alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 95 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
OPERASI BESAR BESARAN


Senopati Rawiteja membaca situasi sekitar. Ada banyak sekali prajurit bersenjata lengkap mengepungnya. menyadari dirinya tersudut, Ia mencoba mencari cara lain agar selamat dari pengepungan. Diamatinya sekitar, mencari peluang untuk meloloskan diri. Namun pengepungan terlalu rapat. Apalagi sekarang Ia tidak memegang senjata.

Ki Subari mendapat kode dari kontaknya untuk menerobos barisannya. Dari sekian banyak pasukan Matahun yang mengepung, terdapat kontaknya yang selama ini Ia bayar untuk mendapatkan info di dalam Istana. Dari kontak itu Ia mendapat kode agar menerobosnya. Ki Subari mendekati Senopati, membisikkan kalau Ia dapat jalur kabur. Senopati Rawiteja mengangguk sambil memberikan intruksi.
Ki Subari menjauh bergabung dengan pasukannya.

"kalau saya menyerah, apa yang akan kamu lakukan kepada saya?" Tanya Senopati lantang kepada Jingga.
"Menyerahkan ke pengadilan Wilwatikta untuk dihukum." Jawab Jingga.
"Apakah kamu menjamin memperlakukanku dan pasukanku secara adil?" Senopati meminta jaminan.
"Saya Jamin dengan nyawaku," jawab Jingga lugas.
Senopati Rawiteja lega melihat sedikit peluang untuk lolos. Bila bertempur sekarang, Ia tidak yakin bisa selamat hidup hidup. Jalan terbaik baginya saat ini adalah menyerah.

Tapi diam diam menugaskan Ki Subari kabur untuk memerintah pasukannya memukul balik, mengirim utusan ke Ayahanda di wilwatikta. Bahkan kalau perlu istana ini dia ambil alih.

Mereka kemudian membuat drama. Ki Subari dan pasukannya seolah mau menyerang Senopati karena merasa ditindas selama ini dan tidak setuju dengan sikap Senopati Rawiteja yang akan menyerah. Namun dihalangi Ki Kalingga beserta pasukannya. Terjadi perkelahian tangan kosong antara Pasukan Ki Sudira dan Ki Subari, membuat yang mengepung terpana melihatnya. Disaat tidak siaga. Tiba tiba Pasukan Ki Subari berlari ke sisi pasukan Kepatihan yang mengepung. Sontak pasukan kepatihan itu kocar kacir mendapat terjangan. Senjata mereka mudah dirampas. namun tidak ada yang terluka. Pasukan Ki Subari melesat pergi keluar.

Senopati Rawiteja misuh misuh kearah Ki Subari yang kabur, "Dasar orang kerdil, tak tahu diuntung, penghianat!"
Pimpinan pasukan bertopeng yang tak lain adalah Jingga maju selangkah.
"Senopati, kalau kau benar menyerah, silahkan maju." Teriak Jingga, seolah tidak terpengaruh dengan kejadian kaburnya pasukan Ki Subari.
Senopati Rawiteja menarik nafas panjang, Ia menekan amarahnya. Tersenyum sambil mengangkat tangannya lebar lebar.
"Ayo tangkap saja,"
Jingga memberi hormat kemiliteran lalu mendekati Senopati untuk menangkap tangannya untuk diikat kebelakang.

