alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
MELIHAT RAKSASA


Jingga lalu memerintah seluruh pasukan keluar menuju Kepatihan melompati pagar belakang.

Mereka menyusuri jalan tikus menuju Kepatihan yang berjarak sekitar limaratus depa.

Sesuai rencana, Jingga bertemu gembong menanyakan situasi terakhir target.

Kondisi sesuai perkiraan. Prajurit yang berada di kepatihan sekitar seratus orang. Sisanya sekitar dua ribu prajurit berada di barak seberang kepatihan.

Setelah tahu dimana keberadaan Senopati Welut Ireng, Jingga langsung memberi perintah menyerang.

Pasukan Gembong fokus menyerang gudang mesiu cetbang. Kalau perlu membumi hangus seluruh bangunan kepatihan.
Jingga yang masih berlumuran darah bergerak mendekati kediaman Senopati. Menurut laporan, Senopati Welut Ireng sudah beristirahat. Didepan biliknya dijaga dua prajurit.

Andaka, Tumar dan grupnya mengikuti di belakang. Mereka merayap dalam gelap sampai cukup dekat.

Gembong bergerak senyap menuju gudang Cetbang. Disana berderet cetbang yang ditempatkan diatas dua roda kereta. Gudang itu terbuka. Dulunya adalah tempat upacara pasukan Kepatihan. Sedangkan mesiunya ditempatkan di bangunan tertutup.

Pasukan Gembong terus menyusup mendekati para penjaga gudang senjata. Penjaga itu terlihat santai karena penjagaan mereka ada didalam komplek kepatihan. Selama menjaga disini, tidak ada sekalipun orang asing mereka temui. Hanya pimpinan dan rekan rekan yang melakukan pengecekan dan perawatan cetbang.
Saat terkantuk kantuk, tiba tiba mereka disergap dari belakang. Kuncian dan hunjaman belati membuat mereka ambruk seketika. Tanpa perlawanan berarti, gudang cetbang dapat dikuasai Pasukan Gembong.

Tanpa menunggu lama, Pasukan Gembong bergerak melaksanakan tugas masing masing. Ada yang berjaga, ada yang menyiapkan cetbang. Ada yang membawa cetbang panggul, ada yang membawa mesiu. Semua dikerjakan dalam senyap tanpa penerangan. Hanya mengandalkan sinar bintang.

Jempol sudah terangkat, mereka bergerak mundur meninggalkan gudang cetbang. Pasukan Gembong bergerak menuju bilik Senopati Welut Ireng, bergabung dengan Jingga. Hanya Bango dan dua rekannya masih bertahan di gudang Cetbang, mereka menghitung dalam hati tigaratus hitungan mengikuti denyut nadi.

Pasukan Gembong juga melakukan hitungan yang sama. Saat mencapai hitungan duaratus limapuluh. Gembong memberi Isyarat ke Jingga dengan lemparan kerikil. Jingga dan Andaka langsung menerjang masuk ke dalam bangunan menyerang dua penjaga yang berjaga didepan bilik Senopati Welut Ireng.
Terjadi pertempuran singkat. Andaka dengan kecepatannya membuat lawannya terkesiap tak bisa berbuat apa menerima serangan belati yang cepat dalam pertempuran jarak dekat. Apalagi penjaga itu memegang tombak panjang yang tak berguna dalam pertempuran jarak dekat. Sementara Jingga menyerang menggunakan senjata cetbang kecil yang dipegang terbalik. Bukan untuk menembak, tapi digunakan seperti tongkat pemukul. Penjaga itu tanpa persiapan mendapat serangan cepat dan kuat dari Jingga. Pangkal cetbang yang bulat dihantamkan ke penjaga itu. Reflek penjaga itu menahan dengan tombak yang dipegangnya. Namun hal itu tidak bisa menahan serangan Jingga. Tombak itu remuk dihantam pangkal cetbang. Tanpa tertahan lagi, pangkal cetbang itu menghantam wajah penjaga itu.
Prak!
Remuklah kepala penjaga itu.
Mendengar keributan didepan pintu. Senopati Welut Ireng menyadari dirinya diserang. Ia langsung mengambil Senjata andalannya, sebuah pedang pusaka dan sebilah keris disengkelitkan di pinggangnya.

