alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
PEMBANTAIAN


Jelang Pagi, hutan masih gelap, mereka dibangunkan dengan suara geraman keras. Terlebih lagi Ki Osok yang baru menyadari dibawahnya ternyata ada harimau putih besar. Hampir saja Ia terjatuh saking kagetnya.
Harimau itu mengejar sesuatu. terdengar krosak krosak yang cepat.
Hrrrr...
Hrrrr...
Hrrrr...
Nafas beratnya terdengar semakin lama semakin mendekat. Harimau itu muncul lagi membawa seekor kelinci dimulutnya. Kelinci itu diletakkan diatas akar. Ia duduk kembali seperti semula. Tidur dengan kaki terjulur kedepan.

Ki Osok gemetar melihat harimau itu dalam remang remang. Baru kali ini Ia bertemu harimau sebesar ini, sedekat ini. Jingga menyentuh menenangkan Ki Osok. Jingga takut Ki Osok terjatuh.
"Tenang Ki, Harimau itu menjaga kita. Sepertinya Ia baru berburu untuk sarapan kita."
KI Osok mengangguk, tak percaya.
"Tunggu disini, aku akan turun menemuinya," Jingga benar benar turun dari atas pohon dengan pandangan tidak percaya dari Ki Osok. Harimau itu tidak bergeming, ekornya digerak gerakkan. Perlahan Jingga menghampiri.
"Terimakasih Kyai Macan Putih," sapa jingga. Ia menatap mata terangnya. Tak ada acaman, malah harimau itu memejamkan mata, merendahkan kepalanya meminta dielus elus.
Jingga mengelus rambut tebalnya dikepala. berlutut disebelah kepala Harimau itu yang didatarkan diatas tanah agar Jingga mudah mengelusnya. Terdengar kembali suara Hrrr hrrr hrrr. Seperti kawan lama mereka berdua, tanpa bicara tetapi terlihat akrab.

Jingga mengamati dari ujung kepala sampai ujung kaki. Harimau ini besarnya seperti kuda perang. Ia memeriksa apakah ada tanda tanda yang bisa dikenali. Dahulu Ia sering bermain di Alas Purwo. Dihutan itu Jingga sering bermain dengan harimau putih dan harimau belang. Namun itu sudah lama sekali. Fisiknya pasti sudah jauh berubah. Apakah harimau ini salah satu dari kawanan Alas Purwo.

Harimau itu bangkit, lalu menggesek gesekkan lehernya yang kokoh ke paha Jingga. Sontak Jingga ingat sambil berseru gembira.
"Kamu Si Mbenu?!"
Harimau itu mengangguk.
"Ha ha ha maaf aku tidak mengenalimu, kamu sudah besar." Jingga memeluk leher harimau itu, kepalanya dibenamkan ke lehernya. Si Mbenu mengangkat kaki kirinya, memperlihatkan pada Jingga bekas luka.
Jingga langsung ingat, waktu itu Si Mbenu ini paling bandel di kawanannya. Ia suka sekali menantang bahaya. Ia suka mengambil binatang buruan. Naas pada suatu hari, saat mengambil binatang buruan yang baru tertancap panah pemburu. Ia tidak sadar kalau itu jebakan. Para pemburu sudah menunggunya. Beberapa anak panah melesat mengincarnya. Gerakan lincahnya masih bisa menghindar, namun salah satu anak panah menghunjam pangkal kaki kirinya. Dengan terpincang pincang menahan sakit, Ia melarikan diri.
Jingga menemukannya terbaring dibalik batu besar. Ia sengaja menunggu Jingga ditempat itu. Tempat dimana Jingga biasa bermain dengan kawanannya. Kondisi tubuhnya amat lemas, darah dikakinya mengering dan mengeluarkan bau busuk. Batang anak panahnya sudah patah, tinggal sepotong dan mata anak panah yang masuk daging pangkal kaki kiri depannya. Si Mbenu menatapnya dengan penuh harap.

