alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b96507614088dc8598b4567/roman-tosca

Roman Tosca

eNTe II : Roman Tosca



Quote:




Ane balik lagi yak...niat hati masih mau nyambungin yang kemarin, semoga ente ente pada masih berkenan hehe....
Spoiler for .:




profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chamelemon
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


Pack 50. Sempurna Dalam Dilema

Antara harapan dan tujuan menjadi satu tuju kembali harus beradu tangguh dengan cinta, kekaguman dan hasrat untuk menyayangi...dan memang itulah yang berkecamuk didalam dada ini. Ente bayangin dah, dari kelas satu...ane udah mengaggumi sosok ini, tanpa secuilpun tindakan untuk memiliki. Lah kok yo tiban sekonyong konyong diwaktu yang dipenuhi angin malam sama gemericik suara jangkrik yang seolah olah menjadi suporter riuh, peluang itu muncul.

Kesempatan emas bukan?...hati ane mulai bimbang dengan apa yang sebenernya tengah terjadi. Bukan...bukan ane sok iyes, sok ngganteng, sok kalem...tapi emang bener dah...sedikit banyak ada yang berubah dalam diri ane, dan itu adalah prinsip. Tapi ini apa?...seolah olah ane dipermainkan oleh kenyataan, ribet dah...ini jelas adalah sesuatu yang ane harapkan dari dulu, tetapi...ini juga yang akan bertentangan prinsip tentang harapan dan cita-cita, pokokmen jelas...ini dilema.

"Se...ri..us?" ane udah macem kambing congek dah.

"Kenapa?...kamu masih belum yakin Yen?" Rida mengubah posisi duduknya.

Yungalah...tambah gelagapan nggak karu karuan dah. Mata dan senyuman manis nya sudah membuat ane terhipnotis. Ane masih mengingat tatapan ini, tatapan yang membuat ane semakin membeku kaku.

"Bukannya gitu Da...tapi ini beneran ya? "

"Iya bener, aku udah yakin sama keputusanku "

"Kok masih berasa nggak percaya ya "

"Hihihi...abisnya...kamu nggak peka sih "

"Bukannya gitu Da, tapi apa aku pantas? "

"Apa yang membuatmu ngerasa nggak pantas? "

"Ya...ya nggak tau apa, tapi ngerasa nya gitu dah "

"Bodoh...jangan ngerasa gitu lah...aku beneran tulus kok "

Ane menunduk, bingung harus berbuat apa, harus ngomong apa lagi, apa iya ane mundur...disisi lain ane bener bener udah kekeuh buat berangkat meninggalkan tanah ini. Masa' iya ane cuma memberikan cinta sepintas lewat, aiiihhh Mamak...ane bener bener bingung dah.

"Can, boleh aku tanya sekali lagi kan? "

Ane mendangak, ngeliatin doi lagi...yang keliatan banget kepedeannya, berbanding terbalik dengan ane.

"Kamu juga nggak? "

"Harus dijawab ya? "

"Ya iya donk...aku udah terus terang nih, harusnya kamu juga donk "

"Emh...iya Da...yang kamu omongin tadi bener semua "

"Bener? "

"Iya "

"Coba waktu itu...kamu beneran masuk Pramuka, kan kita jadi deket hihi "

Ane cuma senyum singkat, garuk garuk kepala. Doi makin action didepan ane, kedua siku tangannya udah ditancepin diatas dengkul, dagunya udah ditopang sama kedua tangannya. Itu senyum masih aja bercokol di wajahnya, matanya bener bener udah berbinar binar. Dan jelas,...itu membuat ane semakin grogi...akut.

"Kenapa Da? "

"Nggak apa apa...aku pengen puas puasin ngeliatin kamu "

"Ei?...kok gitu?"

"He'emh...kenapa dari dulu aku nggak kayak gini ya?"

"Maksudnya?"

