alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Senandung Black n Blue
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c3106c00577a9581d06566e/senandung-black-n-blue

Senandung Black n Blue

Ini bukan tentang pembuktian
Bukan juga tentang sebuah sesal
Ini tentang aku dan perasaan
Hanya satu dan penuh tambal

Ini bukan tentang akumulasi kemarahan
Bukan juga hitung-hitungan pengorbanan
Hanya aku dan keegoisan
Bergeming dalam kesendirian

Aku bukan pujangga
Aku tak mahir merangkai kata
Aku hanya durjana
Menunggu mati di ujung cahaya

Aku bukan belati
Bukan juga melati
Aku hanya seorang budak hati
Sekarat, termakan nafsu duniawi

Sampai di sini aku berdiri
Memandang sayup mereka pergi
Salah ku biarkan ini
Menjadi luka yang membekas di hati





Nama gue Nata, 26 tahun. Seorang yang egois, naif, dan super cuek. Setidaknya itu kata sahabat-sahabat gue. Tidak salah, tapi juga tidak benar. Mungkin jika gue bertanya pada diri gue sendiri tentang bagaimana gue. Jawabanya cuma satu kata. IDEALIS TITIK. Oke itu udah 2 kata. Mungkin karena itu, hampir semua sahabat gue menilai gue egois, yang pada kenyataanya gue hanya tidak mau melakukan hal apapun. APAPUN. Yang tidak gue sukai. Bahkan dalam pekerjaan, jika menurut gue tidak menyenangkan, gue akan langsung resign.

Menulis buat gue bukanlah sebuah hobi, bukan juga sebuah kebiasaan yang akhirnya menjadi hobi, bukan juga keahlian diri, bukan juga sesuatu bakat terpendam yang akhirnya muncul karena hobi. Apaa sihh !!? Menulis buat gue adalah cara terbaik meluapkan emosi. Di kala telinga orang enggan mendengar, dan lidah sulit untuk berucap tapi terlalu penuh isi kepala. Menulis adalah cara gue menumpahkan segala penat yang ada di kepala, cara gue bermasturbasi, meng-orgasme hati dengan segala minim lirik yang gue miliki.

Kali ini berbeda, gue tidak menuliskan apa yang ingin gue lawan. Tidak juga menuliskan opini gue tentang suatu hal. Ini tentang diri gue seorang. Tidak indah, tidak juga bermakna, hanya kumpulan kata sederhana yang terangkai menjadi sebuah kisah. Angkuh gue berharap, semoga ini bisa menjadi (setidaknya) hikmah untuk setiap jiwa yang mengikuti ejaan huruf tertata.

.


Quote:


.


Jakarta, 22 Desember 2018.

Senja telah berganti malam saat mobil yang gue kendarai tiba di kawasan kemayoran. Gue masuk ke areal JI Expo Kemayoran. Saat masuk gue melihat banyak banner dan papan iklan yang menunjukan bahwa di area ini sedang dilaksanakan sebuah acara akhir tahun dengan Tag line "pameran cuci gudang dan festival musik akhir tahun". Gue tidak mengerti kenapa sahabat gue mengajak gue bertemu di sini.

Sesampainya di areal parkir, gue memarkirkan mobil. Tidak terlalu sulit mencari tempat kosong, tidak seperti saat diselenggarakan Pekan Raya Jakarta, yang penuh sesak. Sepertinya acara ini tidak terlalu ramai, atau mungkin belum ramai karena gue melihat jam masih pukul 18.35.

"Whatever lah mau rame mau sepi." Ucap gue dalam hati.

Gue memarkirkan mobil, setelahnya gue sedikit merapihkan rambut, berkaca pada kaca spion, lalu memakai hoodie berwarna hitam yang sedari tadi gue letakan di kursi penumpang, kemudian keluar mobil sambil membawa tas selempang berisi laptop.

Perlahan gue berjalan, sesekali melihat ke kiri dan ke kanan, mencari letak loket pembelian tiket berada. Akan lebih mudah sebenarnya jika gue bertanya pada petugas yang berjaga. Tapi biarlah gue mencarinya sendiri.Toh sahabat gue juga sepertinya belum datang.

Di loket, gue melihat banyak orang menggunakan kaos yang bertema sama. Banyak yang memakai kaos bertema OutSIDers, Ladyrose, dan juga Bali Tolak Reklamasi. Gue sedikit memicingkan mata, dalam hati berkata."Sial gue dijebak."

