alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Tentang Sebuah Nama: Talita | Bagian 7

TENTANG SEBUAH NAMA: TALITA (BAGIAN 7)


Ayumi Hamasaki – Dearest


     April 2006.

      Kami langsung menyudahi pagutan itu, terkejut, meninggalkan desah napas yang masih tersengal seraya kami langsung menatap ke arah gadis yang suaranya cukup pelan memekikkan kami berdua. Talita hanya melihat kami dengan pandangan tidak percaya.

      “Kalian ngapain di sini?” sebuah pertanyaan anti-klimaks terlontar dari lisannya, masih dengan bahasa tubuh yang sama seperti kemarin, dan juga intonasi yang sama seperti kemarin, “padahal aku dari tadi nyariin Tama pengen tau Mars kalo pagi-pagi.”

      Gadis itu mendekati kami yang tampak mungkin gagap dan canggung ketika tubuh mungil Talita berdiri di sebelah Shinta yang saat itu hanya bisa tersenyum, mengambang di atas wajahnya yang begitu merah saat Talita tersenyum, menggoda Shinta dengan tertawa kecilnya yang begitu khas.

      “Baru pertama ya?” tanya Talita, masih menggoda kami dengan terkekeh, melempar pandangan dari Shinta ke arahku.

      Anggukan pelan Shinta seolah mengamini pertanyaan Talita yang membuat kami benar-benar tidak dapat berkata apa-apa lagi selain hanya memandang gadis yang masih saja meledek kami dengan tawa kecilnya, seolah menusuk-nusuk kami dengan rasa yang tidak dapat kujelaskan.

      Antara malu dan canggung.

      “Gimana rasanya dicium Tama, Shin?” tanya Talita lagi, “aku udah ngeliat dari awal kali,” ujar Talita pelan.

      “Eh…, ja… jadi kamu ngeliat dari awal?” tanya Shinta, nada suaranya benar-benar canggung, seraya anggukan pasti Talita saat ini.

      “Aku juga mau kali dicium sama Tama,” ujar Talita, membuang wajah dan pandangannya ke arah lain, melewati pagar belakang yang langsung mengarah ke lembah yang cukup dalam, “tapi kan gak mungkin.”

      Deg!

      Talita mengarahkan wajahnya kepadaku, senyumannya terlihat pahit di antara pandangan nanar dan juga penuh harap yang terus menerus menghiba kepadaku. Tidak ada yang bisa kukatakan setelah apa yang terjadi barusan, aku hanya dapat tertunduk dan sesekali memandang ke arah Shinta yang juga tampak tertunduk.

      “Loe juga cinta, sama Tama?” tanya Shinta pelan.

      Talita menganggukkan kepalanya, dan kembali melempar pandangannya ke arah cakrawala yang saat ini mulai bercahaya karena Sang Sol sudah mulai membuka matanya untuk kembali menyinari Gaia yang sudah rindu dekapan sinar yang menjalar selama lima-ratus-detik di ruang angkasa hingga tiba di afmosfer bumi.

      Gelap di sisi lain horizon seolah menyiratkan bahwa mungkin akan turun hujan hari ini, membawa sebuah aroma yang begitu menenangkan, seraya suara gemericik dedaunan yang berada di sekitar kami bernyanyi, dibelai mesra oleh embusan angin pegunungan yang sesekali menerbangkan rambut panjang bergelombang milik gadis bertubuh sintal yang masih berdiri di sebelahku ini.

      “Tapi emang Tama pantes buat itu sih,” ujar Shinta, setelah sekian lama lisannya terbungkam, “gue gak pernah masalahin siapapun cewek yang mau cinta sama Tama, ato Tama cintai.”

      “Udah banyak hal dia lakuin buat gue, dan gue gak bisa begitu aja ngelarang orang buat bahagia kan?”

      Shinta lalu tersenyum, menggenggam erat jemariku yang saat ini berada di atas tiang horizontal di atas pagar setinggi kira-kira seratus-dua-puluh-centimeter, memisahkan kami dari kompleks wisma dan juga lembah di depan kami. Pagar ini berada di bagian belakang wisma, hampir-hampir tidak ada orang yang mengetahui tempat ini apabila tidak melalui satu celah sempit yang benar-benar berada di pojok wisma ini.