"Iya...kenapa hari ini aku baru berani berterus terang ya?...tapi kamunya juga sih...nggak peka, aku tuh udah nungguin lama tauk!" Rida masih ngeliatin ane, beneran fokus ngeliatin ane, ya jelas lah...ane tambah salah tingkah.

"Udah donk...biasa aja dah "

"Kenapa?...aku juga biasa aja "

"Biasa gimana...lah ngeliatinnya gitu "

"Ya kan...aku pengen ngeliatin kamu "

Yungalah...camp red, makin grogi keki lah ane, ane mengalih pandangan dari wajahnya. Suara jangkrik kian bergemuruh ria...kayaknya mereka semakin sorak sorai dah.

"Ayo donk "

"Apa? "

"Iihh...beneran nggak peka "

"Apaan Rida, beneran nggak ngerti dah "

"Kan aku juga pengen tau "

"Apa? "

"Yang kamu rasain dari kelas satu sampe sekarang "

"Yang aku rasain? "

"Iya...kan ini tentang kita "

"Apa ya...semua nya sama sih "

"Ih nggak kreatif "

"Kok nggak kreatif? "

"Iya nggak kreatif...masa sama semua dari yang aku jelasin tadi? "

"Lah kan emang gitu kenyataannya "

"Jadi, apa yang membuatkamu suka sama aku Yen? "

"Emh...semuanya...senyummu, tingkahmu, semuanya deh "

"Hihihi..bo'ong "

"lho kok bo'ong? "

"Iya kamu bo'ong...coba kapan ultah ku? "

"November kan? "

"Tanggal berapa? "

" Satu "

Rida terdiam dan pandangannya masih teduh ngeliatin ane yang makin grogi, meskipun masih berusaha untuk tetap tenang. Ya apalagi...pikiran dan perasaan ane tengah berkecamuk, dan sepertinya ane masih bingung, bakal jadi orang jahat atau baik.

"Oke, bener...terus sejak kapan kamu suka sama aku Can? "

"Menurutmu sejak kapan? "

"Kayaknya sejak pertama ketemu sama aku ya? hihi..."

"Iya "

"Duh maaf ya...aku sempet jadian sama orang lain hihi "

"Ya ya...it's oke...itukan memang hak mu "

"Ya udah kalo gitu...ayo donk "

"Apaan? "

"Iiiihhh...kok masih nggak peka sih? "

"Apa sih? "

"Tau ah.."

Farida mulai keki, dan kayaknya hampir semua cewek yang ane kenal...tabiatnya mirip, kalo nggak keturutan, mode ngerajuk yang bakalan nongol.

"Hehehe...oke, oke Da.. "

"Apanya yang Oke? "

"Farida Nov******...aku sayang sama kamu "

Rida cuma mengulum senyum manisnya setelah mendengar kata tersebut, pandangannya masih belum menoleh ke arah ane.


"Yuhuuuu!...Kakakku beneran jadi dua deh, cie cie..."


Felin nyengir geblek setelah mendengar kalimat dari ane tersebut. Spontanlah ane sama Rida menoleh berbarengan ke arah belakang. Felin nyengir geblek, mainin kedua alis matanya, jari tengah sama telunjuknya diberdiriin pula. Begitulah ekspresi Felin di ambang pintu.

Rida melotot sambil senyum senyum ngeliatin Felin. Ane juga begitu...melotot sok Galak ke arah Felin. Tapi Felin tetep bodoh amat, dia masih aja nyengir kemudian berlalu...tetep, sambil nyengir.

"Maafin Felin ya hee..."

"Udah tau, aku seneng deh "

"Seneng kenapa? "

Rida beranjak, mengucek haiyah...mengacak acak rambut ane sambil tersenyum manis, trus ngomong....

