KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c6810cc2525c35a09525e71/kumpulan-cerita-pendek-oleh-evy-wahyuni

Kumpulan Cerita Pendek Oleh. Evy Wahyuni



Libur yang Dirindukan

Oleh. Evy Wahyuni

***

Ulangan Akhir Semester(UAS) anak-anak telah usai. Saatnya masuk skedul baru, libur panjang. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu datang juga.
Anak-anakku girang bukan kepalang, tak sabar ingin liburan, walau cuma di kampung nenek tercinta.

Seperti siang ini, saat Nisa pulang sekolah. Wajahnya sumringah banget, senyumnya lebar selebar daun pintu. Hehehe !

“Umi ... Nisa besok sudah libur. Ayo telepon Abi, beri tahu kalo Nisa sudah libur sekolah,” ujar Nisa dengan girangnya.

“Iya sabar, tunggu Abi telepon saja baru di beri tahu. Kalau sekarang tidak bisa, siapa tahu Abi lagi sibuk kerja,” sahutku sambil terus melipat pakaian yang telah kering habis dicuci kemaren.

“Janji ya, Umi? Jangan lupa!”

“Iyaa ....”


Nisa berlalu menuju kamarnya lalu sibuk bermain squishy. Beberapa menit berlalu teleponku berdering, rupanya suamiku.

“Halo, assalamu alaikum Abi. Apa kabar?”

“Wa alaikum salam ... alhamdulillah baik. Gimana kabar Umi dan anak-anak? Semua sehat?”

“Alhamdulillah kami semua sehat-sehat wal afiat, oh iya Nisa besok sudah libur. Tadi dia suruh Umi kasih tahu Abi, sudah tak sabar mau liburan di rumah Neneknya di kampung.”

“Ooh sudah libur ya? Kalo Aidil gimana? Apa sudah libur juga?”
“Alhamdulillah Aidil sudah libur juga Bi.”

“Oke, nanti Abi ijin sama Pak Bos. Siapa tau bisa di ijinkan pulang sebentar sore.”

“Siip. Semoga Abi diberi ijin pulang sebentar. Umi tunggu kabarnya ya Bi?”

“Iyaa ... assalamu alaikum Umi.”
“Wa alaikum salam ....”


Sambungan telepon pun berakhir. Mungkin suamiku langsung menemui atasannya, meminta ijin agar bisa pulang naik kapal sore supaya bisa sampai di kota kami esok pagi.

Suamiku dipindah-tugaskan keluar kota, di seberang lautan beda provinsi. Jika ingin pulang harus naik ferry semalaman di atas lautan lepas baru esok pagi baru sampai ke kota kami. Sejak dipindahkan kesana otomatis suamiku tinggal terpisah dengan aku dan anak-anak. Istilah ‘dua dapur' berlaku bagi kami karena beda tempat tinggal.

Jika ingin pulang harus menunggu akhir bulan atau tanggal merah karena hari-hari penting, untunglah komunikasi lancar setiap hari, baik lewat telepon, sms lewat WA, video call semua dilakukan agar keadaanku dan anak-anak tetap terpantau olehnya.

***

Sore yang temaram, sinar mentari perlahan berubah jingga. Nisa dan Aidil berkali-kali bahkan berganti-gantian mengecek gawai mereka, kira-kira ada telepon atau sms dari sang ayah. Tak luput aku yang sedang sibuk di dapur pun kena serangan pertanyaan, “Umi ... Abi sudah beri kabar belum?”

Setelah terakhir komunikasi tadi aku segera memberitahu Nisa dan Aidil kalau abi sudah menelepon dan sekarang tinggal menunggu telepon lagi sekadar memberi kepastian apakah ayahnya akan pulang hari ini atau tidak.

***

Keesokan harinya, anak-anak masih sarapan, tiba-tiba di ruang depan terdengar suara ketukan pintu. Aku segera ke sana membuka pintu. Rupanya abi telah tiba dengan selamat.

Kuraih tangannya dan menciumnya takzim, lalu membantu membawa tas pakaian yang abi bawa. Kami sama-sama masuk, sebelumnya pintu kembali kututup.

"Anak-anak, lihat siapa yang datang!" seruku.

Mendengar suaraku sontak Nisa dan Aidil menoleh, lalu serempak meninggalkan meja makan lalu memeluk ayah mereka.

