alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Prekuel] Sebelum Karma
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cd416f0337f936916304401/prekuel-sebelum-karma

[Prekuel] Sebelum Karma



Quote:





I never meant to hurt no one
Nobody ever tore me down like you
I think you knew it all along
And now you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
And will I ever see the sun again?
I wonder where the guilt had gone
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt no one
Sometimes you gotta look the other way
It never should've lasted so long
Ashamed you'll never see my face again
I never meant to hurt nobody
I know I'll never be the same again
Now taking back what I have done
I think of what I have become
And still
I never meant to hurt nobody
Now I'm taking what is mine

Letting go of my mistakes
Build a fire from what I've learned
And watch it fade away
Because I have no heart to break
I cannot fake it like before
I thought that I could stay the same
And now I know that I'm not sure
I even love me anymore

I never meant to hurt nobody
Nobody ever tore me down like you
I never meant to hurt no one
Now I'm taking what is mine..




<< Cerita sebelumya



Quote:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
aripindoank dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh ucln

Part #11

Gue mendorong pintu kamar Ryan yang sedikit terbuka. Yang langsung disambut dengan gestur tubuh Ryan yang sepertinya kaget dengan kedatangan gue.

“Bangs*t lo. tau-tau nongol aja kagak pake salam.” Maki Ryan dengan wajah kesal karna dia beneran terkejut.

Gue masuk tanpa menanggapi Ryan. Gue melempar tas ke sudut ruangan, lalu membuka kaos gue dan menyambar handuk gue yang tadi pagi gue gantung di samping lemari pakaian Ryan, kemudian bergegas mandi.

“Pinjem kaos Yan. Kaos gue abis.” Ucap gue setelah selesai mandi namun masih belum mengganti kaos gue.

“Ambil sendiri.” Ucap Ryan singkat.

Ryan rupanya tengah asik bermain PS 2. Mungkin dia tadi terlampau fokus menatap layar tv sampai dia begitu terkejut dengan kedatangan gue.

Setelah berganti kaos mengenakan kaos Ryan, gue kembali keluar. Berniat membeli beberapa batang rokok dan kopi.

“Lo mau kemana Gus?” Tanya Ryan setengah berteriak ketika gue sudah beberapa meter dari depan kamarnya.

“Beli rokok. Lo mau nitip apaan?” Gue menghentikan langkah dan menyahuti Ryan.

“Kopi.
Eh, Susu aja.
Eh apa kopi aja ya.”

Gue pun kembali melanjutkan berjalan ke warung karna malas mendengar Ryan yang tengah dengan berdebat dengan dirinya sendiri.

*****


“Bangs*t banget dah lo. Bener-bener kagak bisa ngucapin salam apa?” Oceh Ryan lagi saat lagi-lagi gue masuk dengan hanya mendorong pintu kamarnya.

Gue hanya tertawa kecil mendengar ocehannya. Gue melempar 2 sachet kopi susu ke hadapan Ryan, lalu mengambil alih stick PS dalam genggamannya.

“Dateng-dateng ngusir orang kek israel lo lama-lama.” Ucap Ryan sambil menenteng 2 sachet kopi susu berniat untuk menyeduhkannya.

Ryan kembali ke depan tv disamping gue yang tengah memainkan tim nya dalam sebuah pertandingan di PES. Dia menaruh dua cangkir kopi di depan gue, lalu menoyor kepala gue dua kali.

“Ngehe lo ngapa pake noyor-noyor sih?”

“Biarin, gue gedeg.”

“Ya ga usah dua kali juga noyor nya.”

“Lo ngagetin gue dua kali kagak gue bahas-bahas. Gue cuman noyor pala lo doang dua kali lo bahas mulu.”

Gue hanya tertawa sambil mengembalikan stick PS ke Ryan, lalu menenteng gelas kopi dan berpindah duduk di depan pintu, untuk menikmati sebatang rokok.

“Hahahaha.. dongoo. Ih parah banget, asli dah. haha..”