"Layen sayang...buruan Kopinya diabisin ya, aku mau memberi pelajaran sama adik kita hihi "

Berlalu pergi, tapi masih nyempetin noleh ke ane. Entahlah...apa ini bisa disebut mulai pacaran apa nggak?...yang jelas dalam dada ane bergemuruh nggak karu karuan. Jantung kayaknya udah loncat loncat nggak karuan, apalagi hati...kayaknya semakin hilang paitnya, Usus juga kayaknya semakin bergejolak bergembira ria.

Tapi semakin kontroversial dengan apa yang ada dibenak ane. Otak kayaknya beneran marah besar, rasanya seperti kalah total...

" Macam mana dengan obsesi mu Can? FISIPOL dan PSIKOLOGI mu gimana SINCAN!!! "

Semakin menggema itu si Otak ngomong kek gitu. Pokokmen semakin bergejolak, udah macam diparlemen dah...yang efeknya....

Ane masih diem bengong, melamun geblek!!


<>***<>



Malam itu, adalah malam inagurasi kelulusan. Sedari pagi, Mamak udah rempong tanpa juntrungan dengan apa yang harus ane kenakan pas Malam Inagurasi. Acaranya memang bukan disekolah, tapi disalah satu gedung terkemuka di kota ini. Dan justru itu yang membuat Mamak kalang kabut. Beliau semacam bener bener mempersiapkan diri buat acara itu.

Beberapa jam sebelum menuju Malam Inagurasi tersebut....

Ane udah duduk empat mata sama Babah, di ruang makan, padahal lagi nggak makan. Babah duluan yang berada disini, sedangkan ane dipanggil sama Mamad buat menghadap ke Babah.

"Kenapa Bah?" Ane bertanya setelah meletakkan pantat.

"Rencanamu tempo hari, sudah bulat? "

"Sampe sekarang masih bulat Bah, tapi itu kalo diijinin sama Babah "

Babah sudah meletakkan kedua siku tangannya diatas meja, kedua tangannya sudah saling bertemu. Telapak tangan kanan sudah menyelimuti bogem tangan kiri. Tatapan Babah, benar benar serius ke arah ane.

"Babah sadar...kayaknya Anak Babah sudah ada yang mempunyai arah "

"Aku nggak salah kan Bah? "

"Nggak...sama sekali nggak, Babah perhatiin...semakin kesini kamu semakin punya sikap "

"Iya Bah...aku udah punya pandangan Bah "

"Yaa...Babah tau, ternyata yang namanya Suci bikin kamu kayak gini "

"Nggak Bah...bukan gara gara dia Bah, ini murni kemauanku Bah "

"Sebenernya Babah berharap...kamu nggak pergi dari Rumah Can "

Ane menunduk, entahlah...mungkin harapan ane akan dipatahkan sama Babah.

"Mamak gimana Can? "

"Mamak...sama kayak Babah, kalo bisa kuliahnya disini aja "

"Terus...kalo menurutmu?...Sikap Babah bakal gimana? "

Ane masih menunduk, nggak berani jawab.

"Kamu bilang mau kuliah dimana kemaren? "

"Fisipol atau Psikologi Bah "

"Kalo lulus?...bakal jadi apa tuh? "

Ane nggak jawab, dan masih dengan pose menunduk...nggak berani liat muka Babah.

"Maddd!!!!!" teriak Babah memanggil Mamad, dan memang kucluk kucluk Mamad berlari kecil ke arah Meja.

"Iya Bah?" tanya Mamad menghampiri kami.

"Panggil Mamak, suruh kesini ya Nak," titah Babah buat Mamad.

Tanpa mengiyakan, Mamad langsung ma'tlenyeng kabur, lari kecil trus menjauh dari kami. Dan nggak butuh dua menit, Mamak langsung menghentikan aktifitasnya di dalam kamar, nyiapin buat pakaian ntar Malam.

"Kenapa Bah?" tanya Mamak, setelah duduk disamping Babah.

"Gimana?...Chandra masih bulat buat merantau ke Jawa," ucap Babah ke arah Mamak.

Mamak ngeliatin ane yang masih nunduk, kemudian beliau bersabda...

