alexa-tracking
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b96507614088dc8598b4567/roman-tosca

Roman Tosca

eNTe II : Roman Tosca



Quote:




Ane balik lagi yak...niat hati masih mau nyambungin yang kemarin, semoga ente ente pada masih berkenan hehe....
Spoiler for .:




profile-picture
profile-picture
profile-picture
yusufchauza dan 22 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh chamelemon
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!


Satu tambah satu berapa?...Pegang!!!... Kasih Besar emoticon-Leh Uga


Pack 30. Satu Kata

Ane berjalan menggandeng Putri, belum juga terlalu jauh dari kantin Mak Mirah. Ada someone nggak pake laik yu lagi duduk diatas motornya, tapi sangat famijinak dimata ane...doi mengibaskan rambutnya. Dan ntuh cukup membuat ane membelalakkan mata dengan gerakannya tersebut.

"Kenapa Mas?" tanya Putri tiba tiba karena ane juga mendadak menghentikan langkah sambil ngeliatin itu cewek.

"Itu...kayaknya itu Fani deh," bilang kek gitu sambil menunjuk ke arahnya.

Putri pun melihat ke arah yang ane tunjuk. Dan dia juga memicingkan mata sejenak, ikut memastikan dengan sexama apa yang ane perhatikan. Etdah...kayaknya ane nggak salah liat...itu Fani. Tapi yang di depannya jelas itu bukan Otong. Kalo itu boncengan biasa ane mungkin nggak bakalan kaget, tapi ketika Fani udah naik ke atas motor tersebut...dia udah pasang mode nyabuk. Yuno wat ai min lah ya....

Pertanyaan langsung nongol di benak ane...jangan jangan Fani selingkuh, atau dia udah putus sama markotong. Hmmmm...jadi penasaran juga sih dibuatnya.

"Kayaknya sih iya, itu Mbak Fani, kenapa Mamas kayak terkejut gitu?" tanya Putri yang tangannya masih ane genggam.

Ane pun menoleh ke arah Putri....

" Ya jelas kaget lah nda...dia kan pacarnya Otong "

Barulah Putri juga ngeliatin ekspresi yang serupa tapi tak sama, keknya mulai bermunculan juga tuh tanda tanya dibenaknya. Ya wajar sih, karena memang Putri nggak dekat sama mereka.

" Apa mereka udah nggak pacaran ya?? "

" Ya coba Mamas tanya aja langsung sama Otongnya "

" Hmmm...iya deh "

Satu pertanyaan yang mungkin jadi alasan penting ketika Fani juteknya ampun waktu itu adalah hal ini. Apakah Fani sengaja memang udah nggak mau bertegur sapa lagi sama ane karna ini juga, entahlah ai du no...ane meskipun terkejut tetap udah nggak mau ambil mumet dah.

Ane pun mengikuti jejak langkah kemana kaki ini melangkah, ya kemana lagi kalo bukan ke tempat Super X berada. Satu hal yang mungkin membedakan antara Putri dibandingkan mantan terdahulu kala, dia memang nggak mau dengan gaya nyabuk. Ya normal aja gitu..,itu kalo orang liat paling juga nggak yakin ane pacarnya Putri. Tapi ane malah nyaman kayak gitu sih, seengaknya memang Putri menyesuaikan norma yang telah tersedia. Meskipun hati ini memang meronta pengen dilakukan dengan mesra di atas Super X, cemana coba ntuh ndul hehehe...

Aslinya memang kantong ane memang nggak tebel tebel banget sih, tapi entah kenapa ane malam itu berniat ngajak Putri ke Stars Hill, tempat dimana dulu sempat dibuat nyaman sama Mega. Ane ini si atif buat ngajak Putri kesana karena memang pemandangannya yang nyaman buat diliat sih, ngeliatin kemerlap ntuh lampu lampu yang berteberan dari atas sambil makan malam.


<>***<>



Gemerlap bintang dilangit rimbun nun jauh disana, tidak jauh beda lah ya sama yang terhampar di bawah...semua beradu terang. Semua sudah menampakkan cahaya penuh kesyahduan buat mengantar suasana...ya boleh dibilang cukup romantosca buat ane lah ya.

Kami memang nggak sendirian disini, hampir serupa...banyak pasangan yang juga menyempatkan diri buat menikmati malam ini dengan suasana yang cukup menyenangkan buat untuk dikenang. Ane sama Putri sudah mengambil posisi yang dibilang cukup lapang untuk melihat pemandangan ini.

" Udah pernah kesini nda? "

Putri nggak menjawabnya, doi cuma mingkem sambil memandangi semua yang terhampar dengan tatapan yang boleh dibilang terpesona atas apa yang sudah terhampar nyata. Dari nyampe tadi, ane langsung minta posisi sama pelayannya...posisi persis tempat duduk yang pernah ane tempatin dulu sama Mega. Iya dah...ane ngaku, nggak mungkin kalo ane nggak baper dengan tempatnya. Tapi ane yakin, apa yang sudah terjadi adalah bagian dari hidup yang mungkin nggak bisa dibalikin lagi, tapi hanya bisa diingat, dikenang...dan diulang lagi tentu bisa di reka lagi juga. Meskipun mungkin dengan wajah yang berbeda.

