alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
DI KOTA MATAHUN


Tanpa dikawal, Raden Sidatapa dan Jingga berkuda beriringan. Mereka memacu menuju kediaman Mahapatih Gajah Lembana. Setelah melewati beberapa pemeriksaan. Akhirnya mereka berada di ruang tunggu. Menunggu giliran menghadap.
"Bagaimana kabarmu Jingga? Kamu semakin hari semakin terlihat makin matang," Raden Sidatapa menanyakan kabar Jingga untu membunuh sepi.
"Baik Raden, mungkin karena sering berjemur jadi terlihat mateng," Jingga menjawab bercanda. Raden SIdatapa tertawa mendengarnya.
"Bagaimana misi misimu sebelum ini?"
"Biasa saja Raden, tidak ada cerita yang membanggakan,"
"Kapan kapan kamu mampir kerumah, mau saya kenalkan ke anakku," Raden Sidatapa tertawa kembali melihat ekspresi Jingga yang kacau mendengar undangannya.
"Kapan hari Lencari, Savitri dan Lindri datang bermain kerumah."
Dug!

Jingga tersentak. Nama Lencari membuatnya seperti tersedot lorong waktu. Kembali ke masa masa silam yang indah bersamanya. Berpindah ke masa masa cobaan dan akhirnya ke masa masa pencarian yang berakhir pahit. Didalam dadanya bergejolak seperti kawah Ijen yang mendidih. siap siap setiap saat akan menumpahkan lahar panasnya.
Jingga menarik nafas dalam dalam menenangkan gejolak batinnya. Air mata yang mengalir menunjukkan itu. Segera energi kawah itu Ia salurkan memperkuat tekad untuk menjadi jaya. Saat berada diatas, Lencari akan mudah melihatnya. Orang orang yang memisahkan dirinya dengan Lencari akan menyesal. Kedua tangannya Ia kepalkan, membulatkan tekad. Memfokuskan tujuan.

Raden Sidatapa yang bersamanya sedikit kebingungan.
"Kamu kenapa? Masih terbayang tragedi di bukit Matahun?" Raden Sidatapa mengira Jingga masih trauma dengan kejadian yang barusan menimpanya.
Jingga mengangguk. Menutupi perasaannya.
Seorang penjaga datang menemui Mereka.
"Ayo, sekarang waktunya berjuang," Raden Sidatapa bangkit dari duduknya, diikuti Jingga dibelakang. Sepanjang perjalanan menuju tempat Mahapatih Gajah Lembana, mereka diam dengan pikiran masing masing.
"Kamu tunggu dulu disitu," Raden Sidatapa menunjuk bale menghadap taman.
"Siap," Jingga berjalan menuju bale yang ditunjuk.
Raden Sidatapa berjalan memasuki sebuah ruangan besar. Disana disambut dengan pelukan hangat dari Mahapatih Gajah Lembana. Kedekatan mereka semasa Gajah Enggon menjabat menjadi Patih Mangkubumi dilanjutkan Gajah Menguri. Raden Sidatapa adalah pengawalnya selama satu windu. Sebelum kemudian naik jabatan dan memimpin pasukan sendiri dalam menjalankan berbagai misi Pemerintah.

Sepeninggal Gajah Mada yang diberhentikan Prabu Hayam Wuruk setelah kasus Bubat. Jabatan yang ditinggalkan diganti empat Mahamantri Agung dipimpin Punala Tanding. Hal ini tak berlangsung lama karena tidak memuaskan Prabu Hayam Wuruk yang terbiasa dengan cara kerja Gajah Mada. Kemudian mereka digantikan dua orang Mentri, yaitu Gajah Enggon dan Gajah Manguri. Setelah beberapa lama akhirnya Gajah Enggon diangkat jadi Patih Mangkubumi. Gajah Enggon menjabat selama 27 tahun sampai akhirnya meninggal dunia Pada tahun 1473 Caka atau 1394 Masehi, Gajah Manguri diangkat Oleh Prabu Wikramawardhana menjadi Patih Mangkubumi sebagai gantinya. Namun hanya mampu menjabat selama 4 tahun, Beliaupun wafat pada tahun 1477 Caka atau 1398 Masehi. Sekarang diteruskan oleh Gajah Lembana.

"Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali," sapa Patih Gajah Lembana gembira. Ia senang bertemu lagi dengan pengawal kepercayaannya. Ia mengenal sifat Raden Sidatapa, Raden Sidatapa bukan tipe prajurit penjilat. Bila bukan karena tugas, Raden Sidatapa tidak akan pernah mendekati para pejabat diatas. Ia lebih senang bertemu dengan prajurit prajurit muda dibawahnya.

"Dua windu lebih tepatnya Ndoro," jawab Raden Sidatapa menjelaskan.
"Apa ada hal yang perlu kamu sampaikan kepadaku?"
"Ampun Ndoro, hamba memohon Ndoro memeriksa dokumen telik sandi ini," Raden Sidatapa menyerahkan kantong kain berisi seikat daun lontar. Laporan kerja Jingga.
"Isinya apa?"
"Mengenai situasi yang terjadi di hutan Matahun."
"Bukankan kemarin sudah diselesaikan oleh Senopati Rawiteja?"
"Benar, namun ini adalah sisi lain penyelesaian kasus tersebut."
Patih Gajah Lembana membaca lembar demi lembar laporan pengamatan pasukan Jingga. Serta analisa situasi yang terjadi. Wajah tua Patih Gajah Lembana terlihat menegang menahan amarah.
"Benar benar keterlaluan!" Patih Gajah Lembana menggebrak meja saking marahnya.
"Mengapa tidak Rakryan Aji Sora sendiri yang menyampaikan?"
"Karena hal ini menyangkut kesatuan lain, Rakryan Aji Sora berhati hati agar tidak terjadi adu domba antara Jala Pati dengan Jala Yudha. Beliau memintaku menyampaikan secara informal kepada Ndoro."
"Menurutmu, apakah laporan ini bisa dipercaya?"
"Melihat siapa yang membuat, hamba percaya."
"Siapa itu Jingga?"
"Salah seorang prajurit pasus Jala Yudha. Pemuda yang berbakat," Raden Sidatapa menceritakan siapa jati diri Jingga secara singkat.
"Cukup menarik," komentar Patih Gajah Lembana, "Apa Ia ikut kesini?"
"Ikut Ndoro, Dia hamba minta menunggu di bale depan."
"Panggil kesini, aku ingin mendengar dari dirinya langsung."
Jingga menghormat Patih Gajah Lembana. Berdiri sikap sempurna. Menunggu perintah.
"Siapa namamu?"
"Jingga,"
"Jabatanmu?"
"Bekel Pasus Jala Yudha."
"Berasal darimana? Keturunan siapa?"
"Dari Blambangan, putra kedua Kebo Marcuet."
"Bukankah berarti kamu menyandang gelar Pangeran? Kenapa tidak kamu pakai?"
"Hamba seorang prajurit, gelar hamba adalah jabatan hamba di keprajuritan.
"Jelaskan apa yang terjadi dengan gerombolan begal di hutan Matahun itu?"
Jingga lugas menjelaskan kronologi, kondisi dan analisa mengenai gerombolan begal di perbukitan hutan Matahun. Patih Gajah Lembana dan Raden Sidatapa diam mendengarkan.
"Apa yang kamu inginkan dengan data ini?"
"Hamba menginginkan akses lebih luas untuk melakukan penyidikan. Untuk itu hamba meminta surat tugas dari Mahapatih."
"Apakah tidak cukup dengan surat tugasmu yang sekarang?"
"Surat Tugas yang kami miliki tidak bisa menyelidiki apalagi melakukan penangkapan pada kalangan pejabat dan prajurit yang terlibat."
"Dari analisamu, penyidikan ini cukup luas. Seberapa besar kekuatan yang harus dikerahkan untuk menyelesaikannya?"
"Untuk penyidikan, tim hamba masih bisa menyelesaikan, namun untuk penangkapan bila dugaan kami terbukti, butuh sekitar seribu prajurit."
"Untuk apa prajurit sebanyak itu? apakah akan kamu tangkap semua?"
"Pasukan segelar sepapan itu hanya untuk menunjukkan kepada rakyat kalau Wilwatikta berada jauh diatas para pengacau itu."
"Kamu tahu apa resikonya?"
"Tahu Ndoro Patih,"
"Kamu tahu, praktek yang seperti kamu duga itu terjadi, bisa terjadi dimana saja, termasuk didalam pasukanmu sendiri?"
"Tahu Ndoro, tapi yang ini terlalu banyak mengorbankan prajurit yang tak bedosa dan rakyat jelata. Tak bisa dibiarkan."
"Kamu kenal dengan Senopati,"
"Tidak kenal,"
"Ya sudah kamu diluar dulu, saya ada urusan pribadi dengan Raden Sidatapa,"
"Siap laksanakan," Jingga menghormat beringsut keluar. Kembali menunggu di Bale tadi.

