alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 95 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
KESETIAAN


RATNA

Ratna mengikuti kemana arah yang diinginkan kuda. Tanpa sadar Ia dibawa ke selatan ke jalanan yang sepi. Ratna masih belum sadar bahwa Ia sudah jauh dari perkampungan penduduk.

Tepat berada di tengah bulak yang sepi, muncul dari balik semak semak empat laki laki dusun menghadang jalan kuda Ratna. Sontak kudanya mengangkat kaki depan tinggi tinggi. Hampir saja Ratna terjatuh. Sigap Ia menenangkan kudanya sambil mengamati sekitar.
"Siapa kalian?!"
Tak ada jawaban, hanya wajah wajah mesum dengan senyum penuh birahi. Mereka semakin mendekat dengan belati terhunus ditangan.
Ratna langsung gemetar. Ini kali pertama Ia berhadapan dengan orang jahat sendirian. Tak ada yang menolong atau membelanya. Ia menengok sekeliling. Sepi, hanya padang rumput yang luas, jauh dari rumah penduduk.
Salah seorang melemparkan tali untuk menjerat leher kudanya. Ratna sudah berusaha menghindarkan. Tapi mereka lebih cepat. Kudanya sekarang diikat tali mereka. Lalu diikatkan ke sebuah pohon dipinggir jalan. Seorang lagi menjerat kaki kuda, sebentar saja kaki itu terbelit dan kudanya terjatuh.
Dalam kekalutannya, Ratna reflek meloncat agar tidak turut jatuh bersama kudanya.

Kini tinggal Ratna yang mereka kepung, mereka berusaha menggiring Ratna keluar dari jalan menuju semak semak yang rimbun.
"Ayo cantik, menyerahlah," salah seorang dari mereka mulai bersuara. Nafasnya bau arak bercampur muntah.
"Menyerah ke aku saja, kamu akan keenakan," yang satu ikut angkat bicara. Bergantian keempatnya saling sahut. Pembicaraan mereka semakin lama semakin cabul.
Ratna gemetar dan hampir menangis mendengar ucapan ucapan yang selama hidupnya tidak pernah Ia dengar.
"Cukup mulut cabul kalian, lebih baik mati daripada menyerah kepada kalian!" Akhirnya setelah mendapat tekanan bertubi tubi. Darah kesatria dalam dirinya muncul. Tubuhnya tidak lemas ketakutan lagi. Ratna merasakan seluruh pembuluh darahnya memanas. Energinya bangkit berlipat lipat. Ia menghunus keris yang tersimpan di pinggang rampungnya.
"Wah melawan, awas menyesal nanti!"
"Kalianlah yang akan menyesal!" Jawab Ratna seperti berteriak, terkena dorongan aliran darahnya yang bergolak.
Tanpa menunggu waktu, pengeroyok itu mulai menyerang. Mereka berusaha menjatuhkan senjata yang dipegang Ratna. Setelah jatuh, baru Ratna akan dibekap ramai ramai untuk menyalurkan nafsu bejat mereka.
Namun mereka salah perhitungan. Gadis yang tadinya terlihat bingung dan pucat pasi, kini berubah menjadi dingin dan tak kenal takut. Serangan mereka langsung dibalas serangan.
"Wadaaaaw!" Teriak laki laki yang didepan Ratna. Pergelangan tangannya terbabat ujung keris Ratna. Darah mengucur deras. Ia langsung mundur, membebat lengannya dengan sobekan kain.
Melihat hasil serangannya, Ratna semakin tenang dan percaya diri. Terus terang itu tadi perkelahian pertamanya setelah bertahun tahun berlatih.
Kini Ratna bergerak semakin cepat dan lincah. Ketiga pengeroyoknya kebingungan dan terlihat menyesal salah sasaran. Di pikiran mereka Ratna adalah sasaran empuk. Gadis cantik sekali. Berjalan sendiri sambil melamun. Mereka tidak sedikitpun mengira Ratna yang terlihat halus dan lemah, punya kemampuan beladiri diatas mereka.
Namun penyesalan mereka terlambat. Senjata Ratna sudah melukai wajah, dada dan tangan mereka. Mereka terhuyung menahan sakit yang amat sangat. Ratna tidak tahu kalau di kerisnya mengandung warangan yang melipatgandakan sakit dan menahan pembekuan darah.
Keempat pengeroyoknya langsung kabur terbirit birit kesakitan.
Ratna tidak mengejar. Ia masih sibuk mengatur nafas meredakan debaran jantungnya. Menenangkan diri.

