alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/573370ce96bde6f9788b4569/kembalilah-tak-terungkap--ketulusan-cinta-para-bidadari--r-17

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.

Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.

Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.



Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.

Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.

Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.

Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.

Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari





MAKLUMAT

Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku author akan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE


     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.

     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandya datang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:

profile-picture
profile-picture
profile-picture
just.endra dan 15 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh m60e38

Secercah Cahaya Langit | Bagian 15

SECERCAH CAHAYA LANGIT (BAGIAN 15)


      “Sebenernya bahagia sama Kakak,” ujarku seraya menempelkan bibirku di telinganya.

      “Tapi, Dede enggak mau semuanya terluka, makanya Dede milih buat menyingkir.”

      “Padahal, Dede tahu, kalo Dede cuma bahagia sama Kakak,” ujarku, masih menempelkan bibirku di telinganya.

      “Sampe kapan Dede akan terus nyiksa diri Dede dan enggak mikirin kebahagiaan Dede sendiri?” ujarku lagi, kali ini, tidak ada jawaban dari gadis ini. Ia langsung mendekapku, masih dengan menyandarkan kepalanya di dadaku. Ia bahkan tidak menyingkirkannya walau sekejap saja.

      “Dede enggak mau egois Kak,” ujarnya, akhirnya membuka lisannya, “Dede enggak mau kalo Kakak akan selalu menunjuk Dede, sementara Dede udah ngomong berulang kali, kalo Kakak udah menangin hati kita semua.”

      “Kakak peduli sama semua yang hadir di hidup Kakak,” ujarku, “tapi Kakak lebih peduli sama Dede yang udah ngubah semua yang terjadi di hati Kakak.”

      “Dede yang udah bisa goyahin pertahanan Kakak ke Aerish, bahkan ke filosofi Kakak tentang perempuan.”

      “Dan itu semua karena Dede,” ujarku pelan, “dan Kakak mau, selama di sini, sebelum Dede ngilang dan menyingkirkan diri lagi. Kakak mau bahagiain Dede di waktu yang sekejap ini.”

      “Is breá liom tú go mór,” ujarnya, menggunakan bahasa yang aku bisa memahami kata-kata breá yang berarti cinta, dan menurut Cauthelia kata-kata breá berasal dari kata grá. Dan aku mengerti, apabila Cauthelia mengucapkan sesuatu dengan bahasa tersebut, berarti ada hal yang ingin ia katakan, tetapi aku tidak boleh mengetahuinya.

      “Apapun,” ujarku singkat, “Kakak akan cari di manapun Dede berada,” ujarku pelan.

      “Dari awal, Dede cuma dateng sekejap, enggak sampe sebulan, terus Dede langsung pergi ke Semarang, bahkan Dede enggak pernah ada selalu di deket Kakak.”

      “Tapi, hati Kakak selalu ada di Dede, bahkan Aluna yang segitu miripnya sama Dede aja enggak bisa boongin hati Kakak, kalo dia bukan Dede,” ujarku, tak lama kemudian, gadis itu menjatuhkan diriku di atas pasir, dan seolah tidak peduli dengan Kiara yang saat itu memperhatikan kami, ia langsung mendaratkan Labia orisnya di atasku.

      Cauthelia, ia tidak akan pernah bisa menyembunyikan segala perasaan cinta dan hasrat yang selalu meletup, menggelora, dan membahana seolah tidak pernah ada ujungnya. Ia adalah gadis yang tidak akan pernah menyerahkan segalanya begitu saja di hadapanku.

      “Dek, itu ada Tasha,” ujarku, meredam sesuatu yang mungkin ia telah pendam.

      “Sha,” panggil Cauthelia, ia sedikit terengah seraya memandang ke arah gadis itu, “bisa tinggalin kita berdua aja?” tanya Cauthelia, ia masih menempelkan tubuhnya ketat di atasku, ia hanya menoleh ke arah Kiara yang saat itu memandang kami, entah bagaimana ekspresinya.

      “I… Iya,” jawab Kiara sedikit terbata, “gue balik dulu ya,” ujar gadis itu. Sekejap lalu ia langsung meninggalkan kami untuk berlari menuju ke cottage, entah apa yang ia pikirkan tentang kami berdua. Tetapi, ia pasti sudah mengerti dan paham tentang hal ini.

