alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
PASUS JALA YUDHA

Disaat rumahnya dijadikan pertemuan Lencari dengan Pangeran Mahesa Ariya. Raden Sidatapa sudah keluar menuju kediaman Rakryan Rangga Jala Yudha, Raden Aji Sora. Tujuannya tak lain adalah mengusulkan Jingga dimasukkan kedalam pasukan khusus yang akan dikirim ke Sasak. Sebuah kerajaan di timur. Saat ini di pulau pulau kecil kerajaan Sasak dihuni para perompak yang mengganggu perairan dan perahu dagang dari timur.

"Suatu kehormatan pagi pagi didatangi Ndoro," sambut Raden Aji Sora gembira. Raden Sidatapa adalah pimpinannya dulu saat menjadi pasukan khusus sebelum menjadi pejabat militer.

"Ha ha jadi sungkan kalau mampir kesini,"

Mereka lalu bercanda tentang masa masa jadi prajurit tempur. Saat maju kemedan laga tanpa mikir resiko. Selalu ada yang bisa ditertawakan disaat sulit sekalipun.

"Mengenang kisah dulu, aku baru mengenal pemuda sepertimu. Ia juga di kesatuan Jala Yudha. Namanya Jingga, jadi Lurah Prajurit di Jala Yudha Kahuripan."

Raden Sidatapa lalu menceritakan jasa jasa anak itu dan kondisinya sekarang di Kahuripan.

"Kalau bisa, Ia ditarik ikut pasukan khususmu yang mau berangkat ke Sasak."

"Saya lihat dulu datanya." Raden Aji Sora masuk mengambil data pasukan Jala Yudha Kahuripan. Tak berapa lama Ia sudah membawa ikatan lontar berisi data Jingga.

"Benar, di Jala Yudha Kahuripan ada Lurah bernama Jingga. Masih muda, seorang Pangeran dari tanah Blambangan etan. Tim telik sandi. Pernah menangani kerusuhan di perbatasan dengan Pamotan. Cukup menarik untuk usianya sudah menjadi Lurah Prajurit."

"Wah wah, baru tahu kalau Dia seorang Pangeran dari kerajaan Bawahan Majapahit."

"Mungkin karena darahnya bukan darah keturunan Raja Majapahit, Ia memilih tidak mengaku menjadi Pangeran."

"Semalam aku menemuinya, anak yang santun, punya kemampuan beladiri bagus. Kapan bisa mengujinya?" Kata Raden Sidatapa sedikit memaksa.

"Sayang kalau Dia tidak segera diambil, apalagi kalau ditarik pasukan lain. Setidaknya bisa menutup lubang pasukan khususmu."

"Baiklah, nanti aku panggil dia, minta alamatnya disini." Akhirnya Raden Aji Sora mau memanggil Jingga. Ia menarik nafas panjang mendengar kata lubang di pasukan khususnya. Raden Sidatapa tidak menyindir, tapi mengungkap kenyataan pasukan khususnya ada benalunya. Ia mendapat titipan perwira prajurit dari atasannya. Seorang anak mas. Anak yang harus dijaga.

***

Pagi ini untuk mengusir suntuk, Jingga berjalan jalan di kotaraja. Mengenang masa masa ketika masih di Kadewaguruan. Masuk dari gerbang selatan, Jingga berjalan kekanan, kearah timur. Ia tidak bisa terus lurus karena akan masuk kawasan Istana Keraton Majapahit. Tidak sembarang orang bisa melintas disana.

Hampir tengah hari Jingga sampai di Kadewaguruan tempat Ia dulu belajar. Suasana masih sama. Sepi tenang. Berada diantara pohon pohon raksasa.

Melihatnya, angan angan Jingga langsung melayang kejaman dulu. Masa masa bersama Sasi Kirana dan Padang Gumuruh.
"Ada keperluan apa Ki?" Seorang petugas jaga mendekati Jingga.
Jingga tersadar dari lamunannya, dibelakangnya berdiri petugas jaga Kadewaguruan.
"Masih ingat saya Paman? Saya Jingga yang dulu nyantrik disini."
"Aha iya ingat ingat ha ha, mana bisa lupa sama anak berilmu demit." Penjaga itu langsung Ingat.
"Bagaimana kabarmu? Sekarang dimana?"
"Baik Paman, sekarang jadi Prajurit Jala Yudha Kahuripan."
"Berarti ikut Ki Kidang Anom?"
"Benar paman, eh, temanku Sasi dan Padang masih disini?"
"Oh, Sasi dan Padang sudah lama meninggalkan Kadewaguruan, tak lama setelah Nak Mas,"
"Kenapa?"
"Tidak kerasan katanya,"
"Yah, terimakasih Paman, saya pamit pergi."
"Tidak mampir dulu?"
"Terimakasih Paman," Jingga berjalan ke utara, menyusuri jalan kota diantara bangunan bangunan megah. Ia lalu berjalan ke barat, menuju pusat pemerintahan. Kanan kiri jalan berdiri komplek perumahan para pejabat dan raja bawahan Majapahit. Penjagaan semakin ketat. Jingga memutuskan kembali ke penginapan.

