KATEGORI
KATEGORI
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Tentang Sebuah Nama: Talita | Bagian 3

TENTANG SEBUAH NAMA: TALITA (BAGIAN 3)


      April 2006.

      Talita hanya memandangku, dari atas ke bawah, tersenyum sesekali tertawa kecil lalu memandang lagi ke arah mataku. Ia melangkah lagi maju dan menyandarkan lagi tubuhnya di tubuhku, “kalo aku nilai kamu dari fisik, jelas kamu gak ada apa-apanya sama Kak Lingga.”

      “Tapi kalo rasa nyaman itu, aku cuma bisa dapet dari kamu Tam.”

      “Kenapa loe bisa ngerasa kalo nyaman itu ada di gue Lit?” tanyaku keheranan, “seharusnya kan loe bisa dapet itu dengan mudah dari cowok loe?”

      Ia menggelengkan kepalanya, “justru itu yang aku gak tau Tam, entah kenapa aku malah ngerasa nyaman ada sama kamu ketimbang sama Lingga.”

      Dan, tiba-tiba mega langsung mencurahkan muatannya. Hujan deras namun lembut seolah tumpah di atas kami. Menimbulkan suara riuh saat butir demi butir beradu dengan dedaunan, menggemercikkan suara yang begitu menenangkan seraya menebarkan harum air yang amat menyejukkan.

      Tanpa aba-aba, kutarik lembut tangan Talita untuk segera berteduh di tempat terdekat. Kebetulan, di dekat sana ada sebuah gubuk berukuran tiga-kali-tiga-meter, tanpa pikir panjang kuajak gadis itu untuk berteduh di gubuk yang sudah begitu sesak dengan aku dan juga Talita.

      Gadis itu memandangku, di antara cahaya siang yang begitu seadanya saat ini. Sungguh, ini mengingatkanku tentang peristiwa setahun yang lalu bersama Nadine di Tangkuban Parahu. Dan kali ini, Talita adalah gadis yang berada bersamaku, di bawah guyuran hujan Kota Bandung yang selalu membangkitkan segenap kenangan yang telah tercipta di setiap detiknya.

      Harum air yang bercampur daun, seraya embusan angin yang selalu saja menerpa kulitku tanpa henti langsung membawa suasana siang ini menjadi syahdu. Talita, dengan tanpa canggung mendekap tanganku dengan erat. Ia tidak mengarahkan wajahnya ke arahku.

      Aku hanya berdiri, mematung seraya lisanku yang terkunci akan apa yang dilakukan oleh talita. Harum tubuhnya benar-benar bisa kuendus dengan begitu jelas, aku merasa ada sebuah getaran yang mungkin baru kusadari saat ia berada sedekat ini denganku saat ini.

      “Loe kenapa Lit?” tanyaku, masih saja keheranan dengan apa yang gadis ini lakukan.

      “Udah kamu diem aja,” ujarnya pelan, “jarang banget aku bisa ngerasain ini dari seorang Faristama yang selalu dingin dan enggak peka.”

      Aku terdiam, sekali lagi. Hanya bisa merenungi kata-kata Talita di bawah guyuran hujan yang semakin deras pada siang ini. Sungguh, tiap detik yang berlalu seiring dengan rintik hujan yang seolah tidak lelah untuk membasahi aspal dan beton yang melapisi tanah, menari-nari begitu lincah dan menggenangkan setiap kesejukan bagi yang diterpanya.

      “Kenapa loe nilai gue begitu Lit?”

      Gadis itu mengeratkan dekapannya di tanganku, “kalo dulu aku mikir, cowok yang jago basket, jago gitar, ato penampilannya menarik itu selalu jadi cowok idola.”

      “Tapi, entah kenapa sejak aku kenal kamu, semua kriteria yang ideal menurut aku ilang saat aku ketemu kamu.”

      “Seorang Faristama Aldrich, bukan anak jago basket kayak Kak Ori, ato juga gak jago gitar kayak Kak Lingga, apalagi penampilannya menarik.”

      “Aku gak tahu kapan aku mulai ngerasa, ya seorang cowok itu kayak kamu Tam,” ujar Talita, “kamu selalu tampil adanya dengan dasi kamu yang selalu rapi dari pergi sekolah sampe pulang.”

