alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan 95 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
KABUT DI KAHURIPAN

Keluar dari kedai Raden Sastro. Jingga kembali duduk duduk memeriksa pancingnya. Kailnya putus digigit ikan. Dirapikannya peralatan pancingnya sambil mengawasi sekitar bila ada yang mencurigakan. Dirasa aman, Jingga berjalan menuju dermaga kecil tempat perahu ditambatkan. Ternyata didalam ada Andaka sedang tidur yang segera terjaga melihat Jingga turun ke perahu.
"Sudah beres?" Tanya Andaka sambil ke buritan mengambil dayung. Perahu didayung menuju pelabuhan Ujung Galuh.
"Sudah Paman," jawab Jingga. Ia merapikan barang barangnya di dalam perahu.

Pelabuhan Hujung Galuh masih sepi. Hanya kapal kapal yang harus berangkat yang sibuk beraktifitas. Sedang kapal kapal yang sandar seperti tidur diatas ayunan gelombang.

Perahu yang dikayuh Andaka menyusup diantara kapal kapal samudra berukuran besar. Perahu meluncur deras menuju pelabuhan tempat nelayan menaikkan perahunya sehabis melaut.

Andaka dan Jingga meloncat turun begitu ujung perahu terdampar dipasir pantai. Lalu menarik keatas pantai menggunakan bantalan gelondongan kayu. Setelah dirasa cukup tinggi dari sambaran ombak pasang, Andaka mengikatkan ke batang pohon waru yang banyak tumbuh dipinggir pantai.

"Saya mau balik ke kasatyan paman," Jingga pamit ke Andaka. Andaka mengangguk, mengulurkan kantong emas rampasan milik RM Suryo.
"Simpan saja paman," tolak Jingga.
"Tolong cari kabar para begal kemarin. Mungkin bisa dipakai membantu keluarga begal yang ditinggalkan."
"Siap Ndoro!"
"Terimakasih atas bantuannya Paman,"
"Sudah kewajiban saya Ndoro," jawab Andaka. Ia mantap mengabdi melayani Raden Jingga. Bukan karena perintah Ayahanda. Tapi pribadinya yang berusaha berbuat baik, membuat Ia yakin berada dijalan yang benar.

Jingga berjalan ke jalan besar, menumpang pedati yang lewat, milik Petani Tua yang mau panen dikebunnya. Sebelum terang Ia sudah sampai di gerbang masuk Kasatryan.

Baru mau masuk biliknya, Jingga dipanggil Ki Kidang Anom. Diajak duduk duduk dibelakang menghadap kolam ikan kesayangannya.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Ki Kidang Anom sambil menabur sejumput pakan ikan.

Jingga tidak langsung menjawab. Ia bimbang harus menyampaikan. Terlalu banyak kemungkinan dan dugaan yang dilihatnya saat ini. Ki Kidang Anom berada dipihak siapa? Meski batinnya berkata tidak mungkin Ki Kidang Anom, Senopati yang Pertapa, mudah dipaksa menjadi sekutu RM Suryo. Tapi secara struktur, bisa saja Ki Kidang Anom mendapat perintah dari atasannya. Sama dengan dirinya yang tidak bisa menolak bila diperintah Senopati Kidang Anom. Untungnya kemarin perintahnya sejalan dengan batinnya. Bagaimana kalau perintahnya seperti pada pasukan pengawal RM Suryo.

Bagaimana bila nanti Ia mendapat tugas membunuh seseorang atau sekelompok orang.

