alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
BADAI FITNAH RADEN SASTRO

Bhre Kahuripan masih menganggap belum selesai. Ia menugaskan orang terbaiknya untuk menyelidiki Raden Sastro dan keluarganya. Melacak kekayaannya, keluarganya, jaringan bisnis dan pengaruhnya.

Memang Ia mengenal Raden Sastro sebagai salah satu bangsawan yang memiliki bakat berdagang. Sejak muda Ia tidak tertarik untuk turun didunia pemerintahan yang Ia anggap terlalu rumit dijalankan. Beda dengan berdagang. Sebuah dunia bebas asal dia mampu. Meski akhir akhirnya saat usahanya membesar, Ia tetap tidak bisa lepas dari dunia politik pemerintahan. Karena pemerintah yang menjamin keselamatan perdagangannya sehingga Ia bisa membeli maupun menjual dan mendapat untung.

Dalam hatinya Ia menyalahkan Raden Sastro, karena ulahnya membuat anaknya harus diasingkan dulu. Menunda karir politiknya. Seandainya dulu menerima anaknya dijadikan istri putranya. Kekacauan ini tak kan terjadi.

Ditambah omelan istrinya, yang menganggap Ia kurang dihormati dan dihargai Raden Sastro. Sehingga menolak permintaannya.

Akibatnya, anaknya jadi kurang waras seperti ini, namanya hancur, karirnya hancur hanya gara gara gadis angkuh itu. Bagaimana nanti menjelaskan bila kumpul dengan sahabat sahabatnya. Bukankah akan jadi tertawaan mereka. Puncaknya untuk menyelamatkan dari fitnah, RM Suryo dengan berat hati dikirim ke Kadewaguruan.

Raden Sastro harus ikut menanggung derita yang Ia rasakan.

Langkah pertama, disebarkan berita kebalikan. Untuk menutup gosip diluar yang menyalahkan anaknya. Agar anaknya tidak jadi komoditas politik untuk menjatuhkannya.

***

Sayup sayup hembusan kabar burung tentang apa yang terjadi beberapa hari ini mulai tersebar. Dari kedai ke kedai menyebar bagai wabah.

Para pengacau menggunakan RA Lencari sebagai umpan untuk menarik RM Suryo mengejar kedalam hutan. Di hutan pasukan RM Suryo sudah membebaskan RA Lencari dan mengalahkan para penculik terlatih itu. Namun tiba tiba datang bantuan dari dua orang berilmu tinggi membuat para penculik dapat merampas kembali RA Lencari dan dibawa kabur. Pasukan RM Suryo mengejar bahkan mengepung. Namun para penculik itu sudah menghilang.
Anehnya mengapa RA Lencari dikembalikan ke rumahnya oleh para penculik itu?

Berarti tujuan utamanya adalah RM Suryo. Untung RM Suryo bisa menjaga diri. Namun musuh itu menyebarkan berita palsu. Malah menuduh RM Suryo yang merekayasa penculikan itu. Melihat perkembangan yang tidak menyenangkan. RM Suryo langsung menarik semua prajurit yang ditugaskan melakukan pencarian. Ia kecewa difitnah seperti itu. Beliau kemudian pergi mengasingkan diri ke lereng Arjuno, ke Kadewaguruan.

Berarti yang tahu kejadiannya adalah RA Lencari. Entahlah apa dia korban atau ikut terlibat.

Katanya datangnya pun diam diam. Yang mengantarkanpun juga tidak bisa dikenali. Dan yang mencurigakan, meski sudah datang tapi tetap dirahasiakan kepada Prajurit yang ditugaskan mencari RA Lencari. Entah apa namanya itu, takut lapor atau mempermainkan prajurit.

Lalu kasak kusuk memasuki tingkatan yang lebih tinggi. Yang masuk ke ranah keamanan kerajaan.

Semua itu dilakukan Raden Sastro karena Ia salah satu orang timur yang ingin mengacaukan Kahuripan. Kasihan RM Suryo yang harus terbuang oleh lobi lobi politik Raden Sastro.

Berhembus pula, bahwa berita palsu yang menjelek jelekkan RM Suryo sengaja disebar telik sandi timur di Kahuripan. Beberapa orang sudah ditangkap pihak keamanan Kadipaten.

Begitulah kabar burung rekayasa dihembuskan dari segala penjuru. Menutup kisah yang tersebar lebih dulu. Membuat Raden Sastro menjadi bulan bulanan kasak kusuk.