Ryan tertawa sangat kencang dan mengagetkan gue yang bersiap masuk ke mode melamun. Gue melihat ke layar tv yang sedang menampilkan replay terjadinya sebuah goal, yang memang prosesnya cukup lucu.

“Lucu parah ya, masa begitu komputer maennya.” Ucap Ryan ke gue namun tanpa menatap gue.

“Lo mau denger yang lebih lucu lagi ga?” Tanya gue ke Ryan.

“Apaan?” Ryan menekan tombol start di stick PS nya sambil menoleh kearah gue, dengan sisa tawa yang siap ia tambahkan setelah mendengar apa yang ingin gue sampaikan.

“Tadi siang gue jadian sama Nia.”

Ryan Cuma diam menatap gue, lalu mengubah sisa tawanya jadi wajah bingung.

“Terus lucunya dimana?”
“Maul kesel dong? Oh pasti bagian lucunya pas Maul…”

“Terus sorenya langsung diputusin.” Selah gue sebelum Ryan menyelesaikan omongannya.

Ryan langsung ngakak sejadi-jadinya. Bahkan sambil guling-guling di lantai. Gue yang sudah tau akan ia tertawakan malah jadi kesel karna menurut gue tawanya berlebihan. Bahkan sampe berharap ia yang sedang guling-guling di lantai itu menyenggol gelas kopi dan menumpahkan kopi panas itu ke kakinya. Namun sayangnya itu ga terjadi.

“Dongo lo anjir. Asli dah. Sampe nangis nih gue” Ucap Ryan sambil menyelesaikan tawanya dan mengelap air matanya. Yang tentu saja membuat gue makin jengkel.

“Kok bisa? Gimana Ceritanya?” Tanya Ryan kini dengan nada lebih santai tanpa tawa.

Gue yang terlanjur kesal kini malah malas menceritakannya. Ryan lalu mematikan tv dan mendorong stick PS nya menjauh, kemudian duduk mendekat ke gue. Memasang sikap mendengarkan.

Gue hanya meliriknya sekilas, lalu membuang pandangan ke arah luar kamarnya sambil menghembuskan asap rokok.

“Ayolah, apa gue harus matiin lampu juga biar suasananya mendukung lo buat curhat?” Ledek Ryan karna gue masih memilih ga menceritakan apapun.

Gue kini gagal menahan tawa, dan langsung menyerang Ryan dengan memukuli bagian kepalanya yang tengah ia coba pertahankan dengan menghalau pukulan gue.

Setelah merasa puas karna ada pukulan gue yang masuk ke kepalanya. Gue menghentikan pukulan dan kembali menghisap sisa rokok.

“Buruan cerita bangs*t. jangan sampe gue mati gara-gara penasaran nih.” Ucap Ryan sambil menoyor kepala gue.

Gue pun akhirnya menceritakan apa yang gue alami tadi siang sampai sore ke Ryan. Ryan kini mendengarkan tanpa menginterupsi dengan candaan. Sesekali tersenyum konyol saat gue menceritakan tentang kelakuan Maul yang masih mencoba menggoda Nia meski sudah tau gue dan Nia telah berpacaran.

“Apa karna omongan Maul itu kali ga men?” Tanya Ryan setelah gue selesai menceritakan seluruhnya.

“Omongan yang mana?”

“Itu, yang dia bilang kalo Sisil udah bosen itu.”

“Ooh..” Gue menjawab singkat, sambil mencoba mencerna apa yang tengah Ryan sampaikan.

Apa iya karna hal itu? Memang gue akui sikap Nia sedikit berbeda antara saat siang dan saat sore gue mengantarnya pulang. Tapi..

“Mungkin Sisil sebenernya cuman pengen manas-manasin Maul doang kali men. Maksud gue, dia berlagak kaya beneran pacaran sama lo cuman buat liat sikapnya Maul doang. Bisa jadi kan?” lanjut Ryan mencoba bersikap seperti seorang penyidik.

