alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Tentang Sebuah Nama: Talita | Bagian 5

TENTANG SEBUAH NAMA: TALITA (BAGIAN 5)


      April 2006.

      “Aku maunya gak cuma semalem doang Tam,” ujar Talita pelan, ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan segenap ekspresi dari jangkauan pandangku, “tapi aku tau permintaan aku terlalu berlebihan.”

      “Andai aku bisa ada di deket kamu terus kayak gini Tam,” ujarnya lagi, sejurus memandang ke arahku dengan wajah yang sangat merah.

      Deg!

      Jantungku berdegup begitu kencang, namun aku berusaha untuk tetap tersenyum, entah apa yang harus kukatakan kepada gadis ini.

      Seluruh lisanku kini benar-benar terkunci di tengah keronkonganku. Tidak ada hal yang dapat kutenggarakan seraya nanarnya pandangan Talita yang menyita detik demi detik waktu dalam kebisuan ini menjeratku dalam sebuah perasaan yang sungguh tidak berujung.

      Hanya suara klakson kendaraan dan riuhnya mesin-mesin Otto yang terdengar di sekelilingku, menghakimiku dengan segenap kebodohan yang terus menerus kuperbuat di depan gadis yang seharusnya tidak mendapatnya pernyataan ini sebelumnya.

      “Aku gak ngerti Lit, harus ngomong apa sama kamu,” ujarku pelan, “aku gak tahu harus gimana.”

      “Ih Tama mah, kok malah bingung?” ujar Talita manja, “kan kamu udah tahu apa yang aku mau.”

      “Meskipun, agak anek yah, mungkin aku yang menurut kamu pendiem gini tiba-tiba ngomong hal tadi,” ujarnya pelan, memalingkan wajahnya, seolah menyembunyikan segala rasa yang terpancar dari sorot matanya dari hadapanku.

      Aku menggenggam kedua pundak gadis itu, ia sedikit terperanjat seraya menolehkan kepalanya ke arahku, “semua orang kan punya karakter masing-masing, dan jujur buat aku, itu adalah karakter kamu.”

      “Sekarang, kita mau ke mana?” tanyaku, menyunggingkan senyum simpul kepadanya.

      “Kemanapun Tam, mau cuma muter-muter Lembang juga aku seneng kok. Seenggaknya kita gak di sana, soalnya gak bebas,” ia tertawa kecil. Aku menangguk, menggenggam jemari mungilnya dan mulai mengarah menyusuri trotoar ini.

      Sejuknya hawa Lembang seolah mendekapku begitu hangat dengan pesona yang tak pernah bisa kuindahkan dari benakku tentang semua kenangan yang telah tercipta di tempat ini. Semilir angin yang tajam menusuk kulit kami terus berembus, menyisakan asa yang seolah terus tertancap di atas bumi Parahyangan ini.

      Gadis itu mendekap sendiri tubuhnya, bibirnya tampak bergetar ketika senyuman manis itu terlontar kepadaku.

      “Dingin Lit?” tanyaku, sayangnya aku tidak membawa sweater saat itu, sehingga aku hanya bisa merangkulnya, berharap dapat menghangatkannya walaupun tidak seberapa.

      “Iya Tam, tapi aku seneng bisa jalan sama kamu,” ujarnya pelan, “ini kerasa kayak mimpi aja bisa ada sama kamu, jalan keluar begini.”

      “Apapun Lit,” ujarku, masih melangkahkan kaki, semakin jauh dari tempat kami menginap, “justru aku yang ngerasa ini semua mimpi. Tau-tau hari ini kamu ada di sebelah aku, kamu ngomong perasaan kamu ke aku, dan semuanya kerasa kayak gak mungkin aja.”

      “Banyak yang suka sama Tama, tapi mereka semua gak berani ngomong,” ujar Talita pelan.

      “Karena aku cuek ya,” ujarku, menghela napas seraya memandang ke arah Talita.

      Ia mengangguk, mengamini pernyataanku barusan, “siapa sih yang bilang kalo Faristama Aldrich itu gak cuek?”

      “Bahkan kayaknya anak kelas X yang mintain tanda tangan kamu sampe ngejar-ngejar aja pada paham kali Tam,” ujar Talita, tertawa kecil.