Setelah membeli tiket, gue masuk ke areal acara, melihat banyak stand dari berbagai brand. Penempatan stand-stand menurut gue menarik, benar atau tidak, sepertinya pihak penyelenggara menaruh stand brand-brand besar mengelilingi brand kecil. It's so fair menurut gue. Karena banyak acara semacam ini yang gue lihat justru menaruh brand UKM yang notabenenya belum terlalu di kenal di posisi yang tidak strategis. Dan untuk acara ini gue memberi apresiasi tersendiri untuk tata letak tiap brandnya. Walau sejujurnya butuh konfirmasi langsung oleh pihak penyelenggara tentang kebenaranya.

Gue masuk lebih dalam, mencari tempat yang sekiranya nyaman untuk gue menunggu sahabat gue yang belum datang. Sesekali berpapasan dengan SPG yang menawarkan barang dagangnya, gue tersenyum tiap kali ada SPG yang menawarkan gue rokok, kopi, dan lainnya. Dalam hati gue teringat tentang bagian hidup gue yang pernah bersinggungan langsung dengan hal semacam ini. Terus melanjutkan langkah, Gue tertarik melihat salah satu stand makanan jepang, lebih tepatnya gue lapar mata. Terlebih gue belum makan. Tapi saat gue ingin menuju ke stand itu, gue melihat ada stand sebuah merek bir lokal asal Bali. Gue mengurungkan niat untuk ke stand makanan jepang itu, dan lebih memilih untuk menunggu sahabat gue di stand bir.

Gue memesan satu paket yang di sediakan, yang isinya terdapat 4 botol bir, ukuran sedang. Gue mengeluarkan laptop gue, kemudian mengirim email kepada sahabat gue. Memang sudah beberapa hari ini gue selalu berhubungan dengan siapapun via email. Karena handphone gue hilang dicopet di stasiun Lempuyangan beberapa hari yang lalu.

"Fuck you Jon ! Gue di stand Albens, depan panggung yak. Jangan bikin gue jadi orang bego diem sendiri di tempat kek gini sendirian. Kecuali lo bajingan laknat yang ga peduli sama sahabat lo." Email gue pada Jono, sahabat gue.

Dari tempat gue duduk, gue dapat melihat panggung utama. Sepertinya dugaan gue tidaklah salah. Kalau guest star malam ini adalah Superman Is dead. Group band punk rock asal Bali. Pantas saja Jono mengajak gue bertemu di sini. Dia memang sangat menyukai musik bergenre punk rock macam green day, blink 182, SID, dan lainya.

Jujur saja, gue sebenarnya pernah menjadi Outsiders sebutan untuk fans superman is dead. Gue pernah menjadi OSD militan, yang selalu datang ke acara yang di dalamnya terdapat Superman Is Dead sebagai bintang tamunya. Tapi itu dulu, lebih dari sedekade lalu. Saat gue masih duduk di bangku SMA.

Dan malam ini, semua ingatan tentang itu semua membuncah. Berpendar hebat dalam bayang imajiner yang membuat mata gue seolah menembus ruang dan putaran waktu. Melihat semua apa yang seharusnya tidak perlu gue lihat, dan mengenang apa yang harusnya tidak perlu gue kenang. Sampai di titik tertentu gue sadar kalau gue sudah dipermainkan.

"JON, I know you so well, please please don't play with a dangerous thing. Comon Jhon I'm done. Gue balik" Gue kembali mengetik email untuk gue kirim pada Jono. Gue sadar gue sudah masuk dalam permainan berbahayanya. Dan gue tidak ingin mengambil resiko lebih.

Namun belum sempat email gue kirim. Gue melihat seorang perempuan berdiri tegak tepat di depan gue. Dan saat itu juga gue sadar gue terjebak dalam permainan konyol sahabat gue yang "luar biasa jahat".

"Haii Nat." Sapa perempuan itu.

"Fuck you Jhon, what do you think. Bitch !!" Gerutu gue dalam hati kesal.

Spoiler for opening sound:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 20 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nyunwie
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!

Part 1.1 Far Away From Home

Aku menutup mata. Seraya hitam datang memenuhi ruang. Aku senang, karena aku mencintai hitam. Hitam telah memanjakan ku. Menjadi candu, selepas kecewa ku. Aku benci cahaya, setidaknya setelah aku memutuskan menjauhi cahaya. Aku benci cahaya karena dapat membuat hitam ku menjadi abu-abu. Aku benci saat berdiri rapuh, aku benci saat ragu. Dan perihal itu, aku benci sesuatu yang baru.