      “Tama itu kayak tempat ini, kalo enggak dicari, enggak akan ketemu,” ujar Talita pelan, “dan aku ngerasa deket sama Tama adalah hal yang paling ngebahagiain buat aku sekarang.”

      “Kalo loe mau tau,” ujar Shinta seraya memandang ke arahku, “gak ada alasan gue buat gak jatuh cinta sama seorang Faristama, meskipun sekarang gue kayaknya jadi pacar Agung.”

      “Tapi, hati gue gak pernah ada buat orang yang namanya Agung,” ujar Shinta, ia tersenyum kepadaku, “dan sampe kapanpun hati gue, Shinta Adinda adalah punya Faristama Aldrich.”

      Deg!

      Entah berapa kali lonjakan denyut itu terasa hingga memburamkan kedua mataku. Senyuman kedua gadis yang saat ini hanya berselisih beberapa centimeter ini pun seolah menambah sesaknya dada ini saat aku berusaha untuk menghidup udara yang sesungguhnya begitu segar pada pagi ini.

      “Asli, aku bingung harus ngomong apa ke kalian,” ujarku seraya menghela napas, “kayaknya udah abis kata-kata buat kalian, sementara aku dengan bodohnya masih cinta ke seseorang yang namanya Aerish.”

      Shinta mengarahkan tubuhnya kepadaku, ia menggenggam jemari tangan kananku dengan kedua jemari lentiknya dengan begitu erat, “justru aku bisa belajar, gimana mencintai kamu dari hal ini Tam. Karena aku yakin, suatu saat kamu pasti paham perasaan aku.”

      Aku menghela napas, menundukkan kepalaku, sejurus aku melempar pandangan ke arah Shinta, kemudian Talita, “makasih buat semua hal yang udah kalian tunjukkin ke aku, semuanya bener-bener ngasih aku semangat lagi buat enggak terlalu terpaku ke seseorang yang bernama Aerish.”

      “Aku sadar, aku masih terlalu dibutain sama perasaan aku ke dia, tanpa aku tahu bahwa seorang Shinta Adinda dan Talita Ardisha punya rasa cinta yang mungkin gak pernah Aerish punya buat aku.”

      “Masih ada Nadine Tam,” ujar Shinta, “kamu juga pasti tahu gimana perasaan Nadine ke kamu kan?”

      Aku mengangguk, “aku tahu, dia berusaha sekuat tenaga buat buktiin perasaannya ke aku, tapi dengan semua sikap dia yang serba tempramental kadang ngebuat aku ngerasa kalo apa yang Nadine lakuin cuma sebatas begitu aja.”

      “Tapi Nadine kan jagain kamu taun kemaren Tam,” ujar Shinta, dan saat itu Talita langsung memandang ke arah Shinta, ia menggelengkan kepalanya.

      Ada isyarat yang tampak dari mereka berdua saat itu. Tampak Shinta dan Talita mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui, sungguh aku bisa melihat dari bahasa tubuh mereka yang tampak begitu canggung ketika lisan Shinta berakhir dengan intonasi yang menggantung.

      “Apa yang kamu umpetin Ta?” tanyaku pelan, seraya memandang ke arah Shinta, “kamu juga tahu kan Lit?” tanyaku sejurus memandang ke arah Talita.

      Shinta menghela napas, dadanya tampak naik turun, entah apa yang ingin ia ucapkan kepadaku. Sehebat apapun ia memendam segala bentuk ideologinya saat ini, tetapi aku benar-benar mengenal siapa Shinta, dan apapun yang ia lakukan di depanku, ia tidak akan bisa menyembunyikan apapun.

      “Ada satu hal yang mungkin kamu gak pernah tahu Tam,” ujar Shinta, saat itu Talita tampak langsung menahan tangan gadis ini.

      “Dan aku tahu, sehebat apapun aku sembunyiin ini dari kamu, suatu saat kamu juga akan pasti tahu Tam.”

