alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Issei Sagawa : Kanibalisme Yang Berujung Ketenaran
5 stars - based on 9 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5adb424f96bde631258b4568/issei-sagawa--kanibalisme-yang-berujung-ketenaran

Issei Sagawa : Kanibalisme Yang Berujung Ketenaran



Issei Sagawa lahir pada tanggal 26 April 1949, di Kobe, Prefektur Hyõgo, Jepang. Sagawa terlahir dalam keadaan prematur, dan hampir mati sebelum ibunya mampu melahirkannya. Bahkan tubuhnya yang kurang lebih seukuran dengan telapak tangan ayahnya, sempat mengalami beberapa permasalahan kesehatan yang serius, termasuk enteritisyang merupakan penyakit peradangan yang terjadi didaerah usus. Namun penyakit tersebut pada akhirnya bisa disembuhkan setelah dia diberi beberapa kali suntikan kalsium dan pottasium.



Sagawa berada didalam keluarga yang kaya dan sukses. Dia juga mempunyai seorang adik yang terbilang sangat dekat dengannya. Ketika Sagawa dan adiknya masih kecil, ayah dan pamannya kerap mengajak mereka melakukan permainan dengan berpura-pura sebagai raksasa yang akan memakan Sagawa dan adiknya. Sejak saat itu, Sagawa mulai terobsesi dengan cerita-cerita yang bertemakan kanibalisme.

Bahkan saat Sagawa mengenyam pendidikan dikelas 1 SD, dia sempat merasakan keinginan untuk melakukan kanibalisme ketika melihat bagian paha seorang laki-laki. Ketika remaja, Sagawa juga mengaku sempat melakukan bestiality dengan anjingnya, yaitu aktivitas seksual yang melibatkan antara manusia dengan hewan. Dan ketika itu juga, Sagawa mulai merasakan keinginan untuk melakukan kanibalisme terhadap wanita.

Setelah memasuki masa puber, ketertarikan Sagawa akan kanibalisme juga membentuk perilaku seksual tertentu dalam dirinya. Dia mulai sering berfantasi dengan membayangkan memakan daging dari tubuh seorang wanita, terutama aktris-aktris luar negeri seperti Grace Kelly.





Pada tahun 1972 ketika Sagawa berumur 23 tahun, dia pernah membuntuti seorang wanita Jerman hingga ke apartemen milik wanita tersebut. Di satu waktu, Sagawa kemudian mendobrak pintu apartemen wanita tersebut dengan maksud untuk melakukan kanibalisme padanya. Namun wanita tersebut sempat terbangun sebelum Sagawa menyerangnya dan berhasil melakukan perlawanan.

Kemudian Sagawa ditangkap polisi atas tuduhan percobaan pemerkosaan, walopun pihak kepolisian tidak menyadari bahwa sebenarnya Sagawa berniat melakukan kanibalisme, bukan melakukan penyerangan seksual.

Namun ayahnya yang kaya mencoba untuk menawarkan sejumlah uang pada wanita Jerman itu, agar mau membatalkan tuntutan percobaan pemerkosaan yang ditujukan terhadap anaknya dan Sagawa tidak dituntut atas kejahatannya.





Lima tahun kemudian yaitu pada tahun 1977 ketika Sagawa berumur 28 tahun, dia pindah ke Paris untuk mengejar gelar Ph.D. dibidang bahasa dan literatur di Universitas Sorbonne. Bahkan Sagawa sempat bekerja sebagai penulis disana selama beberapa tahun.

Selama tinggal di Paris, dia mengakui sebuah hal,

Quote:




Kemudian pada tahun 1981, Sagawa bertemu dengan Renée Hartevelt yang merupakan seorang mahasiswi berkewarganegaraan Belanda yang berumur 25 tahun. Mereka berkenalan ketika Sagawa berkuliah di Universitas Sorbonne dan menjadi teman yang akrab. Bahkan Renée secara rutin mendatangi apartemen milik Sagawa untuk mengajarinya bahasa Jerman.

Semakin sering bertemu, Sagawa semakin terobsesi dengan pemikirannya sendiri untuk menikmati daging dari bagian tubuh milik Renée. Oleh karena itu, Sagawa kemudian dengan sengaja membeli sebuah senjata dengan maksud untuk membunuhnya dan melakukan aksi kanibalisme terhadapnya.

Pada tanggal 11 Juni 1981, Renée mengunjungi Sagawa di apartemennya karena dia diundang untuk makan malam bersama, berlatih bahasa Jerman seperti biasanya, sekaligus meminta Renée untuk membantunya menterjemahkan sebuah puisi untuk tugas kuliah. Ketika Renée sedang membaca puisi, Sagawa kemudian menembaknya dibagian leher dengan menggunakan senjata yang dulu dibelinya.

Setelah menembaknya, Sagawa sempat jatuh pingsan karena terkejut. Namun dia segera tersadar bahwa dia harus tetap bisa menjalankan rencananya. Sagawa tidak hanya menembak Renée, tapi juga sempat memperkosanya. Dan ketika dia akan memulai untuk memakan tubuhnya, Sagawa bahkan tidak dapat menggigit kulitnya. Kemudian Sagawa pergi untuk membeli sebuah pisau.

Selama dua hari, Sagawa memakan berbagai bagian tubuh milik Renée seperti bagian betis, bibir, paha dan payudaranya. Sebagian dimakan secara mentah, sebagian dimakan setelah dimasak terlebih dulu, dan sebagian lagi dia simpan didalam kulkas. Sagawa sempat mengaku mendapatkan kenikmatan seksual setelah melakukan kanibalisme terhadap korbannya.

