alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
GANTUNG


Sarko dan Darmen mempercepat perjalanan kembali ke Wilwatikta. Mereka takut kabar kekalahan pasukan Majapahit di Blambangan sampai lebih dulu. Bila hal itu terjadi, maka keteledoran Rawiteja dalam menjaga dirinya akan sulit ditemukan lagi.

Ketika sampai Wilwatikta. Surat dari Jingga segera diserahkan ke Ki Genter. Dengan seksama Ki Genter mempelajari setiap kata yang tertulis dalam surat Jingga.
Ki Genter menanyakan situasi yang terjadi di Blambangan. Sarko menjelaskan secara detail sesuai dengan yang diceritakan Jingga dan rekan rekannya disana. Bahwa Jingga menyiapkan penyerangan terakhir untuk mengusir pasukan Majapahit dari Blambangan.

Ki Genter mempersilahkan kedua caraka itu istirahat. Ia sendiri duduk terpekur melamun dan berpikir. Ia melihat Jingga sedang bermain api. Tapi tidak menyalahkannya karena dorongan dari luar yang menjadikannya berhadapan dengan Majapahit. Rencana untuk bertemu setelah tiga pekan sepertinya batal. Karena situasi berubah cepat.

Ki Genter berusaha menata hati. Jiwa Ksatriya Majapahit membuatnya banyak berpikir. Ia berusaha agar Jingga tidak berhadapan dengan Majapahit. Namun pihak yang membenci Jingga menyeretnya semakin dalam.

Ki Genter memanggil pimpinan group. Ia lalu menceritakan perkembangan yang cepat di Blambangan. Pasukan Jingga telah menyerang balik dan menewaskan dua senopati Majapahit. Dan sekarang menyiapkan penyerangan terakhir.

"Sebelum berita ini sampai ke pihak Dutamandala, kita harus bergerak lebih dahulu. Dutamandala dan orang orang disekitarnya ini menjadi benalu didalam pemerintahan Majapahit. Orang orang seperti merekalah yang menjadi musuh Majapahit sesungguhnya. Saya yang dari kecil berjuang untuk kejayaan Majapahit tidak terima dengan ulah mereka. Tapi jalur resmi tidak bisa kita tempuh. Maka Kita gunakan jalur kita sendiri. Kita Habisi mereka agar tidak merongrong Majapahit dari jantungnya."
Semua yang hadir mengepalkan tangan keatas tanda setuju dan siap menjalankan perintah.
Setelah menyatukan pemikiran, Ki Genter menyiapkan operasi serangan pertama yang akan dilaksanakan nanti malam.

***

Malam itu Ki Genter turun langsung. Ia memeriksa kesiapan pasukan yang akan mengeksekusi Rawiteja. Pasukan pengintai sendiri sudah berada di lokasi selama dua pekan lebih. Mereka sampai hapal jadwal kegiatan Rawiteja setiap hari.

Awalnya Rawiteja keluar setiap malam. Setelah sepekan Ia mengurangi dua hari sekali.
Beberapa kali Ia berpindah tempat pertemuan dengan perempuan perempuan mancanegara itu. Namun lebih banyak di rumah yang dijadikan tempat pertemuan pertama.

Perempuan perempuan itu terlihat gembira menerima berbagai hadiah dan bingkisan indah nan mahal dari Rawiteja. Sebagai imbalannya mereka melayani kegilaan Rawiteja melampiaskan birahinya.

"Bagaimana, target sudah bergerak?"
"Sudah Ki, kami hendak bergerak ke pos selanjutnya," jawab telik sandi di dekat kediaman Dutamandala.
Ki Genter langsung menuju rumah yang menjadi target. Ia lalui dengan melewati jalan melingkar agar tidak menarik perhatian telik sandi lawan. Setelah memastikan tidak ada yang mengikuti, Ki Genter langsung menuju lokasi penyerangan.