      Sesungguhnya, aku tidak menyelidiki apapun yang terjadi di antara Shinta dan Talita. Tetapi, aku percaya setiap milimeter gerak tubuh gadis yang telah menjadi bagian dari hidupku sejak hampir-sepuluh-tahun-yang-lalu ini seolah mengatakan segalanya di depanku, tidak hanya memberikan sebuah frasa tersirat, tetapi seolah mengatakan segenap kalimat yang penuh dengan retorika.

      “Ini tentang Agung, Nadine, sama kamu.”

      “Tapi aku mau kamu rahasiain hal ini sampe suatu saat aku minta kamu buat cerita ke orang lain, dan mungkin saat itu aku udah jadi milik kamu seutuhnya Tam,” ujar Shinta. Sungguh aku tidak mengerti dengan apa yang ia maksud dengan menjadi milikku seutuhnya, tetapi aku tahu ini adalah sesuatu yang penting.

      “Pertama aku mau ngomong masalah Agung.”

      Gadis ini lalu menghela napas dan memandang ke arahku masih dengan tetap menggenggam jemariku dengan kedua jemarinya, “sebenernya aku gak pernah cinta sama Agung, dan aku gak pernah bener-bener jatuh cinta sama Agung.”

      “Adapun kenapa aku pacaran sama Agung adalah itu semua permintaan Nadine, bahkan kamu tahu, pas kamu sakit di taun kemaren, sebenernya aku mau jagain kamu, tapi Nadine mohon-mohon sama aku buat gak jagain kamu.”

      “Kamu inget kan semua hal yang Nadine bawain ke kamu waktu di rumah sakit, itu semua aku yang bawa dari rumah, dan aku tahu Nadine gak pernah cerita apapun sama kamu tentang aku,” ujarnya lalu memandangku dengan tatapan nanar.

      “Kalo kamu anggap aku cewek yang gak berterima kasih atas semua yang kamu lakuin dari kelas II SD, jelas kamu salah Tam,” ujarnya, tersenyum meskipun terlihat mengambang, “aku masih inget apapun itu, dan sampe kapanpun aku akan terus jadi orang yang selalu ngarepin kamu jadi milik aku.”

      Deg!

      Pandanganku semakin buram seraya detak jantungku terasa begitu keras hingga menggetarkan seluruh tubuhku. Riuh kata-kata yang terucap dari lisan Shinta di atas pandangannya yang nanar, senyuman yang terlihat pahit, dan juga tatapan Talita yang seolah tidak menginginkan kejujuran itu terlantun pada pagi ini.

      “Ta…, Tata?” tanyaku tidak percaya, “gimana mungkin kamu sembunyiin itu semua dari aku?”

      Ia tersenyum, mengusap pelan pipiku, “kamu selalu lakuin apapun tanpa pamrih di belakangku, dan sekarang giliranku lakuin itu semua ke kamu, tanpa kamu harus tahu.”

      “Permintaan aku sederhana ke kamu Tam,” ujar Shinta pelan, “aku cinta sama kamu, lebih dari apapun yang mungkin kamu tahu.”

      “Tapi, aku mau kamu jangan pernah deketin aku lagi, aku mau kamu bahagiain Nadine karena banyak hal buruk yang udah menimpa dia,” ujar gadis itu, dengan mata yang berkaca-kaca, “jauh lebih berat dari apa yang aku alamin, dan aku mau dia bahagia Tam.”

      “Jangan panggil aku Tata lagi,” ujarnya, isakannya semakin menjadi-jadi, “dan jangan pernah muncul lagi di depanku.”

      “Gak bisa gitu Ta,” ujarku menyela permintaannya, “kamu gak boleh mikirin orang lain, kamu harus mikirin kebahagiaan diri kamu sendiri.”

      “Tam,” panggilnya, ia menggelengkan pelan kepalanya, “bukannya aku gak mau ada di deket kamu. Tapi Agung itu selalu nyuruh anak-anak OSIS buat merhatiin aku, bahkan dia minta kerjasama Nadine buat ngawasin kalo-kalo aku deket sama kamu Tam.”

      Aku menghela napas, mencoba menerjemahkan setiap frasa yang terlantun di atas harmoni minor yang selalu mengetuk hatiku untuk terus menelusuri ke mana larinya kebahagiaan yang biasanya ada di dalam dirinya. Kutatap wajah gadis ini dalam-dalam, mencoba untuk mentrasnformasikan setiap gerak tubuh yang membahasakan sesuatu yang kontradiktif atas pernyataannya barusan.