...


Cahaya matahari perlahan namun pasti masuk menembus kelopak mata. Dengan cepat membakar semua mimpi indah hingga tidak tersisa, bahkan untuk beberapa detik dikenang. Dengan malas dan terpaksa gue membuka mata. Bergeming di tepi ranjang. Mencoba mengumpulkan seluruh kesadaran secara alami tanpa ada paksaan.

Namun hidup selalu penuh kejutan, di saat gue ingin mengumpulkan kesadaran secara alamiah tanpa ada unsur pemaksaan. Semua kesadaran sontak masuk ke dalam badan saat mendengar suara ketukan kasar pintu kamar.

"BRISIK !!." Gerutu gue kesal.

"Nat Nat, woiii keboo bangun woiii." Suara seorang terdengar dari luar kamar.

"MASUK AJE SAT GA DIKUNCI." Teriak gue.

"Kalo ga di kunci gue kaga ngetok pintunye nge."

"Ahhh, elaah iseng aje kampret, siape yang ngunci sih." Ucap gue menggerutu, karena seingat gue semalam gue tidak mengunci pintu kamar.

Gue beranjak bangun, berjalan gontai menuju pintu kamar yang jaraknya kurang lebih 3 meter dari kasur, lalu membuka pintu kamar dan melihat Jono sudah berdiri tegak mengenakan seragam.

"Yee si kebo belom mandi, udah jam berapa nih, telat nanti." Ucap Jono.

Gue tidak menjawab, gue kembali ke kasur lalu kembali merebahkan badan. Sambil tengkurap gue melihat jam di layar telephone genggam. Masih pukul 06.25. Jono datang terlalu cepat 5 menit dari biasanya. Dan gue memiliki waktu 5 menit untuk kembali memejamkan mata.

"Anjing, malah tidur lagi." Kesal Jono sambil melempar sebuah bantal.

"5 menit."

"5 menit lo di kasur, 50 menit waktu bumi nyet."

"Lo dateng 5 menit lebih cepet." Sahut gue, kemudian membalikan badan ke posisi tengkurap. Gue menghirup nafas panjang, mencium aroma parfum yang sedikit menyengat. "Terus wangi pula, aneh lo" Lanjut gue.

"Ini hari pertama kita kelas 2, kelas baru, suasana baru, temen sekelas baru, ada murid baru, dan kita bakal sekelas sama Nina brooo Ninaaaa !!" Ucap Jono dengan tampang sedikit mesum di akhir kalimatnya.

"Cihhh."

"Ahh susah sih yah ngomong sama lo, ga doyan cewe selain Rina !"

"Corrected KARINA, lo bakal dilempar gelas kalo manggil dia cuma Rina"

"Ayayay cap, you got it, KARINA !! So, can you take a bath now, gue osis, masa gue telat."

"Yah kalo lo emang osis yang bertanggung jawab harusnya lo ga perlu nyamper gue dulu, langsung ajah ke sekolahan."

"Mau nya sih gitu, kalo ajah nyokap gue ga mesenin ini, aseli sumpah gue ga bakal kesini." Sahut Jono sambil menunjukan sebuah kotak makan yang dia bawa.

"Oh dude, your the best!" Sahut gue langsung bangun dan menyambar kotak makan yang di bawa Jono.

"MANDI DULU ORANG!" Celetuk Jono sambil berpindah ke kursi yang ada di samping kasur, lalu mengambil rokok gue yang semalam gue letakan di meja yang ada di kamar gue.

"SARAPAN DULU SETAN"

"Kalo gue setan, ga bakal gue bawain lo sarapan tiap hari."

"Nyokap lo bukan lo."

"Yang bawain ke sini siapa?"

"Hem hem hem, whatever." Sahut gue sambil mengunyah makanan.

Jono memang hampir setiap pagi membawakan sarapan yang disiapkan nyokapnya untuk gue. Sekalipun nyokapnya Jono tidak sempat membuatkan sarapan, beliau pasti memberi gue uang untuk membeli sarapan. Nyokap Jono melakukan itu karena tidak tega, melihat ponakanya yang saat ini terpaksa harus tinggal sendiri jauh dari orang tua.

Bokap gue bekerja di perusahaan BUMN, sudah 8 bulan ini beliau dinas di Cilacap. Dan Nyokap gue ikut bersama bokap gue. Awalnya ada banyak opsi sebelum bokap dan nyokap gue akhirnya memutuskan untuk membiarkan gue tinggal sendiri di Jakarta, tapi semua opsi yang ditawarkan pada gue tidak ada yang menyenangkan.