Senopati Welut Ireng bersikap tenang. Ia tidak menghambur keluar. Ia bersiap menerima serangan. Ia tidak tahu siapa yang menyerang. Orang luar atau orang dalam. Semakin lama Ia mengulur waktu, maka semakin kuat posisinya. Anak buahnya akan berdatangan menyelamatkannya.

Ditempat lain, Bango sudah mencapai hitungan ke tigaratus. Terjadi rentetan ledakan di gudang mesiu. Bango menembakkan cetbang ke tumpukan peti peti mesiu cetbang. Kedua rekannya menembakkan cetbang besar kearah udara mengarah ke barak pasukan diluar.
Seketika terjadi hujan api yang membakar barak pasukan Majapahit. Sedang di gudang mesiu, api cepat menjalar meledakkan mesiu mesiu didalam peti.
Langit menjadi terang benderang oleh tabung mesiu yang terlontar ke udara.
Bango langsung mundur meloncat pagar keluar dari kepatihan. Diluar pagar, rekan rekannya sudah menunggu untuk melanjutkan rencana selanjutnya.

Pasukan Majapahit yang berjaga di depan dan sekitar rumah utama, mendengar suara pertempuran meski singkat, langsung bergerak. Namun gerak mereka tertahan oleh lemparan pisau pisau beracun. Seketika mereka bertumbangan. Sebelum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, puluhan pasus menghambur menyergap menyerang dalam jarak dekat. Serangan mereka amat brutal. Pedang ditangan kanan belati ditangan kiri. Gerakannya hanya menyerang dan menyerang tanpa melakukan pertahanan.
Dalam sekejap saja, tigapuluh orang prajurit Majapahit bertumbangan.

Setelah terjadi ledakan di gudang mesiu, Jingga tidak berhati hati lagi. Pintu bilik Ia hantam menggunakan pangkal cetbang. Sekali hantam, jebollah pintu kayu tebal itu. Sejenak Jingga dan Andaka mundur ke dinding menghindari kemungkinan serangan pertama dari Senopati Welut Ireng.
Benar, saat pintu terbuka paksa, Senopati melemparkan beberapa belati kearah pintu. Berharap penyerangnya menghambur masuk. Namun serangannya hanya menancap dinding bata bilik depannya.
Sesaat kemudian Gembong yang bergabung menembakkan cetbang kedalam bilik Senopati. Butir butir gotri merah membara menghambur ke seluruh ruang. Setelah itu Jingga menghambur masuk. Jingga sudah mendeteksi keberadaan Senopati Welut Ireng. Sekarang saatnya penentuan.