Nekat Jingga kecil menusukkan anak panah itu sampai tembus untuk melepas kaitnya ke daging kaki Si Mbenu. Terdengar auman keras Si Mbenu kesakitan. Jingga terus membersihkan lukanya yang berbau. Ia menumbuk tanaman obat yang biasa dipakai anak anak saat luka kena pisau. Setelah cukup, Ia bobokkan ke luka lalu diikat menggunakan sobekan kain ikat kepalanya. Sejak itu, setiap ke hutan itu, Jingga memeriksa lukanya sampai sembuh.

"Ini untukku?" Tanya Jingga ketika disodori kelinci hasil buruan Si Mbenu barusan.
"Terimakasih," Jingga mengambil. Kelinci itu belum mati.
"Apa aku bisa turun?" Tanya Ki Osok, "Biar aku yang masak."
"Silahkan Ki," jawab Jingga, baru sadar ada Ki Osok diatas pohon. Jingga menyerahkan kelinci ke Ki Osok untuk dimasak. Ki Osok menganguk hormat ke Si Mbenu. Lalu pergi mencari tempat yang cocok untuk menyiapkan makan. Ki osok membuat api di lubang kayu besar. tempat yang aman agar tidak ketahuan orang lain. Ia memanggang kelinci guling.
"Apa kamu melihat rombongan orang yang banyak?" Jingga menanyakan ke Si Mbenu sambil menggambarkan dengan gerak.
Si Mbenu mengangguk.
"Bisa nanti kami diantarkan menemui mereka?"
Si Mbenu kembali mengangguk.
"Terimakasih," Jingga memeluk Mbenu. Mereka bermain main seperti masa kecil Jingga dulu. Ki Osok memandangi mereka dengan takjub.

Makan daging kelinci panggang membuat tenaga mereka pulih. Jingga merapikan tempat menghilangkan jejak yang tertinggal. Mereka lalu berangkat mengikuti jejak Si Mbenu. Setelah berjalan setengah hari, Si Mbenu terlihat gelisah. Berkali kali Ia menggeram marah. Jingga berusaha menenangkan dengan mengelus punggungnya. Ki Osok memelankan jalannya menjauh dari Si Mbenu. Takut terjadi apa apa.

Kejadian yang terjadi ternyata lebih mengerikan daripada yang Ki Osok bayangkan. Geraman Si Mbenu tertuju ke tanah lapang dipinggir sungai. Di tanah lapang itu terlihat rekan rekan Ki Osok yang lebih dulu menyelamatkan diri ke hutan. Bukan kegembiraan yang didapat, malah kesedihan dan kengerian yang dirasakan. Karena rekan rekan Ki Osok sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka bertebaran dimana mana dengan berbagai luka mematikan. Mereka dibantai.

Ki Osok terduduk, tak percaya melihat pemandangan itu. Matanya nanar. Bibirnya bergetar. Sekuat tenaga Ia menguatkan batinnya dan menekan perasaan hancur.
Mengapa ada orang yang begitu jahat membunuh sesuka hati?
Mereka ini sebagian besar adalah pemuda yang berwatak pendekar. Pembela kaum yang lemah. Tak pantas hidupnya berakhr seperti ini.
"Akan aku balas kematian kalian semua!!!" Ki Osok berteriak keras. Serak bercampur tangis. Lebih mirik erangan.
"Tenang Ki, mari kita kubur mereka Ki." Jingga memapah bangun Ki Osok. Ki Osok tidak bisa bangun. Badannya terlalu lemah untuk berdiri.
Sendiri Jingga menggali tanah dipadang rumput. Dipilihnya pada tanah yang gembur berpasir. Menggunakan sekop dari bilah kayu. Ia harus cepat mengubur semua jenasah ini. Bau darahnya sudah menyebar kemana mana. Sebentar lagi anjing hutan akan berdatangan. Memang tradisi masyarakat ada yang membuang mayat di hutan agar dimakan anjing hutan. Tapi Jingga tidak tega melihat mereka dicabik cabik anjing hutan seolah tidak berharga.

