alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 95 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
MENCARI LENCARI 3

Jingga sebetulnya sudah berusaha menghindar untuk tidak bersama sama Janur malam ini. Tapi dasar Janur, Ia ikut saja kemana Jingga berjalan. Apalagi kalau bukan mau curhat semalam suntuk. Membuat rencana Jingga terganggu.
Usai makan malam, Jingga minta berjaga di menara. Ki Sumo yang sedikit banyak bisa mengetahui kelebihan Jingga dibanding yang lain, mengijinkan Jingga untuk berjaga dimana saja asal memberitahunya.
"Saya mau berjaga dengan Jingga Ki," pinta Janur.
"Kamu apa tidak capek? Bukankah malam ini kamu kosong, baru besok pagi jadwalmu berjaga. Awas kalau besok saat berjaga tidur. Tak ikat dikandang kuda," ancam Ki Sumo setengah bercanda.
"Kalau begitu aku nongkrong menemani Jingga, kalau sudah ngantuk, baru aku tidur," pinta Janur memaksa.
"Bagaimana Jingga?" Ki Sumo terlihat menyerah.
"Ya tidak apa apa, asal kalau ada yang menyusup malam ini. Harus siap berkelahi," jawab Jingga sambil melirik Janur.
"Jangan menyepelekan Janur, meski ganteng tapi jago berkelahinya," cerocos Janur sombong.
"Ya sudah, kalian naik saja ke menara," Ki Sumo memerintah ke Jingga dan Janur.

Malam ini bulan tertutup awan. Suasana lebih pekat dari malam sebelumnya. Jingga duduk ditempat semalam, menghadap luar ke jalanan depan dan kediaman Selir Raja. Sedang Janur duduk dibaliknya, menghadap kedalam kediaman Raden Natanegara. Lebih tepatnya menghadap kaputren, tempat Dyah Pramesti dan Dyah Wulandari tinggal.

"Jingga, tadi menyenangkan sekali ya?"
"Masak? yang sepanjang jalan tidak mau bicara itu siapa? Prewanganmu ta?" goda Jingga.
"Oh yang itu aku masih ngantuk," elak Janur, padahal waktu itu Ia cemburu, marah, gengsi, malu bercampur satu.
Jingga tersenyum mendengar alasan Janur. Pandangannya tetap mengawasi jalanan dan kediaman Selir Raja.

"Jingga, aku dan kedua Ndoroku itu sebetulnya sudah lama dekat, tapi status kami yang menghambat. Menurutmu aku harus bagaimana?"
"Sedekat apa? Coba ceritakan kedekatanmu, biar aku tidak salah tangkap,"
"Ya dekatlah,"
"Coba ceritakan,"
"Sebelum kamu datang, aku sering disuruh beli beli barang diluar oleh keduanya,"
"Mereka menemuimu?"
"Ya ampun, kamu ini kok tidak mengerti. Ya tidak mungkinlah mereka menemuiku langsung, derajat mereka terlalu tinggi,"
"Terus siapa yang menemuimu?"
"Abdi dalem utusannya,"
"Oh," Jingga tersenyum. Memang kalau sudah kasmaran, kadang bisa lupa keadaan yang sebenarnya. Apakah aku seperti Janur? Tanya Jingga pada dirinya sendiri. Apakah mungkin hanya aku yang berharap banyak kepada Lencari, sedangkan Lencari sendiri menganggap angin lalu. Memikirkan hal itu, pikiran Jingga jadi kacau.
Tidak mungkin, bukankah dulu Ia sampai sakit karena memikirkanku? Jingga menarik nafas lega.
Tapi mudahnya Ia tertawa kala bertemu teman kecilnya disaat aku ketakutan kehilangan dia, pikiran ini membuat hati Jingga kembali gunda.
"Aku harus segera menemuinya," tekad Jingga tidak kuat menahan semua pikiran pikiran buruk di benaknya.
"Tapi aku tidak ingin membuatnya menderita. Aku menyukainya karena ingin membahagiakannya. Kalau tindakan nekadku membuatnya menderita. Aku yakin itu bukan perbuatan orang yang mencinta, tapi perbuatan orang egois," kembali bantahan muncul menyurutkan rencana nekatnya.
Jingga bangkit menepis suara suara di benaknya. Ia berjalan menghampiri Janur yang ternyata sama dengan dirinya, melamun.
"Ngelamun apa hayo, kok diam dari tadi?"
"Pusing, setiap aku bayangkan kehidupanku dengan kedua Ndoroku, kok semuanya gelap. Aku jadi takut," kata Janur dengan wajah pasrah.
"Berarti belum waktunya kamu memikirkan kearah sana, jadi nikmatilah apa yang ada, bergembiralah," saran Jingga.
"Berarti hubunganku hanya senang senang saja?"
"Iya, bagaimana lagi, bisanya begitu,"
"Kapan aku bisa menjalin hubungan yang serius?"
"Saat kamu dengan dia mempunyai angan kedepan yang sama, itulah saatnya kamu serius," jawab Jingga sok tahu, padahal apa yang diucapkannya hanya nukilan dari buku yang pernah Ia baca.
"Terimakasih sarannya, aku turun dulu," Janur bangkit melangkah menuju tangga turun. Jingga mengangguk lalu kembali ke tempat berjaganya.
Setelah sepi, Jingga mulai memusatkan energi dan inderanya untuk menguasai diri dan sekitarnya. Perlahan suara suara disekitarnya menjadi jernih, semua pergerakan dalam pandangannya terlihat lambat dan jelas.
Jingga memusatkan perhatiannya ke kediaman Selir Raja. Sepi, tak ada gerakan mencurigakan. Hanya sesekali abdi dalem berjalan. Selebihnya sepi, tenang.
Dimana Lencari?