      Aku tahu, bukan keinginan hatinya menyatakan perasaannya dalam bentuk seperti itu. Sebuah ideologi yang kontras apabila mengetahui bagaimana sikap Shinta di depanku.

      Aku tahu, ada sesuatu yang memaksanya untuk melontarkan kalimat penolakan keji itu. Sebuah kekuatan yang tidak mungkin bisa ia tolak dan ia pasti sangat tidak menyukai apapun yang mengendalikannya.

      Aku tahu, ini adalah akhir dari segala pertanyaanku tentang Nadine yang ia rangkum dalam kata-kata yang terlihat indah. Sebuah keniscayaan yang sebenarnya tidak perlu ia bungkus dengan ambiguitas sehingga aku bisa dengan mudah memahami apa yang ia maksud.

      Mengapa gadis itu begitu tega merenggut kebahagiaan yang seharusnya milik Shinta?

      Mengapa ia selalu membuat sesuatu yang seharusnya sederhana menjadi semakin rumit?

      Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Nadine, terlebih semenjak ia menjabat sebagai Ketua OSIS di sekolahku, ia semakin sering memaksakan kehendaknya di depanku. Meskipun, aku terkadang tidak ambil pusing dengan sikapnya, tetapi di satu sisi hal tersebut cukup menganggu bagiku.

      “Kenapa aku harus jauhin kamu, Ta?” tanyaku pelan, “setelah semuanya yang udah terjadi, kenapa kamu mau aku jauhin kamu?”

      Ia terdiam saat aku benar-benar menginginkan jawaban yang logis atas permintaannya. Pandangannya berubah, air matanya semakin deras mengalir di pipinya, dan tanpa ada lisan apapun, ia langsung mendekapku tanpa memikirkan ada Talita yang memandang kami dengan tatapan yang sama nanarnya seperti Shinta.

      Aku benar-benar paham dengan rasa dekapan ini, sama seperti saat ia memintaku menemaninya di rumah ketika kedua orangtuanya bertengkar hebat. Sungguh, ia tidak dapat menyembunyikan rasa takut itu dari setiap milimeter gerak bahasa tubuhnya, rasa yang sama persis dengan apa yang telah terjadi di malam itu, di mana ia hanya mendekapku dalam tangisan yang begitu pilu.

      Talita hanya menatap kami berdua dari tempatnya berdiri saat ini, tidak ada ucapan juga yang keluar hanya pandangan nanar yang terus menerus tampak dari sepasang matanya yang juga akhirnya berkaca-kaca di kala fajar tengah menyingsing, perlahan membuka matanya dari arah kiri kami saat ini.

      “Apa yang bikin aku harus jauhin kamu, Ta?” tanyaku pelan di telinganya, “Lit, kamu mau ngomong sama aku enggak?” tanyaku, sejurus kualihkan pandanganku ke Talita.

      “Agung Tam,” ujar Talita pelan, “Agung ngancam Shinta kalo misalnya sampe ketemu lagi sama kamu, dia bakal nyakitin Shinta.”

      “Nadine juga ikut ngawasin kalo-kalo di acara ini Shinta ketemu sama Kamu. Bahkan dia sampe ngikutin Shinta, tapi ya sebagai temen kalian, dan sebagai orang yang sayang sama kamu, aku ngecoh Nadine biar gak ngikutin Shinta barusan,” ujar Talita, ia tampak menjelaskan semuanya.

      “Kamu inget, terakhir Shinta?” tanya Talita pelan, “di sana Agung sempet nampar Shinta.”

      Deg!

      Sungguh, aku tidak mengerti dengan esensi cinta yang terprogram di kepala Agung. Apakah pipeline instruction yang terjadi di sana ada kesalahan? Ataukah metode instruksinya CISC sehingga tidak ada instruksi yang tersimpan di register dan langsung ke compiler sehingga ia menyalahartikan setiap eksekusi yang diperintahkan atas dasar cinta?

      “Aku gak bisa biarin ini Ta,” ujarku, mendekap gadis ini lebih erat, “aku gak mungkin biarin kamu disakitin lagi sama Agung.”

