alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[Kisah Nyata] Rumah Angker di Tempat Prakerin
4.68 stars - based on 25 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca806556cc64863b208d43f/kisah-nyata-rumah-angker-di-tempat-prakerin

[Kisah Nyata] Rumah Angker di Tempat Prakerin


Sumber : https://pixabay.com/id/photos/hantu-...-horor-572038/

PERKENALAN

Quote:



[1] Pemberangkatan

Waktu itu pembekalan terakhir di sekolah yaitu hari Senin, aku sudah menyiapkan perlengkapan dari mulai alat mandi, alat makan, alat ibadah, pakaian praktek, dan alat untuk di lapangan. Tak lupa aku selalu membawa buku harian ke mana-mana, bila ada waktu untuk menulis, biasanya kucatat setiap kejadian dalam setiap harinya.

"Brin, pulang sekolah, jangan lupa kita kumpul dulu ya, kita bagi-bagi alat untuk masak, karena kita akan tinggal di kontrakan yang tidak ada alat-alatnya. Secara, kita kan bukan di perusahaan kayak temen-temen yang lain," ujar Ali ketua kelompokku.

"Oh, oke siap. Biar kucatat dulu ya." 

Setelah perbincanganku di kantin dengan Ali, aku segera menuliskan apa saja yang sekiranya kurang. Perlengkapan memasak tidak mungkin dilupakan, hidup di tengah hutan, siapa yang akan memasakkan kita kalau tidak ada alat masaknya.

Sebenarnya, aku hanya tahu nama daerahnya saja, tapi tidak tahu persis tempatnya seperti apa. Belum sempat melihat di google maps juga. Aku curiga akan ditempatkan di daerah yang jauh dari keramaian kota. Kata kakak kelas sih biasanya begitu. Tapi mereka yang sudah pengalaman, tidak ada yang memberikan masukan pada kami.

"Hei, Brin sedih banget kita bakalan pisah selama tiga bulan"

Ica memelukku, kami bersahabat dari mulai kelas satu sampai sekarang. Kita berjanji akan selalu memberi kabar jika sudah berada di tempat prakerin masing-masing.

"Iya, sedih banget ya. Tapi kita harus tetap semangat. Baru juga tiga bulan kan?"

Aku berusaha menghibur walau sebenarnya aku juga sedih jika harus berpisah dengan Ica. Ke mana-mana biasa sama dia.

"Abis pulang pembekalan, kamu mau ke mana? Bisa gak kita ke tempat batagor kuah? Kita makan di sana, yuk?"

"Duh maafin, aku mau kumpulan anak kelompok dulu Ca, gak bisa kayaknya" aku menolaknya.

Sebenarnya aku juga ingin makan bareng dia, kapan lagi sih. Tapi sayangnya tidak bisa lagi. Aku juga harus mementingkan urusan kelompok prakerinku.

Seperti yang sudah disepakati, sepulang pemebekalan, aku segera ke kelasnya Ali, aku juga belum begitu dekat dengan Ali, yang aku tahu dia salah satu pemain bola terbaik di sekolah. Tapi aku tidak begitu sering memperhatikannya. Buat apa?

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah, kelas demi kelas telah kulewati, kelasnya Ali ada di paling ujung, dekat kantin. Lumayanlah kalau bibi kantin belum tutup, aku bisa nongkrong juga di sana.

"Hai, ke mana yang lain?" tanyaku pada Ranti yang ternyata sudah duluan ada di kelas Ali.

"Tadi yang lain telat katanya. Lah, kamu kenapa sendiri? Ke mana Roros dan Arif? Kalian kan sekelas" tanya Ranti yang seakan mengintrogasiku.

"Haha, iya aku tadi ninggalin mereka, habisnya mereka lama" jawabku singkat.

"Oke deh, gapapa." jawab Ali yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.

Tak berselang lama dari perembukan untuk pemberangkatan itu, satu persatu anggota pun berdatangan. Begitulah Indonesia, ngaretnya memang keterlaluan. Bikin kesal tingkat dewa.

Rembukan itu hanya berlangsung sekitar tiga puluh menit, lusa adalah pemberangkatan ke tempat yang sesungguhnya.

**Dua Hari Kemudian**

Pagi-pagi sekali aku bangun. Semangat di dada begitu sangat membara. Ya, hari ini aku akan pergi ke tempat prakerinku. Rasanya saat tidur pun terbayang terus pertanyaan akan seperti apa di tempat itu.

Setelah aku mandi dan persiapn segalanya, mama memanggilku, ada salah satu nasihat dari kedua orang tuaku yang paling kuingat.