      “Aku selalu kagum karena kamu gak pernah coba cari role model buat diri kamu menarik,” ujar Talita pelan.

      Aku menghela napas, saat aku tahu tubuh mungil gadis ini bergetar. Sweater cokelat yang biasa kugunakan saja tidak mampu membendung udara dingin yang saat ini menyelimuti dan menusuk tubuh kami dengan begitu perlahan.

      Sejalan, aku melepas dekapan tangan Talita yang saat itu hanya melihatku dengan keheranan dan wajah yang merah, meskipun cahaya Sang Sol masih tertutup mega yang begitu pekat bergantung di atas kami. Ada raut wajah kecewa tersurat dari sorot matanya yang begitu nanar saat ini.

      Aku hanya tersenyum, melepas sweater ini dan mengenakannya di tubuh mungil Talita.

      Ia sedikit terperanjat seraya kepalanya yang sedikit ditundukkan, seolah enggan untuk sekadar menatapku untuk sekelibatan saja. Aku menarik lagi pelan tangannya dan memposisikannya sama seperti sebelumnya. Kali ini, sepasang jemari mungilnya terus mendekapku lebih erat lagi.

      “Makasih loh Lit, gue gak nyangka ada cewek yang nilai gue kayak begitu,” ujarku lalu tersenyum kepadanya.

      “Gue gak lebih dari seorang yang mungkin gak menarik, ya loe tau kan.”

      “Justru itu Tam,” sahut Talita, “kamu itu beda sama cowok-cowok yang pernah aku kenal, yang justru coba buat jadi orang lain.”

      “Sementara kamu tetep jadi diri kamu yang mungkin menurut kamu gak menarik.”

      “Tapi jujur aku suka banget sama semua sikap kamu yang kayak begitu, gak pernah coba buat jadi orang lain. Aku gak tau udah berapa kali ngomong ini sama kamu, tapi aku suka karena kamu apa adanya Tam,” ujar Talita pelan.

      Segenap sadarku langsung menyembul di antara hening dan diam. Segala ucapan Talita barusan seolah menyadarkanku tentang sesuatu, bahwa ada hati lain yang begitu memperhatikanku, mencoba mencari celah di antara keteguhanku akan Aerish dan juga rasa kecewa yang selama ini kupendam.

      Sungguh, Talita seolah berhasil menemukan celah itu. Mengisinya dengan bentuk perhatian lain yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Baru kali ini aku merasakan kehangatan lain di dalam diriku, selain dari apa yang telah Nadine dan Shinta berikan kepadaku.

      Untuk kesekian kalinya aku hanya dapat terdiam, menikmati tiap detik yang berlalu bersama Talita di bawah guyuran hujan yang tampak belum ada tanda-tanda menyerah dari atas sana. Suara gemuruh petir pun sesekali terdengar cukup menggelegar, seraya kilatan cahaya tampak merobek mega yang begitu gelap di atas kami.

      “Makasih Lit,” ujarku, setelah sekian lama aku terdiam, “makasih sekali lagi.”

      “Gue gak tahu harus ngomong apa sama loe, yang pasti loe tau kan perasaan gue gimana sama Aerish.”

      “Tama,” panggilnya pelan, “aku tahu kok, tapi bukan itu maksud aku.”

      “Aku cuma pengen ungkapin apa yang udah ada di hati aku. Dan seenggaknya setelah aku ngomong sama kamu, ada satu kelegaan yang mungkin selama ini aku pengen,” ujarnya, tersenyum kepadaku.

      “Gimanapun, aku gak akan menang lawan Aerish. Nadine yang lebih cakep dari Aerish aja gak pernah kamu anggep, apalagi aku.”

      Deg!

      Aku sedikit terperanjat dengan ucapan gadis ini. Aku tidak menyangka frasa itu keluar dari lisan mungilnya saat ini. Bukan, bukannya ia tidak secantik Aerish, atau tidak sesintal Nadine. Tetapi, secara fisik Talita adalah gadis yang begitu menarik, wajahnya begitu cantik dengan bibirnya yang tipis dan juga hidungnya yang mancung. Bulu matanya begitu lebat dan lentik, seolah melindungi cahaya matanya yang selalu berbinar saat ia memandang.