Jingga menghantamkan cetbang langsung ke Senopati Welut Ireng yang berada di dinding dekat pintu. Senopati Welut Ireng menghindar ke samping dan membalas serangan dengan sabetan pedang. Sabetan itu cepat dihindari Jingga, arah sabetan itu dibelokkan menggunakan belati ditangan kirinya.
Jingga kembali mengayunkan cetbang. Kali ini dengan gerakan menyilang. Senopati Welut Ireng tak bisa menghindar. Ia tahan serangan Jingga menggunakan pedang. Terjadi benturan keras beradunya dua logam.
Pedang Senopati Welut Ireng benar benar pedang pusaka. Pedang yang kuat dan tajam. Pedang itu mampu menahan gempuran cetbang yang ukurannya beberapa lipat.
Jingga menggeram seperti harimau. Suaranya keras membuat merinding yang mendengar. Jingga menumpahkan amarahnya dengan menyabet lebih kuat lagi.
Senopati kembali berusaha menahan dengan pedangnya. Namun wajahnya terlihat ketakutan. Kali ini Ia melihat pemandangan yang mengerikan. Ia melihat pemuda didepannya tiba tiba berubah menjadi raksasa yang kepalanya menghantam langit langit, dengan wajah besar mengerikan.
Tenaga Senopati Welut Ireng tiba tiba hilang. Pedangnya terjatuh sebelum menahan hantaman cetbang. Membuat cetbang mengalir deras menghantam tulang antara leher dan pundaknya.
Krak !
Terdengar bunyi tulang remuk. Senopati yang kebal itu hancur tulangnya sampai menusuk jantung. Wajahnya masih terlihat ketakutan.
Jingga lantas keluar bilik. Gembong dan Andaka terkejut melihat sosok yang keluar dari dalam bilik. Hampir saja mereka menyerang kalau tidak melihat cetbang yang ditangan.
"Pangeran," sapa Andaka memastikan.
"Kita pergi," kata sosok raksasa itu dengan suara parau.
Jingga melangkah terdepan menuju pertempuran didepan. Gembong dan Andaka mengikuti.
"Gembong, bawa pasukanmu mundur, biar aku gempur mereka," Raksasa itu memerintahkan pasukannya mundur.
Gembong langsung meneriakkan perintah mundur.
Sigap pasukan Gembong mundur, seperti saat menyerang tadi.
Melihat lawannya bergerak mundur, Pasukan Majapahit mengejar. Namun pengejaran mereka tertahan oleh terjangan Jingga yang terlihat seperti raksasa. Ia terlihat mudah menghantam kesana kemari. Sekali ayun, cetbang itu menghantam satu dua prajurit. Mereka terlempar begitu mudah. Yang di pikiran Jingga hanya menyerang dan menyerang. Serangan senjata yang menghujaninya tidak dirasakan. Semua meleset sebelum mengenai kulitnya.
Melihat lawan yang tidak biasa. Nyali pasukan Majapahit menciut. Mereka menahan serangan dengan mundur mengepung.
Kini Jingga yang menghambur menerjang mereka. Kembali pertempuran terjadi. Kembali sekali pukul dua sampai tiga prajurit Majapahit terlempar.

Jingga tiba tiba berhenti menyerang. Ia lalu meloncat keluar kepatihan, gerakannya melenting seperti belalang. Sekejap saja Ia sudah hilang dari pandangan pasukan Majapahit. Pasukan Majapahit yang melihatnya terlihat melongo, baru kali ini Ia menghadapi lawan seperti itu.
Suasana kacau balau karena ledakan mesiu menerbangkan tabung tabung besi mesiu menghantam kesana kemari. Menimbulkan kebakaran gedung disekitarnya. Pasukan Majapahit hanya bisa melihat sambil berlindung tanpa bisa berbuat apa. Sebagian lagi histeris menemukan senopatinya mati dalam keadaan remuk pundaknya.

Pasukan yang berada di barak, berbondong bondong menuju Kepatihan. Sebagian lagi berusaha memadamkan kebakaran akibat tembakan cetbang yang dilakukan Bango.

Kondisi ini dimanfaatkan pasukan Gembong yang disiapkan. Pasukan itu masuk kandang kuda, mereka mengenakan seragam yang sama dengan pasukan Majapahit. Dalam kondisi kacau dan gelap, keberadaan mereka tidak dicurigai penjaga kuda. Mereka juga mengambil panah dan perlengkapan lain. Setelah lengkap, cepat mereka memacu kuda menuju barak.
Didepan barak, Pasukan yang dipimpin Bango langsung bergerak menerjang ke tengah barak. Bagian depan bertugas menebas membuka jalan. Dibelakangnya melepaskan panah api membakar tenda tenda barak.
Serangan nekat itu mengejutkan pasukan Majapahit yang sedang fokus ke Kepatihan. Sebagian mereka berusaha mengejar, namun kalah cepat dengan pasukan Bango yang menghilang dalam kegelapan kota.

Sampai pagi Pasukan Majapahit berkeliling mencari penyerangnya. Mereka tidak menemukan seorangpun. Mereka hanya menemukan mayat rekan rekan mereka di berbagai tempat. Para penyerangnya hilang bagai kabut malam diterpa angin. Hilang tanpa bekas.
Mereka terkejut ketika mengetahui, bahwa kedua senopatinya telah tewas dibantai. Para Bekel mengumpulkan pasukan yang tersisa, mendata korban dan kerugian pertempuran semalam.
Tercatat hampir duaratus prajurit tewas termasuk kedua senopati. Sedang pihak lawan tidak ditemukan mayat seorangpun.