***

Pagi pagi, Jingga dikejutkan oleh kedatangan ibu ibu abdi dalem. Ia menyampaikan kalau selepas sarapan ditunggu Ndoro Dyah Harum di kandang kuda. Wah ada apa ini? Apakah Dyah Pramesti sudah menyampaikan keinginannya belajar berkuda dan memanah? Pikiran Jingga menebak maksud dirinya dipanggil.
Segera Ia bersiap, tanpa menunggu waktu sarapan Jingga menuju kandang kuda. Sengaja mendahului datang karena tidak ingin menjadi orang yang ditunggu.
"Pagi Paman," sapa Jingga ke penjaga kuda, "Boleh saya bantu?"
Jingga menawarkan diri membantu memberi pakan rumput segar dari ongkek.
"Eh Jingga, tidak usah, ini sudah pekerjaan saya sehari hari," tolaknya. Namun Jingga sudah mengambil seonggok besar rumput untuk diletakkan ditempat makan kuda didepan kandang. Dengan cara inilah Jingga bisa lebih dekat dengan kuda kuda itu.
Dikandang ada delapan kuda, semuanya jantan. Empat kuda untuk menarik kereta. Dua kuda untuk tunggangan. Sepertinya kuda tunggangan Raden Natanegara.
"Boleh aku berkenalan dengan kuda itu?" Pinta Jingga menunjuk kuda tunggangan yang paling besar.
"Boleh," jawab SUkemi, Ia sudah mengenal kemampuan Jingga mengambil hati kuda. Jadi tidak ragu memberi ijin.
Ditemani Sukemi, Jingga perlahan mendekati kuda itu dari samping. Lalu dielus elus sambil berbicara layaknya teman. Jingga menceritakan kuda kuda yang dikenalnya dulu semasa di Blambangan. Terlihat kuda itu menerima sentuhan Jingga. Melihat Jingga sudah diterima, Sukemi pamit melanjutkan kerjanya.
Saking asiknya bercengkrama dengan kuda, tak terasa matahari semakin benderang menyinari. Tak terlihat lagi Sukemi yang tadi hilir mudik merawat kuda kuda.
Jingga segera keluar kandang melihat Sukemi datang mengiringi Dyah Harum dan Dyah Pramesti.
"Selamat pagi Ndoro," sambut Jingga memberi hormat.
"Pagi,"
"Kamu bisa mengajari menunggang kuda?" Tanya Dyah Harum langsung.
"Bisa Ndoro,"
"Bisa menjamin tidak terjadi apa apa pada anakku?"
"Hamba menjamin Ndoro,"
Terlihat wajah Dyah Pramesti gembira. Berbalikan dengan wajah Dyah Harum antara tidak senang dan khawatir.
"Sudah kan?" Tanya Dyah Harum yang semalaman dipaksa Dyah Pramesti memberi ijin belajar berkuda dan memanah, keinginannya sejak masih kecil. Anak ini memang lain dari kakaknya yang adapnya halus. Setiap hari harus diingatkan kalau dirinya itu perempuan, tidak boleh semaunya bersikap. Untungnya Ia menurut, sehingga orang luar mengenal adap perilakunya sama dengan kakaknya yang lemah lembut.
Tapi entah kesurupan demit apa, semalam Ia bersikap lain. Memaksa minta belajar berkuda dan memanah. Bahkan sudah menemukan guru yang akan mengajari dua keterampilan itu. Dia mengancam kalau tidak diijinkan, Ia tidak akan bersikap lemah lembut lagi. Kalau masih tidak diijinkan, Ia mengancam tidak mau belajar ilmu lain yang diwajibkan Ayahanda dia pelajari setiap hari.
Menghadapi ancaman itu, Dyah Harum terpaksa menuruti. Berharap bila ternyata susah, nantinya akan bosan sendiri.