Sampai lokasi. Sepi, tak ada suara. Semuanya fokus mengamati.
Nafas mereka terhenti saat rombongan perempuan perempuan mancanegara datang dalam satu kereta. Perempuan perempuan itu berjalan masuk seperti di rumah sendiri. Beberapa penjaga rumah langsung keluar. Mereka memang dilarang dirumah bila Rawiteja datang. Biasanya mereka nongkrong di kedai minum di dekat pasar. Penjagaan diambil alih empat pengawal Rawiteja yang datangnya tidak bersamaan. Pengawal itu biasanya datang setelah kereta yang ditumpangi Rawiteja meninggalkan lokasi.

Tak beberapa lama kereta kuda yang dikendarai Rawiteja datang. Seperti biasa, dengan menggunakan jubah gelap, Rawiteja menyusup masuk rumah. Kereta langsung pergi seolah tidak menurunkan penumpang.
Beberapa saat kemudian datang empat pengawal langsung berjaga diluar.

Ki Genter bersiap siap. Delapan orang bertugas menyergap empat pengawal, Ki Genter bersama empat orang sudah berada di dalam dan bersembunyi di rimbunan taman. Dari sana Ki Genter bisa memandang jelas kegiatan Rawiteja mengumbar syahwat.
Rawiteja disambut perempuan perempuan mancanegara itu dengan manja dan gerakan erotis. Jubah jubah mereka sudah ditanggalkan menyisakan pakaian sutra tipis seperti labirin. Membuat Rawiteja mabuk sebelum menenggak arak yang disediakan di meja makan.
Bergantian perempuan itu menyuapi Rawiteja makanan kecil dan buah buahan dengan gerakan manja. Gelas demi gelas arak mulai diteguk.
Suasana semakin panas. Rawiteja mulai mabuk. Ia dipermainkan para perempuan itu, permainan cabul.
Sampailah pada puncaknya, birahi Rawiteja sudah berasa di ubun ubunnya. Hampir meledak. Ia menubruk perempuan terdekat hendak menuntaskan didepan mata yang lain di bale terbuka.
Ki Genter langsung meloncat. Diiringi empat orang. Masing masing sudah tahu tugasnya. Ki Genter langsung menyerang Rawiteja dengan pukulan peremuk tulang. Pukulan yang bisa menjebol dinding sekali pukul.
Rawiteja yang dalam keadaan sadar saja belum tentu mampu menghadapi Ki Genter. Kini harus menghadapi serangan mendadak dalam kondisi mabuk arak dan mabuk birahi. Tanpa senjata dan busana.

Ki Genter menghantam pinggang Rawiteja yang sedang menindih. Seketika Rawiteja terlempar menghantam tiang Bale yang terbuat dari kayu jati. Rawiteja tak sempat mengeluh kesakitan, Ia langsung Pingsan.

Perempuan perempuan itu terperangah melihat kejadian cepat itu. Tidak sempat teriak, mereka langsung kena pukul dari arah yang tidak diduga. Seketika mereka pingsan menyusul Rawiteja.

Cepat keempat perempuan itu diikat dan disumpal mulutnya. Sedang Ki Genter mengikat Rawiteja lalu dibopong pergi lewat pagar belakang dikawal empat pasus.
Didepan gerbang, secara bersamaan keempat pengawal Rawiteja diserang menggunakan panah beracun. Serangan itu begitu cepat sehingga mereka tidak bisa berbuat apa apa.
Keempatnya tewas seketika. Pasus yang disisi lain datang memastikan dengan menusuk jantungnya dengan pedang. Setelah dipastikan tewas, mereka gotong kedalam, dikumpulkan dengan para perempuan yang pingsan. Kedelapan penyerang itu lalu menghilang lewat pagar belakang.

Dalam kegelapan malam, Rawiteja dibungkus kain hitam, mulutnya disumpal dan diikat erat. Dimasukkan peti lalu diangkut menggunakan kereta barang. Ki Gembong sendiri yang membawa kereta barang itu kearah pasar dekat Kepatihan didampingi seorang pasus. Sedangkan yang lain menyebar seolah olah tidak ada hubungan.
Dekat pasar terdapat sebuah pohon besar di pinggir jalan. Di kegelapan, Ki Genter dengan cekatan naik keatas pohon. Menggunakan tali panjang, tubuh Rawiteja dikerek ke puncak pohon. Disana kemudian digantung menghadap kepatihan yang jaraknya sekitar enam ratus depa.
Cepat cepat Ki Genter turun menaiki keretanya menuju pasar. Bergabung dengan hiruk pikuk pasar diwaktu malam.