Opsi pertama, adalah menjual rumah di Jakarta, dan gue ikut bersama kedua orang tua gue ke Cilacap, karena bokap gue akan dinas di Cilacap sampai beliau memasuki umur pensiun dan bokap gue ingin menghabiskan masa pensiun jauh dari hingar bingar kota Jakarta. Gue tidak ingin mengambil opsi ini karena sangat berat untuk gue meninggalkan kota Jakarta, meninggalkan Sahabat-sahabat gue, Teman-teman, pacar, dan gebetan, ohh ghost it's too hard !

Opsi kedua, adalah gue tinggal bersama kakak gue di rumah suaminya. Gue anak kedua sekaligus anak terakhir, kakak gue perempuan, beda umur kami 7 tahun. Dan saat ini kakak gue sudah menikah dengan seorang laki-laki yang bekerja di kantor redaksi salah satu majalah terkenal di Indonesia. Mereka sudah memiliki satu orang anak. Dan gue masih terlalu canggung pada abang ipar gue. Alasan sepele, tapi itu memang adanya kenapa gue tidak mengambil opsi ini. Terlebih rumah suaminya kakak gue berada di daerah Bogor, sedangkan sekolah dan kehidupan gue berada di selatan Jakarta. Membayangkan tiap pagi harus bergulat kesal dengan KREAPAG (KERETA ANAK PAGI, atau orang-orang yang biasa menggunakan KRL di pagi hari untuk menuju ke tempat aktivitasnya) makin meyakinkan gue untuk tidak memilih opsi ini.

Opsi ketiga, adalah menitipkan gue pada Paman dan Bibi gue, yang bukan lain adalah kedua orang tuanya Jono. Damn, gue lebih memilih meninggalkan Jakarta dari pada harus tinggal bersama Jono. Membayangkan harus berbagi kamar, berbagi kasur, dan berbagi segalanya dengan Jono saja sudah membuat gue ingin bunuh diri, bagaimana jika gue benar mengambil opsi ini. Just kid Jon, jangan diambil hati. GUE SERIUS emoticon-Big Grin

Opsi keempat, adalah menitipkan gue di Panti asuhan milik Ibunda penyanyi terkenal Iwan Fals. FYI, Ibunda Iwan mempunyai panti asuhan, dan Ibunda Iwan Fals, Ibu Lis biasa gue memanggil, sangat akrab dengan nyokap gue, mereka tergabung dalam satu pengajian, dan memiliki hobi yang sama, ARISAN. Opsi ini benar-benar terucap dari Ibu Lis. Dan sialnya opsi ini benar-benar menjadi opsi yang menarik untuk nyokap gue. Jika saja bokap gue memaksakan opsi ini, gue akan merobek kartu keluarga di depan mereka dan berkata "I'm done". Tapi untung saja itu tidak terjadi, pada akhirnya gue memilih opsi terakhir.

Opsi terakhir, adalah gue tinggal seorang diri. Opsi yang paling berat untuk kedua orang tua gue, tapi berbanding terbalik untuk gue, karena gue sudah membayangkan segala kesenangan yang bisa gue lakukan dengan tinggal jauh dari orang tua. Orang tua pasti punya ke khawatiran besar saat harus meninggalkan anaknya tumbuh kembang jauh dari jangakauan mereka. Memiliki ketakutan yang besar jika nanti anaknya akan salah jalan ke jalan yang tidak semestinya, atau anaknya nanti menjadi seorang yang jauh dari harapan mereka. Gue mengerti dengan baik itu. Pada opsi ini sempat terjadi perdebatan sengit antara Gue, Bokap, Nyokap gue dan Kak Bella, kakak gue sebagai tim hore.

Bokap gue menyetujui opsi terakhir itu, di pikiran beliau, pas untuk melatih kemandirian dan bagaimana gue bertanggung jawab setidaknya pada diri sendiri. Karena bagaimana pun gue adalah seorang anak laki-laki. Cepat atau lambat gue harus dan wajib mandiri, menjadi pribadi yang tangguh, bertanggung jawab dan bisa berdiri di atas kaki gue sendiri.

Nyokap gue tidak menyetujui opsi ini, karena menurut beliau belum waktunya, apalagi nyokap gue tau betul busuk-busuknya gue. Nyokap gue paham kalau gue adalah seorang remaja yang sok mandiri tapi sebenarnya manja, nyokap gue tau betul kalau gue adalah remaja yang keras hanya di luar nya saja. Pada bagian dalam, nyokap gue tau betul kalau gue ini lembut.