"Belum, memanahnya juga sekalian," pinta Dyah Pramesti.
"Kamu bisa mengajari memanah?" Tanya Dyah Harum.
"Sebagai Prajurit, Hamba wajib mengusai dua keahlian dasar itu Ndoro," jawab Jingga.
"Kamu Prajurit kesatuan mana? Trus mengapa menjadi penjaga disini?" Selidik Dyah Harum.
"Hamba dari Jala Yudha, menjadi penjaga disini karena ditugaskan guru Hamba belajar pengamanan ke Ki Sumo, rekan semasa aktif dulu,"
"Rencana berapa lama?" Tanya Dyah Harum lagi, padahal Ia sudah tahu dari laporan Ki Sumo. Sekarang Ia ingin dengar langsung dari orangnya.
"Sepasar Ndoro, mengisi liburan. Setelah itu hamba harus berdinas lagi,"
Dyah Harum tersenyum. Berarti tinggal beberapa hari, anak ini sudah pergi. Jadi tidak ada lagi acara berkuda dan memanah lagi.
"Baiklah, ajari anakku berkuda dan memanah, jangan sampai terjadi apa apa pada anakku, kalau tidak aku laporkan pada pimpinanmu."
"Siap Ndoro,"
"Esti, sudah sana belajar. Jangan main main."
"Baik Bunda," Pramesti menciumi ibundanya dengan gembira. Tak peduli Ibundanya risih dilihat Jingga dan Sukemi.

***

"Ayo mulai belajarnya," ajak Pramesti. Gadis itu mengenakan celana selutut dibalut kain batik lasem diatas lutut sedikit. Sementara atasannya mengenakan kemben ditutup kemeja cina. Entah ini model apa, yang jelas Dyah Pramesti terlihat gagah sekaligus anggun.
"Mari," Jingga mengajak ke kandang kuda. Mengeluarkan kuda tunggangan yang Ia dekati tadi. Sukemi mengambilkan pelana dan memasangnya.
"Pelajaran pertama, menaiki kuda lalu duduk di pelana," Jingga memulai mengajar, "Saya contohkan dulu,"
Jingga berpindah ke sisi kiri kuda. "Pastikan kudanya tenang. elus eluslah sebentar agar kudanya tenang. Naikkan kaki kiri ke injakan. Pegangan ujung depan pelana lalu injak dan tarik badanmu bersama sama, lemparkan kaki kananmu melewati pelana. Masukkan kaki ke pijakan. Pegang tali kekang, selesai. Turun juga begitu.Pegangan ke pegangan pelana, tekuk kaki kanan kebelakang lalu turun dengan berpijak pada injakan kaki kiri. Selesai," papar Jingga sambil memeragakan naik turun kuda yang aman.
Seksama Pramesti mengikuti penjelasan Jingga.
"Ayo sekarang coba naik turun kuda," Jingga mempersilahkan Pramesti mencoba. Ia sendiri bergeser ke depan memegang kekang disamping kiri mulut kuda.
Pertama mencoba, kaki kanannya tidak bisa melewati punggung kuda. Baru pada percobaan ketiga, Pramesti akhirnya bisa duduk diatas pelana. Bulir bulir keringat didahinya mulai muncul.

