alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
SERANGAN UMUM BLAMBANGAN II


Di pantai, Pasukan Senopati Arya sudah datang. Pasukan itu tidak bisa bergerak cepat karena terbebani senjata cetbang kelas menengah yang lumayan berat. Meski tidak bisa ditembakkan karena kehabisan mesiu. Namun kalau ditinggal amat sayang karena bisa digunakan pasukan lawan. Jadinya cetbang itu dibawa kemanapun pasukan Senopati Arya pergi.
Apalagi kini jalur pengejaran melalui pesisir pantai. Jalannya kecil dan berpasir. Beberapa tempat harus menyeberangi sungai berlumpur. Benar benar menguras tenaga dan waktu.

"Mana mereka?!" Tanya Senopati Arya mencari keberadaan pasukan berkuda. Setelah dekat dengan Pulau Bakau.
"Dari jejaknya menuju ke pulau kecil itu," jawab salah satu pencari jejak. Memang di pantai terdapat banyak sekali jejak yang hilang kearah laut yang mana terdapat pulau kecil yang banyak ditumbuhi pohon bakau lebat.
"Paling juga gak berani kesana," celetuk Bekel Ekasila meremehkan, diikuti tawa tertahan pasukannya. Mereka cukup kesal dengan perjalanan kali ini. Karena tenaga mereka terkuras hanya untuk membawa Cetbang yang cukup berat. Padahal Cetbang itu tidak digunakan karena tidak ada mesiu.
Senopati Arya mendengar ejekan mereka. Tapi tidak Ia hiraukan.
"Semua pasukan menggempur kesana! Tanpa kecuali!" Perintah Senopati Arya terdorong rasa kesal oleh ejekan mereka.

Di pulau terlihat asap membumbung seolah menjadi aba aba mereka untuk segera menggempur pulau itu.
Yang membawa cetbang agak ragu, karena kereta Cetbang mereka tidak bisa kesana.
"Cetbang ditinggal disini. Kalian ikut semua!" Perintah Senopati Arya tak mau meralat perintah. Apalagi pasukan cetbang adalah pasukan yang menertawakan dirinya.

Jadinya Pasukan itu berduyun duyun menyeberangi selat lumpur menuju pulau hutan bakau. Senopati Arya awalnya tidak mau turun berjalan di lumpur. Ia memilih tetap menaiki kudanya. Belum sampai setengah perjalanan, kudanya sudah larat tidak mau maju lagi. Kaki kakinya tertanam di lumpur. Sedangkan air mulai pasang.
Kesal, Senopati Arya langsung menusuk mati kudanya. Karena dianggap membangkang. Ia kemudian berjalan dalam lumpur dikawal pasukannya.

Susah payah mereka akhirnya bisa mendekati pulau. Seperti pasukan berkuda sebelumnya, mereka langsung disambut serbuan panah dari sela sela pohon bakau. Korban mulai berjatuhan. Refleks mereka membentuk pertahanan berjalan menggunakan tameng.
"Serbu! Jangan lemah!" Teriak Senopati Arya memerintahkan pasukannya maju terus. Dari jumlah panah, Ia sudah mengukur berapa jumlah pasukan yang menghadang. Jumlah yang terlalu kecil untuk ditakuti.
Pasukan Majapahit seperti gelombang menerpa pantai. Datang berduyun duyun. Apalagi serangan panah sudah tidak ada lagi. Membuat mereka tambah semangat menyerbu ke dalam pulau bakau.
Sekejap kemudian sisi pulau bakau sebelah barat sudah penuh sesak dengan prajurit Majapahit. Dengan siaga penuh bergerak maju menerobos rapatnya barisan akar pohon bakau. Mencari para pemanah yang menyerang tadi.
Namun semakin dalam mereka berjalan, tak satupun musuh yang menyerang tadi ditemukan. Mereka hanya menemukan tumpukan kayu yang dibakar. Juga pakaian prajurit berkuda yang berceceran di lumpur. Terlihat jejak berjalan ke arah pantai tenggara lalu menghilang.
Kemana seluruh pasukan berkuda itu?
Kemana hilangnya para penyerangnya?
Didekat sini tidak ada kapal besar yang mungkin mengangkut pergi dari pulau ini.
Dari onggokan pakaian yang banyak, dapat disimpulkan, pasukan berkuda tertawan dan ditelanjangi lalu dibawa pergi. Namun mereka pergi kemana?