Benar saja, dipenginapan Ia sudah ditunggu dua orang prajurit. Dari kelengkapannya mereka dari kesatuan Jala Yudha.
"Lurah Jingga?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Siap saya Jingga," jawab Jingga.
"Anda dipanggil Rakryan Rangga Jala Yudha sekarang." Prajurit itu lalu menyerahkan surat panggilan itu.
Jingga terkejut mendapat panggilan disini. Dan tidak menyangka dapat panggilan langsung pimpinan tertinggi kesatuannya. Diakhir surat yang ditulis dalam lontar terdapat cap milik Rakryan Rangga. Jenis cap yang wajib dikenal setiap pasukan Jala Yudha.
"Siap! Saya bersiap dulu," Jingga menuju biliknya menemui pengawal Raden Sastro, titip pesan tidak bisa meneruskan pengawalan. Lalu keluar mengambil kuda.
Jingga kembali masuk Kotaraja. Sekarang berjalan lurus ke utara. Melewati jalan utama sekitar komplek istana. Melewati Kolam Segaran terus ke utara.
Mereka turun dari kuda saat memasuki regol masuk markas kesatuan Jala Yhuda. Baru pertama kali ini Jingga masuk markas kesatuannya melewati jembatan kayu. Sangat luas. Disekeliling berderet rapi bale bale prajurit. Bale bale perwira berada di sisi sisi lainnya. Pada sisi lain terdapat kumpulan bangunan tempat Rakryan Rangga beserta keluarga tinggal. Ditengah berdiri Candi tempat upacara dan disisinya terdapat paseban panjang tempat pertemuan. Selebihnya adalah padang rumput dan pepohonan rindang.

Jingga disuruh menunggu di salah satu paseban. Salah seorang Prajurit menghadap Rakryan Rangga mengabarkan Jingga sudah datang. Tak berapa lama Rakryan Rangga keluar dari kediamannya.

Segera Jingga menghormat ala prajurit.
"Tahu maksud kamu dipanggil kesini?"
"Tahu Rakryan! Untuk mengikuti seleksi pasukan khusus Jala Yudha!"
"Bagus, selanjutnya, kamu ikuti Bekel Jakawara."
"Siap Rakryan!"
Rakryan langsung pergi meninggalkan Jingga dan Bekel Jakawara yang mendampingi dari tadi.
"Ayo ikut!"
"Siap Ki Bekel!"
Jingga dibawa kesebuah tanah lapang. Tempat biasa para prajurit berlatih dan diuji. Matahari cukup terik. Membuat kepala dan badan Jingga mengeluarkan bayang bayang naik keatas.