      Sesak rasanya saat Talita mengatakan hal itu. Aku benar-benar tak habis pikir, bagaimana ia bisa berbicara seperti itu kepadaku.

      Rasa canggung yang mendekapku sedari tadi semakin menjadi tatkala kedua tangan Talita tampak begitu nyaman mendekap lenganku di antara dinginnya udara Bandung yang sejak tadi seolah tidak pernah berhenti untuk menggigit kulitku.

      “Bukan gitu Lit,” sanggahku setelah sekian lama terdiam, “bukan masalah loe cakep ato gak cakep.”

      “Bego gue kalo bilang seorang Talita bukan cewek yang cakep.”

      “Tapi, cinta itu bukan masalah cakep ato gak cakep Lit,” ujarku lalu menghela napas, “tapi lebih perasaan yang ada di dalem hati, seenggaknya begitu menurut gue.”

      “Kamu paham kan Tam,” ujar Talita, “hal itu yang ngebuat aku begitu tertarik sama kamu, bukan karena apapun, tapi perasaan di dalem hati aku buat kamu.”

      “Tapi loe bercanda kan Lit dengan semua omongan loe tadi?”

      Ia menggelengkan kepalanya dan menyandarkannya di pundakku, “aku selalu serius kalo masalah hati Tam. Buat aku salah satu hal yang bikin aku semangat kadang ya karena di kelas aku bisa ketemu sama kamu.”

      “Meskipun baru bisa sekelas dari kelas X.”

      “Aku tahu kamu sejak kamu sering maen ke kelasnya Shinta, dan sejak itu aku tahu gimana kamu memperlakuin Shinta.”

      Aku menghela napas panjang, “Shinta itu lebih berharga dari apapun Lit, bahkan kalo gue harus milih siapa yang harus gue selametin antara Shinta ato Aerish, gue pasti milih Shinta.”

      “Aku tahu Tam,” ujar Talita pelan, “aku tahu gimana kamu selalu ngasih banyak hal ke Shinta, tapi kamu gak pernah sekalipun ambil kesempatan buat lebih dari anggep Shinta sebagai temen.”

      Aku menghela napas panjang, sekali lagi, “Shinta itu lebih dari apapun Lit. Seandainya dia gak lebih milih Agung, mungkin gue lebih bisa jagain dia sekarang.”

      “Dia sebenernya juga gak suka kok Tam sama Agung,” ujar Talita pelan.

      Deg!

      Sejenak aku terperanjat dengan ucapan Talita. Lagi-lagi, sebuah frasa singkat yang terlontar dari lisannya berhasil membuatku terdiam untuk kesekian kalinya.

      Entah apa yang kupikirkan tentang gadis itu saat ini, tetapi apa-apa yang dikatakan Talita seolah menyadarkanku sesuatu tentang hal yang tidak pernah kuketahui tentang Shinta. Apakah memang ia sengaja menyembunyikannya dariku, atau ia bermaksud sesuatu dengan hal itu?

      Aku hanya tidak dapat mengerti apa yang saat ini kurasakan.

      “Kamu mikirin Shinta ya Tam?” tanya gadis itu pelan.

      Kuanggukkan kepala pelan seraya menghela napas, “dia sahabat terbaik gue Lit.”

      “Gue pikir, Agung bisa ngebuat dia bahagia. Tapi denger apa kata loe barusan, gue jadi mikir, mana mungkin Shinta bahagia kalo dia gak cinta sama Agung.”

      “Shinta pasti gak enak ngomong sama kamu Tam,” ujar Talita, “dia mungkin gak mau kamu kepikiran kayak gini.”

      Aku menggelengkan kepala, “justru harusnya dia tahu kalo gue itu pasti akan lakuin banyak hal. Seenggaknya gue bisa bikin dia bahagia.”

      “Dengan tetap jadi sahabatnya?” tanya Talita pelan, ia memandangku lalu menggelengkan kepalanya ringan, “itu gak mungkin Tam.”