"Bagus, Ndoro cepat bisa," Puji Jingga memberi semangat. "sekarang pegang kekang. Ingat bukan ditarik terus menerus. Posisikan dudukmu nyaman dan seimbang."
Sukemi memperbaiki panjang injakan agar pas dengan postur kaki Pramesti.
"Sudah merasa pas dan nyaman?"
"Sudah,"
"Baik, sekarang mulai belajar berjalan pelan. Caranya, jepitkan kaki sedikit ketat ke badan kuda. Semakin kencang menjepitnya semakin kencang kuda berjalan. Usahakan badan tetap tegak lurus agar tidak jatuh."
"Nah begitu, bagus,"
"Baik, jalankan pelan pelan,"
"Wah bagus, konsentrasi,"
"Kakinya jangan tegang, nanti pegal,"
"Hebat, tali kekangnya jangan kencang ditarik, nanti berhenti mendadak,"
"jangan cepat cepat dulu,"
"Tarik sedikit kekangnya ke kanan, nah kan belok kekanan,"

Begitulah petunjuk Jingga sambil mengiringi disisi kuda. Pramesti terlihat bersungguh sungguh mengikuti petunjuk Jingga. Di kejauhan Dyah Harum terus mengawasi. Pikirannya masih belum pasrah membiarkan anaknya belajar menunggang kuda.

Bagi Pramesti waktu terasa cepat berlalu. Tak terasa matahari sudah hampir lurus diatas kepala. Hatinya ingin terus, tapi rasa haus dan lelah mengalahkannya.
"Saya rasa latihan hari ini sudah cukup,"
Pramesti mengangguk, keringat sudah membasahi tubuhnya.
"Sekarang coba turun dari kuda,"
Pramesti memegang pegangan pelana lalu melepas pijakan kaki kanan. Ia lalu miring kekiri bertumpu pada pijakan kaki kiri. Saat kaki kanan diangkat, tiba tiba Ia mengeluh sakit. Kaki kanannya kaku tidak bisa digerakkan. Cepat Jingga menangkap tubuh Pramesti yang hampir jatuh. Membopongnya ke sebuah bale.
Dibopong begitu, Pramesti terkejut, bingung malu bercampur jadi satu. Tangan kanan Jingga terasa kokoh membopong punggungnya, sedang tangan kirinya membopong di lututnya. Pramesti hanya bisa memandangi dagu Jingga dari dekat.
Perlahan Pramesti didudukkan diatas bale bambu.
"Mohon kakinya luruskan," pinta Jingga. Pramesti meluruskan kakinya dengan susah payah. Ia menggeliat menahan sakit. Jingga meminta ijin. Kedua ujung kaki Pramesti ditekuk keatas sampai gumpalan betisnya turun.
"Masih sakit?"
"Sudah tidak sakit," jawab Pramesti, wajahnya memerah malu. Ia masih terbuai aroma tubuh Jingga.
"Sukemi," panggil Pramesti, "Panggil Mbok Parmi kesini,"
Sukemi menghormat lalu setengah berlari menjemput Mbok Parmi, pengasuh Dyah Pramesti sejak bayi.
"Sudah, tinggalkan aku, terimakasih, aku istirahat disini dulu,"
Jingga memberi hormat lalu pergi diiringi pandangan Pramesti.
Di jalan, Jingga berpapasan dengan Sukemi bersama Mbok Parmi, mereka saling tukar senyum dan hormat.
"Mbok, bantu aku,"
"Kenapa Ndoro?"
"Ndak bisa jalan,"
"Kenapa?"
"Sudah, bantu aku jalan,"
Mbok Parmi tergopoh gopoh memapah Pramesti menuju kaputren.

***

Malam hari kembali Jingga berjaga bersama Ki Sumo. Janur dari siang tadi menghindar terus. Mungkin Dia marah mengetahui Jingga mengajari Pramesti berkuda tanpa mengajak dirinya. Jingga sendiri memilih diam, pikirannya masih terpusat ke Lencari. Urusan yang lain itu belakangan. Ada bagusnya juga. Jingga jadi bisa fokus menyelesaikan urusannya.

Ini sudah malam ketiga, jadi waktunya disini tersisa tiga hari lagi. Sementara kabar Lencari masih misteri. Malam ini harus ada hasil, tekad Jingga.