Seluruh pulau dikitari namun tidak ada seorangpun yang terlihat. Sebagai pelampiasan mereka menebas kanan kiri sambil berteriak teriak.
"Apakah mereka sekarang berada di pulau itu?" Pimpinan telik sandi menunjuk pulau sejenis di sebelah selatan. Pulau itu terlihat sepi dan tenang. Namun saat dicoba menyeberang, air semakin naik. Disini ada arus cukup kuat. Cukup berbahaya bila nekat menyeberang. Mereka harus berenang.
Senopati Arya menolak usul itu. Apalagi tidak terlihat tanda tanda pergerakan disana. Bisa bisa pasukannya berputar putar kehabisan tenaga sebelum berperang.

Tanpa disadari Senopati Arya, kini pasukannya terisolir di pulau Bakau tanpa perlengkapan mencukupi untuk bertahan hidup.

Ditempat lain, tawanan yang ditelanjangi sudah dibawa ke daratan lewat jalur melingkar di selatan, sehingga tidak terlihat Pasukan Majapahit yang menyerang. Tawanan itu lalu diberi kain seadanya agar tidak merasa dipermalukan dan dibawa naik ke barat masuk hutan Purwo, dikumpulkan dengan tawanan yang terdahulu.

Di darat, pasukan yang dipimpin Andaka sudah datang dan tanpa kesulitan mengambil alih puluhan cetbang yang ditinggal begitu saja di pantai. Senjata senjata itu kemudian ditata menghadap ke pulau bakau. Mengepung sepanjang pantai.

Senopati Arya salah perhitungan, mengira hanya Majapahit saja yang bisa membuat mesiu. Ia tidak tahu kalau pasukan Jingga jauh jauh hari sudah belajar langsung kepada pande besi dari Rajegwesi, tempat para Pande Andalan Mahapatih Gajahmada dalam membuat Cetbang. Mereka kini bisa mengoperasikan cetbang, bahkan memproduksi sendiri.

Dalam beberapa hari ini, Pasukan Andaka diam diam memproduksi mesiu dan gotri. Bahan belerang amat melimpah di Blambangan, hasil dari tambang di Kawah Ijen. Bubuk arang mudah dibuat dan yang terpenting adalah kotoran kelelawar sebagai bahan utama, . Mesiu itu dipasang di selongsong selongsong yang banyak ditinggalkan di gudang kota raja paska pembakaran gudang senjata.

Dan kini cetbang menjadi senjata makan tuan. Senjata yang jadi andalan meruntuhkan kekuatan Blambangan dalam semalam. Hari ini berbalik menyerang tuannya yang terjebak di pulau hutan bakau.

Awalnya Pasukan Senopati Arya tidak menyadari perkembangan yang terjadi di daratan. Mereka masih sibuk mengacak acak seisi pulau mencari persembunyian penyerang tadi. Mereka tersentak ketika mendengar dentuman pertama. Dentuman keras Cetbang yang ditembakkan Andaka diikuti sorak sorai pasukan yang bersamanya.

Betapa kagetnya Senopati Arya melihat ke arah pantai. Berderet cetbang sepanjang pantai.
"Kita dijebak!" Seru Bekel telik sandi.
Berapa kekuatan mereka?" Tanya Senopati Arya.
"Tidak banyak Senopati, kurang lebih tigaratus orang."
"Kita kembali ke darat! Bantai mereka!" Perintah Senopati Arya.
"Tapi, mereka sekarang memegang Cetbang kita," saran Bekel pengawalnya.
"Buat apa takut? Itu yang tadi meledak adalah sisa mesiu kita. Dengar! Apakah ada ledakan lagi? Tidak ada! Itu berarti mereka hanya menakut nakuti!"
"Siap!"
"Ayo berangkat!" Seru Senopati Arya sambil mengangkat tinggi pedangnya menunjuk kearah darat.