Ternyata Senopati mencoba menjebak Jingga. Saat pergelangan tangan kirinya dipegang Jingga. Ia memutar tangannya balik memegang pergelangan tangan jingga lalu merapatkan dirinya denan memasukkan kaki kanannya menempel lutut Jingga untuk melakukan bantingan.
Sekuat tenaga Ia membungkuk sambil menarik turun tangan jingga. Ia yakin Jingga akan terbanting keras ketanah, mempermalukannya. Tapi Jingga tak kalah sigap. Tahu dirinya akan dibanting, Ia mencengkeram leher mendorongnya kedepan, sedang kaki kirinya dimasukkan ke selangkangan Senopati dan mengait kaki kanannya yang dijadikan titik tumpu bantingan. Seketika Senopati mengerang merasakan kepalanya mendidih. Tengkuknya panas sekali terkena pukulan Jingga. Segera Ia lepaskan kuncian tangan kanan Jingga.
"Ha ha ha maaf, sekedar menguji seberapa pantas kamu menangkapku,"
"Sudah main mainnya?" tanya Jingga dingin.
Senopati tidak menjawab. Jingga segera meringkus tangan Senopati Rawiteja kebelakang. Diikat erat. Pasukan bertopeng yang lain bergerak cepat dengan menangkap Ki Kalingga dan anak buahnya tanpa adanya perlawanan berarti. Kepala mereka ditutup kain hitam. Mereka langsung di bawa menuju penjara Kepatihan, menyusul para pengawal yang ditahan lebih dulu. Hanya Senopati Rawiteja yang diletakkan di ruang terpisah satu ruang beda lorong. Sehingga bila keluar masuk ruangan tidak akan bertemu.

Malam itu, penjagaan diserahkan kepada Group 1 dipimpin Lurah Pasus Sasongko didukung sepasukan Bekel Kepatihan. Tidak ada yang boleh mendatangi maupun menemui para tahanan.

***

Jingga menemui Patih Matahun yang berjaga di Kepatihan bersama pasukannya. Ia terlihat sibuk mengatur penjagaan. Seluruh area kepatihan dan istana dijaga ketat. Tidak ada yang boleh keluar masuk tanpa lapor ke Patih Matahun.
Jingga menghormat.
"Lapor Patih, Hamba lihat tadi ada sekelompok prajurit kepatihan memberi jalan saat Pasukan Ki Subari melarikan diri."
"Benar begitu?"
"Benar Patih,"
"Ki Bekel, siapa yang berjaga di depan gerbang?"
"Pasukan Lurah Buntoro Patih,"
"Tangkap sekarang, bawa kesini!" Patih Matahun langsung murka, Ia memerintahkan pasukannya bergerak menangkap mereka yang meloloskan pasukan Ki Subari.

Tak beberapa lama di salah satu sudut komplek Kepatihan, terdengar suara senjata beradu dan teriakan teriakan permusuhan. Ada tujuh prajurit dan seorang lurah prajurit kepatihan dikepung oleh pasukan Inti Kepatihan. Yang dikepung terlihat kalap dan berteriak teriak seperti orang gila. Terdorong ketakutannya akan ditangkap. Mereka menyerang pengepungnya membabi buta. Namun kemampuan mereka tidak sebanding dengan kekuatan pasukan inti Kepatihan. Sekali gebrak saja sudah berjatuhan satu demi satu pasukan penghianat itu. Tak butuh waktu lama, mereka sudah tertangkap dengan luka luka cukup parah. Mereka langsung diseret dibawa ke halaman depan kepatihan. Tubuh mereka diikat di balok balok kayu menunggu hukuman.

***

Jingga menunggang kuda keluar komplek kepatihan menuju Alun alun melanjutkan rencananya. Disana sudah menunggu perwakilan kedua pasukan yang sedang berlatih. Pasukan caraka dan satu group pasukan Jingga. Sepertinya perwakilan dari Senopati Rawiteja belum tahu tentang kejadian di istana barusan. Mereka terlihat santai dan bersemangat untuk semalaman berjaga menjadi saksi latihan gabungan ini.

Jingga memerintahkan para caraka menjalankan tugasnya. Ada 30 caraka yang berangkat. Tugas mereka mengirim pesan ke Pasukan Kepatihan di garis depan lalu ke Pasukan Senopati Rawiteja. Dan ini tugas terakhir.
Posko Komando jadi sepi. Didalam tenda Jingga ditemani 4 orang utusan Patih dan Senopati. Jingga titip posko kepada mereka, Ia turun menemui pasukannya di samping posko. Ia sengaja tidak menangkap orangnya Senopati, karena Ia yakin diluar ada telik sandi yang ditugaskan mengawasi tempat ini di kegelapan. Ia memilih berhati hati berkomunikasi dengan rekannya. Apalagi semuanya sudah Ia atur sedemikian rupa. Kecuali kalau ada kesalahan sedikit. Bisa bubar semua rencananya.