Sebelumnya pasukan Majapahit yang mengejar mendapati jejak lawannya lari ke pantai. Terlihat senjata dan kuda ditinggalkan begitu saja di pantai. Mereka duga, Pasukan itu menyerang lewat laut. Lalu kembali ke laut dengan berenang atau naik perahu ke kapal yang menunggu ditengah laut. Dan kapal itu telah hilang entah kemana.

Beberapa Bekel berkuda menuju pantai yang dilaporkan. Benar, disini banyak jejak menuju laut. Sebagian Pasukan menelusuri pantai ke Utara. Sebagian lagi menelusuri pantai menuju ke selatan. Mencari bukti bukti baru untuk menelusuri kemana mereka pergi. Para nelayan yang melaut malam itu diperiksa, apakah melihat kapal atau perahu yang mencurigakan berada di laut semalam. Para nelayan sebagian melihat perahu besar dengan bendera Prajurit Majapahit berada di tengah laut. Mereka tidak berani mendekat karena takut. Lalu saat ditanya kemana perginya? Mereka semua menjawab bergerak ikut arus ke Tenggara.
Penjelasan mereka benar, arus disini mengarah ke Laut selatan. Bila ditengah, tidak mungkin berlayar langsung ke utara atau ketimur karena arah arusnya dari utara ke selatan. Kapal itu harus ke tenggara, baru berbalik ke utara mengikuti arus balik di pesisir Bali atau tujuannya memang ke Bali.

Lalu kemana perginya?
Ke utara atau ke selatan?
Atau ke timur ke Pulau bali?
Ya Kerajaan yang dibali juga harus diperhitungkan. Selama ini hubungan Blambangan dengan Bali diketahui dekat. Adalakalanya berperang adakalanya bersekutu.

Kalau ke utara, bisa saja ini serangan dari Pasukan khusus Pamotan. Orang orang Blambangan lari ke Pamotan meminta tolong kepada Bhree Wirabhumi. Lalu Bhree Wirabhumi mengirim pasukan khusus untuk menyerang Prajurit Majapahit yang menduduki Blambangan.

Hari itu Pasukan Majapahit di Blambangan mengalami kekalahan besar. Sepasukan Caraka dikirim lewat selatan. Meminta Bantuan Lamajang dan melapor ke Wilwatikta. Caraka itu dipimpin seorang Bekel Pasus Jalapati. Pasus Jalapati Sendiri kehilangan sembilan belas pasukannya termasuk Senopati Sonokeling.

***

Setelah diperintah mundur, Pasukan Gembong keluar dari kepatihan dengan melompati pagar samping dan belakang. Sepasukan kecil yang berkeliling menghadang, namun bukan levelnya bila harus berhadapan dengan pasukan Gembong. Sekejap saja mereka sudah tewas terkena sabetan pedang pasukan Gembong.
Pasukan Gembong lalu berlari cepat kearah timur menuju pantai. Sebagian menggunakan kuda. Mereka langsung menceburkan diri kelaut. menggunakan buah kelapa tua yang sudah diberi tali sebagai pelampung. Setelah lewat pantai, mereka berenang ke utara dan keselatan sesuai misi sebelumnya. Yang terakhir mencebur ke laut adalah Andaka dan Jingga. Andaka ke utara, sedang Jingga ke Selatan.
Pelarian lewat laut ini dilakukan agar Pasukan Majapahit yang mengejar tidak mengira yang menyerang semalam adalah Pasukan Blambangan. Kalau pelarian ke barat, timur dan utara. Maka Masyarakat yang akan jadi korban pembalasan pasukan Majapahit.

Padahal setelah menceburkan ke laut dan berenang agak ketengah, mereka berenang menyusuri pantai kemudian mendarat di pantai yang sepi, lalu kembali ke pos semula sebelum penyerangan semalam. jejak mereka hapus dengan berjalan mundur dan menginjak diatas jejak rekannya.