"Bagaimana menurutmu?"
"Maksud Ndoro apakah akan menimbulkan reaksi dari mereka?" Raden Sidatapa balik bertanya. Yang dimaksud dengan mereka adalah sekelompok pejabat yang membentuk jaringan sendiri dalam mengincar kekuasaan. Jaringan ini sudah merongrong para pejabat yang lemah dan membelit hampir semua instansi pemerintah. Termasuk didalam keprajuritan.
"Sudah pasti mereka bereaksi, yang aku tanya, mampukah anak itu melakukan tugasnya?"
"Kalau dari latar belakangnya, anak ini bersih dari permainan itu. Ia tidak terikat kelompok kelompok yang ada. Karirnya Ia jalani dari bawah. Kemampuan olah raga dan olah pikirnya teruji. Hamba yakin anak ini bisa banyak membantu dalam menegakkan aturan Majapahit. Masalah tekadnya, tugas ini Ia sendiri yang mendesak diberi tugas. Jadi bukan ditugaskan."
"Bagaimana kalau Ia menyalahgunakan wewenang yang aku berikan?"
"Dengan keyakinanku, nyawaku jadi jaminannya." Raden Sidatapa mantap menjaminkan jiwanya.
"Kalau keyakinanmu seperti itu, akan aku berikan mandatku sekarang,"
"Terimakasih Mahapatih, anak itu akan aku jaga sebaik baiknya agar tidak mengecewakan."
Jingga dipanggil masuk.
"Kamu tahu resikonya bila sudah menerima mandatku?"
"Tahu Mahapatih, Siap!"
Mahapatih Gajah Lembana menyerahkan plakat emas. Plakat itu untuk digunakan bila dalam keadaan terpaksa.
"Bila selesai, kembalikan secepatnya."
"Siap Mahapatih!"
....

Dalam perjalanan kembali ke Markas Pasus Jala Yudha, Raden Sidatapa banyak bercerita lika liku selama Ia meniti karir di keprajuritan. Setelah sekian lama keluar dari Keprajuritan, baru kali ini darahnya berdesir penuh semangat. Serasa kembali ke masa aktif dulu lagi.
"Kok bisa begitu Ndoro?"
"Karena secara tidak langsung aku ikut dalam operasimu sekarang ha ha ha." Raden Sidatapa tertawa lepas.
"Tadi aku menjaminkan nyawaku untuk plakat Mahapatih itu, jadi jangan sia siakan kepercayaanku kepadamu."
"Terimakasih atas dukungannya Ndoro," Jingga terkejut sampai seperti itu dukungan Raden Sidatapa.
"Tidak usah sungkan, asal kamu berbuat yang terbaik, itu sudah cukup bagiku. Tidak usah membebani diri dengan balas budi. Aku hanya ingin berbakti pada bangsa ini disisa sisa usiaku."
Dari atas kuda, Jingga melakukan penghormatan dalam kepada Raden Sidatapa. Yang diberi hormat hanya melambaikan tangan menolak.
"Sudah, aku belok disini, kapan kapan mampir kerumah. Itu rumahku."
"Baik Raden."
Jingga berhenti menunggu Raden Sidatapa pergi sambil terus menunduk memberi penghormatan sampai menghilang masuk gerbang.

