alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 94 lainnya memberi reputasi
Thread sudah digembok
MERANTAU LAGI

Berdiam lama lama di Istana, membuat Jingga bosan. Keinginannya untuk merantau menuntut ilmu tak dapat dibendung lagi. Semua kitab simpanan milik Ayahanda Pangeran sudah dibaca dan itu masih belum memuaskan dahaga batinnya.
Daripada tersiksa terus batinnya, Jingga menguatkan keberanian memohon ijin merantau lagi kepada Ayahanda. Namun tanggapan Ayahanda yang hanya diam membuatnya patah arang. Ia sadar, kejadian lalu membuat Ayahanda semakin hati hati memberi ijin lagi.

"Kanda, sebaiknya bagaimana?" Tanya Ibu Jingga cemas melihat keadaan anaknya yang semakin hari semakin murung. Meski sikapnya masih tetap seperti biasa, tapi sinar matanya meredup, sering melamun, menyendiri.

Pangeran Kebo Marcuet menghela napas panjang, terlalu banyak yang harus dia pikirkan dan putuskan ditengah kondisi negara yang melemah. Dan sekarang Jingga ingin pergi.
"Baiklah, panggilkan Jingga," Pangeran Kebo Marcuet akhirnya mengambil putusan.
Tanpa menunda, Ibunda menjemput Jingga di taman.

"Sini duduk dekat Ayah," gamit Pangeran.
“Mau berguru dimana? Biar ayahanda tulis surat.”
“Ananda mau mencari Kadewaguruan di luar Kotaraja saja.”
“..."
“Ampun, Ananda hanya mohon doa restu. Sementara untuk mendapatkan Guru, Ananda ingin mempertaruhkan keberuntungan ananda sendiri.”
“Sudah kau pikir masak masak?”
“Tekad ananda sudah bulat.” Jawab Jingga dengan mata berbinar.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi tekadmu, ayah hanya bisa memberi doa restu. Dan ingat bila terjadi apa apa, segera pulang.”
“Terimakasih Ayahanda.” Badan Jingga bergetar saking gembiranya.
Pangeran memeluk Jingga erat erat. Anaknya yang satu ini memang berbeda dengan anaknya yang lain. Kegemarannya menuntut ilmu amat kuat mencengkeram jiwanya. Ia sengaja mendiamkan dan pura pura tidak tahu bila Jingga membaca kitab kitab yang Ia sendiri belum sepenuhnya menguasai.

Sejak berangkat ke kotaraja dulu, Pangeran amat keberatan dia belajar jauh dari rumah. Gara gara mendengar cerita Senopati tentang Kadewaguruan di Kotaraja. Keinginannya belajar disana susah dibendung. Berbagai cara sudah dilakukan untuk meredam tekadnya. Ditakut-takuti dengan berbagai ujian yang harus dilalui malah membuat semakin kuat tekadnya. Setelah ditunda berkali kali dengan harapan Ia lupa. Jingga malah jatuh sakit. Akhirnya dengan berat hati Jingga diijinkan pergi ke Kotaraja. Apalagi dia tidak mau dikawal cantrik dan prajurit istana

Dan kini keinginan itu muncul lagi. Semoga tarikan jiwanya membawa ke alam kemasyuran, batin Pangeran.

***

Sedang asik memilah dan menata barang yang akan dibawa, Jingga dikejutkan oleh lemparan buntalan kain disampingnya.
"Kakak jahat!"
Untari marah dengan air mata berurai.
"Lho, datang datang kok marah marah? Pakai nangis segala lagi."
"Kakak jahat! Pokoknya jahat!"
Jingga memeluk pundak adiknya, adik kesayangannya. Dia tahu adiknya kecewa karena akan dia tinggalkan lagi. Kalaupun dijelaskan juga tidak akan dimengerti.
"Kakak gak lama kok, akan sering pulang, nanti kamu kalau sudah bisa mandiri, boleh ikut kakak," papar Jingga menghibur.
"Janji?"
"Janji."

*****

Kapal yang ditumpangi Jingga adalah kapal pinisi saudagar Bugis. Hampir seluruh hidupnya dijalaninya di laut. Awak kapalnya juga dari sana. Mereka orang orang yang ulet dan tangkas mengendalikan Kapal. Jingga ikut membantu meski sedikit kikuk karena tidak terbiasa. Dengan senang hati mereka mengajari cara menggunakan peralatan di kapal itu. Untungnya Jingga sedikit banyak belajar bahasa Melayu. Bahasa yang umum digunakan para Pelaut di Nusantara. Walau kadang kala Ia salah mengerti dan itu menjadi bahan lelucon orang orang di kapal.