Di selatan, Jingga mendatangi rumah sahabat sahabat kecilnya dahulu. Mereka gembira didatangi Jingga. Banyak pertanyaan ditujukan kepada Jingga. Terutama tentang kabar keluarganya dan kerajaan Blambangan.
Jingga menjelaskan secara singkat dan meminta mereka merahasiakan kehadirannya. Karena dirinya sedang diburu Pasukan Majapahit. Rekan rekannya dan keluarganya berjanji menjaga rahasia.
"Semalam sepertinya terjadi pertempuran, apa betul begitu?"
"Iya, semalam kami menyerang Kuta Lateng dan meledakkan senjata senjata mereka."
"Wah kalau begitu kami ikut berperang bersamamu Pangeran," pinta salah satu teman mainnya yang pemberani.
"Ya nanti bila sudah saatnya. Untuk sementara, tolong rahasiakan keberadaanku dan pasukanku. Mereka sekarang bersembunyi di hutan sana. Ada beberapa yang terluka, butuh perawatan."
"Kami siap Pangeran."
"Terimakasih, tolong sediakan gubug untuk mereka selama dirawat,"
"Baik Pangeran."
Jingga kemudian berlari ke arah hutan. Tak lama kemudian terlihat iring iringan orang menggendong yang terluka. Ada empat prajurit yang terlukan. meski tidak cukup parah, namun mereka harus istirahat untuk penyembuhan. Keempatnya diletakkan di sebuah lincak didalam rumah salah seorang penduduk. Jingga memberikan petunjuk obat apa yang diberikan. Ia memberi uang untuk biaya pengobatannya. Orang orang dusun menolak, namun Jingga memaksa karena tidak mau merepotkan. Setelah dititipkan, Pasukan Jingga bergerak ke barat ke jalan utama penghubung Blambangan dengan Lamajang lewat Alas Purwo. Mereka lalu sembunyi di rimbunnya pepohonan hutan dekat jalan. Disana mereka menutup diri mereka dengan daun daun sampai tidak terlihat sama sekali.
Mereka menanti.

Hampir tengah hari, dari jauh terlihat serombongan pasukan berkuda bergerak cepat. Pasukan itu dari arah Kuta Lateng menuju selatan. Jingga langsung memerintahkan pasukannya bersiap. Mereka menggunakan gelar capit urang. Jingga berada di utara, Gembong berada di selatan. Kanan kiri jalan berjajar pasukannya bersiap menyergap.
Saat hendak masuk jalan yang membelah hutan. Rombongan itu tiba tiba berhenti. Seperti melihat hal yang mencurigakan. Mereka berembug lalu berputar kembali ke utara. Jingga yang melihat, meminta pasukannya untuk tetap diam dipersembunyian, jangan terpancing keluar apalagi mengejar.
Pasukan Majapahit itu berjalan kembali ke Kotaraja. Penyergapan sepertinya akan gagal karena Pasukan Majapahit yang akan melintas batal.

Setelah berjalan sekitar duaratus depa, Pasukan itu berhenti lagi dan berbalik melanjutkan perjalanan ke selatan. Gerakan kembali ke Kotaraja adalah strategi untuk memastikan apakah didepan ada lawan yang sembunyi apa tidak. Bila ada lawan sembunyi, saat berbalik tadi, pasti para penyergap itu akan mengejar. Karena sudah tidak sabar setelah sekian lama menunggu. Setelah berbalik, tak ada reaksi apapun dihutan. Bekel pasus memerintahkan pasukannya berbalik lagi melanjutkan perjalanan ke Lamajang.