Jingga langsung keluar tenda mendengar bunyi kaki kuda berlari mendekat. Mengapa caraka cepat kembali? Apa ada masalah?
Jantung Jingga berdebar keras. Ia takut skenarionya mengalami kegagalan. Bunyi lari kuda semakin mendekat. Turunlah dua orang dari atasnya.
"Lapor, ..." Ternyata yang datang adalah Tumar dan Rase. Jingga segera menahan ucapan mereka dengan gerakan kecil melarang Tumar dan Rase melanjutkan ucapannya. Mereka mengerti, tidak melanjutkan kalimatnya.
"Ayo, antarkan saya keliling melihat lihat mereka," Jingga berpamitan ke prajurit yang ditugaskan berjaga di Posko Komando kalau Ia mau keliling dulu.
"Kalau kalian sudah selesai, bisa langsung ke Kepatihan, finisnya disana. Nanti saya langsung kesana." Kata Jingga kepada 4 prajurit utusan yang berjaga di dalam tenda komando. Jingga lalu menemui Ki Lurah pasus pimpinannya.
"Temani mereka ke Kepatihan, sampai didalam, tangkap utusan Senopati," bisik Jingga.
"Kalau ke Kepatihan, bisa bareng pasukanku!" teriak Jingga dari luar kepada keempat prajurit yang masih didalam.
"Siap!" Jawab mereka.

Jingga menunggang kuda keluar alun alun bersama Tumar dan Rase.
"Bagaimana?" Tanya Jingga.
"Ki Subari kami kepung di dekat Kasatriyan Jalapati."
"Berapa orang?"
"Tinggal Ki Subari dan dua lurahnya. Yang dua sudah kami tangkap di jalan."
Mereka sampai ditempat pengepungan. Lokasinya di kebun pisang, Lokasi yang ideal untuk bertahan dari pengepungan.
Jingga menemui Ki Lurah Sapta pimpinan Group Pasus yang ditugaskan melakukan penangkapan orang yang lari dari istana.
"Mereka dimana?"
"Disana Ki Bekel," Ki Lurah Sapta menunjuk ketengah kebun pisang, lebat dan gelap.
Jingga mengikuti arah yang ditunjuk. Benar, meski bersembunyi dalam gelapnya malam dan tertutup rimbunnya kebun pisang. Jingga masih bisa melihat mereka.
"Minta panah,"
Salah seorang prajurit pengejar menyerahkan busur dan anak panah sekantong kepada Jingga.
"Kalian bersiap!"
Jingga menarik kekang busur panah. Mengarahkan ke rimbunan pohon pisang. Sesaat kemudian melesat anak panah dengan cepat.
"Uhg"
Melesat lagi panah kedua.
"Akh!"
Disusul panah ketiga.
"Arrg!"
"Tangkap!"
Cepat pasukan Ki Lurah Sapta menerobos kebun pisang. Mengejar sumber bunyi tadi. Tak ada perlawanan. Dengan beberapa pukulan melumpuhkan. Ketiga orang itu sudah pingsan. Ketiganya terkena panah. Ki Subari terkena pundaknya, sedang kedua lurahnya terkena punggungnya. Mereka terkena saat berlari menjauh mengetahui Ki Subari terkena panah. Namun tak cukup untuk lolos dari kejaran panah Jingga.
"Bawa mereka ke penjara Kepatihan!"
"Siap Ki Bekel!"
Jingga meninggalkan pasukan Ki Lurah Sapta, diiringi Tumar dan Rase. Mereka menuju Kastriyan Jalapati. Tempat yang harus segera di kuasai.