Suasana pasar cukup ramai oleh para pedagang yang membawa barang dagangan dari luar kota raja. Di pasar mereka bertemu pedagang pasar untuk transaksi jual beli. Dan barang itu nantinya dijual eceran di pagi hari. Sedang para pedagang luar kota akan pulang setelah barang dagangannya laku tanpa menunggu pagi.

Di pasar, Ki Genter kembali membuka lapaknya, lapak judi. Sedang pasus yang lain bergerak mengamankan diri masing masing.

***

Ditempat lain terjadi kehebohan. Orang orang bersenjata pedang mendatangi rumah yang ditemukan empat mayat dan empat perempuan pingsan yang hampir telanjang.
Mereka adalah orang orangnya Dutamandala. Mereka bingung mencari keberadaan tuannya, Rawiteja. Ketakutan terpancar diwajahnya membayangkan murka Dutamandala.
"Kita harus segera melaporkan, kalau tidak, kita bisa dituduh sebagai pelakunya."

Betapa marahnya Dutamandala mendapat laporan putranya hilang. Ia sudah mengingatkan anaknya itu agar tidak terlalu sering keluar.
"Cari ke seluruh kota, jangan katakan kalau anakku yang hilang. Katakan saja mencari pencuri."
"Baik Ndoro,"
Serentak seluruh pasukan yang dekat dengan Dutamandala menyebar ke seluruh penjuru. Mereka diperintah untuk menangkap orang orang yang mencurigakan. Mereka tidak diberitahu kalau mereka sedang mencari penculik Rawiteja.

Malam itu terjadi pergerakan besar besaran pasukan yang dekat dengan Dutamandala. Gerbang kota dijaga ketat. Jalanan dan kanal kanal air ditelusuri dan diperiksa.
"Ada apa ini?" Tanya salah seorang prajurit.
"Entahlah, kita hanya diperintah menangkap orang yang mencurigakan," jawab rekannya.
"Sudah jangan banyak bertanya! Kerjakan saja!" Tegur Komandan Regu.

Gagal mencari didalam kota, pasukan pasukan itu terus mencari sampai keluar gerbang kota raja. Perahu perahu di sungai Brantas diperiksa. Namun yang dicari tidak kunjung ditemukan.

Kepala Dutamandala seperti pecah mendapat laporan yang tidak memuaskannya.
"Siapa yang main main ini, akan kucincang sampai halus! Kuhabisi seluruh keluarganya!" Sumpah Dutamandala dalam hati.

Pagi hari pun datang. Suasana Wilwatikta terasa tegang. Orang orang kasak kusuk menanyakan ada apa semalam, terasa begitu ramai oleh suara langkah kaki dan kuda yang hilir mudik semalaman.
"Apakah pasukan Pamotan mendekati Wilwatikta?"
"Bisa saja, jarang sekali ada pergerakan seperti itu,"
"Tapi kenapa tidak ada woro woro?"
"Iya, mangkanya ini aneh,"

Tidak hanya orang orang biasa. Para petinggi dan kalangan istana juga bertanya tanya ada apa.
"Semalam latihan untuk ke siap kesiagaan para prajurit Ndoro," jawab salah satu petinggi prajurit kroni Dutamandala.
"Bukan persiapan kudeta kan?" Sindir pejabat Istana yang kurang suka dengan tindak tanduk Dutamandala.
"Ampun Ndoro, tak ada sebersit dalam pikiran kami,"
"Syukurlah, dan jangan coba coba,"
"Baik Ndoro, akan selalu hamba ingat, jawab petinggi prajurit itu meski dengan hati mengkal.