Namun belum reda debaran jantungnya, dari arah jalan terdengar suara langkah kaki menginjak ranting ranting kering. Ratna langsung menghunus kerisnya lagi. Apakah mereka kembali dengan pimpinannya? Membayangkan itu, kakinya kembali gemetar.
Suara langkah itu semakin mendekat, akhirnya muncul dihadapan Ratna. Dua orang yang jauh lebih gagah dari keempat laki laki tadi.
Kedua orang itu tak lain adalah Sumo dan Turi. Yang ditugaskan Bhree Wirabhumi untuk membuntuti Ratna diam diam.

Sumo dan Turi yang sejak tadi bersembunyi akhirnya muncul. Mereka tidak tega melihat tuannya yang dijaga selama ini harus berjuang sendiri. Mereka sepakat muncul unjuk diri dihadapan Ratna.
"Ndoro, maafkan kami yang sejak awal mengikuti diam diam." Mereka langsung bersimpuh di tanah, dihadapan Ratna.
Ratna terkejut bercampur bahagia,
"Oh kalian," hanya itu kata kata yang muncul. Terlalu banyak kejadian hari ini.
"Saat ini aku bukan Bhree Matahun lagi, tak punya gelar apapun. Tak punya harta untuk membayar kalian. Jadi untuk apa mengikutiku?"
"Ampun Ndoro, kami awalnya ditugaskan ayahanda untuk mengikuti Ndoro putri diam diam. Memastikan diri Ndoro aman dan selamat. Tapi kami akhirnya tidak tega melihat Ndoro sendirian. Maka kami menampakkan diri melanggar perintah Ayahanda. Kami ambil resiko di hukum Paduka Bhree Wirabhumi. Kami hanya ingin mengabdikan diri pada Ndoro putri. Semoga Ndoro berkenan."
"Buat apa? Aku tidak punya apa apa untuk membayar kalian,"
"Kami tidak minta bayaran Ndoro, asalkan Ndoro berkenan, kami sudah senang,"
"Terimakasih atas keinginan kalian, aku tersanjung, setidaknya masih ada yang membutuhkanku."
"Kami yang berterimakasih Ndoro, diberi kepercayaan menjaga Ndoro Putri. Karena mendiang Ratu mewasiatkan agar kami berdua selamanya menjaga Ndoro putri."
Tumpah air mata Ratna mendengar wasiat ibundanya kepada kedua abdi ini.
"Kapan Ibunda berwasiat kepada kalian?"
"Sebelum berangkat ke Blambangan, Ndoro Ratu memanggil kami. Malam itu beliau berpesan agar kami mengiringi perjalanan Ndoro Putri. Bahkan Ndoro Ratu meminta kami berdua bersumpah untuk menjaga Ndoro Putri selamanya.
Malam itu kami bersumpah dihadapan beliau. Lalu beliau memberikan surat wasiat ini," Pari menyerahkan gulungan kain kecil dari buntalan bekalnya. Ratna menerima lalu dibukanya hati hati. Benar, ini tulisan Ibundanya, jelas disana tertulis mewasiatkan kepada Turi dan Sumo untuk menjaga Putrinya, Ratna.
Ratna langsung memeluk kain kecil itu. Dipeluknya erat erat untuk mengobati kerinduan kepada Ibundanya. Kedua pengawal itu masih bersimpuh di tanah tertunduk haru.
"Bangkitlah kalian, aku terima permintaan kalian, tapi aku tidak bisa memberi makan kalian dan memberi gaji kepada kalian,"
"Siap Ndoro,"
Turi langsung menyiapkan kuda Ratna yang terikat di pohon. Sedang Sumo kembali ke jalan semula, mengambil kuda yang disembunyikan tadi saat melihat Ratna dihadang begal kampung.