Tanpa persiapan, Jingga menjalani berbagai macam ujian keahlian sebagai prajurit. Berlari halang rintang, menaiki kuda, memanah, melempar tombak, memanjat tebing, pertempuran jarak pendek dan tangan kosong. Terakhir Jingga dibawa ke kolam segaran. Diikat kaki, tangannya dan matanya ditutup kain hitam. Lalu dicemplungkan kedalam kolam yang dalamnya setinggi tangan orang dewasa. Ia harus berenang keujung kolam yang panjangnya 500 depa.
Bagai pesut Jingga berenang meliuk liukkan tubuhnya diiringi prajurit yang menguji dari atas kolam. Tanpa kesulitan, Jingga mencapai ujung kolam segaran.
Para penguji langsung memeluk Jingga sebagai ucapan selamat.
Bekel Jakawara memberikan pakaian ganti Jingga.
"Malam ini setelah suratmu siap, kamu langsung bergabung grupmu."
"Siap Ki Bekel!"
Mereka kembali menuju markas. Jingga dibawa ke tempat perbekalan. Barang barang kebutuhannya sudah dipersiapkan. Jingga memilih senjata belati untuk dirinya. Sementara barang miliknya yang tidak perlu dibawa disimpan dalam peti kayu.
Bekel Jakawara datang menyerahkan plakat bukti pasukan khusus Jala Yudha. Dan gulungan kulit kambing surat tugasnya.
"Selamat bertugas!"
Jingga lalu dijemput komandan untuk bergabung dengan grupnya. Group itu terdiri dari 10 orang dipimpin komandan berpangkat Bekel. Malam itu mereka bergerak ke barat menuju lapangan Bubat. Dari sana langsung naik Jung menuju Hujung Galuh.
Jingga seperti mimpi, tiba tiba bergabung dengan pasukan yang tidak dikenalnya sama sekali. Tujuannya juga tidak tahu. Hanya keyakinannya bahwa ini adalah kesatuannya sendiri yang membuat Ia tenang.
Setelah suasana santai diatas perahu. Sang Komandan meminta Jingga mengenalkan diri pada rekan rekannya. Dengan singkat Jingga mengenalkan diri. Nama, asal kesatuan pangkat. Selebihnya tidak. Setelah itu yang lain memperkenalkan diri pada Jingga. Ternyata mereka sudah lama berkumpul dalam grup ini. Bekel Aji Sasongko sebagai komandan grup. Lurah Murdita sebagai wakilnya. Swastika, Rendra, Kliwon, Danu adalah prajurit senior, sedang Gembong, Tumar dan Bango ditambah dirinya sebagai prajurit junior.
Bergantian kami mendayung perahu tanpa istirahat. Disaat itu Jingga diberi pengarahan Ki Bekel tentang misi mereka sekarang ini.

Pasukan terdiri 3 group. Dipimpin seorang Senopati . Menaiki kapal dagang menuju Kerajaan Sasak. Sebelumnya mengadakan latihan dulu di pulau pulau kecil sekitar Madura.

Siang hari, baru mereka sampai Kapal dagang yang akan mengangkut mereka. 2 Group sudah lebih dulu diatas kapal.
Kedatangan mereka disambut sindiran dari komandan Group 1.
"Ini dia rombongan mantennya sudah datang," disambut gelak tawa anak buahnya.
Ki Bekel Aji tidak menggubris, Ia langsung menghadap Senopati untuk laporan.
Kapalpun segera berangkat. Perahu jung group Jingga sudah dikerek naik. Tujuan pertama ke gugusan pulau sekitar Madura.

Menjelang malam. Kapal sudah sampai daerah gugusan pulau, jangkar dilempar jauh dari pantai. Setiap group diberi tugas membebaskan satu pulau dari perompak.

Pelan namun pasti, ketiga group itu turun ke air, berenang berkelompok menuju daratan yang dituju. Bekel Aji Sasonko berenang didepan diikuti keempat prajurit senior. Jingga dan ketiga rekan yang junior ikut dibelakangnya. Terakhir Ki Swastika mengawal dibelakang. Mereka berenang serong kekiri sedikit memotong arus. Setelah cukup baru berenang mengikuti arus.

Sampailah mereka ke pulau yang dituju. Merela mendarat disisi barat pulau. Tanpa membuang waktu, mereka berlari ke tengah pulau mencari peti berisi petasan suar. Jingga mengikuti perintah Ki bekel bergerak kekanan mencari bersama Kliwon. Tak berapa lama terdengar seruan bahwa petinya ketemu. Namun Jingga terkejut melihat ada group lain mendarat di pulau yang sama. Ternyata mereka dari Group 1, yang komandannya menghina tadi siang. Mereka bergerak menuju tempat peti yang sudah ditemukan.
"Minggir kalian semua! Ini petiku! Ini pulauku!" Komandan itu mengusir Group Ki Bekel Aji. Ia dan anak buahnya menghunus belati bersiap bertarung.

Malas ribut, Ki Bekel Aji memerintahkan pasukannya mundur lalu berenang kepulau sebelah barat. Beberapa pasukannya menolak. Namun Ki Bekel Aji membentak keras untuk patuh pada perintahnya.
Kini mereka berenang melawan arus. Namun dari pengalamannya membaca arus, Ki Aji bisa memilih jalur yang mudah. Tak butuh waktu lama mereka sudah mendarat di pantai. Kembali pasukan menyebar mencari peti suar. Setelah ditemukan langsung dinyalakan. Dan bergegas kembali menuju kapal ditengah laut.
Karena harus pindah pulau, Group Ki Bekel Aji tertinggal di belakang.