Keributan terjadi di Kepatihan. Penjaga gerbang menerima surat yang dititipkan ke anak kecil. Setelah di buka, surat itu berisi pemberitahuan tentang ditemukannya Rawiteja asli digantung di Pohon. Bukan yang terbunuh di Penjara.
Sontak para penjaga itu memeriksa anak kecil itu mendapat surat darimana. Namun anak kecil itu tidak memberikan informasi apa apa. Ia hanya disuruh orang tak dikenal di luar gerbang
Penjaga yang lain melaporkan kepada atasannya. Surat itu akhirnya sampai ke Mahapatih Gajah Lembana.
Gajah Lembana langsung menanyakan dimana mayat itu berada. Sebelum dijawab, seorang Prajurit melaporkan telah ditemukan mayat diatas pohon raksasa dekat pasar.
Gajah Lembana langsung keluar menuju pohon raksasa yang dimaksud. Sampai lokasi, disana sudah banyak orang berkumpul memandang ke atas pohon. Melihat seseorang tergantung terikat seutas tali. Kepala dan badannya dibungkus kain hitam. Tak terlihat wajahnya.
Ternyata yang datang tidak hanya dirinya, Gajah Lembana melihat cukup banyak petinggi prajurit Majapahit datang. Baik dari kubu Dutamandala maupun kubu dirinya yang tidak suka dengan gurita kekuasaan Dutamandala.
Mereka ternyata mendapat surat yang sama dengan dirinya.
Timbul ketegangan karena orang orang Dutamandala memaksa hendak mengambil mayat misterius yang tergantung.
Gajah Lembana turun menengahi.
"Siapa yang bertugas sekarang?"
"Hamba Mahapatih," seorang Bekel maju menghadap.
"Turunkan!"
"Siap!"
Saat hendak menurunkan, pasukan yang dipimpin Bekel itu dihadang pasukan lain.
"Siapa kalian yang menghadang?!" Bentak Mahapatih berang.
"Maaf Mahapatih, kami dari Pasukan khusus lebih ahli dalam hal ini," jawab pimpinan penghadang.
"Bukankah ini pekerjaan biasa? Tidak perlu turun pasukan sekelas kalian? Memangnya siapa yang digantung diatas itu sehingga kalian repot repot menghadang petugas yang saya tunjuk?!"
Tanya Mahapatih dengan nada marah.
Pimpinan pasus itu kebingungan akhirnya mundur memberi jalan.

Cekatan pasukan yang ditunjuk menurunkan mayat diatas pohon. Dalam sekejap mereka sudah berada di puncak mengikatkan tali bantu untuk mengerek turun. Perlahan mayat itu dikerek turun menggunakan tali sabut kelapa. Yang dibawah meminta orang orang untuk mundur.
Kembali pasukan khusus itu berusaha melingkari tempat turunnya mayat dengan pagar betis mereka. Melihat itu Mahapatih murka dan langsung mengusir pergi mereka. Mahapatih langsung memanggil pasukan pengawalnya untuk mengepung area sekitar pohon itu.

Mayat itu langsung disambut pasukan pengawal kepatihan. Mayatnya masih belum kaku, berarti baru mati setelah digantung. Mahapatih memerintahkan bungkusan kain hitam yang melilit tubuh mayat itu dilepas agar bisa dengan jelas diperiksa.
Saat wajah mayat itu terbuka. Meledaklah seruan orang orang yang mengenal siapa mayat itu. Mereka mengenal dengan jelas mayat telanjang itu. Ialah putra Dutamandala, Raden Rawiteja.
Mahapatih langsung memerintahkan pasukan pengawalnya membawa mayat itu ke Kepatihan.
Sementara pasukan yang diusir tadi malah sekarang mengepung. Menghadang laju pasukan pengawal kepatihan yang membawa mayat.
"Mahapatih, mohon mayat itu diserahkan kepada kami untuk diperiksa. Karena ini fitnah. Dia bukan Raden Rawiteja. Raden Rawiteja sudah tewas dibunuh Jingga. Sebagai yang difitnah, maka Raden Rawiteja berhak memeriksa siapa sebenarnya mayat itu."
"Saya yang paling berhak memeriksa, menyelidiki dan memutuskan semua perkara pembunuhan di tanah Majapahit. Termasuk dengan kematian Rawiteja. Apakah kalian lebih berhak daripada saya?!"
Mahapatih memerintahkan pengepungnya mundur. Ia menghunus senjata pusaka yang terselip di pinggangnya. Sikap keras Mahapatih ini membuat pengepungnya bingung harus bersikap bagaimana. Apalagi orang orang dan pejabat lain mulai bersikap hendak melawan pasus yang menghadang Mahapatih.
Akhirnya mereka memberi jalan.

