alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 95 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
BERSAMA LENCARI

Hari hari berlalu, Jingga mulai mempunyai aktivitas diluar kedai makan. Jika saat senggang teman-temannya plesiran ditempat tempat keramaian, Jingga memilih mengunjungi kediaman Ki Kidang Anom. Disana Dia bebas membaca kitab kitab milik Ki Kidang Anom. Adakalanya Dia hanya menonton dari kejauhan latihan para pasukan elite Majapahit, Bayangkara.

Sekali waktu Dia menemui pengawalnya. Yang sekarang punya profesi jadi pedagang keliling. Kepadanya Jingga melaporkan aktivitasnya agar Ayahandanya tidak memanggilnya pulang.


“Abdi, Ndoro Putri Alit datang,” Bisik Supo.
“Mana?”
“Itu di depan, sendiri. Hati hati ya.”
“Terimakasih ya,” Jingga cepat cepat menyelesaikan pekerjaannya, menyelinap ke belakang. Menghindar, trauma akan kejadian yang lalu.

Lencari berjalan berkeliling, penjaga depan memberi hormat mempersilahkan masuk kedai.
“Mana Abdi?” Lencari langsung bertanya, pandangannya mengawasi sekitar.
“Ada di belakang Ndoro, apa yang bisa hamba bantu Ndoro?”
“Tidak usah, aku akan kesana sendiri.” Lencari bergegas ke belakang. Wajah orang orang menjadi tegang. Takut kejadian lalu terulang. Lencari anaknya keras dan manja. Meski sebetulnya Dia baik kepada semua orang.

Jingga tidak bisa menghindar, Ia lihat Lencari berjalan mendekat. Ditariknya nafas dalam dalam, menenangkan hatinya. Kejadian lalu tak boleh terulang lagi.
“Hey, namamu abdi ya?” Lencari menyapa, seperti bingung mau bicara apa.
“Iya Ndoro,” Jingga memberi hormat, menekan perasaannya.
Suasana hening, teman teman Jingga yang berada didekatnya gelisah, tidak tahan menghadapai suasana sepi seperti itu. Mau meninggalkan Jingga tidak tega, bisa bisa kejadian lalu terulang kembali.
“Temani aku ke kolam ikan,” kata Lencari. “Yang lain tidak usah ikut, gantikan tugasnya saja.”
“Baik Ndoro,” jawab mereka, lega.