Mereka melanjutkan perjalanan tanpa arah. Kali ini Ratna baru merasakan nikmatnya dikawal kedua abdi setianya. Kalau dulu Ia merasa terganggu, namun sejak kejadian tadi. Ia baru merasakan beratnya berjalan seorang diri.

Ratna langsung teringat dusun yang dulu disinggahi bersama Jingga. Ia bertekat memulai pengabdiannya disana. Sekali hentak, kudanya melaju menuju dusun perbatasan Wilwatikta dan Pamotan. Kedua pengawal mengikutinya tanpa banyak bertanya. Meski mereka sadar, semakin dekat dengan perbatasan dengan Kota Raja Wilwatikta, Semakin berbahaya. Setiap saat bisa menjadi medan pertempuran kedua kekuatan utama di Majapahit.

Tanpa berhenti, Ratna memacu kudanya menuju dusun kenangannya dengan Jingga. Ada harapan disana Ia akan bertemu Jingga. Berharap perasaannya bisa mengirimkan pesan gaib agar Jingga datang kesana.
Sampai disana, harapannya kembali kandas, Jangankan Jingga, Disana sudah tidak ada seorangpun penduduk dusun. Rumah rumah terbengkalai berdebu tanpa ada yang merawat. Kandang sapi dan kerbau kosong. Kotoran dikandang itu sudah kering, pertanda dusun ini sudah lama ditinggalkan.
Ratna mengarahkan kudanya ke kediaman kepala dusun. Tempat Ia dulu menginap. Rumah itu juga kosong. Ia lanjutkan ke ladang dan sawah. Semua sama, Sawah dan ladang tidak terurus, banyak tanaman perdu tumbuh lebat merebut saripati tanah yang diperuntukkan padi dan tanaman lainnya.
Ratna terus berputar putar mencari kalau ada yang tersisa dan bisa ditanya tanya.
Turi dan Sumo akhirnya tidak tahan untuk tidak bertanya melihat Ratna seperti mau menangis.
"Ndoro, maaf, Ndoro mencari siapa? Tempat ini kosong Ndoro, berbahaya,"
"Aku mencari penduduk dusun ini!" Jawab Ratna setengah berteriak menumpahkan kemarahan entah kepada siapa.
"Sebelum ini aku kesini, membantu mereka bangkit dari kelaparan. Namun sekarang mereka telah pergi entah kemana."
"Mereka pergi karena daerah ini tidak aman Ndoro, setiap saat akan menjadi padang peperangan," jelas Sumo.
"Aku sudah tahu, Jingga juga sudah memperingatkan itu pada mereka. Kenapa harus perang?"
"Hamba tidak tahu Ndoro," jawab Turi sambil menunduk. Ia benar benar tidak tahu mengapa harus ada perang. Ia hanya diajari berperang.

Setelah lama mengelilingi dusun itu tanpa hasil. Ratna mengajak kedua pengawalnya meninggalkan tempat itu. Tempat yang penuh kenangan bersama Jingga.

Ratna kemudian mengarahkan kudanya mengikuti jalanan yang ke arah timur. Ia mencari daerah yang jauh dari jamahan pemerintahan dan Prajurit. Ia ingin membangun disana, meski tidak tahu harus dimulai darimana.

***

LENCARI

Sekujur tubuh Lencari terasa lunglai setelah membaca surat Jingga. Bibirnya bergetar menyebut nama Jingga. Surat Jingga itu Ia dekap erat, diciumi dari ujung ke ujung mengais aroma tangan Jingga yang tersisa. Air mata mengalir deras tanpa bisa ditahan. Kerinduannya meledak tak tertahankan.

Ya ampun, jadi selama ini Jingga mengamati dirinya. Berada dekat dengannya. Tapi tidak berani menampakkan diri karena terbelenggu ikatan pernikahan.

"Kakang, maafkan cari kakang," isak Lencari lirih. Berharap Jingga mendengar permohonan maafnya.

"Dan sekali memberi kabar, Kakang sudah pergi entah kemana.
Lalu bagaiamana aku menjelaskan perasaanku sebenarnya bila tidak ada kesempatan?"