      Huh, mungkin benar ucapannya, tetapi siapa yang peduli? Sedikitpun aku tidak tersanjung dengan kefanaan yang terdengar seperti retorika itu. Yang aku tahu adalah, aku mencintai Aerish dan semua orang tahu itu. Termasuk gadis yang saat ini berada di genggamanku.

      Pukul 19.15, setidaknya itu yang ditunjukkan oleh kedua jarum Seiko 5 yang kugunakan saat kami berdua tiba di persimpangan ke Subang, Bandung, dan Maribaya. Aku dan Talita saling berpandangan saat satu persatu angkutan umum berjalan menawarkan jasa tumpangan kepada kami.

      “Subang A’, Subang,” ujar salah satu supir angkutan yang saat itu berhenti tidak jauh dari kami, logat Sunda-nya begitu kental dengan senyuman ramah yang seolah menghangatkan keadaan kami.

      Angkutannya tampak kosong, tidak seperti beberapa angkutan yang melewati kamu dua-atau-tiga-kali sejak kami tiba di sini beberapa menit yang lalu, “Bang, kalo di sekitar sini ada tempat yang bagus di mana ya buat makan cemilan gitu?” tanyaku serius kepadanya.

      “Oh ada A’, palingan tiga kilo ke depan,” ujarnya, masih dengan logat Sunda-nya yang kental.

      “Lewatin sana gak Bang?” tanyaku lagi.

      “Lewat atuh A’, naek aja,” ujarnya, dan kami pun langsung naik dari pintu penumpang.

      “Tam, kamu serius?” tanya Talita, ia sedikit cemas dengan keputusanku untuk pergi menjauh dari tempat kami menginap.

      Aku mengangguk pasti, meyakinkan gadis itu. Kugenggam pelan jemarinya yang saat ini masih begitu dingin. Dan saat itu ia mulai bisa meredakan tensi, karena aku tahu ia tidak ingin terlibat masalah apabila kami pulang lebih dari jam malam yang diberikan oleh pihak sekolah.

      Tidak butuh waktu lama, angkutan umum itu tiba di lokasi yang disebutkan oleh pengemudinya. Lokasinya ada di sebelah kanan, langsung menghadap ke arah lembah yang begitu gelap dan pekat, tidak menunjukkan apapun kecuali kerlipan cahaya lampu rumah dan juga taburan bintang yang berada di atas horizon.

      “Di sini A’,” ujar pengemudi tersebut, aku lalu mengangguk dan memutuskan membayar ongkos sebelum turun dari angkutan tersebut, dan memberikan sejumlah uang.

      “Udah Bang, ambil aja kembaliannya,” ujarku saat ia ingin memberikanku kembalian.

      “Seriusan A’, waduh makasih banget ya A’, kebetulan banget ini,” ujarnya, dengan nada yang begitu antusias, seolah baru memperoleh durian runtuh, seraya dengan senyuman lebar yang tampak begitu bahagia dari wajahnya saat ini.

      “Sampe jam berapa angkot begini Bang?” tanyaku.

      “Ini abdi yang terakhir A’, biasanya teh paling telat jam tujuh dari Lembang, udah gak ada lagi. Emang Aa’ sampe jam berapa teh di sini?” tanyanya.

      “Jam sepuluh harus balik ke mess Bang,” ujarku ringan.

      “Mau abdi tungguin?” tanyanya ramah, “itung-itung Aa’ udah kasih banyak ini.”

      “Kalo gak ganggu Abangnya, saya gak masalah,” ujarku, diplomatis. Takut-takut ia memiliki urusan lain selain harus menungguku dan Talita malam ini, “saya bisa jalan sampe mess kok.”

      Tanpa komando, ia memutar kemudinya untuk memarkirkannya di lahan parkir yang ada di seberang jalan, mengantarkan kami hingga ke jajaran kios yang menjajakan penganan khas Lembang. “Udah Aa’ sama Teteh turun aja, abdi tungguin deh sampe selesai.”

      Ada senyuman yang mengembang dari bibir Talita saat ucapan terakhir pengemudi angkutan itu terlontar. Sebuah perasaan yang terlihat dari sorot matanya seolah mentransmisikan segenap kedamaian dan ketenangan di balik hatinya yang sejak tadi seolah penuh tanya dengan apa yang kami lakukan saat ini.

