alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andir004 dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
MENGHADAP BHREE WIRABHUMI


Jingga memegang tangan Ratna. Ia mengalirkan kekuatan batinnya untuk merontokkan teluh di tubuh Ratna. Seketika Ratna seperti terbangun. Teluh itu di tanam di lengan Ratna. Saat lengannya dipegang Jingga. Tersembul keluar gotri kecil langsung diambil Jingga.

"Tangkap kedua orang ini!" Seru pimpinan orang orang gagah itu.
Seketika Jingga bangkit berdiri didepan Ratna.
"Siapa kalian?!"
"Kami pengelana yang diundang kalian, kenapa malah bertanya?" Jingga balik tanya.
Mendapat jawaban Jingga, mereka terlihat kebingungan. Orang yang memerintahkan menangkap Jingga memiring miringkan kepalanya. Seperti berusaha mendengar suara suara di sekitarnya. Sejenak kemudian Ia mengangguk angguk.

Yang diundang hanya dia," Kata orang itu sambil menunjuk Ratna.
"Kamu tidak diundang. Jadi mau apa lancang kesini?!"
"Saya pengawalnya. Kemanapun Ia pergi, Saya harus menjaganya."
"Tidak perlu dikawal, Ndoromu aman bersama kami,"
Jingga malas bersilat lidah, Ia ingin urusan cepat selesai.
"Cepat panggil tuanmu! Aku mau tanyakan apa alasannya memanggil Ndoroku kesini!"
Hampir saja orang gagah itu mengayunkan pedangnya ke Jingga kalau tidak ditahan oleh bisikan halus ditelinganya, "biar aku temui."

Jingga melangkah mundur, mendorong Ratna untuk turut mundur kebelakang. Ia mendengar suara halus yang ditujukan kepada orang gagah itu. Ia harus mengambil jarak sebagai antisipasi menghadapinya.

Orang orang yang tadi hendak menangkap juga beringsut mundur. Seolah menanti seseorang datang ke tengah tengah mereka.

Suasana hening.
Dari dalam Goa muncul seseorang, berpakaian pertapan dengan wajah ditutup topeng yang terbuat dari kulit kayu. Hawa gaib memenuhi lembah, terasa menyesakkan dada. Jingga menguatkan batinnya agar tidak terpengaruh. Ia juga menyalurkan energinya menjaga Ratna.

Samar samar Jingga melihat banyaknya pasukan raksasa mengepung lembah itu. Semua menyeringai marah kepada Jingga. Orang pertapan itu berjalan laksana terbang. Namun mata Jingga tidak bisa dibohongi, orang itu dibopong raksasa.

Jingga bersiaga menghadapinya. Ini bukan ilmu kanuragan lagi, ini ilmu gaib. Ilmu persekutuan dengan mahluk halus. Secara naluriah Jingga menata batinnya untuk berserah diri kepada Penguasa jagad. Tak ada kekuatan diatas NYA.

Pertapan itu menatap tajam ke Jingga. Ia melihat anak muda berpakaian lusuh ini memiliki kekuatan khusus. Serangan gaibnya dari tadi tidak berpengaruh sama sekali ke anak itu. Sedangkan gadis dibelakangnya hanya mengikuti saja.
Dari pembisiknya, Pertapan itu mendapat informasi kalau gadis dibelakang pemuda itu adalah gadis yang selama ini dicari cari. Dan pemuda ini adalah yang mengalahkan utusan yang dikirimnya untuk menculik Ratna.
"Alap Alap!" Panggil Pertapan itu ke Jingga.
Jingga agak terkejut meski sudah menduganya. Pasukan gaibnya pasti sudah menyelidiki dan melaporkan kepada pertapan itu.
"Ya saya," jawab Jingga tenang.
"Jadi kamu yang telah membunuh ketiga anak buahku?"
"Kamu sendiri yang membunuh, mereka mati makan racun yang kamu berikan."
Jingga memandangi pertapa itu dengan seksama. Usianya sudah cukup tua. Secara kekuatan fisik Ia sudah jauh menurun. Ia kini hanya mengandalkan kekuatan pasukan gaibnya.