***

Memang beberapa waktu lalu Patih Matahun sudah menghubungi Ki Bekel Sanjaya, bekel rumah tangga kasatriyan Jalapati. Mereka sudah menjalin komunikasi intensif. Patih Matahun Menugaskan Ki Bekel Sudira bersama pasukannya menemani Pasukan Ki Sanjaya berjaga di Kasatriyan, meski hanya di luar area Kasatriyan. Tadi setelah jamuan makan malam, Ki bekel Sudira menemui Ki Bekel Sanjaya, mengabarkan kalau sekarang harus siap siaga menghadapi huru hara.
"Memangnya ada apa?"
"Senopati Rawiteja ditangkap Wilwatikta barusan," bisik Ki Bekel Sudira hati hati.
Ki Bekel Sanjaya terkejut. Sesaat kemudian wajahnya gembira, lalu tegang.
"Itu info hanya untuk dirimu saja, jangan sampai ketahuan orang orangnya Senopati Rawiteja."
"Siap!"
"Ini ada surat perintah dari utusan Mahapatih Gajah Manguri," Ki Bekel Sudira menyerahkan surat dari Jingga untuk Ki Bekel Sanjaya.
Dibawah cahaya obor, Ki Sanjaya membaca perintah Jingga. Dibawahnya tertanda stempel Mahapatih.
"Siap!" Ki Bekel Sanjaya langsung tegak sempurna. Menyatakan kesiapannya melaksanakan perintah. Naluri keprajuritannya bangkit. Ia langsung masuk membunyikan kentongan dengan isyarat kumpul di lapangan depan. Sementara Pasukan Ki Bekel Sudira berjaga diluar gerbang Kasatriyan Jalapati.

Tak butuh waktu lama seluruh prajurit yang berada di kasatriyan berbondong bondong mengambil barisan. Yang tidak bertugas datang ke lapangan dengan pakaian seadanya. Ki Bekel naik ke undak undak menunggu seluruh prajurit menempati barisannya. Setelah pasukan disiapkan, Ki Bekel memanggil pimpinan masing masing regu kedepan. Dibawah cahaya obor, Ki Bekel Sanjaya menunjukkan surat perintah yang bercap Mahapatih Gajah Manguri. Masing masing memeriksa dan mengangguk menyatakan itu surat asli. Mereka lalu kembali ke barisan.
Dengan suara lantang Ki Bekel membuka salam dengan selogan.
"Jayalah Majapahit Raya!"
Langsung diikuti seluruh prajurit yang hadir.
"Jayalah Prabu Wikramawardhana!"
"Jayalah Prabu Wikramawardhana!"
"Malam ini, saya mendapat perintah langsung dari utusan Mahapatih Gajah Manguri.
Memerintahkan:
1. Seluruh Prajurit Kesatuan Jalapati Matahun. Diperintahkan masuk ruang tahanan dengan tertib dan tenang. Yang menentang akan dihukum sebagai desertir.
2. Senjata yang terlanjur dibawa. harap dikumpulkan untuk disimpan.
3. Pengamanan Kasatriyan ditugaskan kepada Bekel Sanjaya dan prajurit yang ditunjuknya.
4. Harap tenang, menunggu perintah selanjutnya."

Seketika suasana menjadi gaduh.

"Cepat! Laksanakan! Dimulai dari barikan kanan sendiri! Diikuti sampingnya!" Ki Bekel tidak membiarkan kegaduhan berlanjut. Para Prajurit itu langsung berjalan mengular menuju gedung tahanan yang tak jauh dari lapangan depan. Yang membawa senjata, diletakkan di pinggir lapangan. Ada beberapa yang sepertinya ragu, tapi oleh rekannya langsung ditarik untuk menjaga kekompakan. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah memenuhi gedung tahanan. Ki Bekel lalu memanggil beberapa prajurit keluar tahanan untuk menjadi penjaga Kasatriyan.

Ki Bekel Sanjaya menemui Ki Bekel Sudira di luar, melaporkan kalau tugas dari Mahapatih sudah dilaksanakan.
Ki Pastika lalu memberi kode ke dua kereta barang untuk masuk Kasatriyan.
"Dua kereta itu berisi makan malam untuk kalian semua, pemberian Bhree Matahun. Segera bagikan kepada seluruh prajurit di penjara."
Ki Bekel Sanjaya bingung. Ditahan tapi diberi banyak makanan.
"Jangan takut, makanan itu tidak beracun. Bukan sifat Pimpinan kami seperti itu."
"Maaf, kami percaya Bhree Matahun raja junjungan kami amat perhatian. Kami hanya tidak menyangka saja."
"Sudah segera bawa masuk, kalau tidak percaya, periksalah."
"Baik,"
Dua kereta barang berisi makanan dan minuman dibawa masuk mendekati Gedung tahanan. Ki Bekel Sanjaya diam diam memeriksa, apakah benar makanan ini "bersih", sebagai prajurit yang berpengalaman. Ia bisa membedakan makanan beracun atau tidak. Betapa leganya Ia mengetahui semua makanan yang diperiksanya "bersih".