Hati hati mereka bergerak kembali ke darat. Memang terlihat tidak sebanyak mereka. Jadi buat apa gentar. Kalaupun takut, itu karena melihat cetbang berjajar moncongnya mengarah kepada mereka. Tapi bukankah Cetbang itu sedang kosong, tanpa mesiu dan gotri. Kalaupun ada. Pasti sudah diledakkan. Berkali kali menyerang pulau Bakau yang masih dalam jangkauan tembakannya.

Saat barisan pertama masuk selat lumpur. Tak ada ledakan. Membuat pasukan dibelakangnya bersemangat keluar menyusul karena merasa aman. Berbondong bondong mereka keluar berloncatan diatas lumpur lengket. Jumlah mereka yang lima kali lipat lebih membuat mereka yakin akan menumpas para perampas cetbang itu.

Ditengah Pasukan Majapahit mulai setengah berenang menyeberangi selat lumpur yang mulai pasang. Ketika barisan pertama berada di tengah selat. Dari seberang jalan keluar seruan untuk menyerang.
"Tembaaaak!" Teriak Andaka keras sambil menyulut sumbu mesiu cetbang.

BLAR! BLARR! BLARRR!

Bergemuruh suara ledakan demi ledakan cetbang melontarkan gotri besi membara ke tengah selat.
Terjadi kekacauan di tengah selat lumpur. Pasukan Majapahit langsung merendam dirinya kedalam lumpur, menutup kepalanya dengan tameng. Hal ini cukup efektif meredam. Meski korban juga banyak. Teriakan kesakitan terkena besi panas menggema dimana mana.

Tembakan susulan kembali menggelegar meruntuhkan mental pasukan Majapahit. Perkiraan mereka salah, ternyata Blambangan punya mesiu untuk cetbang itu. Tapi kayu sudah jadi arang. Mereka harus cepat maju menyerang dan merebut kembali senjata itu.

"Maju!" Perintah Senopati Arya memberi semangat.

Mendapat perintah maju, mereka kembali maju menerjang hujan gotri panas. Teriakan kesakitan dan bau daging terbakar kini mereka rasakan sendiri. Sebelum sebelumnya hanya menonton saja lawannya meregang nyawa menjemput maut.

Jarak dengan pantai semakin dekat. Sekitar seratus depa saja. Selat makin dangkal sehingga mereka hanya bisa merayap membenamkan diri dalam lumpur. Bergerak kedepan tanpa melihat karena tertutup tameng penahan gotri panas.

Beberapa kali mereka harus merayap diatas mayat rekannya. Mereka tidak sempat menghitung berapa banyak rekannya yang tewas dan tersisa berapa yang hidup. Mereka bagai tukik yang beradu cepat merayap menuju pantai.

Mereka berhenti merayap ketika lumpur sudah tidak bisa lagi menyembunyikan tubuh mereka. Saat itu juga tembakan cetbang berhenti menggelegar menebar maut. Detik itu para prajurit Majapahit memberanikan diri membuka tameng, mengintip ke pantai. Mereka sudah tinggal duapuluh depa saja dengan bibir pantai.

Dan pemandangan yang dilihat membuat mereka tidak bisa apa apa.
Disepanjang bibir pantai berbaris ribuan orang bersenjata tombak, pedang, clurit dan panah sudah menunggu mereka.

Lalu darimana orang sebanyak itu bisa berkumpul disini, mengangkat senjata mengepung pasukan Senopati Arya?
Mereka adalah gabungan dari milisi Blambangan Lor yang dipimpin Andaka. Prajurit Blambangan yang selamat dari sektor barat dan milisi Blambangan Etan. Gabungan ketiganya sudah mendekati seribu orang. Ditambah para penduduk Blambangan Etan yang secara sukarela ikut bergabung. Mereka rela mati setelah melihat rumah rumah mereka dibakar pasukan Senopati Arya. Jadilah pasukan Blambangan berlipat lipat jumlahnya. Bahkan jauh melebihi pasukan Senopati Arya saat ini.