Diatas kapal, Ki Bekel Aji memerintahkan grupnya menahan diri, tutup mulut, kompak dan fokus tujuan. Ini untuk meredam mereka yang tidak terima diperlakukan seperti tadi.

Namun diatas kapal, sakit hati mereka semakin bertambah. Group 1 mendapat perlakuan istimewa. Sikap mereka seperti pemilik kapal, sedang Senopati dianggap seperti nakodanya saja.

Kapal mulai berlayar ketimur, bergabung dengan rombongan kapal dagang lainnya yang memanfaatkan tiupan angin muson barat.

Jingga penasaran, saat berdua dengan Ki Bekel Aji, Ia menanyakan siapa mereka, mengapa diistimewakan.
"Karena merekalah misi ini dibuat," bisik KI Bekel Aji.
"Maksudnya?"
"Bekel Group 1 itu adalah putra werdamentri. Anak itu butuh misi seperti ini untuk loncat jabatan. Sedang kita, bahkan Senopatipun harus mendukungnya."
"Pantesan," gumam Jingga mengerti.
"Sudah, lanjutkan tugasmu,"
"Siap Ki Bekel!"
Jingga kembali mengepel dek kapal. Tugas paling rendah bersama ketiga rekan prajurit yunior groupnya.

Kapal diarahkan ke Bali Utara tepatnya Pelabuhan Julah untuk persiapan perbekalan akhir. Sekaligus menggali informasi keberadaan para perompak pada masyarakat sana.

Dari masyarakat Julah, didapat informasi bahwa yang menguasai jalur pedalaman di Sasak utara adalah Bajak laut dari kelompok Bajo. Mereka juga pernah menjarah pelabuhan Julah. Membuat pelabuhan Julah semakin sepi karena dihindari kapal kapal dagang dari pulau lain.

Setelah mengisi perbekalan, menjelang pagi Kapal kembali berangkat menuju tiga pulau kecil wilayah kerajaan Sasak. Kapal baru sampai ke titik yang dituju saat langit sudah gelap.

Sesuai rencana, penyusupan dilakukan tengah malam. Dalam gelap gulita, perahu jung mereka turunkan dari kapal. Secara senyap ketiga Group melaju menuju masing masing pulau. Group 1 mengambil pulau terbesar. Group 2 mendapat pulau yang ditengah dan group 3, pimpinan Ki Aji Sasongko mendapat pulau yang terdekat ke daratan.
Jingga di Group 3 mendapat tugas mendayung bersama 3 rekannya. Perahu diarahkan ke kiri. Menuju pulau paling kiri. Hati hati mengawasi suasana sekitar. Ki Bekel Aji mengarahkan ke sisi gelap pantai yang rimbun. Tanpa mengeluarkan riak, jingga mendayung kuat ke pantai yang dituju. Saat ujung perahu menyentuh pasir. Sigap semua pasukan meloncat turun mengangkat perahu bersama sama dinaikkan dan disembunyikan didalam semak semak. Dua orang dibelakang membersihkan jejak dengan berlajan mundur.

Rendra memanjat pohon untuk mengamati situasi dari atas. Pulau benar benar gelap gulita. Cahaya bintang tidak cukup menerangi. Sedang bulan masih tanggal muda.
Rendra tanpa bicara hanya menunjuk kearah selatan. Ki Bekel memerintahkan bergerak maju dengan merunduk.

Tak beberapa lama mereka menemui beberapa gubug. Suasana sepi. Ki Bekel membagi dua, kelompok 1 dipimpin dirinya dan kelompok 2 dipimpin Swastika. Kelompok Ki Bekel bergerak kekanan mengelilingi pulau. Sedang kelompok 2 mengawasi kumpulan gubug itu.

Jingga masuk kelompok 1. Ia mengikuti Ki Bekel. Tanpa menunggu perintah, Jingga menarik dan melepas anak panah yang dibawanya. Jauh didepan terdengar bunyi "kik" . Lalu menyusul panah ke dua ketiga dan keempat lepas dari tangan Jingga. Kembali bunyi "kik" bersahutan. Itu bunyi anjing mati terpanah.
Ki Bekel kaget, ternyata Jingga punya keahlian memanah jarak jauh dalam gelap. Sebelum anjing anjing kampung itu menggonggong. Jingga secara jitu membunuhnya dengan sekali bidik.