      “Kakak masih inget, kalo Dede punya keinginan yang kuat tentang sesuatu,” ujarku pelan, ketika ia sudah mulai bisa mengusaiku saat ini. Tidak ada jawaban dari gadis itu, hanya ada senyuman yang selalu kukenal dan selalu kunantikan dari seorang Cauthelia Nandya.

      “Hari ini,” ujar Cauthelia pelan, napasnya masih terengah, “Dede mau Kakak cuma jadi punya Dede,” ujarnya lagi.

      Aku menghela napas, tersenyum di ujungnya, “enggak cuma hari ini Dek.”

      Gadis itu lalu menghujaniku dengan pagutan Labia orisnya. Begitu hangat mendekap tiap milimeter saraf sadarku, menyuratkan sebuah perasaan cinta yang begitu nyata di antara deburan ombak dan juga suara pasir yang seolah ikut mendesah, memberikan harmoni yang begitu indah di telingaku.

      “Kakak yakin sama keinginan Kakak?” tanya Cauthelia, ia memandangku, meskipun aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, tapi aku tahu apa yang ia simpan di balik sorot matanya yang selalu saja seperti itu di saat seperti ini.

      “Kakak yakin,” ujarku pelan, kukecup pelan bibirnya, “Kakak mau Dede bahagia sebelum Kakak harus jauhan lagi sama Dede.”

      Gadis itu lalu tersenyum, ia lalu mendaratkan Labia orisnya lagi di atasku, menarikan Linguanya dengan begitu lincah dan gemulai. Jemarinya bahkan terus menari-nari, memainkan segala hasrat yang ia miliki, mungkin yang selama ini terpendam dan tidak pernah ia ungkapkan kepadaku.

      Mesin dua-belas-silinder itu benar-benar memiliki torsi yang sangat melimpah. Hanya sedikit saja bukaan gas yang terjadi, ia langsung berteriak mencapai puncak torsi dengan begitu cepat. Sangat cepat, bahkan aku tidak tahu bagaimana ini semua bermula dan berakhir, dan dalam sesaat aku sudah merasakan puncak torsi, sebelum harus mengganti ke gir selanjutnya.

      Aku tidak bisa melanjutkan ini. Aku tidak ingin melakukan ini di saat seperti ini. Bukan saat yang tepat untuk gadis sesempurna Cauthelia, dan aku tidak ingin aku makin terlena dan menganggap mudah ini semua. Aku tidak ingin memasukkan ke gir puncak, dan aku tidak ingin itu terjadi.

      “Shift up, please,” ujar gadis itu, peluh yang sudah membasahi tubuhnya bahkan membuatnya semakin melumpuhkan segala sadarku, dan ingin rasanya aku memenuhi keinginannya.

      “Not yet, not this time.”

      Wajah kecewanya langsung hilang sesaat ketika aku terus menerus memacunya di penultimate gear. Aku tidak ingin menggunakan kesempatan ini untuk shift up ke ultimate gear. Aku mencintainya, dan aku pun merasakan hal ini adalah salah ketika kami malah menikmati dosa ini dengan tanpa beban.

      Karena mesin dan transmisi adalah komponen yang berkesinambungan, dan aku percaya itu.

      Jam sudah menunjukkan pukul delapan-lewat-lima-belas-waktu-Indonesia-tengah. Saat kami berdua masuk ke dalam cottage, Aluna dan Shinta langsung memandang kami dengan senyuman yang begitu hangat. Ia bahkan tersenyum kepada Cauthelia yang saat itu berwajah sayu, dan terkesan tidak mengacuhkan senyum mereka.

      “Elya,” panggil Aluna, saat itu Cauthelia hanya menghela napas dan memandang ke arah Aluna, dan aku tidak pernah melihat ekspresi itu sebelumnya dari Cauthelia.

      “Hum,” sahut Cauthelia saat ia melewati Aluna, “kenapa?”

      “Kamu kenapa ih?” tanya Aluna, penasaran saat ia hanya memandang ke arah Cauthelia dengan begitu keheranan.

      “Aku mau mandi,” ujarnya ketus, “eh sarapan udah ada belom sih?”

      “Tumben Elya galak,” ujar Shinta lalu menghampiri adik sepupunya, memandangnya lebih deket, “kamu sakit El?”

      Cauthelia menghela napas, “aku mau mandi, panggil aja kalo sarapan udah siap.”