"Belum jelas hasilnya Paman," jawab Jingga hati hati.
Ki Kidang Anom menyadari anak muda dihadapannya kesulitan menceritakan yang terjadi. Harus dipancing atau ditenangkan dahulu.
"Saat ini RM Suryo sedang memimpin pencarian besar besaran para begal yang menculik RA Lencari. Tapi sampai pagi ini para begal dan RA Lencari bagai hilang ditelan demit hutan alit."
Jingga mengangguk mendengarkan. KI kidang Anom mengawasi.
"Sebenarnya bukan pada tempatnya RM Suryo turun tangan sendiri menangani urusan seperti ini. Apalagi sampai mengerahkan pasukan besar besaran. Kecuali ada urusan pribadi dengan keluarga Raden Sastro."
"Urusan seperti ini harusnya ditangani para prajurit keamanan setempat."
"Mungkin karena terlanjur lebih dulu berada ditempat kejadian Paman," akhirnya Jingga buka suara.
"Atau mungkin Raden Sastro juga minta tolong kepada RM Suryo seperti yang beliau lakukan kepada Paman. Namanya orang kesusahan dan bingung, wajar bila meminta tolong kepada siapapun yang dianggap bisa menolong."

Ki Kidang Anom mengangguk membenarkan ucapan Jingga. Tindakan RM Suryo dan dirinya meski berbeda cara namun sama sama diluar aturan. Dan hal itu bisa menjadi masalah dikemudian hari.

"Saya tidak mengutusmu sebagai prajuritku, tapi sebagai cantrikku." Ucap Ki Kidang Anom membela diri.

"Benar Paman,"

"Lalu bagaimana cerita pengejaranmu?"
"Begini Ndoro, saya mengejar mengikuti jejak sesuai petunjuk Raden Sastro. Ada banyak jejak menuju kedalam hutan. Jejak para Begal dan prajurit RM Suryo. Ketika sampai di goa dilembah. Terlihat RA. Lencari dibawa pergi RM. Suryo setelah bertemu dengan Para Begal. Setelah itu para Begal diserang prajurit RM Suryo. Para begal mengumpat RM Suryo sebagai penghianat.

Saat saling serang, datang dua orang pihak ketiga yang berilmu tinggi. Kedua kubu dikalahkan dalam sekejap sambil marah marah karena tempat itu dikotori dengan darah. Termasuk RM Suryo mereka buat pingsan.
Lalu Lencari mereka bawa. Juga uang Begal pemberian RM Suryo mereka ambil.

Setelah itu para prajurit diusirnya, disusul Para Begal. Lalu mereka membawa RA Lencari pergi. Begitulah cerita saya Paman," Jingga mengakhiri cerita versinya.

"Apa yang kamu lakukan selanjutnya?"
"Berusaha terus mengikuti kemana Lencari dibawa."
"Dibawa kemana?"
"Dibawa terus ketengah hutan."
"Bisa mengenali siapa mereka?"
"Mereka memakai topeng dan ilmunya diatas RM Suryo."
"Kenapa tidak kamu rebut RA Lencari dari mereka?"
"Apa saya punya kemampuan seperti itu Paman?"
Ki Kidang Anom tersenyum, dirinya juga sangsi Jingga bisa melawan kedua orang itu, meski dalam diri Jingga terdapat kekuatan tersembunyi.
"Setelah itu jejak mereka menghilang Paman,"
"Menurutmu siapa mereka?"
"Entahlah, bisa saja mereka sama dengan kita, yang diminta tolong Raden Sastro, dari ucapan dan tidak melukai lawannya, saya berkesimpulan mereka orang baik baik."
"Mengapa Kedua pendekar itu menyerang kedua kubu?"
"Kedua pendekar itu sepertinya hanya ingin melerai. Karena para begal dan prajurit bertempur. Padahal dari makian mereka sepertinya awalnya mereka sekongkol menculik RA Lencari. Para Begal bertugas menculik, lalu RM Suryo bertindak sebagai penyelamat. Mereka berjanji ketemuan di Goa itu. Namun RM Suryo ingin menghapus saksi dengan mau menghabisi para Begal itu."
"Berarti dalang semua ini adalah RM Suryo," gumam Ki Kidang Anom. Kenyataan ini cukup menjelaskan dan juga mengerikan. Pengerahan pasukan kadipaten besar besaran ini bisa saja bukan untuk mencari RA Lencari, tapi untuk menutupi aibnya sendiri. Korban sudah banyak berjatuhan dari kerabat dekat para Begal itu.
"Bagaimana cara menghentikan ini Paman?"
"Nanti aku coba menemui Adipati Bhre Kahuripan. Semoga bisa meredakan suasana."