      Ribuan terima kasih kuhaturkan kepada pengemudi angkutan umum tersebut sebelum akhirnya kami melangkahkan kaki untuk turun dari kendaraan ini dan memilih kios yang sama-sama menjajakan komoditas yang sama, penganan pengusir rasa dingin yang begitu menusuk meskipun jam baru menunjukkan pukul 19.40.

      Masih lama, masih ada lebih dari dua jam waktu yang bisa kami habiskan sebelum kembali ke wisma tempat kami menginap. Dan tanpa ada pembicaraan, aku mengajak Talita untuk singgah di kios terdekat dari tempat kami turun saat ini.

      Kios ini dibangun sejajar, terdiri dari sepuluh sampai dua-belas kios yang konstruksinya berada di pinggiran tebing, di mana jurang benar-benar berada di bawahnya. Sisi luar kios ini terbuka, membiarkan pengunjungnya untuk dapat menikmati embusan angin lembah dan juga pemandangan malam yang cukup syahdu di udara yang begitu dingin ini.

      Gugusan bintang, terkonstelasi indah di atas kami, seolah menempel layaknya permata yang ditaburkan di atas karpet, begitu indah ditemani dengan pendaran cahaya Sang Luna. Tidak henti-hentinya aku mengagumi keagungan Sang Malik yang menciptakan segala benda langit yang tetap beredar di lajur dan porosnya.

      Talita pun menyerukan dengan pelan kekagumannya dengan tempat ini. Ia tidak dapat menyembunyikan ketakjuban hatinya saat ia benar-benar tahu di mana posisi kami berada. Senyumannya begitu tulus, membusur begitu indah di sepasang bibir tipisnya yang merah muda itu.

      Kami lalu duduk di sudut kios ini, masih menikmati embusan angin yang cukup menusuk, namun seperti yang kukatakan sebelumnya, selalu mendekap hangat dengan segenap kenangan yang tercipta di diriku hingga saat ini. tak lama, seseorang menghampiri kami.

      “Mau pesen apa, A’, Teh?” tanya penjaga kios yang mungkin seumuran dengan kami, seraya ia memberikan menu di balik kertas yang sudah dilaminasi ini.

      “Nanti aja Mbak,” ujarku seraya melontarkan senyum, “kita liat-liat aja dulu.”

      Talita sedikit terbelalak ketika melihat satu tulisan yang dicetak dalam huruf kapital dengan ukuran yang cukup besar. Aku yakin, bukan harga yang tertera di bagian kanannya yang membuatnya terperanjat, tetapi apa yang disajikan di sana yang membuatnya melihatku dengan pandangan tidak percaya.

      “Ini beneran kelinci yang dimasak Tam?” tanyanya, telunjuk mungilnya mendarat di atas tulisan tersebut, seraya memandangku dengan tidak percaya.

      Aku mengangguk pasti, “coba aja, enak kok. Aku pernah makan di sini sama di Sarangan dulu.”

      “Ih, gak kasian apa Tam, masa iya kita makan kelinci, kan lucu gitu,” ujarnya, dengan nada yang tinggi tetapi di amplitudo yang cukup rendah.

      “Apa iya pas kamu makan sapi juga mikirin sapinya?” tanyaku, seraya tertawa kecil, “sapi juga lucu kok Lit.”

      Sejenak gadis itu berpikir. Matanya terus berputar-putar di antar melihat tulisan yang berada di menu dengan etalase kecil yang berada di ujung kios. Mungkin ia penasaran dengan salah satu kuliner yang patut dicoba ketika singgah di sekitar Lembang, tetapi di satu sisi ia sedikit bergidik membayangkan bahwa apa yang santap adalah hewan kecil berbulu yang cukup lucu.

      “Udah, aku pesenin itu aja, satu porsi berdua, sama jagung bakar pedes ya,” ujarku, memutuskan sendiri tanpa persetujuannya.

      Aku lalu menghampiri penjaga kios tersebut, mengutarakan apa yang ingin kami santap malam ini. Tidak banyak, mengingat belum ada satu jam kami selesai menyantap makan malam di wisma tempat kami menginap. Rasanya tak sanggup aku untuk mengunyah lagi makanan untuk kumasukkan ke dalam perutku.