      Sejurus, gadis itu langsung meninggalkan kedua wanita itu. Aluna dan Shinta hanya saling pandang, mereka mungkin tidak paham dengan apa yang terjadi kepada gadis itu. Mereka pun melempar pandangannya ke arahku, lalu aku hanya mengangkat kedua bahuku.

      Apa mungkin sederet supernova yang telah ia rasakan masih kurang?

      “Kurang kah Kak?” tanya Aluna, penasaran. Sorot matanya tampak menyelidiku dengan ekspresi yang begitu biasa kukenal dari wanita itu.

      Aku menggelengkan kepalaku, “gak tahu Dek, udah banyak kok.”

      “Mungkin lagi enggak enak hati,” ujar Shinta ringan, “dia enggak biasanya gitu sih.”

      Aku lalu mengangguk, “mungkin dia lagi mikirin sesuatu, makanya dia gitu.”

      “Yaudah, mendingan kita bikin sarapan,” ujarku lalu memulai langkah menuju ke dapur. Namun dua pasang tangan menahanku. Aku lalu menoleh ke arah Aluna dan Shinta bergantian. “Lah kenapa?”

      “Kakak mending istirahat aja,” ujar Aluna, “kan udah dari tadi pagi sama Elya.”

      “Iya, kasian Kakak kalo harus buat sarapan,” ujar Shinta lalu ia menarik tanganku untuk masuk ke kamar tempatku istirahat. Setelah itu mereka berdua tersenyum, menutup pintu kamar ini, dan membiarkanku terdiam di dalam ruangan yang telah dirapikan ini.

      “Pasti mereka berdua,” gumamku di dalam hati seraya menghela napas. Penyejuk udaranya bahkan tampak sudah beroperasi sejak tadi. Lantai kayunya terasa begitu dingin seraya harum tubuh mereka berdua benar-benar masih tertinggal di ruangan ini.

      Aku tersenyum sendiri, sejurus menghela napas di ujungnya.

      Mereka memang wanita yang luar biasa. Bahkan dengan sikap Cauthelia yang menurutku begitu tidak biasa, mereka tampak tidak menaruh peduli dengan apa yang gadis itu lakukan barusan. Mungkin ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya karena kata-kataku tadi pagi.

      Tetapi, ia tidak mengatakan apapun kepadaku, mungkin ada hal lain. Entahlah.

      Kuhela napas sebelum butiran air yang tercurah begitu cepat dari mulut pancuran yang berada di atasku ini segera membasuh tubuhku dengan air hangat. Kupejamkan mata, sejenak aku mengingat apa yang telah terjadi di antara aku dan Cauthelia barusan. Entah mengapa, segalanya terasa berbeda bersama gadis itu. Apakah mungkin ikatan batin di antara kami memang begitu kuat?

      Entahlah. Aku tidak dapat berpikir saat helaan demi helaan yang masih terekam dengan jelas di dalam kepalaku. Semuanya terasa terputar begitu nyata, bahkan sejak pertemuan pertamaku dengannya di bawah hujan. Bukan, bukan itu aku menemuinya pertama kali.

      Tetapi di depan jalan raya saat ia akan tertabrak oleh truk yang melintas seolah tidak melihatnya berada di sana. Ya peristiwa itu sudah berlalu, hampir lima tahun yang lalu. Tetapi, bukan itu peristiwa yang membuat kesan tersendiri di hatiku hingga saat ini.

      Peristiwa di bawah hujan di depan rumahku lah yang membuat kesan tersendiri tentang Cauthelia di dalam hatiku. Sejurus butiran air ini terus menghujaniku, selama itu pula kenangan yang telah tercipta itu terus terputar, seolah tiada hentinya di depan mataku.

      Membawa kenangan yang begitu membekas tentang seorang Cauthelia Nandya.

      Hanya sekitar lima menit aku menyelesaikan mandiku, dan saat itu aku langsung merebahkan diri atas ranjang berukuran seratus-enam-puluh-kali-dua-ratus-centimeter ini. Kuhela napas panjang seraya menancapkan ujung pandanganku ke arah langit-langit.

      Sayup terdengar suara embusan penyejuk udara yang masih saja setia menyemburkan angin dari centrifugal fan yang melewati evaporator. Sehingga angin yang keluar bisa diatur suhunya, tergantung dengan kapasitas kompresor untuk memampatkan HCF2Cl untuk melewati kondensor sebelum berakhir di expansion valve. Semakin tinggi daya kompresor memampatkan gas tersebut, semakin tinggi pula kemampuannya untuk mendinginkan sebuah ruangan.