Lencari berjalan menuju kolam ikan, diikuti Jingga di belakangnya.Tiba tiba Dia berhenti, berbalik menatap Jingga.
“Kamu marah padaku?” Lencari langsung bertanya, matanya memandangi wajah Jingga yang tertunduk.
“Tidak berani Ndoro,” Jawab Jingga sopan.
“Pasti marah, aku tahu itu. Masih sakit tidak punggungmu?”
“Sudah sembuh Ndoro.”
Lencari diam, Jingga ikut diam. Mereka duduk memandangi ikan yang berenang kesana kemari.
“Mmm sebetulnya..... tapi jangan bilang bilang ya! Janji?”
“Janji Ndoro.”
“Sebetulnya aku mau minta maaf atas kejadian itu, kamu mau memaafkanku?” Lencari memandangi Jingga dengan tatapan berharap.
Jingga balas memandang karena terkejut, Ia tidak percaya Lencari meminta maaf.
“Hey... kamu memaafkanku tidak?” Seru Lencari jengah dipandangi Jingga.
“Iy.. iya, sudah hamba maafkan dari dulu. Hamba kok yang salah.”
“Bagus hi hi hi jadi kita sudah damai,” Lencari tersenyum gembira. Lepas semua beban bersalahnya selama ini. Jingga juga merasa lega, ketegangan sejak kedatangan Lencari tadi sirna tak berbekas.
“Mau tidak jadi temanku?”
“Teman Ndoro putri? wah hamba tidak berani.”
“Kenapa tidak berani? Siapa yang melarang? Atau kamu tidak mau?”
“Bukan begitu,” Jingga kebingungan menentukan sikap.
“Jadi mau?”
Jingga mengangguk. Senyum mengembang di bibir Lencari. Selama ini Lencari tidak punya teman diluar lingkungan keluarganya. Meskipun Ia tinggal di lingkungan yang serba berlebihan, namun dalam hal ini, Ia kesepian.
“Abdi, aku ingin dengar kisahmu, darimana, anak siapa, bagaimana sampai disini.”
“Hamba orang pribumi, tak ada yang menarik untuk diceritakan.”
“Tidak apa apa, aku mau mendengarkan kok.”
Setelah berkali kali diminta, Jingga akhirnya bercerita tentang dirinya, sesuai versinya sebagai Abdi. Ia menutup rapat asal usul sebenarnya. Sengaja Ia cerita sedatar mungkin agar Lencari tidak tertarik bertanya lebih lanjut.
Ganti Lencari bercerita, kisahnya biasa saja, umumnya keluarga bangsawan yang tidak punya pengalaman banyak selain di dalam pagar rumahnya. Jingga jadi ingat adiknya, bagaimana kabarnya saat ini?
Cerita kemudian mengalir ke tempat tempat yang pernah dikunjungi mereka. Lencari yang mengawali, Jingga yang menimpali. Tanpa terasa sekat kekakuan antara mereka mencair.
“Abdi suka paramasastra?”
“Suka, aku pernah diajari ayahku dulu.”
“Wah aku juga suka. Pernah baca Bharata Yudha? karya agung Mpu Sedah dan Mpu Panulu?”
“Pernah, tapi sebagian, hanya satu parwa saja, salinannya, milik guruku dulu.”
“Parwa yang lain?”
“Aku belum sempat, keburu di berhentikan dari Kadewaguruan.”
“Hah? karena apa diberhentikan?”
“Aku gagal ujian.”
“Oh,” Lencari berusaha mengerti tentang kehidupan di Kadewaguruan. Ia tidak pernah belajar di Kadewaguruan. Ia belajar langsung dengan guru yang dipanggil keluarganya.
“Tidak ingin mencari Kadewaguruan lagi?”
Jingga mengeleng, “Takut gagal lagi.”
“Mmm bagaimana kalau aku jadi gurumu?” Lencari menawarkan diri.
“Memangnya bisa?” Jingga tertawa mendengar tawaran Lencari.
“Menghina, hayo minta diajar tentang apa?” Lencari menantang.
“Mmmm tentang prasasti palapa Patih Mangkubumi Gajahmada.”
“Begini, Patih Gajahmada adalah seorang bayangkara dari kalangan pribumi. Ia diangkat menjadi Patih oleh Maharaja Puteri atas usul Mahapatih Arya Tadah. Setelah sahabatnya Adityawarman yang dikenal sebagai gembong macan andalas diangkat menjadi Patih Jero, Wredamentri.
Namun tidak semua pejabat keraton setuju atas pengangkatan itu. Meski jasa Gajahmada amat besar bagi Majapahit, namun darahnya tidak layak menjabat jabatan setinggi itu. Apalagi meloncat dari bekel terus naik menjadi Kliwon, patih wilayah bengkok dengan gelar Mas Bei.
Gajahmada menyadari hal itu. Untuk itu Ia harus menyatakan tekadnya dalam bentuk sumpah jabatan. Sumpah yang dikenal dengan nama sumpah palapa. Tidak akan makan palapa sebelum nusantara bersatu dibawah panji Majapahit dan makmur semuanya.