"Jika kamu sudah ada di sana, kamu harus bisa menitipkan diri ya, di mana kaki berpijak, di situ langit harus dijunjung."

Perkataan sederhana tapi mampu mewakili semua pesan di dalamnya.

Setelah berpamitan, akhirnya aku segera ke sekolah. Aku memasukan beberapa barang bawaanku sekelompok ke mobil pick up yang disediakan oleh sekolah. 

"Hati-hati di sana ya anak-anakku, jaga nama baik sekolah. Kami di sini selalu menunggu kehadiran kalian kembali" kepala sekolah melepas kepergian kami dengan melambaikan tangan.

Berpisah dengan teman yang selalu bersama memang tidak mudah. Seperti yang sedang aku alami. Butuh pembiasaan yang tidak mudah.

"Aku sudah tau di sebelah mana kita akan ditempatkan"

Ratih memulai obrolan yang bisa dilihat serius. Biasanya dia tidak seserius itu. Dan aki juga biasanya malas mendengarkan ocehan gak jelas dari anak-anak lain.

Aku sibuk memainkan ponselku, mengisi kekosongan sepanjang perjalanan.

"Iya kah kamu sudah tau?" Siti menanggapi ucapan Ratih dengan wajah yang tak kalah serius.

"Iya, aku nyari tahu ke mamaku, kata mama sih itu daerahnya yang lumayan jauh dari jalan raya, di sekitar pembangunan proyek tol, tapi masih agak jauh" Ratih sibuk dengan cermin yang digunakannya untuk bersolek.

"Ah, kamu sok tahu!" Arif yang terlihat cuek, ternyata di belakang mendengarkan juga perbincangan.

Sementara aku sibuk sendiri, tapi sebenarnya aku mendengarkan juga apa yang mereka bicarakan.

Hingga mobil Avanza yang membawa kami ke tempat prakerin pun sampai di sebuah jalan yang penuh dengan tanah, sudah diaspal tapi masih lebih banyak tanah merah.

"Pak, ini di mana? Kok jalannya lain ya?" Tanyaku penasaran.

"Iya Neng, kita lewat akses sini, biar gak macet, nanti Neng sama temen-temen yang lain bisa lewat ke sini juga kalo mau pulang"

Kulihat sepanjang jalan, jarak antara rumah yang satu ke rumah yang lainnya cukup jauh. Tapi kupikir ini baru di jalan, siapa tau nanti di sana akan banyak penduduk juga.

Lima belas menit menyusuri jalan kecil itu, ada tanjakan yang begitu curam, jalannya rusak, jika dalam kondisi hujan, hanya sebagian kecil kendaraan bisa lewat.

Aku membayangkan jika bawa motor di jalanan seperti ini, pastinya aku gak akan bisa. Aku orang yang tomboy, tapi ya begitulah.

"Waaaw, jalannya keren! Kayaknya kita bakalan susah kalau mau main" ucap Dede.

"Ah, otak lu main aja. Kita mau belajar di sana, bukan mau main. Lagian juga belum sampai di sana" Ali menenangkan kerisuhan dalam mobil.

Tak berselang lama, sampailah mobil kami di sebuah tempat yang bisa dikatakan desa, tapi bangunan yang kita datangi mewah sendiri.

Di depannya ada plang 'Kelompok Tani'.
Yaa, kami akan prakerin di tempat ini. Sebuah desa yang sangat desa dan masih kental dengan adat desa tersebut.

Pak Hartono, pembina kelompokku. Beliau sudah berada di tempat lebih dulu.

"Sini anak-anak. Kita masuk dulu ke kantornya! Atang, Brina ajakain teman-teman kamu!"

Aku pun segera dengan penuh rasa gembira menghampiri pembinaku yang sudah ada di sana dengan induk semangku.

Kakiku melangkah memasuki bangunan paling mewah di sana, kulihat ada hiasan kepala kerbau di sana. Aku merasa dipelototi oleh makhluk tak kasat mata. Tiba-tiba aku kaku melihat patung kepala itu.

Dan, aku masih sibuk memikirkan patung kepala kerbau, tidak mendengarkan apa yang sedang dibahas.

"Briiinn !!!!"

Like, komen and subscribe channel gua, gan. Gua bakalan up tiap hari. See you next time, jangan rindu aku. Muuuuaachhhemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dimasaryo1985 dan 53 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh brina313
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
LARANGAN


Mau tidak mau aku harus memasak ke tempat laki-laki meskipun kisah menyeramkan yang tadi aku ceritakan itu terus menghantui tapi aku tetap harus melewati semua itu.