"Menyerahlah! Sebelum kami habisi kalian semua seperti pasukan berkuda kalian!" Terdengar suara keras dari arah pantai. Itu suara Jingga. Masih mengenakan rumbai rumbai penyamaran. mirip seonggok sampah yang bergerak.
Tak ada respon, sepi. Tak ada yang bergerak. Mereka butuh berpikir.
"Sekali lagi, yang menyerah akan selamat kembali ke Wilwatikta. Yang melawan akan kami habisi sekarang juga!"
"Yang menyerah, cepat berdiri, letakkan senjata kalian disana! Berjalan kesini! Saya hitung sampai sepuluh, cepat!"
Perintah Jingga sudah sangat jelas. Tinggal mereka mau menyerah apa tidak.

Yang terdepan mendahului berdiri. Mengangkat tangan tinggi tanda menyerah lalu berjalan menuju gerobak meletakkan tameng dan senjata. Beberapa rekannya mengikuti di belakangnya.
Awal mereka ragu ragu maju, namun melihat orang orang didarat melambai memanggil sambil berteriak cepat cepat membuat mereka terpengaruh lalu lari menghampiri. Saat keluar dari lumpur, mereka langsung disambut dengan prajurit yang memeriksa apakah membawa senjata atau tidak. Setelah dianggap bersih, langsung diberi minum kemudian tangannya diikat dibawa naik ke darat. Begitu seterusnya. Tidak ada adegan kekerasan yang ditakutkan mereka.

"Satu! Yang menyerah akan selamat sampai Wilwatikta!"

Dari dalam lumpur bangkit lagi puluhan orang yang menyerah. Meletakkan tameng dan senjata ke gerobag seperti yang lebih dulu menyerah.

"Dua! Kumpulkan disana senjata kalian! Dan jangan sekali kali menghianati kepercayaan kami, sudah ada contohnya!"

Semakin lama semakin banyak yang bangkit menyerah. Sikap mereka tidak ragu ragu lagi.

"Tiga! Kami bukan memusuhi Majapahit! Kami hanya melawan Dutamandala yang memperalat kalian!"
Sambil menghitung Jingga mencoba menggoyahkan perasaan Prajurit Majapahit. Ia yakin tidak semua yang ikut ke Blambangan ini tahu duduk perkaranya. Maka sekarang waktunya menjelaskan.

Semakin banyak yang bangkit menyerah, terutama yang sejak awal tidak setuju dengan peperangan ini.

"Empat! Saya ini dulunya prajurit Majapahit seperti kalian, tapi oleh fitnah Dutamandala yang tidak terima anaknya aku tangkap atas kejahatannya di Matahun. Memfitnah aku, membuat kejadian seolah olah Rawiteja aku bunuh. Padahal sekarang Ia sedang mengumbar birahi dengan perempuan mancanegara!"

Semakin panjang antrian untuk diperiksa. Pasukan Gembong turun tangan membantu, masih dengan topeng dan pakaian samaran.

"Lima! Lalu Dutamandala memburuku, membunuh orang tuaku. Memfitnah katanya aku yang membunuhnya."

Prajurit yang menyerah bergerak menuju hutan di barat pantai membentuk barisan panjang dikawal pasukan Blambangan.

"Enam! Saat dosanya terbongkar di Blambangan, apa yang dilakukan. Blambangan diserang! Dihancurkan! Keluargaku dibunuh, prajurit Blambangan dibantai!"

Ada seorang prajurit yang ketahuan menyimpan senjata di balik pakaiannya. Tanpa banyak bicara, tawanan itu diikat sekujur tubuhnya lalu di geletakkan begitu saja di lumpur dangkal. Tawanan itu menangis meminta ampun agar tidak dibunuh.

"Tujuh! Lihat ini contoh orang yang hendak bermain main dengan kepercayaan kami. Menyerah, tapi masih menyimpan belati!"

Beberapa prajurit yang terlihat melemparkan belati ke dalam lumpur setelah melihat rekannya ketahuan dan dihukum.

"Delapan! Yang merasa Prajurit Majapahit aman! Yang antek Dutamandala! Bersiaplah!"