Malam itu, para prajurit di Kasatriyan mendapat dua kejutan. Kejutan ditahan beramai ramai di kasatriyan sendiri dan kejutan mendapat makanan minuman melimpah. Setelah menikmati makan, mereka sudah tenang, dan menganggap kejadian ini hanya kerjaan pimpinan mereka yang iseng, ingin memberi kejutan kepada prajuritnya.

Diluar Kasatriyan, Ki Bekel Sudira bersama pasukannya berjaga, takut sisa sisa prajurit yang loyal ke Senopati muncul dan melakukan penyerangan mendadak. Setiap sudut gelap mereka amati. Untunglah tidak terjadi pergolakan saat pengarahan prajurit Senopati ke penjara. Ki Bekel menarik nafas lega tanda bersyukur.

Suasana tiba tiba tegang ketiga terlihat di kejauhan ada tiga orang menunggang kuda menuju tempatya. Semua prajurit bersiaga penuh. Pedang dan tombak terhunus siap siap menghalau. Saat sudah dekat, ternyata yang datang adalah Ki Bekel Jingga, utusan Mahapatih dikawal Tumar dan Rase.
"Bagaimana situasi didalam?" Tanya Jingga kepada Ki Bekel Sudira.
"Aman terkendali,"
"Tidak ada kendala?"
"Tidak ada,"
"Bisa diantarkan ke Ki bekel Sanjaya?"
"Siap!" Ki Bekel Sudira langsung berjalan masuk Kasatriyan, menemui pengawal dalam dan menyampaikan utusan Wilwatikta datang. Dengan berlari Ki Sanjaya menemui Jingga.
"Kenalkan saya Jingga, utusan Mahapatih Gajah Manguri." Jingga mengenalkan diri dan menunjukkan plakat utusan.
Ki Sanjaya memberi hormat, Jingga hormat balik.
"Semua terkendali dan aman?"
"Siap, aman terkendali,"
"Ada keluhan?"
"Tidak,"
"Baik, tetap waspada dan bekerja sama dengan Ki bekel Sudira,"
"Siap!"
Jingga berkeliling diantarkan Ki Bekel Sanjaya melihat lihat para tahanan dari luar gedung. Beberapa saran Jingga untuk keamanan diberikan kepada Ki Bekel Sanjaya. Setelah diyakini semua berjalan sesuai rencana, Jingga keluar Kasatriyan kembali ke Kepatihan menunggu langkah selanjutnya.


***
HARI - H
SETELAH MATAHARI TENGGELAM

KELOMPOK PRO SENOPATI

Jingga sengaja mengatur Posisi kelompok pasukan Senopati Rawiteja yang terlibat penyerangan dan yang loyal ke Senopati Rawiteja ke tempat yang agak jauh dari kota. Ada 6 Kelompok inti yang ikut penyerangan, mereka disebar di pos pos dekat hutan Matahun diselatan. Sedang yang simpatisan tapi tidak ikut penyerangan ada 9 Kelompok atau sekitar 270 Prajurit. Mereka disebar di hutan selatan dan timur Matahun. Di pos pos mereka masing masing pos telah disediakan peti peti kayu berisi Tenda, makanan, minuman dan arak untuk seluruh pasukan.
Mengetahui mendapat jatah ransum yang lebih dari cukup. Mereka bergembira. Malam itu mereka berpesta. Berkumpul mengelilingi api unggun sambil makan minum dan menari sesukanya. Teriakan teriakan salut untuk Senopati Rawiteja bersahutan terdengar kala cawan arak hendak ditenggak.