Jingga meminta Ki Osok mengenali dan mencatat satu satu siapa saja mereka. Beberapa agak sulit dikenali karena kepalanya hilang digorok. Yang digorok adalah bekas prajurit Majapahit. Ki Osok sampai muntah karena tidak kuat melihat kondisi rekan rekannya. Padahal Ia adalah mantan prajurit yang malang melintang disegala medan perang.

Penguburan diteruskan sampai malam hari. Ki Osok mulai bisa mengendalikan dirinya. Ia ikut menutup kuburan menggunakan tanah dan batu.
Sesekali anjing hutan berusaha mencuri mayat. Menggunakan batu, Jingga menyambit mati. Melihat hal itu, kawanan anjing hutan itu mundur. Mereka hanya melolong lolong panjang. Lolongan berisik mereka benar benar membuat orang yang mendengarnya merinding.

Tiba tiba terdengar Auman keras menggelegar, disusul auman lain yang tak kalah keras. Membuat kawanan anjing liar lari terbirit birit.
Itu suara Si Mbenu dan Harimau lain. Jingga terharu melihat Si Mbenu mengejar seekor anjing hutan yang nekat mendekat. Saat Jingga sibuk merawat jenasah, Si Mbenu pergi mengajak kawanannya untuk menjaga Jingga dan Ki Osok.
"Tenang Ki, Itu Si Mbenu dan teman temannya menjaga kita," kata Jingga melihat Ki Osok kaget mendengar auman kawanan Si Mbenu.
Menjelang pagi, proses pemakaman baru selesai. Rupa Jingga dan Ki Osok sudah tak berbentuk, seluruh tubuh mereka penuh keringat dan tanah. Mereka menceburkan diri ke sungai. Mandi sambil mencuci bersih tubuh dan pakaiannya. Dinginnya air membuat tubuh dan pikiran mereka segar.
Datang kesegaran, datang pula rasa lapar. Jingga mencari buah buahan hutan. Sekarang Ia tidak minat makan daging setelah seharian melihat darah dimana mana.
"Ki, apa masih ada yang selamat?"
Ki Osok mengeleng sedih.
"Semua telah terbunuh disini." Ki Osok menghela nafas panjang, "Tinggal aku sendiri."
"Apa rencana Aki selanjutnya?"
"Aku mau menuntut balas kematian mereka! terutama rekan rekan prajurit. Tidak pantas mereka mati dengan cara itu, dikubur tanpa kepala." Semua mayat yang tanpa kepala adalah para prajurit rekan Ki Osok.
"Saya juga akan mengusut tuntas perkara ini Ki,"
"Kamu berani melawan mereka?"
"Tidak ada kata takut dalam menegakkan kebenaran Ki,"
"Terimakasih Nak Beji, eh apakah itu benar namamu?"
"Maaf itu nama dinas, nama saya sebenarnya Jingga."
"Saya memanggilmu apa?"
"Panggil saja saya Jingga Ki, semua memanggilku begitu."
"Terimakasih banyak Jingga,"
"Sudah Ki, gak enak saya jadinya," Jingga jengah mendapat ucapan terimakasih.

Ki Osok menanam pohon penanda di pinggir pemakaman rekan rekannya. Jingga memotong batu paras menggunakan parang. Dibentuk seperti tonggak. Dikeempat sisinya diukir kalimat belasungkawa, tanggal bulan tahun kejadian. Batu paras lunak itu ditaman ditengah tengah area pemakaman.
"Ki, sebaiknya menyamar. Saya yakin Aki sekarang dicari mereka. Kalau mau, Aki temui orangku di Kahuripan." Jingga menuliskan pesan ke Andaka untuk memberikan lahan kepada Ki Osok seperti yang lain.
"Saya mau," jawab Ki Osok menerima pesan yang ditulis Jingga.
Jingga memberikan pengarahan dan bekal untuk kesana.
"Untuk kasus ini, saya berjanji menuntaskannya."

Jingga menemui Si Mbenu yang setia menjaga. Jingga memeluk erat. Mengucap terimakasih.
"Aku pergi dulu, tolong jaga makam kawan kawanku," Pinta Jingga. Seperti mengerti, Si Mbenu mengaum keras sekali, diikuti auman kawanannya. Ki Osok yang sudah mulai terbiasa mendengarnya, masih gemetar saking keras getarannya terasa di dada.