      Daya tersebut biasanya dicantumkan dalam bentuk BTU atau British Thermal Unit. BTU sendiri didefinisikan sebagai kebutuhan panas yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu air sebanyak satu-pound sebesar satu-derajat-Fahrenheit. Biasanya, BTU agar lebih mudah diterima masyarakat ditranslasikan dalam bentuk Watt atau PK. Dan seperti kita ketahui juga, 1 PK adalah 745.7 Watt yang berarti adalah 2,544.43 BTU.

      “Sudahlah, tidak penting,” gumamku dalam hati seraya menghela napas panjang. Aku mencoba memejamkan mata sejenak, melupakan segala yang sudah terjadi bersama Cauthelia pagi ini di tepi pantai. Tetapi, semakin aku memejamkan mataku, semakin tidak dapat melupakannya.

      “Kak,” panggil suara lembut itu, “bangun sayang.”

      Kubuka mataku perlahan, Shinta sudah berada di sebelahku. Ia tersenyum dengan begitu manis seraya lembut tangannya mengusap pelan jemariku yang saat ini berada di balik selimut. Wanita itu langsung mengecup pelan keningku, dan diakhiri dengan senyuman.

      “Yuk maem Kak,” ujar Shinta, “udah pada nungguin tuh.”

      “Elya?” tanyaku singkat.

      Shinta lalu mengangguk pelan, “dan dia masih sama kayak tadi, Dede juga heran kenapa Elya gitu.”

      Wanita itu tampak menghela napas panjang seraya menundukkan pandangannya, mungkin ada hal yang tidak ia ketahui tentang Cauthelia. Karena, ia adalah gadis yang begitu luar biasa, dan tidak mungkin karena satu hal yang tidak ia dapatkan tadi, ia langsung menjadi seperti ini.

      “Mungkin gara-gara masalah top gear,” ujarku pelan, “dia bener-bener pengenin itu, tapi aku gak pernah kasih buat dia.”

      Shinta tersenyum, “officialy cuma Dede, Luna, sama Kak Nana doang ya berarti,” ia mengakhiri kata-katanya dengan tertawa kecil.

      Aku mengangguk pelan, lalu aku memandang ke arah Shinta, “tapi ini bukan hal yang dibolehin Dek.”

      “Jujur, ada rasa bersalah tiap Kakak inget apapun yang udah Kakak lakuin ke Dede.”

      Wanita itu menggeleng, “Dede tahu itu dosa, tapi Dede butuh, dan Dede bahagia dengan apa yang udah Kakak lakuin.”

      “You’re always my first, Faristama Aldrich. And I am proud with it.

      Aku menghela napas, “tapi enggak semua laki-laki bisa terima keadaan Dede nanti.”

      Ia menggeleng lagi, “Dede gak harepin apapun kok, yang Dede harepin adalah, Dede bisa selalu ada di hati Kakak.”

      “Kakak udah selalu ada buat Dede, selalu lindungin Dede, dan hal itu udah lebih dari cukup buat ngasih yang sepatesnya buat Kakak,” ia tersenyum, wajahnya sangat merah. Ia lalu mendaratkan lagi Labia orisnya, kini di atas Labia orisku.

      Entah berapa lama ia melakukan itu, seraya menggiring jemariku untuk mengikuti genggamannya.

      “Ehm,” Ujar suara itu yang lantag menghentikan pagutan hangat ini. Cauthelia ia berdiri di bibir pintu dan memandang kami dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya. “Jadi sarapan enggak?”

      Cauthelia, ia melipat tangan di atas dadanya, walau itu terlihat sulit dan agak memaksa, tetapi ekspresinya terlihat bahwa ia tidak suka dengan posisi Shinta yang saat ini berada di atasku. Wanita itu langsung turun dan berjalan langsung ke arah Cauthelia. Tiada tegur sapa, ia melewati Cauthelia begitu saja.

      Gadis itu bahkan masih menggunakan piyama, sebenarnya hanya sebuah kemeja lengan panjang yang terlalu besar untuknya. Ia membuka tiga kancing teratasnya, dan ia bahkan tidak menggunakan pakaian dalam. Ada apa dengan gadis itu?

      Dan tanpa menungguku, gadis itu langsung meninggalkanku, sungguh aneh.