"Saya pamit dulu Paman, mohon ijin mau siap siap menemui Raden Sastro jika diperkenankan. Mungkin saja ada kabar terbaru tentang Lencari."

Ki Kidang Anom mengangguk memberi ijin. "Sampaikan salamku padanya."

"Baik Paman," Jingga berbalik kembali ke biliknya. Ia bersiap kembali ke Kedai Raden Sastro. Ia ingin Kisahnya menolong Lencari tertutup rapat.

Menggunakan kuda yang kapan hari Ia lepas di hutan. Jingga kembali ke Kedai Raden Sastro. Kali ini Ia menyamar menjadi seorang caraka pengantar surat. Penampilannya berubah. Hidung dan mulutnya ditutup kain, pakaiannya lusuh banyak terkena matahari. Khas caraka pelabuhan Hujung Galuh dan Gresik.

Pekerja kedai dan Prajurit jaga mempersilahkan Jingga menghadap Raden Sastro di Kediamannya.

Raden Sastro pun tidak menyadari kalau caraka yang menemuinya adalah Jingga yang semalam berbincang dengannya.

"Darimana?" Raden Sastro bertanya saat menerima ikatan daun lontar.
Jingga kemudian berbisik, "Hamba Jingga yang menghantarkan semalam."
Raden Sastro terkejut tapi cepat mengendalikan diri. Ia mempersilahkan Jingga duduk sambil terus mengamati. Tapi Ia tidak bisa mengingat, hanya suara saja yang Ia ingat. Karena semalam pembicaraan dilakukan dalam keadaan gelap gulita.

Seorang pelayan menyodorkan kue dan minuman. Jingga mengenali pelayan itu, tapi pelayan itu tidak mengenali Jingga sama sekali. Setelah pelayan pergi, Raden mulai menanyakan keperluan Jingga datang kembali.
"Begini Ndoro, hamba minta tolong Ndoro merahasiakan identitas hamba pada siapapun, termasuk kepada Senopati Kidang Anom. Ini demi keselamatan hamba juga Senopati Kidang Anom. Anggap saja Ndoro tidak pernah minta tolong pada kami. Hamba takut hal ini dibenturkan dengan Bhre Kahuripan."

"Terus terang Hamba tidak melaporkan kepada Senopati bahwa putri Ndoro sudah kembali. Hamba hanya mengarang cerita bahwa yang menyelamatkan adalah sepasang pendekar bertopeng. Jadi bila suatu hari Ndoro mau memberitahu orang lain, mohon sampaikan pendekar bertopeng yang mengantarkan,"

Raden Sastro tercenung. Memang masih rumit masalah ini. Ia hanya pengusaha, saudagar, meski punya anak buah banyak, tapi mereka tenaga kerja. Bukan pasukan yang setiap saat bisa membela dan menjaganya.

Bila kabar anak buah Senopati ini yang membuat malu RM Suryo tersebar. Bisa terjadi kekacauan di Kahuripan. Bukan hanya nyawa anak ini, karir Senopati diujung tanduk, karena bertindak atas nama pribadi.

Apakah selamanya menyembunyikan anak kesayangannya dari orang lain? Itu sama dengan membunuh separuh hidup Lencari. Harus ada cara menyelesaikan ini semua.

"Saya ikuti saranmu nak Jingga. Apakah ada saran, apakah anakku harus sembunyi terus atau bagaimana?"

"Terimakasih Ndoro," ucap Jingga Lega.
"Mungkin hamba sedikit usul, bagaimana bila putri Ndoro dikabarkan sudah kembali, agar para prajurit ini tidak mengawasi Ndoro terus."

"Lalu kami akan menghadapi RM Suryo?"