"Abiii ... akhirnya Abi datang juga!" teriak Nisa girang.

Aku hanya tersenyum haru menyaksikan kebahagiaan keluargaku. Belum liburan saja hatiku sudah sesenang ini, bisa berkumpul kembali dengan suami dan melihat keluarga utuh dengan kehadiran sosok ayah bagi Nisa dan Aidil.

Tamat. ***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 18 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh evywahyuni


***

Kemarin, kau masih duduk bersamaku di bangku ini. Kita saling bercengkrama berdua, tertawa sambil saling mengolok-olok satu sama lain. Indahnya persahabatan kala itu, tiada rahasia apapun di antara kita.

Namun, entah mengapa kau tiba-tiba mendadak asing. Menjadi sosok yang tak kukenal dan tak lagi membuat persahabatan kita se-nyaman dulu. Kau telah berubah karena dia!

Ya! Dia ... Ayuni, anak baru pindahan dari seberang pulau menjadi teman dekatmu sekarang. Kau sudah melupakan aku. Tak ada lagi sisa-sisa kebersamaan kita dulu, entah kau buang ke mana.

Kemarin, aku melihatmu bersamanya. Duduk bersama di bangku yang biasa kita duduki bersama. Apa kau tak melihat goresan nama kita di papan bangku itu? Apa tak memperhatikan 'namaku' yang pernah kau tulis dengan sangat indahnya?

Sungguh tega, kau membuatku ingin membencimu. Apa kau tak mengingat waktu kita sama-sama di hukum karena kompak tidak mengerjakan tugas matematika? Setelah jam istirahat, kita sama-sama tertawa menceritakan hukuman itu, sama-sama saling menguatkan agar besok tidak lupa mengerjakan tugas dan mengabaikan waktu bermain PS sejenak. 

Aduhai ... sungguh kenangan yang tak bisa kulupakan, tetapi dengan mudahnya kau lupa hanya karena ada 'dia' yang menggantikan posisiku.

Aku terus menguntit kebersamaan kalian. Ke mana pun kau pergi selalu kuusahakan untuk mengikutimu. Ada rasa tak rela, kau campakkan begitu saja. Aku masih ingin bersamamu, setidaknya untuk beberapa waktu yang tersisa.

Seperti kemarin, aku tetap mengikuti kebersamaanmu dengan Ayuni. Ke sebuah toko buku dekat sekolah. Biasanya kita sama-sama menghabiskan waktu di sana hanya sekadar membaca buku komik gratis, atau memang mencari buku untuk tugas sekolah.

Aku bersembunyi di rak buku paling belakang, memantau kegiatanmu bersama Ayuni, sepertinya kalian sedang mencari buku sejarah. 'Uups, bukankah rak buku-buku sejarah yang kini kutempati bersembunyi? Aku harus berpindah tempat, tak mau terduduk olehmu'.

"Ooh, rak buku sejarah ada rak paling belakang, dik." Tunjuk pelayan toko padamu.

Segera kupindah posisi, kini ke rak paling ujung. "Oh iya, rupanya sudah dipindah ke belakang toh? Makasih ya, Mbak?" ujarmu. Betapa sakitnya hatiku melihat kau lalu menggamit tangan Ayuni menuju rak yang kau tuju.

"Aduuh!" jeritmu. Rupanya karena tak berhati-hati kau menubruk seseorang.

"Hei ... kamu Abimanyu, kan? Teman Rendra dulu?" tanya orang kau tubruk. 'Hei ... darimana ia tahu namaku?'

"Oh, rupanya Mbak Ranti. Maaf Mbak, tadi Abi tak sengaja menubruk Mbak. Soalnya buru-buru mau cari buku untuk kerja tugas," jawabmu riang setelah tahu siapa orang itu.

"Eh, tak apa-apa. Oh iya, kebetulan kita bertemu. Jangan lupa, besok datang ke rumah ya? Ibu berencana mengadakan pengajian sekaligus doa bersama."

"Insyaallah, Mbak. Saya bisa membawa Ayuni? Kebetulan dia juga teman kami, Mbak," ucapmu sambil menoleh ke arah Ayuni yang kini sedang tersenyum manis pada wanita yang kau sebut Mbak Ranti itu.

"Ooh ... boleh, boleh. Kamu datang juga ya, Ayuni. Semakin banyak yang mendoakan semakin baik." Kata perempuan itu lagi, "Ya, sudah. Mbak pamit dulu. Buku yang Mbak cari sudah ketemu. Sampai jumpa besok, ya?"