Disaat sedang berpesta, tiba tiba datang seorang caraka menunggang kuda dengan cepat. Ia seperti ketakutan.
Para prajurit bangkit untuk menemuinya.
"Ada pesan apa?"
"Ada pesan bahaya, Matahun diserang pasukan tartar. Sekarang Bhree Matahun dibawa ke Cina!"
"Jangan bercanda!"
"Benar, sekarang terjadi huru hara di Matahun."
"Lalu bagaimana keadaan Senopati kami?"
"Belum ada kabar, situasi masih genting, Matahun jadi lautan api!"
"Lalu apa perintah untuk kami?"
"Tak ada," caraka itu langsung pergi memacu kudanya kembali.
Para Prajurit berkerumun ditempat caraka itu tadi.
"Ada pesan apa tadi?"
"Tidak jelas,"
"Katanya Matahun diserang pasukan Tartar, Bhree Matahun, Senopati dan Patih ditangkap, Matahun jadi lautan api,"
"Ha ha ha, itu sebagian dari latihan. Coba lihat langit kota Matahun, apakah terbakar? Kalau terbakar akan terang benderang berwarna merah." Seorang prajurit menjelaskan sambil menunjuk kota Matahun yang berkelip kelip indah dari perbukitan tempat mereka istirahat.
"Jadi tadi itu apa?"
"Itu berita bohong. Jebakan."
"Lalu kita harus bagaimana?"
"Tadi ada perintah tidak?"
"Tidak ada, hanya caraka menyampaikan kabar itu,"
"Kalau tidak ada perintah, ya kita tetap disini."
"Sial, hampir saja kita terjebak, lagian mana ada pasukan Tartar sekarang. Kalau ada, sebelum masuk ke Matahun sudah tersebar beritanya ke mana mana."
"Ayo lanjut!"

Namun tidak semua kelompok Prajurit Senopati punya nalar yang sama. Beberapa kelompok dari mereka panik dan hendak kembali ke kota Matahun. Melihat kondisi ini, caraka yang tadi mengirim kabar kemudian sembunyi mengamati. Kembali menemui mereka.
"Tenang, tenang, sebetulnya saya tidak boleh memberitahu kalian, tapi saya tidak tega kalau kalian gagal di latihan ini, berita tadi itu sebagian dari latihan. Selamat malam."
Yang dikabari langsung misuh misuh merasa dikerjai.

Beberapa saat kemudian datang caraka mengabarkan, "Pasukan Tartar sedang menuju kemari. Patih dan Bhree Matahun Takluk ditangan Tartar, sedang Senopati menyatakan bekerja sama dengan Tartar, seperti yang dilakukan Sang Rama Wijaya."
"Lalu apa perintah untuk kami?"
Caraka menyerahkan pesan dalam bumbung bambu, Ia langsung pergi.
Pimpinan Parjurit membaca pesan didalamnya. Ini perintah dari Senopati. Mereka diminta menyerah ke pasukan Tartar.
"Ada perintah Senopati, kita menyerah kepada Pasukan Tartar."
"Siap! Ha ha ha."
Pesta kembali dilanjutkan.

Lelah berlari, kekenyangan makan enak dan mabuk arak. Membuat malam datang lebih cepat dari biasanya. Mereka lupa bahwa malam itu sedang dalam rangka latihan. Sebagian dari mereka mengingatkan jangan mabuk. Ini jebakan. Namun yang tidak tahan akan aroma arak yang menggoda menjawab, "Ah biarlah kelompok yang lain. Paling juga hadiahnya disimpan di Kasatryan. Kita disini menikmati hadiah dari Senopati Kita!"
"Betul, ini bukan perang. Senopati dan para bekel kita saja berpesta, masak kita tidak nikmati juga?"


Sementara Pasukan Senopati Rawiteja yang setia kepada Bhree Matahun ada 11 kelompok sekitar 330 Prajurit. Tanpa mereka sadari dengan mengikuti petunjuk caraka, mereka bergerak ke sisi barat Matahun, di lereng gunung Argopuro yang berbatasan dengan Kadipaten Lasem. Di pos pos mereka mendapat jatah sama. Tenda, makanan, minuman juga arak.

***


BERSAMBUNG
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
profile picture
Aanaja
lanjutttt
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di