      Saat itu, semua mata tertuju kepada Cauthelia. Seluruh teman-temanku bahkan berkumpul di meja makan yang cukup besar, termasuk Farhan, Kevin, dan juga Dika. Mereka bahkan tidak henti-hentinya memandang ke arah Cauthelia.

      Ada apa dengan gadis itu?

      Aku lalu duduk di salah satu kursi yang tersisa di sana, dan posisiku ada di sebelah Cauthelia. Gadis itu masih tidak memandangku, ia malah menatap ke arah seberang di mana Farhan, Kevin dan Dika berada. Mereka bahkan tidak henti-hentinya memandang gadis yang menggerai rambut panjang bergelombangnya dan mengenakan kacamata full frame tersebut.

      Gadis itu tersenyum, seolah menggoda ke arah mereka, entahlah. Tetapi saat ia melakukan itu, ada rasa cemburu yang benar-benar menggetarkan hatiku. Mengapa ia justru melakukan itu di depanku? Menunjukkan hal yang seharusnya ia hanya berikan untukku kepada orang lain?

      Tidak, ia bukan milikku. Ia bukanlah istriku dan aku sadari itu. Aku hanya bisa menghela napas saat suasana hening di meja makan ini mulai riuh dengan suara logam dan piring porselen yang beradu. Makanan yang tersedia di meja mulai dihampiri satu persatu oleh sendok-sendok mereka.

      Mata-mata para lelaki masih belum lepas memandang ke arah Cauthelia. Saat itu, rasa seperti terbakar di dalam dada ini semakin menjadi. Tetapi, aku tidak berhak memintanya untuk menghentikan ini semua. Entah apa yang ia inginkan, tetapi saat itu ia langsung memandangku.

      “Kenapa Kak?” tanyanya, nadanya manja sekaligus mengejek.

      Aku hanya menggeleng dan menghela napas, “enggak apa. Cuma aneh aja ngeliat Dede pake baju gitu, padahal Dede tahu ada Farhan, Kevin, sama Dika.”

      Gadis itu lalu tersenyum, “aneh yah Kak?” tanyanya, nada menggelitiknya malah sengaja ia keluarkan. Sontak itu membuat seluruh ruangan terdiam. Suara dentingan logam yang sejak tadi riuh langsung seketika terhenti.

      “Dede emang yang minta mereka buat sarapan bareng-bareng,” ujar Cauthelia, ia memundurkan sedikit kursinya, “biar mereka tahu, siapa yang milikin Kakak.”

      Gadis itu langsung beranjak dari kursinya. Ia langsung duduk di atas pangkuanku, mengahadap ke arahku, seolah tidak peduli dengan siapa saja yang berada di sana saat ini. Ia menempelkan ketat tubuhnya untuk memagutku, sementara ia malah sengaja mengarahkan wajahku ke salah satu bagian tubuhnya.

      “Dede,” panggilku, saat aku hanya dapat melihat sedikit ekspresi tersenyumnya saat ini, “ngapain?”

      “Dúirt tú go gcaithfidh mé smaoineamh orm féin,” ujarnya, ia menundukkan kepalanya dan membisikkan kata-kata dengan bahasa itu lagi di telingaku, “agus is é seo an bealach atá mé ag smaoineamh orm féin.

      Tanpa menghiraukan apapun, ia langsung mendaratkan Labia orisnya di atasku. Begitu cepat pagutan itu terjadi, seolah hampir tidak ada waktu di antara helaan napas terakhirku dan pagutannya. Ia begitu menikmatinya, gumamannya terdengar begitu merdu saat tangannya juga mengarahkan jemariku untuk berada di sana.

      “Sadarlah Elya!” hatiku memekik begitu keras, menjerit tetapi seolah semua lisan itu tertahan di tenggorokanku. Entah mengapa, tetapi justru aku pun sama seperti Cauthelia, menikmati kebodohan yang kami lakukan saat ini di depan semua temanku.

      Cauthelia melepas pagutannya, “Is mise mise, agus tá a fhios agam go mbainfidh tú taitneamh as.”

      “Lig dom cruthúnas eile a bheith agam,” ujar gadis itu ia lalu melakukan sesuatu yang membuat seluruh temanku tidak dapat mengatakan apapun.

      Cauthelia, tidak mungkin.

<<< SEBELUMNYA (EP285)


Diubah oleh ms.mriva
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di