"Setelah Mamak pikir pikir...Mamak bangga sama Kamu nak, pergilah...asal masih ingat jalan pulang "

Sontak...ane menengadahkan kepala, ngeliatin Mamak, yang air matanya mulai muncul disudut mata kiri. Babah masih dengan pose yang sama, tapi kali ini mengangguk anggukan kepalanya ringan, ane tau...ini pasti kedua kaki beliau, lagi digoyang goyangin.

"Mak "

"Iya nak...pesan Mamak, bertanggung jawab ya Nak...jangan lupa sholat "

"Mamak ngijinin? "

"Iya Mamak ngijinin...apapun itu yang kamu pilih, Mamak dukung...asal kamu bertanggung jawab dengan pilihanmu "

Gantian ane yang ngeliatin Babah, masih belum ada raut senyum di wajah beliau.

"Kamu dengar sendiri kan?...Babah juga sama, nggak akan melarang kamu buat pergi "

"Iya Bah? "

"Iya...tambahan dari Babah, jadilah sesuai yang kamu harapkan "

"Beneran Bah?...trus Biaya nya gimana Bah? "

"Hahahaha...kamu tuh gimana sih? punya tujuan tapi nggak punya persiapan hahahaha "

"Babah...lagi ditanyain serius, kok malah guyon," Mamak merespon omongan Babah.

"Yang itu nggak usah kamu pikirkan, yang itu udah Babah siapin, berjuanglah sama yang jadi tujuanmu...dan pertanggung jawabkan itu," Babah mengeluarkan sabda buat ane.

"Jadi?" tanya ane.

"Ya udah, siapin seperlunya...trus kapan kamu mau berangkat? "

"aku udah nyari tau Bah, kalo tesnya bisa disini...tapi kalo diterima jelas aku harus kesana Bah "

"Oh ya?...ya udah kalo gitu...bisa nyiapin sendiri donk?" tanya Babah.

"Iya Bah, Insya Allah bisa..."

"Ya udah kalo gitu, kalo memang sudah pasti diterima, Babah punya kenalan disitu...Babah yakin dia bisa bantu kamu kalo kamu udah disana "

"Siapa Bah?" tanya Mamak.

"Itu...temen Babah yang di Jakarta dulu, Si Azis Fulus," jawab Babah.

"Oh iya...dia dapat cabang disana?" tanya Mamak lagi.

"Iya...biar Chandra digembleng sama dia, kalo beneran ketrima disana"

"Jadi...aku diijinin Bah? " ane menyela.

Babah tersenyum ngeliatin ane. Kemudian ngeliat ke arah Mamak, ngasih kode pake ngerjipin mata sebelah gitu ke arah Mamak. Tau dah maksudnya apaan, yang jelas Mamak beranjak dari situ.

"Can "

"Iya Bah "

"Ingat pesan Babah...jadi orang nggak usah neko neko, sederhana aja dan nggak usah petakilan "

Ane menunduk lagi, tau sudah maksudnya apaan...ya pasti karena beliau mengingat tragedi tokai terbang. Nggak beberapa lama, Mamak bergabung lagi, udah bawa kotak hape.

"Ini buat kamu komunikasi disana, ingat...kabar kabar terus," ucap Mamak menyerahkan kotak hape tersebut.

Sampe sekarang ane inget banget dah sama ini hape. Sebatang Hape yang ane keluarin dari kotaknya, bentuknya macam ulekan cabe dah, kepalanya lebih gede dari tombol keyboardnya, layarnya orange, tapi waktu itu...udah terbilang up to date ndul, hape sicemen mwehehe..

"Makasih ya Bah...Mak, semuanya bakal tak urus "

"Iya, kalo ada yang kurang, ngomong aja kalo ada yang kurang "

"Iya Bah..."