      “Tapi kamu bisa apa Tam?” tanyanya lirih, “apa kamu bisa lawan Agung?”

      “Lagian, aku yang pasti disakitin sama dia Tam, bukan kamu,” ujar Shinta, masih terisak di dekapku, “apa kamu mau itu semua terjadi?”

      Aku menghela napas, pertanyaan yang cukup membuatku berpikir, bukan karena aku tidak mampu melawannya sendirian, tetapi ia memiliki banyak teman yang sebenarnya bukanlah orang yang berasal dari golongan orang baik. Sungguh, yang kupikirkan adalah bukan keselamatan diriku sendiri, tetapi aku lebih memikirkan bagaimana Shinta bisa baik-baik saja selama aku tidak dapat menjaganya.

      Hanya ada rasa sesal yang terus menerus terngiang di dalam kepalaku, mengingat semua kebodohan yang telah kuperbuat dengan meninggalkan Shinta tidak dalam penjagaanku, dan lebih mempercayakannya kepada Nadine yang sebenarnya juga tidak pernah menyukai Shinta sejak dahulu.

      Apa yang harus kuperbuat kini?

      Apakah mungkin aku tetap bisa memastikan ia baik-baik saja setelah apa yang ia katakan kepadaku tentang Agung barusan?

      Bisakah aku tetap melihatnya tersenyum bahagia, meskipun ia bukan berada di dekapku?

      Tidak mungkin rasanya menjauhi gadis yang sudah berada di konstelasiku selama hampir sepuluh tahun ini. Meskipun aku memang menghargai keputusannya untuk menjadi kekasih Agung tempo hari, tetapi saat Talita mengatakan hal yang sebenarnya tentang Shinta, sungguh hatiku tidak bisa tinggal diam.

      Terlebih, bagaimana bisa aku tetap menghargai Nadine sementara aku tahu bahwa gadis itu sudah banyak menyusahkan Shinta hingga saat ini.

      Tanpa terasa, dekapanku semakin erat saat wajah kami hanya berjarak dua-atau-tiga-milimeter saja dari wajahnya, hingga hidung kami pun beradu, seraya perlahan Labia oris kami saling membelai satu sama lainnya, menimbulkan suara gumanan manja yang penuh dengan isyarat dari Shinta. Sungguh, aku tidak peduli dengan Talita yang saat itu berada di belakang Shinta.

      Semenit. Dua menit. Lima menit. Kami saling terbuai dan tenggelam dalam keabadian yang hanya kami rasakan berdua. Entah berapa lama waktu yang berharga ini berlalu di antara pagutan dan juga dekapan yang semakin terasa hangat saat detik demi detik itu berlalu, berjalan begitu sombong dan tak pernah lagi menoleh ke belakang.

      Kusudahi pagutan Labia orisku, menyisakan senyum di atas tatapan yang masih nanar, menghiasi wajah merah Shinta yang saat ini memandangku dengan napas yang masih begitu tersengal. Kusadari, Talita tidak hanya memandangi kami sejak tadi, sesekali ia menoleh ke belakang takut-takut Agung atau mungkin Nadine mencari kami di sini.

      “Maafin aku, Tam.”

      “Aku enggak bisa penuhin janji aku buat ada terus di sebelah kamu, karena aku juga gak mau kamu kenapa-napa,” ujar Shinta lesu, masih berada di dekapku.

      “Aku terima Ta, bukan karena aku takut sama Agung. Tapi karena aku gak mau kamu sampe sedih apalagi tersakiti gara-gara egoisme aku yang tetep mau ada di deket kamu,” ujarku pelan, “tapi sekali aku tahu Agung kasar sama kamu, di sana aku gak akan tinggal diem.”

      “Aku pasti akan lindungin kamu, karena wanita diciptakan buat disayang dan dilindungi,” ujarku lalu melepas dekapan Shinta.

      Shinta lalu memandangku, menghela napas cukup panjang seraya menatapku, “ada satu hal juga yang harus kamu tahu,” ujarnya pelan, “sebenernya Talita itu,” ujar Shinta, ia ragu seraya memandang ke arah Talita.

<<< SEBELUMNYA (EP297)



Diubah oleh m60e38
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di