***

RA Sulastri tak dapat menahan amarahnya mendengar santernya desas desus yang berkembang. Yang mengaitkan keluarganya dengan isu makar. Ia merasa ditimpa musibah bertubi tubi.

Usaha kedainya menjadi sepi. Orang orang enggan masuk makan apalagi menginap. Takut dikait kaitkan dengan kelompok pendukung keraton timur.

"Kanda, bagaimana ini, kenapa api berbalik kesini? Siapa yang menyebarkan cerita ini?" Tanya RA Sulastri hampir menangis.
Raden Sastro hanya menarik nafas dalam dalam. Usaha perdagangannya juga terganggu. Pasokan beras dari pedalaman dibatalkan karena takut dituduh kelompok timur. Sedangkan waktu pengapalan tinggal dua pasar lagi. Urusan ini benar benar membuat pening kepalanya.
"Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan cerita bohong itu. Entah apa tujuannya."
"Apa kita menghadap Adipati, mengadukan persoalan ini kepada beliau?" Usul RA Lencari.
"Setelah Adipati kehilangan anak kebanggaannya?" Raden Sastro balik tanya.
"Lalu kemana kita mengadu?"
"Apakah kita minta tolong ke Senopati Ki Kidang Anom lagi?"
"Tak ada jalan lain. Tapi kita harus tidak ketahuan siapapun saat menghadap."
"Apa sebaiknya kita menghadap ke semua aparat yang berwenang termasuk ke Adipati, sehingga tidak mencolok kalau kita menghadap ke Senopati."
"Baiklah, kita bagi tugas. Dinda melapor ke pos Bhayangkara, terus ke kantor keamanan Kadipaten. Aku ke Adipati lalu ke Senopati Ki Kidang Anom."

***

Jingga kembali bekerja seperti biasa. Tenggelam dalam tumpukan ikatan daun lontar yang berisi berbagai macam laporan kondisi keamanan. Sebagian dikirim dari Kadipaten, sebagian lagi hasil pengamatan telik sandi Jala Yudha.

Kesatuan Jala Yudha yang dipimpin Senopati merupakan kesatuan untuk operasi khusus baik dilaut maupun didarat. Memiliki jaringan telik sandi sendiri. Memiliki pusat pelatihan dari dasar sampai ahli. Punya logistik tempur. Namun posisi mereka di Kahuripan hanya sebagai bantuan bila pasukan keamanan Kadipaten minta bantuan. Sedang tugas utamanya adalah bertempur dalam kelompok kecil maupun dalam pertempuran skala besar.

Pimpinan pusat Jala Yudha adalah Rakyan Rangga Ki Gilang Bawana yang berpusat di Wilwatikta. Selain Jala Yudha ada kesatuan Jala Pati dan Jala Rananggana. Kesemuanya mempunyai wilayah tugas masing masing di seantero Nusantara.

Sedangkan tugas telik sandi yang sedang Jingga analisa sebetulnya tugas latihan rutin bagi semua satuan telik sandi. Agar nanti bila ditugaskan secara khusus, sudah terbiasa dengan prosedurnya. Jadi data data ini karena statusnya latihan, sering dianggap tidak penting dipelajari.

Jingga memeriksa laporan yang baru masuk dari para telik sandi Jala Yudha. Hampir semuanya tentang pergerakan pasukan Kadipaten. Ternyata benar, Pasukan Kadipaten melakukan penangkapan orang orang yang berhubungan dengan begal. Pencarian besar besaran di hutan alit dan akhirnya penghentian operasi pencarian.

Ia terkejut membaca laporan terakhir tentang desas desus yang berkembang di masyarakat yang menyebutkan penculikan Lencari adalah rekayasa pihak timur menjebak keluarga Bhre Kahuripan. Diduga Raden Sastro terlibat.

Segera Ia menghadap Senopati Kidang Anom di ruang kerjanya. Namun ternyata Ki Kidang Anom tidak ada ditempat. Ia kemudian menghadap Bekel Telik Sandi. Meminta ijin keluar memeriksa data telik sandi. Hal rutin yang dilakukan Lurah Telik Sandi seperti Jingga.