<>***<>



Ane udah berpakaian pantas dan rapi, baju kemeja yang disiapin sama Mamak udah dilengkapin sama Jasnya juga. Dan seperti yang udah ane duga, Om Dison beserta Istrinya bakal mampir kerumah, buat barengan ke acara malam itu.

Nggak lama setelah semuanya siap, tinggal nungguin Felin dandan. Om Dison udah markirin mobil disamping warung. Tentu, ane sudah menunggunya, dan itulah untuk pertama kalinya...Ane menemukan bidadari hehehe...lebai yak? Tentu, kompetitor terberat Bidadari kamar mandi ya dia lah orangnya hehe...

Rida udah mengenakan sanggul, pakai baju kebaya warna merah, bawahan udah pake kain songket warna jingga, rias diwajahnya berkilau, apalagi turun turun pake senyum...beuhhh...Perfect dah.

Sempet salam salaman dulu dah tu Ortunya Rida ke Mamak sama Babah. Ane cuma liat liatan doank sama Rida. Setelah sempat tegur sapa sejenak, Felin udah ngunci pintu Rumah. Om Dison udah naek di depan sama Nyokapnya Rida. Sedangkan Mamak, Felin sama Rida di tengah. Mamad doank sendirian yang udah duduk di belakang.

Ane boncengan sama Babah naek Engking, membuntuti mobilnya Om Dison menuju itu gedung yang dipake buat malam Inagurasi.Konon kabarnya yang nggak lulus ada didalam kelasnya Bedul. Tapi untungnya bukan Bedul yang jadi korbannya. Ane cukup lega mendengarnya.

Sesampainya digedung, ternyata semua udah tumpah ruah. Semua kursi buat orang tua murid sudah dipersiapkan. Jelas donk, karena ane barengan sama Rida. Jadinya ane semacam menggandeng Rida malam itu.

Rida minta ditemenin dulu ke tempat teman teman kelasnya ngumpul, ane turutin dah. Jadi sebelum acara itu dimulai, banyak yang ngeliatin ke arah kami berdua. Ane paham, tentu gosip yang beredar semakin menjadi gosip tanpa juntrungan...kenyataannya berbeda.

Rida beneran menggandeng lengan ane, awalnya sih kikuk...lama lama terbiasa juga sih. Ane biarin lah...orang mau berkata apa juga. Dikawanan yang didominasi anak anak IPA ini, ane hanya melipir ke pojokan, ngeliatin Rida yang memang udah macam Bidadari dalam cerita lutung kasarung, cakep sangad beud dah pokokmen. Dan untuk sementara waktu, pergolakan dalam diri ini, mau nggak mau ane tenggelamkan dulu.

Sampai tanpa diduga, dari arah kiri ada yang nyenggol siku ane....

"Eh wis, kok sendirian? "

Ane sapa duluan nih anak, doi cuma balas pake senyuman.

"Hebat Can "

"Apaan? "

"Jadi...Suci bertepuk sebelah tangan nih? "

Ane terperangah dengan ucapannya...dari mana Euis tau? Apa memang gosip itu?

"Maksudnya gimana nih? "

"Hehehe...masih aja kebiasaanmu yang sok bego "

"Semua udah pada tau kali Can "

"Apa? "

Euis mengambil minuman sejenak yang terpampang di depan mata, kemudian balik lagi ketempat ane yang lagi nyender di dinding. Euis minum sejenak, terus bilang....

"Kayaknya tadi Suci nyariin kamu deh "

"Masa'? "

"Iya...Papanya juga nyariin kamu "

"Ei? "

Ane terperangah dengan apa yang barusan keluar dari mulutnya Euis....

"Ntar kalo kamu ketemu Suci sama Ortunya...trus kamu bakal gandengan sama Dia ya? "

Ane bengong....

Set dah...kenapa nggak terpikirkan di otak ane yak?

"Can "

"Ya "

"Coba liat ke arah jam sepuluh "


Ane menuruti perintah Euis....