"Semua aktifitas di kementrian kulakukan hanya untuk menarik perhatianmu. Karena saat ini hanya itu panggung yang Cari punya. Agar Kakang mudah menemukannya, agar Kakang tahu, Cari adalah gadis yang tangguh, kuat menghadapi segala ujian dan cobaan hidup, seperti yang selalu Kakang ajarkan saat Cari terpuruk.
Tapi kini Kakang sendiri yang berlalu dengan sikap pasrah yang membuat diri kita semakin jauh terpisah."

"Cari harus bagaimana Kakang, beritahu Cari jalannya, seperti dulu. Aku rindu masa masa itu Kakang. Aku rindu dirimu Kakang."

"Kini diri kita semakin lama semakin jauh. Kakang selalu terkena fitnah yang semakin lama kehidupan Kakang semakin sulit saja. Mungkin itu juga yang menyebabkan Kakang menahan diri tidak bertemu denganku. Takut Cari tersangkut dengan kasus yang Kakang hadapi.
Kakang kalau menghendaki, Cari tidak takut ikut Kakang. Cari malah senang berada di sisi Kakang sampai mati. Bukan hidup palsu seperti ini."

"Sedang diriku semakin lama semakin tidak percaya diri untuk mencarimu Kakang. Engkau terlalu sempurna dibandingkan diriku dan keluargaku yang kotor dan bergelimang dosa kepadamu."

Lencari terus berbicara sendiri seolah olah surat yang dideritanya adalah Jingga. Ia sedang mencari pegangan, sedang mencari jalan untuk dirinya. Mencari pijakan langkah selanjutnya.

Terdengar ketukan lirih di pintu berkali kali, "Ndoro, ada pesan dari Pangeran, sudah waktunya berangkat,"
Suara emban yang melayaninya membangunkan Lencari dari dalam lautan lamunan.
Sambil mengusap air mata, Lencari beranjak ke pintu. Membuka sedikit. Dari luar terlihat belahan wajah Lencari yang sembab oleh airmata.
"Sampaikan Mbok, aku tidak masuk kerja, capek, mau istirahat, mohon jangan diganggu." Lencari menitip pesan untuk Pangeran sekaligus meminta jangan diganggu.
"Baik Ndoro," Mbok emban sepuh itu pamit.
Pintu kembali ditutup. Lencari kembali merenungkan semua yang dihadapi, memikirkan cara apa agar bisa bertemu Jingga.
"Apakah aku harus ke rumah Anjani ? Menemui Eyang Sidatapa?
Setidaknya dari Eyang Sidatapa Cari bisa mendapat informasi tentang Kakang. Kalau perlu Cari akan berterus terang kepada Beliau tentang hubungannya dengan Kakang selama ini."
Kembali Lencari berbicara kepada surat Jingga. Seolah meminta persetujuan.
Lencari lalu bangkit melepas pakaian yang akan dikenakan ke tempat kerja, berganti pakaian ringkas yang biasa Ia kenakan saat berkuda. Sejenak Ia menaburi bedak beras tipis untuk menutupi sembab di wajahnya.
"Mbok, aku mau ke rumah saudara sebentar," pamit Lencari kepada Simbok lalu mengeluarkan kuda dari kandang, memacu menyusuri jalan Wilwatikta. Ia mengenakan topi lebar dan selendang menutupi sebagian wajahnya. Agar tidak menjadi pusat perhatian orang orang di jalan.
Tak banyak halangan Lencari sampai di kediaman Anjani. Tanpa minta ijin Ia langsung masuk. Rumah ini adalah rumah kedua bagi Lencari. Saat kecil Ia sering tinggal disini bila kedua orang tuanya ada urusan penting ditempat jauh.
Tak banyak berubah, taman, kolam ikan dan bale bale kayu ditengahnya. Lencari langsung berdesir darahnya melihat tempat dimana Ia dan Pangeran Mahesa berkenalan pertama kali. Ya di taman itu.
Perkenalan itu yang menjadi awal malapetaka. Sikap terbukanya ditangkap salah oleh Pangeran Mahesa yang kurang pergaulan.