Jingga menerobos hutan belantara kembali ke selatan. Ki Osok mengikutinya. Mereka kembali ke tempat gubug gubug yang kemarin mereka bakar. Disana suasana sepi mencekam. Beberapa tempat masih berasap. Ki Osok berlari ketempat tempat dimana rekan rekannya dibantai. Ia mencari cari dimana jasad mereka. Dengan mengikuti petunjuk dengung lalat hijau. Mereka menemukan jasad jasad rekannya yang sudah tidak lengkap. Semua jasad tanpa kepala. Dan sebagian besar sudah dimakan anjing hutan.

Tanpa merasa jijik, Ki Osok mengumpulkan jasad rekan rekan seperjuangannya. Semua dikubur dalam satu tempat karena sudah tidak utuh dan sulit dikenali selain sobekan kain dan tanda tanda lain dibadan mereka.

Tak ada tanda tanda pasukan Majapahit disana. Jingga menggurat batu besar menulis pesan bela sungkawa kepada mereka yang dikubur. Batu itu diletakkan sebelah makam. Setelah melakukan penghormatan terakhir, mereka melanjutkan perjalanan.

Sekarang gantian Ki Osok didepan. Ia lebih faham daerah sekitar bukit sisi selatan. Ia menyusuri jalan tembus ke desa disisi timur. Sebelum keluar hutan, Jingga memotong rambut dan brewok Ki Osok. Sekarang penampilannya terlihat lebih muda dan tampan.
"Kita berpisah disini Ki, saya akan mencari rekan rekanku." Jingga memeluk Ki Osok. Memberi semangat melakukan pelarian ke Kahuripan.
"Sampai jumpa,"
"Sampai ketemu,"

***

Jingga menumpang rombongan kereta yang akan menuju Lasem. Kadipaten disebelah barat Matahun. Rombongan ini tidak tahu kejadian yang baru terjadi di bukit seberang jalan ini. Mereka masih menganggap ada begal yang berkeliaran di hutan perbukitan Matahun.
"Mau kemana?"
"Mau kedesa ujung, mencari rekan rekan saya yang berjualan disana," jawab Jingga.
"Kamu orang sini?"
"Bukan, saya ikut rombongan pedagang keliling. Saya tadi jalan jalan kejauhan, mau pulang sendiri takut kemalaman di jalan."
"Sudah ikut kami saja, katanya disini banyak begal ya?"
"Iya, hanya merampas para pembesar yang lewat. Tapi kemarin banyak prajurit majapahit di desa sana. Sepertinya mereka menumpas gerombolan itu."
"Tahu dari mana kamu?"
"Kan saya tinggal disana Ki,"
"Berarti sekarang sudah aman,"
"Mudah mudahan,"

Sepanjang jalan Jingga mengamati rumah rumah disekitar jalan yang dilalui. Suasana kembali normal. Tak ada prajurit yang terlihat. Jingga sampai di rumah kontrakan. Ia meminta turun menyampaikan rasa terimakasih dan menawarkan istirahat. Namun rombongan itu memilih terus berjalan melanjutkan perjalanan.