Dan seperti biasa, roman muka andalannya keluar...ngeliatin ane pake mata yang lebih tajam. Berjalan nggak cepat tapi nggak juga lambat, Suci benar benar mengerti kalo ane lagi ngeliatin doi.

Nggak butuh satu menit, Suci sudah berhadapan dengan Kami. Cipika cipiki dulu sama Euis, trus ikutan ngambil minum soda, kemudian bergabung lagi dengan ane sama Euis.

"Kalian kayaknya butuh ngobrol deh, aku kesana dulu ya," Euis nyengir Camp red, ninggalin ane sama Suci. Ane kikuk sekikuk kikuknya...


"Lo datang sama dia Lek?" Suci membuka suara sambil ikutan ngeliatin Rida dari kejauhan.

"Iya "

"Dia cantik ya "

"Kamu juga kok "

"Tapi kayaknya cantikan dia deh "

"Cantik nggak Cantik...kan semua dari Tuhan Ci hee..."

"Menurut lo...semua akan baik baik aja nggak Lek? "

"Maksudnya? "

Ane yang dari tadi ngeliatin Rida dari kejauhan, tiba tiba terperangah...karena yang diliatin sadar kalo lagi diliatin. Rida yang sadar kalo lagi ane liatin, mendadak pamit sama temen temennya. Berjalan ringan, sama kayak Suci tadi...nyempetin ngambil minum dulu, barulah menghampiri ane sama Suci.


* DegDegDegDeg *


"Selamat ya "

Rida memberikan tangannya ke arah Suci, dan disambut sama Suci, tapi dibalesnya dengan senyum simpul doank. Ane tambah kikuk dari sebelumnya...

"Lo tadi datang bareng Sincan ya?" tanya Suci ke Rida yang udah merapat ke lengan kanan ane.

"Iya, barengan sama Orang tua kita juga," jawab Rida yang masih tatapan tatapan dingin ke arah Suci.

"Ee...kayaknya,"

"Lo mau pergi Lek?" belum sempat ane mengajak Rida buat merapat, udah dipotong duluan sama Suci.

"Iya Ci, mau kesana dulu "

"Kan gue belum selesai ngomong sama lo Lek "

"Kalian lagi ngomongin apa?" Rida sedikit antusias dengan omongan Suci barusan.

"Eh anu,itu Da,"

"Ngomongin masa depan," belum sempat ane menyelesaikan alasan, lagi lagi langsung dipotong sama Suci, tatapannya kian tajam ke arah Rida.

"Oh ya?...masa depan kalian?" Rida bertanya, tapi tatapannya juga tajam ke arah Suci.

"Biar Sincan aja yang bilang "

Suci ngomong kek gitu, yakin dah...seperti memang memancing di air keruh. Ane makin merasa geblek, ini ane harus ngapain dah. Apalagi kedua wanita ini, mendadak kompak ngeliatin ke arah ane.

"Kamu nggak bilang Yen, kalo kita udah jadian? "


* glek *


Rida sempet sempetnya ngomong kek gitu, yang semakin membuat tatapan Suci kian tajam.

profile-picture
yusufchauza memberi reputasi
Diubah oleh chamelemon
profile picture
nicko.simbah
Gak yakin gal bakal Neko neko pas ngerantauemoticon-Leh Uga
profile picture
awanpeteng


sepertinya rida udah prepare buat perang ma suci, sudah menduga kalau bakal ada kejadian kaya gini pas malam inagurasi, makanya rida gercep nembak sincan, kalau udah jadian bisa buat kartu as ngelawan si suci emoticon-Wakaka

yang rada aneh si suci, udah dibela belain masuk ips biar sekelas ma sincan, tapi masih aja berat ke cowoknya. begitu cowoknya pergi dengan santainya ngejar sincan. emoticon-Big Grin
profile picture
akirajento
Buahahaha bida sadddiiisss bet kata2nya macem nancepin piso di ulu hati suci.

Good job bida
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di