Seperti biasa, Ki Sumo mengajak Jingga memeriksa sekeliling pagar luar. Sambil berjalan, Ia mengajarkan tata cara penjagaan rumah pejabat. Tiba tiba Jingga melihat bayangan berkelebat, bayangan itu berpapasan dengan mereka, namun Ki Sumo seperti tidak tahu keberadaannya. Ia terus mengajarkan pengalamannya selama ini menjadi penjaga rumah pejabat.

Jingga menunduk memberi hormat, membuat bayangan itu kaget karena keberadaannya ketahuan Jingga.
Bayangan itu berbalik, seperti memastikan apakah Jingga benar benar melihatnya tadi.
Kembali Jingga memberi hormat, sementara Ki Sumo terus bercerita, tidak menyadari orang lain ada disana.

Ketika mau masuk gerbang setelah berkeliling, Jingga berbisik, "Ki sepertinya ada yang mencurigakan, saya akan mengamati disana,"
"Kamu tidak apa apa?"
"Tenang Ki, kalaupun ada apa apa aku akan berteriak minta tolong,"
"Perlu ditemani?"
"Tidak usah Ki, keamanan di dalam lebih utama," elak Jingga tidak ingin ditemani.
"Ya sudah hati hati,"
"Baik Ki,"
"Tidak bawa obor?"
"Tidak usah Ki, biar tidak ketahuan,"
Jingga kembali berjalan menyusuri jalan tadi. Ia menuju tempat manusia bayangan meloncat masuk kediaman Selir Raja. Disana Ia menunggu manusia bayangan itu muncul kembali.

Beberapa nyamuk mulai usil menggigit betis Jingga. Tapi tidak dihiraukan. Inderanya fokus mencari keberadaan Manusia bayangan itu.

Penantiannya tidak sia sia. Sekelebat bayangan turun dari atas pagar bata. Ia tidak sendiri, dibelakangnya bayangan lebih kecil mengikutinya. Mereka menghampiri tempat Jingga menunggu. Seolah olah sudah ada janji sebelumnya.
"Selamat malam Ki, saya Jingga yang dulu pernah dibawa Ndoro ke hutan," sapa Jingga mendahului.
"Ya, aku ingat, kemana kamu waktu itu tidak datang lagi?"
"Maaf waktu itu dikeroyok begal lalu jatuh ke sungai,"
"Mau ikut?"
Jingga hanya mengangguk. Tangannya dipegang manusia bayangan itu, seorang laki laki setengah baya dengan jenggot sedikit panjang melewati topengnya.
"Duluan Nduk," Orang itu menyuruh bayangan yang lebih kecil berlari duluan. Ia lalu menarik Jingga untuk ikut berlari. Jingga mengimbangi lari mereka yang seperti terbang.
Mereka bergerak ketimur menuju hutan diluar Wilwatikta. Jingga mengingat jalan ini, jalan yang dulu mereka lalui saat pertama kali dibopong pergi.

Mengetahui Jingga bisa bergerak cepat, Ia melepaskan pegangan dan membiarkan Jingga mengikutinya.

Akhirnya mereka sampai ke tempat yang dituju. Sebuah tanah datar ditengah hutan. Sekelilingya dipagari bukit, sehingga cukup tersembunyi untuk berlatih.
"Ulang yang saya ajarkan kemarin,"
Tanpa menjawab, gadis itu memberi hormat lalu menggerakkan tubuhnya seperti menari berselendang pedang tipis. Gerakannya begitu halus dan gesit. Kalau tidak melihat kelebat pedang yang mengurung tubuhnya dari segala arah, orang akan mengira dia sedang menari tarian keraton.

Jingga berusaha mengenal manusia bayangan, diamatinya wajah yang tertutup kain coklat, tubuh tinggi tegap namun tidak setinggi Ki Genter. Dari gerak tubuhnya, Jingga tetap tidak bisa mengenali siapa dia. Dulu Ia mengira manusia bayangan adalah Senopati Kidang Anom semasa di Kadewaguruan.