      Tidak ada komplain. Setidaknya itu yang aku suka dari Talita. Alih-alih mempertahankan argumentasinya, ia lebih memilih untuk mengikuti apa yang kuputuskan. Bahkan, ia mengangguk, tersenyum seraya memandangku dengan begitu manisnya.

      Sejenak aku teringat dengan Shinta, gadis yang selalu mengikuti apapun keputusanku tanpa ada sebuah frasa konservatif yang biasa dipegang teguh oleh gadis seusianya kebanyakan. Sedikit ingatanku terputar oleh tiga suku kata ajaib yang memiliki miliaran ambiguitas naif, terserah.

      Nadine dan Aerish merupakan gadis yang paling sering mengutarakan ekspresi inkonsisten tersebut, menyerahkan segenap pemrosesan instruksi melalui kepala seorang laki-laki yang tidak banyak mengenal perempuan seusianya, dan itu terkadang membuahkan eksekusi yang berbeda dari keinginan mereka.

      Tidak peka, itu menurut mereka saat keluaran yang dihasilkan tidak sesuai dengan algoritma berpikir mereka yang cukup rumit. Dan pada akhirnya, akulah yang menjadi tersangka atas rusaknya satu bit instruksi yang berakibat pada pembiasan hasil.

      Dan itu tidak ada di diri Talita, juga Shinta.

      “Seru juga ngedate sama Tama,” ujar Talita, tertawa kecil dengan wajahnya yang begitu merah.

      “Jadi kita ngedate nih, ehm, maklum baru pertama kali.”

      “Apaan dih, kamu kan udah sering jalan bareng sama Shinta. Masa iya kamu anggap itu cuma jalan biasa aja sih Tam,” ujar Talita, memprotes lisan yang kulontarkan barusan.

      Aku tersenyum, menggelengkan kepalaku pelan dan memandang lagi ke arah gadis ini, “kan aku udah bilang, aku sama Shinta cuma sahabatan. Meskipun, aku paham ada rasa pengen milikin dia, tapi aku gak mau rasa itu malah berubah jadi benci pada akhirnya.”

      “Eh, emangnya kenapa sih Tam, kamu cuma anggap dia sahabat kamu?” tanya Talita, penasaran dengan pernyataanku barusan.

      “Ini menurut pandangan aku loh Lit,” ujarku pelan, “cinta itu gak harus pacaran kan?”

      “Aku berpendapat, siapapun berhak jatuh cinta kepada siapapun, termasuk aku ke kamu, kamu ke aku. Tapi semua itu gak harus dengan sebuah titel pacaran kan?”

      “Menurut aku, sahabat itu tetep sebuah bentuk pertemanan yang saling mencintai tapi dengan cara yang beda dari orang pacaran.”

      “Kalo orang pacaran, kemungkinan bisa putus, terus abis itu marahan. Ato bisa mungkin lanjut ke pernikahan.”

      “Kalo sahabatan, sampe kapanpun akan selalu saling temen, saling mencinta. Bisa sampe akhirnya nikah kalo cowok sama cewek, atau tetep jadi sahabat seumur hidup.”

      Penjelasan itu cukup membuat lisan Talita tampak tertahan di kerongkongannya. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibirnya selain pandangan sayu di antara wajahnya yang sangat merah saat ini. Sungguh, tidak ada maksudku untuk membuainya dengan rayuan tersebut, tetapi itulah yang saat ini kurasakan.

      “Jadi, kamu juga cinta sama aku, gitu Tam?” tanya gadis itu pelan.

      Tanpa membuang waktu, aku menganggukan kepalaku, “sebagai sahabat, bukan sebagai pacar. Karena aku gak mau, saat aku atau kamu gak sepaham, terus kita putus. Kalo udah putus, kita gak akan bisa bertahan untuk saling cinta, dan saat itu cuma benci yang selalu ada di dalam hati kita ke orang itu.”

      “Berarti rasa kamu sama Aerish?”

      “Aku cinta sama dia, tapi aku gak bisa jadiin dia sahabat, karena aku punya rencana ke depan sama dia. Kalo aku gak nikahin dia, ya aku bakal jauhin dia.”

      “Tapi enggak buat Shinta, Nadine, dan sekarang kamu.”