***

Jingga langsung menghadap Rakryan Aji Sora. Ia menyampaikan kalau sudah mendapat mandat dari Mahapatih. Rakryan Aji Sora gembira sekaligus khawatir. Gembira, karena jarang jarang Mahapatih memberikan mandat langsung. Khawatir karena beratnya tugas yang harus dilaksanakan Jingga berikut resiko bila gagal.
"Saya berjanji melaksanakan tugas ini sebaik baiknya. Tidak akan menjatuhkan martabat kesatuan dan Mahapatih."
Rakryan Aji Sora menepuk pundak Jingga memberi semangat dan dukungan.
"Apa yang kamu butuhkan sampaikan segera. Tidak usah menunggu perintah dariku, karena sejak menerima mandat Mahapatih. Hanya Mahapatih saja yang berhak memerintahmu."
"Siap!"
.....

Kembali ke barak, Jingga menemui Tumar dan Tani agar bersiap kembali ke Matahun malam nanti. Sambil bersiap Ia berharap bertemu Ki Genter untuk diajak ikut dalam misinya. Namun setelah bertanya kemana perginya Ki Genter, rekan rekan yang lain menjawab kalau Ki Genter ikut misi ke Barat.

Setelah semua logistik dan data yang diperlukan siap. Mereka kembali ke Matahun. Tak ada pelepasan atau upacara apapun. Karena ini misi rahasia dan bukan lagi wilayah pasus Jala Yudha. Mumpung masih terang, mereka mampir ke pasar, belanja perabotan dan barang barang pesanan. Setelah dirasa cukup, mereka melanjutkan perjalanan. Malam itu mereka menembus malam memburu waktu kembali ke Matahun. Beberapa pos keamanan mereka lewati setelah menunjukkan identitas mereka sebagai prajurit.

Sampai di kontrakan, suasana sepi, sepertinya pada pergi keliling kampung menjajakan barang. Jingga mengantarkan barang barang pesanan tetangga. Sekaligus berpamitan akan melanjutkan berjualan di kota Matahun.
Selepas siang hari, semuanya sudah berkumpul. Jingga menyampaikan sore ini akan bergerak ke Kota Matahun. Tanpa banyak komentar, mereka menyiapkan diri. Barang barang dimasukkan gerobak. Beberapa tetangga datang melihat, membuat pembicaraan tidak bisa bebas. Anak anak gembira diberi berbagai mainan yang dijual. Yang sedikit besar diberi celengan keramik, bentuknya menyerupai kepala dengan pipi bulat dan bibir tebal. (Artefak itu sekarang diyakini sebagai wajah Gajah Mada).

Beriringan mereka melalui jalan ke utara yang membelah hutan. Beberapa hari lalu daerah ini masih ditakuti para pelintas karena terkenal dengan begal dermawannya.
"Bagaimana acara pestanya semalam?"
"Ya begitulah, orang desa terpaksa bergembira ditengah duka cita kehilangan sanak keluarganya."
"Apa mereka sudah kembali?"
"Sepertinya belum, kata mereka menunggu sampai situasi pulih."
Tidak semua Prajurit pimpinan Senopati Rawiteja berperilaku sadis. Beberapa dari mereka sikapnya baik terhadap penduduk sekitar. Untuk itu Jingga akan lebih hati hati memilah siapa yang bersalah dan siapa yang terpaksa.

Menjelang pagi, rombongan memasuki desa pertama selepas hutan. Tak banyak orang orang keluar rumah. Hanya ayam dan berberapa hewan ternak terlihat dijalanan mencari makan. Mereka tengok kanan kiri mencari kalau ada kedai yang sudah buka. Selain untuk makan, kedai juga menjadi tempat mencari informasi yang mudah.

Ternyata kedai kedai belum ada yang buka. Terpaksa mereka mempercepat perjalanan. Langsung menuju Kota Matahun di pantai utara.

