KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Poetry /
RINDU DARI SEBERANG LAUTAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca8fb29a727687118690eb3/rindu-dari-seberang-lautan

Rindu Dari Seberang Lautan (Kumpulan Puisi)

KUMPULAN 150+ PUISI KEHIDUPAN


Quote:

RINDU (1)

Kini, aku tepat berdiri di bibir pantai
Menatap jauh ke depan
Gulungan ombak berkejaran
Berlomba siang malam tak kenal lelah
Ingin jadi yang pertama mencium putih pasir pantai

Tak ingin aku menoleh ke belakang
Ada pohon pinus tumbang dengan dahan berserakan
Cemara kering hilang kasih sayang
Ranting dahan patah halangi jalan indah terbentang

Susah payah semua aku singkirkan
Bekal penghabisan hanya tersisa sebuah harapan
Pergi ke seberang lautan menjemput secercah harapan
Di sana ada bayangan indah menggoda sampaikan pesan menggelora

Quote:

Hingga siang resah tak mampu bersuara
Malam sepi sendiri menanti kunang-kunang menghampiri
Kasih bakal tak sampai
Hanya angan kecil ingin berjumpa meski sekelebat saja

Aku diam terpaku,
Betapa luas lautan akan aku arungi
Pikiran ini tak mampu melihat lagi
Hanya namamu mengitari aliran urat dalam otak kepala
Sementara dalam setiap tetes darah mengalir kata, mengeja sebuah nama dan itu namamu

Duhai camar, terbanglah kau dari atas bagan itu
Datanglah ke tempat ini
Hinggaplah segera di batok kepalaku
Belah cangkangnya jangan ada sisa
Ambil darah di dalam otaknya

Bawa kepadanya dalam paruh lebarmu sebanyak kau bisa
Tumpahkan di atas pangkuannya
Biar dia tau darah ini campuran hurup atas namanya
Susun kembali menjadi nama indah yang siang malam beredar mengalir dari jantung ke kepala

Duhai angin, kumpulkan seluruh temanmu
Bawa belati tertajam yang kau miliki
Lalu, belah dadaku ini
Ambil jantungnya, keluarkan dari sarangnya

Sampaikan padanya
Degup kencang adalah irama tarian cinta
Nyanyian rindu menggelora yang tak pernah berhenti tak pernah reda
Juga, tersebut sebuah nama jadi tabuh genderangnya

Balutkan di sekujur tubuhnya
Hingga dia tau
Hingga dia merasa
Kalau rindu ini hanya untuknya
Kalau cinta ini hanya untuknya
Kalau detak jantung ini pun hanya berdenyut panggil namanya

Quote:

Kakiku kian tenggelam di pasir pantai
Tak kuat melangkah maju
Tak mungkin kutarik kebelakang
Namamu ada di sana
Akan kuraih, namun aku tak bisa

Kepiting mulai menggigit perlahan dalam pesta makan malam
Darah mengucur bercampur air garam
Biarlah
Jika lautan masih bersahabat dengan cinta dan kerinduan

Aku yakin,
Darah ini akan sampai ke seberang
Membalas sebuah salam yang dulu pernah kau sampaikan,
" Ada rindu yang terbentang antara kau dan aku. Menggelayut manja membuai dalam pelukan malam"

Jika benar itu pesan darimu
Biarlah aku pasrah
Meskipun kini aku berdiri di sini
Di bibir pantai ini
Adalah seonggok kerangka daging dan tulang
Menanti jawaban camar, angin, dan air lautan

