saling melengkapi. Apalagi dalam Pancasila jelas disebutkan bahwa manusia Indonesia percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Heboh mengenai sosok Enzo, blasteran Indonesia-warga Perancis keturunan (Aljazair?) sebenarnya tak perlu selebay ini. Sebagai WNI, semua punya hak yang sama dan kewajiban yang sama sesuai UU. Yang jadi masalah, sebagian rakyat Indonesia masih menganggap bahwa keturunan bule (baca : Amerika, Eropa, dan Australia) adalah ras superior. Ini bisa dimengerti karena bangsa ini pernah mengalami penjajahan terlalu lama sehingga mentalnya terbentuk menjadi bangsa yang ewuh pakewuh secara turun temurun meskipun itu sudah berlangsung lama.



Ada keturunan Eropa jadi TNI, wuiiiiiih..... keren! Hilang rasa curiga.
Ada keturunan Arab jadi TNI, wajarlaaaah... Kan keturunan Arab yang berjuang demi kemerdekaan negeri ini.
Ada keturunan Tionghoa jadi TNI, eitttt.... Jangan-jangan sengaja disusupin nih biar paham komunis berkembang di TNI.
Ini tai banget! Lebih tai dari sekedar tai.
Jadi, memandang seorang warga keturunan aja harus dilihat keturunan mananya dan apa yang dilakukannya. Jika warga keturunan Tionghoa juara Olipiade Sains, Matematika, Fisika, Kimia, Robot, jangan harap ada kebanggaan disana. Meskipun sebenarnya dalam hati bilang : "Wajarlah, mereka kan emang pintar. Gak heran."

Kasus Enzo yang berdasarkan jejak digitalnya sedang di dataran pegunungan (Papandayan?) dengan carier dipunggung dan bendera hitam Ar-Rayah, sebenarnya tidak masalah andai kelompok bangsad HTI tidak mendompleng bendera ini untuk menyebar virus Khilafah. Masalahnya, bangsa Indonesia memang disinyalir ingin di Suriahkan, sehingga semua yang berbau Ar-Rayah dan Al-Liwa mau tidak mau terkena imbasnya. Apalagi banyak kaum sekedar mengingatkan dan kaum hijrah berlaku bak ulama dan ustadz, mengambil porsi mereka yang asli sebagai pendakwah, menyebar segala sesuatu yang berbau surga neraka dengan bumbu yang terbilang berlebihan. Ini membuat muak. Ditambah lagi dengan banyaknya manusia-manusia dongo yang selalu mengklaim adanya ketakutan terhadap ummat muslim di negara ini jika tengah mengkritisi sebagian ummat muslim di sini, meskipun yang mengkritisi itu jelas-jelas muslim juga.

Bagi TNI, tak ada kata kecolongan. Enzo lolos dengan hasil mengagumkan. Kemampuan 4 bahasa asing, bahasa Indonesia, bahasa daerah, sebenarnya bisa digunakan oleh TNI dengan memberi porsi yang benar pada Enzo kelak. Dia dipastikan akan menjadi prajurit komando dengan nilai plus. Sayangnya, gara-gara HTI laknat, Enzo kena getahnya. Ditambah lagi ibunya yang entah makan apa sampai menyebar kata-kata 'seram' sejak 2009, sejak sepuluh tahun yang lalu di Facebook.



Jelas, sebenarnya Enzo bukan anak Ular, bukan pula anak Onta.
Dia jelas anak Garuda, yang belajar terbang sejak kecil diatas cakrawala Eropa hingga akhirnya mengepakan sayap diatas langit Indonesia. Jika Enzo salah arah saat terbang mencari jati diri, masih banyak waktu untuk menajamkan kukunya, mengasah pandangan matanya, dan memperkuat kepak sayapnya, serta mengarahkan tujuannya.

Bukan mematahkan sayapnya.
Bukan membutakan matanya.
Bukan memotong kukunya.
Sebab anak Garuda tak akan pernah menjadi Onta.
Dan TNI, bukanlah kumpulan Sobat Gurun.
Bersiaplah Enzo. Ini Indonesia.
Apapun bisa berubah cepat disini.
Tetaplah menjadi Garuda.

Quote:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
scorpiolama dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh n4z1.v8
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Hebat jg nih anakemoticon-Matabelo kerja keras&kemauan, latihan membuat dia bisa diterima jadi taruna Akmilemoticon-Matabelo tapi berita2 yg heboh di medsos dengan foto anak ini dengan bendera isis gimana tuhemoticon-Bingung (S) ngeri jg begitu dia sudah jadi perwira berpaham begituemoticon-Takut (S)
profile-picture
scorpiolama memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di