Setelah merasa kenyang, kemudian Sagawa berniat untuk membuang sisa-sisa tubuhnya dengan memasukkannya kedalam dua buah koper yang sengaja dia beli, dan membuangnya di danau Bois de Boulogne. Namun usahanya tersebut diketahui polisi Prancis dan kemudian menangkapnya.





Ketika melakukan penggeledahan di apartemen milik Sagawa, pihak kepolisian Prancis menemukan sisa makanan yang merupakan daging manusia yang sudah dimasak. Selain itu juga ditemukan sebuah identitas milik Renée Hartevelt.

Walopun ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap temannya sendiri, Sagawa justru ditahan selama dua tahun sementara dia menjalani pemeriksaan oleh pihak psikolog disana. Dan dengan bantuan pengacara yang disewa ayahnya, pengadilan Prancis memutuskan bahwa Sagawa dinyatakan tidak waras dan tidak mampu menjalani persidangan. Namun Sagawa ditahan di unit psikiatri dengan keamanan maksimal di Prancis selama empat tahun.

Setelah pemeriksaan psikologi menyatakan Sagawa waras dan penyimpangan seksual yang dialaminya adalah merupakan alasan untuk melakukan pembunuhan terhadap Renèe Hartevelt, pada tanggal 12 Agustus 1986, Sagawa dinyatakan bebas. Keputusan ini sempat menuai kritikan dari banyak pihak, dan walopun begitu Sagawa sendiri langsung dideportasi kembali ke Jepang.



Kembali ke Jepang, Sagawa kemudian dikirim ke tempat rehabilitasi mental di rumahsakit Matsuzawa di Tokyo. Psikiater yang menangani Sagawa menyatakan bahwa Sagawa menderita personality disorder, namun dia masih waras. Dalam arti, Sagawa bisa dimintai pertanggungjawaban secara kriminal atas pembunuhan yang dia lakukan terhadap Renée Hartevelt.

Namun, pihak kepolisian Prancis tidak mau membantu pihak kepolisian Jepang untuk memproses secara hukum kasus pembunuhan yang dilakukan Sagawa tersebut. Oleh karena itu, setelah 15 bulan berada di rumahsakit Matsuzawa, Sagawa dinyatakan bebas dan dikembalikan kepada orangtuanya.



Sebelumnya saat masih berada di unit psikiatri, Sagawa sempat menulis sebuah autobiography yang berjudul In the Fog. Kemudian selepas keluar dari rumahsakit Matsuzawa, Sagawa mulai menulis dan menerbitkan beberapa novel, manga, dan anthology yang bertemakan cannibalism fantasies.

Sagawa juga sempat muncul menjadi pembicara di Universitas yang berarti bahwa mereka menunjukkan ketertarikan mendengar pengakuan langsung dari Sagawa yang merupakan seorang pembunuh, seorang necrophilic, dan seorang kanibal.



Selain itu Sagawa juga menulis review tentang restoran untuk sebuah majalah Jepang, dan dia bahkan muncul disebuah acara masak dimana dia mempertontonkan ketika dia memakan daging mentah. Berbagai talk show terkenal Jepang juga sering meminta Sagawa untuk menjadi tamu didalamnya.

Namun beberapa tahun terakhir popularitasnya menurun, hal ini memang sengaja dilakukan karena Sagawa menghindari pekerjaan yang memanfaatkan statusnya sebagai seorang pembunuh dan kanibal yang terkenal. Walopun seperti itu, Sagawa tetap mampu menyambung hidupnya dengan menjual beberapa lukisan karyanya yang kebanyakan objeknya adalah wanita yang tidak menggunakan baju.



Hal yang paling mengejutkan, Sagawa juga pernah muncul disebuah film porno yang dirilis pada tahun 1992 yang berjudul Unfaithful Wife : Shameful Torture. Film tersebut menceritakan tentang sebuah klub di Tokyo yang dimana para wanitanya dengan senang hati diseret dan dijadikan sebagai objek dalam fetishistic sex.

Didalam film tersebut, muncul seseorang yang mulai melakukan pembunuhan dan mutilasi terhadap beberapa wanita yang merupakan anggota klub tersebut. Dan ketika Sagawa muncul, dia berpura-pura memakan bagian tubuh tertentu seorang wanita.





Nama buruk Issei Sagawa telah menimbulkan dampak yang menghancurkan keluarganya. Adik laki-lakinya menderita asma yang diakibatkan oleh stres, ayahnya mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan ibunya bahkan sempat melakukan percobaan untuk bunuh diri.

Namun pada akhirnya, kedua orangtua Sagawa meninggal pada tahun 2005. Dan dia sempat dilarang untuk menghadiri pemakaman mereka. Kemudian dengan nama yang baru, Sagawa hidup disebuah apartemen yang disediakan oleh pemerintah Jepang.

Sagawa sendiri mengaku bahwa dia masih memiliki keinginan untuk memakan daging tubuh manusia, terlebih ketika dia melihat wanita cantik yang kadang membuatnya membayangkan bagaimana rasa dari tubuh wanita cantik tersebut.

Sagawa juga sempat mengatakan bahwa keinginannya untuk memakan daging tubuh milik Renée Hartevelt akan lebih memuaskan jika saja saat itu Renée mengijinkan dia untuk meminum air kencing dan memakan rambut kemaluannya.

Bagaimanapun juga, Sagawa juga mengakui bahwa dia tidak akan melakukan apapun jika dia didesak keinginannya untuk melakukan kanibalisme. Hal ini menandakan bahwa Sagawa sudah tidak lagi mempunyai keinginan untuk membunuh orang lain lagi.



Sekian thread dari ane, dan terimakasih.

emoticon-terimakasih emoticon-terimakasih emoticon-terimakasih



sumber 1
sumber 2

profile-picture
patricksby memberi reputasi
Diubah oleh Kaskus Support 12
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Quote:


emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di