Berkali kali Jingga diserang dengan serangan yang tak kasat mata. Ratna sendiri sudah terjatuh pingsan terkena imbasnya. Jingga membiarkannya begitu asal tidak diganggu lagi. Bagai mimpi, Jingga seolah olah berada ditengah tengah pusaran tenaga.
Jingga semakin menguatkan kekuatan batinnya. Tiba tiba Ia merasakan akan kehadiran penjaganya sejak masih kecil. Kedatangannya membuat Raksasa Raksasa yang mengepungnya berlarian pergi. Termasuk Pertapan itu ikut menghilang entah kemana. Salah satu Raksasa hendak membawa pergi Ratna. Cepat Jingga meraih tangan Ratna dan ditahannya kuat kuat. Akhirnya Raksasa itu pergi dengan tangan hampa.
Sebelum pergi, pertapan itu telah memerintahkan para pengawalnya menyerang Jingga. Mereka berlarian menuju Jingga yang masih belum sepenuhnya siaga menghadapi serangan fisik. Jingga masih mengatur batin sambil memegang pergelangan tangan Ratna yang masih pingsan. Sementara orang orang itu sudah mengayunkan pedangnya ke arah kepada dan badan Jingga. Serangan yang langsung menargetkan nyawa.

Dalam sepersekian detik, Jingga menyadari dirinya dalam bahaya. Ia langsung menjatuhkan diri berguling memeluk Ratna lalu meloncat mundur. Setelah lolos dari serangan pertama. Jingga meraih ranting disampingnya. Ranting itu digunakan sebagai senjata melawan para pengawal itu. Jingga tak berani maju menyerang, takut Ratna tiba tiba dibawa pergi.
Kembali para pengawal itu menyerang. Terjadi pertempuran sengit. Jingga mengandalkan kecepatan dan kecerdikannya membaca pola serangan lawan. Sehingga setelah tiga jurus, Jingga sudah mengenali serangan mereka. Dengan mudah dihindarkan dan balik menyerang.
Kali ini Jingga tidak mau main main. Waktunya amat sedikit untuk bermain main. Ia langsung menghajar lawannya satu persatu. Meski hanya sebuah ranting, sabetan Jingga sulit dikenali gerakannya. Tahu tahu para Pengawal itu bertumbangan. Pingsan.

Jingga lalu membangunkan Ratna yang belum lepas sepenuhnya dari ilmu teluh. Ia mengambil air menggunakan daun. Mengusap wajah Ratna dengan air dingin. Akhirnya ratna tersadar oleh dinginnya air di wajahnya. Sejenak Ratna kebingungan dengan kepala terasa amat sakit. Jingga membimbingnya duduk.
Sambil menunggu kondisi Ratna pulih, Jingga memeriksa para pengawal yang pingsan. Ia memeriksa kain dan lipatan apakah ada pengenal atau tanda khusus di mereka. Ada beberapa barang yang cukup menarik, namun tidak ditemukan kaitannya dengan data yang dimiliki. Jingga lalu menarik mereka satu satu diikatkan pada pohon terdekat.
JIngga menghampiri Ratna yang sudah cukup pulih kesadarannya.
"Sudah kuat berjalan?"
"Iya," jawab Ratna. Sejenak berpegangan ke lengan Jingga untuk menyeimbangkan diri. Jingga membawa Ratna menuju goa. Kembali Jingga memeriksa isi dalam goa. Tak ada yang menarik, tak ada dokuman atau barang yang cukup memberi petunjuk. Mau mengintrograsi pengawalnya, Jingga takut pengawalnya nekad bunuh diri. Ia sendiri tidak punya kepentingan dengan orang orang ini.

Tanpa membuang waktu, Jingga mengajak Ratna kembali ke dusun. Jingga mengambil dua ekor kuda yang disembunyikan di sudut tersembunyi. Pasti ini kuda para pengawal itu. Dengan kuda itu, mereka pergi menuju dusun. Saat sudah keluar hutan, Jingga dan Ratna melepaskan kudanya. Mereka lalu berjalan biasa menuju dusun tempat mereka menginap semalam.

Kedatangan meraka telah ditunggu tunggu penduduk dusun. Karena perjalanan masuk hutan itu sebuah perjalanan yang membahayakan. Saat Jingga dan Ratna datang, mereka memandangi dengan seksama, adakah perubahan pada diri keduanya. Beberapa mencoba bertanya memancing cerita. Namun dijawab maaf saja dari bibir Jingga.