Beberapa pejabat menyatakan ketidaksukaannya. Yang paling keras menentang adalah Arya Kembar, Arya Banyakwide dan Arya Warak. Mereka menyangsikan kesungguhan Gajahmada akan sumpahnya.
Sebelum meluas, mereka bertiga ditangkap. Tidak akan bersatu Nusantara di bawah panji Majapahit selama masih ada orang orang seperti mereka yang melemahkan wibawa Keraton. Bukankah Mahapatih adalah simbul keraton, apalagi sudah diangkat oleh Maharatu, menentangnya berarti menentang titahnya, berarti merendahkan martabat Majapahit. Begitu pendapat Gajahmada.
Hasilnya Majapahit gilang gemilang. Wilayahnya membentang luas seantero manca nagari. Dan saat ini kita tinggal menikmati. Masih belum jelas?”
“Sudah jelas Guru putri,” Jingga tertawa memberi hormat seolah Lencari Gurunya.
“Ayo tanya apa lagi?”
“Pendapatmu tentang Sumpah itu bagaimana?”
“Sumpah yang luhur, keteguhan hati dari kalangan rakyat jelata yang kuat bisa mewujudkan hayalan para raja tanah jawa dari jaman dahulu kala menjadi kenyataan ditangannya. Namun saat ini tidak ada yang meneruskan sumpah itu. Semua berebut kekuasaan. Sepertinya mereka lupa bahwa sikap itu akan membunuh mereka sendiri.”
“Wah hebat, hebat,” Jingga berseru kagum. Anak ini meski penampilannya manja, namun kemampuannya membuat Jingga terkagum kagum.
“Hi hi begitu kata guruku,” Lencari tertawa melihat Jingga melongo kagum.
“Yee... aku pikir itu pendapatmu.”
“Aku mana tahu urusan begitu. Membuat pusing kepala saja.”
Mereka terdiam menyisakan senyum di ujung bibir masing masing. Ikan ikan berenang kesana kemari. Seekor capung hinggap diujung teratai. Ragu apakah akan menyelam bertelur atau tidak. Sebuah keputusan hidup mati seorang ibu. Capung itu terbang lagi dengan gerakan naik turun menyentuhkan ekornya ke air. Beberapa capung jantan terbang mengitari. Entah lengah entah kecapaian, sayap capung betina menyentuh permukaan air, tak bisa terbang. Seekor capung jantang berusaha menarik lepas. Namun seekor ikan yang mengincar dari tadi lebih cepat dan kuat menariknya kedalam air.
Sesekali Lencari mengamati wajah Jingga yang termenung di sebelahnya. Ia jadi bingung, mengapa Ia dulu sakit hati kepada pemuda ini, sampai sampai harus dicambuk segala. Padahal pemuda ini begitu sopan dan menyenangkan. Tak ada setitikpun darinya pantas untuk dibenci.
Apakah ini seperti yang dirasakan antara Rama dan Shinta? Antara Mpu Sedah dengan Putri Prabarini, Pramesywari Kediri. Ah kecil kecil sudah berpikir begitu, Lencari menepis hayalannya.
Masih kecil? Ah sepertinya tidak. Bukankah sudah beberapa tahun ini Ia telah mengalami hal sebagai simbul beranjaknya dari kanak kanak menjadi gadis remaja? Sudah seringkali Ibunda menasehatinya tentang organ kewanitaannya. Sesuatu yang belum pernah diceritakan sebelumnya.
Lencari sudah sering mendengar, membaca kisah kisah asmara dimasa lalu. Seorang pangeran tampan, ksatria dengan segala kejayaannya menjalin kasih dengan seorang putri cantik jelita. Adakalanya berakhir bahagia, adakalanya berakhir sedih. Ia hanya bisa mendengarkannya, membacanya dan menghayalkannya tapi belum merasakannya.
Kadangkala Ia bingung melihat gadis gadis dirumahnya berkumpul hanya untuk bercerita kisah kisah itu. Tidak masuk akal, hanya untuk rasa itu mereka rela menderita, menangis, sakit bahkan mati. Karena itu selama ini Ia penasaran, seperti apakah itu, dimana mencarinya, bentuknya seperti apa. Mengapa orang bisa gila karenanya.
Saat bersama Jingga dan merasakan perasaan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya, pikirannya langsung tertuju pada pertanyaan yang selama ini Ia cari jawabannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di