***
Singkat kata, hari ini aku pun berpakaian rapi. Agar bisa berbaur dengan tamu-tamu yang datang di rumah Mbak Ranti. Seperti biasa, aku mengikutimu dengan Ayuni dari belakang, tak ingin tampak terlalu menyolok. Sengaja memakai topi untuk menutupi sebagian muka. 

Tak berapa lama, sampailah kalian di sebuah rumah yang terbilang megah. Halamannya cukup luas, rupanya sudah banyak mobil berjejer di sana.
Taman-taman yang berada di sekeliling rumah itu tampak asri menawan, penuh bunga mawar beraneka warna.

'Eiits, bukankah ini rumahku?'

Bukan seribu, tetapi ratusan tanya berseliweran dalam benak. Barusan ada acara di rumah sementara aku tak di beri tahu sama sekali. 'Apa keluarga ini juga sudah mulai melupakan keberadaanku?'

Kulihat tamu-tamu yang datang kompak memakai 'dresscode' pakaian putih, ada yang memakai gamis, kemeja, jilbab bahkan ada yang memakai celana putih. 'Apa ini pengajian atau acara reuni, ya?'

Seperti pakaian yang kau dan Ayuni kenakan, kompak memakai pakaian dan gamis berwarna putih. Sementara aku? Bukankah pakaian yang melekat di badan ini juga berwarna putih? Ah ... aku terkena amnesia rupanya.

Aku mengikutimu masuk ke dalam rumah, duduk tepat di belakangmu. Kau takkan mengetahuinya, karena begitu padatnya tamu yang sekarang duduk bersila.

Setelah semua undangan telah duduk, terdengar suara dari mikrofon. Itu terdengar seperti suara Mbak Ranti. Setelah memberi salam dan sedikit kata sambutan. Kalimat berikutnya membuat bulu kudukku merinding. 

"Terima kasih atas kehadiran kalian semua di rumah kami, untuk ikut melaksanakan pengajian dan doa bersama atas hilangnya adik kami 'Rendra Wicaksono' yang sampai hari ini belum ditemukan oleh pihak yang berwenang. Semoga jasadnya segera ditemukan dalam keadaan utuh, agar kami bisa menguburkannya dengan layak."

'Haah ...? Rendra Wicaksono itu namaku. Jadi, aku ...?'

Pantas selama ini engkau selalu berdiri di tepi jembatan tua yang biasa kita kunjungi bersama, menatap jauh bahkan kadang tunduk menatap riak air sungai kala sedang banjir. Entah apa yang terlihat di bawah sana. Terakhir kali kau mengajakku sambil membawa buku cerita terbaru yang baru saja kaubeli.

Kejadian itu kembali terbayang. Saat kau sodorkan buku itu, dari sampulnya jelas terbaca 'Selaksa Teror'. "Apa sudah kaubaca, Abi?" tanyaku. Menimang buku yang kulihat jumlah halamannya 194 itu.

"Belum. Aku belum membacanya. Ini khusus untuk kaubaca di duniamu berikutnya," jawabnya penuh misteri.

"Aku tak mengerti apa maksudmu, Abi. Dunia berikutku?" tanyaku.

Kau makin menghampiriku, makin mendekatiku yang berdiri di pinggir jembatan. Kedua tanganmu memegang ujung bahuku, kukira kau ingin memelukku, tetapi ternyata ....

Kau mendorongku sangat keras. Aku yang tidak siap karena memegang buku itu, akhirnya terjungkal ke belakang. Di detik-detik sebelum tubuhku dan bukumu masuk ke dalam air sungai yang dalam itu, kudengar teriakanmu, "Selamat tinggal kawanku yang bodoh! Tenanglah kau di duniamu berikutnya!"

***
Semua dalam ruangan ini mengikuti pengajian yang dipimpin oleh seorang ustad. Namun, tidak bagiku. Hanya terus menatap tubuhmu. Kau terlihat khusyu, entah kau ikut mengaji atau ikut mendoakanku, aku tak peduli.

'Aku akan terus mengikutimu, hingga tiba saat membalas apa yang sudah kau lakukan padaku. Nikmatilah waktumu, Kawan. Aku tak sebodoh yang kau kira!'. 

Tamat.***
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indahmami dan 6 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di