Matahun adalah salah satu dari 11 kerajaan bawahan Majapahit. Matahun dahulu dipimpin Rajasa Wardhana. Selain menjadi Bhre Matahun, Beliau adalah Pimpinan armada laut yang berada di Pelabuhan lasem, di teluk Regol dan Kairingan. Juga menjadi Syahbandar pelabuhan dagang di Lasem. Sedang Lasem sendiri dipimpin istriya, Duhitendu Dewi, yang merupakan cucu Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Jadi meski terdiri dari dua kerajaan bawahan Majapahit. Dalam prakteknya kala itu kedua kerajaan dikendalikan dalam satu payung. Masa itu Matahun sedang pada puncak kejayaannya. Aman, tentram, makmur. Berkembangnya pelabuhan Lasem meningkatkan perdagangan dari pedalaman ke luar melalui pelabuhan laut itu. Namun masa itu telah berlalu seiring dengan berpulangnya suami istri tersebut. Pada tahun 1382 M Duhitendu Dewi meninggal, setahun kemudian disusul suaminya Rajasa Wardhana.

Sepeninggal Duhitendu Dewi, jabatan Bhre Lasem digantikan Kusuma Wardhani, permaisuri Raja sekarang, Wikrama Wardhana. Di satu sisi, Bhre Wirabhumi-Raja Istana Timur-, Setelah naik tahta di Istana timur pada tahun 1398M langsung mengangkat istrinya, Negara Wardhani menjadi Bhre Lasem dengan alasan, kalau Lasem itu wilayah kekuasaan Duhitendu Dewi, yang tak lain adalah ibu dari Negara Wardhani. Kondisi ini membuat Lasem dan Matahun mengalami kemerosotan. Perpecahan para bangsawan membuat kondisi masyarakat menjadi bingung dan akhirnya jalan sendiri. Posisi Bhre Matahun diisi oleh putri Negara Wardhani. Perkembangan Matahun menjadi stagnan bahkan menurun. Bhre Matahun II tidak secakap kakeknya. Ia menjabat karena keturunan, bukan kemampuan.

Pada kondisi seperti ini Jingga datang ke Matahun. Mereka beristirahat di kedai dekat pasar besar Matahun. Sambil mengisi perut, sedikit sedikit mendengar obrolan orang orang membahas situasi Matahun. Mereka membahas akan ada keramaian nanti malam di lapangan depan istana Matahun. Pesta sambutan kemenangan pasuka Jala Pati menumpas kelompok begal yang tidak hanya meresahkan Matahun, tapi meresahkan daerah daerah lain sampai Wilwatikta. Orang orang menanggapinya dengan gembira. Sudah lama Matahun kehilangan sosok prajurit gagah berani seperti Bhre Matahun I, Rajasa Wardhana. Mereka berharap banyak kepada Senopati Rawiteja. Untuk mengembalikan kejayaan Matahun.

Beberapa kali keliling sekitar pasar, akhirnya mereka mendapatkan kontrakan rumah. Lokasinya cukup strategis. Berada dekat pasar, rumahnya sederhana dengan halaman yang cukup luas. Lingkungan dekat pasar cocok untuk penyamaran mereka. Masyarakatnya biasanya tidak begitu kaget akan kehadiran orang baru. Karena memang aktifitas pasar melibatkan banyak orang, tidak hanya penduduk setempat. Orang orang yang tinggal dekat pasar berasal dari berbagai daerah bahkan manca negara. Sedangkan halaman yang luas cukup untuk meredam pembicaraan dari orang luar. Barang barang dagangan sengaja ditumpuk di depan agar orang yang melihat bahwa yang kontrak adalah pedagang dari daerah lain. Mereka kemudian keluar ke tetangga sekitar, mengenalkan diri sebagai pedagang keliling. Dengan Jingga sebagai cantriknya.

