alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Entertainment / The Lounge /
Mengenal Cotard Syndrome
4.37 stars - based on 19 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ab74327dcd770d96f8b4570/mengenal-cotard-syndrome

Mengenal Cotard Syndrome



Apa itu Cotard Syndrome?

Menurut Wikipedia, Cotard Syndrome, atau Cotard Delusion, atau Walking Corpse Syndrome, adalah penyakit kejiwaan langka dimana seseorang yang terpengaruhi memiliki keyakinan delusi bahwa dia sudah mati, tidak ada, membusuk, atau merasa kehilangan darah atau organ bagian dalam tubuhnya.

Istilah Cotard Syndrome ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang neurologist berkebangsaan Prancis bernama Jules Cotard.



Sekitar tahun 1880an, Jules Cotard memeriksa seorang pasien bernama Mademoiselle X dengan keluhan yang tidak biasa. Wanita tersebut mengklaim "tidak memiliki otak, saraf, dada, perut, dan usus". Selain itu, dia juga merasa "kekal dan hidup selamanya". Karena dia merasa "abadi", maka dia tidak merasa memiliki kebutuhan untuk makan. Oleh karena itu, tidak lama kemudian dia meninggal karena kelaparan.

Berdasarkan gejala dan keadaan wanita tersebut, Jules menyimpulkan bahwa wanita tersebut mengalami sebuah syndrome. Dan sindrom tersebut dinamakan sebagai Cotard Syndrome.



Dalam Wikipedia juga dijelaskan bahwa Cotard Syndrome muncul dalam tiga tahap.

1. Tahap pengecambahan, dimana gejala psychotic depression dan gejala hypochondria muncul.

Quote:


2. Tahap pengembangan, dimana dari sindrom dan delusi atas penyangkalan terjadi pengembangan secara penuh.

3. Tahap kronis - lanjutan, dimana delusi parah muncul bersamaan dengan depresi psikiatrik kronis.

Walopun diagnosa Cotard Syndrome tidak menemukan adanya halusinasi pada penderita sindrom itu sendiri, namun penyangkalan delusi yang kuat bisa dibandingkan dengan penyangkalan delusi yang ditemukan pada seseorang yang menderita schizophrenia.

Quote:


Berdasarkan penelitian, Cotard Syndrome diderita oleh orang-orang yang berumur 50, tidak menutup kemungkinan juga anak-anak dan remaja. Namun jika orang-orang yang menderita sindrom ini berumur dibawah 25 tahun, mereka juga cenderung menderita Bipolar Depression. Dan kaum wanita lah yang kebanyakan menderita Cotard Syndrome ini.





Warren McKinlay merupakan seorang tentara veteran Inggris. Pada tahun 2005 dia pernah mengalami kecelakaan motor yang menyebabkan luka pada bagian otaknya.

Sejak kecelakaan tersebut selama kurang lebih 18 bulan, keluarga Warren merasa bahwa dia berperilaku aneh dan cenderung menjauh setiap keluarganya mencoba untuk mendekatinya. Warren sendiri secara sengaja membiarkan dirinya kelaparan karena dia merasa hal tersebut tidak ada gunanya. Terlebih setelah dia meyakinkan dirinya bahwa dia sudah mati.

Tapi beruntung, Warren sembuh setelah menjalani terapi dan bertemu dengan sesama tentara veteran yang juga merupakan penderita Cotard Syndrome.





Haley Smith baru berumur 17 tahun, tapi dirinya menghabiskan waktu selama 3 tahun menderita Cotard Syndrome. Dari sumber yang didapat tidak ada keterangan bagaimana dia bisa menderita sindrom tersebut.

Dan sama seperti penderita Cotard Syndrome lainnya, Haley merasa semua bagian tubuhnya hilang. Bahkan dia merasa bahwa dia sudah mati. Oleh karenanya, dia merasa tidak perlu makan.

Namun akhirnya Haley sembuh berkat sebuah terapi dan dengan menonton film-film produksi Disney.



Kasus yang menarik terjadi di New York pada tahun 2008 ketika seorang wanita berumur 53 tahun yang bernama Lee, mengaku bahwa dirinya sudah mati dengan bau seperti daging yang sudah membusuk.

Lee meminta keluarganya untuk membawanya ke kamar mayat agar bisa bersama dengan mayat-mayat yang lain. Keluarganya malah menelepon 911 dan dia dibawa menuju unit psikiatrik. Namun Lee justru menuduh tim medis sudah mencoba untuk membakar rumahnya.

Beruntung, dengan mengkonsumsi obat-obatan yang khusus diberikan pada penderita Cotard Syndrome secara teratur, Lee dinyatakan sehat sebulan kemudian dengan kemajuan yang luar biasa.



Penderita Cotard Syndrome tentu saja bisa disembuhkan, hanya saja tergantung kondisi dari penderita sindrom itu sendiri. Jadi pengobatan pun bisa dilakukan secara bervariasi.

Pada tahun 2009 ditemukan bahwa Electoconvulsive Theraphy atau ECT, merupakan jenis pengobatan yang paling sering digunakan. Termasuk pada seseorang yang menderita depresi yang parah. ECT tersebut melibatkan aliran listrik dengan skala kecil menuju otak yang mampu menimbulkan sebentuk kejangan kecil ketika si penderita berada dibawah pengaruh obat bius.

Namun, pengobatan dengan menggunakan ECT mampu menimbulkan resiko lain seperti kehilangan ingatan, kebingungan, rasa mual, dan sakit otot. Oleh karena itu, pengobatan ECT ini hanya dilakukan jika penderita Cotard Syndrome sudah mencoba menjalani pengobatan jenis lain seperti antidepressants, antipsychotics, mood stabilizers, psychotherapy dan behavioral therapy.



Sekian thread dari ane, dan terimakasih.

emoticon-terimakasih emoticon-terimakasih emoticon-terimakasih



Sumber 1
Sumber 2
Sumber 3
Sumber 4
Sumber 5

Diubah oleh marywiguna13
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Thread sudah digembok
Kok sekilas memang mirip skizofrenia ya. Cotard juga delusi kalo dia sudah mati atau ga perlu makan. Sama kyk gejala skizofrenia yg delusi, penderita bisa melihat sesuatu yg cuma penderita sendiri yg tau
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di