"Ya semoga RM Suryo mundur dan menyadari kesalahannya,"
"Kalau Ia terus memaksakan kehendaknya?"
"Kita lihat saja perkembangannya."
"Terimakasih Nak Jingga, beruntung Ki Kidang Anom punya Cantrik seperti kamu. Sering sering datang kesini."
"Kalau begitu hamba pamit Ndoro," Jingga bangkit meninggalkan ruang kerja Raden Sastro, menyusuri jalanan yang Ia hapal benar setiap relungnya. Sejenak Ia menengok ke kanan, gubuk Ia pernah tinggal dan kolam ikan tempat bermain bersama Lencari. Ia menekan keinginan menyapa rekan rekan kerjanya dulu yang sibuk hilir mudik melayani pembeli.
Setengah melamun Ia berjalan sampai tidak menyadari hampir bertabrakan dengan wanita paruh baya. RA Sulastri.
Untung Jingga bisa berkelit menghindari tabrakan. Sambil mengucapkan maaf maaf, Ia segera pergi menuju kudanya. RA Sulastri terkejut sedikit terhuyung reflek menghindar. Sejenak Ia mengamati pemuda yang hampir menabraknya.
Ia tercenung mengingat ingat siapa pemuda itu. Seperti kenal tapi lain. Sekali lagi diamati, ah!
"Ada apa? "
RA Sulastri kaget disapa seseorang. Apalagi yang menyapa adalah suaminya.
"Tadi itu siapa?" RA Sulastri balik tanya.
"Oh, dia caraka mengirim surat dari teman," jawab Raden Sastro sekenanya.
"Aku seperti kenal, tapi dimana?" Gumam RA Sulastri.
"Sudah, ayo kita masuk, ada yang perlu kita bicarakan."
Raden Sastro bergegas masuk Bale utama kediamannya disusul istrinya.

Prajurit telik Kahuripan yang menyamar terus mengawasi dari jauh.

***

RM Suryo gelisah. Sudah tiga hari pencariannya tidak mendapatkan hasil. Hampir seluruh pasukannya dikerahkan untuk itu. Namun RA Lencari dan begal begal itu menghilang entah kemana.
Terutama Ia penasaran siapa yang membuatnya jatuh pingsan. Menurut prajuritnya, ada dua orang bertopeng. Satu orang membawa pergi RA Lencari setelah membuatnya dan pengawalnya pingsan tanpa tahu siapa yang melakukan, sedangkan yang seorang lagi melumpuhkan semua prajuritnya dan begal begal sialan itu.
Ini kalau diketahui orang. Mau diletakkan dimana wajah ini.

Siapakah mereka?
Apakah mereka pendekar yang bertapa di lembah itu?
Kalau mereka Pendekar yang bertapa, hutan alit terlalu kecil untuk menjaga ketenangan pertapaannya.

Apakah mereka Prajurit salah satu dari ketiga kesatuan laut yang digjaya?
Bisa saja, bisa saja mereka orang yang diminta tolong Raden Sastro membebaskan anak gadisnya. Bukankah sebagai saudagar terpandang di laut. Ia bisa minta tolong para pendekar ketiga Jala.
Memikirkan itu, kepala RM Suryo menjadi panas. Ia tidak memperhitungkan hal ini. Kecemburuan dan takut gadis pujaannya diambil orang lain membuatnya nekat merekayasa penculikan RA Lencari.
Namun kaki sudah dilumpur, laki laki pantang mundur.

Apakah mereka adalah Bhayangkara inti pengawal keluarga Raja yang mengawal Raja saat berkunjung ke Kahuripan?
Hal ini lebih mengerikan, bisa saja mereka yang disuruh menjaga RA Lencari oleh keluarga Raja yang meminang RA Lencari waktu itu. Bukan saja dirinya yang terancam, Ayahandanya juga terancam jabatannya.

Dalam ketakutannya, Ia sudah menangkap orang orang terdekat dan dianggap tahu keberadaan begal begal itu. Namun tetap tidak ada informasi sedikitpun.