Yang melemparkan senjata langsung dipisahkan dari barisan. Mereka ini berpotensi mengacau di tempat tawanan. Jadi harus dipisahkan.

Ki Bekel Ekasila dan pasukan pengawalnya akhirnya ikut menyerah.

"Sembilan! Sampaikan ke Dutamandala! Kalau berani jangan menggunakan tangan orang lain, ayo bertarung secara jantan!"

Sudah hampir seluruh pasukan Majapahit menyerah. Tersisa sekelompok prajurit yang bergerombol. Itulah Senopati Arya dan para pengawalnya. Senopati Arya memaksakan diri untuk tidak menyerah. Dirinya malu bila harus menyerah kepada Jingga.

"Sepuluh! Waktu habis!" Teriak Jingga, menginggatkan waktunya sudah habis untuk mulai menyerang yang tidak mau menyerah.
Yang tersisa di dalam kubangan lumpur hanya sekitar lima puluh orang. Cetbang sudah diputar semua mengarah kanan kiri belakang depan dan tempat mereka berendam sekarang. Tak ada jalan keluar.

Ribuan orang bersiap menyergap pasukan Majapahit yang tersisa dengan cara masing masing. Mereka sepeti akan mengikuti kegiatan rampogan sima. Istilah acara berburu harimau dengan berbagai senjata secara beramai ramai. Meski yang diburu adalah binatang paling buas dan mematikan. Tapi kalau yang memburu jumlahnya memenuhi setiap jengkal arena. Itu lebih mirip ke penyembelihan dengan cara paling menyakitkan.

Seketika Senopati Arya mengangkat tangan, diikuti para pengawalnya. Merekalah prajurit terakhir yang menyerahkan diri.

Untung Jingga masih memberi pengampunan pada pasukan Majapahit yang terlambat menyerah itu. Ia menahan serangan ribuan orang yang akan mencacah mereka.

Detik itu secara resmi Pasukan Majapahit yang menyerang Blambangan ditaklukkan.

****


Walau sudah menang, bukan saatnya mereka berpesta. Jingga memerintahkan semua tetap fokus. Jangan sampai lengah dan menjadi peluang para tawanan melarikan diri atau melawan. Karena dalam segi jumlah, mereka amat besar untuk menjadi tawanan. Sudah ada beberapa yang berusaha melarikan diri. Untung pasukan Andaka dan Gembong sudah mengantisipasi. Tanpa belas kasihan, yang berusaha melarikan diri langsung dibunuh. Agar meringankan penjagaan dan peringatan bagi yang lain, bahwa Pasukan Blambangan kalau mau, bisa menghabisi mereka semua saat itu juga.
"Jangan Khianati kepercayaan Pangeran Jingga!" Teriak Gembong geram setelah menghajar seorang tawanan yang hendak melarikan diri.

Pasukan Jingga kemudian mengatur para tawanan. diikat per sepuluh orang.
"Ini peringatan untuk kalian. Bila satu dari kalian kabur! Maka akan kami bunuh sembilan yang tinggal dan akan kami cintang satu yang kabur untuk dimakan anjing hutan!" Ancam Andaka.

Ternyata ancaman itu cukup efektif meredam mereka kabur.

Maraton Pasukan Jingga mewawancarai pasukan Majapahit yang ditawan. Nama, asal, jabatan. Sekalian dipancing apakah dia orang orangnya dutamandala atau hanya prajurit yang terjebak dalam peperangan.

Kepada prajurit yang terjebak pada peperangan ini. Jingga memisahkan mereka. Diam diam malam itu mereka dilepaskan untuk pulang melewati hutan Purwo untuk kembali ke rumah mereka masing masing.
"Kalian diampuni Pangeran kami, karena kalian terjebak di situasi yang tidak kalian bisa kendalikan.
Sekarang kalian bisa pergi, pulang kerumah masing masing.
Kalian jangan menampakkan diri ke Prajurit Majapahit. Kalian akan dibunuh karena dianggap desersi.
Bersembunyilah bila berpapasan dengan kelompok lain. Karena kalian bisa celaka.
Tapi, bila suatu saat nanti kami melihat kalian kembali menyerang kami. Kami akan berbuat diluar yang kalian bayangkan!"
Mereka berterimakasih lantas pergi menembus hutan gelap melintasi Hutan Purwo menuju barat.
Begitulah cara Jingga agar tawanan yang dilepaskan saling bersembunyi menghindari yang lain dan tidak kembali menjadi prajurit Majapahit yang diperalat Dutamandala.
Hal ini juga mengurangi beban menjaga mereka. Tawanan yang dilepaskan cukup banyak, ada sembilanratus orang lebih.