Dengan tetap berpenampilan sebagai caraka dagang. Jingga memacu kudanya menuju Kedai Raden Sastro. Sesampai disana suasananya sepi. Prajurit yang berjaga waktu lalu sudah tidak ada. Pengunjung juga sedikit. Ketika Jingga memasuki kedai, seorang pegawai menyambutnya. Ia mengutarakan mau mengirim surat ke Raden Sastro. Ia dipersilahkan duduk menunggu. Pegawai itu berjalan kebelakang kedai menemui Raden Sastro yang sedang bersiap siap pergi.
"Ndoro, ada caraka dagang mau mengirim surat,"
"Suruh tunggu sebentar," jawab Raden Sastro. Semoga saja tidak surat pembatalan perjanjian lagi, pikirnya.
Tak lama Jingga dipersilahkan masuk ke ruang kerja Raden Sastro.
"Selamat siang Ndoro," salam Jingga. Sontak wajah Raden Sastro gembira.
"Ayo ayo duduk,"
"Terimakasih,"
Setelah berbasa basi sedikit, Jingga menanyakan perihal desas desus yang berkembang. Sontak wajah gembira Raden Sastro berubah.
"Betul Nak Mas Jingga, entah siapa yang menyebarkannya. Yang jelas membuat kehidupan kami jadi susah. Kedai sepi dan banyak kerjasama dagang dibatalkan sepihak."
"Isu ini berkembang dikalangan mana?"
"Sepertinya semua kalangan, mulai dari rekan kerja, sampai tukang kusir membahas ini."
"Berarti ini ada yang mengatur penyebaran berita ini Ndoro. Akan saya bantu menyelidiki."
"Terimakasih, sebetulnya saya sedang bersiap menuju Kadipaten dan ke Senopati mau menghadap."
"Tidak usah Ndoro, Senopati sedang tidak ditempat. Saya pergi dulu, kalau ada kabar penting saya akan kesini. Bila ada kejadian bahaya, lepas saja burung ini." Jingga menyerahkan tiga tabung bambu berisi burung merpati.
"Saya pamit dulu Ndoro,"
"Oh ya, terimakasih, salam untuk Senopati."
"Akan saya sampaikan. Hati hati diluar ada banyak telik sandi mengamati. Nanti setelah saya keluar, coba Ndoro lepas yang ini. Saya mau melihat siapa yang memata matai Ndoro."

Sesuai permintaan Jingga. Setelah Jingga keluar dari kedai. Raden Sastro melepas burung merpati yang diberikan. Tak beberapa lama terlihat seorang berkuda mengejar kearah burung merpati itu terbang. Jingga hati hati mengikutinya. Terlihat penunggang kuda itu kebingungan karena merpati yang dilepas menuju rumah Bekel telik sandi, pimpinannya sendiri. Burung itu hinggap diatas wuwungan. Dari jauh Jingga menyambit burung itu membuatnya terjatuh ketanah. Buru buru penunggang kuda itu mengambil burung yang pingsan. Benar, dikaki burung itu ada kain digulung. Cepat dibaca pesan pada kain itu. Ini sandi, yang artinya, "aku dijebak orang timur."

Penunggang kuda itu terhenyak. Bingung menganalisa apa yang terjadi. Burung itu tersadar lalu terbang lagi ke wuwungan. Sedang penunggang kuda menaiki kudanya kembali ke kedai, mengamati dari jalanan.

Jingga tersenyum puas setelah membuat bingung petugas telik yang mengawasi Raden Sastro. Dugaannya terbukti. Meski prajurit ditarik, tapi Raden Sastro masih terus diawasi. Dan sepertinya penyebaran berita Raden Sastro orang timur juga pekerjaan orang Kadipaten yang masih sakit hati. Entah siapa.

jingga menuju kedai pinggir pantai tempat biasa Andaka nongkrong. Dari jauh sudah terlihat Andaka sedang ngobrol dengan penjaga kedai. Jingga langsung masuk kedai memesan makan siang tanpa menyapa Andaka.
Seusai makan, Jingga menunggang kudanya menuju pantai. Jalanan menuju pantai masih penuh tanaman perdu bergetah dan rumput bulu babi. Andaka sudah menunggu di sisi perahunya. Ia memperbaiki layar perahu. Jingga berlaku seperti sedang menikmati pemandangan pantai. Perlahan lalu mendekat melihat lihat kerja Andaka memperbaiki perahunya.
"Siapa sumber berita fitnah Raden Sastro?"
"Kadipaten."
"Punya ikan?"
"Ada," Andaka mengeluarkan ikan dari perahunya.
"Semua lima kepeng,"
Mereka bertukar uang dengan ikan.
Jingga kembali menunggang kuda sambil menenteng ikatan ikan. Kembali ke Kasatriyan setelah yakin tidak ada yang memperhatikan.
profile-picture
profile-picture
itkgid dan makan.sederhana memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di