Lencari langsung menuju bilik Anjani. Beberapa abdi yang berpasan memberi salam hormat.
"Anjani,"
...
"Anjani,"
Terdengar suara langkah dan bunyi slot pintu dibuka.
"Hei Cari! Ibu pejabat kita!" Anjani langsung memeluk Lencari seperti lama tidak bertemu. Lencari menyambut pelukan Anjani. Pelukan Anjani yang tulus meruntuhkan benteng airmata Lencari. Tanpa kuasa, Lencari menangis tersedu sedu dalam pelukan Anjani.
Anjani terkejut dengan reaksi Lencari, sejenak Ia merenggangkan pelukannya mengamati, apakah benar Lencari menangis. Setelah yakin yang menangis Lencari. Anjani kembali memeluk Lencari erat erat. Dan Ia ikut ikutan menangis meski tidak tahu apa yang ditangiskan.

Setelah reda, baru Anjani menanyakan, "kenapa kamu menangis?"
"Ndak tahu, aku ingin nangis saja," jawab Lencari masih terisak berusaha tersenyum.
"Mungkin karena kangen, kamu juga kenapa ikut menangis?"
"Eh iya ya, aku kok ikut nangis?" Anjani terlihat lucu saat menyadari dirinya ikut menangis.
"Anjani, aku mau bercerita tentang sebuah rahasia,"
"Cerita apa?"
"Tapi janji tidak menceritakan kepada orang lain tanpa seijinku,"
"Ya aku janji,"
"Maaf, dulu sengaja aku tidak memberitahumu karena takut membahayakan dirimu, Tapi sekarang aku bingung tidak ada yang bisa aku ajak bicara. Hanya kamu Anjani yang bisa aku ajak bicara,"
"Ya aku maafkan, sekarang ceritakan masalahmu, janji aku menyimpan rapat rapat," Anjani tersenyum sambil menutup mulut seolah olah dikunci. Anjani mengira Pangeran Mahesa mencari istri baru atau selir. Seperti yang umum terjadi di kalangan bangsawan.
"Anjani, sejujurnya, aku tidak sedikitpun mencintai suamiku."
"Pernikahanku dipaksa, untuk menyelamatkan ayah ibu dari fitnah dan rongrongan lawan lawannya di pemerintahan."
"Waktu itu aku menurut saja tanpa berpikir panjang. Semua sudah diatur dan dipaksa. Aku tidak bisa berhenti apalagi berbalik. Semua orang menyatakan bahwa itu benar, itu jalan satu satunya yang harus di tempuh. Dan bodohnya, aku menurut saja."
Setelah menikah, aku baru sadar, tidak bisa hidup seperti itu, menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Aku lalu melawan semampuku."
"Orang yang tidak bisa mencintai orang lain, biasanya sudah mencintai seseorang," tebak Anjani sok tahu urusan cinta.
"Betul Jani, jauh sebelum aku dikenalkan dengan Pangeran Mahesa, aku sudah mencintai seseorang. Jingga, yang dulu menjadi pengawalku."
Anjani terkejut, hatinya berdesir mendengar nama Jingga disebut. Ia sendiri yang hanya sekali bertemu dengan Jingga masih terkenang pertemuan itu. Setelah agak tenang, Anjani mulai bisa berpikir logis. Ya pantas Lencari jatuh cinta kepada Jingga. Dirinya saja yang sebentar bertemu sudah bisa membuatnya bergetar. Apalagi Lencari yang setiap hari bertemu.
Lencari lalu menceritakan semua kisah hidupnya sejak awal berjumpa dengan Jingga, penculikan Jingga, fitnah, sakit yang hampir merenggut nyawanya. Utusan yang menyamar jadi tabib. Pertemuan, pertengkaran, cemburu, kabur dari rumah malam hari. Berduaan dibawah jendela. Diselamatkan jingga dari penculik, perjalanan di hutan yang tak terlupakan sampai perjalanan terakhir yang mengantarkan dirinya menikah. Sedang Jingga diasingkan dengan ditugaskan berperang jauh di timur.
"Sekembalinya, Jingga datang ke Ayah Bunda untuk melamar, padahal saat itu aku sudah dinikahkan. Dan betapa kejinya, sepulang dari rumah, Jingga mau dibunuh oleh orang suruhan ibuku."
Lencari menceritakan penyelidikannya kala itu dengan Savitri dan Lindri sampai ke Kahuripan. Disana Lencari menerima surat kebencian dari orang kepercayaan Jingga. Yang sebelumnya juga diceritakan oleh Guru Jingga di keprajuritan.