Saat senggang mereka saling bercerita pengalaman dari daerah satu ke daerah lain. Kegembiraan, haru, kesedihan dan segala macam perasaan sudah mereka alami bersama. Menjadikan mereka orang orang yang kuat, babas juga keras. Begitu kuatnya ikatan antara mereka sampai melebihi dari ikatan saudara. Tata krama disini kurang berlaku. Semuanya serba lugas. Berbeda sekali dengan saat Ia menumpang kapal kerajaan dulu.

Sebagai rasa terima kasih, Jingga mengajarkan baca tulis aksara Jawa kepada para awak kapal. Mereka amat atunsias. Dasar pedagang, yang ditanyakan hanya aksara yang berhubungan dengan komoditi yang diperjual-belikan. Selebihnya mereka kurang berminat.

Pelabuhan Surabaya

Suasana begitu sibuk dan ramai. Kereta angkut barang keluar masuk pelabuhan, para pekerja yang membongkar muat bagai semut. Kapal kapal besar dari Manca nagari memenuhi sepanjang pelabuhan. Sebagian lagi memilih bongkar muat menggunakan jasa Jukung, sejenis perahu kecil.

Jingga turun kapal dengan penampilan baru. Pakaiannya sama seperti orang kebanyakan. Hasil bertukar pakaian dengan awak kapal.
Agar tidak menarik perhatian orang jahat. Jingga bersikap tenang berjalan menuju sebuah kedai makan yang ramai dikunjungi orang. Bukan hendak makan, tapi mencari pekerjaan, sukur sukur mendapat tempat untuk tinggal.
Ia bertekat hidup mandiri. Keping emas dan perak yang dia bawa, sengaja disimpan untuk situasi darurat saja. Hanya uang kepeng China yang ia pakai belanja.

Beruntung kedai makan itu membutuhkan tenaga pembantu dibelakang. Bagian pengupas kelapa, menyiapkan bahan bahan untuk dimasak juru masak kedai. Ia menempati salah satu bilik bersama pekerja yang lain.
Kedai itu juga memiliki tempat penginapan cukup besar. Banyak saudagar manca nagari menginap disana dan makan di kedai.

Menjadi pekerja kasar baru kali ini dialami Jingga. Dengan dalih mengajari, mereka membebankan pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan kepada Jingga. Hari demi hari pekerjaan Jingga semakin berat saja. Dari pagi sekali menyiapkan semua kebutuhan dapur, bersih bersih, menyiapkan kayu bakar. Hal itu terus berlangsung hingga larut malam. Tangannya mulai menebal oleh kapal. Berbagai makian sudah Ia rasakan bila melakukan kesalahan. Namun Ia tetap diam tidak melawan. Semua pekerjaan yang diberikan sekuat tenaga dilaksanakannya dengan sepenuh hati.

Beberapa pekerja mulai tidak tega. Namun mereka tidak berani menentang perintah Kepala Pegawai. Bila Ia pergi, mereka baru membantu pekerjaan Jingga.
“Namamu siapa?” Tanya salah seorang dari mereka.
“Nama saya Abdi,” Jawab Jingga mengganti nama.
“Namamu bagus, sebagus orangnya. Kalau namaku Suko, ini Dalu, Supar dan terakhir Taji,” Suko memperkenalkan diri dan teman temannya.
“Kamu dari mana?”
“Aku dari dusun Wanadri,” Jawab Jingga.
“Dimana itu?”
“Jauh dari sini, di timur Kotaraja.”
“Orang tuamu disini?”
“Tidak, aku ikut Nenek, mereka tinggal di dusun. Aku merantau sendiri.” Jingga mengaku Nenek yang menolongnya dulu di hutan sebagai keluarganya.
“Kamu sabar saja disini, Pak Kura orangnya begitu kalau ada orang baru. Apalagi kamu bukan orangnya.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya, kamu masuk sini bukan dari Dia.”
“Oh, iya aku mengerti,” memang Jingga masuk bekerja diterima langsung pemilik Kedai ini.


* * * *
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
×
GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di