Sementara yang memang hidup sebagai antek antek Dutamandala dan kroni kroninya. Jingga berlaku keras. Mereka dibuat lemah tanpa minum dan makan. Bergantian mereka diperiksa. Data dari Ki Genter cukup membantunya mengurai struktur jaring laba laba Dutamandala.

Dari interograsi, Jingga akhirnya mengenali Senopati Arya. Orang yang membuatnya diusir dari Kadewaguruan. Tapi Jingga tidak peduli kepada orang itu. Baginya Arya tak lebih dari penjahat biasa. Tak ada yang istimewa.

Tiga hari mereka ditawan sampai lemah. Kemudian seperti sebelumnya. Mereka dilepas per kelompok dan siwajibkan bersumpah tidak akan menjadi anteknya Dutamandala. Apabila sumpahnya dilanggar oleh salah satu saja dari kelompok itu, maka semua anggota kelompok itu akan dibunuh diam diam. Karena data mereka sudah dicatat semua.

Terakhir para pimpinan prajurit yang diminta bersumpah. Ternyata mental mereka cukup lemah. Mereka tanpa malu bersumpah agar bisa cepat bebas. Ditempat tersembunyi Jingga memantau sambil tersenyum. Betapa orang orang itu tidak punya jiwa kuat dengan prinsipnya. Otaknya hanya nafsu dan tipu daya.

Rombongan terakhir yang dilepas berjalan kepayahan menyeberangi hutan Purwo menuju Lamajang. Sebagian pasukan Jingga diam diam mengawasi pergerakan mereka. Dan selama ini semua rencana berjalan sempurna.

Pada hari ke empat, Jingga baru mengijinkan pesta kemenangan pasukan Blambangan. Mereka bersorak sorak sepanjang jalan Mengiringi Pasukan yang hendak kembali ke pos masing masing. Dentuman Cetbang menambah pesta kemenangan. Penduduk yang mengungsi berlarian kembali ke rumah masing masing. Meski tak sedikit yang harus lunglai setelah melihat harta bendanya musnah tak bersisa.

Jingga mengumpulkan para pemimpin dan pembesar Kerajaan Blambangan. Ia harus segera menata kembali struktur pemerintahan agar pemerintahan bisa berjalan normal. Raden Pakistaji sebagai sesepuh Blambangan diangkat sebagai Mahapatih. Sedangkan jabatan jabatan lainnya diserahkan kepada Raden Pakistaji mengaturnya.

Jingga mengingatkan. Bahwa ini bukan akhir. Sewaktu waktu akan datang pasukan lebih besar, lebih kuat. Jadi mumpung masih ada waktu, Jingga meminta masyarakat mempersiapkan tempat pelarian nanti. Penyimpanan logistik dan berbagai hal untuk mempertahankan diri dan hidup.

Jingga membiarkan kotaraja seperti setelah pendudukan. Bila diperbaiki akan banyak menghabiskan biaya dan tenaga. Padahal setiap saat Kotaraja akan diserang lagi. Jingga lebih fokus meningkatkan kemampuan desa desa untuk hidup mandiri.

Setiap hari Jingga beserta pasukannya membina dan mengarahkan masyarakat Blambangan untuk bisa tahan pangan, tahan serangan dan tahan mental menghadapi berbagai cobaan. Rumah rumah yang hancur, segera dibangun meski seadanya. Lumbung rahasia di pegunungan, rumah rumah pohon mereka buat seolah olah besok datang pasukan Majapahit.
profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan andir004 memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di