Kakak gue hanya menyaksikan perdebatan itu, sambil menganggukan kepala membenarkan ucapan nyokap gue, dan memberi kesimpulan jelas di akhir ucapan nyokap.

"Cengeng." Celetuk Bella di akhir ucapan nyokap gue.

"Sembarangan lo Bel." Sahut gue.

"Plus songong." Tambah Bella dan gue hanya bergumam. "Yaudah Mah, biarin aja dia tinggal sendiri, sampe mana sih, paling tahan cuma seminggu." Lanjut Bella.

"Lo ngeremehin gue Bel?"

"Engga ngeremehin tapi memang adanya."

Perdebatan yang awalnya terjadi antara Bokap, Nyokap, dan gue. Telah berganti menjadi perdebetan antara gue dan Bella. Perdebatan yang sering terjadi antara seorang kakak beradik, terlebih antara gue dan Bella, walau umur kami berbeda cukup jauh, tetap saja kami sering berdebat. Namun biarpun begitu gue tau Bella sangat menyayangi gue. Berdebat adalah cara Bella menanamkan pahamnya tentang kehidupan kepada gue.

"Udah-udah stop, bisa ga sih kalian nih akur sebentar ajah." Ucap nyokap gue sepertinya sudah pusing mendengar adu bacot antara gue dan Bella.

"LEBARAN" Celetuk gue yang kemudian bibir gue disentil oleh nyokap gue.

"Kamu nih dikasih tau jawab ajah. Udah gini denger, mamah kasih kamu tinggal sendiri, tapi ada syaratnya. Satu kali ajah Mamah denger kabar negatif tentang kamu disini, mamah sama papah bakal jemput paksa kamu."

"KARUNGIN MAH." Celetuk Bella.

"BELLA!" Sambar nyokap gue sedikit membentak, kemudian Bella terlihat menahan tawanya. "Mamah serius dan engga bercanda. Gimana? Ga ada kesempatan kedua, ya atau tidak sama sekali, no compromise!"

"SIAP mah." Sahut gue lantang.

"BENER? Kamu laki Nat, laki sejati itu omonganya yang dipegang."

"Tambahan dari Ayah, ayah cuma ngasih uang kamu sebulan sekali, kamu harus atur-atur sendiri, kalo habis sebelum waktunya, kamu tanggung sendiri. Bisa?" Ucap bokap gue menambahkan. Jujur gue sedikit ragu soal itu. Gue sadar betul kalau gue ini boros.

"Yah diem, ga bisa berarti." Celetuk Bella.

"Bisa. BIIIII SSSSAAAA."

Setelah nego sana-sini, macam politikus yang melobi relasi dengan segala janji bui. here I go, Di sebuah kamar kost berukuran 5x5 meter yang tidak begitu jauh dari sekolahan gue, dengan fasilitas bak kamar hotel, tidak banyak barang yang gue bawa dari rumah, hanya pakaian, dan playstation yang gue punya. Karena memang kosan ini sudah menyediakan semuanya, bahkan jasa cuci pakaian. Keberadaan gue di kosan ini semua berkat Bella. Ini pilihan Bella, walau kadang menyebalkan namun Bella tetaplah kakak yang juga pernah melewati masa remaja. Dia mengerti dengan baik apa yang gue mau.

Dan hidup jauh dari orang tua memang seperti apa yang gue bayangkan. "MENYENANGKAN". Gue benar-benar melakukan apa yang tidak bisa gue lakukan saat tinggal bersama kedua orang tua. Main PS sampai ketiduran, merokok di kamar, nonton dvd film porno tanpa perlu mematikan suara, menenggak minuman keras hingga hilang semua kesadaran, menghisap lintingan ganja tanpa perlu diolesi susu kental untuk menyamarkan aroma pembakaran. Nongkrong hingga larut malam tanpa perlu takut diceramahi saat pulang, atau memang sengaja tidak pulang, it's no problem. Mengajak Karina menginap saat akhir pekan, dan lainya macam berandal jalang yang berdiri menantang semua norma kehidupan.

...


Dalam tamak hati bertanya.
Akan kah seorang Iblis menjadi malaikat jika dia berada di surga, dan sebaliknya?


profile-picture
profile-picture
profile-picture
jiyanq dan 9 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh nyunwie
profile picture
jiyanq
Feeling ane ceritanya seru,nih...Ijin gabung,gan
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di