      Aku menghela napas. Seraya menikmati tiap-tiap embusan angin dingin yang terus menerpaku. Pandangan Talita seolah mendekapku dengan kehangatan yang selalu terpancar dari sorot matanya, begitu bening. Aku bahkan bisa membaca segala lisan yang masih tertahan di bibir tipisnya yang saat ini hanya terbuka sedikit.

      Apa yang kupikirkan saat ini?

      Entahlah, hanya ada rasa canggung yang terus menerus menggelontori segenap hati yang saat ini benar-benar tidak bisa tenang disaat hujan turun semakin deras dan aku bisa dengan mudah merasakan butiran-butiran halusnya tertiup angin dan membasahi kulit lenganku.

      “Kamu gak kebasahan Tam?” tanya Talita, seolah mengetahui apa yang kupikirkan barusan.

      Aku tersenyum, “gak masalah Lit, yang penting loe gak kebasahan.”

      “Enak ya, kalo ada di posisi begini sama orang yang kita cinta,” ujar Talita pelan, sungguh aku benar-benar mendengar kata-kata itu terlontar halus dari lisan mungilnya, diakhiri dengan senyuman yang begitu manis dan membuatku sedikit terhentak.

      “Maksud loe?” tanyaku, seolah tak percaya dengan lisan lembutnya barusan.

      Ia menggelengkan pelan kepalanya, “bukan apa-apa kok Tam,” ujarnya, berkilah bak Michael Schumacher, langsung mengambil lajur dalam saat ada pebalap yang lebih lambat didepannya dan diberikan isyarat bendera biru oleh pengawas lomba.

      Aku hanya dapat terdiam, sementara gadis itu tampak nyaman menyandarkan tubuh mungilnya di tubuhku. Padahal, aku benar-benar merasa begitu canggung saat ia melakukan ini. Rasanya, aku masih tidak bisa percaya dengan apa yang terjadi saat ini.

      Talita Ardisha, gadis yang begitu tertutup di balik segala keindahan yang tidak pernah kuakui, ia kini berada sangat dekat denganku. Segenap kehangatannya terus menceritakan rasa yang tercipta di dinginnya udara Bandung siang yang masih gelap ini.

      Deru mesin Otto masih terus lalu lalang di depan kami. Gemercik air hasil pembelahan karet bundar yang terus merobek aspal terus saja terdengar silih berganti, meski tidak seberapa sering. Gemuruh langit pun terus menerus bersahutan, menciptakan sebuah harmoni mayor yang begitu mencekam ketika sekejap cahaya langit berhias di atas sana, seolah merobek mega dengan begitu gagahnya.

      Ah, butiran air yang terbang dibantu angin ini semakin lama semakin kentara membasahi kulitku.

      Sejenak, aku masih melihat Talita, berlindung di balik tubuhku, masih mendekap lengan ini dengan begitu erat. Jemari mungil dan bersihnya tampak begitu kontras dengan kulitku yang gelap ini. Bahkan, tak jarang ia malah mengusap kepalanya di pundakku saat aku tahu ia mulai kedinginan.

      “Loe dingin Lit?” tanyaku pelan.

      Ia mengangguk, seraya mengeratkan genggaman tangannya di lenganku, “banget Tam.”

      “Sorry ya, gue malah ngajak loe ke sini, harusnya kita diem aja di bis tadi,” ujarku lesu, sungguh aku merasa amat bersalah sudah mengajaknya untuk mengitari area kampus ini sebelum akhirnya hujan lebat turun, dan belum ada tanda akan berhenti.

      “Justru aku seneng kamu ajak ke sini Tam,” ujar Talita, “aku malah bisa deket sama kamu, gak harus diganggu sama Nadine.”

      Aku menghela napas, “kenapa Nadine?”

      “Anak-anak kelas semua juga tau kali Tam, kalo Nadine itu naksir sama kamu dari dulu,” ujar Talita pelan, “tapi kamunya aja gak peka.”

      “Kayaknya kita udah bahas ini deh tadi,” ujarnya lalu memandangku.

      Aku mengangguk, “kan gue udah bilang, perasaan gue cuma buat Aerish. Gue gak bisa alihin sedikit aja pandangan gue dari Aerish.”