"Jingga, coba hadapi Nduk sejurus dua jurus," Orang itu memerintahkan Jingga berlatih tanding dengan gadis yang dipanggil Nduk itu. Berarti orang ini dituakan oleh gadis itu. Apakah Ia saudara orang tuanya, atau orang tuanya sendiri.
"Baik," jawab Jingga lalu mengambil posisi bersiap menghadapi serangan.
Jingga dan gadis bertopeng itu saling menghormat sebelum memulai latih tanding tangan kosong. Jingga mempersilahkan gadis itu menyerang lebih dulu. Gerakannya halus bak menari, membuat Jingga sedikit lengah. Tiba tiba pukulan sudah menuju ke wajahnya. Cepat jingga mundur sambil memiringkan badannya. Angin pukulannya menerpa sedikit pipinya.
Belum selesai menghindar, sudah menyusul pukulan dari tangan lain mengarah dada. Namun kali ini Jingga sudah siaga. Dengan gerakan kaki yang cepat dan terlihat seperti asal asalan. Ia bisa menghindarkan dirinya dari pukulan atau dirinya terjatuh karena posisinya tidak seimbang. Bahkan sudah membuat gadis itu membatalkan serangan susulan, sebuah tendangan berputar yang mengarah pinggangnya.
Kembali gadis itu mempersiapkan serangan selanjutnya. Jingga konsentrasi membaca perubahan gerak telapak kaki dan pergeseran badan. Darisana Jingga bisa menduga serangan seperti apa yang direncanakan sampai dua tiga jurus rentetannya. Jadi gerakan tari yang gemulai itu sebuah tipuan agar lawannya terlena dan tidak menduga kalau Ia sedang mempersiapkan posisi menyerang. Dengan mengandalkan kecepatannya Jingga menghindar dari serangan. Sesekali Jingga balik menyerang, tapi serangan itu tidak berbahaya. Ia tidak ingin melukai lawan tandingnya ini.
Sejurus dua jurus tiga jurus ..... sampai belasan jurus, mereka masih bertarung.
"Cukup," perintah manusia bayangan menghentikan pertandingan.
Jingga membantingkan tubuhnya ke belakang lalu bangkit menghormat gadis itu. Terengah engah gadis itu membalas penghormatan Jingga. Ia membanting kakinya ke tanah, terlihat kesal karena gagal mengalahkan Jingga meski berulang kali nyaris pukulan dan tendangannya mengenai Jingga.
"Ha ha ha, jangan kesal, masih ada waktu lain," hibur Laki laki itu, "Wah Jingga, perkembanganmu pesat sekali. Terimakasih sudah menggantikanku jadi lawan tanding Genduk,"
"Terimakasih telah menyelamatkanku dari serangan Ndoro putri..," Jingga menghormat berterimakasih, disambut tawa manusia bayangan.
"Coba ceritakan sejak terakhir bertemu sampai tadi kita bertemu lagi," Manusia Bayangan beralih topik. Jingga agak gelagapan diminta menceritakan perjalanan hidupnya. Sejenak Ia memilah hal hal yang perlu diceritakan.
Mulailah Jingga menceritakan perjalanan hidupnya. Dihukum tidak boleh keluar Kadewaguruan, dikeluarkan dari kadewaguruan, bergabung jadi prajurit, liburan dan dititipkan gurunya ke Ki Sumo untuk belajar.
Cerita yang disampaikan dibuat sedatar mungkin. Hal hal yang berbau Lencari ia rahasiakan. Juga statusnya sebagai pasukan khusus juga Ia rahasiakan.
Mungkin karena terlalu datar dan wajar, tidak ada pertanyaan tambahan. Manusia Bayangan mengajak Jingga untuk bermain pedang kayu. Permainannya membosankan. Masing masing memegang potongan kayu seukuran pedang. Bergantian memukulkan kayunya ke kayu lawan. Tidak menyerang tempat lain. Lain yang melihat lain pula yang melaksanakan. Manusia bayangan memerintahkan Jingga memukul duluan, setelah hormat, Jingga melakukan pukulan biasa. Saat kayu Jingga menghantam, saat itu juga kayu itu terpental jauh.
"Ambil, pukul yang serius!" Bentaknya, "Jangan main main!"
Jingga kembali menyerang menggunakan tenaga luar. Kembali kayunya terpental jatuh.
"Ambil, ayo serius, sekarang aku yang menyerang, hati hati!"
Baru Jingga mengambil kayu yang terjatuh, manusia bayangan menyerang dengan kayu tegak diatas diayunkan dengan kedua tangan. Arahnya jelas, mengarah ke kepala Jingga. Akan fatal bila Jingga tidak menangkis dengan sekuat tenaga.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di