      “Cinta itu kan cuma harus diungkapin, dan pernyataan hakiki dalam cinta adalah pernikahan, bukan pacaran.”

      Gadis itu tertunduk, entah apa yang ia pikirkan saat tidak lama dari diamnya, penjaga kios ini memberikan satu piring satai kelinci, dua buah jagung bakar yang berwarna agak jingga karena sambal yang digunakan, dan juga dua gelas bandrek yang masih mengepul.

      Setelah mengucapkan kata terima kasih, gadis penjaga kios itu langsung meninggalkan kami. Hanya suara deru mesin dan juga gemeretak roda yang membelah aspal yang berada sepuluh meter dari tempat kami duduk, tidak ada suara apapun dari Talita yang saat ini masih tertunduk di depanku.

      “Lit, kamu kenapa?” tanyaku pelan.

      Hening. Berat rasanya menunggu untaian lisan dari bibir Talita ketika angin terus menerus melambaikan kepakannya untuk menyentuh kulit-kulit kami saat ini. Kugenggam pelan jemarinya yang berada di atas meja ini, dan ia pun tersenyum melihat ke arahku.

      “Aku gak kenapa-napa Tam,” ujarnya pelan, “cuma aku baru nyadar, aku gak salah milih kamu sebagai orang yang aku cintai dari dulu.”

      “Dari dulu?” tanyaku keheranan, “dari kapan Lit?”

      “SMP Tam, kan aku udah cerita pas dari jaman kamu sering dateng sama Shinta. Dari sana, aku mulai jatuh hati sama kamu.”

      “Gak ada pamrih, dan tulus. Sosok itu yang aku liat pas kamu nganterin bukunya Shinta yang ketinggalan. Padahal abis itu kamu dihukum gara-gara telat,” ujar Talita, membuka kenanganku tentang Shinta beberapa tahun yang lalu.

      Aku tersenyum, “kalo kita udah sayang dan cinta sama sahabat kita, apapun kita lakuin.”

      “Seenggaknya itu yang selalu jadi patokan aku Lit tentang apa arti sahabat yang sebenernya.”

      Ia mengangguk, “kalo kamu bisa milih, kamu milih nikahin sahabat kamu, ato pacar kamu?”

      Aku menghela napas, sebuah pertanyaan jebakan yang mungkin akan sulit menemukan jawaban yang sesuai, tetapi aku berusaha untuk tetap fokus kepada pertanyaan antara sahabat atau kekasih. “Kalo pacar aku Aerish, mungkin aku milih sahabat aku Lit.”

      “Siapa?” tanya Talita pasti.

      “Shinta Adinda,” jawabku pasti, “dan kamu pasti tau jawaban itu kan.”

      Talita tersenyum, “aku tau pasti jawaban kamu Tam. Tapi, kalo menurut kamu cinta itu gak harus pacaran, gimana caranya dong?”

      “Kayak yang aku bilang Lit, yang penting diungkapin. Secara sendirinya, kita pasti akan menyesuaikan dengan apa yang harus kita lakuin. Itu jauh lebih baik daripada harus diem-diem, pura-pura gak cinta, tapi ngedumel kalo dideketin orang lain,” ujarku lalu tertawa kecil.

      “Bener juga sih Tam apa yang kamu bilang,” ujar Talita, “aku baru nyadar ternyata kalo pacaran itu endingnya bisa nikah bisa enggak.”

      “Dan aku baru paham, sama kayak sekarang kondisi aku sama Lingga. Dulu saling perhatian, saling sayang, sekarang kita saling jauh-jauhan, musuhin satu sama lainnya, dan yang pasti gak bisa kayak dulu.”

      “Tapi ada satu hal Tam,” ujar Talita pelan, “aku gak setuju dengan cara kamu memandang cinta dan persahabatan,” gadis itu mulai serius.

      Aku menganggukkan kepala, “kamu punya pandangan sendiri tentang itu, dan menurut aku itu bukan hal yang jadi masalah kan?”

      Gadis itu mendekatkan tubuhnya ke arahku, “kamu tahu gak, kalo pandangan kamu itu salah Tam.”

      “Sahabat itu gak akan pernah jadi cinta, apalagi sampe nikah.”

      “Soalnya,” ujarnya ragu.

<<< SEBELUMNYA (EP295)


Diubah oleh m60e38
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di