      “Andai gue bisa, mungkin orang itu bukan Nadine,” ujarku lalu menghela napas.

      “Eh, Tam?” tanya Talita agak terperanjat, “kamu sedeket itu sama Nadine, tapi kenapa kamu gak bisa alihin hati kamu buat Nadine?”

      Aku menggeleng, “kalo gue bisa, gue akan lebih pilih Shinta,” ujarku pasti, “tapi karena loe ngomong dia gak bahagia sama Agung, gue malah kepikiran sekarang.”

      “Ya coba kamu tanya aja ke dia,” ujar Talita dengan nadanya yang seperti biasa, “nanti malem deh aku yang ajak Shinta, jadi gak usah kamu yang minta.”

      “Loe paham, Agung takut gue nemuin Shinta,” ujarku seraya memandang ke arah pepohonan yang masih menggemercikkan curahan mega yang masih saja turun begitu lebatnya.

      “Makanya, nanti malem aku yang ngajak Shinta, mungkin kamu harus denger langsung dari dia Tam.”

      “Buat apa susah-susah Lit,” ujarku lalu memandangnya, “tau dari loe aja udah cukup kok.”

      “Lagian, gue maunya nanti malem kita aja yang ngobrol berdua abis makan malem,” ujarku lalu tersenyum kepadanya, “dan gue gak peduli apa kata orang tentang gue.”

      Wajah Talita sontak langsung memerah, lebih merah dari air muka yang ia tunjukkan kepadaku sejak tadi. Lisannya langsung terkunci di antar bibir mungilnya yang sedikit terbuka mendengar kata-kata dariku barusan.

      Sungguh, aku tersentuh dengan apa yang ia ucapkan tadi.

      Tentang bagaimana ia memandangku, dan tentang bagaimana ia bisa mendapatkan kenyamanan yang tidak semua orang bisa peroleh dari diriku yang berhati papa ini.

      Sungguh, aku tak mampu untuk sekejap saja mengalihkan sorot hatiku ini.

      Tentang bagaimana aku masih mencintai dan mengharapkan Aerish untuk kembali kepadaku, dan melanjutkan kisah yang telah lama hilang ini.

      Sungguh, aku tidak dapat sejenak saja mengubur segala rasa yang terus berdegup ini.

      Tentang bagaimana aku bisa memandang cinta dari sisi lain selain dari diri Aerish yang mungkin tidak pernah menganggapku ada hingga saat ini.

      “Makasih Tam,” ujar Talita pelan, “makasih buat ajakan kamu.”

      “Aku harus pake baju apa nanti?” Talita memandangku, seolah ia sedang berbicara dengan belahan hati yang selalu ia puja setiap saat.

      Aku tersenyum, “loe itu cantik Lit, apapun yang loe pake. Dan gue mau loe terus jadi diri loe, tanpa loe harus jadi ini ato itu.”

      Seluruh jemari gadis itu menggenggam erat tanganku, meletakkannya di depan dadanya seraya memandangku, “biarin rasa itu terus di sini Tam, sampe kapanpun. Rasa ini cuma punya kamu.”

      “Tiap cewek punya sudut hati terdalam yang mungkin gak akan pernah diraih oleh laki-laki manapun lagi, dan sudut terdalam itu cuma punya kamu.”

      Deg!

      Mengapa ia begitu mudah mengatakan itu kepadaku?

      Mengapa secepat ini?

      Aku hanya dapat terdiam sejalan dengan degup jantung yang terus berdetak semakin cepat saat senyuman gadis ini semakin tidak dapat menyembunyikan seluruh perasaannya. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan tanganku tetap di sana, merasakan denyutan lembut yang terasa begitu cepat.

      “Aku gak bisa boongin perasaan aku buat kamu Tam.”

      “Dan sekarang kamu udah tahu kan gimana perasaan aku,” ujarnya lalu menggenggam lagi tanganku, “dan aku punya satu permintaan ke kamu.”

      Napasku bahkan terasa begitu sesak tertahan saat ia mengatakan frasa barusan.

      “Aku mau kamu,” ujarnya ragu.

<<< SEBELUMNYA (EP293)


Diubah oleh m60e38
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di