Sayangnya hari pertama ini aku tidak memasak seperti pada umunya, karena belum ada banyak persiapan dan hanya ada beberapa bungkus mie instan yang mungkin bisa dimanfaatkan. Memasak mie instan menggunakan magic com.

Pukul 07.00, kami sudah siap untuk mengikuti apel pagi di depan kantor. Kulihat wajah wajah yang penuh semangat dan pakaian yang rapi sangat mendukung untuk memulai praktek kita kali ini.

" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh teman-teman Insyaallah Hari ini adalah hari pertama kita praktek di lapangan Aku harap kita bisa sama-sama saling membantu dalam mengerjakannya jika dirasa ada beberapa hal yang mengganggu atau membuat kita tidak nyaman kita supaya bahu-membahu untuk menghadapinya dan yang paling penting kita harus bisa menjaga nama baik sekolah kita Oke sebelum kita memulai apel yang dipimpin oleh pembina kita marilah kita berdoa terlebih dahulu berdoa dimulai"

Ali memimpin apel kecil kelompok sebelum Pak Adeng datang.

Ketika beberapa menit menunggu, datanglah Pak Adeng dengan seorang pemuda berambut agak keriting, kulitnya putih, tinggi semampai dan badannya kurus. Ganteng juga sih!

Pemuda itu memakai topi warna hitam, dan senyumnya sungguh memukau. Aku yang sejak tadi berdiri, pandanganku tak bisa pergi darinya.

"Oke, anak-anak siap untuk mengikuti kegiatan hari ini?" tanya pemuda itu.

"Siap kang!" kata kami serempak.

"Assalamualaikum wr wb, anak-anak hari pertama ini kalian langsung turun ke lapangan, silakan tuliskan temuan kalian selama di lapangan, silakan kenalan dengan para pekerja yang lain." ucap Pak Adeng.

Di tangan kirinya ada sebatang rokok yang menemaninya kemana pun ia pergi. Bibirnya terlihat hitam, pertanda tak bisa lepas dari rokok.

Kegiatan pertama, kami dibimbing oleh pemuda tampan tadi. Belum sempat kenalan, rasanya aku ingin selalu nempel, hihi. Minyak nyongnyong di tubuhnya bikin aku pengen meluknya. Beruntunglah yang jadi ceweknya.

Lahan pertama adalah tanaman cabai yang ada di belakang kantor, luasnya lumayan juga. Di sana kami ditugaskan untuk menyiangi tanaman tersebut. Antara senang dan capek di hari pertama, bercampur adukk.

Terik matahari semakin terasa. Waktunya istirhat telah tiba. Mulai pukul setengah dua belas sampai jam 2. Sore-sore hanya menyiram tanaman saja.

Istirahat siang, kami tidak masak. Nasi yang dinanak pagi masih ada. Jadinya lebih baik digunakan untuk tidur. Lumayan bangun jam 2 dan persiapan ke lahan lagi untuk menyiram tanaman yang begitu sangat luasnya.

Setelah aku mempersiapkan segalanya, aku segera menuju tempat berkumpul semula. Pemuda yang menjadi asisten Pak Adeng pun sudah menunggu.

Pemuda itu bernama Gumi, usianya sekitar 24 tahun. Berbeda 7 tahun dengaku. Belum menikah dna sudah lama membantu Pak Adeng dalam mengelola semua yang berhubungan dengan usahanya.

"Siapa ketua perempuannya?" tanya Kang Gumi padaku.

"Saya, Kang. Nama saya Brina"

"Oh iya kamu, jangan lupa ya kamu siram ini semua sampai ke belakang sana"

Kulihat bagianaku menyiram, ke tempat yang cukup seram. Dipenuhi dengan pohon-pohon bambu, langit tampak gelap dan suasana menjadi tidak kondusif. Tiba-tiba aku ingat cerita orang setempat tentang jelmaan bapak-bapak.

Meski hanya menyiram tanaman, tetap saja ada beberapa hal yang tidak boleh dilanggar. Diantaranya tidak boleh menyiram melebihi batas screenhouse dan tempat pengokeran tanaman.

Namanya anak muda, jika dilarang justru malah membuat penasaran. Termasuk aku, penasaran tingkat dewa. Bahkan berniat untuk melihat lebih jauh lagi tentang tempat-tempat di sini.

Kamu tahu tentang 'mereka' yang menjelma menjadi bapak-bapak?

Mungkinkah salah satunya yang kulihat di subuh tadi?

to be continued..
profile-picture
dimasaryo1985 memberi reputasi
Diubah oleh brina313
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di