Mayat itu kemudian dibawa ke Kepatihan. Banyak orang mengekor di belakang, penasaran dengan mayat itu. Kenapa sampai Mahapatih sendiri yang turun tangan. Kenapa sampai dihadang pasukan khusus.
Hasil dari pemeriksaan terhadap ciri ciri fisik menunjukkan bahwa mayat ini adalah Rawiteja. Jadi bukan mati saat penyerangan beberapa waktu lalu. Dan yang melakukan pembunuhan berarti bukan Jingga.
Lalu siapa yang membunuhnya sekarang?
Pertanyaan itu yang mengiang di kepala Mahapatih Gajah Lembana.
Apakah Jingga yang membalas dendam karena difitnah dan karena keluarganya dibunuh serta kerajaan Blambangan diduduki pasukan yang dia utus?
Ataukah ada pihak lain di dalam Majapahit yang gatal dengan lemahnya Kerajaan atas dominasi jaringan Dutamandala.
Bisa juga pihak Pamotan yang melihat peluang mengacaukan Wilwatikta, mengadu domba Wilwatikta dari dalam.

Mahapatih Gajah Lembana memanggil senopati keamanan kepatihan. Ia memerintahkan menjaga ketat mayat tadi. Kemungkinan akan ada penculikan mayat.
"Bagaimana kalau mayat itu diminta keluarganya?"
"Berikan saja, asal menandatangani kalau mayat itu adalah keluarganya. Dengan begitu, mereka mengakui kebohongannya dahulu."
"Siap!"
Tak beberapa lama, dugaan Mahapatih menjadi kenyataan. Datang rombongan Raden Dutamandala memohon menghadap Mahapatih.
Mahapatih sesaat kemudian menemui Raden Dutamandala di ruang kerjanya. Wajah Dutamandala terlihat tegang menahan sedih dan amarah.
Pertemuan mereka diawali kalimat basa basi.
"Hamba menginginkan jasad putra hamba dikembalikan untuk kami dimuliakan segera."
"Bukankah putramu sudah kamu kubur waktu itu? Bagaimana mungkin dikubur dua kali?"
"Hamba tertipu oleh penjahat biadab itu. Hamba kira itu jasad putraku, karena ciri cirinya sama. Ternyata itu jasad orang lain yang mirip, sedang putraku mereka culik. Dan akhirnya putraku dibunuhnya.
Jingga benar benar biadab!" Dutamandala menjelaskan alasannya.
Mahapatih sudah mempersiapkan diri agar tidak terjebak. Ekspresinya seolah olah percaya dengan cerita Dutamandala.
"Bukankah Jingga sudah menerima hukumannya? Bahkan seluruh keluarga dan rakyat Blambangan menanggungnya?" Pancing Mahapatih.
"Kalau urusan keluarga dan Blambangan, maaf hamba tidak tahu menahu. Hamba hanya mendengar cerita diluar kalau Maharaja memerintahkan penyerangan Kerajaan Blambangan."
Mahapatih menyudahi pembicaraan, Ia mengijinkan Dutamandala membawa jenasah Rawiteja.