Bahwa rinduku telah tersampaikan
Dan kau terima dengan kasih sayang yang dalam

Tanah Bumbu, 07 April 2019



Lupakan Aku (2), Medali Dalam Pelukan Malam (3), Malam Kekasih Hilang (4), Sisa Pesta (5), Atas Nama (6), Jangan Pergi (7), Kebimbangan (8), Kembang Kertas (9), Pesan Mesra (10), Bulan Separo (11), Berlabuh Di Tempat Salah (12), Kekasih Perindu Sejati (13), Rindu Berselimut Cemburu (14), Mesra Hilang Seketika (15), Pesan Yang Tersesat (16), Ia Berkata (17), Malam Tak Ada Bintang (18), Bulan Purmana (19), Aku Datang (20), Bau (21), Milik Kita (22), Telunjuk (23), Rebah Bahagia (24), Menyusun Kenangan (25), Da da di (26), Sebuah Nama (27), Air Yang Tertinggal (28), Selimbada (29), Pengikut (30), Ranting Randu (31), Janin Menuntut (32), Diam Terpaku (33), Ujian (34), Maaf Yang Sempat (35), Kembang Kopi Yang Jadi Saksi (36), Prasangka (37), Malam Seorang Diri (38), Cacing dan Pemancingnya (39), Sisa Bencana (40), Tuna Grahita (41), Sandal (42), Perantau (43), Dia ,(44), Kini Tiada Lagi (45), Cermin Bukan Kita (46), Pulpen Bercerita (47), Anja (48), Koyak Moyak (49), Tak Ingin Sendiri (50), Bosan (52), Ibu Muda (52), Pagi Penuh Harapan (53), Aku Berdoa (54), Bosan Yang Mencekam (55), Kembang Kopi Jadi Saksi (56), Ini Kopi Dalam Negeri, Bapak (57), Membencimu (58), Wajah Cantik Diumba (59), Sayang, Itu Memabukkan (60), Gasan Bila (61), Tentang Kekasih (62), Ini Rumah Kita (63), Aku Rindu (64), Yang Malang (65), Nostalgia (66), Sayang Sini, Cinta Sana (67), Pintu Sudah Terbuka (68), Basah (69), Tidak Sama (70), Sayup Sayup (71), Ia Adalah Mbok Ghirah (72), Sebuah Pesan (73), Retas (74), Kesepian Itu Menyiksanya (75), Hilang (76), Sayang Yang Hilang (77), Belum Selesai (78), Mama Hone (79), Malam Istimewa (80), Ia Miskin (81), Keluarga Ada dan Mati (82), Terpaksa (83), Tabarrujal Jahiliyyah (84), Lelah (85), Medsos Ditutup (86), Hanya Itu (87), Perlahan Sirna (88), Oh, Iya (89), Tertunda (90), Doa (91), Belum Cukup (92), Haram (93), Rindu (94), Ini Cinta (95), Tak Berubah (96), Ia Tertawa (97), Lagu Sunyi (98), Menantang Harapan (99), Lupa ,(100), Menjenguk Siang (101), Kau Masih Menanti (102), Pergi (103), Atas Nama Cinta (104), Ia Akhirnya Pergi Juga (105), Ia Mengira Aku (106), Terbelengu (107), Namanya Ma Irum (108), Tekstual dan kontekstual (109), Kembang Kertas (110) , Aku hanya akan mengatakan (111), Hanya Itu? (112), Putusan Sengketa Pilpres (113), Baiklah, Aku Bacakan (114), Mengecap Duka (115), Status WA (116), Kopi Meresahkan (117), Lelah Menggerogoti (118), Suara Rusa (119), Bencana (120), Pesta Tersembunyi (121), Tergerus Masa (122), Kemalangan (123), Mengapa Bisa (124), Orang Sangat Kaya (125), Menebar Jala (126), Arogansi Feodalistik (127), "Akh, Remeh temeh," katanya (128), Hanya Tenang (129), Suatu Saat (130), Ku Tulis Namamu (131), Kau (132), Tega (133), Tak Lagi Suci (134), Modin (135), Tanah Leluhur (136), Obat kuat sebenarnya (137), Penumbuk kopi (138), Sisaair mata (139), Gubuk ilalang di tengah sawah (140), Bencana telah terjadi (141), Bulan gerhana perisai (142), Kepada siapa kopi ini aku bagikan (143), Nasib malang setelah pengabdian (144), Badai di atas kepala (145), Tumbuh, lalu berkembang (146), Selaput biji kurma (147), Hidup mati? (148), Cabai dan garam (149), Hujan air mata (150) + dan seterusnya

Selesai
profile-picture
profile-picture
profile-picture
hvzalf dan 30 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh Surobledhek746

CABAI DAN GARAM (149)

Barangkali sebentar lagi jantungku segera lepas dari gantungannya
Mataku akan tertutup selayar hitam
Hidungku akan penuh masker tebal

Ini sebuah negara, tanah dan air ini milik kita
Bukan milkku atau milkkmu saja
Namun, aku selalu salah sangka

Matahari menyapa dua belas jam lamanya
Kemudian malam datang meninggalkan embun ketika perginya

Anak TK terbahak bercerita dengan temannya,
"Manfaat matahari dan embun saja kau tak tau. Membuat malu ibumu saja."

Ia menyuburkan tanaman sesubur-suburnya
Mengkristalkan air laut sekristal-kristalnya
Juga menjemur kering cucian sekering-keringnya

Aku bertanya dalam hati, "Petani berangkat bekerja pagi hari, kemudian baru tiba di depan pintu ketika senja. Setiap hari, sejak nenek hingga cucunya nanti. Apa yang salah?"

Sebenarnya ada apa ini?
Tak ada apa-apa, semua beres-beres saja
Berita viral juga tidak ada

Memangnya tentang apa?
Benar tak ada apa-apa
Lalu apa yang salah, seperti mau kiamat saja

Biasa saja,
Hanya garam saja kita kehabisan stok, harus impor?
Tapi kamu diam-diam saja ya?

Apa lagi?
Cabai sedang langka, Rp 95.500 perkilo, aku akan berusaha impor juga
Cabai?

Apalagi?
Ini rahasia negara
Awas jika sampai bocor ke media
Kudeta, mengganggu stabilitas keamanan
Merongrong kewibawaan

Cabai dan garam?
Tanah kita sudah habis dengan pemukimankah?
Laut kita sudah tawarkah?

Entahlah, aku juga bertahan
Agar tak makan dengan cabai dan garam

Tanah Bumbu, 31 Juli 2019


HOME
Diubah oleh Surobledhek746
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di