Jingga langsung pamit hendak melanjutkan perjalanan. Ia tidak begitu bersimpati dengan dusun ini karena diam diam memasang teluh pada diri Ratna saat terlelap. Ia harus secepatnya pergi dari daerah ini.
Setelah keluar dari dusun itu, Jingga memelankan laju kudanya, diikuti Ratna yang menjajarinya.
"Apakah kamu mengenali pertapa tadi?"
"Aku tidak kenal,"
"Lalu apa tujuannya mau menculikmu? Mereka bukan seperti dugaanmu, Mereka bukan yang terganggu oleh kegiatanmu di dusun dusun. Mereka juga bukan kumpulan prajurit rahasia."
Ratna tercenung mendengarkan analisa Jingga.
"Bisa saja mereka adalah orang orang bayaran. Mereka melakukan sesuatu sesuai pesanan. Yang jadi masalah sekarang, siapa yang memesan mereka selama ini?" Tanya Jingga.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini, menghindar lebih baik daripada mengurusi mereka," usul Ratna. Ia masih ngeri kejadian tadi.
Jingga setuju dengan usulan Ratna. Sudah terlalu banyak masalah yang diurusi. Kali ini sebaiknya menghindar saja dan berjaga diri. Jingga juga yakin orang orang itu tidak akan kembali lagi.
"Kalau begitu, kita melanjutkan perjalanan mencari adikku, Untari,"
Ratna mengangguk menyetujui, "Aku mau menghadap Ayahandaku sebentar."
Jingga memandang Ratna, menunggu kalimat selanjutnya.
"Aku akan menyampaikan keadaan Rakyatku, Rakyat Ayah. Agar Ayahanda menghentikan peperangan yang sia sia ini."
Jingga tersenyum. Bila dirinya pada posisi Ratna, Ia juga akan melakukan hal yang sama.

Mereka lalu memacu kudanya ke pesisir terus menuju istana timur. Perjalanan memakan waktu seharian. Sampai Istana timur sudah larut malam. Ratna langsung meminta ijin menghadap Bhree Wirabhumi. Para penjaga kebingungan. Mereka mengenal Ratna sebagai putri Raja mereka. Mereka juga tahu status Ratna sudah dicoret dari kalangan istana dan sekarang menjadi rakyat biasa. Jadi tidak punya hak masuk istana seperti dahulu. Tapi bagaimanapun meski di coret, Ratna tetaplah junjungan mereka. Dalam dirinya mengalir darah raja yang tak bisa dihapus begitu saja.

Kedatangan Ratna langsung disampaikan ke kepala rumah tangga istana.
"Bagaimana keadaan Ndoro Ratna? Baik baik saja? Datang dengan siapa? Apa yang diinginkan Beliau?" Tanya Kepala urusan rumah tangga istana beruntun
"Ndoro Ratna baik baik saja meski kondisinya memprihatinkan. Datang sendirian, Beliau ingin menghadap Paduka Raja Bhree Wirabhumi,"
"Tempatkan di Bale tamu, layani dengan baik. Rahasiakan kedatangannya. Akan saya sampaikan ke Bhree Wirabhumi."
"Baik," kata penjaga gerbang istana, lalu berbalik kembali.
Sesuai perintah kepala urusan rumah tangga istana. Ratna dihantarkan ke rumah peristirahatan untuk tamu kerajaan. Disana Ratna dijamu dan diberikan pakaian ganti miliknya yang ditinggal.