Mahapatih langsung menuju istana hendak melaporkan situasi terakhir. Sampai di istana, Maharaja sedang tidak ingin mendengar laporan hal hal diluar medan perang. Maharaja sedang berduka karena salah satu kerabatnya tewas dalam pertempuran. Akhirnya Mahapatih hanya mengikuti apa yang Maharaja inginkan tanpa menyinggung perkara pembunuhan Rawiteja. Membahas siapa yang pantas maju di medan laga, pembiayaannya, serta strategi pemenangannya .
Memang dalam peperangan antar keluarga ini hanya melibatkan orang orang dalam keluarga masing masing. Tidak melibatkan unsur luar. Agar tidak menjadi perang besar disegala penjuru Majapahit.
Jadinya Mahapatih hanya sebagai penasehat perang saja.
Namun demikian, peperangan ini karena kekuatannya seimbang, silih berganti yang menang. Membuat perang ini berlarut larut. Sudah semusim tanam peperangan ini berlangsung, belum kelihatan siapa yang menang siapa yang kalah.

****

Duka mendalam menyelimuti keluarga Dutamandala. Seluruh keluarga berkumpul menghantarkan jasad Rawiteja ke pemakaman. Tidak seperti pemakaman yang lalu, kali ini hanya keluarga saja yang datang. Sedang diluar, para pengawal berjaga dan bersiaga melebihi kewaspadaan saat menjaga raja.

Sepulang pemakaman, Dutamandala mengumpulkan orang orang kepercayaannya, Ia ingin tahu segala hal tentang pembunuhan Rawiteja.
Dari hasil penyelidikan ditemukan fakta fakta berikut:
- Penculikan dilakukan di rumah istirahat Raden Rawiteja saat sedang bersama perempuan perempuan Mancanegara.
- Perempuan perempuan itu ditemukan pingsan terikat tanpa busana.
- Tidak ada bekas bekas pertempuran, semua barang masih tertata rapi.
- Empat pengawal dibunuh menggunakan panah beracun dan ditusuk pedang. Ada darah menetes dari luar menuju tempat para perempuan mancanegara itu diikat. Sepertinya mereka setelah membunuh mayatnya dibawa masuk rumah untuk menutupi diketahui orang luar.
- Jumlah penyerang sekitar duapuluh orang. Ini perkiraan untuk melakukan penyerangan cepat dan mematikan.
- Kemampuan mereka juga diatas rata rata. Terlihat dari titik serangan panah dan tusukan. Semua mengarah ke dada sebelah kiri. Tempat yang paling mematikan bila diserang dengan benda beracun.
- Tempat itu sudah diawasi mereka. Di beberapa tempat terdapat bekas pijakan kaki.
- Para pembunuh keluar dengan meloncat pagar belakang.
- Langsung ke pohon besar tempat Raden Rawiteja ditemukan.
- Malam harinya, penjemput Raden Rawiteja curiga tidak ada penjaga di depan rumah. Saat diperiksa didalam ditemukan para penjaga sudah tidak bernyawa.
- Pencarian dilakukan sampai keluar kota raja, namun nihil. Tak ada orang yang terlihat mencurigakan.
- Pagi hari, orang ramai berkumpul di bawah pohon raksasa dekat Kepatihan. Diatas pohon ditemukan mayat digantung.
- Mahapatih dan pejabat beberapa kesatuan prajurit ada disana. Mereka datang setelah ada surat yang memberitahukan bahwa Raden Rawiteja ditemukan.
- Pengirimnya anak anak kecil dari luar kota raja. Ada lima tempat yang dikirimi surat itu.
- Anak anak itu adalah bocah angon kambing yang disuruh dengan imbalan uang oleh seseorang yang tidak dikenalnya.
- Pasukan gagal mengevakuasi karena dihalangi Mahapatih.
- Jenazah dibawa ke Kepatihan meski sempat kami hadang. Tapi kami mundur ketika Mahapatih mencabut keris.

Dutamandala memutar otak. Siapa yang patut dicurigai bergerak semalam.
Ia masih tidak yakin Jingga bisa melakukannya. Selain butuh orang banyak. Saat ini pasti dia sedang diburu oleh pasukan Sonokeling dan Welut Ireng.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 27 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di