Didepan terlihat kumpulan gubug yang lebih banyak. Jingga mencabuti anak panah yang menancap di anjing anjing penjaga itu. Tak ada pergerakan mencurigakan. gubug gubug sepi tak ada orang. Ki bekel memeriksa perapian, memegang abunya. Masih hangat. Berarti belum lama ditinggal. Tapi kemana?

Ki Bekel memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Kembali mereka mengendap endap menyusuri pulau. Tidak ada bangunan lagi. Di depan terlihat gubug yang pertama kali ditemukan. Ki Bekel meniup peluit kecil, terdengar sahutan dengan peluit juga.
"Ok pulai ini aman,"
Akhirnya mereka bisa berjalan tegak. Tidak merunduk lagi.
"Bagaimana situasi?"
"Gubug gubug ini seperti baru ditinggal pergi,"
"Apa operasi kita bocor?"
"Sepertinya tidak. Mereka pergi tidak buru buru. Barang barang tidak berantakan."
"Hapus jejak kita, lalu kembali ke kapal."
"Siap!"
Jingga berlari menuju tempat anjing anjing yang dipanahnya. Anjing anjing itu dipikul menggunakan kayu lalu dibuang ditengah laut.
Sementara yang lain membersihkan tetesan darah dan jejak kaki mereka.
Malam masih belum beranjak, Group 3 sudah kembali ke kapal.
Ki Bekel Aji melapor kondisi pulau yang diserangnya kosong, penghuninya sudah pergi. Tapi belum lama dan tidak terburu buru.
"Berarti mereka sedang melakukan sesuatu, sehingga harus pergi semua."
"Dugaan saya begitu Senopati,"
"Bersiaga, bila ada sinyal minta bantuan. Segera berangkat,"
"Siap Senopati!" Ki Bekel Aji langsung memerintahkan groupnya kembali turun ke perahu. Bersiap memberi dukungan.
Suasana hening kembali. Waktu terasa berjalan lambat. Jingga mengusulkan, bagaimana kalau mendekat ke pantai terdekat. Daripada disibukkan menghindari benturan dengan Kapal.
Usul Jingga disetujui, berangkatlah mereka ke Pulau terdekat. Kembali perahu terombang ambing ombak. Semakin dekat pantai, gulungan ombak berbuih menghadang. Ki Bekel memutuskan lanjut mendarat ke pantai. Apalagi pagi hampir datang. Cepat perahu didayung berkejaran dengan gelombang.

Setelah menyembunyikan perahu, mereka bergerak merunduk menyusup kedalam pulau. Tak ada tanda tanda ada orang disana. Para perompak atau pasukan Group 2.
Kemana mereka?
"Itu perahu mereka!"
Ki Bekel Aji memeriksa, benar ini perahu Group 2.
"Periksa jejak ditanah!"
"Ada! Ada disini!" Kliwon memanggil. Ia menunjuk bekas bekas perkelahian. Beberapa tempat terdapat bercak darah.
"Ikuti jejak itu!" Perintah Ki Bekel Aji.
Hati hati mereka mengikuti jejak kaki yang banyak. Beberapa jejaknya seperti terseret. Tetesan darah semakin banyak disekitar pohon waru raksasa. Ketika memeriksa di tanah, terasa ada tetesan di kepala mereka. Seketika mereka memeriksa keatas.
Serentak mereka menyebut berbagai kata yang biasa mereka sebut kala terkejut.
Diatas kepala mereka digantung mayat mayat bermandikan darah.
Ki Bekel memerintahkan untuk siaga memeriksa sekitar.
"Aman Ki Bekel,"
"Periksa mayat mayat itu!"
"Gembong, Rendra dan Danu menaiki pohon lalu memeriksa. Ada delapan mayat. Satu persatu diperiksa. Betapa terpukulnya mereka saat mengenali wajah mayat mayat itu. Kedelapan mayat itu adalah rekan mereka dari group 2.

"Berarti misi kita sudah bocor, musuh sudah menunggu kita!" Kata Ki Bekel menyadarkan groupnya akan posisi mereka sekarang. Ia perintahkan yang diatas pohon segera turun.
"Bersihkan jejak!" Perintah Ki Bekel. Meski hati trenyuh melihat rekan digantung. Tapi demi kerahasiaan kehadiran mereka. Tak ada yang boleh merubah apapun.
profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan andir004 memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di