Kedatangan Jingga disambut gembira anak buahnya. Sejak kemarin mereka cemas menunggu kedatangan Jingga di pengungsian. Apalagi mendapat kabar dari Tumar dan Tani, kalau Jingga ikut bertempur melawan pasukan Majapahit. Banyak yang ingin ditanyakan mereka kalau tidak diperintah menahan diri oleh Jingga.
Jingga menyampaikan perkembangan terakhir yang terjadi di dalam hutan. Sebelum penyerangan, para pimpinan begal dan pasukan utama kabur membawa harta rampasan. Bagaimana dibantainya 7 rekan Ki Osok di persembunyian mereka dan bagaimana pembantaian sadis ditengah hutan dipinggir sungai. Semua dibunuh dan yang mantan prajurit kepalanya dipenggal. Meski dengan nada pelan, masih membuat bergidig yang mendengarkan. Benar benar sadis perbuatan mereka. Tak bisa dibayangkan bila hal itu terjadi pada diri mereka sendiri.
"Benar benar sadis dan mengerikan,"
"Ia, mengapa tidak ditangkap saja, kasihan para pemuda yang bergabung."
"Dugaan saya semua ini ada yang merekayasa."
"Sebuah rekayasa yang sadis."
"Ada perkembangan terbaru disini?"
"Seluruh desa dilereng bukit ini diperintahkan mengadakan pesta syukuran merayakan tumpasnya para begal di pegunungan Matahun. Padahal saya yakin banyak penduduk desa desa itu yang turut menjadi korban penyerangan kemarin. Tapi mereka tidak berani memperlihatkan rasa berduka. Takut terkena apa apa."
"Terus bagaimana dengan para prajurit kemarin, kapan mereka pergi?"
"Yang pergi hanya sebagian, mereka berangkat ke Wilwatikta dengan membawa bukti bukti tumpasnya Begal Matahun. Sebagian lagi berpakaian rakyat biasa. Merekalah yang mengkoordinir acara pesta syukuran besok malam."
"Besok aku Tumar dan Tani akan menghadap ke Wilwatikta. Kalian tetap berjualan dan waspada. Kalau ada yang mencari atau menanyakan, bilang saja sedang mengambil barang tambahan dagangan."
"Baik,"
"Kalau diminta bantu bantu, kalian ikut bantu. Semua harus terlihat wajar, jangan menyolok."
"Baik,"

***

Pagi pagi, Jingga bersama Tumar dan Tani berangkat berkuda. Orang orang yang kenal menanyakan akan kemana, sesuai rencana, mereka menjawab akan mengambil barang dagangan baru. Beberapa malah titip minta dibelikan barang barang yang tidak ada disini. Tanpa canggung Jingga mencatat semua pesanan mereka.

Sepanjang perjalanan tidak ada kejadian yang berarti. Keesokan harinya mereka sampai di markas Pasus langsung melaporkan ke Rakryan Rangga Jala Yudha, Raden Aji Sora.
Di ruangan kerja Raden Aji Sora. Jingga menjelaskan kronologi kejadian di hutan Matahun. Raden Aji Sora terlihat serius mendengarkan semua penjelasan Jingga. Dalam hatinya Ia memuji pemuda yang disodorkan Raden Sidatapa beberapa waktu lalu. Seorang pemuda yang berbakat dan total dalam menjalankan tugas.
"Menurut pengamatanmu, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Terjadi rekayasa keji. Para prajurit rendah dikorbankan oleh segelintir orang untuk ambisi harta dan kekuasaan. Harta rampasan sebagian kecil diberikan kepada penduduk, sebagai tameng. Sedang harta yang berharga mereka bawa kabur. Selebihnya masih perlu diselidiki lebih dalam. Untuk itu saya minta surat tugas memeriksa kasus ini. Mungkin sampai penangkapan pejabat. Oleh karena itu Saya minta surat tugas dari Maha Patih."
"Apa yakin kamu mampu? Kalau kamu gagal. Bukan hanya kepalamu taruhannya. Tapi kepalaku dan seluruh kesatuan khusus Jala Yudha yang akan mendapat akibatnya."
"Bila mendapat dukungan penuh, Saya Siap!"
"Kamu kembali ke barak, nanti akan aku panggil." Raden Aji Sora memerintah Jingga keluar ruangannya.
"Siap!"

***
Raden Aji Sora memerintah ajudan memanggil Raden Sidatapa untuk menemuinya. Sambil menunggu, Ia menimang nimang apakah akan memberikan rekomendasi kepada Jingga untuk mendapat surat tugas dari Maha Patih Gajah Meguri. Dengan surat tugas dari Maha Patih Gajah Meguri, Jingga tidak hanya bisa menangkap pejabat dilain kesatuan, malah bisa menangkap Panglima seluruh kesatuandi Majapahit. Namun resikonya bila Ia gagal, tidak hanya kepalanya yang akan dipancung. bahkan seluruh kesatuan Jala Yudha akan terkena.