" Kok diem aja nda? "

Ane merangkul Putri dan merebahkan kepalanya dipundak kiri ane. Doi masih nggak menjawab, tapi doi nggak segan buat naruh tangannya di atas punggung tangan ane. Putri hanya fokus ngeliatin pemandangan yang tersaji, dan doi nggak berkedip pula'.

" Bagus ya Mas "

" Belum pernah kesini ya Nda? "

" Belum...enak ya tempatnya "

" Ehmm...iya nda "

" Kenapa Mamas ngajak kesini? "

" Ya nggak kenapa kenapa juga sih...mau aja "

Putri masih menyenderkan kepalanya di pundak ane, yang ane lakukan selanjutnya membelai rambutnya. Apa yak...seneng aja gitu belai nya, menurut ane sih...itu membuat Putri nyaman walaupun memang hal ini memang mirip dengan apa yang ane sering lakukan juga dengan Mbak Kasih.

" Dulu dengan siapa Mas? "

Itu pertanyaan tiba tiba muncul seketika dari mulutnya Putri, lah ane sekonyong konyong langsung membelalakan mata. Lah gimana nggak gitu ndul, pertanyaannya itu tertutup...ada kata siapa disitu, yang jelas mau nggak mau ane membunyikan sebuah nama disitu, masa' iya ane nyebutin Mak Mirah.

" Harus dijawab Nda? "

" Ya kenapa Mamas harus nanya lagi, ya dijawab aja Mas "

Ane masih membelai kepalanya Putri, nggak ada penolakan dengan apa yang ane lakukan. Sedari tadi roti bakar sama dua gelas es teh juga belum dijamah sama sekali. Ane cuma ngeliatin sekeliling, masa' iya disuasana seperti ini ane harus beradu tanya jawab lagi sama Putri. Apa memang ane yang terlampau kurang canggih dihadapannya yak?

" Mega Nda..."

Putri melepaskan bahunya dari pundak ane setelah mendengar nama yang meluncur dari mulut ane, doi kemudian menatap ane lekat lekat. Kebiasaan sudah, pasti kalo lagi kek gini doi mau ngajak ane ngomong yang lebih serius.

" Coba ceritain mas... "

" Apanya nda? "

" Ya ceritain tentang mereka mas "

" Mereka? "

" He'emh "

" Maksudnya?...Mega sama Mbak Kasih gitu? "

" Iya...Putri pengen denger lebih tentang mereka "

Wahh...nggak deh ya, ane sadar...semua orang itu berbeda, Fauzi Fauzan sekalipun pasti mempunyai perbedaan. Rasanya ane nggak pantes buat membandingkan satu sama lain. Lebih baik ane tetep dalam track nya aja dah.

" Hmmm...dengar ya Dindaku sayang...semua punya kelebihan dan kekurangan masing masing, apapun yang udah terjadi dengan mereka berdua...mereka sudah menjadi masa lalu nda, dan rasanya nggak pantes aja kalo bicarain mereka di depan kamu nda "

"Kenapa mas?...apakah Putri nggak bisa sama seperti mereka?" Putri masih menatap ane, dengan senyum manis sambil masih menatap ane lekat lekat.

"Nggak nda...semua nggak ada yang patut disamain atau dibedain, mereka berdua memang punya cerita sendiri denganku...dan aku juga mau...membuat cerita bersamamu nda," Ane membelai pipinya sambil masih tersenyum pula'.

Putri mengalihkan pandangannya lagi ke arah hamparan kemerlap lampu dibawah sana. Ane pun mengikuti apa yang dilakukannya. Memang sempat canggung sih, tapi berdasarkan feeling ane...sepertinya memang Putri pengen mengenal ane lebih jauh dari apa yang telah dia kenal selama ini.

" Jujur ya nda...kalian punya cara masing masing yang buat aku memantapkan hati untuk mencintai kalian, tapi justru itu...semua punya cara dan cerita masing masing "

Putri kembali menghadap ke arah ane, senyum manisnya juga masih aja ditampilkan ke arah ane.

" Iya mas...Putri tau kok "

" Trus kenapa masih ditanyain nda? "

" Putri yakin...disini ada salah satu cerita Mamas sama Mega kan? "

Ya sallam...ane nggak bisa membantahnya dah, walau memang udah jauh jauh hari ane yakin dengan apa yang udah jadi kelebihan sekaligus perbedaan doi dengan yang ngisi ruang hati ane lainnya, ya itu...doi lihai bener dah, menerka apa yang ada didalam benak dan perasaan yang timbul. Jelas lah...ane mendadak kecut, dan menundukkan wajah.

" Nggak usah gitu Mas, Putri tau kok "

Ane kembali mendangakkan kepala lagi, melihat kearahnya....

"Satu kata mas buat mewakili Mega," ucap Putri masih dalam senyumnya.