Kepala urusan rumah tangga istana menghadap Bhree WIrabhumi. Malam malam begini biasanya Bhree Wirabhumi sedang bersantai di taman. Setelah semua urusan istana selesai.
Sambil memberi hormat, Kepala urusan rumah tangga istana melaporkan kedatangan Ndoro Ratna ke istana dan keinginannya menemui Bhree Wirabhumi. Dari ekspresi Bhree Wirabhumi, terlihat pancaran kegembiraan di wajahnya. Sudah cukup lama Ia tidak mendapat kabar tentang Ratna.
"Dayun," dengan gerakan jarinya, Bhree Wirabhumi meminta Kepala pelayan itu mendekat.
Dayun menghormat lalu mendekat, Bhree Wirabhumi berbisik, "Ajak anakku menemuiku diam diam."
Dayun undur diri, segera menuju Bale tamu.
"Ndoro putri, Paduka mengijinkan Ndoro putri menghadap sekarang. Mohon memakai pakaian ini untuk penyamaran." Dayun menyerahkan pakaian pelayan istana untuk menyamarkan keberadaan Ratna di istana.
Ratna menuruti, Ia mengganti pakaian di dalam bilik. Setelah selesai, Ratna berdandan layaknya abdi dalem keraton. Ia berjalan mengiringi Dayun. Seolah olah dirinya adalah bawahan Dayun. Dalam remang remang malam, kehadiran Ratna tidak menarik perhatian penghuni keraton.
"Ampun Bhree Wirabhumi, hamba malam malam mohon menghadap," Ratna langsung menghormat dalam ke Ayahandanya. Ada kerinduan yang menyesakkan dadanya akan kehidupan normalnya dimasa lalu.
Bhree Wirabhumi bangkit menyambut. Ia meminta Dayun untuk menutup dan berjaga di luar.
"Bagaimana kabarmu anakku?" Sapa Bhree Wirabhumi lembut. Ia melihat anak gadisnya semakin kuat.
"Baik kabar hamba, sampai saat ini masih menjalankan janji mengabdi ke masyarakat."
"Ya aku sudah tahu, kedua abdimu mengabarkannya."
"Ayah, bolehkah aku memohon sesuatu meski sudah dikeluarkan dari istana?"
"Boleh anakku, memohon apa?"
"Memohon Ayahanda menghentikan perang." Kalimat yang keluar dari bibir Ratna terdengar bergetar tertekan perasaan.
"Apa maksudmu? Perang baru berhenti bila sudah ada yang menang dan kalah. Selama belum ada yang menang, Ayah rasa tidak mungkin. Malah akan semakin berlarut pertikaian ini."
"Tak ada yang tidak mungkin. Ayah tinggal menarik mundur semua pasukan di medan perang. Menyatakan berhenti berperang."
"Kalau itu bisa Ayah lakukan untuk menyenangkanmu, akan Ayah lakukan. Tapi perang ini bukan perang Ayah sendiri. Ini perang seluruh Pamotan. Ayahanda hanya sebagai simbolnya. Banyak hal yang akhirnya menjadikan perang ini terjadi. Ayahanda tidak bisa mundur. Kalau Ayahanda mundur, para senopati dan pembesar Pamotan yang mendukung Ayahanda akan berbalik mengarahkan senjatanya ke ayah."
"Tapi kasihan rakyat Pamotan. Mereka yang paling merasakan akibat dari perang ini. Segala usaha hamba memajukan dusun dusun tertinggal akhirnya terbengkalai karena mereka harus menyokong perang. Hasil bumi, ternak dan laki laki tumpuan keluarga mereka diambil secara paksa untuk biaya perang.
Kini hamba tidak bisa mengabdi ke masyarakat karena menjadi incaran kelompok penculik. Entah siapa mereka dan siapa yang memerintahkannya. Mereka menggunakan kekuatan gaib menyerangku. Dipimpin seorang pertapa bertopeng. Tempatnya di sebuah lembah dalam hutan perbatasan dengan Kahuripan."
Bhree Wirabhumi terkejut mendengar putrinya ada yang hendak menculik. Ia sayup sayup seperti pernah dengar pertapa bertopeng dan lembah angker. Selama ini dari laporan Panglima Prajurit Pamotan, Pertapan itu katanya menjadi sayap kanan Pamotan. Lalu kalau sudah menyerang Ratna, apakah masih bisa disebut sayap kanan Pamotan? Tiba tiba darah Bhree Wirabhumi berdesir keras. Ia merasakan ada hawa penghianatan di dalam pasukannya.
"Baiklah anakku, akan ayah usahakan sekuatnya untuk segera mengakhiri perang. Sedangkan para penyerangmu, akan ayah kejar sampai mereka mendapat hukuman yang setimpal. Lalu siapa yang menjagamu? Kalau kedua pengawalmu itu ayahanda tidak yakin mampu menghadapi Pertapan bertopeng itu."
"Hamba bisa menjaga diri sendiri, kalau banyak pengawal malah semakin mudah menjadi sasaran mereka karena mudah dikenali."
Kemudian mereka membicarakan hal hal lain seperti masa dulu. Ratna memang sering berdiskusi dengan Ayahandanya untuk segala macam urusan. Begitulah cara mereka berdua melepaskan kerinduan.
Di kejauhan terdengar bunyi kentongan pertanda pergantian jaga. Ratna langsung pamit. Bhree WIrabhumi memeluk sejenak anak kesayangannya ini.
Bhree Wirabhumi memanggil Kayun yang berjaga di luar taman.
"Antarkan anakku keluar."
"Baik Paduka,"
Dayun lalu mengantarkan Ratna keluar dari istana. Ratna berterimakasih kepada Dayun yang tulus menolongnya bertemu Ayahanda.
"Terimakasih Mbah Dayun, titip Ayahanda ya, jaga kesehatan,"
"Baik Ndoro Putri, itu sudah menjadi kewajiban hamba," jawab Dayun santun. Ia menawarkan pengawalan dan penginapan kepada Ratna selama berada di Kotaraja.
"Tidak usah Mbah, pengawalku sudah ada, menunggu di luar."