Lamunannya buyar ketika Raden Sidatapa datang. Tanpa berlama lama Raden Aji Sora menyampaikan permintaan Jingga mendapat tugas penyelidikan dan penangkapan kasus begal di Matahun. Ternyata Raden Sidatapa telah tahu kejadian di Matahun.
"Kemarin aku melihat ada rombongan Senopati Jala Pati Matahun menghadap Mahapatih Gajah Meguri. Mereka menyampaikan telah sukses menumpas begal Matahun. Ternyata para begal itu adalah para pelarian prajurit. Untuk itu mereka membawa tiga peti besi berisi kepala kepala prajurit desersi. Bukankah dengan begitu kasus telah selesai?" papar Raden Sidatapa.
"Bagaimana kalau keberhasilan penumpasan itu hanya rekayasa?"
"Sekarang apa yang tidak direkayasa di Wilwatikta saat ini?" Raden Sidatapa balik bertanya. Berkaca pada kasus didalam pasukan khusus sendiri. Raden Aji Sora seperti ditampar. Sibuk mau membongkar keburukan kesatuan lain, sedang keburukan di kesatuannya sendiri dibiarkan selama ini.

"Saya tahu kamu ingin mengungkapnya. Namun sebagai pemimpin kesatuan besar. Banyak pertimbangan yang harus diambil." Raden Sidatapa berusaha menyelamatkan muka Raden Aji Sora.
"Untuk itu biarlah aku yang akan menghadap Maha Patih Gajah Meguri. Beritahu anak itu untuk ikut saya. Saya usahakan anak itu mendapat tugas mengatas namakan Wilwatikta. Tanpa menyinggung kesatuanmu, begitu?"
"Tapi dukungan akan kami lakukan kepadanya." Raden Aji Sora berusaha menyelamatkan muka.
"Betul, semua itu terserah Jingga nanti, entah mau milih siapa atau apa yang akan dibawanya dalam melaksanakan tugas."

Raden Aji Saka terasa dadanya menjadi longgar mendengar Raden Sidatapa menyanggupi mengurus surat tugas dari Menteri. Ia yakin kemampuan Raden Sidatapa melobi orang atas melebihi dirinya yang masih aktif di pemerintahan.

Raden Aji Saka meminta Ajudan memanggil Jingga. Tak beberapa lama, Jingga sudah datang. Menghormat.
"Kamu habis ini akan diantar Raden SIdatapa menghadap Mahapatih Gajah Meguri."
"Bicara yang benar dan sesuai fakta dilapangan. Sampaikan dengan lugas menggunakan bahasa yang jelas." Raden Aji Saka memberi pesan bertubi tubi ke Jingga.
"Siap Ki Rangga!" Jawab Jingga tegas.
"Kalau begitu, saya langsung berangkat menghadap. Semoga waktunya tepat,"

***

Tanpa dikawal, Raden Sidatapa dan Jingga berkuda beriringan. Mereka memacu menuju kediaman Mahapatih Gajah Meguri. Setelah melewati beberapa pemeriksaan. Akhirnya mereka berada di ruang tunggu. Menunggu giliran menghadap.
"Bagaimana kabarmu Jingga? Kamu semakin hari semakin terlihat makin matang," Raden Sidatapa menanyakan kabar Jingga untu membunuh sepi.
"Baik Raden, mungkin karena sering berjemur jadi terlihat mateng," Jingga menjawab bercanda. Raden SIdatapa tertawa mendengarnya.
"Bagaimana misi misimu sebelum ini?"
"Biasa saja Raden, tidak ada cerita yang membanggakan,"
"Kapan kapan kamu mampir kerumah, mau saya kenalkan ke anakku," Raden SIdatapa tertawa kembali melihat ekspresi Jingga yang kacau mendengar undangannya.
"Kapan hari Lencari, Savitri dan Lindri datang bermain kerumah."
Dug!
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
profile picture
vespanisti


momennya gak pas ini

mo ngadep mahapatih malah dikasih info lencari, bisa2 gak fokus dah jingga pas ngadep mahapatih
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di