"Waktu itu pikiranku gelap, aku pulang ke Wilwatikta, Lindri dan Savitri aku minta pulang. Lalu aku mengakui kepada Pangeran Mahesa kalau selama ini aku mencari Jingga. Pangeran marah, aku pasrah. Aku tergores kerisnya hampir mati keracunan warangan."
"Saat aku sadar dan pulih, aku dititipkan ke Pertapan. Katanya biar aku belajar bersyukur. Tapi aku senang disana, setidaknya aku tidak bertemu dengan orang yang menyebabkan aku tidak bisa bertemu dengan Kakang Jingga."

Anjani begitu menghayati mendengarkan cerita Lencari, berkali kali disaat momen mengharukan, mereka berpelukan menangis bersama. Entah sudah berapa banyak airmata yang mengalir dikamar Anjani. Setelah reda, Lencari kembali melanjutkan.

Ia menceritakan kedatangan Ibundanya yang memaksa mengeluarkan dari Pertapan. Sampai terjadi kesepakatan dengan ibunda dan Pangeran yang membawanya bekerja di Kementrian sebagai pimpinan bagian keuangan. Ia mengelola uang dari Ibundanya untuk mensukseskan program kerja Pangeran Mahesa. Sebuah kerjasama yang aneh namun cukup adil bagi mereka.

"Ternyata Jingga diam diam mengawasiku. Ia tidak mau menemuiku karena menghormati Pernikahanku." Lencari lalu mengangsurkan surat dari Jingga ke Anjani. Anjani menerimanya lalu membuka, di bolak baliknya rangkaian daun lontar itu.dan Ia tidak mengerti isinya.
"Itu surat sandi aku dengannya, bahasa Sansekerta yang Ia letakkan pagi tadi," jelas Lencari melihat Anjani kebingungan.
"Apa isinya, aku tidak mengerti," tanya Anjani.
Lencari lalu menjelaskan bait demi bait surat Jingga. Kembali mereka menangis trenyuh.

Mereka tidak sadar, sejak tadi Raden Sidatapa mendengarkan pembicaraan Lencari dan Anjani dari balik dinding. Awalnya Ia penasaran mendengar suara tangis di kamar Anjani. Setelah didekati ternyata didalam terdengar suara Lencari dan Anjani. Tanpa sadar, Raden Sidatapa ikut mendengarkan dan terhanyut akan cerita sedih Lencari.

Mata Raden Sidatapa berlinang oleh air mata. Ada rasa bersalah karena terlibat dalam usaha memisahkan Jingga dengan Lencari. Padahal kurang apa dia. Kalau hanya perseteruan dengan Adipati Kahuripan. Kan bisa diceritakan kepadanya. Bukan dengan mengorbankan anak gadisnya seperti ini.

Tapi mendengar sampai berkali kali Jingga hendak dicelakai Sulastri. Berarti ada sesuatu yang dirahasiakan Sulastri. Ia mengenal sifat Sulastri. Sifat yang terbentuk oleh luka semasa kecil. Sifat pertahanan diri yang berlebihan. Yang seringkali mengalahkan akal sehatnya.

Sekarang dirinya harus turun tangan untuk menebus dosa kepada sepasang kekasih ini. Tekad Raden Sidatapa.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
profile picture
CariRina
Wduuuuuuuuh......bikin penasara.....ki....aduuuuuuh....tambah ki.....wes...lemes aku....
profile picture
Senjakala2104
Nana dan Cari dlm satu post,serius bikin penasaran ama endingnya
Lanjuuuttttt ki,di tunggu update nya
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di