Malam hari, mereka bersama sama menuju alun alun istana Matahun, melihat keramaian pesta penyambutan. Berbaur dengan masyarakat biasa, mereka menyebar untuk mencari informasi sebanyak banyaknya. Jingga bergerak sendiri. Mendekat ke panggung. Ia ingin melihat jelas siapa Senopati Rawiteja. Juga siapa siapa saja yang berada diatas dan dibelakangnya. Disana sudah ramai dengan masyarakat yang ingin menonton. Mereka mengetahui acara ini tadi pagi dari woro woro pasukan berkuda di persimpangan jalan dan pasar. Mereka penasaran siapa yang mengisi acara hiburan.
Bagi masyarakat, apapun acaranya, asal gratis, pasti yang datang berbondong bondong. Jangankan pentas kesenian. Sungai meluap, kebakaran atau kecelakaan. Mereka akan berbondong bondong menontonnya.

Jingga mengamati para tamu undangan. Mereka para pembesar dan bangsawan Matahun. Yang sebagian besar masih kerabat dekat dengan Rajasa Wardhana. Ada sebuah tempat yang kosong, mungkin tempat untuk Bhre Matahun.
Acara dimulai, seseorang naik kepanggung. Memimpin doa untuk kelancaran acara malam ini. Dilanjutkan penyerahan Plakat penghargaan Mahapatih Wilwatikta kepada Bhre Matahun yang telah berhasil menumpas Begal di bukit selatan.
Bhre Matahun naik panggung, Pemimpin Matahun itu berjalan anggun menuju tempat yang diarahkan. Senopati naik panggung diikuti tiga perwira pembawa peti kayu. Semua memberi hormat lalu mengeluarkan plakat dari peti kayu itu, diperlihatkan kepada kalayak ramai. Kemudian Peti berisi Plakat itu diserahkan ke Bhre Matahun. Bhre Matahun menerimanya langsung diangsurkan kepada pengawal disampingnya untuk disimpan.

Selanjutnya ganti Bhre Matahun menyerahkan medali tanda jasa kepada Senopati Rawiseta. Sebetulnya prosesi ini biasa dilakukan, tapi bukan ditempat terbuka dan banyak orang. Melainkan di ruang balai pertemuan istana. Disaksikan para pejabat utama negeri. Namun kali ini dibuat beda atas keinginan Senopati Rawiseta. Alasannya agar para pemimpin lebih dekat dengan masyarakat dan kegembiraan para pemimpinnya ikut dinikmati rakyat.

Sementara rakyat sendiri yang hadir dibawah panggung, sudah tidak sabar menunggu acara puncak menurut mereka, yaitu pentas kesenian Panji.

Teliti Jingga mengamati orang orang yang hadir. Jingga melihat gerak gerik Senopati ingin mendekati Bhre Matahun yang masih gadis, belum menikah. Senopati itu terlihat ingin mengambil hati Bhre Matahun. Sedang Bhre Matahun sendiri bersikap acuh. Ia turun panggung lalu masuk kembali ke Istana.

Di sisi panggung, dua orang pengawal Senopati saat di hutan Matahun, sedang mengawasi sekitar. Jingga mulai berhitung tentang kekuatan dua orang ini. Siapa mereka.

Para undangan satu persatu mengundurkan diri saat acara hiburan dimulai. Orang orang merangsek maju mendekati panggung. Agar bisa jelas mendengar dan melihat. Padahal cerita bahkan dialognya terus seperti itu, diulang ulang dari panggung ke panggung. Mereka pasti banyak yang hafal cerita bahkan dialognya. Namun itu tidak mengurangi kegembiraan mereka. Para prajurit rendahan ikut bergabung dalam lautan manusia. Ikut berseru, berteriak, tertawa dan bernyanyi bersama.

Setelah dianggap cukup, Jingga mundur menunggu rekan rekannya berkumpul ditempat sebelum mereka menyebar. Sambil menunggu berkumpul semua, mereka membeli berbagai jajanan malam. Jingga mencicipi kacang dicampur gula aren. Dari jauh Jingga melihat keriuhan panggung. Tiba tiba Ia ingat saat saat mengajak Lencari menonton pentas Panji dekat rumahnya. Berdua menonton dari tempat gelap disebuah kebun pisang.

Jinggapun galau.

***


profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di