Dari pengejaran tidak ada hasil, dari interograsi tidak ada hasil dari penjagaan rumah dan kedai Raden Sastro juga tidak ada hasil. Ketakutannya akan kehilangan RA Lencari dan rekayasanya terbongkar membuatnya semakin kalap.

***

Senopati Ki Kidang Anom bergegas menunggang kudanya menuju kediaman Adipati Bhre Kahuripan. Senopati ini memang tidak suka dikawal pasukannya bila melakukan perjalanan kemana mana. Bhre Kahuripan meski berbeda generasi, cepat akrab semenjak Ki Kidang Anom ditempatkan di Kahuripan. Mereka sering melakukan kegiatan berkuda dan berburu bersama bila ada waktu luang. Maka pagi ini kedatangan Senopati Ki Kidang Anom dianggap hal biasa bagi prajurit jaga Kadipaten.

"Ada angin apa Ananda Senopati pagi pagi mampir kesini?" Sapa Bhre Kahuripan. Ia sedang bersantai merawat kuda kesayangannya.
"Tidak ada angin pagi ini Ndoro, hanya kabut pagi dari hutan alit menutupi jalanan. Hamba jadi kangen masakan Ibunda," jawab Senopati.
"Hahaha sampaikan pada Ibu, Nak Mas Kidang mau menemaniku sarapan," Bhre Kahuripan memerintah pengawalnya. Para pengawal mengerti, Adipati ingin mereka menjauh.

Setelah para pengawal dan perawat kuda pergi. Bhre Kahuripan mulai bertanya serius.
"Kabut apa yang Ananda lihat?"
"Sudah tiga hari ini muncul kabut gelap di hutan alit kemudian membesar menutupi seluruh Kadipaten Kahuripan."
"Ya aku juga tahu kabar itu. Semua prajuritku jadi sibuk. Apa yang dilakukan anakku itu."
"Situasi seperti ini cukup berbahaya untuk ketenangan Kahuripan Ndoro, kabut itu membuat pandangan kita terbatas. Bisa bisa sesama Kahuripan tak sadar akan saling berhadapan. Apalagi kalau pihak yang tidak suka ikut turun memperkeruh suasana."
"Bahayanya dimana? Anakku melakukan pencarian penculikan gadis impiannya, juga melakukan pengejaran dan penumpasan para begal yang meresahkan masyarakat. Bukankah hal itu baik?"
"Baik Ndoro, hal itu memang baik. Namun alangkah baiknya kita tetap mengikuti tata aturan prajurit. Kita kembalikan pekerjaan itu kepada aparat Keamanan setempat. Kita, juga RM Suryo mendukung dari belakang.
Dalam kondisi negara seperti ini, segala kemungkinan harus kita perhitungkan. Takutnya, kesalahan prosedur kecil ini dibesar besarkan oleh lawan Ndoro dengan menyerang RM Suryo sebagai pijakan awal."
"Kabar dijalanan kadang bisa sangat liar bila tidak segera kita selesaikan,"
Bhre Kahuripan menyimak setiap kata penjelasan Senopati Kidang Anom. Ia sadar ucapan Senopati ini sudah amat diperhalus. Berarti ada hal yang tidak pada tempatnya yang dilakukan anaknya.
"Terimakasih telah mengingatkan. Ayo kita sarapan dulu." Bhre Kahuripan mengamit pundak Ki Kidang Anom menuju gubug bambu ditengah kolam teratai. Tempat biasa Bhre Kahuripan bercengkrama dengan para sahabatnya. Suasana kembali cair, Bhre Kahuripan mengganti pembicaraan ke hal hal lain.
Senopati Kidang Anom maklum, setelah selesai sarapan. Ia pamit melanjutkan jalan jalan. Tak lupa Ia mengucap terimakasih atas sarapan gratis dan memuji nikmatnya masakan Ndoro Putri.

****

profile-picture
profile-picture
makan.sederhana dan andir004 memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di