Ane masih bengong dongo' dengan ucapan tersebut, apaan coba maksudnya...ya done lah, ane pun memasang pose mikir dengan menghadapkan wajah ke arah langit. Dan memang berpikir keras satu kata yang mewakili Mega...ehmmm....

" Ehmm...apa ya...aktif mungkin ya "

" Kok aktif mas? "

" Ya karena memang sejauh aku mengenalnya...memang sering terlihat aktif sih "

" Aktif...dalam artian nggak bisa diam gitu mas? "

" Ya kalo nggak bisa diam nggak juga sih...tapi memang nggak bisa santai dikit "

" Ya kalo gitu...dia nggak tegang terus donk? hmhmhhm..."

" Nggak gitu juga nda...dia memang suka musik, seleranya hampir sama lah sama selera musikku...tapi lebih expert dia juga sih, lah dia memang anak musik sih, rasanya dari situ bisa disimpulkan kalo dia aktif "

" Owh..iya, dia kan yang mainin drum waktu itu kan? "

Paham ane...paham bener dah, waktu dimana ane berlutut, pulang pulang Putri juga nangis ngeliatnya. Pan bener, mau nggak mau ane dipancing buat ke arah topik ntuh.

" Iya...Mamas tau kemana arahnya "

" Hehehmhmhmh...ye dia malah sewot hmhmhmh "

" Penting ya kita bahas yang kayak gitu Nda? "

" Ya nggak sih mas...cuma memang Putri masih pengen ngerti aja "

" Ngerti apaan coba, pan semuanya Dinda udah tau semua apa ceritanya "

" Ehmm...Kalo Putri, apa yang paling membuat mamas berkesan sama Putri sejauh ini? "

"Depan kamar mandi dirumah mu" dengan cepat ane menjawabnya nggak lupa nyengir pula'.

Putri cuma senyum sambil melipat bibirnya. Sudah ane duga dah...tapi emang bener sih, entah itu cinta pada pandangan pertama, terpesona, terperana, ter apapun lah itu namanya...jujur ntuh kesan pertama yang bakal ngingetin ane sama Putri.

" Beneran nda, itu kesan yang pertama kali tentang kamu "

" Trus...kalo Mbak Kasih? "

" Kenapa malah nyangkut ke dia? "

" Ya nggak apa apa...kan kata mamas, mereka semua punya cara cara masing yang buat Mamas suka"

Etdah, lagi lagi ane ketelen ucapan sendiri.

" Satu kata lagi nih? "

" Ehmm...he'emh...satu kata buat Mbak Kasih itu apa? "

Lagi lagi ane pasang mode mengingat ingat atas apa yang pernah ane laluin sama Mbak Kasih.

" Ehmm...harus ya? "

" Iya jawab aja mas "

" Lucu "

" Lho kok lucu mas? "

" Iya...dari pertama kenal dia sampe pacaran sama dia, emang dia lucu sih...kadang tingkahnya sama absurdnya, kadang ketawanya yang lepas juga bikin itu jadi lucu, trus memang dia sedikit cengeng sih...eh kadang kadang galak juga dink "

Putri langsung tersenyum mendengar penjelasan ane tersebut.

" Mamas lebih lancar ya...jelasin Mbak Kasih tadi dibandingin Mega "

Njirrr dah, ane bener bener nggak nyangka Putri bakal skak ucapan ane.

" Nggak juga ah...lagian kan tadi Dinda yang minta "

" Iya Mas...nggak apa apa kok, seenggak Putri juga jadi tau tentang hubungan Mamas sama mereka "

" Ah elah...itu aja pake dianalisis nda "

" Ya boleh kan? "

" Ya sih,...tapi kan nggak gitu juga nda "

"Trus kalo buat Dinda Putri...satu katanya apa mas?" Putri nanya kek gitu pake senyum manisnya lagi.

" Ehm...kayaknya manja kali ya "

"Isshh...tuh kan giliran Putri aja, kek gitu" Putri kembali memberikan pose yang beneran ane suka gemez ngeliatnya.

" Hehe...kok malah manyun gitu sih nda? "

" Abisnya...Mamas gitu sih "

" Ya udah aku ganti deh "

Putri ngelirik bentar ke arah pemandangan, trus balik lagi ngeliatin ane.

" Meskipun manja...kamu tuh beda nda, cerdas iya, teliti banget, cantik nggak bisa dibantah, mempesona apalagi itu, anggun juga bener, tapi tetep aja kan...anak na pak Baim itu...manja hehehe..."

"Wlee..."

Seperti yang udah ane duga, tingkahnya ntuh bakal keluar lagi dah hehe...

" Nda "

" Ya? "

" Udah jelas kan?...nggak perlu bahas masa lalu lagi ya "

" Hmmm "

" Kok jawabnya gitu? "

Putri ini minum es teh yang ada didepannya.


*sruupppttt*


" Mas "

" Iya nda? "

" Kalo Farida? "

Damn Cuk !!!!... semua kosakata yang tertumpuk di ujung lidah mendadak kelu dibuatnya. Kok Putri jadi tau sampe segitunya.
profile-picture
yusufchauza memberi reputasi
Diubah oleh chamelemon
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di