Ratna senang Ayahandanya menerima sarannya. Meski pelaksanaannya amat sulit. Sama halnya dengan saat dirinya harus keluar Istana, dicabut hak hak sebagai putri raja. Keputusan itu dilakukan Bhree Wirabhumi demi meredam persaingan didalam istana. Padahal hati kecilnya ingin mengampuni Ratna. Semoga Ayahanda diberi kekuatan menghentikan perang sia sia ini, gumam Ratna dalam hati.

Diluar, Jingga mengikuti Ratna yang berjalan sendiri menembus malam menuju penginapan. Sengaja tidak menghampiri langsung untuk mengamati adakah orang lain yang mengikuti Ratna diam diam setelah keluar dari istana. Perjalanan dari gerbang istana menuju penginapan sekitar sama dengan mengunyah sekapur sirih. Tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Beberapa orang yang berpapasan hanya menoleh sesaat lalu kembali sibuk dengan urusannya sendiri. Penampilan Ratna tidak menarik perhatian orang orang yang bertemu di jalan.
Sampai di penginapan, sejenak Ia menoleh kamar Jingga yang gelap. Ia lalu masuk kamar, mengonci pintu.
Malam semakin larut dan dingin. Para penjaga malam masih ngobrol kesana kemari. mengusir kantuk dan sepi. Jingga berjalan melintasi mereka sambil menyapa santun. Para penjaga memandangnya lalu menganguk membalas penghormatan Jingga. Di kota yang berada di dekat dermaga. Kehidupan berjalan tidak mengenal malam. Kegiatan bongkar muat barang di pelabuhan membuat kehidupan sekitarnya ikut berjaga. obor obor memenuhi sisi sisi sepanjang jalan sekitar. Hilir mudik kereta dan pedati seiring dengan hilir mudiknya para pekerja pelabuhan ikut menjadikan malam tidak mencekam.
Jingga langsung masuk kamarnya. Suara gesekan engsel pintu saat dibuka tutup seperti mengabarkan kehadiran Jingga ke Ratna. Mendengar ada orang datang di kamar sebelah, membuat Ratna bisa memejamkan mata. Tidur.


Cahaya matahari mulai menyinari ujung tiang layar kapal kapal yang berjajar di dermaga. Terlihat indah menghiasi pantai utara yang biru.
Jingga menemani Ratna sarapan.
"Urusanmu sudah selesai?" Tanya Jingga.
"Sudah, aku menemui Ayahanda. Meminta menghentikan perang."
"Apa tanggapannya?"
"Ayah menyetujui, namun keputusan bukan hanya dari dirinya."
Jingga mengangguk membenarkan.
"Kamu juga, jangan suka berperang. Ingatlah orang orang yang menderita karena perang,"
"Iya," jawab Jingga tidak membantah.
"Sekarang kita mulai mencari Untari," kata Ratna mengalihkan pembicaraan. Tidak enak melihat Jingga menjadi murung oleh kata katanya tadi.
"Baik, aku siap siap dulu ya," Jingga bangkit kembali ke kamarnya.
Ratna mengemas sisa makanan, Ia juga bersiap ikut Jingga mencari Untari di Pamotan. Mengenakan pakaian sederhana dengan penghitam kulit dan beberapa riasan untuk menyamarkan diri.