Jingga memberi kode untuk bersiap kepada seluruh pasukannya. Setelah seluruh pasukan melewati persembunyian Jingga. Jingga langsung memberikan perintah menyerang. Puluhan tombak kayu beterbangan dari kiri jalan menerjang. Beberapa dari pasukan caraka Majapahit terkena tombak. Mereka langsung bersiap menghadapi serangan dari kiri. Namun serangan selanjutnya adalah puluhan tombak kayu dilemparkan dari sisi kanan jalan. Tak ayal beberapa pasukan Caraka itu kena hunjam. Saat berbalik ke kanan Jalan, dari kiri jalan berlarian pasukan Jingga menyerang disusul pasukan Jingga dari kanan jalan. Bekel Pasus itu memerintahkan pasukannya memacu ke selatan. Namun belum sempat jauh, sebuah pohon tumbang menghalangi jalannya. Dan didepan, Gembong, Bango dan Tumar langsung menggempur Bekel pasus itu. Tidak ada pertempuran yang adil. Tidak ada jiwa kesatria dalam sebuah pertempuran. Segala cara akan dilakukan untuk memastikan kemenangan dan meminimalkan kerugian.

Bekel Pasus Jalapati ini adalah salah satu prajurit terbaik di Pasukan Senopati Sonokeling. Ia bersikap tenang mendapat hadangan tiga orang bertopeng yang langsung menyerang tanpa mengucapkan kata kata apapun.
"Siapa kalian?" Teriaknya mencoba berkomunikasi.
Tidak dijawab. Hanya tusukan dan sabetan mengejar titik titik lemah tubuhnya.
"Kalian tidak tahu berhadapan dengan siapa?!" Bekel itu mencoba menakuti.
Penyerangnya seolah tuli. Tidak mengendorkan serangannya.
"Kami adalah pasukan Majapahit!" Teriaknya mengancam. Berharap bila mereka tahu siapa dirinya, akan membuat para penghadangnya menghentikan serangan.
Namun harapannya tidak terpenuhi. Ketiga orang itu kini mengepungnya. Kuda yang ditungganginya ditusuk tepat tenggorokannya. Darahnya muncrat terkibas. Kuda itu menjerit keras lalu ambruk. Ki Bekel yang menungganginya meloncat tinggi menghindari serangan lanjutan. Kini Ia tidak bisa lari lagi. Ia harus menghadapinya. Ketiga lawannya membentuk formasi segi tiga. Serangannya bergelombang dan terarah. Ki Bekel terkejut menyadari lawannya bukan begal, melainkan pasukan terlatih. Ia mengenal jurus jurus mereka kembangan dari jurus pasukan Majapahit.
"Kalian Prajurit Majapahit?" Tanya Ki bekel Jalapati penasaran.
Pertanyaan yang tak pernah terjawab. Karena pedang Bango sudah menembus pinggangnya. Disusul tusukan Tumar menembus punggungnya. Ki bekel itu mati penasaran.
Ditempat lain pertempuran masih sengit. Kedatangan Gembong dan kedua rekannya merubah situasi pertempuran. Satu persatu Prajurit Majapahit itu tumbang ditebas ketiga pasus andalan Jingga. Beberapa dari mereka hendak kabur kedalam hutan. Namun sia sia. belum masuk semak semak, tubuh mereka ambruk terkena tebasan dari belakang.

Dua belas Prajurit Caraka dari Pasus Jalapati telah tewas. Jingga memerintahkan semua mayat itu dikubur ditengah hutan. Kuda yang mati dikubur juga. Sedang barang barang beserta seragam dilepas. Gembong menyerahkan buntalan kain berisi pesan yang diambil dari pakaian Ki Bekel. Pesan yang akan dikirim ke Wilwatikta. Sambil jalan Jingga memeriksanya. Pesan berisi laporan terjadi penyerangan. daftar korban dan permintaan bantuan secepatnya.

Cepat mereka menghilang kedalam hutan. Mayat mayat itu dinaikkan keatas kuda yang masih sehat. Mereka berjalan cukup jauh ke barat. Sebisa mungkin tidak meninggalkan jejak apapun. Setelah menemukan tempat yang cocok. Mereka menggali tanah. Dikubur dalam satu liang besar. Seluruh pasukan memberi penghormatan terakhir.dipimpin Jingga.
Tanpa dapat ditahan, air mata Jingga mengalir.

profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan andir004 memberi reputasi
profile picture
cimotnade
Matursuwon sanget mas curah
profile picture
relann
Wah mantap sdh pupuh ke enam ya ki
×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di