Gue ga bisa menjawab. Hanya menganggukkan kepala perlahan beberapa kali sambil masih memikirkan benar atau tidaknya hipotesa yang sedang Ryan coba kemukakan.

“Lagian lo bego banget yang kaya begitu dianggap serius. Ya lo tau diri juga lah. Liat juga Nia siapa. Kan Maul pernah bilang dia anak orang kaya dan semacem itu. Orang kaya kita mah, yaah cuman dianggap maenan sama dia.”

Gue mematikan puntung rokok gue di asbak, kemudian mengambil sebatang lagi dan menyulutnya. Sepertinya gue mulai merasa menikmati setiap nikotin yang masuk ke tubuh gue. Padahal biasanya gue sangat jarang merokok. Mungkin Cuma satu batang sehari, atau bahkan 3 batang seminggu. Tapi kini sudah dua batang rokok gue hisap hanya dalam sekali duduk.

“Lo sakit hati ga tapi?” Tanya Ryan lagi. Sepertinya ia meminta gue menyahuti omongan-omongannya yang sejak tadi gue abaikan.

Gue menghela napas sejenak, dan membiarkan rokok tergantung di sela jari tanpa menghisapnya.

“Gimana ya, Yan. Sebenernya gue kesel sih. Kaya dianggap maenan banget sama itu anak.” Ucap gue.

“Tapi, yaa mungkin bener yang lo bilang. Salah gue sendiri kenapa gue terlalu nganggap serius omongan dan sikap dia.”

“Nah, ini gue demen nih sama orang bego kaya lo gini. Yang malah nyalahin diri lo sendiri saat ada orang lain yang nyakitin lo.” Ucap Ryan dengan nada meledek.

Stockholm syndrome, ya?” tanya gue sambil tertawa kecil saat memahami arah omongan Ryan.

“Iya lah. Stockholm syndrome banget lo. Nanti kalo dia tau-tau nemuin lo dan minta maaf juga pasti bakal lo maafin. Terus pas gue bego-begoin lagi, lo bakal bilang 'Ayolah men, apa salahnya menjadi seorang pemaaf?’ halaah kentut.” Ucap Ryan sambil berdiri dari posisinya untuk mengambil gitar yang dia geletakkan diatas kasur.

“Udah dapet belom lyric Stockholm Syndrome nya Muse? Mau gue nyanyiin nih mumpung pas waktunya.” Ledek Ryan saat tengah memposisikan diri bersiap memainkan gitar nya.

“Men, woi. Nah ini dia orangnya.”

Gue dan Ryan serentak kaget saat suara cempreng Maul terdengar berbarengan dengan kemunculan wujudnya.

“Sini lo, dicariin tuh.” Ucap Maul melambaikan tangan nya meminta gue keluar enghampiri dia yang masih berdiri di depan pintu kamar Ryan.

Gue menatap Ryan, yang sepertinya merasa sepemikiran dengan gue. Lalu gue bangkit dari duduk dan menoleh ke arah samping kamar Ryan. Dimana Nia berdiri disana. Yang tengah memasang wajah memelas.

Gue kembali bertatapan dengan Ryan, yang kemudian membuat kami kompak tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Stockholm Syndrome!!!





I won't stand in your way
Let your hatred grow
And she'll scream
And she'll shout
And she'll pray
And she had a name
Yeah she had a name

And I won't hold you back
Let your anger rise
And we'll fly
And we'll fall
And we'll burn
No one will recall
No one will recall

This is the last time I'll abandon you
And this is the last time I'll forget you
I wish I could

Look to the stars
Let hope burn in your eyes
And we'll love
And we'll hope
And we'll die
All to no avail
All to no avail

This is the last time I'll abandon you
And this is the last time I'll forget you
I wish I could

This is the last time I'll abandon you
And this is the last time I'll forget you
I wish I could
I wish I could
profile-picture
profile-picture
aripindoank dan doctorkelinci memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di