Berdua mereka berjalan menuju pelabuhan. Ratna mengikuti kemana Jingga melangkah. Berkali kali Jingga bertanya tentang para pengungsi dari Blambangan yang berada di Pamotan. Akhirnya Jingga mendapat informasi tentang keberadaan pengungsi Blambangan. Mereka berada di sebuah komplek rumah yang dimiliki seorang saudagar keturunan Blambangan.
Jingga menuju tempat itu yang berada di luar kawasan kotaraja. Di tempat itu cukup banyak pengungsi Blambangan tinggal. Demi keamanan dirinya, Jingga mengaku dirinya seorang utusan Pangeran Jingga yang melacak keberadaan keluarga Raja Blambangan. Sengaja Ratna ditinggal di penginapan agar tidak menyulitkan bila harus mengarang cerita agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Jingga disambut mereka dengan ekspresi penuh curiga. Bagaimanapun trauma peperangan membuat mereka paranoid terhadap orang yang tidak dikenal.
Disana ternyata ada keluarga dari istri kakaknya, Pangeran Sendaru. Jingga menemui mereka, tetap menyamar sebagai utusan Pangeran Jingga. Mereka menanyakan keadaan Blambangan saat ini. Jingga menjelaskan kondisi Blambangan sejak terbunuhnya Pangeran Sendaru, pengambilalihan Blambangan dan terakhir kedatangan pasukan Majapahit pimpinan Senopati Kijang Anom. Mendengar penjelasan terkahir Jingga. Mereka semua berdoa untuk keselamatan rakyat Blambangan.
"Lalu kedatangan Ki Sanak kesini tujuannya apa?"
"Saya mencari jejak adik Pangeran Sendaru, Untari. Sejak penyerangan itu, Ndoro Ayu putri Untari tidak diketahui keberadaannya. Kalaupun meninggal bersama Ibunda Suri, kenapa mayatnya tidak ditemukan."
Jingga kemudian diajak berbicara kesana kemari, meski kedengarannya beramah tamah, tapi itu jenis pemeriksaan ke diri Jingga apakah benar Jingga pendukung Blambangan atau seorang mata mata musuh Blambangan.
Jingga kemudian diajak keluar halaman. Ia ditemani seorang yang cukup sepuh dan seorang wanita setengah baya. Mereka bertiga duduk di sebuah bale bengong ditengah taman.
"Sengaja kami ajak kesini untuk menyampaikan sedikit rahasia keberadaan Ndoro putri Untari. Waktu pengungsian, kami seperti melihat Ndoro putri Untari yang sedang menyamar bersama seorang perempuan yang sangat cantik meski kulitnya hitam. Kebetulan kami satu kapal dari Blambangan kesini. Sebetulnya kami ingin menyapa, tapi kami menyadari, mereka sedang menyamar. Jadi kami diam diam menjaganya bila dalam perjalanan ada pihak pihak yang ingin melukainya. Untunglah sepanjang perjalanan tidak terjadi apa apa.
Sampai di Pamotan, semua turun termasuk mereka berdua. Kami terus menjaga diam diam. Mereka sepertinya hendak melanjutkan perjalanan. Mungkin mereka menganggap Pamotan belum aman dari kejaran musuh. Beberapa hari kemudian, mereka berangkat lagi menaiki kapal dagang ke arah barat. Kami tidak bisa menjaganya lagi karena keterbatasan kami."
Orang itu lantas menjelaskan ciri cirinya. Jingga mengangguk paham. Ia mengenal ciri ciri kapal itu. Itu kapal milik Raden Sastro.

profile-picture
profile-picture
andir004 dan bakulmenyan memberi reputasi
profile picture
Tsuroso
Wah.
Semakin seru ceritanya..
Terima kasih ki., update nya
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di